9 Ajaran Syekh Siti Jenar


MINGGU, 26 AGUSTUS 2022 – DENMAS PRIYADI BLOG:
Tema seminar/sarasehan budaya hari ini adalah agama ageming sri paduka, yakni agama ibarat nilai-angka sani yang menjadi lingkaran hidup bangsa Indonesia, sesuai dengan sila pertama pada Pancasila, Ketuhanan Nan Maha Esa. Agama internal pigura ageming aji bukanlah agama privat arti golongan atau agama ibarat organisasi (organized religion), tetapi agama umpama basis moralitas dan perilaku manusia.

Agama dalam kebaikan ini pernah menjadi polemik dan perang referensi di Kepulauan Nusantara –karena Indonesia belum lahir– dan tepatnya di P. Jawa pada pertengahan abad ke-15 hingga medio abad ke-16.

Pelopor taktik intern polemik dan perang wacana pada masa itu yakni Syekh Siti Jenar maupun dikenal dengan label Syekh Lembam Berma. Dia seorang guru dan pelaku spiritual yang mengajarkan agama sebagai pencahanan dan bukan sebagai pendamping. Meskipun Syekh koteng muslim, sekadar ajarannya menghirup berbagai pemeluk agama dan kepercayaan yang ada waktu itu. Mereka yang belajar dan menjadi peserta Syekh berasal berpangkal berjenis-jenis kalangan, baik kalangan elite –ialah para adipati– atau proletariat. Mereka berasal dari pemeluk Hindu, Biddha, Syiwa-Buddha, Islam, dan pemeluk pengapit yang berkembang di Jawa waktu itu.

Segala apa nan diajarkan oleh Syekh Siti Jenar sehingga sentral tarik ajarannya luar biasa dan menyebabkan penguasa Kesultanan Demak Bintara kegerahan tahun itu? Yang diajarkan sesungguhnya bukanlah hal yang asing bagi mereka yang hidup di Kep. Nusantara waktu itu. Yang diajarkan adalah paham MKG (Manunggaling Kawula Gusti), yaitu satunya hamba dengan Tuhan. Paham ini sudah lalu cak semau di agama Hindu dan Buddha nan sebelum berdirinya Kesultanan Demak, dipeluk maka dari itu mayoritas pemukim Nusantara. Reaktif ini diikuti oleh kalangan sufi dalam agama Islam. Bahkan, mereka yang dikenal sebagai anggota Walisanga sekali lagi berpaham MKG. Padahal, berdasarkan sejarah Walisanga yang bergelar yang dipertuan itu adalah pendukung dan penasehat Paduka tuan Demak di zaman itu.

Walaupun Walisanga dan Syekh Siti Jenar sepaham, semata-mata pada jenjang implementasinya dalam kehidupan berbeda. Bikin Siti Jenar, MKG yaitu pematang, jalan dan perlengkapan kerjakan menjadikan manusia merdeka nirmala. MKG menggerakkan manusia untuk menjadi dirinya sendiri, menjadikan manusia yang n kepunyaan kepribadian. Inilah inti dari MKG nan diajarkan makanya Syekh Siti Jenar. Tentu pikiran semacam ini melompat terlalu jauh ke depan puas zamannya. Jangankan puas periode 500 perian yang lalu, dewasa ini saja sebagian besar manusia tidak hidup sebagai pribadi, tetapi hidup berdasarkan pikiran insan lain.i Sedangkan MKG yang diajarkan oleh Walisanga bertambah berperilaku teoritis, dan tidak memberikan implikasi maujud privat semangat awam.

Ajaran MKG Siti Jenar mendobrak kepriyayian nan tumbuh subur plong masa itu, sedangkan Walisanga justru melanggengkan sistem feodalisme. Syekh membangkitkan kesetaraan antara kawula (rakyat) dengan rajanya (Gusti). Walisanga melestarkan sistem rakyat menyembah raja. Syekh membebaskan orang berpunca belenggu ketakhayulan dan pikiran picik, sedangkan Walisanga apalagi menjadikan agama dan ajun sebagai alat kekuasaan.

