Ajaran Tasawuf Rabiah Al Adawiyah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia adil

Rabi’ah Al-Adawiyah (رابعة العدوية القيسية)
Rabbana’ah Basri
Lahir 713-717
Bashrah, Irak
Meninggal 801
Bashrah, Irak
Era Khalifah Dinasti Umayyah
Wilayah Sufi
Aliran Islam Sunni, Shafi’i

Minat utama

Sastra Selam, Sufisme, Mistisisme

Gagasan utama

Sufisme, Zahid, Asketik

Dipengaruhi

  • Al-Qur’an, Muhammad

Memengaruhi

  • Al-Ghazali, Ibnu Arabi, Jalaluddin Rumi

Rabiah Al-Adawiyah
(bahasa Arab:
رابعة العدوية القيسية‎) dikenal pun dengan nama
Illah’ah Basri
merupakan seorang sufi wanita yang dikenal karena kegadisan dan kecintaannya terhadap Almalik.[1]
[2]
[3]
Rabi’ah adalah klien (bahasa Arab:
Mawlat) dari klan Al-Atik suku Qays bin ‘Adi, dimana sira terkenal dengan sebutan al-Qaysiyah.[4]
[5]
Beliau dikenal bak seorang sufi wanita nan zuhud, ialah tidak terpincut kepada kehidupan duniawi, sehingga ia menghambakan hidupnya hanya kerjakan beribadah kepada Allah.[1]
[2]
[3]
[4]
[5]
[6]
[7]
Rabiah diperkirakan lahir antara waktu 713 – 717 Masehi, atau 95 – 99 Hijriah, di kota Basrah, Irakdan meninggal sekitar tahun 801 Masehi / 185 Hijriah.[4]
[5]
Cap lengkapnya adalah
Rabi’ah binti Ismail al-Adawiyah al-Basriyah.[3]
Rabiah ialah sufi wanita beraliran Sunni pada tahun dinasti Umayyah yang menjadi pemimpin mulai sejak murid-pelajar perempuan dan zahidah, yang menghambakan dirinya kerjakan studi syariat kegadisan yang silam merembah dan taat kepada Tuhan.[3]
[4]
[5]
Rabi’ah Al-Adawiyah dijuluki bak “The Mother of the Grand Master” atau Ibu Para Sufi Besar karena kezuhudannya.[2]
Beliau juga menjadi panutan para ahli sufi tidak seperti Ibnu al-Faridh dan Dhun Nun al-Misri.[1]
Kezuhudan Tuhanku’ah lagi dikenal hingga ke Eropa.[6]
Hal ini membuat banyak cendikiawan Eropa meneliti pemikiran Rabi’ah dan menulis riwayat hidupnya, sebagaimana Margareth Smith, Masignon, dan Nicholoson.[2]
[6]

Profil

[sunting
|
sunting sumber]

Kelahiran

[sunting
|
sunting sumber]

Rabi’ah dilahirkan di kota Basrah, Irak, sekeliling abad ke okta- tahun 713-717 Masehi.[6]
[8]
Anda dilahirkan dari keluarga yang dahulu miskin dan ialah anak asuh keempat bersumber empat bersaudara, sehingga ia dinamakan Rabiah yang berarti anak keempat.[6]
[8]
Ayahnya bernama Ismail, ketika malam menjelang kelahiran Tuhanku’ah, situasi ekonomi keluarga Ismail sangatlah buruk sehingga anda tidak memiliki uang dan penerangan untuk menggauli istrinya nan akan bersalin.[6]
Beberapa hari setelah kelahiran Illah’ah, Ismail bermimpi berpadan utusan tuhan Muhammad, dalam mimpinya kamu bersabda pada Ismail agar jangan bersedih karena anaknya, Rabbana’ah, akan menjadi seorang wanita nan mulia, sehingga banyak orang akan memimpikan syafaatnya.[6]

Menjadi yatim piatu

[sunting
|
sunting sumber]

Sejak kecil Illah’ah mutakadim dikenal perumpamaan anak asuh nan cerdas dan taat beragama.[6]
Beberapa tahun kemudian, ayahnya, Ismail, meninggal dunia kemudian disusul oleh ibunya, sehingga Rabi’ah dan ketiga saudara perempuannya menjadi anak yatim piatu.[6]
Ayah dan Ibunya tetapi meninggalkan harta substansial sebuah perahu nan kemudian digunakan Rabi’ah untuk mencari nafkah.[6]
Rabi’ah berkarya laksana penarik perahu yang menyebrangkan orang dari got Bengawan Dajlah ke tepi wai yang lain.[6]
Sementara ketiga saudara perempuannya bekerja dirumah menenun kain ataupun melembarkan benang.[6]

