media cerita

Pagi ini, sekonyongkonyong suka-suka lampau WAG saya. Awalnya saya biarkan lewat tetapi, saking banyaknya group dan WA yang timbrung. Sekadar setelah mematamatai ada angka 1.000, sudah kadung terlanjur di
scroll down, mengerasi saya untuk
scroll up. Seolah ada besi sembrani yang menariknya. Sececah kemudian membacanya.

Dan ternyata bersusila, sebuah Quote berupa pembukaan-pengenalan hikmah nan sarat dengan makna. Saya lain tahu sumber tulisannya mulai sejak mana. Sekadar terkesan mak-jleb, menghujam ke ulu hati. Menampar muka. Mencabik-gempil hayat dan mericis-iris perhatian.

Seoalah itu selang hanya bagi diri ini sendiri. Bukan untuk sosok tidak. Doang sesaat kemudian berpikir. Bukankah ini memang mutakadim jadi habit sebagian berusul kita.  Dan kemudian, kita pun seringkali merasakan hal nan sepadan, dan mengalami keseharian seperti ini. Makara wejangan ini buat kita semua

Qutotenya begitu juga ini,
“Manusia akan melupakan 1000 kebaikan nan kombinasi kita buat hanya karena satu kesalahan. Tapi Allah Ta’ala akan memaafkan 1000 kesalahan dengan satu kebaikan yang kita lakukan.”.

Memang intern keseharian kita acapkali melihat dan merasakan  kejadian sejenis ini. Gampang sekali sesama kita memejahijaukan seseorang, karena kesalahanannya, yang barangkali hanya sekali. Kita tidak mau tahu, apakah itu disengaja atau tidak. Cuma seolah menyelimuti semua keistimewaan yang persaudaraan dilakukan. Yang ada bukan menasehati atau memakluminya. Akan tetapi malah dibully silam-habisan tanpa ampun. Bahkan tidak elusif dibumbui dan ditambah dengan berbagai hal. Mengumbar aib, kemudian ditambahi ghibah bahkan umpat. Seolah sira berhak kerjakan mengadili sekaligus menghukumi seseorang itu, tanpa proses pengadilan, minus testimoni, tanpa penjelasan dan pleidoi, dst.

Padahal Allah ta’ala berjanji akan menghapus kesalahan dan dosanya setiap hambanya selain penyekutuan allah, begitu juga dalam QS. An-Nisa’ Ayat 48,”Selayaknya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena menyekutukan-Nya (penyekutuan allah), dan Ia mengampuni barang apa (dosa) nan selain (syirik) itu kerjakan siapa nan Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, engkau telah berbuat dosa yang besar”.

Demikian sekali lagi dengan dosa-dosa lainnya, dengan cara bertakwa kepada-Nya. “Produk siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya.”
(QS ath-Thalaq: 5). Syaikh Muhammad polong Shalih asy-Syawi dalam tafsirnya An-Nafahat Al-Makkiyah tentang ayat ini menjelaskan,”dan bagi siapa yang ingin menjadikan penaung dari adzab-Nya, dengan mentaati perintah-Nya dan memencilkan larangan-Nya; Maka Yang mahakuasa meneledorkan dosa-dosanya, dan mengampuninya, dan menyembunyikan aiba-aibnya dan memberikan ganjaran yang raksasa, dan ia akan masuk ke intern surga yang penuh kenikmatan”.

Padahal, dalam kitab Hadist Arbain karangan Imam An-Nawawi, dalam sebuah hadist Nabi dari Abu Dzar Jundud bin Junadah dan Serdak Abdurrahman, Mu’az kacang Dolok ra, terbit Rasulullah SAW bersabda:
bertakwalah kepada Allah dimana kamu berkecukupan, iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya menghapusnya dan pergaulilah orang dengan moral yang baik.
(H.R. Turmuzi, beliau mengatakan hadistnya hasan, dan ada sebagian ulama mengatakan ini merupakan hadis shahih).

Konsekwensya adalah, jikalau Halikuljabbar ta’ala doang menjamin untuk mengampuni dosa setiap hambanya asalkan ia enggak menyekutukan-Nya. Lalu segala apa properti kita untuk tidak memaafkan kesalahan-kesalahan saudara kita. Demikian juga Allah ta’ala dan Rasulullah SAW juga menjamin ampunan dosa bagi siapapun juga, asalkan kita bertakwa kepada Allah. Dan Rasululluh SAW menambahkan dengan syarat mengiringi keburukan (kesalahan) yang dilakukan dengan kebaikan. Artinya ada taubat dan amal shalih. Selanjutnya senantiasa berbual mesra sesama sesama manusia dengan akhlak yang baik.

Dengan demikian maka, bukan satu kesalahan menudungi seribu kebaikan, akan tetapi setiap kemustajaban yang kita lakukan akan menghapus kesalahan nan dilakukan, asalkan mengikuti perintah Allah ta’ala dan sunnah Rasulullah SAW.
Wallahu a’lam