Puncak tangkisan paham berjarak ketika Sinuhun Putus mewajibkan Walisanga bakal menghentikan kegiatan mengajar Syekh dan pengikutnya dihancurkan. Untung tak boleh diraih malang bukan boleh ditolak, kata petitih. Nubuat Syekh Siti Jenar dipadamkan –biar demikian, wangsit SSJ teguh bepergian dan disampaikan secara sembunyi-sembunyi. Rakyat taat kepada raja secara pasif, sedangkan landasan elite berebut kekuasaan. Hasilnya, umur imperium tak suka-suka yang panjang, Demak jebluk disusul dengan berdirinya Pajang, dan privat satu generasi saja Pajang hilang dan muncul Mataram.

Karena rakyat bodoh dan elite imperium berebut kekuasaan, maka Mataram belaka internal kurun waktu 50 musim berdiri sudah goyang karena adanya infiltrasi VOC, yang akhirnya Mataram menjadi negara taklukan VOC. Hal ini saya sampaikan kerumahtanggaan seminar/simposium ini agar dapat menjadi latihan buat bangsa Indonesia. Dengan memperhatikan kembali ajaran Syekh Siti Jenar kita akan dididik bagi menjadi manusia merdeka, sehingga siap untuk mencegat gangguan dan ancaman asing agar bangsa Indonesia tidak terus-menerus terjajah maka itu negara lain dalam segala bentuknya.


Sembilan Ramalan Pokok Syekh Siti Jenar

Sebagaimana dituturkan di atas, manusia hidup di atas bangunan opini atau pendapat bani adam enggak. Pada kebanyakan manusia tak mengetahui hakikat hidupnya sendiri, dan tidak mengetahui dengan karuan segala yang akan terjadi plong dirinya. Pikiran sebagian raksasa orang merupakan pendapat orang lain, sehingga kita berbicara menunggangi bahasa bani adam lain. Mereka yang berpengaruhlah yang telah menanamkan pengaruhnya nan berupa bahasa, perilaku, pendapat, dan sebagainya untuk membangun identitas tunggal.

Adalah Kierkegaard –sendiri filosof Barat– yang menyatakan bahwa sekelompok raksasa orang selalu menghilangkan identitas pribadi. Oleh karena itu, sebagian besar orang nan beragama (memeluk agama baku) biasa melakukan upacara dan menjalankan apa yang legal dilakukan atau diharapkan maka itu orang lain, tanpa penghayatan pribadi barang apa nan dilakukankannya. Rata-rata orang sukma privat kedangkalan dan formalisme kosong, dan demikianlah yang terjadi sehingga seluruh generasi terjebak dipinggiran akal budi yang berlumpur. Inilah yang menyebabkan roda kemajuan berhenti berputar.[i]

Pendapat sebagai hasil olah pikir anak adam berkembang terus, dan bila pemikiran seseorang, suatu golongan atau bangsa mandek, maka sira akan terlindas maka itu peralihan yang terjadi di dunia ini. Bangsa yang pemikirannya terlindas atau sederhana akan menemui banyak masalah intern hidupnya, dan butir-butir itu bisa kita saksikan dewasa ini. Perhatikanlah segala yang terjadi pada negara-negara bukan maju atau sedang berkembang! Kemelaratan, kebodohan, mutiara kesehatan yang kurang, serta rusaknya mileu jiwa yakni bukti mandeknya pemikiran.

Minus berpikir manusia tidaklah setolok dengan binatang, sahaja malah makin buruk daripada sukma hewan. Bila hewan lapar, maka secara hati kecil akan tertuntun menuju sumber makanan, sahaja tanpa berpikir untuk mencari makan manusia akan mengalami kematian. Oleh karena itu, manusia berandai-andai, dan wajib berasumsi. Manusia berusaha menunggangi akal busuk-pikirannya bikin menciptakan poin tambah pada segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Bermacam-macam benda diberi nilai maupun “paduka tuan” sesuai dengan tingkat kelangkaannya.

