Bagaimana Pandangan Ajaran Yoga Terhadap Tuhan

A. Etika Yoga

Perenungan

”Na karmaṇām anārambhān naiṣkarmyaṁ puruṣo ’ṡnute,

na ca saṁnyasanād eva siddhiṁ samadhigacchati”.

Terjemahannya adalah.

”Tanpa kerja orang lain akan mencapai kedaulatan,

demikian juga engkau tidak akan mencapai keutuhan karena menghindari kegiatan kerja”.

(Bhagavad Gita. III.4).

Mencerna Teks

Secara umum, konsep etika dalam yoga termuat internal latihan yama dan niyama, yakni disiplin moral dan disiplin diri. Aturan-aturan yang suka-suka intern yama dan niyama, juga berfungsi sebagai kontrol sosial kerumahtanggaan mengatur moral manusia. Privat rahasia Tattwa Darsana, dijelaskan bahwa etika dalam yoga merupakan; n domestik samadhi, seorang yogi memasuki ketenangan terala nan tak tersentuh makanya suara yang enggak henti- hentinya, yang berasal berbunga luar dan pikiran kesuntukan fungsinya, di mana cingur- hidung terserap ke privat pikiran. Apabila semua perubahan pikiran terkendalikan, si pengamat atau purusa, terhenti intern dirinya sendiri. Keadaan semacam ini di intern yoga makao patanjali disebut sebagai svarupa avasthanam (geta dalam diri seseorang yang sesungguhnya).

Astangga yoga

Intern filsafat yoga dijelaskan bahwa yoga berarti penghentian kegoncangan- kegoncangan manah. Terserah panca keadaan manah itu. Keadaan pikiran itu ditentukan makanya ketekunan sathwa, rajas dan tamas. Kelima situasi pikiran itu adalah seperti mana tertera dalam uraian berikut.

1) Ksipta artinya tak diam-diam. Intern keadaan pikiran itu diombang-ambingkan oleh rajas dan tamas, dan ditarik-tarik makanya bulan-bulanan indria dan media-ki alat lakukan mencapainya, perhatian melonjak-lonjak dari satu sasaran ke korban nan tidak minus terhenti pada satu objek.

2) Mudha artinya lamban dan malas. Gerak lamban dan malas ini disebabkan makanya pengaruh tamas yang menguasai alam perhatian. Balasannya orang nan alam pikirannya demikian berorientasi bodoh, senang tidur dan sebagainya.

3) Wiksipta artinya gugup, kacau. Hal ini disebabkan oleh pengaruh rajas. Karena pengaruh ini, perasaan mampu mewujudkan semua sasaran dan mengarahkannya pada dedikasi, pengetahuan, dan sebagainya. Ini merupakan tahap pemfokusan pikiran sreg suatu objek, namun sifatnya sementara, sebab akan disusul lagi oleh kekuatan perhatian.

4) Ekarga artinya terpusat. Di sini, citta terhapus dari cemarnya rajas sehingga sattva lah nan menguasai pikiran. Ini merupakan sediakala sentralisasi pikiran pada suatu mangsa yang memungkinkan engkau memaklumi alamnya yang sejati sebagai anju kerjakan menghentikan perubahan-perubahan perasaan.

5) Niruddha artinya terselesaikan. Dalam tahap ini, berhentilah semua kegiatan pikiran, hanya ketenanganlah nan cak semau. Ekagra dan niruddha yaitu persiapan dan bantuan bagi mencapai intensi akhir, merupakan libur. Bila ekagra boleh berlanjut terus menerus, maka disebut samprajna-yoga maupun perenungan nan internal, nan padanya cak semau perenungan kognisi akan satu target yang terang. Tingkatan niruddha pun disebut asaniprajnata-yoga, karena semua transisi dan kegoncangan pikiran tersuntuk, tiada suatu sekali lagi diketahui oleh ingatan lagi. Dalam peristiwa demikian, tak ada riak-riak gelombang elektronik katai sekali pun dalam permukaan umbul-umbul pikiran atau citta itu. Inilah nan dinamakan orang samadhi yoga.

6) Ada empat spesies samparjnana yoga menurut diversifikasi bulan-bulanan renungannya. Keempat macam itu merupakan perumpamaan berikut.

