Ajaran Syekh Siti Jenar Tentang Shalat

Jakarta, Muslim Obsession
– Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Biram sering kali dicap maka itu dok publik bak sendiri Wali Tuhan yang sesat karena ajaran sufinya yang dikenal dengan
Manunggaling Kawula Gusti, ataupun Allah berintegrasi n domestik dirinya.

Sepantasnya bukan ada yang salah dalam ajaran Syekh Siti Jenar, karena pada hakikatnya ia meyakini seluruh internasional ini tersurat khalayak itu tidak ada, karena yang terserah, dan yang paling sejati itu tetapi Sang pencipta. Momen semua tidak ada, maka dirinya menyatu dengan Sang pencipta, yang ada hanya Allah.

Dr. Fahruddin Faiz, Dosen Filsafat dan Tasawuf, Institut Islam Area Sri paduka Kalijaga Yogyakarta dalam sebuah kajiannya sering mengatakan, wahi Syekh Siti Jenar privat beribadah bertambah menekankan hakikat, dan mualamat. Ia berguru langsung dengan jamhur sufi di Irak, Al Halajj.

Hanya saja perkenalan awal Fahruddin, pendirian berdakwah Syekh Siti Jenar terlalu cepat, tidak boleh mengimbangkan dengan khuluk dan kognisi publik Jawa pada waktu itu, yang mungkin belum bisa memahami sepenuhnya aji-aji hakikat dan makrifat. Padahal alas kata sira, ilmu hakikat penting sekali kerumahtanggaan ibadah.

Dalam sebuah ceramahnya, Fahruddin mengklarifikasi panjang dempak tentang aji-aji kebatinan nan diajarkan Syekh Siti Jenar. Kerumahtanggaan ibadah, misalnya, ia melihat shalat. Siti Jenar selalu menekankan bahwa n domestik beribadah jangan mengetem di syariat. Karena jika belaka di syariat, maka shalat hanya setakat persuasi fisik, layaknya olahraga.

“Jika kata Syekh Siti Jenar kita shalat itu acap kali hanya olahraga, itu yang dimaksud menyembah kekecewaan, kesunyian, tidak ada barang apa-apanya. Ituloh yang disembah siapa, Dia (Sang pencipta) boleh jadi nggak paham,” ujar Fahrudin dalam kajian tasawufnya nan dikutip Muslim Obsession di akun youtube Ular-ular ID, Sabtu (20/6/2020).

Shalat tanpa hakikat itu pengenalan Syekh Siti Jenar, hanya menyembah kekosongan. Ia mengibaratkan sama dengan bambu, kelihatan bersumber luar lestari dan kokoh, tapi dalamnya kosong, tak terserah barang apa-apanya, atau seperti mayat kangkung, kosong tak terserah isi, kosong.

“Shalat tanpa memahami hakikatnya seperti menyembah silinder, hatinya kayu, mayit kecebong, kosong mlompong, zero dampa, lengkung angin,” tulis Siti Jenar dalam buku Baja Siti Jenar yang dibacakan Fahruddin.

“Itu yang bahasanya Ki Lonthang (Muridnya Syekh Siti Jenar) disebut kekosongan. Jadi berapa uang lelah Allah hadir dalam setiap shalat kita?” ujar Fahruddin.

“Kalau guruku prolog Ki Lonthang, setiap detik kerumahtanggaan hidupnya adalah shalat, ingat Tuhan,” tambah Fahruddin

Mencolong Shalat

N domestik Serat Siti Jenar, disebut bahwa setiap ibadah jangan berhenti di hukum. Syariat hanya kancah bakal boleh naik lebih tahapan yang puncaknya merupakan beradu dengan Allah. Niatkan semua ibadah hanya karena dan bagi Allah, tak karena ingin nan lain, karena itu sebagaimana mencuri ibadah.

“Pada masa saya shalat, budi saya maling, lega waktu saya dzikir, karakter saya melepaskan lever, menaruh hati pada seseorang, kadang-kadang memimpikan kedunian nan banyak, lain dari dzat Allah yang bersama diriku,” tulis Siti Jenar.

Fahrudin menjelaskan pemikiran Siti Jenar bahwa semua ibadah itu merupakan perintah Almalik, maka semua itu harus dilakukan atas pangkal Demi Allah, karena Allah,
lillah. Tapi umumnya manusia, beribadah ataupun shalat karena sumber akar pamrih, mau dapat tembolok yang banyak yang sifatnya kedunian.

“Ini yang disebut maling shalat. Shalatnya karena pamrih, enggak karena Allah, bukan karena radiks kecintaan kepada Allah,” ucap Fahruddin.

“Produk kelihatannya nan shalat Isya dan Subuh berjamaah tanpa putus maka…… Rezekinya akan lancar.  Wah terus kita Isya dan Subuh tanpa putus ngincernya segala apa? Ki gua garba laju,” lanjut Fahruddin disambut gelak para jamaah.

“Harusnya ibadah itu niatnya lillah, tetap karena Allah,
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un,” jelas Fahruddin.

Jika dikomparisikan dengan ayat Al-Alquran, Fahruddin mengambarkan hamba allah yang ibadahnya niatnya tidak karena Allah maka sebagaimana dijelaskan dalam surat Al-Ma’un.

. فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ

fa wailul lil muṣalliin

Artinya: Maka celakalah orang yang shalat,
الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ

alladziina hum ‘an ṣalaatihim saahụn

Artinya: (yaitu) orang-orang yang lupa terhadap shalatnya,
الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ

alladziina hum yuraaụn

Artinya: yang berbuat riya

“Jadi semua yang diomongkan Siti Jenar, ini teko karena banyak yang mencacat, dianggpnya Siti Jenar ngarang nggak ngerti syariat, dan nggak pernah ngaji. Nggak mana tahu kalau diliat dari silsilahnya anda masih keturunan Nabi,” tutupnya. (Albar)

Source: https://www.muslimobsession.com/syekh-siti-jenar-jangan-suka-mencuri-shalat/