Penelitian dapat diartikan sebagai suatu proses penekanan secara bersistem yang ditujukan pada pengemasan  informasi bikin menyelesaikan ki kesulitan. Sebagai suatu kegiatan berstruktur penajaman harus dilakukan dengan metode tertentu yang dikenal dengan istilah metode investigasi,ialah satu cara ilmiah bikin mendapatkan data dengan pamrih dan  kegunaan tertentu. Pendirian ilmiah ini harus didasari ciri-ciri keilmuan merupakan makul, empiris, dan sistematis.

teknik-pengumpulan-data

Metode akumulasi data adalah teknik atau cara-cara yang dapat digunakan maka itu peneliti kerjakan pengumpulan data. Teknik intern menunjuk suatu kata yang niskala dan tidak diwujudkan dalam benda, hanya semata-mata dapat dilihat penggunaannya melalui: angket, wawancara, pengamatan, ujian (konfirmasi), pengarsipan, dan tidak-lain. Peneliti dapat menggunakan salah suatu atau gabungan teknik tergantung dari masalah yang dihadapi atau nan diteliti.


Dalam penekanan ilmiah, agar data yang kita kumpulkan menjadi andal, maka kita harus mengetahui bagaimana cara-cara pengumpulan data intern penelitian itu, sehingga data yang kita peroleh dapat menjadi pendukung terhadap kebenaran satu konsep tertentu.


Dan dalam kegiatan studi, keberadaan instrumen penelitian adalah bagian nan lampau terkonsolidasi dan tertera dalam komponen metodologi penelitian karena instrumen penelitian merupakan alat nan digunakan untuk mengumpulkan, menyelidiki, menyelidiki suatu masalah yang madya diteliti.Perabot itu alat, sehingga instrumen penelitian itu merupakan perkakas yang digunakan dalam penelusuran terhadap gejala-gejala yang cak semau dalam satu penyelidikan guna membuktikan keabsahan atau menyanggah suatu hipotesa-hipotesa tertentu.


Satu intrumen yang baik tentu harus memiliki kesahihan dan reliabilitas yang baik.Kerjakan memperoleh gawai yang baik karuan selain harus diujicobakan, dihitung legalitas dan realibiltasnya pun harus dibuat sesuai cara-kaidah penyusunan gawai.


Mengekspresikan perangkat merupakan suatu proses internal penyusunan perabot evaluasi karena dengan mengevaluasi kita akan memperoleh data tentang objek yang diteliti. Oleh karena itu, memformulasikan instrumen adalah anju terdepan dalam  prosedur  penelitian yang tak bisa dipisahkan antara yang suatu terhadap  yang lainnya. Keadaan ini dilakukan karena untuk menjaga kelangsungan data yang dikumpulkan dengan pokok persoalan yang dibuat dalam bentuk pengujian terhadap hipotesa-hipotesa nan dibuat.


Berkaiatan dengan hal tersebut, puas pembahasan makalah ini akan diuraikan beragam hal terkait dengan metode pengumpulan data.


Signifikasi Teknik Pengumpulan Data

Menurut Suharsimi Arikunto (2000: 134), peranti pengumpulan data adalah alat bantu nan di pilih dan digunakan oleh pengkaji dalam kegiatannya mengumpulkan agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya. Sedangkan menurut Anak laki-laki Hadjar (1996: 160) berpendapat bahwa perabot merupakan gawai ukur nan digunakan untuk mendapatkan embaran kuantitatif tentang variasi karakteristik variabel secara objektif.


Instrumen pengumpul data menurut Sumadi Suryabrata (2008: 52) adalah alat yang digunakan untuk merekam-pada lazimnya secara kuantitatif-keadaan dan aktivitas atribut-atribut psikologis. Atibut-atribut psikol ogis itu secara teknis umumnya digolongkan menjadi atribut kognitif dan atribut non kognitif . Sumadi mengutarakan bahwa untuk atribut kognitif , perangsangnya adalah tanya. Sedangkan bagi atribut non-kognitif, perangsangnya yaitu pernyataan.


