Apa Hukum Mensyukuri Nikmat Allah

Hukum Menceritakan Lezat Sang pencipta puas Sosok Lain (Ilustrasi freepik.com premium)

Hukum Menceritakan Nikmat Allah sreg Orang Tak, Ustadz Muhammad Hidayatulloh, Penanggung jawab Kajian Kata tambahan al-Quran Yayasan Ma’had Islami (Yamais), Masjid al-Huda Berbek, Waru, Sidoarjo.

PWMU.CO – Kajian ini berdasarkan hadits riwayat Ahmad.

عن النعمان بن بشير رضي الله عنه قال، قال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم: التَّحدُّثُ بنعمةِ اللهِ شُكرٌ، وتركُها كُفرٌ، ومَن لا يشكرُ القَليلَ لا يَشكرُ الكثيرَ، ومَن لا يشكرُ النَّاسَ لا يشكرُ اللهَ، والجماعةُ برَكةٌ، والفُرقةُ عذابٌ. رواه أحمد فى مسنده

“Bermula Nu’man bin Basyir radliyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW berujar: ‘Membicarakan enak Allah itu bermakna berlega hati, dan meninggalkannya adalah kekufuran. Barang siapa yang tidak bersyukur terhadap nan adv minim makai a tidak berlega hati terhadap yang banyak. Sembarang orang yang tidak juru berterima kasih kepada orang lain, ia tidak pakar bersyukur kepada Allah. Berkumpulan itu berkah, bubar-berai itu hukuman.’”(HR Ahmad)


A
t Tahadduts binikmatillah

A
kaki langit
-ufuk
ahadduts binikmatillah adalah menceritakan terhadap lemak Yang mahakuasa. Hal itu sebagai wujud syukur kepada-Nya dan sebaliknya, tidak menceritakan nikmat Allah itu adalah kekufuran. Tentu menceritakan demikian bukan privat susuk menyombongkan diri akan tetapi justru untuk berbagi, karena legit itu pun bagian bersumber amanah ataupun eksamen yang Allah berikan kepadanya.

وَأَمَّا بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثۡ

Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan. (adh-Dhuha: 11)

Ayat ini adalah ayat terakhir internal surah adh-Dhuha. Akan tetapi dalam pelaksanaannya adalah pada ayat sebelumnya yaitu supaya suka menyantuni anak asuh yatim dan bukan menghardik kepada insan yang lamar-minta. Intinya supaya tidak ada kecongkakan internal diri, dan suka membersamai orang-cucu adam nan lemah.

Bersukur yang
S
esungguhnya

Kita wajib selalu banyak berlega hati kepada Allah atas karunia nan begitu luber tiada henti. Berlega hati dengan lisan dengan banyak mengucapkanalhamdulillah, berlega hati dengan hati meyakini bahwa semua ini tak karena keluarbiasaan diri atau kemampuan akal kita, akan tetapi karena Yang mahakuasa yang memapukan.

Mengapa demikian? Karena jika merasa karena kemapuan diri atau akal kita seorang, takdirnya berhasil akan menjadi sombong dan
ujub
ialah bangga dengan diri seorang.

وَيۡلٞ لِّكُلِّ هُمَزَةٖ لُّمَزَةٍ  ١ ٱلَّذِي جَمَعَ مَالٗا وَعَدَّدَهُۥ  ٢ يَحۡسَبُ أَنَّ مَالَهُۥٓ أَخۡلَدَهُۥ  ٣

“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pengutuk, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung, anda menyengaja bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya.” (al-Humazah: 1 – 3)

Manusia-orang yang merasa dirinya berbuah karena kedahsyatan dirinya akan selalu merasaujub plong dirinya. Entah berhasil dalam usahanya, berdampak kerumahtanggaan studinya, berhasil n domestik karirnya dan seterusnya. Sementara itu orang-cucu adam yang menyadari bahwa keberhasilannya adalah karena Tuhan yang memberikan karunia kepada-Nya maka ia akan sah-legal tetapi tanpa merasa bangga terhadap dirinya koteng, di samping itu ia tidak mudah meremehkan cucu adam lain sebagaimana ilustrasi dalam ayat di atas.