Pendapat apabila telah diterima makanya suatu kelompok orang maka akan menjadi kebenaran kerjakan kerumunan itu. Biarpun kitab-kitab suci kerumahtanggaan beraneka rupa agama dikategorikan andai tanzil dan bukan pendapat, tetapi dalam implementasinya tetap menggunakan olah pikir atau pendapat. Dan, pendapat tentunya dimaksudkan bagi menyamankan, memudahkan, dan menimbulkan kesejahteraan umat. Itulah pendapat yang diperlukan!

Jadi, bukan kebenaran hakiki atau legalitas harfiah suatu pendapat yang mesti diperhatikan. Yang perlu diperhatikan merupakan apakah pendapat itu boleh digunakan untuk menimbulkan kesejahteraan dan kepelesiran cak bagi umat insan, minimal kerjakan mereka yang memercayai pendapat itu. Dan, yang perlu kita tolak adalah pendapat nan menimbulkan durjana, kesengsaraan dan kriminalitas bagi manusia.

Nah,
ramalan pokok yang pertama
terbit Syekh Siti Jenar adalah tidak mengabsolutkan pendapat. Pendapat boleh diperdebatkan, akan tetapi pendapat tidak untuk gilas pendapat hamba allah lain. Munculnya berbagai mazhab n domestik berbagai rupa agama di dunia membuktikan bahwa tajali agama pasca pendirinya sebenarnya merupakan pendapat yang dikembangkan mulai sejak ajaran asal agama itu. Jadi, legalitas pendapat adalah kebenaran yang dibangun atas akseptabilitas masyarakat atau peguyuban arena pendapat itu berkembang.


Wangsit pokok yang kedua


adalah menjadi basyar hakiki, yaitu manusia yang yakni perwujudan dari hak, kemandirian, dan ketentuan.



Hak. Kebanyakan kita berpendapat bahwa kita harus mendahulukan muatan daripada hak. Perhatikanlah para pejabat kita selalu menghendaki rakyat untuk menjalankan kewajibannya dulu sebelum mendapatkan haknya. Penghuni dituntut membayar pajak, mematuhi undang-undang dan peraturan yang ditentukan oleh para elite politik, dan melaksanakan bermacam ragam spesies disiplin. Menurut Syekh Siti Jenar, harus ada hak kehidupan bertambah dulu. Inilah validitas! Tak ada tanggung segala apa sekali lagi nan boleh diberikan kepada seorang kanak-kanak anyir nan plonco dilahirkan. Maka itu karena itu, begitu koteng kanak-kanak anyir manusia dilahirkan semua hoki-haknya sebagai basyar harus dipenuhi terlebih dahulu.



Enggak peduli ia dilahirkan di keluarga kaya alias miskin, hak memperoleh pengasuhan, perawatan, penjagaan, perlindungan, dan mendapatkan pendidikan harus dipenuhi. Nasib baik-hak tersebut dipenuhi agar dia menjadi basyar nan dapat menjalankan kewajibannya sebagai anggota tanggungan, masyarakat, dan negara. Dengan kaidah itu akhirnya anda menjadi insan hakiki, manusia sebenarnya yang dapat berkiprah dalam usia berwujud, baik sebagai pribadi atau pemukim sebuah negara. Salah satu partikel untuk menjadi manusia yang umur merdeka terpenuhi.



Kebebasan. Pemenuhan hak dan kewajiban barulah tahap awal bikin menjadi manusia hakiki. Tahap berikutnya yaitu ki menggarap, mengajar, dan melatihnya semoga bisa menjadi cucu adam yang arwah mandiri. Ia harus diarahkan mudahmudahan mampu hidup yang tidak tergantung lega orang lain. Dengan demikian, kehidupan mandiri akan tercapai bila terjadi kesalingtergantunga kaki langit antar anggota masyarakat dan sekaligus kemerdekaan (interdependence and independence) .

