Ajaran Moral Dan Filosofi Hidup Orang Jawa

Daftar Isi

  • #1 “Alon-alon Waton Kelakon”
  • #2 “Teguran Nandur Bakalan Ngunduh”
  • #3 “Urip Iku Urup”
  • #4 “Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka”
  • #5 Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti”
  • #6 “Nerimo ing pandum”
  • #7 “Aja Adigang, Adigung, Adiguno”
  • #8 “Wong jowo iki gampang di tekuk – tekuk”
  • #9 “Ngunduh Wohing Pangarti”
  • #10 “Ajinhing Diri Saka Lati, Ajining Saka Jasad Busana”
  • #11 “Memayu Hayuning Bawana, Abrasta dur Hangkara”
  • #12 “Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Rumpil Biarpun Kelaman”
  • #13 “Aja Milik Komoditas Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo”
  • #14 “Mangan Ora Mangan Singpenting Kumpul”
  • #15 “Ngluruk Minus Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Kanjeng sultan, Sugih Tanpa Bandha”
  • #16 “Aja Ketungkul Marang Kelungguhan, kadonyan Lan Kemareman”
  • #17 “Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mandak Cilaka”
  • #18 “Saiki Jaman Gila Mata uang Ora Edan Ora Komanan Sing Bejo Sing Eling Lan Waspodo”
  • Penutup

Sejak zaman dulu Indonesia tersohor mempunyai peradaban yang tinggi, salah satunya diwakili oleh kebudayaan Jawa.

Bahasa Jawa adalah pelecok satu bahasa daerah di Indonesia dengan jumlah pendongeng terbanyak. Hal ini tidak mengherankan menghafal asal usul bahasa Jawa yang cukup tangga.

Selain bahasa, filosofi Jawa juga menjadi peninggalan kebudayaan Jawa yang diwariskan hingga saat ini.

orang Jawa
Sumber: Firman Kasan

Filosofi Jawa ini sangat akrab kaitannya dengan urusan kehidupan, namun sayangnya skor-poin tersebut menginjak kepam akibat tergerus makanya korespondensi modern.

Mudahmudahan kita tidak lupa dengan ajaran pitarah, berikut ini merupakan himpunan filosofi manusia Jawa tentang nasib yang disertai dengan khasiat dan penjelasannya.

Baca juga: Kata Kata Lucu Bahasa Jawa

#1 “Alon-alon Waton Kelakon”

Filosofi Jawa diatas mempunyai makna “alun-alun-alun-alun namun yang signifikan selamat”. Tentu hal ini mengajarkan kepada kita yang terpenting itu adalah keselamatan, jangan sampai mengejar sesuatu sahaja tidak mencela keselamatan.

Pada prakteknya pula kita sering kali mendengar anak adam tua kita menggunakan filosofi Jawa ini, terutama dalam hal bepergian.

Keselamatan memang merupakan hal nan terdepan takdirnya dibanding dengan kecepatan.

#2 “Sapa Nandur Bakalan Ngunduh”

Filosofi Jawa ini sangat terkenal, bahkan menjadi salah satu adagium yang paling tenar di Indoensia. “Sapa nandur bakalan ngunduh” punya arti yaitu, segala apa yang kamu tanam itu yang akan ia tuai.

Memang seperti itulah kenyataannya, barang apa nan kita usahakan itu yang akan kita dapatkan.

Jadi berusaha semaksimal mungkin, supaya kita mendapatkan apa nan kita cita-citakan, jangan lalai dibarengi dengan puji-pujian.

#3 “Urip Iku Urup”

Filosofi makhluk Jawa ini silam privat, merupakan kita sebagai hamba allah harus bisa menggarangkan orang bukan, menyalakan disini bisa jadi membantu.

Menjadi nur bikin orang dengan prinsip menebar kebaikan. Itulah hidup sesudungguhnya, bukankan manusia nan paling baik itu, mereka yang penting bagi bani adam lain.

Semoga kita dapat memegang teguh filosofi Jawa ini ya Pins!

#4 “Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka”

Filosofi ini silam menempa, di Jawa koteng merendah sudah diajarkan sejak dini, seperti maslahat dari filosofi jawa di atas “Jangan meresa tukang agar tak pelecok jihat, dan jangan melakukan curang agar tak celaka”.

Keistimewaan dari perkataan ini juga mengajarkan kita buat tidak bersikap beraga dan tegar minus hati.

Seharusnya kita diberikan kemampuan menjadi individu yang dapat mengerjakan filosofi ini.

#5 Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti”

Bagi anak adam Jawa sendiri kata di atas adv amat berguna sekali, sebab sifat iri, jahat, angkara berang serta picik tetapi biasa diatasi dan dikalahkan maka dari itu sabar.

Sebagai halnya perkataan Bahasa Minang, “Manang jadi arang kalah makara abu”. Tidak ada gunanya memperlebar permasalahan dengan perselisihan.

#6 “Nerimo ing pandum”

Filosofi Jawa tersebut n kepunyaan makna kejujuran, keiklasan, ringan tangan privat bekerja, dimana hal ini sangat penting sekali dalam menjalani kehidupan.

Kudus dalam menerima setiap hasil nan telah dikerjakan sangatlah terdepan. Kerumahtanggaan kata mutu Bahasa Sunda Kahirupan, pesan ini pun turut disampaikan.


#7
“Aja Adigang, Adigung, Adiguno”

Setiap filosofi orang Jawa mengandung makna yang sangat baik, termasuk dengan yang satu ini, memiliki makna yang mendalam bagaimana seharusnya basyar hidup.

Jaga tata krama, jangan sombong dengan kepentingan, kedudukan serta latar pantat keluarga. Memang mudah-mudahan seperti mana itulah semangat.

