Antar Pelajar Dipisah Atau Digabung

{{brizy_dc_post_date}}

{{brizy_dc_post_author_name}}

Pagi Teknik!

Pada kata sandang ini, Kestari BEM FT UI 2022 akan sedikit membahas tercalit

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
. Start semenjak kata yang sering salah, penggunaan huruf angka, hingga imbuhan semua akan kita bahas sreg artikel ini. Yuk, selevel-sama kita cari senggang!

30 Penulisan Bahasa Indonesia yang Cerbak Salah:

1.

Aktivitas

vs. aktifitas

Kosakata ini yaitu alas kata serapan berpunca bahasa luar. Di bahasa Indonesia, perkenalan awal asing diserap baik intern bentuk pengenalan pangkal atau kata berimbuhan. Sesuai kaidah, imbuhan asing yang berakhiran -ity akan diserap bersama kata dasarnya. Maka dari itu, kata asing active tetap diserap menjadi aktif sementara itu buat activity diserap menjadi aktivitas.

2. Donatir vs.

donatur

3. Sekedar vs.

sekadar

Dalam KBBI bukan terdapat alas kata dasar “kedar” yang ada adalah “kadar”

4. Eliminir vs.

penyingkiran

 5. Silahkan vs.

ayo

Dalam KBBI bukan ditemukan introduksi radiks “silah” namun adanya prolog “sila”. Perkenalan awal “sila” itu sendiri memiliki artian sudilah kiranya, adalah introduksi perintah nan halus.

6.

Antre

vs antri

7. Analisa vs.

analisis

Introduksi ini juga merupakan pengenalan serapan dari bahasa Inggris yaitu analysis. Dalam penyerapan ke kerumahtanggaan bahasa Indonesia, akhiran -ysis berubah menjadi -isis.

8. Ghaib vs.

Gaib

9.

Praktik

vs. praktek

Kata ini juga adalah alas kata serapan dari bahasa Inggris practice. Bagi setiap kata yang memiliki akhiran -ic maka transisi nan tepat ke internal bahasa Indonesia menggunakan -ik sehingga penulisan yang tepat merupakan praktik.

10. Resiko vs.

risiko

Kata ini adalah alas kata serapan dari bahasa asing yaitu risk. Dalam KBBI, maka akan ditemukan sekali lagi kata risiko

11.

Peduli

vs. perduli

12.

Di mana

vs. dimana

Merujuk sreg pedoman EYD (Ejaan nan Disempurnakan), setiap kata depan seperti di- dan ke-, harus ditulis terpisah jika menunjukkan tempat.

13. Gobah vs.

Gubah

14.

Nasihat

vs. nasehat

Kata ini merupakan kata serapan bermula Bahasa Arab nan bersumber berasal kata kerja “nashaha” nan berarti “khalasha”, yaitu jati serta bersih dari segala apa geladir. Privat penyerapan bahasa Arab ke bahasa Indonesia yang berkaitan dengan perubahan bunyi huruf harus disesuaikan dengan ciri khas Indonesia melafalkannya
.

15. Perancis vs.

Prancis

16. Terimakasih vs.

Terima anugerah

Merujuk dalam KBBI, penulisan yang benar ialah dipisah.

17.
Idulfitri

vs. Idul Fitri?

Dalam KBBI, kata Idul fitri tidak ditemukan yang berarti tidak baku.

18. Shalat vs.

Salat

Kata diatas merupakan kata serapan terbit Bahasa Arab ke Bahasa Indonesia. Dan penulisan sesuai KBBI adalah salat.

19. Walikota vs.

Pengasuh Kota

20.

Telepon

vs. Telefon?

Berdasarkan KBBI lembaga bakunya adalah telepon. Prolog telepon sendiri merupakan pembukaan Bahasa Indonesia yang diserap dari Bahasa Inggris yang berbunyi telephone.

21. Antagonistis sosial vs.

Antisosial
?

Kata inkompatibel— dituliskan serangkai dengan introduksi yang mengikutinya.

22. Hoax vs.

Hoaks
?

Bentuk Hoax itu masih dalam Bahasa Inggris. Bentuk bakunya yang mutakadim tertera lega KBBI merupakan hoaks.

23.

Notula

vs. Notulen?

Notula sendiri dalam KBBI memiliki manfaat karangan singkat adapun jalannya persidangan (bersebelahan) serta situasi yang dibicarakan dan diputuskan. Adapun bikin seseorang yang membuat notula tersebut dinamakan penyadur.

24.

Detail

vs. Detil?

Kata nan tersurat pada KBBI adalah detail.

25.

Apotek

vs. Rumah obat?

Berlandaskan KBBI, kata yang tepat yaitu apotek ya.

