Apakah Orang Bisu Juga Tuli

Kajian Islam Informatika edisi bulan Maret 2022 dilaksanakan dengan mengangkat tema yang meruntun, Selam dan Disabilitas, dan dibawakan oleh Ustaz Dr. Yudi Prayudi, M.Kom.  Kajian rutin bulanan ini juga dihadiri perwakilan adik-adik penghafal Alquran berpokok Madrasah Tuli Darul Ashom.

Tema Islam dan Disabilitas diangkat guna membahas kerelaan penyandang disabilitas atau orang-orang dengan kemampuan fisik berbeda dalam awam sedari dulu, dan bagaimana posisi mereka dipandang dalam Selam.

Disabilitas dalam Alquran dan Perbuatan nabi nabi muhammad

لَيْسَ عَلَى الْاَعْمٰى حَرَجٌ وَّلَا عَلَى الْاَعْرَجِ حَرَجٌ وَّلَا عَلَى الْمَرِيْضِ حَرَجٌ وَّلَا عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ اَنْ تَأْكُلُوْا مِنْۢ بُيُوْتِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اٰبَاۤىِٕكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اُمَّهٰتِكُمْ



“Bukan ada halangan cak bagi orang buta, tidak (pula) buat orang gempor, tidak (pula) buat insan nyeri, dan lain (pula) bagi dirimu, makan (serempak mereka) di rumah kamu atau di apartemen bapak-bapakmu, di rumah ibu-ibumu…” (An Semarak: 61)

N domestik potongan Surat An Cahaya ayat 61 di atas, ditegaskan bagaimana Islam menganggap setimbang dan setimbang basyar-orang yang dengan keterbatasan fisik dengan orang-orang lainnya. Islam mengecam sikap memilah-milah terhadap penyandang disabilitas. Terlebih, sikap pilih-pilih termasuk keepongahan dan moral buruk.


Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh seseorang niscaya punya suatu derajat di sisi Halikuljabbar yang tidak akan dicapainya dengan kebajikan, sampai dia diuji dengan cobaan di badannya, dahulu dengan tentamen itu ia mengaras derajat tersebut.” (Abu Daud)

Keterbatasan tubuh adalah salah satu ujian yang diberikan Halikuljabbar kepada hamba-Nya, dan sesuai perkataan nabi di atas, dengan ujian inilah, derajat keagungan nan tidak boleh dicapai hanya dengan kebajikan akan diberikan.

Tuli, Bisu, Buta

Istilah tuli, gagu, buta juga digunakan bak tamsil (umpama) dalam sejumlah ayat Alquran.

صُمٌّۢ بُکۡمٌ عُمۡیٌ فَہُمۡ لَا یَرۡجِعُوۡنَ

“Mereka tuli, tunawicara dan buta, sehingga mereka tidak dapat kembali.” (Al Baqarah: 18)

Kerumahtanggaan ayat di atas, tuli, bisu, dan buta tidaklah membicarakan kondisi fisik tertentu, melainkan sebagai misal (kias). Privat adverbia, orang munafik tidak sekadar seperti orang yang kehilangan kilap terang, semata-mata juga sebagaimana telah kekurangan cingur-hidung pokok. Mereka dikatakan tuli karena tidak mendengarkan keabsahan, bisu karena menolak mengucap kebenaran, dan buta karena memurukkan mengintai validitas.

Kaidah Fikih Disabilitas

Syekh Ibrahim al-Baijuri dari Al Azhar berfirman internal Hasyiyat al-Baijuri ala Jauharat at-Tahuid,

“Sebagian para pendeta mazhab Syafi’iyah berkata: ‘Bila Allah menciptakan seorang manusia tunanetra sekaligus tunarungu, maka gugurlah kewajiban berpikir dalam-dalam adapun Tuhan dan barang apa aplikasi hukum baginya.’ Itu adalah pendapat nan stereotip, seperti dalam penjelasan penulis.”

Pendapat ini disandarkan kepada firman Allah:

“Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang Utusan tuhan.” (Al Isra: 15)

Ustaz Yudi Prayudi menambahkan perlunya kajian-kajian fikih yang membahas disabilitas menghafaz urgensi yang cak semau dalam masyarakat.

Madrasah Tuli Darul Ashom

Alfatihah bahasa isyarat

Santri tuli mencontohkan Alfatihah kerumahtanggaan bahasa perlambang.

Setelah penyam
paian materi, adik-adik penghafal Quran beserta bimbingan penanggung jawab Madrasah Tuli Darul Ashom ikut menjatah penjelasan kegiatan menghafal Alquran di pesantren mereka.

Ustaz Bubuk Kafi menguraikan, salah satu kesulitan dalam menghapal Alquran untuk santri tuli adalah harus menghafal abc per huruf dari ayat yang dibaca. Sebelum mulai menghapal, para santri diajari 26 huruf hijaiyah intern bahasa isyarat. Dia menambahkan, rata-rata santri bisa menghapal satu ayat per harinya. Sebagai tahap mulanya, santri akan menghapal surat Alfatihah selama satu minggu.

Selain menghapal Alquran, adik-adik dari pesantren Darul Ashom juga diajari hal-hal enggak sebagaimana salat. Intern salat, penyandang tuli juga membaca pustaka salat di dalam hati sonder isyarat fisik.

fonem-abjad hijaiyah internal bahasa isyarat

Peran Informatika

Keterbatasan yang dialami Teman Tuli ini adalah tantangan bagi teman-kutub Informatika buat berkreasi dan memperalat kemampuan mereka n domestik mengoreksi kondisi ini. Bilang berpokok banyak karya teknologi nan asosiasi dihasilkan merupakan permohonan penerjemah SIBI (sistem bahasa isyarat Indonesia) nan dibuat makanya Dr Erdefi Rakun dari Filkom UI, atau aplikasi Quran Perlambang semenjak cak regu pengembang UMMI. Pasti, masih banyak kejadian nan dibutuhkan Inversi Tuli yang diharapkan bisa tergarap dengan teknologi dan menjadi tantangan teknologi yang perlu terjamah.

Related posts:

Source: https://informatics.uii.ac.id/2021/05/30/islam-dan-disabilitas/

Posted by: caribes.net