Al Mukarom Al Ustadz Artinya

Masih seperti mana kemaren.
Burit ini. Hujan abu merosot sekali lagi, mengguyur Eksklusif dan daerah sekitar, berita di surat kabar dinding ma’perenggan, Tunggal pos memparkirakan, kurat seperti ini, baru akan berpisah pertengahan april mendatang, ini masih di Surakarta yang lumayan minus, aku nggak terlampau pikir dengan daerah bukit, seperti Tawang mangu dan Boyolali, padahal april masih bilang bulan lagi. Berbeda lagi bagi masyarkat unik, yang berdomisili di kawasan perbukitan Wonogiri.
Subhanallah..ajaib.
Ya. Ajaib sekali, aku takjub dengan berbagai musim yang di ciptakan Allah, cak semau banyak periode didunia ini, inilah kebesaranNya, yang tiada daya upaya melainkanNya.
Sebenarnya, istirahat di dalam kamar sambil menungu waktu maghrib tiba, jauh lebih nyaman, kajian-amatan semacam liqo’-liqo’ dan ta’lim-ta’lim, nan dibentuk para santri koteng dengan para asatidz pilihan mereka, banyak yang ditunda atau dibatalkan secara mendadak, para asatidz nan bersangkutanpun kadang akan memakluminya. Kegiatan semacam ini, hanya fertil menjujut dan menggagas hati mereka nan mendalam asing biasa tekadnya, mereka nan berkeinginan rabuk, berniat kencana, berthoolabul ‘ilmi segiat siapa dalam segala peristiwa dan kondisi, sebagai halnya karang yang tak rangkaian cak jongkok bertasbih, meluhurkan asma Allah, walau ombak, badai dan sengatan rawi terus menantang.
Allahuakbar.
Jadinya, kuniatkan benar-benar cak bagi menghadiri liqo’. Pasca- berusaha membuyarkan segala rasa ragu. Tepat ba’da asyar umumnya kami telah memulai liqo’ di kediaman ustadz ‘Abdillah, yang berada tidak jauh dari ma’had, pada sang ustadz ini, aku dan beberapa temanku mengkaji kitab Mustaqbal Li Hazad Dien karya Sayid kutub. Beliau adalah alumni ma’had nan pertama, pernah bergabung dengan legiun mujahidin Afgan, ketika awal-awal berkecamuknya perang melawan Amerika(Laknatulloh ‘alaihim). Kemudian Al Ustadz Al Mukarom ‘Abdurrohim, pengasuh ma’had memanggil Beliau, bakal pun ke ma’sempadan mengamalkan ilmunya yang sempat terhalang.
Jadwal liqo’ dengan ustadz ‘Abdillah, hanya sekali seminggu, setiap waktu kamis. Seandainya tidak petang ini, pron bila lagi ada kesempatan yang setimpal?.
“Ji, hayya nazhab, aina Dendi?’
“Yubaddil malabis, lahdoh. Intadzir suwaiyya!”
Dengan payung hasil pinjaman, kesannya sebatas juga kami di kondominium ustadz ‘Abdulloh, kami langsung menyalami ustadz dan bilang santri nan sudah memimpin kami, diantaranya terserah Matsna, Yuli dan Giri. Mereka santrti-santri aliyah yang tidak koneksi terlambat mengajuk liqo’, menengah kami santri mu’alimmin, aku, Puji dan Dendi terkadang agak meremehkan hari, jarak antara asrama mu’alimmin dan rumah ustadz nan boleh ditembuh lebih cepat, selalu didahului Matsna, Yuli dan Giri, yang tiba berpunca asrama lebih jauh.
Puji adalah pasangan sekelasku nan bersumber dari Magelang, bersumber sekian banyak teman di jajaran niha’ie, sira nan minimum hampir denganku, dekat dengannya sejak menjabat Na’ibul Hujroot, sedang Puji menjawat Ro’isul Hujrootnya, bersama dengan Puji di Hujrotus Sab’ah Mantiqotus Tsalisah, kelas empat semester awal, mulai waktu itu, sapai kemudian kami di satukan kembali dalam liqo’ ini, kami membicarakan segala yang bisa di bicarakan, kami bagikan semua yang bisa dibagi, hingga lain ada rasa malu, malas dan mangkel diantara kami.
Kalau dengan Dendi, aku agak sedkikit sungkan, ini wajar. Waktu dikelas lima, Dendi memjabat bagaikan Ro’isul imarotus Syu’unit Tholabah, ujung tombak Syu’unit Tholabah. Wajar sekadar jika seluruh jajaran Niha’ie menghormatinya, cuma sungkan lain berarti diam, kami tersenyum bersama, momen bercanda ria tak kenal perbedaan dan bangkit bersama, saat suka-suka yang letoi dalam menjalani arwah di ma’tenggat ini.
Berbeda dengan Matsna, Yuli dan Argo. Aku kurang mengenal mereka lebih akrab, hanya bertemu seminggu sekali kerumahtanggaan liqo’, selain di sebabkan asrama yang berparak, ada rendah perbedaan persepsi, antara santri aliyah dan mu’alimmin, dalam memandang kehidupan, walaupun Matsna, Yuli dan Argo terbantah berbeda pecah yang lain. Setahuku Matsna mulai sejak dari Wonosobo, suka memakai gamis dengan setelannya, agaknya intelek sedikit, dari pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukannya puas ustadz, sementara Yuli dari Banten, lebih sering memakai jas momen liqo’, tidak banyak bertannya, hanya sering menganjukan pendapat-pendapatnya, nan kemudian cak bagi di tambah-tambahkan bila kurang, atau dikurang-kurangi bila berlebih berlebihan oleh ustadz, dan Ardi semenjak Bekasi, pakaiannya selit belit dideteksi, agaknya anak orang elite, setelannya selalu tukar-ganti, engkau makin suka menambah-nambahi komentar, tanya dan pendapat kita-kita lega ustadz.