26. Ahlak vs.

kepatutan

Berlandaskan KBBI, pembukaan nan tepat adalah akhlak dengan arti budi pekerti; perlakuan.

27. Ajeg vs.

Ajek

Kata ini berpangkal berpangkal bahasa Jawa namun mutakadim masuk dalam KBBI yang berarti tetap; integral; tidak berubah. 28. Bunker vs. BungkerKata ini sejatinya berasal dari bahasa Skot yang punya arti bangku atau kursi.

29. Cengkrama vs.

cengkerama

Intern KBBI, kata yang tepat adalah cengkerama.

30. Dharma vs.

Darma

Bagasi; tugas hidup; darmabakti

Penggunaan Simbol Bintik dan Koma

Cap TITIK

1. Etiket bintik dipakai plong penutup kalimat yang bukan pertanyaan ataupun seruan. Misalnya:

  • Ayahku tinggal di Singularis.
  • Biarlah mereka duduk di sana.
  • Dia lamar siapa nan kelak.
  • Hari ini terlepas 6 April 1973.
  • Yuk kita mengheningkan cipta.
  • Sudilah seyogiannya Saudara mengabulkan aplikasi ini.

2. Tera bintik dipakai di belakang angka ataupun huruf dalam satu buram, rangkuman, alias daftar. Misalnya:

  • III. Departemen Dalam Negeri

  • A. Direktorat Jenderal Pembangunan Masyarakat Desa

  • B. Direktorat Jenderal Agraria
  • 1. Patokan Umum
  • 1.1 Isi Karangan
  • 1.2 Ilustrasi
  • 1.2.1 Gambar Tangan
  • 1.2.2 Tabulasi
  • 1.2.3 Diagram

3. Tanda titik dipakai bagi memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan tahun. Misalnya:

Pukul 1.35.20 (palu 1 lewat 35 menit 20 detik)

4. Label titik dipakai untuk mengakurkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan paser waktu. Misalnya: 1.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik) 0.20.30 jam (20 menit, 30 detik) 0.0.30 jam (30 detik)

5. Tanda titik dipakai privat daftar bacaan di antara tanda penulis, judul karangan yang tidak berparak dengan tanda cak bertanya alias tanda seru, dan tempat terbit. Misalnya: Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Weltevreden: Balai Poestaka.

6a. Tanda titik dipakai untuk merembukkan bilangan ribuan ataupun kelipatannya. Misalnya: Desa itu berpenduduk 24.200 orang. Gempa yang terjadi semalam menewaskan 1.231 jiwa.

6b. Tera titik dipakai untuk memisahkan garis hidup ribuan atau kelipatannya nan lain menunjukkan jumlah. Misalnya: Sira lahir pada masa 1956 di Bandung. Tatap halaman 2345 seterusnya. Nomor gironya 5645678.

7. Nama noktah tak dipakai sreg intiha judul yang yakni kepala karangan atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya.Misalnya: Acara kunjungan Lanang Malik Bentuk dan Independensi (Ki 1 UUD ’45) Keseleo Asuhan

8. Nama tutul enggak dipakai di belakang (1) bahan pengirim dan copot suat ataupun (2) jenama dan alamat sahifah. Misalnya: Perkembangan Diponegoro 82 (tanpa titik) Jakarta (minus titik) 1 April 1985 (tanpa titik)  Yth. Sdr. Moh. Hasan (tanpa titik) Jalan Arif 43 (minus tutul) Palembang (tanpa noktah)  Maupun: Kantor Penempatan Tenaga (tanpa bintik) Urut-urutan Cikini 71 (tanpa tutul) Jakarta (tanpa titik)

TANDA KOMA

1. Etiket koma dipakai diantara atom-unsur internal suatu perincian atau pembilangan. Misalnya:

  • Saya membeli daluang, pen, dan tinta.
  • Surat biasa, surat kilat, alias surat khusus memerlukan prangko.
  • Satu, dua, … tiga!

2. Tanda koma dipakai cak bagi memisahkan kalimat seimbang yang satu berpunca kalimat setara berikutnya yang didahului oleh pembukaan sebagaimana tetapi, maupun melainkan. Misalnya:

  • Saya ingin datang, tetapi perian hujan.
  • Didi tidak anak saya, melainkan anak Paket Kasim.

3a. Merek koma dipakai untuk memisahkan anak asuh kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya. Misalnya:

  • Kalau hari hujan, saya tidak nomplok.
  • Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.

3b. Tanda koma tidak dipakai untuk merundingkan anak kalimat dari indung kalimat jika momongan kalimat itu mengiringi induk kalimatnya. Misalnya:

  • Saya tidak akan menclok seandainya musim hujan abu.
  • Dia lupa akan janjinya karena sibuk.
  • Dia adv pernah bahwa soal itu penting.

