Analisis Kasus Garuda Indonesia 2019

ANALISA
KASUS
AUDIT PT
GARUDA
INDONESIA
Kaki langitAHUN 2022

Ibarat
perusahaan
publik,
plong
1
April
2019
Garuda
Indonesia
melaporkan
kinerja
keuangan
hari

siasat
2018
kepada
Perniagaan
Efek
Indonesia.Kinerja
moneter
PT
Garuda
Indonesia
(Persero)
nan
berdampak

membukukan laba
bersih US$809
ribu
pada 2022,
berbanding terbalik
dari 2022
yang merugi US$216,58

juta.
Kinerja
ini
terbilang
cukup
mengejutkan
lantaran
sreg
triwulan
III
2018
perusahaan
masih
merugi

sebesar
US$114,08
juta.
Kemudian
lega
tanggal
24
April
2019
Perseroan
mengadakan
Rapat
Umum

Pemegang
Saham
Tepi langitahunan
(RUPST)
di
Jakarta.
Keseleo
satu
alat penglihatan
agenda
menempel
adalah
menyetujui
laporan

keuangan masa kunci 2022.

Dalam


rapat


tersebut,


dua


komisaris


Garuda


Indonesia


(Chairul

Tanjung

dan


Dony


Oskaria)


selaku

perwakilan


dari


PT


Trans

Airways


menyampaikan


keberatan


mereka


melangkahi


sertifikat


keberatan


dalam

RUPST.
Chairal
sempat
meminta
agar
keberatan
itu
dibacakan
intern
RUPST,
namun
atas
keputusan

pimpinan
bersebelahan
tuntutan
itu
lain
dipedulikan.
Hasil
rapat
pemegang
saham
pun
akhirnya
menyetujui

laporan keuangan Garuda Indonesia perian 2022.

Trans
Airways
berpendapat
kredit
transaksi
dengan
Mahata
sebesar
US$239,94
juta
berlebih
berfaedah,

sehingga
mempengaruhi
neraca
keuangan
Garuda
Indonesia.
Seandainya
nominal
dari
kerja
sejajar
tersebut
tidak

dicantumkan
misal
pendapatan,
maka
perusahaan
sebenarnya
masih
merugi
US$244,96
juta.
Tulisan

tersebut
membuat
muatan
yang
ditanggung
Garuda
Indonesia
menjadi
lebih
segara
kerjakan
menggaji
Pajak

Penghasilan
(PPh)
dan
Pajak
Pertambahan
Nilai
(PPN).

Padahal
barang bawaan
itu
mudah-mudahan
belum
menjadi

tanggung


karena


penyerahan


dari


kerja


sama


dengan


Mahata


belum


masuk


ke


kantong

perusahaan.

Pasar


merespons


kisruh


laporan


keuangan


Garuda


Indonesia.


Sehari


usai


takrif


tentangan


laporan

keuangan
maka dari itu
dua
komisaris
beredar,
tanggal
25
April
2019
saham
PT
Garuda
Indonesia
dengan
kode

GIAA
merosot tajam setakat 4,4 tip sreg penutupan perdagangan sesi pertama.

Bursa
Surat berharga
Indonesia
(BEI)
akan
memanggil
manajemen
Garuda
Indonesia
tersapu
timbulnya
perbedaan

opini
antara
pihak
komisaris
dengan
pengelolaan
terhadap
laporan
finansial
tahun
buku
2018,
serta
akan

memanggil
kantor
akuntan
publik
(KAP)
Ufukanubrata
Sutanto
Fahmi
Bambang
dan
Rekan
selaku
auditor

laporan finansial perusahaan.

Pada
tingkatanl
30
April
2022
BEI
sudah
berlawan
dengan
pengelolaan
Garuda
Indonesia
dan
kantor
akuntan

mahajana


(KAP)


Ufukanubrata


Sutanto


Fahmi


Bambang


dan


Rekan


selaku


auditor


laporan


keuangan

Source: https://www.studocu.com/id/document/universitas-pakuan/konsentrasi-auditing/analisa-kasus-audit-pt-garuda-indonesia-tahun-2018/7579679

Posted by: caribes.net