Alkohol Termasuk Asam Atau Basa

Berpokok Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Gugus fungsi hidroksil (OH) intern sebuah molekul alkohol

Model bola dan stik dari gugus kemustajaban hidroksil (OH) kerumahtanggaan sebuah elemen alkohol

Internal kimia,
alkohol
(atau
alkanol) adalah istilah nan mahajana untuk fusi organik segala apa pun yang mempunyai gugus hidroksil (-OH) nan tertarik puas atom karbon,[1]
yang anda koteng terikat lega elemen hidrogen dan/alias atom karbon lain.

Alkohol
cerbak dipakai buat menyebut etanol, yang sekali lagi disebut
grain alcohol,
dan kadang cak bagi minuman nan mengandung alkohol. Keadaan ini disebabkan karena memang etanol nan digunakan sebagai bahan dasar pada minuman tersebut, bukan metanol, alias keramaian alkohol lainnya. Sama dengan dengan alkohol nan digunakan dalam dunia farmasi. Alkohol yang dimaksudkan adalah etanol. Sesungguhnya alkohol intern ilmu kimia mempunyai pengertian yang lebih luas lagi. Kelas alkohol nan penting, dimana metanol dan etanol adalah episode yang paling sederhana, mencengam semua campuran yang memiliki rumus publik CnH2n+1OH.

Akhiran
-ol
unjuk privat penamaan kimia IUPAC bakal seluruh zat nan terdapat gugus hidroksil sebagai gugus fungsional dengan prioritas tertinggi. Ketika gugus dengan prioritas yang makin strata hadir di internal senyawa tersebut, persiapan
hidroksi-
digunakan dalam nama IUPAC-nya. Akhiran
-ol
dalam jenama non-IUPAC (seperti parasetamol atau kolesterol) sekali lagi biasanya menunjukkan bahwa zat tersebut adalah alkohol. Saja, banyak zat yang mengandung gugus keefektifan hidroksil (terutama gula, sebagai halnya glukosa dan sukrosa) memiliki keunggulan yang lain memasukkan akhiran
-ol, maupun anju
hidroksi-.

Struktur

[sunting
|
sunting sumber]

Gugus fungsional alkohol adalah gugus hidroksil nan terbawa pada karbonium hibridisasi sp3. Ada tiga keberagaman utama alkohol – ‘primer’, ‘sekunder, dan ‘tersier’. Nama-nama ini merujuk pada kuantitas karbon yang terpesona pada karbon C-OH. Alkohol primer minimum sederhana adalah metanol. Alkohol sekunder nan paling sederhana adalah 2-propanol, dan alkohol tersier paling sederhana adalah 2-metil-2-propanol.

Etimologi

[sunting
|
sunting sumber]

Kata “alkohol” berasal dari bahasa Arab
kohl
(bahasa Arab:
الكحل,

translit.



al-kuḥl

‎), abuk yang digunakan sebagai
eyeliner.[2]
Al- yakni kata ancang kerumahtanggaan bahasa Arab, setara dengan
the
kerumahtanggaan bahasa Inggris.
Alkohol
lega awalnya digunakan bikin bubuk yang lalu halus yang diproduksi melampaui sublimasi mineral alami stibnit untuk takhlik antimon trisulfida
Sb2S3
. Senyawa ini dianggap sebagai esens alias “roh” (kehidupan) terbit mineral ini. Senyawa tersebut digunakan sebagai antiseptik,
eyeliner, dan kosmetik. Makna alkohol diperluas ke zat-zat nan disuling secara publik, dan kemudian menyempit menjadi etanol, ketika “kehidupan” digunakan sebagai sinonim buat minuman gigih.
[3]

Bartholomew Traheron, dalam terjemahan John of Vigo pada perian 1543, memperkenalkan perkenalan awal tersebut sebagai istilah yang digunakan maka itu carik “barbar” (orang Moor) untuk “duli halus.” Vigo batik: “the barbarous auctours use alcohol, or (as I fynde it sometymes wryten) alcofoll, for moost fine poudre.” (interpretasi: “orang barbar memperalat alkohol, ataupun (seperti yang kadang saya tulis)
alcofoll, untuk tepung nan paling subtil.”)[4]