#8 “Wong jowo iki gampang di tekuk – tekuk”

Kata majemuk filsosofi ini memiliki makna, bahwa orang Jawa itu mudah di tekuk-tekuk.

Arti dari ditekuk-tekuk seorang adalah luwes, mudah bergaul dengan yang enggak, tanpa memandang pamor sosial.

#9 “Ngunduh Wohing Pangarti”

Setiap turunan akan menanggung akibat nan dia perbuat, makara jangan aliansi menyalahkan orang tidak apapun yang terjadi puas diri seorang.

Hal ini mengajarkan kepada kita untuk beraksi lebih lever-hati, bahwasannya kita bertanggung jawab sesudah-sudahnya atas diri kita masing-masing.

Filosofi ini hampir serupa dengan salah satu peribahasa Jawa, yaitu “Iwak kalebu ing wuwu”, yang artinya berhati-hati dalam berperan.

#10 “Ajinhing Diri Saka Lati, Ajining Saka Raga Busana”

Makana berpunca fisofi ini adalah kehormatan diri manusia semenjak dari lisan, sedang kehormatan raga manusia dari pakaiannya.

Tentu yang terbiasa kita perhatikan ialah lisan, mengingat oral dapat menunjukan seberapa pangkat keperawanan kita, apakah kita termasuk basyar yang terhormat atau bukan.

Maka jika kita bakir menjaga lisan, Insha Allah akan selamat marcapada dan akhirat.

#11 “Memayu Hayuning Bawana, Abrasta loklok Hangkara”

Makna pecah kata di atas adalah, hamba allah harus bisa memasarkan keselamatan, kebahagian serta ketenteraman, dan harus dapat menghilangkan ataupun memberantas sifat tamak, serakah dan kebengisan murka.

#12 “Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Berat Walaupun Kelaman”

Hamba allah seringkali sangat gampang tergoyahkan dengan sutu hal, baik takhlik mereka senang alias sebaliknya.

Sesekali kita harus boleh membiasakan dari filosofi yang penuh makna ini, bak khalayak jangan gampang sakit hati tatkala petaka menimpa, serta jangan sedih tatkala kekeringan sesuatu.

#13 “Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo”

Resan radiks dari sendiri anak adam adalah pelupa, mudah tergiur dengan kejadian nan mentah dan belum pasti.

Makannya, filosofi satu ini mengingatkan kepada kita kendati dalam menjalani jiwa sebaiknya jangan mengiler oleh-hal-situasi nan kelihatan mampu, cantik dan indah dan jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan semangat.

Kejadian ini juga ditekankan di salah satu perkataan Bahasa Batak, “Tumagon Mangolu Pogos Ale Dihormati” yang berjasa lebih baik spirit miskin tetapi terhomat berpunca pada kaya sahaja terhina.

#14 “Mangan Ora Mangan Singpenting Kumpul”

Makan tak makan yang utama kumpul, minus lebih sedemikian itu makna dari filosofi di atas. Bukan sonder alasan mengapa kita harus selalu kumpul dengan keluarga, sebab mudahmudahan dapat ganti mengingatkan dan menjalani hidupd engan utuh.

Sebab momen kita menjalani usia tidak melulu soang uang atau harta secara materil.

#15 “Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Guna-guna, Sugih Tanpa Bandha”

Menurut saya pribadi filosofi ini merupakan introduksi-kata nan habis bijak sekali, sebab mempunyai makna berjuang sonder perlu mengapalkan massa, menang sonder merusakkan dan mempermalukan, berwibawa minus mengandalkan kekuatan, kekuasaan, aset atau bahkan keturunan, kaya sonder didasari kebendaan.

#16 “Aja Ketungkul Marang Kelungguhan, kadonyan Lan Kemareman”

Makna dari filosofi ini merupakan, bahwa kita jangan sebatas terobsesi, terpasung maka itu keinginan bikin mendapatkan sebuah kedudukan, kebendaan dan kepuasaan duniawi.

#17 “Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mandak Cilaka”

Maksudnya jangan merasa pintar ataupun pandai supaya tidak riuk jihat, dan jangan suka berbuat curang meski lain celaka.

#18 “Saiki Jaman Edan Yen Ora Edan Ora Komanan Sing Bejo Sing Eling Lan Waspodo”

Bahasa ini sangat patut dengan keadaan jaman sekarang, dimana semakin sini, marcapada semakin tidak karuan dan semakin kisruh.

Makna dari perkataan di atas adalah ‘sekarang zaman edan, nan gak edan gak bakalan kebagian, hanya orang yang ingat kepada Yang mahakuasa dan waspadalah yang akan beruntuk’.

Penutup

Cukuplah, itu beliau beberapa pedoman, pandangan hidup maupun filosofi yang bisa kita pelajari.

Mutakadim saatnya kita lagi merenungi filosofi Jawa tersebut, serta menjadikannya laksana nasehat bagi diri di zaman kini.

Temukan beragam pilihan rumah terlengkap di daftar properti & iklankan properti dia di Jual Beli Hak Pinhome. Bergabunglah bersama kami di aplikasi Rekan Pinhome untuk sira badal properti independen atau agen maktab milik.

Sira sekali lagi bisa belajar lebih lanjur adapun Properti di Property Academy


by Pinhome. Download permintaan Rekan Pinhome melalui App Store atau Google Play Store saat ini!

Hanya di Pinhome.id yang mengasihkan kemudahan intern membeli properti. Pinhome – PINtar jual beli sewa properti.

Editor: Daisy

Source: https://www.pinhome.id/blog/filosofi-orang-jawa/