Perhatikanlah keadaan ekonomi masyarakat Indonesia kini ini. Kita amat sangat tersidai lega pertolongan alias hutang asing daerah. Negara nan dilimpahi khazanah alam yang asing biasa ini apalagi dihisap oleh negara-negara modern di dunia ini. Setiap bayi yang dilahirkan yang seharusnya yaitu aset negara, ternyata tumbuh menjadi manusia-manusia pelacak kerja dan bahkan menjadi beban negara. Hal ini disebabkan terjadinya manusia-manusia yang tersangkut pada orang enggak. Hubungan nan terjadi ialah hubungan turunan-orang rengsa dengan sosok-orang kuat. Yang lemas merasa sangat memerlukan yang kuat, padahal yang abadi berbuat enggak semena-mena terhadap mereka yang lemau.

Akibat mulai sejak keadaan tersebut tambah tahun pengangguran akan semakin bertambah besar. Yang menjadi sampiran relatif tetap, sedangkan yang menggatungkan diri bertambah banyak. Terjadi relasi yang tak seimbang, sehingga umur masyarakat menjadi rawan.



Kodrat. Inilah unsur berikutnya nan menopang asas hoki dan kebebasan dalam spirit masyarakat. Bilangan sreg manusia merupakan kuasa pribadi. Kadar tidak didapat dari luar diri. Dengan demikian takdir bukan berbunga dari pelatihan dan pendididikan. Tetapi kodrat harus diberikan ruang yang kondusif sepatutnya suatu lembaga kemampuan idiosinkratis yang dianugerahkan pada setiap manusia boleh terwujud. Intern hal ini, pelatihan akan meningkatkan kualitas kodrat yang dimiliki seseorang.

N domestik psikologi garis hidup dapat dikatakan hampir selaras dengan talenta. Bila seseorang tidak diberikan kesempatan bagi dapat mengaktualisasikan dirinya, maka kodratnya kemungkinan besar enggak akan terwujud. Padahal, kodrat yang ada puas diri seseorang itulah yang bisa menjadi alat angkut buat memperoleh keuntungan bagi dirinya. Bila setiap individu bisa mewujudkan kodratnya, maka akan terwujud pertautan yang saling memberikan dan simultan saling membutuhkan. Setiap khalayak akan memiliki biji sia-sia kerjakan bani adam lain.

Harmonisasi dan ikatan antar warga negara akan menebal bila sebagian raksasa penduduknya bisa membentuk ketiga zarah manusia hakiki tersebut. Keragaman masyarakat sekali lagi kecil dan kesenjangan ekonomi dapat dinihilkan. Risikonya jati diri khalayak akan muncul dengan sendirinya, dan kita akan menjadi bangsa yang kokoh dan tidak mudah diprovokasi.


Ajaran resep Syekh yang ketiga


merupakan korespondensi antara satu orang dengan orang tak ialah hubungan garis hidup dan iradat. Nikah satu orang dengan individu tak bagaikan kontak kerja n domestik satu tim, sehinga tak terjadi hubungan posisi nan memerintah dan yang diperintah. Tak suka-suka gabungan kekuasaan. Antara manusia nan satu dengan yang lain terikat maka dari itu kodrat dan iradatnya, sehingga seperti relasi kamp yang yang suatu dengan sel lainnya dalam satu jasmani, dan koalisi organ yang satu dengan organ lainnya dalam suatu jasmani.

Kalau kita amati cara kerja organ-organ intern tubuh manusia, maka kita akan ketahui bahwa masing-masing organ –sebagai halnya otak, rukyat, penciuman, pendengaran, paru-paru, jantung, lever, ginjal, usus, dan bukan-tidak– akan bekerja sama, dan masing-masing menjalankan peranannya. Seharusnya kehidupan masyarakat manusia juga demikian. Dengan mewujudkan masyarakat yang berupa kompilasi manusia-manusia hakiki, tiap-tiap manusia atau kelompok menjalankan fungsinya dengan benar, maka akan terpelajar hayat yang bugar dan bukan terjadi penghisapan antara bani adam yang suatu terhadap orang lainnya. Inilah atma mayapada yang didambakan oleh Syekh Siti Jenar, yang justru sekarang tumbuh dan berkembang di negara modern.


Ajaran taktik yang keempat


: segala sesuatu di liwa segenap ini adalah suatu dan nasib. Dalam salah suatu pupuhnya disebutkan bahwa mayapada, angkasa, raksasa, bukit dan seisinya, semua yang tumbuh di dunia, angin yang tersebar di mana-mana, matahari dan bulan, semuanya merupakan keadaan jiwa. Makara, semua yang terserah adalah wujud semangat.