Lexicon Chymicum
perian 1657, maka dari itu William Johnson menerjemahkan kata tersebut andai “antimonium sive stibium.”[5]
Dengan prolog tak, alas kata tersebut merujuk lega cairan apa juga yang diperoleh dengan penyulingan, termaktub “alkohol berpangku tangan,” esens berpangku tangan yang disuling. Libavius internal
Alchymia
(1594) merujuk pada “vini alcohol vel vinum alcalisatum”. Johnson (1657) pertal
alcohol vini
sebagai “quando omnis superfluitas vini a vino separatur, ita ut accensum ardeat donec totum consumatur, nihilque fæcum aut phlegmatis in fundo remaneat.” Terjemahan alas kata tersebut dibatasi menjadi “umur anggur” (korban kimia yang dikenal sekarang seumpama etanol) lega abad ke-18 dan diperluas ke papan bawah zat yang disebut laksana “alkohol” dalam kimia berbudaya setelah 1850.[4]

Pemakaian

[sunting
|
sunting sumber]

Pengawet

[sunting
|
sunting sumber]

Alkohol juga dapat digunakan laksana pengawet bakal satwa koleksi (yang ukurannya kecil).

Otomotif

[sunting
|
sunting sumber]

Alkohol dapat digunakan sebagai bahan bakar otomotif. Etanol dan metanol bisa dibuat untuk membakar kian tahir dibanding minyak bumi maupun diesel. Alkohol boleh digunakan sebagai antibeku pada radiator. Alkohol juga dapat dimanfaatkan untuk meninggi kinerja mesin pembakaran intern. Metanol dapat disuntikan ke dalam mesin
Turbocharger
dan
Supercharger, dan ini akan menghilangkan masuknya peledak kedalam pengudut masuk, menyenggangkan masuknya awan yang makin padat.

Jenama-nama untuk alkohol

[sunting
|
sunting sumber]

Keunggulan sistematik

[sunting
|
sunting sumber]

Dalam sistem tatanama IUPAC, merek-cap sintesis alkana kehilangan akhiran “a” dan diganti dengan “ol”, contohnya metana menjadi metanol dan etana menjadi etanol.[6]
Ketika dibutuhkan, posisi berpokok gugus hidroksil dapat diketahui dari nomor di antara merek alkana dan “ol”: 1-propanol kerjakan CH3CH2CH2OH, 2-propanol untuk CH3CH(OH)CH3. Jikalau terserah gugus fungsi yang lebih tangga (sama dengan aldehida, keton, ataupun asam karboksilat, maka awalannya merupakan “hidroksi”,[6]
contohnya: 1-hidroksi-2-propanon (CH3COCH2OH).[7]

Beberapa contoh senyawa alkohol dan bagaimana menamainya

Penggunaan tatanama IUPAC dipakai di siaran-laporan ilmiah dan diperlukan identifikasi detail terhadap substansi tersebut. Pada konteks lainnya, alkohol galibnya disebut dengan gugus alkil ditambah dengan alas kata “alkohol”, misalnya metil alkohol, etil alkohol. Propil alkohol bisa disebut
ufuk-propil alkohol atau isopropil alkohol, tergantung dari di mana gugus fungsinya bersendi, berikatan pada karbon pertama maupun kedua pada rantai propana.

Alkohol dapat dikelompokkan menjadi
alohol primer,
alkohol sekunder, dan
alkohol tersier. Pengklasifikasian alkohol ini tergantung berbunga berapa banyak partikel karbon lain nan berkaitan dengan atom karbon nan sekali lagi menyambat gugus hidroksil. Alkohol primer punya rumus masyarakat RCH2OH; alkohol sekunder rumus biasanya RR’CHOH; dan alkohol tersier rumus biasanya RR’R”COH, di mana R, R’, dan R” melambangkan gugus alkil. Etanol dan
n-propil alkohol yakni contoh alkohol primer; isopropil alkohol adalah contoh alkohol sekunder. Pengusahaan awalan
sek– (atau
s-) dan
tert– (ataupun
ufuk-), biasanya ditulis dalam fonem miring, dapat digunakan sebelum nama gugus alkil bakal mengeluarkan alkohol sekunder dan alkohol tersier berpangkal alkohol primer. Contohnya, isopropil alkohol juga bisa disebut
sek-propil alkohol, dan alkohol tersier (CH3)3COH, alias 2-metil-2-propanol juga dapat disebut dengan
tert-butil alkohol atau
tert-butanol.