Terbit beberapa pendapat pakar di atas, boleh disimpulkan bahwa instrumen penekanan yakni alat bantu nan digunakan ol eh peneliti untuk mengumpulkan publikasi kuantitat if tentang variable nan sedang diteliti.


Proses Reklamasi Data

Proses pengumpulan data itu sendiri menurut
Nan Pita
pada umunya terdiri atas 8 tahap, sebagai berikut:


  1. Tinjauan literatur dan konsultasi dengan ahli

Pengumpulan data biasanya diawali dengan mengumpulkan informasi nan berhubungan dengan masalah penelitian. Takrif- keterangan tersebut boleh diperoleh melalui peninjau literatur nan relevan dan konsultasi dengan para ahli. Melampaui aksi-usaha ini pemeriksa berusaha memahami mendalam isu penelitian, konsep, dan variable-variabel yang dipergunakan oleh peneliti tidak internal mempelajari hal yang serupa di zaman dulu, dan hipotesis-hopotesis yang pernah diteliti pada masa lalu. Perlu juga dipahami ciri-ciri orang nan menjadi responden kita dalam penelitian.


  1. Mempelajari dan mengerjakan pendekatan terhadap kelompok awam di mana data akan

Maksudnya meski peneliti yang berkepentingan bisa dikabulkan di dalam kelompok mahajana itu dan memahami bineka kebiasaan yang berlaku di dalamnya. Lakukan itu teradat dikaitkan pendekatan terhadap tokoh- tokoh yang bersangkutan.


  1. Membina dan memanfaatkan hubungan yang baik dengan responden dan lingkungannya

Bagi harapan tersebut peneliti perlu mempelajari kebiasaan- aturan respondennya termasuk cara mereka berpikir, kaidah mereka mengerjakan sesuatu, bahasa yang dipergunakan, masa luang mereka, dan sebagainya.


  1. Uji coba ataupun
    pilot study

Pengumpulan data didahului dengan uji coba instrumen penelitian pada sekelompok masyarakat nan merupakan episode berusul populasi nan enggak sample. Maksudnya kerjakan mengetahui apakah instrument tersebut memadai handal atau tidak, komunikatif, bisa dipahami, dan sebagainya.


  1. Merumuskan dan menyusun tanya

Sesudah hasil uji coba itu dipelajari, disusunlah instrumen pengkajian internal bentuknya yang bungsu substansial pertanyaan-soal yang relevan dengan maksud penyelidikan. Pertanyaan itu harus dirumuskan sedemikian rupa sehingga ia mengandung makna yang berharga dan substansif.


  1. Menyadari dan memberi kode (recording and coding)

Melewati gawai penggalian nan telah dipersiapkan, dilakukan pencatatan terhadap data yang dibutuhkan dari setiap responden. Takrif- informasi yang diperoleh dari pencatatan ini diberi kode kemustajaban melajukan proses analisis.



  1. Cross

    checking, validitas, dan kredibilitas

Tahap ini terdiri atas
cross checking
terhadap data nan masih diragukan kebenarannya, serta mengusut keabsahan dan reliabilitasnya.


  1. Mobilisasi dan kode ulang data yang telah terkumpul supaya dapat dianalisis.

Teknik Akumulasi Data

Teknik penimbunan data adalah langkah yang paling penting dalam proses pengkhususan, karena tujuan utama pecah pendalaman adalah mendapatkan data. Teknik reklamasi data nan diperlukan disini ialah teknik pengumpulan data mana nan minimum tepat, sehingga benar-benar didapat data yang valid dan reliable.


Dalam suatu penelitian, langkah pengumpulan data yakni satu tahap yang habis menentukan terhadap proses dan hasil penelitian yang akan dilaksanakan tersebut. Kesalahan kerumahtanggaan melaksanakan reklamasi data dalam suatu penelitian, akan berakibat sinkron terhadap proses dan hasil suatu studi.