Maka itu karena itu setelah bersyukur dengan lisan dan lagi dengan lever, maka langkah berikutnya adalah berterima kasih dengan bukti amal perbuatan yang konkret. Tiada lain bahwa bersyukur dengan ragam itu yaitu untuk cinta bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

فَٱذۡكُرُونِيٓ أَذۡكُرۡكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لِي وَلَا تَكۡفُرُونِ  ١٥٢

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku bangun (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (eco)-Ku.” (al Baqarah; 152)

Berdzikir signifikan selalu bersaha mempelajari nilai-nilai kebenaran yang Allah dan Rasul-Nya ajarkan dan berikutnya dilaksanakannya, berterima kasih bermakna menguatkan diri lakukan selalu berlega hati dengan jalan setia kepada Allah dan Utusan tuhan-Nya.

Allah memberikan tanda jadi jika kita bangun kepada Allah dalam setiap kesempatan Allah akan bangun kepada kita, yakni rahmat Allah akan selalu tercurah kepadanya. Demikian pun takdirnya sendiri hamba pandai bersyukur, maka Yang mahakuasa akan memberikan penolakan yang lebih baik.

وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ  ٧

“Dan (ingatlah pula), tatkala Tuhanmu memaklumkan, ‘Sememangnya sekiranya kamu bersyukur, tentu Kami akan menggunung (eco) kepadamu, dan jika dia mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya aniaya-Ku sangat pedih.’” (Ibrahim: 7)

Berlega hati berarti juga bersungguh-sungguh, berusaha mengoptimalkan potensi diri dengan bersungguh-sungguh dan menjalankannya secara profesinal nan semua disadarainya karena pertolongan Almalik padanya.

Bersyukur bagi
D
iri
S
endiri

Allah lagi n kepunyaan sifat asy-Syakir yang artinya Maha Akseptabel kasih. Semakin koteng hamba bersyukur kepada Halikuljabbar, Tuhan akan membalas syukur hamba tersebut dengan balasan yang sangat banyak dan berkelebek-lipat.

وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا لُقۡمَٰنَ ٱلۡحِكۡمَةَ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِلَّهِۚ وَمَن يَشۡكُرۡ فَإِنَّمَا يَشۡكُرُ لِنَفۡسِهِۦۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٞ  ١٢

“Dan sepantasnya mutakadim Kami berikan hikmat kepada Luqman, yakni: ‘Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang berlega hati (kepada Yang mahakuasa), maka senyatanya anda berterima kasih untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sepatutnya ada Allah Maha Kaya kembali Maha Terpuji.’” (Lukman: 12)

Sudah mudah-mudahan setiap hamba selalu berlega hati kepada Tuhan, dan ini merupakan pilihan yang tepat baginya dan akan membahagiakannya. Karena jika bersikap sebaliknya yakni kufur terhadap nikmat Allah, maka kehidupannya tidak kekeluargaan merasa puas dan selalu berusaha melipatkan walau dengan kaidah tidak halal atau lebih meremehkan terhadap perintah dan larangan Tuhan.

Betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya, sekiranya seorang hamba itu mau taat secara munjung kepada-Nya. Menjalani kehidupannya dengan selalu berusaha kerumahtanggaan bingkai ketaqwaan kepada-Nya. Jaminannya adalah kebahagiaan nan utuh karena Yang mahakuasa akan menyempurnakan gurih yang telah dianugrahkan-Nya itu dengan sangat sempurna.

وَلِأُتِمَّ نِعۡمَتِي عَلَيۡكُمۡ وَلَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ  ١٥٠

Dan agar Ku-sempurnakan legit-Ku atasmu, dan supaya beliau mendapat petunjuk. (al Baqarah: 150) (*)

PenyuntingMohammad Nurfatoni

Lima Pertanyaan di Waktu Kiamat adalah versionline Koran Jumat Hanif Edisi 1 Tahun XXVII, 16 September 2022/19 Shafar 1444

Source: https://pwmu.co/256620/09/16/hukum-menceritakan-nikmat-allah-pada-orang-lain/

Posted by: caribes.net