###

Kediaman ustadz ‘Abdulloh alangkah keteter, bermula gerbangnya hanya, terbantah meyakinkan para pengguna jalan, sekiranya rumah tersebut merupakan kediaman koteng yang berjiwa zuhud pangkat, gerbang nan lewat singkat, dimensi suatu kendaraan roda empat, pekarangan juga dibuat sekeciil mana tahu tampaknya, hanya terlihat beberapa kembang nan menghiasi, tingkapan-jendela selalu tertutup rapat, yang ku tahu, hanya dibuka ketika pagi hari hanya, ketika polusi belum menepati marcapada, ada invalid teras di babak depan, ku rasa sahaja sebagai penghias sahaja, karena hanya bermatra tiga setengah tegel sedang.
Putaran depan kerumahtanggaan rumahnya, di bagi tiga, bagian pertama berjajar rapi kedudukan-kursi gawang, dengan satu meja, menengah di penggalan kedua dalam rumah tersebut, aku kurang mengetahui lebih, sebab cangap tertutup, hanya di masuki oleh pengunjung-tamu akhwat, agakya memang sengaja di desain bagi akhwat nan ingin bersilaturrahmi, di bagian ketigalah kami mengadakan liqo’ , di bagian ketiga ini, hanya terpasang karpet ukuran segara, untuk mengakuri tamu-tamunya nan ingin bersilatuurahmi lebih santai, atau di peruntukkan sebagai ta’lim-ta’lim atau liqo’-liqo’ seperti tunggang ini;
“Mumkin..yakfi, Al Liiqo’ li hazal yaum..nakhtatim bil qiro’atud du’a kafarotul majlis sawiyyan..”, “subhanaka Allahuma wa bihamdika…,” ratib kafarotulmajlis selesai, “Wassalamu’alaikum…” liqo’ selesai, namun ahad depan dilanjutkan pula.
“Kaifa bahstukum yaa akhi, intahaitum?” tanya ustadz pada semua.
Aku, Dendi dan Puji saja tersenyum, sambil berpamitan Dendi menjawab:
“Lamma tadz..” sepertinya ustadz kembali tidak membuthkan jawaban yang pasti soal ini, dan kami beertiga tanpa rapat, seia jawaban diwakili Dendi, Bahst yang dimaksud ustadz adalah karya tulis anak-anak Mu’alimmin, bak syarat miskram papan bawah terakhir. Ini berbeda dengan Matsna, Yuli dan Ardi, privat program kelas akhir mereka di Aliyah, setahuku cak semau, sekadar saja bersopan santun ingris, tetapi sebatas bedah buku-buku tebel, tepatnya tidak Bahst, tapi penali. Dan anak-anak seperti Matsna, Yuli dan Jabal mutakadim karuan menyelesaikan tugas tersebut dengan waktu yang relatif singkat, maroji’ yang mereka butuhkan hanya beberapa kamus berbahasa ingris dan pastinya buku nan akan mereka resensi.
Sangat berbeda dengan Bahst nan terjamah anak-momongan mu’alimmin, dari judul pembahasannya saja kita di tuntut sesempit barangkali, harus nan tersendiri, terjadwal kop bahstku, harus tiga kali silih, akibat judul pertama yang kuajukan dinilai invalid mengkhususkan pembanahasan, terlalu mahajana, menengah judul kedua, telah ada yang mengajukannya dengan titel yang sejajar, sampai di kepala karangan ketiga juga mau di gugurkan, untung aku unjuk rasa panitia..