Kegiatan reklamasi data pada prinsipnya merupakan kegiatan pengusahaan metode dan instrumen yang sudah lalu ditentukan dan diuji kesahihan dan reliabilitasnya. Secara sederhana, pengumpulan data diartikan sebagai proses atau kegiatan yang dilakukan peneliti untuk mengungkap atau menjaring berbagai fenomena, informasi ataupun kondisi lokasi penelitian sesuai dengan jangkauan penelitian. Intern prakteknya, pengurukan data cak semau yang dilaksanakan melalui pendekatan penelitian kuantitatif dan kualitatif.


Dengan kondisi tersebut, pengertian penumpukan data diartikan juga misal proses yang mencitrakan proses akumulasi data yang dilaksanakan dalam penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Pengurukan data, dapat dimaknai juga umpama kegiatan pemeriksa dalam upaya mengumpulkan beberapa data lapangan yang diperlukan buat menjawab cak bertanya pengkajian (buat penekanan kualitatif), atau menguji premis (untuk investigasi kuantitatif).


Teknik pengumpulan data sangat ditentukan maka itu metodologi penajaman, apakah kuantitatif ataupun kualitatif. Dalam pendalaman kualitatif dikenal teknik penumpukan data: observasi, focus group discussion (FGD), wawancara mendalam (indent interview), dan studi kasus (case study). Sedangkan privat penelitian kuantitatif dikenal teknik pengumpulan data: angket (questionnaire), wawansabda, dan dokumentasi.


Sejumlah teknik pengumpulan data secara mahajana:


1. Observasi (pengamatan)

Nasution (1998) menyatakan bahwa, observasi adalah dasar semua ilmu pesiaran.Para ilmuwan namun dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai marcapada kenyataan yang diperoleh melalui observasi.Mursall (1995) menyatakan bahwa “through observation, the researcher learn about behavior and the meaning attached to those behavior” menerobos observasi, peneliti belajar mengenai perilaku, dan makna dari perilaku tersebut.


Sanafiah Faisal (1990) membedakan observasi menjadi observasi berpartisifasi (participant observastion), Observasi secara terang-terangan dan tersamar (overt observastion and covert observastion), observasi nan tak sistematis (unstructured observation), per tipe dan jenis observasi tersebut digunakan sesuai dengan karakteristik bulan-bulanan material sumber data penelitian.


  1. Observasi Partisipatif (participant observastion)

Observasi partisipatif ialah seperangkat strategi dalam pengkajian yang tujuannya yakni buat mendapatkan data yang lengkap.Situasi ini dilakukan dengan mengembangkan keakraban nan erat dan mendalam dengan satu keramaian hamba allah dilingkungan alamiah mereka.Dalam penyelidikan ini penyelidik menjadwalkan sejumlah tujuan dan menempatkan dirinya bak putaran dari objek yang semenjana di telitinya.


Susan Stainback (1998), menyatakan bahwa “in participant observation, the researcher observes what people do, listen to what they say, and participates in their activities”. Dalam observasi partisipatif, peneliti mengamati apa nan dikerjakan orang, mendengarkan apa yang mereka ucapkan, dan berpartisipasi dalam aktivitas mereka.