Menurut Syekh Siti Jenar nan dinamakan basyar hidup adalah roh yang terbelenggu dalam duaja kematian. Zat mati tidak akan dapat menimbulkan kehidupan, sedangkan zat nasib tak akan tersentuh kematian. Tuhan disebut zat yang mahahidup karena Ia eksis karena Diri-Nya sendiri. Kekuatan hidup-Nya mengalir dalam alam kematian sehingga muncul bak sosok usia. Sekarang bandingkan dengan tulisan-garitan berasal Barat dewasa ini, akan kita temukan pernyataan mereka bahwa semuanya satu, semuanya hidup. Dengan demikian, pandangan Syekh Siti Jenar luar biasa. Banyak pandangannya nan justru bersesuaian dengan pandangan suku bangsa teosofi alias para spiritualis terbit Barat.

Bila kita menyadari bahwa mileu kita adalah peristiwa yang hidup, maka tentu kita akan memperlakukan lingkungan kita dengan sesudah-sudahnya karena kita dan mileu kita sebenarnya suatu dan setolok-sama umpama kejadian yang arwah. Bila kita menyadari pasti kita akan berhati-hati intern memperlakukan mileu kita.


Ramalan pokok yang kelima

: pemahaman tentang ilmu sejati. Dikisahkan dalam Serat Siti Jenar nan ditulis maka itu Aryawijaya: Suci jatining ngèlmu, lungguhé cipta pribadi, pustining pangèstinira, gineleng dadya sawiji, wijanging ngèlmu dyatmika, nèng kahanan eneng ening. Hakikat aji-aji sejati itu terletak pada cipta pribadi, maksud dan tujuannya disatukan adanya, lahirnya ilmu unggul dalam keadaan sepi dan jernih.

Menurut Syekh Siti Jenar manusia haruslah kreatif karena turunan telah diberi anugerah oleh Yang Mahakuasa bagi dapat mengaktualisasikan ilmunya nan bermula dari dalam dirinya sendiri. Kaprikornus, ilmu sejati bukanlah ilmu yang kita sambut dari individu tidak. Yang kita dapatkan melalui indra, pengajaran berbunga khalayak lain, itu hanyalah refleksi ilmu. Dan, ternyata sejak abad ke-20 pemahaman bahwa ilmu lahir dari kedalaman batin sudah menjadi kesadaran yang universal. Itulah sebabnya hamba allah-orang Barat tekun dalam melakukan nyepi dan pengkajian terhadap jenama-tanda di tunggul segenap.

Jadi, harus ada suasana kondusif bagi orang-orang yang mendalami mantra pengetahuan. Suasana kondusif bagi akademikus adalah iklim kerja nan mewujudkan ilmuwan tersebut dapat berkarya dengan sepi, nyaman, dan adil berasal berbagai penyebab kekalutan dan kesulitan. Dan, tentunya hak-properti lakukan boleh menjadi ilmuwan sejati haruslah dipenuhi. Ingat, setiap sosok telah diberi potensi dan talenta nan disebut kodrat. Dan, bagi mereka yang memiliki predestinasi kerjakan menjadi cendekiawan harus disediakan iklim kerja yang kontributif sehingga dapat menghasilkan hal-hal yang dibutuhkan manusia.


Wahi pusat yang keenam

: kebanyakan orang nyawa saling membohongi. Banyak keadaan yang sebenarnya kita sendiri tidak senggang, tapi kita menyampaikannya juga kepada pasangan-teman kita. Hal ini banyak sekali terjadi privat ajaran agama. Banyak individu yang sekadar hafal dalil, tetapi sepatutnya ada dia tidak mencerna segala apa yang dimaksud maka dari itu dalil itu. Akhirnya kognisi nan keliru itu memencar dan terbentuklah opini yang pelecok.

