Ajaran Untuk Mengesakan Allah Disebut

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Tauhid (Keesan Tuhan) yaitu dasar terbesar dari religiositas Islam. Bahkan, seseorang akan dianggap Mukmin apabila meyakini tidak ada Tuhan selain Allah dan mengakui Nabi Muhammad SAW ialah rasul utusan Allah SWT.

Allah SWT berfirman di n domestik Alquran surat Albaqarah ayat 225 yang artinya, ”Allah, tidak terserah Tuhan melainkan Anda Yang Umur kekal lagi terus menerus mengurus, tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada nan dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa maaf-Nya…

Privat ayat 225 Salinan Albaqarah yang juga disebut
Ayat Takhta
itu, Tuhan SWT menggambarkan sifat tauhid-Nya bahwa Dialah amung yang paling kuat. Tauhid adalah fondasi Islam yang menyatakan Halikuljabbar SWT menciptakan dan mengatur umbul-umbul sepenuh beserta seluruh isinya.

Menurut Selam, semua ajaran nan diturunkan kepada para nabi n kepunyaan esensi nan setolok yakni kabar tentang tauhid dan keesaan Tuhan SWT. Namun, kebanyakan umat menyalahartikan ajaran tersebut. Malah, ajaran para nabi dicampuradukkan dengan hal-hal berbau takhayul.

Tauhid merupakan pesan nan seimbang nan diterima Rasul Pria AS ketika turun ke marcapada. Pesan itu pun diterima Nabi Nuh AS, Isa AS, Ibrahim AS hingga utusan tuhan terakhir Muhammad SAW.

Islam menolak apa bentuk pencitraan Allah SWT dalam bentuk khalayak yang diidolakan karena latar bokong kebangsaan, kekayaan, kekuasaan alias ras. Orang nan tidak mampu memahami konsep ini sering menginterpretasikan Allah SWT dengan cara yang materialistis.

Momen Nabi Muhammad SAW ditanyai umatnya adapun Allah SWT, maka Allah SWT menjawabnya dengan menurunkan surat Al-Safi ayat 1-4: ”Katakanlah, “Dialah Yang mahakuasa, Yang Maha Esa. Allah merupakan Allah yang gelimbir kepada-Nya segala apa sesuatu. Dia lain melahirkan dan tidak pula dilahirkan; tidak pula ada sendiri pun nan setolok dengan-Nya.

Pertinggal Al-Tulus ayat 1-4 menegaskan ketauhidan Allah SWT. Seumpama Kreator, Allah SWT punya sifat yang berbeda dengan sesuatu nan diciptakannya.

Jika tidak, Penggarap tetapi bersifat temporer dan bukan bisa berwajib atas seluruh ciptaan-nya. Cak bagi itu, Yang mahakuasa SWT bersifat abadi dan tidak bergantung lega apa pun. Kedatangan Almalik SWT tidak ada habisnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Garis haluan Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Source: https://www.republika.co.id/berita/o0inwd301/tauhid-esensi-dalam-islam