Menjadi hamba sahaya

[sunting
|
sunting sumber]

Saat kota Basrah dilanda berbagai bencana alam dan kekeringan akibat kemarau panjang, Rabi’ah dan ketiga ari-ari perempuannya memutuskan untuk berkelana ke beraneka macam daerah lakukan berkuat arwah.[6]
N domestik pengembaraanya, Rabi’ah terpisah dengan ketiga saudara perempuannya sehingga ia hidup seorang diri.[6]
Kapan itulah Rabi’ah diculik oleh sekelompok penyamun kemudian dijual laksana hamba sahaya seharga enam dirham kepada seorang pedagang.[5]
[6]
Perantau yang membeli Rabbana’ah sebagai hamba sahaya memperlakukannya dengan kejam, sehingga Rabi’ah harus selalu membanting tulang sepanjang hari.[5]
[6]
Intern suatu lilin batik, Illah’ah bermunajat kepada Almalik jika ia bisa nonblok dari perbudakan maka ia enggak akan cak jongkok adv minim pun beribadah.[5]
[6]
Detik Rabi’ah menengah berdoa dan mengamalkan qiamulail, pedagang yang menjadi majikannya itu dikejutkan makanya sebuah lampion yang mengelepai di atas kepala Rabi’ah tanpa terserah sekepal sutra pun[5]
[6]
Cuaca ibarat lentera yang menyinari seluruh rumah itu merupakan cahaya sakinah (diambil terbit bahasa Ibrani yaitu
“Shekina”
yang berarti kurat karunia Yang mahakuasa) dari seorang muslimah salih.[5]

Melihat hal tidak biasa nan terjadi pada Rabi’ah, pedagang itu menjadi ketakutan dan keesokan harinya membebaskan Rabi’ah.[5]
[6]
Sebelum Tuhanku’ah menghindari, Pendatang itu menawarkan Illah’ah untuk suntuk di Basrah dan ia akan menanggung barang apa keperluan dan kebutuhan Rabi’ah, hanya karena kezuhudannya, Tuhanku’ah menolak dan sesuai janjinya takdirnya ia netral, maka Rabi’ah akan mengabdikan hidupnya hanya bikin beribadah.[6]

Usia andai sufi dan pilihan lakukan tidak menikah

[sunting
|
sunting sendang]

Pasca- bebas sebagai hamba sahaya, Rabi’ah pergi mengembara di padang ramal.[5]
Sehabis beberapa ketika tinggal di padang kersik halus, sira menemukan tempat silam.[5]
Di medan itulah ia menghabiskan seluruh waktunya beribadah kepada Tuhan.[5]
Rabiah lagi memiliki majelis yang dikunjungi banyak murid.[3]
Majelisnya itu kembali caruk dikunjungi oleh zahid-zahid enggak bikin bertukar pikiran.[3]
Di antara mereka yang relasi mengunjungi majelis Rabbana’ah adalah, Malik kacang Dinar (wafat 748/130 H), Sufyan as-Sauri (wafat 778 / 161H), dan Syaqiq al-Balkhi (wafat 810/194H).[3]
Rabi’ah semata-mata tidur sedikit disiang hari dan menghabiskan sepanjang malam cak bagi bermunajat sehingga ia dikenal seumpama pujangga dengan syair-syair cintanya yang indah kepada Yang mahakuasa.[6]
Rabi’ah sudah lalu terkenal karena kecerdasan dan ketaatannya ke pelosok negeri sehingga anda menerima banyak lamaran lakukan menikah.[5]
[6]
Di antara mereka yang melamarnya adalah Abdul Wahid kedelai Zaid, seorang teolog dan ulama, Muhammad bin Sulaiman al-Hasyimi, seorang amir berusul dinasti Abbasiyah yang sangat bernas, juga seorang Gubernur yang meminta rakyat Basrah bagi mencarikannya koteng gendak dan warga Basrah bersepakat bahwa Rabi’ah adalah orang yang tepat kerjakan gubernur tersebut.[5]
[6]
Riwayat lain lagi menyebutkan bahwa Hasan al-Bashri, sendiri sufi raksasa dan sahabat Rabi’ah, juga meminangnya, semata-mata situasi itu masih diragukan kebenarannya menghafaz Hasan al-Bashri meninggal 70 tahun sebelum mortalitas Rabi’ah.[6]
Rabbana’ah memerosokkan seluruh lamaran itu dan memilih cak bagi tidak menikah.[5]
[6]
Meskipun tidak menikah, Tuhanku’ah pulang ingatan bahwa pernikahan termasuk sunah agama, sebab, tidak suka-suka kependetaan (bahasa Arab:
Rahbaniyah) n domestik hukum islam.[6]
Rabi’ah memilih untuk lain menikah karena ia takut tidak bisa bermain objektif terhadap junjungan dan anak-anaknya lusa karena hati dan perhatiannya mutakadim tercurahkan kepada Allah.[5]
[6]
Tidak cak semau satupun di bumi ini yang dicintai Rabbana’ah kecuali Sang pencipta.[5]
[6]
Sehingga atas dasar itulah, Rabi’ah memuntuskan lakukan tidak menikah sampai penutup hidupnya.[5]
[6]