Mahajana yang dipenuhi dengan pemahaman dan opini yang salah selaras dengan publik nan dipenuhi sampah. Awam demikian tentu rawan terhadap serangan penyakit. Oleh karena itu, masyarakat harus dibebaskan berpangkal bermacam rupa macam kebohongan. Publik harus diajar dan dididik cak bagi memahami segala apa sesuatu seperti mana segala adanya.



Agar lain kehidupan silih menghalusi manusia harus kembali mengenal dirinya. Setiap orang harus dididik cak bagi mengingat-ingat perannya n domestik hidup ini. Para cerdik cendekia harus memaklumi fungsinya di dunia. Cucu adam harus diajar untuk bisa mengerti mayapada ini sebagaimana adanya. Agama harus diajarkan perumpamaan jalan hidup dan bukan alat kerjakan meraih otoritas. Maka itu karena itu, keimanan harus diajarkan dengan benar dan bukan sekadar diajarkan bagaikan asisten. Iman harus diajarkan laksana penghayatan, pengalaman, dan pengamalan kebenaran.

Ayat-ayat kitab suci harus dipahami berdasarkan kenyataan, dan tidak diindoktrinasikan serta diajarkan secara harfiah sesuai dengan asal kitab suci tersebut. Agama harus diajarkan secara arif dan boleh dibumikan, tidak terus menggantung di langit. Agama harus diterjemahkan dalam bentuk nan dapat dipahami dan dipraktikkan makanya masyarakat penerimanya.


Ramalan anak kunci yang ketujuh

: logo Tuhan diberikan oleh bani adam. Panca dupa waktu yang lalu Syekh telah menyatakan dengan tegas bahwa manusialah yang memberikan nama sreg Tuhan. Oleh karena itu, cap bagi Sang pencipta bervariasi sesuai dengan bahasa dan bangsa yang menyebut-Nya. Dan, perlu diketahui bahwa Yang mahakuasa sendiri sebenarnya lain perlu nama, karena Sira hanya satu adanya. Sesuatu diberi nama karena untuk membedakan dengan sesuatu lainnya. Nama diberikan seyogiannya kita enggak keliru angkat tangan atau salah ujar.

Buat Syekh Siti Jenar, apapun sebutan yang diberikan kepada-Nya haruslah sebutan yang terpuji, yang baik, nan pantas. Justru internal Quran dinyatakan dengan tegas pada Q. 7:180 bahwa basyar diperintah bagi memohon kepada-Nya dengan nama-segel baik-Nya, atau al-asmâ-u l-husnâ. Dan, lega Q.17:110 dinyatakan bahwa Dia dapat diseru dengan nama Almalik, Ar Rahman, ataupun dengan etiket-merek baik-Nya yang lain.

Sungguh, sangat mengherankan bila di zaman masa ini ini kita berebut nama Sang pencipta. Secara teoritis umat Islam dididik untuk meyakini bahwa Tuhan itu Yang Maha Esa. Belaka, dalam kenyataannya sebagian orang Selam –seperti nan terjadi di Malaysia – terlebih meminta orang yang beragama tak bagi tidak menggunakan lafal Allah lakukan sebutan Tuhan plong agama lain tersebut. Inilah pemahaman yang salah! Takdirnya kita –yang Mukmin— menolak pemeluk agama tidak menegur Allah buat Tuhannya, maka secara enggak sadar kita mengakuri bahwa Tuhan itu makin dari satu.

Sudah waktunya kita ajarkan rabani dengan benar sehingga kita tidak berebut lemak tulang tanpa isi. Kita harus mencatat selengkapnya bahwa mengamalkan angka-ponten ketuhanan dengan bermoral itulah yang amat penting dalam jiwa ini. Bagi basyar Indonesia , menghayati dan melakukan nilai-nilai ketuhanan dengan bersusila merupakan penegakan Sila nan pertama.


Petunjuk pokok yang kedelapan

: kaisar agama sesungguhnya raja penipu. Seperti telah diterangkan bahwa agama adalah perkembangan spirit. Oleh karena itu, agama harus diajarkan bagi menjadi karier, sehingga pemeluk agama bisa spirit tenang, bahagia dan bersemangat dalam menjalani arwah. Agama harus diajarkan untuk menjadi kalangan kepatutan dan perilaku, sehingga agama benar-bermoral sebagai nilai mulia dan menjadi rahmat untuk segenap umbul-umbul.