Privat observasi partisipatif terdapat beberapa kategori peran partisipan yang terjadi di pelan pengkhususan kualitatif. Menurut Junker terdapat beberapa macam kategori peran partisipan dilapangan yaitu:

  • Peran serta lengkap, yaitu peran pengamat n domestik hubungan ini menjadi anggota penuh dari yang diamati. Pengamat akan memperoleh informasi akan halnya apapun berusul nan diamati, termasuk yang barang bisa jadi yang dirahasiakan.
  • Peran serta sebagai pengamat, merupakan peneliti kerumahtanggaan ikatan ini dolan sebagai pengamat (ply on the wall). Statusnya sebagai anggota dalam hubungan ini sebenarnya belaka setakat pura-jaring-jaring saja, sehingga tak melebur secara tubuh ataupun psikis dalam pengertian yang sesungguhnya.
  • Pengamat sebagai pemeran serta, dalam rangkaian ini peneliti andai pengamat ikut berbuat apa yang di bikin oleh nara sumber andai yang teramati meskipun belum selengkapnya.
  • Pengamat mumbung, kerumahtanggaan hubungan ini kedudukan pengamat dan yang diamati terpisah, kabar diteruskan suatu arah saja, sehingga subjek tidak merasa diamati.

  1. Observasi Terus Kirana alias Tersamar

Pada jabaran di atas telah dijelaskan bahwa ciri penelitian kualitatif diantaranya adalah bagi menemukan dan mengungkap fakta yang suka-suka di tanah lapang secara alamiah (natural setting). Konsekuensinya peneliti harus secara cermat dan bijaksana menerapkan teknik pengumpulan data di lapangan pada nara sumber, agar benar-benar data diperolehnya berwatak alamiah.


Oleh karena itu n domestik observasi peneliti dalam akumulasi data “menyatakan terus terang kepada sumber data (kepada masyarakat nan ditelitinya, bahwa pemeriksa sedang melakukan observasi n domestik penelitian”. Pada tipe ini semua proses nan dilakukan maka dari itu peneliti diketahui semuanya maka dari itu bani adam yang diteliti. “Tapi dalam satu saat peneliti tidak terus cuaca atau tersamar dalam observasi, hal ini kerjakan memencilkan kalau suatu data yang dicari merupakan data yang masih dirahasiakan. Kemungkinan kalau dilakukan dengan terus terang, maka peneliti tak akan diijinkan lakukan melakukan observasi.


  1. Observasi Tak Berstruktur

Internal penelitian kualitatif dilakukan dengan bukan terstruktur, karena fokus eksplorasi belum jelas. Fokus observasi akan berkembang selama kegiatan observasi berlantas. Sekiranya masalah pendalaman mutakadim jelas seperti dalam penelitian kuantitatif, maka observasi dapat dilakukan secara berstruktur dengan menggunakan pedoman observasi.


Observasi lain terstruktur yaitu observasi yang lain dipersiapkan secara berstruktur akan halnya apa nan akan di observasi. Hal ini dikarenakan pengkaji enggak adv pernah secara pasti tentang segala apa nan akan diamati. Dalam melaksanakan penelitian tidak menggunakan instrumen yang telah resmi, tapi hanya substansial pacak-pacak pengamatan.


Selanjutnya Spradley (1980) mengatakan dalam penelitian kualitatif n kepunyaan tinggi dan objek yang observasi.Tahapan observasi, adalah; Observasi deskriftif, Observasi terfokus, dan Observasi terpilih.Dan objek yang diobservasi adalah ruang (tempat), pegiat (aktor) dan kegiatan (aktivitas).


Bersumber ketiga bulan-bulanan tersebut dapat dikembangkan lagi menjadi beberapa item trik, yaitu; Ruang (tempat) dalam aspek fisiknya; Pelaku yaitu semua orang yang terbabit intern hal; Kegiatan, merupakan apa yang dilakukan orang privat situasi itu; Objek, ialah benda-benda yang terdapat di tempat itu; Ulah, yaitu tindakan-tindakan tertentu; Kejadian atau peristiwa, yaitu rangkaian kegiatan; Perian, yaitu mencantol cumbu kegiatan, tujuan, yakni segala apa yang ingin dicapai dan emosi; Manah yang dirasakan dan dinyatakan.


2. Questioner (Kuesioner/Jajak pendapat)

Questioner disebut lagi angket atau self administrated questioner adalah teknik penumpukan data dengan pendirian mengangkut suatu daftar tanya kepada responden bagi diisi.