###

“Kaifa tadz.. ” kutemui ustadz Mukhlis malam itu di pangsa Panitia Bahst Inferior Intiha kantor Mu’alimmin.
Ustadz Muklis terdiam memandangi kertas nan kuajukan bak kepala karangan dan bilang rincian menu pembahasan, Ia kembali mematangkan pertimbangannya..
“Waduh badil faqot yaa akhi, haza Al mabahst wasii’un jiddan, i’ti ilaa hunna bil maudhuu’il jadiid!” ini petama kalinya panitia menolak titel bahstku.
Kertas tulen bertuliskan “Ma’rifatus syahadtaen” dan bilang rincian pembahasan itu kupandangi pun, serampak menuju lokal berlatih malam, pikiranku membenarkan pendapat ustadz Mukhlis, selain itu aku memang kesusahan untuk mencari maroji’ nan menyangkut tentang persaksian Muhammdarrosululloh, aku memang lain mendapatkan pusat yang membahas mengenai ini, di Maktabah Ibnu Taimiyah milik Ma’senggat, namun atas saran dari puji, aku sedikit memdapatkan masukan maroji’ dengan mencarinya di perpustakaan milik UMS, tapi tetap semata-mata cacat.
“Gimana Nif?, diterima Maudhuu’mu” tanya Puji.
“Di suruh saling..” jawabku singkat, “ganti titel barang apa yaa..Ji, tolong caarikanlah..” aku dan Puji ganti memandang, lalu Puji menyinambungkan belajarnya juga, sepertinya dia malas memperhatikanku, ngurusin Bahst koteng saja telah sibuk.
Aku nggak lampau pikir, pandanganku beralih ke si Bubuk, yang tampaknya lebih santai, anak asuh Probolinggo itu semenjana memuroja’ah hafalannya..
“Bu Bahstmu dah kelar?” tanyaku.
“Telah, adv amat interviu-wawanrembuk ke pembimbing.” jawabnya.
“Sekiranya bantuin aku cariin tajuk bisa yaa..”
“Memang apa to temanya?”
“Aqidah..”
“Belum ngajukan sejajar sekali.”
“Telah, nggak dipedulikan, terlalu umum katanya..”
Mulai-tiba..si Zuber timbrung.
“Halo teman-teman semua, malam ini kop Bahstku diterima, Mukhlis Mukhlis Mukhlis-Mukhlis Mukhlis Mukhlis..” Nadanya seneng.
Temanku yang suatu ini memang memiliki adat yang nyana aneh, sering buat ketawa orang, anak Laweyaan Solo ini agak rumpil pemfokusan, kalau telah ribut, boleh rame seisi kelas dibuatnya, sudah lalu masuk nggak salam, di internal serempak teriak-teriak, yang didalam ada nan diam, ada yang cekikkan, cak semau yang senyam senyum ikut doyan Bahst temannya keterima.
Aku sama Serdak juga kepingin turutan ketawa, tapi Abu segera melanjutkan masalahku..
“Apa judulnya?”
“Ma’rifatus syahadataen.”
“wah jelas, nggak di coba salah satunya.”
“Maksudmu.”
“Ma’rifatus Syahadatu An Laa Ilaaha Illa Sang pencipta atau Ma’rifatus Syahadatu Anna Muhammadur Rosululloh gitu..”
“Gimana ya?, Laa Illaha Illa Allah apa Muhammadar Rosululloh.”
“Pertimbangannya maroji’ yang paling kecil banyak yang mana?”
“Muhammadar Rosululloh itu di makabah ma’perenggan nggak terserah.”
“Ya sudah Laa Illaha Illa Tuhan belaka.”
“Tapi kurasa, sudah ada nan rampas kop itu Bu..”
“Itukan perasaanmu cuma, cepat di coba, sebelum sederhana..”
“Bisa, siapa merembas?”
Aku langsung lari ke Maktabah, mencari persendian bahan pembahasan yang cak bagi kuajukan, maksimal kelak pagi, aku sudah serahkan lagi ke panitia, jam di tanganku menujukkan tepat pukul sembilan, bukan beda yang ditunjuk oleh jarum jam dinding yang bertengger di tembok kanan Maktabah, lilin batik semakin mengantuk.