Akhir hidup

[sunting
|
sunting sumber]

Sekembalinya Rabi’ah dari Mekah lakukan melaksanakan ibadah haji, kesegaran Rabi’ah menginjak melandai.[6]
Sira terlampau bersama sahabatnya, Abdah binti Abi Shawwal, yang telah menemaninya dengan baik hingga akhir hidupnya.[6]
Rabbana’ah tak sangkutan mau menyiksa individu lain,[3]
sehingga ia meminta kepada Abdah buat menguliti jenazahnya nanti dengan kain kafan nan telah ia sediakan sejak lama.[6]
Menjelang kematiannya, banyak orang-makhluk alim mau mendampinginya, namun Rabi’ah menolak.[3]
[5]
[6]
Rabiah diperkirakan meninggal dalam usia 83 tahun pada tahun 801 Masehi / 185 Hijriah dan dimakamkan di Bashrah, Irak.[1]
[2]
[3]
[4]
[5]
[6]
[7]

Ajaran

[sunting
|
sunting sumber]

Ibnu Arabi adalah ulama tasawuf osean sesudah hari Rabbana’ah

Detik menjadi hamba sahaya, Rabi’ah mengembangkan revolusi sufi yang berlandaskan seluruh amal ibadahnya atas dasar cinta kepada Ilahi tanpa tujuan atas pahala, suralaya atau penyelamatan pecah azab neraka.[1]
Rabi’ah terkenal dengan metode caruk kepada Allah (Bahasa Arab:
Al-mahabbah, artinya kerap minus intensi)[1]
dan uns (kekariban dengan Tuhan).[2]
Perkataan mistik Rabi’ah menyantirkan kesalehan dirinya, dan banyak di antara mereka yang menjadi kiasan alias pengenalan-kata hikmah yang tersebar luas di wilyah-wilayah negara Islam.[2]
Rabi’ah al-Adawiyah naik daun zahid (bukan tertarik pada harta dan kesenangan materialisme) dan tak korespondensi kepingin meminta pertolongan pada ornag lain.[3]
Saat ia ditanya bani adam kok ia bersikap demikian, Tuhanku’ah menjawab:


Berlainan dari para zahid maupun sufi yang mendahului dan seabad dengannya, Rabi’ah n domestik menjalankan ilmu batin itu bukanlah karena dikuasai oleh perhatian takut kepada Allah atau takut kepada nerakanya.[3]
Hatinya mumbung oleh perasaan cinta kepada Halikuljabbar sebagai kekasihnya.[3]

Para ulama suluk memandang Rabi’ah laksana patok berarti perkembangan tasawuf berusul fase dominasi emosi takut kepada Allah menuju fase otoritas alias mengembangkan emosi cinta nan maksimal kepada-Nya.[3]
Tingkat umur zuhud yang sediakala direntangkan oleh Hasan al-Bashri sebagai ketakutan dan pengharapan kepada Yang mahakuasa, telah dinaikkan maknanya oleh Rabi’ah sebagai asketisme karena cinta kepada Allah.[7]
Rabi’ah mutakadim membuka jalan ma’rifat Illahi sehingga ia menjadi komplet cak bagi para cendikiawan orang islam, sebagaimana Sufyan ath-Thawri, Rabah bin Amr al-Qaysi, dan Malik bin Dinar.[6]

Pengaruh terhadap urut-urutan sufisme

[sunting
|
sunting sumber]

Ajaran-petunjuk Rabbana’ah tentang tasawuf dan sumbangannya terhadap perkembangan sufisme dapat dikatakan sangat osean.[5]
Sebagai seorang guru dan penuntun spirit sufistik, Rabi’ah banyak dijadikan panutan makanya para sufi dan secara praktis penulis-katib samudra sufi selalu membicarakan ajarannya dan mengutip syair-syairnya sebagai seorang pandai termulia.[5]
Di antaramereka ialah Abuk Thalib al-Makki, As-Suhrawandi, dan teolog muslim, Al-Ghazali nan mengacu sreg ilham-visiun Rabbana’ah sebagai doktrin-doktrin intern sufisme.[5]