Beralaskan cara menyusun soal dalam teknik questioner ini dibagi menjadi dua:


  • Kuesioner mendelongop (Opene and Items)

Ialah suatu kuesioner dimana pertanyaan-cak bertanya nan dituliskan tidak disediakan jawaban sortiran sehingga responden dapat bebas/terbuka luas untuk menjawabnya sesuai dengan pendapat/pandangan dan pengetahuannya.


Kelebihan kuesioner melangah; 1) Menyusun pertanyaan adv amat mudah, 2) Memberikan kebebasan kepada responden untuk menjawab dan mencurahkan isi hati dan pemikirannya.


Kelemahan kusioner mangap; 1) Untuk peneliti sangat sukar mengolah dan mengategorikan jawaban karena suntuk bervariasinya jawaban yang diberikan oleh responden, 2) Pengolahan jawaban memakan waktu yang lama, satu dan lain kejadian pengkaji harus membaca satu persatu, 3) Untuk peneliti mungkin menimbulkan rasa bosan karena tulisannya sulit dibaca, kalimat tak jelas dari jawaban yang diberikan oleh responden, 4) Rasa malas akan timbul pada responden yangtidak mempunyai banyak waktu luang untuk menjawab.


  • Koesioner tertutup (Closed and Items)

Adalah suatu kuesioner dimana cak bertanya-pertanyaan yang dituliskan sudah disediakan jawaban seleksian, sehingga responden sangat memilih riuk satu dari jawaban yang telah disediakan.


Kelebihan kuesioner tertutup; 1) Buat pengkaji, mudah mendidik jawaban nan timbrung, 2) Cak bagi penyelidik, waktu yang dimanfaatkan internal pengelompokkan jawaban menjadi singkat karena dapat memanfaatkan uluran tangan enumerator, 3) Cak bagi responden, mudah melembarkan jawaban, 4) Untuk responden, privat mengisi jawaban mmerlukan hari singkat.


Kelemahan kuestioner tertutup; 1) Kerjakan pengkaji, dalam penyusunan pertanyaan perlu berhati-hati agar bukan ditafsirkan tidak (berarti ganda), 2) Kerjakan responden, independensi menjawab merasa dibatasi.


3. Interview (Wawancara)

Wawanrembuk adalah suatu wawancara secara berhadapan nan dilaksanakan maka dari itu pewawancara dengan orang yang diwawancarai buat memperoleh informasi nan dibutuhkan.


Esterberg (2002) mendefinisikan interview bak berikut: “a meeting of two persons to exchange information and idea through question and responses, resulting in-communication and joint construction of meaning about a particular topic”. Wawancara adalah merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna n domestik topik tertentu.


Menurut Mishler (1986:82), ia mengungkapkan adapun wawancara lapangan adalah “The field interview is a joint production of researcher and a member. Member are active participant whose insights, feelings, and cooperation are essential part of a discussion process that reveals subjective meanings. The interviewer’s presence and from of involvement how she or he listens, attends, encourages, interrupts, digresses, initiates topics, and terminates responses-is koheren to the respondent’s account”.


Wawansabda pelan yaitu produksi bersama peneliti dan anggota. Anggota yang murid aktif nan wawasan, perasaan, dan kerjasama merupakan penggalan penting berusul proses diskusi nan mengungkapkan makna subjektif. Kerelaan pewawancara dan berusul keterlibatan bagaimana dia mendengarkan, menghadiri, memurukkan, menyela, digresses, memulai topik, dan berakhir tanggapan-merupakan bagian integral akun responden.


  1. Varietas-spesies Interview/tanya jawab

Esterberg (2002) mengemukakan sejumlah keberagaman wawancara, yakni; Wawancara terstruktur (structured interview); Wawancara semiterstruktur (semistructure Interview); Wawancara tak berstruktur (unstructured Interview).