4. Cap koma dipakai di belakang kata atau kata majemuk penghubung antarkalimat yang terdapat lega tadinya kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi sekali lagi, meskipun begitu, akan hanya. Misalnya:

  • …. Oleh karena itu, kita harus jimat-jimat.
  •  …. Bintang sartan, soalnya tak semudah itu.

5. Jenama koma dipakai untuk memisahkan kata sama dengan o, ya, wah, aduh, kasihan dari introduksi enggak yang terwalak di intern kalimat. Misalnya:

  • Ozon, begitu?
  • Waduh, bukan main!
  • Hati-hati, ya, kemudian hari jatuh.

6. Tanda koma dipakai lakukan meleraikan petikan langsung bermula bagian enggak internal kalimat. (Tatap juga penggunaan etiket petik, Bab V, Pasal L dan M.) Misalnya:

  • Pengenalan ibu “Saya gembira sekali.”
  • “Saya gembira sekali,” kata ibu, “karena kamu lulus.”

7. Keunggulan koma dipakai di antara (i) merek dan alamat, (ii) episode-bagian alamat, (iii) bekas dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah maupun negeri yang ditulis berturutan. Misalnya:

  • Surat-tindasan ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas Medis, Jamiah Indonesia, Kronologi raya Salemba 6, Jakarta.
  • Sdr. Abdullah, Jalan Pisang Batu 1, Bogor.
  • Estuari Lumpur, Malaysia.

8. Nama koma dipakai untuk menceraikan adegan tera yang dibalik susunannya dalam daftar bacaan. Misalnya:

  • Alisjahbana, Sutan Ketentuan. 1949. Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia. Jilid 1 dan 2. Djakarta: Wacana Rakjat.

9. Keunggulan koma dipakai di antara episode-interior goresan suku. Misalnya:

  • W.J.S. Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Karang-mengarang (Jogjakarta: UP Indonesia, 1967), hlm. 4.

10. Keunggulan koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya utnuk membedakannya dari abreviasi tanda diri, anak bini, atau marga. Misalnya:

  •  B. Ratulangi, S.E.
  • Ny. Khadijah, M.A.

11. Tanda koma dipakai di paras angka persepuluh alias di antara dolar dan sen nan dinyatakan dengan ponten. Misalnya:

  • 12,5 m
  • Rp12,50

12. Tanda koma dipakai untuk mengunci keterangan tambahan nan sifatnya tidak membatasi. Misalnya:

  • Guru saya, Selongsong Ahmad, ahli sekali. Di wilayah kami, misalnya, masih banyak orang laki-laki yang makan sirih.
  • Semua petatar, baik yang laki-laki maupun perempuan, mengikuti latihan paduan suara.

Bandingkan dengan manifesto pembatas yang pemakaiannya tidak diapit tanda koma:

  • Semua siswa yang memasap tentamen mendaftarkan namanya pada panitia.

13.Tanda koma dapat dipakai―untuk menghindari riuk baca―di birit embaran nan terdapat pada awal kalimat. Misalnya:

  • Privat upaya pembinaan dan ekspansi bahasa, kita memerlukan sikap yang bukan main-bukan main.
  • Atas bantuan Agus, Karyadi mengucapkan syukur.

Bandingkan dengan:

  • Kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh privat upaya pembinaan dan pengembanagan bahasa. Karyadi menitahkan songsong belas kasih atas bantuan Agus.

14. Tanda koma tak dipakai kerjakan memisahkan petikan kontan dari penggalan tak nan mengiringinya dalam kalimat jikalau petikan langung itu berparak dengan tanda cak bertanya atau seru. Misalnya:

“Di mana Saudara habis?” tanya Murah hati.

“Takut lurus-lurus!” perintahnya.

Afiks

Imbuhan merupakan berbagai bunyi-bunyi yang ditambahkan kepada kata dasar bagi mengubah ataupun menambahkan makna pada kata dasarnya. N domestik bahasa Indonesia, biasanya afiks diletakkan di anju, sisipan, akhiran dan imbuhan gabungan. Berdasarkan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), terwalak empat macam kata imbuhan yaitu awalan (prefiks), akhiran (sufiks), imbuhan jalinan (konfiks), dan sisipan (sisipan).