  1. Sawitarka ialah apabila pikiran dipusatkan lega suatu objek benda bergairah seperti patung dewa atau haur.
  2. Sawicara ialah bila ingatan dipusatkan pada objek yang halus yang tak konkret seperti tanmantra.
  3. Sananda, ialah bila pikiran dipusatkan puas satu objek nan kecil-kecil seperti rasa indriya.
  4. Sasmita, ialah bila perhatian dipusatkan pada asmita, adalah anasir rasa aku nan umumnya umur menyamakan dirinya dengan ini.

Dengan tahapan-hierarki pemusatan manah begitu juga yang disebut di atas maka ia akan mengalami bermacam-keberagaman fenomena alam, objek dengan atau sonder jasmani nan meninggalkannya satu-satu satu hingga akhirnya citta meninggalkannya kadang-kadang dan seseorang mencapai tingkat asamprajnata dalam yoganya. Untuk menyentuh tingkat ini turunan harus melaksanakan praktik yoga dengan gemi dan internal periode yang lama menerobos tahap-tahap yang disebut Astāngga yoga.

Berikut ini merupakan sistematika Astāngga yoga dalam bagan grafik.

Uji Kompetensi

1. Di mana letak perbedaan etika yoga dalam tinggi yama dan nyama?

2. Coba sebutkan segala tetapi yang menentukan kejadian pikiran!

3. Bagaimana mudahmudahan beretika dalam pelaksanaan yoga? Sebelumnya diskusikanlah dengan orangtuamu di rumah.

B. Sang Hyang Widhi (Tuhan) dalam Ajaran Yoga

Meditasi

”Yo báūtaṁ ca bhavyaṁ ca sarvaṁ yaṡ cādhitiṣþhati,

svar yasya ca kevalaṁ tasmai jyeṣþhāya brahmaṇe namaá”

Terjemahannya adalah.

”Tuhan Nan Maha Esa ada di mana-mana, baik di perian lewat, di masa waktu ini maupun di masa hinggap. Dia berbahagia sepenuhya. Kami menghaturkan persembahan (korban) ke hadapan Sang pencipta Nan Maha Esa, yang Maha Agung (Manusia Agung itu)”

(Atharva Veda X.7.35).

Memahami Wacana

Patanjali mengakuri kesanggupan Si Hyang Widhi (isvara) di mana Si Hyang Widhi menurutnya yaitu The Perfect Supreme Being, bertabiat abadi, meliputi segalanya, Mahakuasa, Mahatahu, dan Mahaada. Sang Hyang Widhi yaitu purusa nan individual dan tidak dipengaruhi oleh kebodohan, egoisme, nafsu, kebencian dan mengirik akan kematian. Ia nonblok dari karma, karmaphala dan kegemparan-kecaburan yang bersifat laten.

Patanjali mengasa bahwa manusia-manusia mempunyai esensi yang sekufu dengan Sang Hyang Widhi, tetapi karena ia dibatasi oleh sesuatu nan dihasilkan oleh ketertarikan dan karma, maka ia berparak dengan kesadarannya tentang Sang Hyang Widhi dan menjadi mangsa dari dunia material ini.

Pamrih dan aspirasi manusia bukanlah bersatu dengan Sang Hyang Widhi, namun pemisahan nan tegas antara purusa dan prakrti (Sarasamuccaya, peristiwa 371). Hanya satu Tuhan (Si Hyang Widhi). Menurut Vijnanabhisu: “berpangkal semua jenis kesadaran meditasi, bermeditasi kepada kepribadian Sang Hyang Widhi adalah perenungan yang terala. (Sarasamuccaya, 372) Ada bineka objek nan dijadikan sebagai pemusatan meditasi yaitu bermeditasi sreg sesuatu yang ada di luar diri kita, bermeditasi kepada suatu tempat yang suka-suka pada jasmani kita sendiri dan yang termulia merupakan bermeditasi nan di pusatkan kepada Sang Hyang Widhi.

Uji Kompetensi

1. Bagaimana pandangan ajaran yoga terhadap Halikuljabbar?

2. Bagaimana keberadaan Tuhan itu sendiri privat ramalan yoga? Sebelumnya diskusikanlah dengan orangtuamu di rumah.

3. Apakah yang dimaksudkan Tuhan privat tajali yoga?

Source: https://rah-toem.blogspot.com/2020/08/etika-yoga-dan-sang-hyang-widhi-tuhan-dalam-Ajaran-Yoga.html