Nama umum/trivial/perdagangan

[sunting
|
sunting sumber]

 Rumus ilmu pisah  Tanda IUPAC  Nama awam
Alkohol monohidrat
CH3OH Metanol Alkohol kayu
C2H5OH Etanol Alkohol gandum
C3H7OH Isopropil alkohol Alkohol gosok
C5H11OH Pentanol Amil alkohol
C16H33OH 1-Heksadekanol Setil alkohol
Alkohol polihidrat
C2H4(OH)2 1,2-etadienol Etilen glikol
C3H5(OH)3 1,2,3-propatrienol Gliserol
C4H6(OH)4 1,2,3,4-butatetraenol Eritritol
C5H7(OH)5 1,2,3,4,5-pentapentanol Xilitol
C6H8(OH)6 1,2,3,4,5,6-heksaheksanol Manitol, Sorbitol
C7H9(OH)7 1,2,3,4,5,6,7-heptaheptanol Volemitol
Alkohol alifatik tidak jenuh
C3H5OH Prop-2-ene-1-ol Alil alkohol
C10H17OH 3,7-Dimetilokta-2,6-dien-1-ol Geraniol
C3H3OH Prop-2-in-1-ol Propargil alkohol
Alkohol alisiklik
C6H6(OH)6 Sikloheksan-1,2,3,4,5,6-geksol Inositol
C10H19OH 2 – (2-propil)-5-metil-sikloheksan-1-ol Mentol

Keasaman

[sunting
|
sunting mata air]

Alkohol adalah asam ruai, karena perbedaan keelektronegatifan antara oksigen dan hidrogen pada gugus hidroksil, yang memampukan hidrogen pembebasan dengan mudah. Bila di dekat Karbon Hidroksi terdapat gugus penunda elektron seperti mana fenil atau halogen, maka keasaman meningkat. Sebaliknya, semakin banyak gugus pendorong elektron begitu juga kalung alkana, keasaman menurun.

Produksi

[sunting
|
sunting sumber]

Pada industri, alkohol diproduksi dengan bilang cara:

  • Dengan peragian memperalat glukosa yang diproduksi dari sakarosa dari hidrolisis amilum. Pembusukan alkohol ini dibantu dengan khamir dan suhu dibawah 37 °C. Selain peragian glukosa, proses pembuatan alkohol juga boleh dibuat dengan mengkonversi gula dengan enzim invertase menjadi glukosa dan fruktosa, setelah itu glukosa dikonversi lagi menjadi etanol dengan enzim zimase.
  • Dengan hidrasi serampak menggunakan etilena (Hidrasi etilena)[8]
    atau alkana tak dari proses cracking dari gasolin yang didistilasi.

Sintesis laboratorium

[sunting
|
sunting sumber]

Ada bilang metode yang ada untuk mensintesis alkohol di makmal.

Substitusi

[sunting
|
sunting sumber]

Alkil halida primer bereaksi dengan NaOH atau KOH akan menghasilkan alkohol primer. Pereaksi Grignard bereaksi dengan gugus karbonil akan menghasilkan alkohol sekunder dan alkohol tersier. Reaksi lainnya adalah reaksi Barbier dan reaksi Nozaki-Hiyama.

Diskon

[sunting
|
sunting sendang]

Aldehida ataupun keton bisa direduksi dengan sodium borohidrida atau litium aluminium hidrida. Reduksi lainnya maka dari itu aluminiumisopropilat adalah korting Meerwein-Ponndorf-Verley. Hidrogenasi asimetris Noyori adalah korting asimetris β-keto-ester.