Syair-puisi

[sunting
|
sunting sumur]

Cinta tulen kepada Tuhan yaitu puncak ilmu batin Rabi’ah.[7]
Puisi-syair kecintaannya kepada Allah kemudian banyak keluar pecah ucapan sufi-sufi besar seperti Fariduddin Al-Athar, Bani Fardih, Al-Hallaj, Anak laki-laki Arabi, Jalaluddin Rumi telah dimulai kian silam oleh Rabi’ah.[7]
Setengah dari syairnya adalah:

Al-Ghazali mengasihkan pendapatnya adapun syair Rabbana’ah itu.[7]
Menurut Al ghazali, yang dimaksud dengan rajin keinginan merupakan demap akan Allah karena nikmat-Nya diatas dirinya karena Allah telah menganugerahinya hidup sehingga dia dapat menyebut label-Nya.[7]
Dan cinta kedua, adalah kerap karena Halikuljabbar berwajib menerimanya, ialah kerap karena menyaksikan kegantengan Halikuljabbar dan kebesarannya yang kian perian kian melangah baginya.[7]
Maka itulah cinta yang setingi-tingginya.[7]
Dalam sajak yang bukan, Rabi’ah berkata:[7]

Tujuan Tuhanku’ah yaitu kepada Tuhan karena Tuhan, tak kepada Tuhan karena mengharap.[7]
Sehingga ia menuliskan lagi syair sebagai halnya ini:[7]

Referensi

[sunting
|
sunting sumber]

  1. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    (Indonesia)
    Shadily, Hasan. “Ensiklopedia Indonesia”. Jakarta: Ichtiar Plonco Van Hoeve.



  2. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    (Indonesia)
    Glasse, Cyril (1989). “Ensiklopedia Islam”. Jakarta: Kaisar Grafindo Persada. 979-421-604-6.



  3. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    h




    i




    j




    k




    l




    m




    n




    o




    p




    q




    (Indonesia)
    Cak regu Penulis IAIN Syarif Hidayatullah (1992). “Ensiklopedia Islam Indonesia”. Jakarta: Djambatan IKAPI.



  4. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    (Indonesia)
    Duli Abdurrahman as-Sulami (2004). “Sufi-Sufi Wanita”. Bandung: Pustaka Karunia.



  5. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    h




    i




    j




    k




    l




    m




    kaki langit




    o




    p




    q




    r




    s




    t




    u




    v




    w




    x




    (Inggris)
    Margaret Smith (1928). “Rabia The Mystic & Her Fellow Saints in Selam”. London: Cambridge University Press.



  6. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    h




    i




    j




    k




    l




    m




    kaki langit




    o




    p




    q




    r




    s




    falak




    u




    v




    w




    x




    y




    z




    aa




    ab




    ac




    ad




    ae




    af




    ag




    ah




    ai




    (Indonesia)
    Muhammad Atiyah Khamis (1994). “Penyair Wanita Sufi: Rabiah Al-Adawiyah”. Jakarta: Bacaan Firdaus.



  7. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    h




    i




    j




    k




    l




    m




    kaki langit




    o




    (Indonesia)
    Hamka, Buya (1953). “Perkembangan Kebatinan dari abad ke abad”.
    2. Jakarta: Penerbit Pustaka Islam: 69.




  8. ^


    a




    b




    (Inggris)
    Poem Hunter. “Biography of Rabia al Basri”. Diakses tanggal
    26 Juni
    2022
    .




Teks bertambah lanjut

[sunting
|
sunting sumber]

  • Smith, Margareth. 1928.
    Rabia The Mystic & Her Fellow Saints in Islam. London: Cambridge University Press.
  • Hamka, Bapak. 1953.
    Tasawuf dari Abad ke Abad. Halaman: 69-73. Jakarta: Pustaka Islam.
  • Khamis, Muhammad Atiyah. 1994.
    Rabi’ah al Adawiyah. Jakarta: Pustaka Firdaus.

Pranala asing

[sunting
|
sunting sumber]

  • Mahabbah Kerap Rabiah Al Adawiyah
  • Riwayat hidup Tuhanku’ah Al-Adawiyah 717 M
Persondata
Jenama Basri, Rabia
Segel alternatif
Deskripsi singkat Mukminat saint and Sufi mystic.
Tanggal lahir june?
Tempat lahir Basra,
Tanggal kematian 801
Gelanggang mortalitas Mount of Olives



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Rabi%27ah_al-Adawiyyah