Syekh tidak ingin membohongi masyarakat Jawa, oleh karena itu agama islam diajarkan dengan cara yang layak bagi manjapada dan cucu adam Jawa. Untuk kejadian itu diperlukan penafsiran, dan tidak disebarkan dalam rencana budaya asalnya. Agama tidak disebarkan dengan supremsi raja, sebab menurut Syekh sunan yang memanfaatkan agama adalah sri paduka penipu. Pelalah terjadi bahwa lakukan menetapi arti penguasa, agama dijadikan instrumen menguasai rakyat. Agama yang kiranya dikuasai oleh rakyat, yang terjadi justru sebaliknya adalah rakyat yang dikuasai oleh agama.

Sekiranya di Eropa sreg abad ke-19 sosok-orang berangkat mempertanyakan peranan agama, dan malar-malar ada yang memandang bahwa agama sebagai candu bagi masyarakat dan harus disingkirkan dari gelanggang kehidupan bernegara, maka empat ratus tahun sebelumnya Syekh Siti Jenar justru kepingin menerapkan agama bak penyegar dan pencerah bagi pemeluknya. Oleh karena itu, agama diajarkan tanpa melibatkan kontrol negara. Di sinilah Syekh bertabrakan dengan kelebihan Walisanga.

Syekh amat sadar bahwa di dunia ini mumbung dengan tipu daya. Intim di semua negara puas waktu itu terjadi relasi keuasaan antara emir/penguasa dengan para penggerak agama. Dengan pengenalan lain, tuanku dan tokoh agama berbagi kekuasaan. Nan dikuasai dan yang dijadikan tumpuan nasib oleh raja dan tokoh agama ialah rakyat. Inilah yang oleh Syekh disebut sebagai penipuan. Oleh karena itu, sudah waktunya agar agama benar-benar menjadi hak masyarakat, dan negara tidak mengelola agama. Yang diurusi oleh negara yaitu tegaknya hukum positif, preservasi bagi setiap orang tanpa memandang agama dan kepercayaannya. Yang diurusi oleh negara adalah kemakmuran, kesejahteraan, dan keadilan sosial buat seluruh rakyat.


Petunjuk pokok yang kesembilan

: segala sesuatu di alam semesta merupakan Muka-Nya. Inilah ajaran puncak dari Syekh Siti Jenar. Dunia yaitu kinerja wujud yang suatu, dan hakikat keberadaan bukanlah dualitas. Sehingga, kemana kembali kita hadapkan diri kita, maka sesungguhnya kita senantiasa mendatangi Tampang-Nya. Semua adalah penampakan Muka-Nya. Sekarang yuk kita cicipi dua bait syair dari Syekh Siti Jenar.


Bersanggama dalam keberadaan
diliputi yang ilahi
hilanglah kehambaannya
lebur lenyap sirna lelap
digantikan kerelaan Ilahi
kehidupannya
ialah kehidupan Ilahi


Lahir batin keberadaan sukma
nan disembah Gusti
Gusti nan menyembah
sendiri menyembah-disembah
memuji-dipuji sendiri
timbal balik




privat hayat ini

Jadi, pada puncak meditasi dan keheningan diri terjadilah penegasian kesediaan diri yang terkekang tubuh. Ditegaskan bahwa kehambaan telah meruap, mutakadim hilang. Bila kehambaan masih tegar eksis maka di alam semesta ini masih berada privat keadaan dualitas. Keadaan inilah yang menyebabkan orang terpisah dengan Tuhannya, meskipun secara konseptual diketahui bahwa Sang Pereka cipta makin dekat daripada otot lehernya. Akan namun, sejauh keadaan dualitas belum sirna maka secara nyata Halikuljabbar masih jauh tinimbang urat lehernya, karena Halikuljabbar dianggap ki berjebah di luar dirinya.

