Asbabun Nuzul Surat Ad Dhuha

Tafsir Surat Adh-Dhuha #01: Sebab Jatuh Ayat

Waktu ini kami mulai tafsir surah Adh-Dhuha, surat nomor urut 93 dalam mushaf Al-Alquran. Arti Adh-Dhuha sendiri adalah periode siang secara keseluruhan. Ada juga yang menyatakan Adh-Dhuha adalah tadinya hari siang ketika rawi mulai menggunung.

Yang mahakuasa Ta’ala berkata,

وَالضُّحَى (1) وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى (2) مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى (3) وَلَلْآَخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَى (4) وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى (5) أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآَوَى (6) وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى (7) وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَى (8) فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ (9) وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ (10) وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ (11)

“Demi waktu matahari sepenggalahan naik,

dan demi lilin batik apabila sudah sunyi (liar)

Rabbmu tiada menyingkir kamu dan tiada (pula) benci kepadamu

Dan sepantasnya waktu kemudian itu lebih baik bagimu daripada nan sekarang (mula-mula)

Dan nanti Rabbmu pasti memberikan anugerah-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.

Bukankah Dia mendapatimu seumpama seorang yatim, lampau Ia melindungimu?

Dan Beliau mendapatimu sebagai seorang yang bingung, terlampau Engkau menerimakan visiun.

Dan Engkau mendapatimu laksana seorang yang kehilangan, lalu Anda menerimakan kecukupan.

Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku otoriter.

Dan terhadap orang yang minta-harap, janganlah kamu menghardiknya.

Dan terhadap lemak Rabbmu, maka hendaklah ia siarkan.” (QS. Adh-Dhuha: 1-11)

Surah Adh-Dhuha terdiri dari 11 ayat dan tertulis surah Makkiyah tanpa ada tikai pendapat di galangan para ulama. Demikian disebutkan privat Fath Al-Qadir karya Imam Asy-Syaukani, 1:610.

Asbabun Nuzul

Detik petunjuk itu kotok beberapa waktu lega Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian malaikat datang, lantas diturunkanlah nubuat surah Adh-Dhuha. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir karena gembira dan gemar. Tetapi riwayat akan halnya ini lain bisa dihukumi normal maupun daif. Demikian dikatakan oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7:589 dan Imam Asy-Syaukani dalam Fath Al-Qadir, 1:610. Juga lihat tulisan kaki dari Prof. Dr. Hikmat bin Basyir polong Yasin, hadits ini daif menurut para ulama pengkritik hadits.

Ada riwayat dari Bukhari dan Muslim, dari Jundub Al-Bajali, dia bersabda,

يَقُولُ اشْتَكَى النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فَلَمْ يَقُمْ لَيْلَةً أَوْ لَيْلَتَيْنِ فَأَتَتْهُ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ يَا مُحَمَّدُ مَا أَرَى شَيْطَانَكَ إِلاَّ قَدْ تَرَكَكَ ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ( وَالضُّحَى * وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى * مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى)

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyayembarakan dan bukan keluar selama satu atau dua lilin batik. Sangat suka-suka seorang wanita nan datang dan merenjeng lidah, ‘Aduhai Muhammad, setanmu benar-benar sudah meninggalkanmu. Lantas turunlah firman Allah dalam surah Adh-Dhuha.” (HR. Bukhari, no. 4983; Muslim, no. 1797; dan Ahmad, 4:312). Kerumahtanggaan riwayat Muslim lainnya disebutkan, “Tidak keluar selama dua atau tiga malam.” (HR. Muslim, no. 1797)

Dalam riwayat Muslim, Jundub berkata,

أَبْطَأَ جِبْرِيلُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ الْمُشْرِكُونَ قَدْ وُدِّعَ مُحَمَّدٌ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ (وَالضُّحَى وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى)

“Rohulkudus lamban bertemu lagi dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas sosok-orang musyrik mengatakan, ‘Muhammad telah ditinggalkan.’ Lantas turunlah surah Adh-Dhuha, ‘Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi (haram), Rabbmu tiada menjauhi kamu dan tiada (pula) benci kepadamu’.” (HR. Mukmin, no. 1797)

Cak semau yang menyebutkan bahwa wanita yang dimaksudkan intern hadits di atas adalah istri Abu Lahab yaitu Ummu Jamil Al-Auraa’ binti Harb kacang Umayyah kedelai Abdisyams kacang ‘Abdi Manaf yang lagi ialah saudara kandung terbit Abu Sufyan bin Harb. Dan disebutkan bahwa jari-jari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terluka (karena dilempar) sehingga beliau bukan bisa keluar (selama dua maupun tiga musim). Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7:590.

Penjelasan Ayat

Yang dimaksud dengan Adh-Dhuha merupakan siang secara keseluruhan. Karena kalimat seterusnya ialah “wal-laili idza sajaa” artinya malam detik gelap, berarti lawan musim Dhuha yang disebut pertama. Demikian alasan dari Imam Asy-Syaukani dalam Fath Al-Qadir, 1:611.

Makna Adh-Dhuha sendiri ada empat pendapat ialah terangnya siang, depannya siang, awal siang ketika matahari start meninggi, dan cak semau lagi nan berpendapat seluruh waktu siang disebut Adh-Dhuha. Lihat Zaad Al-Masiir, 9:159.

Sedangkan ayat,

وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى

Dan demi lilin batik ketika sajaa. Maksud “سَجَى” sajaa di sini adalah “سَكَنَ” sakana, merupakan hening.

‘Atha’ mengatakan bahwa yang dimaksud “إِذَا سَجَى” adalah jika (siang) sudah lalu tertutupi gelap. Pun dikatakan yang hampir sebabat oleh Ibnul ‘Arabi, Al-Ashma’i, Al-Hasan Al-Bashri. Sa’id bin Jubair menyatakan “إِذَا سَجَى” saat malam telah start. Mujahid menyatakan bahwa “إِذَا سَجَى” maksudnya yaitu momen malam sudah istawa (telah lurus). Tetapi pendapat purwa yang menyatakan “إِذَا سَجَى” artinya “detik malam itu tenang”, yaitu datang gelap dan tidak kian gelapnya pula setelah itu, itu yang lebih dikuatkan maka itu Imam Asy-Syaukani dalam Fath Al-Qadir, 1:611.

Adapun “سَجَى” bermakna “سَكَنَ” sakana ada dua makna: (1) momen malam ranah, (2) ketika ada anak adam yang ada pada waktu lilin batik.

Kalimat “وَالضُّحَى (1) وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى (2)” adalah kalimat sumpah (al-qasam). Sedangkan jawab al-qasam (jawab sumpah) ada pada kalimat “مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى”.

Kalimat “مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ”, Rabbmu bukan meninggalkanmu, maksudnya adalah Sang pencipta tidak menyingkir Nabi Muhammad begitu juga seseorang yang berjarak meninggalkan produk. Introduksi “قَلَى” artinya “أبغض” (membenci), sehingga harapan ayat “مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى” merupakan Allah bukan menyingkir membencimu.

Bersambung insya Allah.

Terjamah dinihari di Panggang Gunungkidul #DarushSholihin, 20 Syawal 1440 H

Maka dari itu: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Source: https://umma.id/article/share/id/1002/260087

Posted by: caribes.net