Apa Perbedaan Kami Dan Kita

Mahad Bimbingan Islam (BIAS) belajar Islam terstruktur

Apa Perbedaan Makna Alas kata Ganti “Aku, Kamu Dan Kami” Kerjakan Almalik Ta’ala?

Sidang pembaca Bimbinganislam.com yang punya akhlaq indah berikut kami sajikan

pembahasan tentang barang apa perbedaan makna kata ganti “aku, kamu dan kami” untuk Yang mahakuasa ta’ala?

S
elamat mengaji.



Pertanyaan:

Bismillah assalamualaikum Ustadz, semoga Allah merahmati guru-temperatur Ustadz, Ustadz, tanggungan, dan seluruh kaum muslimin, amiin.

Ingin lamar perihal ini ustadz dalam firman Almalik subhanahu wa ta’alaa dalam 3 ayat di saat ‘Yang mahakuasa’ menggunakan pengenalan ganti ‘Aku, Dia, Kami’ dan Apa yang mengeluarkan penafsiran 3 kata tersebut? Jazakumullaahu khoiran.

(Ditanyakan maka dari itu Santri Akademi Shalihah)



Jawaban:

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh

Kerumahtanggaan penyakit ini, kami jawab dengan tiga pendekatan;

Daftar Grup WA Bimbingan Islam Gratis

Pendekatan Pertama

Terlazim kita pahami bahwa al-Quran turun dengan bahasa Arab. Karena itu, setiap kata yang terserah kerumahtanggaan al-Quran, tidak boleh kita pahami dengan pendekatan bahasa kita, Bahasa Indonesia. Karena akan memberikan konklusi yang berbeda.

Untuk pembukaan ganti mula-mula tunggal seperti “Huwa/Dia” alias “Ana/Aku” untuk menggantikan zat-Nya, hal ini tentu sudah maklum karena semua kata ganti itu merujuk pada ketunggalan ataupun keesaan.

Tentatif pronomina persona permulaan jamak seperti mana “Nahnu” merujuk pada jumlah yang banyak sehingga tidak bisa mewakili zat-Nya Nan Esa. Penjelasan ini pasti merujuk pada kaidah masyarakat bahasa Arab.

Pendekatan Kedua

Para ulama menjelaskan penggunaan introduksi ganti jamak orang mula-mula bagi Allah sebagai gambar pengagungan diri maupun sebentuk pertunjukan kuasa-Nya. Hal ini boleh dilihat ketika para ulama menguraikan Surat Al-Baqarah ayat 34 yang berbunyi:


وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ

(Dan siuman ketika Kami mengatakan kepada para malaikat, “Sujudlah kepada Pria”).



وقال


قُلْنا


ولم يقل قلت لان الجبار العظيم يخبر عن نفسه بفعل الجماعة تفخيما وإشادة بذكره

Artinya, “Kata ‘Kami katakan’, tidak ‘Aku katakan’ digunakan karena Allah membahasakan dirinya dengan pengenalan plural atau halal seumpama bentuk pengagungan dan penyanjungan diri,” (Lihat Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi, dalam Al-Jami‘ li Ahkamil Qur‘an, 1/433).

Kata ’kami’ dalam bahasa Arab, tidak cerbak menunjukkan kata ganti orang mula-mula stereotip. Perkenalan awal ’kami’ internal bahasa arab juga digunakan buat meluhurkan (ta’dzim) orang nan berucap.

Pernyataan nan sebanding berpokok Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah;



فالله سبحانه وتعالى يذكر نفسه تارة بصيغة المفرد مظهراً أو مضمراً، وتارة بصيغة الجمع كقوله
: “
إنا فتحنا لك فتحاً مبيناً ” وأمثال ذلك
.

ولا يذكر نفسه بصيغة التثنية قط، لأن صيغة الجمع تقتضي التعظيم الذي يستحقه ، وربما تدل على معاني أسمائه، وأما صيغة التثنية فتدل على العدد المحصور، وهو مقدس عن ذلك

Halikuljabbar ta’ala menyebut dirinya dengan perkenalan awal yang bermakna eksklusif, baik dengan pronomina eksklusif atau dengan menyebut namanya. Dan sekali-kali, Allah menyebut dengan tulang beragangan baku, seperti firman-Nya,


إنا فتحنا لك فتحاً مبيناً

Sesungguhnya Kami akan memasrahkan kejayaan yang substansial bagimu.”
(QS. Al-Fath: 1)

Atau nan semisal dengan ayat di atas.

Dan Allah tidak pernah memanggil dirinya dengan kata yang menunjukkan makna ganda, kadang-kadang. Karena bagan resmi mengasihkan makna pengagungan (ta’dzim), nan Beliau berhak bikin menyandangnya.

Dan terkadang menunjukkan makna-makna nama-Nya. Sementara pengenalan yang bermakna ganda, prolog itu menujukkan takdir tertentu, dan Sang pencipta Maha Suci bermula pembatasan bilangan ini. (lihat Aqidah at-Tadmuriyah, hal. 29).

Pendekatan Ketiga

Privat bahasa Indonesia, introduksi ’kami’ pula digunakan untuk selain makna jamak.

Intern pidato sah, pak RT, pak Tong, ketua takmir, sering bisa jadi memperalat kata ini. ’Kami selaku ketua RT’, ’Kami selaku ketua takmir masjid…’ dst. Padahal kita tahu, Pak RT cuma satu, Pak Lurah juga satu, pengarah takmir juga satu.

Dan jika kita perhatikan, makna kata ’kami’ dalam bahasa Indonesia, farik dengan makna introduksi ’kami’ n domestik bahasa Arab. Orang yang berbicara menggunakan pengenalan ’kami’ justru untuk menunjukkan kehinaan hati. Sebaliknya, momen pidato, mereka menghindari perkenalan awal ’Aku’, karena kata ini terlalu menegaskan dirinya.

Coba kita bandingkan dua kalimat berikut:

”Kami selaku Pemimpin kantor , …”

”Aku, selaku Pembesar Desa , …”

Kalimat permulaan prestisius kerendahan, dan kalimat kedua mengesankan keakuan condong lega kesombongan.

Farik pada kata silih tunggal baku dalam bahasa Arab, fungsinya yaitu buat pemuliaan, dan hal ini tentunya memilki rasa nan berbeda dengan bahasa kita.

Wallahu Ta’ala A’lam.


Dijawab dengan ringkas makanya:



Ustadz Fadly Gugul S.Ag.



حفظه الله






Rabu


,



4 Safar 1444



H/



31 Agustus



2022




M



Ustadz Fadly Gugul S.Ag.





حفظه الله






Dia adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam






Untuk melihat artikel arketipe



berasal Ustadz Fadly Gugul





حفظه الله تعالى





klik disini

Akademi Shalihah Menjadi Sebaik-baik Perhiasan Dunia Ads

Source: https://bimbinganislam.com/apa-perbedaan-makna-kata-ganti-aku-dia-dan-kami-untuk-allah-taala/

Posted by: caribes.net