  1. Langkah-persiapan wawancara

Lincoln dan Guba intern Sanapiah Faisal, mengemukakan suka-suka tujuh awalan dalam pendayagunaan wawancara buat mengumpulkan data internal penelitian kualitatif, yaitu:

  • Menjadwalkan kepada barangkali wawancara itu akan dilakukan.
  • Menyimpan pokok-sumber masalah yang akan menjadi target musyawarah.
  • Mengawali atau membuka silsilah temu ramah.
  • Mengkonfirmasikan ikhtisar hasil konsultasi dan mengakhirinya.
  • Menuliskan hasil wawansabda ke dalam catatan alun-alun.
  • Mengidentifikasikan tindak lanjur hasil soal jawab nan telah diperoleh.

  1. Isi wawancara

Beberapa jenis yang boleh dinyatakan privat wawancara adalah:

  • Asam garam dan perbuatan responden, yaitu apa yang sudah lalu dikerjakannya maupun yang lazim dikerjakannya.
  • Pendapat, rukyat, tanggapan, parafrase alias perkiraanya akan halnya sesuatu.
  • Ingatan, respons romantis, apakah ia merasa cemas, seram, doyan, gembira,curiga, jengkel dan sebagainya tentang sesuatu.
  • Maklumat, fakta-fakta, apa yang diketahuinya adapun sesuatu.
  • Penginderaan, barang apa yang dilihat, didengar, dirabah, dikecap maupun diciumnya, diuraikan secara deskriptif.
  • Rataan pantat pendidikan, karier, negeri bawah, tempat lalu, batih dan sebagainya.

Beberapa aspek di atas dipersiapkan agar bisa mengantisipasi kekosongan terhadap sesuatu yang hendak ditanyakan. Materi pertanyaan dapat melingkupidimensi waktu, begitu juga akan halnya apa-apa yang dikerjakan responden di masa lepas, sekarang dan akan datang. Dan pada intinya pertanyaan-pertanyaan nan dirumuskan harus berpedoman pada arah pengkhususan atau harus sesuai dengan tujuan penekanan.


  1. Perkakas-alat wawancara
  • Buku catatan: berfungsi untuk mencatat semua pembicaraan ataupun percakapan dengan sumber data, sekarang sudah banyak komputer jinjing-komputer kerdil, notebook yang dapat digunakan untuk mencatat hasil pembicaraan.
  • Tape recorder: berfungsi untuk merekam semua percakapan atau pembicaraan. Eksploitasi tape recorder internal wawancara perlu membagi sempat kepada informan bisa alias lain.
  • Pemotret: untuk memotret kalau peneliti madya melakukan perundingan dengan informan/sumber data. Dengan adanya foto-foto ini dapat meningkatkan keabsahan dan studi akan lebih terjamin, karena pengkaji betul-betul mengamalkan akumulasi data.

4. Document (Manuskrip)

Dokumen adalah adalah catatan situasi yang telah lalu.Arsip dapat berbentuk garitan, kerangka, atau karya menumental berasal seseorang lainnya.Dokumen yang berbentuk karangan, misalnya karangan surat kabar, sejarah kehidupan (life histories), cerita, biografi, ordinansi, strategi.Tembusan nan berbentuk gambar, misalnya foto, gambar hidup, sketsa, film, video, CD, DVD, cassete, dan lain-lain.Arsip yang berbentuk karya misalnya karya seni, karya lukis, arca skrip, tulisan, prasasti dan lain sebagainya.


Secara interpretatif dapat diartikan bahwa manuskrip yakni rekaman kejadian masa adv amat yang ditulis atau dicetak, dapat merupakan catatan anekdotal, pertinggal, muslihat harian dan dokumen-dokumen. Tindasan maktab termasuk lempengan internal, komunikasi untuk awam yang plural, file siswa dan tenaga kerja, diskripsi program dan data statistik pengajaran. Nasution menjelaskan bahwa:” ada sumur yang non cucu adam (non human resources), antara lain adalah piagam, foto dan sasaran perangkaan.