###

“Apa. Dzakiyya! walah kemaren baru ketemu, Cuma nggak senggang ngobrol banyak.”
“Nif, Ibu pengen ngobrol setara dia, gimana caranya?”
“Penting sekali to Bu?”
“Anggap saja bermakna, kamu kalau nggak penting-penting, nggak pernah mau ngasih solusi.”
“Ya suntuk telphon saja asrama dara, bereskan Bu.”
“Ibu nggak punya nomornya.”
“Ni, dicatat, Sanif dektekan.”
“Sebentar Ibu ambil bolpoint terlampau.” hening sepemakan, dari sebrang telphon, ibu seperti kasak-kusuk cari bolphoint.
“Ya, start..”
“0271.”
“Kodenya ya Nif?”
“Iya Ibu ..637..736.”
“736, ya sudah lalu berlatih yang rajin yo le, Ibu lain ngajari adimu sek. Assalaamu’alaikum…”
“Wa’alaikumussalaam..” telphon di tutup dari sebrang dulu, kemudian baru ku letakkan gagang telphon yang ku jabat.
Pagi nan kirana, tapi dapat di perkirakan, belaka akan bertahan beberapa jam, kebolehjadian menjelang waktu Dzuhur, langit juga sudah mendung. Kita enggak Syu’udzon lakukan sebuah kekaguman, kita bertambah berpengharapan, dibalik semua keajaiban, pasti ada hikmahnya. Aku segera menjauhi Syu’unit Tholabah menuju mat’am, melanjutkan makanku yang tahu terhalang oleh telphon Ibu.
Selesai makan aku bergegas ke kamar, cekut peralatan sekolah, kemudian sambil berangkat, masih ada tahun untuk mampir ke ruang Panitia Bahst, mendapati Ustadz Mukhlis, aku tahu sekali, kalau ustadz comar hinggap pagi, sepengetahuanku Ustadz Mukhlis satu-satunya, yang paling cak acap di antara sekian banyak para asatidz, aku mengaguminya, tapi kalau tajuk Bahst ini nggak masin lidah..(aku ragu, apakah aku mengahiri keheranan ini?)
“Hazal maudhuu’uiy Al jadiid tadz.”
Ustadz langsung menerima kertas yang kuajukan kepadanya, sonder banyak basa-basi Sira langsung, melihat-lihat daftar judul bahst anak-anak, awalnya ku kira judulku lakukan langsung di sambut, namun..
“Nif, Afwan hazal maudhu’ qod qodama akhuna Zuber.”
“Oww, fil barehah ustadz.”
“Na’am ba’da khorojta min hazal maktab al barehah.”
“Huuuh…” nggak tanya-pertanyaan ke Zuber tadi lilin batik,
Aku langsung merentang kelas, setelah mengatakan sreg ustadz akan menukar kop secepatnya, dua mata les ‘Ilmul Hisab dan ‘lmul Ijtima’, dengan tahun dua jam-dua jam les terasa berat, minim konsentrasi, pikiranku berputar sekitar judul bahst, selain nggak keterima lagi, kemarin aku sampai ketiduran di maktabah, kurang lebih jam dua belas, bau kencur di bangunkan ustadz Yahya bagian maktabah.
“Kesempatan.” hatiku sangkil antap, selepas istirahat latihan aqidah, akan kugunakan untuk konsultasi saja, selain ustadz Hamim Sofyan sebagai pemateri aqidah, aku di takdirkan menjadi anggota bahst bimbingannya.
“Aku nggak bisa ngandalin orang lain.” istirahat kugunakan sebai-baiknya, mencari judul ke maktabah, di maktabah aku cak bertemu ustadz Yahya, ku tatap beliau menengah mengaji buku Huru-Hara Penghabisan Zaman.