Ada dualitas artinya kita mengakui ada dua kerelaan, yakni ada nan inferior (keberadaan yang kualitasnya kian rendah) dan ada yang superior (keberadaan nan kualitasnya lebih tinggi). Jika demikian, kedua jenis kehadiran itu tumbuh melalui proses. Semua yang tumbuh melaui suatu proses, bukanlah kerelaan yang kekal. Dan, bilamana tiada keberadaan nan kekal, maka tak kali ada fenomena atau penampakan di alam semesta.

Kita hidup di bumi ini karena kita kanggonan (didiami) urip (hidup) yang diberikan oleh Tuhan. Namun, badan jasmani ini hanyalah fenomena yang terbawa oleh ruang, waktu, situasi psikologis. Hakikatnya badan jasmani ini tidak terserah karena badan jasmani ini seperti susuk yang menumpang di layar galuh maupun layar kaca. Sekiranya cucur digulung atau dimatikan ya lenyaplah fenomena tersebut. Kaprikornus, memang benar bahwa manjapada ini panggung dagelan, dan kita merupakan pemain-pemain sandiwara. Maka itu karena itu, kita harus bisa memainkan peran kita masing dengan baik.

Lalu, barang apa korban terdahulu pelenyapan ambivalensi? Alamat pokoknya yaitu menumbuhkan kesadaran akan ke-Satu-an, Oneness, internal hayat ini, baik semangat kita ibarat individu maupun secara kolektif. Dengan lenyapnya perasaan dualitas dalam hidup ini, maka jarak antara kawula dan Gusti akan hilang. Akan lahir orang-makhluk yang menjadi dirinya koteng, dan n domestik semangat sosial akan tercipta interaksi antar warganya secara tim, sehingga semua akan memenuhi fungsinya masing-masing dalam kehidupan. Sekat antara pemimpin dan yang dipimpin akan hilang, dinding penyekat antara kanjeng sultan dan rakyatnya akan runtuh. Bila ini sudah lalu terjadi, maka enggak akan ada lagi pendayagunaan terhadap sesama basyar.

Pelenyapan sekat antara kawula (hamba, rakyat, maupun bawahan) dan Gusti (syah, pemimpin, atau pembesar) akan melahirkan satu kehadiran yang disebut Manunggaling Kawula Gusti. Keberadaan MKG ini akan menggugurkan kehidupan yang berkasta dan merontokkan feodalisme. Relasi sesama manusia berupa simbiose mutualisme, yaitu hubungan yang ganti menguntungkan. Sesama bani adam hidup dalam suasana liberte, egalite dan fraternite, yaitu vitalitas dalam kebebasan, paralelisme dan persaudaraan antara sesama cucu adam di mayapada ini. Dari sinilah Syekh membangun kontak penduduk dengan wadah yang disebut masyarakat, nan tidak dijumpai di Timur Perdua pada waktu itu.



Memang awam merupakan kosa kata nan dibentuk dari unsur-zarah introduksi Arab, yaitu dari syarika yang artinya menjadi sekutu; dan umum yaitu pusparagam orang-hamba allah yang bersekutu. Bintang sartan, setiap anggota mahajana itu sama dengan sel-sel tubuh nan nonblok, sahaja caruk berinteraksi sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing. Setiap anggota masyarakat mengetahui tugasnya. Terciptalah pertalian hadiah. Inilah suralaya yang selayaknya yang harus diwujudkan di marcapada ini. Dengan demikian, konsep MKG sebenarnya untuk menciptakan kehidupan bersama dalam menyentuh kejayaan!
(Achmad Chodjim, materi ini juga di sampaikan di Hotel Indonesia Kempinski-Grand Indonesia, 19 Mei 2009)


*) Ir. Achmad Chodjim MM, adalah penulis trik “Syekh Siti jenar: Makna Mortalitas (jilid 1)”, “Syekh Siti Jenar: Butir-butir dan Makna Hidup (jilid 2)” dan “Mistik dan Siaran Kanjeng sultan Kalijaga”.




(Perigi : http://budayaleluhur.blogspot.com – Peninggalan Adiluhung)



Source: https://sites.google.com/site/thursitassite/2-l/mengungkap-misteri-tuhan-zat-tertinggi/9-pokok-ajaran-syeh-siti-jenar