Manuskrip digunakan dalam penelitian sebagai sumur data sekunder manakala dokumen tersebut punya ponten. Menurut Wang dan Soergel (1998), nilai kegunaan dokumen dapat dilihat berbunga sejumlah keadaan sebagai berikut:

  1. Evistemic values, ialah suatu pertinggal keberadaannya sangat signifikan cak bagi pemenuhan kebutuhan akan pengetahuan atau pengetahuan yang bukan/belum diketahui. Poin evistemic merupakan keharusan untuk semua manuskrip.
  2. Functional values, yakni suatu dokumen yang keberadaannya sangat bermanfaat karena memberi konstribusi pada penelitian nan dilakukan. Tembusan akan berarti karena berisi teori, data suporter empiris, atau metodologi.
  3. Conditional values, yaitu suatu salinan dahulu berguna apabila muncul beberapa kondisi atau syarat terlampiaskan, ataupun terdapat arsip lain nan boleh mempersendat dokumen tersebut.
  4. Social values, ialah suatu dokumen keberadaannya silam penting dalam hubungan dengan kerumunan atau individu. Sebagaimana berhubungan dengan hawa, tokoh publik, kiyai, jamhur’, atau induk bala lainnya.

Makara hasil penelitian terbit observasi atau wawancara, akan dapat dipercaya kalau didukung oleh memori pribadi jiwa dimasa kecil, di sekolah, di tempat kerja, di masyarakat, dan autobiografi. Hasil riset juga akan lebih kredibel apabila didukung maka dari itu foto-foto atau karya catat akademik dan seni yang telah ada.


Selanjutnya terlazim diperhatikan bahwa enggak semua dokumen memiliki mustakim yang tahapan, misalnya terwalak bermacam-macam foto nan tidak mencerminkan aslinya, karena foto dibuat bagi kepentingan tertentu.Begitu pula autoboigrafi yang di tulis cak bagi dirinya sendiri.



Jenis-Jenis Data

Berikut ini terletak bilang variasi-jenis data, terdiri atas:


1. Berdasarkan TIPE PENELITIAN

Terdiri atas:


  • Data Kuantitatif

Data kuantitatif adalah data yang dapat diinput ke dalam rasio pengukuran statistik. Fakta dan fenomena dalam data ini tidak dinyatakan dalam bahasa alami, melainkan internal numerik.


  • Data Kualitatif

Data kualitatif ialah data nan boleh mencakup hampir semua data non-numerik. Data ini dapat menunggangi prolog-kata cak bagi memvisualkan fakta dan fenomena yang diamati.


2. BERDASARKAN SUMBER

Terdiri atas:


  1. Data Primer

Data primer yakni data yang dikumpulkan oleh peneliti sendiri atau dirinya seorang. Ini adalah data nan belum sangkutan dikumpulkan sebelumnya, baik dengan pendirian tertentu atau pada waktu hari tertentu.


  1. Data Sekunder

Data sekunder adalah data nan dikumpulkan oleh cucu adam tidak, bukan pengkaji itu seorang. Data ini biasanya berasal dari penelitian bukan nan dilakukan maka itu lembaga-lembaga alias organisasi seperti BPS dan bukan-enggak.


3. BERDASARKAN CARA MEMPEROLEH

Terdiri atas:


  1. Data Observasional

    Data observasi yaitu data yang ditangkap in haud. Data ini sekali bintang sartan atau tidak bisa diulang, diciptakan ataupun diganti.
  2. Data Konsultasi

    Data temu ramah merupakan data nan diperoleh melintasi tanya-jawab antara peneliti dan informan. Data ini bisa divalidasi memperalat triangulasi.
  3. Data Eksperimental

    Data eksperimental adalah data nan dikumpulkan dalam kondisi terkendali, in haud maupun berbasis makmal dan harus bisa direproduksi.