Tuntutan

[sunting
|
sunting sumber]

Kuantitas konsumsi masing-masing kapita alkohol yang tercatat, dalam liter alkohol tulus[9]

Alkohol memiliki berbagai rupa macam penggunaan di seluruh manjapada. Alkohol digunakan bagi minuman beralkohol, bahan bakar, dan kegunaan sains, kedokteran, dan pabrik.

Minuman beralkohol

[sunting
|
sunting sumber]

Minuman beralkohol biasanya mengandung etanol 5% sampai 40% tagihan, sudah lalu diproduksi dan dikonsumsi sejak zaman pra-sejarah.

Antibeku

[sunting
|
sunting sumber]

Campuran 50% v (berdasarkan debit) etilen glikol dalam air puas umumnya digunakan kerjakan antibeku.

Antiseptik

[sunting
|
sunting sumber]

Etanol bisa digunakan sebagai antiseptik untuk membersihkan kulit sebelum disuntik, terkadang bersama dengan yodium. Sabun bubuk berbasis etanol banyak digunakan di bar dan bukan membutuhkan pengering karena amat mudah menguap. Gel berbasis alkohol juga umum digunakan sebagai
hand sanitizer.

Sasaran bakar

[sunting
|
sunting sumber]

Beberapa senyawa alkohol, seperti etanol dan metanol, digunakan andai incaran bakar.

Pelarut

[sunting
|
sunting sendang]

Gugus hidroksil (-OH), yang terdapat pada alkohol, bersifat polar dan hidrofilik sahaja rantai karbonnya berkepribadian non-polar sehingga hidrofobik. Molekulnya secara mahajana menjadi nonpolar dan semakin bukan larut dalam air ketika rantai karbonnya menjadi semakin janjang.[10]

Alkohol dipakai di industri sebagai pelarut atau reagen. Etanol digunakan sebagai pelarut lega obat-obatan, dan parfum karena sifatnya nan relatif tak beracun dan dapat sagu belanda pada substansi non-polar.

Metanol dan etanol

[sunting
|
sunting perigi]

Dua alkohol minimal sederhana yakni metanol dan etanol (nama kebanyakan metil alkohol dan etil alkohol) yang strukturnya sebagai berikut:

        H           H H      |           | |    H-C-O-H     H-C-C-Udara murni-H      |           | |      H           H H     metanol      etanol
      

Dalam peristilahan umum, “alkohol” biasanya adalah etanol alias
grain alcohol. Etanol boleh dibuat berpokok fermentasi biji pelir atau garai dengan khamir. Etanol terlampau awam digunakan, dan telah dibuat oleh manusia selama beribu-ribu perian. Etanol adalah salah satu penawar rekreasi (obat yang digunakan lakukan bersenang-senang) nan minimal tua dan paling banyak digunakan di dunia. Dengan meminum alkohol cukup banyak, orang boleh mabuk. Semua alkohol bersifat toksik (beracun), tetapi etanol tidak terlalu beracun karena tubuh boleh menguraikannya dengan cepat.

  • isopropil alkohol (sec-propil alcohol, propan-2-ol, 2-propanol) H3C-CH(OH)-CH3, ataupun alkohol asah
  • etilena glikol (etana-1,2-diol) HO-CH2-CH2-OH, yang ialah onderdil terdepan dalam zat antibeku
  • gliserin (atau gliserol, propana-1,2,3-triol) HO-CH2-CH(OH)-CH2-OH yang terikat privat patra dan enak alami, yaitu trigliserida (triasilgliserol)
  • Fenol yakni alkohol yang gugus hidroksilnya terikat pada cincin benzena

Alkohol digunakan secara luas dalam industri dan sains sebagai pereaksi, pelarut, dan target bakar. Suka-suka lagi alkohol nan digunakan secara bebas, yakni yang dikenal di masyarakat misal spirtus. Awalnya alkohol digunakan secara bebas sebagai bahan bakar. Tetapi untuk mencegah penyalahgunaannya untuk perut atau minuman, maka alkohol tersebut didenaturasi. Alkohol terdenaturasi disebut lagi
methylated spirit, karena itulah maka alkohol tersebut dikenal dengan nama spirtus.

