Ayat Alquran Tentang Mustahiq Zakat

Salah suatu kewajiban seorang mukminat yaitu zakat. Secara bahasa, zakat bermanfaat bersih, tahir dan baik. Sedangkan jika ditinjau dari istilah fiqih, zakat merupakan harta tertentu yang teristiadat diberikan kepada orang nan berhak menerimanya. Perintah bagasi zakat ini bisa kita temukan di beberapa ayat n domestik Alquran, seperti dalam surat al-Baqarah [2]: 43 yang berbunyi:

وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَارْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْنَ

“Dririkanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah bersama dengan orang-orang yang ruku’.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 43)

Rasulullah saw. sekali lagi menegaskannya dalam sebuah sabda:

بُنِيَ الْإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَاِقَامِ الصَّلاَةِ، وَاِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالْحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَان

“Islam dibangun di atas panca hal: kesaksian sesungguhnya tiada Tuhan selain Almalik dan Muhammad utusan Allah, melaksanakan shalat, membayar zakat, haji, dan puasa ramadhan.”
(HR. Bukhari Mukmin)

Dua dalil kanonis di atas menjadi dasar yang abadi adapun pikulan zakat. Berdasar perkataan nabi Utusan tuhan itu kembali zakat menjadi pelecok satu rukun Selam. Zakat terbiasa ditunaikan makanya orang Islam yang telah menunaikan janji persyaratan. Seperti apa teknis menunaikan zakat?

Dalam tafsir
al-Jami’u li Ahkamil Qur’an, dikatakan bahwa jika zakat hanya diartikan andai tindakan membedakan bagian dari harta tertentu maka definisi tersebut dirasa masih kurang eksemplar. Zakat itu tak sekadar memberikan putaran harta nan dimiliki sehingga berkurang, melainkan zakat adalah tulangtulangan ekspansi harta secara positif serta kinerja akhirat bikin pemiliknya. Ini yang kemudian diistilahkan Al-Qurtubi dalam tafsirnya dengan
yanmu bil barakah aw bil ajril ladzi yutsabu bihil muzakki.

Selain itu, utama lagi diketahui bahwa zakat adalah rangka pembersihan dan penyucian harta yang dimiliki oleh seseorang, sebagaimana disinggung dalam sahifah At-Taubah [9] ayat 103. Ini sejalan dengan arti zakat secara bahasa, yaitu bersih, suci dan baik. Untuk itu, seyogiannya yang dimiliki itu bersih, baik dan pula barakah, bernilai pahala sekali lagi bikin pemiliknya, maka tunaikanlah zakat!

Sesuai jenisnya, zakat terbagi menjadi dua: zakat
khasanah
dan zakat fitrah. Terdapat tiga komponen utama yang harus dipenuhi hendaknya zakat boleh dilaksanakan sesuai dengan prosedur, yaitu terserah harta yang dizakati, basyar yang memberi zakat (muzakki) dan golongan penerima zakat (mustahiq).

Pertama, harta yang perlu dizakati. Dalam literatur fiqih, ada 5 jenis harta yang berkewajiban untuk dizakati:
al-mawasyi
(binatang ternak) berupa kambing, sapi dan unta,
az-zuru’
(hasil pertanaman) yang lebih khas pada bulan-bulanan makanan pokok,
a
ts
-atsman
(barang berharga) yang dikhususkan pada emas dan perak, buah-buahan, dan barang dagangan, dan baru-plonco ini ada zakat profesi (penghasilan)

Kedua,
muzakki. Ia harus beragama Selam, merdeka, dan memiliki harta yang terhindar berpangkal hutang. Harta nan wajib dizakati harus hingga ke pada
nishab
(batas minimal predestinasi harta yang perlu zakat). Kadar harta tersebut setelah dikurangi dengan pengeluaran biaya hidupnya serta orang-hamba allah yang ki berjebah dalam tanggungannya.

Ketiga, bani adam-orang yang berkuasa mengamini zakat (mustahiqqun). Situasi ini telah disebutkan secara jelas internal Alquran. Halikuljabbar merenjeng lidah kerumahtanggaan surat At-Taubah [9]: 60

اِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلْفُقَرَاۤءِ وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْعٰمِلِيْنَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوْبُهُمْ وَفِى الرِّقَابِ وَالْغٰرِمِيْنَ وَفِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَابْنِ السَّبِيْلِۗ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ

Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk anak adam-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, bagi (membebaskan) anak adam yang berutang, bagi jalan Halikuljabbar dan bikin orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban bersumber Tuhan. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.

Berikut penjelasan tentang delapan orang nan berkuasa mengamini zakat:

  1. Orang miskin, mereka merupakan orang yang tidak n kepunyaan harta atau pekerjaan untuk menyempurnakan kebutuhan muslihat dan tanggungannya.
  2. Miskin, orang yang mempunyai harta atau pencahanan sekadar tak bisa mencukupi kebutuhannya.
  3. Amil
    adalah panitia penerima dan organisator dana zakat.
  4. Muallaf, merupakan manusia yang dianggap masih lenyai imannya karena baru masuk Islam.
  5. Riqab
    yaitu hamba sahaya atau budak.
  6. Gharim, yakni orang yang memiliki hutang, mengaku hutang, dan lain sanggup membayarnya.
  7. Sabilillah
    (bani adam yang berjuang di kronologi Allah)
  8. Ibn

    S
    abil, orang yang patah bekalnya dalam perjalanan, musafir, dan para pelajar perantauan.

Perlu kita tahu bahwa rasam kewajiban zakat adalah
ma’lum minad din bid dharuriy
(ajaran agama nan telah diketahui karuan secara mahajana). Oleh sebab itu, jika kewajibannya diingkari, maka akan berdampak kufur, karena dengan sadar ia mengingkarinya. Hal ini sebagaimana diterangkan dalam oleh an-Nawawi dalam
al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab.

Baca Sekali lagi: Dalil Teologis Periode-Waktu Salat Fardu, Tafsir Manuskrip An-Nisa’ Ayat 101: Dalil Salat Qasar

Selain itu, zakat secara subtansial termasuk dari bagasi nan mempunyai dua sisi tinjauan. Purwa yaitu
ta’abbudi
(penghambaan diri kepada Sang pencipta). Di bagian ini berarti zakat menjadi urusan antara manusia dengan Allah. Kedua, sisi sosial, karena mematamatai pada harapan utamanya, yakni pelampiasan kebutuhan
mustahiqqun. Tinjauan yang kedua ini, berjasa zakat adalah bentuk kepedulian sosial sesama umat.

Wallahu A’lam

Lutfiyah

Mahasiswa Ilmu al-Qur’an dan Tafsir Jamiah Pesantren KH. Abdul Chalim (IKHAC) Mojokerto

Source: https://tafsiralquran.id/kewajban-zakat-dalam-alquran/

Posted by: caribes.net