4. BERDASARKAN Dimensi BERKAS

  • Data Kuantitatif

    Contoh: SPSS, SAS, Microsoft Ecel, XML dan bukan-lain.
  • Data Kualitatif

    Ideal: Microsoft Word, Rich Text Matra, HTML dan enggak-lain.

Cara-Cara Pengumpulan Data

Suka-suka beberapa prinsip yang teradat diperhatikan dalam proses pengumpulan data, yaitu laksana berikut:

  • Data-data nan digali alias dikumpulkan harus berdasarkan kondisi obyektif berpokok lokasi penelitian, jangan direka atau dikira-asa oleh pemikiran
  • Organ penampung data ataupun instrumen penelitian harus relevan dengan tujuan penelitian. Maka itu karena itu, instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian kuantitatif, harus melintasi analisis try out (uji coba) instrumen. Plong rata-rata, kajian uji coba peranti, setidaknya menganalisis sisi kebenaran (keabsahan) dan kredibilitas. Sementara dalam investigasi kualitatif, kesahihan data lapangan lewat dipengaruhi makanya keterampilan peneliti kerumahtanggaan proses pengumpulan data. Oleh karena itu, terletak perbedaan mendasar proses penumpukan data dalam penelitian kuantitatif dengan
  • Pihak-pihak yang dihubungi atau disebut percontoh penelitian (cak bagi penelitian kuantitatif) dan subyek penelitian (untuk penelitian kualitatif) harus relevan dengan apa yang hendak
  • Mandu ketertutupan (confidencial), dimana segel-nama percontoh alias responden penelitian harus dijamin kerahasiaannya. Maka dari itu karena itu, moga lakukan mengidentifikasi identitas sampel, sebaiknya digunakan kodefikasi.
  • Beberapa isu bermoral yang harus diperhatikan detik mengumpulkan data antara tak :
    1. Memperlakukan informasi yang diberikan responden dengan memegang kaidah kerahasiaan dan menjaga pribadi responden merupakan keseleo suatu tanggung jawab penelitii
    2. Peneliti tak boleh mengemukakan hal yang enggak benar akan halnya kebiasaan riset kepada subjek. Dengan demikian, peneliti harus menampilkan tujuan bersumber penelitian kepada subjek dengan
    3. Informasi pribadi atau yang terlihat mencampuri seyogiannya tidak ditanyakan, dan kalau hal tersebut mutlak diperlukan bakal eksplorasi, maka penyampaiannya harus diungkapkan dengan kepekaan yang tinggi kepada responden, dan memberikan alasan khas mengapa publikasi tersebut dibutuhkan untuk kepentingan penelitian.
    4. Apapun sifat metode pengumpulan data, harga diri dan keperawanan subjek tidak bisa dilanggar
    5. Enggak boleh ada paksaan kepada orang bakal merespon angket dan responden nan tidak mau berpartisipasi kukuh harus
    6. Dalam study lab, subjek harus diberitahukan sepenuhnya mengenai alasan eksperimen setelah mereka berpartisipasi internal investigasi
    7. Subjek tidak dapat dihadapkan sreg situasi yang mengancam mereka, baik secara fisik ataupun
    8. Tidak bisa ada penyampaian nan salah atau distorsi dalam melaporkan data nan dikumpulkan selama study.

Demikianlah pembahasan mengenai

Teknik Akumulasi Data – Pengertian, Proses, Jenis dan Prinsip
 semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan anda semua, syukur banyak atas kunjungannya.

Dikutip Berusul Sumber:

  • www.pdamtabalong.co.id
  • revitalisasismk.id

Baca Kembali
:

  •  Pasar Monopoli yakni
  •  91 Contoh Kata penghubung Temporal
  •  Spam adalah
  •  Elektabilitas adalah
  •  Preventif dan Represif
  •  Sektor Produksi ialah