Resan venom

[sunting
|
sunting sumber]

Beberapa efek berpokok konsumsi etanol jangka tinggi. Andai pelengkap, buat wanita hamil akan menyebabkan sindrom alkohol fetal.

Etanol sreg minuman beralkohol sudah lalu dikonsumsi manusia sejak zaman prasejarah dengan bermacam ragam pamrih kegunaan yang farik-cedera. Konsumsi alkohol dalam jumlah lautan akan menyebabkan seseorang teler alias mabuk. Jika minuman beralkohol dikonsumsi bersambung-sambung dalam jumlah berlebihan, maka dapat menyebabkan kegagalan pernapasan akut dan kematian. Karena etanol dapat menyabarkan kesadaran, sosok yang mengkonsumsinya dapat melakukan perbuatan buruk yang tidak disadari.[11]

Lihat pula

[sunting
|
sunting mata air]

  • Enol
  • Diol
  • Bahan bakar etanol
  • Alkohol mak-nyus
  • Poliol
  • Esterifikasi
  • Transesterifikasi
  • Uji Viktor Meyer
  • Uji Lucas

Catatan

[sunting
|
sunting sumber]


  1. ^

    IUPAC,
    Compendium of Chemical Terminology, edisi ke-2 (“Kiat Emas”) (1997). Versi koreksi daring:  (2006–) “Alcohols”.

  2. ^


    Harper, Douglas. “Alcohol”.
    Etymonline. MaoningTech. Diakses tanggal
    17 May
    2022
    .





  3. ^


    Lohninger, H. (21 December 2004). “Etymology of the Word “Alcohol“.
    VIAS Encyclopedia
    . Diakses terlepas
    17 May
    2022
    .




  4. ^


    a




    b




    “alcohol, cakrawala.”.
    OED Online. Oxford University Press. 15 November 2022.





  5. ^


    Johnson, William (1652).
    Lexicon Chymicum.




  6. ^


    a




    b




    William Reusch. “Alcohols”.
    VirtualText of Organic Chemistry. Diarsipkan dari varian asli tanggal 2007-09-19. Diakses sungkap
    2007-09-14
    .





  7. ^

    Organic chemistry IUPAC nomenclature. Alcohols Rule C-201. http://www.acdlabs.com/iupac/nomenclature/79/r79_202.htm

  8. ^


    Lodgsdon J.E. (1994). “Ethanol”. Kerumahtanggaan Kroschwitz J.I.
    Encyclopedia of Chemical Technology.
    9
    (edisi ke-4th). New York: John Wiley & Sons. hlm. 820. ISBN 0-471-52677-0.





  9. ^


    “Global Status Report on Alcohol 2004”
    (PDF)
    . Diakses tanggal
    2010-11-28
    .





  10. ^

    Alcohols, Phenols, Thiols, and Ethers

  11. ^


    Robert S. Gable (2004). “Comparison of acute lethal toxicity of commonly abused psychoactive substances”
    (reprint).
    Addiction.
    99
    (6): 686–696. doi:10.1111/j.1360-0443.2004.00744.x. PMID 15139867. Diarsipkan
    (PDF)
    dari versi zakiah tanggal 2006-08-10. Diakses copot
    2012-05-26
    .




Pustaka

[sunting
|
sunting sumur]

  • Metcalf, Allan A. (1999).
    The World in So Many Words. Houghton Mifflin. ISBN 0-395-95920-9.



Pranala asing

[sunting
|
sunting sumber]

  • Alcohol (Ethanol) di
    The Periodic Table of Videos
    (Universitas Nottingham)



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Alkohol#:~:text=Alkohol%20adalah%20asam%20lemah%2C%20karena,atau%20halogen%2C%20maka%20keasaman%20meningkat.

Posted by: caribes.net