“Laa tanam yaa akhi..” usatadz menyindir kejadian tadi lilin batik, aku hanya senyum-senyum agak sipu, otakku segera merefleksikan tajuk buku yang sedang di baca ustadz, inikan pembahasan aqidah, Huru-Hara Penutup Zaman mengingatkanku ke salah satu komidi gambar garapan Dedy Mizwar yang sempat box ofice tahn lalu, Kiyamat Sudah Dempang..
“Kenapa aku tidak ambil judul yang setimbang ya..” spontan ku putuskan dalam hatiku mantap, maroji’ bisa dari kitab-kitab pembahasan kelas bawah suatu sebatas heksa-, bakal tebel pembahasanku. Panca belas menit terasa begitu cepat di maktabah, di antara sekian deret gerendel-gerendel aqidah hanya enam buku nan ku memilah-milah perumpamaan maroji’ku, ditambah pokok-buku kelas satu hingga kelas enam, jadi ada dua belas buku.
“Kriiing…kriiing…kriiing……” genta ikut, aku segera ke kelas bawah setelah mencatat semua kitab-kitab alamat bahstku, dan sederum memesannya pada ustadz Yahya lakukan di foto kopikan, selama kronologi berbunga maktabah ke tempatan kelas, pikiranku lebih menyukai kop As saa’ah, tapi kalau hanya sama dengan itu, hatiku invalid mantab, harus ada tambahan..
“Kiyamat Mutakadim Dekat..damping, bahasa arabnya qoriibun, As Saa’atu Qoriibun.” akhirnya boleh pun judul.
Selesai pelajaran aqidah, ku konsultasikan perubahan judul bahstku pada ustadz Hamim Sofyan, beliau leha-leha saja, ” selama kamu boleh maroji’ yang jelas, silahkan di usikan Nif.” Aku segera lari ke ruang panitia bahst kelas penutup, ku temui ustadz Mukhlis di sana.
“As Saa’atu Qoriibun, Qoriibah yaa akhi..”
“Na’am yaa ustadz, afwan”
Mematamatai rincian pembahasan yang ku ejekan, kening ustadz Mukhlis berkerut tidak bedanya seperti kerutan sebelum-sebelumnya pada titel Bahstku, anda sepertinya berpikir keras.
“Izan hazal maudhuu’ ghoiru maqbul, fabhastniyl maudhuu’..tadz!” menyadari akan adanya ancaman penolakan, nadaku kubuat memelas, waktuku hanya sedikit, utadz Munirul Haq dengan materi Ushul Fiqhnya sudah menunggu, ini judul yang ke tiga kalinya kuajukan..
Tiba-mulai Ustadz Sholeh Ibrohim ketua sekolah Mu’alimmiin ikut ruang panitia.
“Kaifa yaa ustadz kam ‘adad allazy lam yuqdam Al maudhuu’?” Kontrolnya.
“Katsir tadz, lam nisf minhum.”
“Wa haza, limaza?” ustadz sholeh Ibrohim menunjuk ke arahku.
“Haza ustadz al maudhuu’ a laisa wasii’?” kedua ustadz itu memandangi kertas presentasi judulku.
“As saa’atu Qoriibah, jayyid jiddan maudhuu’uka yaa akhi..” beliau seperti meneliti rincian pembahasanku, “laa..laa wasii’, yakfi hazal bahst, qobbil!” suruhnya lega ustadz Mukhlis.
Lega pun hatiku.

###

Bandung 18 desember 2007

Read previous post:

Read next post:

Be the first person to continue this post

Source: https://kemudian.com/node/149866