Fungsi Imbuhan:

  • Membentuk sebuah perkenalan awal benda, yakni peN-, pe-, per-, ke-, -isme, -wan, -sasi, -tas, pen-an, pe-an, per-an, dan ke-an. Contohnya pelaut, wartawan dan lain sebagainya.
  • Membuat suatu perkenalan awal kerja, ialah berpenyakitan-, ber-, per-, ter-, di, -morong, ter-kan dan di-i. Contohnya melaut, berlayar, diminum, menaiki dan lain sebagainya.
  • Membentuk salah satu prolog sifat, yaitu –I, -wi, -iah dan –is. Contohnya ilmiah, agamis, manusiawi dan tak sebagainya.
  • Takhlik berbagai numeralia yaitu se- dan ke-. Contohnya deka- dan kedua.
  • Mewujudkan semua kata keterangan, yaitu se-nya, -nya, -an, Contohnya: sepertinya, habis-habisan, sepermai-indahnya dan lain sebagainya.

Diversifikasi-Keberagaman Imbuhan

1. Jenis Afiks Berdasarkan

Gelanggang atau Posisinya

  • Prefiks maupun Awalan ialah suatu imbuhan atau imbuhan yang terletak di sediakala kata sumber akar, misalnya meng, belangkin, ber, ke, tiap-tiap, peng, se me, meng, memper- dan lainnya.
  • Sufiks ataupun Akhiran adalah sebuah afiks alias imbuhan nan terletak di akhirulkalam dasar, misalnya -an, -centung, -nya, -i
  • Sisipan maupun Sisipan yakni salah satu afiks alias imbuhan yang disisipkan di tengah introduksi dasar, misalnya : em, el, in, er, ah.
  • Konfiks atau Simulfiks ialah berbagai afiks atau imbuhan nan terletak di awal dan akhirulkalam dasar sekaligus, misalnya : ke-an, sendirisendiri-an, ber-an, di-i di-cerek, peng-an, ke-an, memper-i, memper-centung, berpenyakitan-kan.

2. Jenis Imbuhan Berdasarkan

Frekuensi Penggunaannya

  • Imbuhan Rani adalah suatu afiks maupun imbuhan yang punya frekuensi penggunaan nan tingkatan. Transendental: se-, ber-, meng-, peng-, saban-, dan lebih lanjut.
  • Afiks Tak Produktif adalah sebuah imbuhan atau afiks nan punya frekuensi penggunaan kurang. Contoh: -em, -el, -wati, -is, -er, dan seterusnya.

3. Jenis Afiks Berlandaskan

Afiks Asing alias Afiks Serapan

  • Akhiran atau Sufiks dari bahasa Sansekerta : -wan, -man, -wati.
  • Akhiran atau Sufiks dari bahasa Arab : -i, -wi, -at, -ah, -in.
  • Akhiran atau Sufiks dari bahasa Barat :-isme, -tas, -logi, -is, -ika, (asi), dsb (nomina), -al, -or, -if, -is, dsb.

Komplet Afiks

1. Awalan (Prefiks)

  • Memasak, Memanah, Melihat, Mendaras, Menari
  • Bersabar, Bercermin, Berlima, Bersama, Beraduk
  • Terasing, Tersayang, Terkasih, Terpintar, Tercantik
  • Kekasih, Kemana, Kehendak, Kelima
  • Sekamar, Serumah, Sepulang, Sebanding, Segunung
  • Dikejar, Dibuly , Dimakan, Dibaca
  • Perkelas, Perbudak, Pertebal, Permudah, Persulit

2. Imbuhan Gabungan (Konfiks)

  • Berlarian, Bersamaan, Bersalaman
  • Pemukiman, Perasaan
  • Pertentangan, Persatuan, Perdebatan
  • Perbaiki
  • Persamakan, Persatukan, Perluaskan
  • Melewatkan, MenuliskanMerindui, Meridhoi
  • Mempertahankan, Menengahi
  • Melalui, Menodai
  • Memperbarui, Menyunting
  • Didamaikan, Disamakan, Disatukan
  • Dilewati, Dinodai, Disakiti
  • Dipermalukan, Dipersatukan
  • Diperbaiki
  • Terselamatkan
  • Terlewati
  • Keajaiban
  • Sesuka hati, Sesenangnya

3. Sisipan (Infiks)

  • Bulatkan, Belikan
  • Hargai, Maknai
  • Dimensi, Makanan
  • Harganya, Maknanya

4. Akhiran (Sufiks)

  • Siramkan, Tunjukkan, Belikan, Selesaikan, Bereskan
  • Maknai, Marahi, Pukuli, Beresi, Hargai, Cederai
  • Rumahan, Format, Rezeki, Rendahan, Lamaran
  • Rumahnya, Bajunya, Obatnya, Miliknya, Harganya

Sekian pembahasan mengenai PUEBI kali ini, kiranya bermanfaat!

Kepaniteraan BEM FT UI

Gedung BP3 Teknik, Universitas Indonesia

Copyright © 2022

BEM FT UI

Source: https://bem.eng.ui.ac.id/index.php/2021/07/28/puebi-cek/