Bahasa Sulawesi Tenggara Dan Artinya

” Beralaskan hasil pemetaan bahasa daerah di Sulawesi Tenggara, ada sembilan bahasa negeri selain bahasa pendatang nan terdapat di Sulawesi Tenggara, adalah Culambacu, Cia-cia, Kulisusu, Lasalimu-Kamaru, Moronene, Muna, Tolaki, Wolio, dan Pulo. ”


BAUBAU, TELISIK.ID – Bahasa yaitu perabot komunikasi. Hampir seluruh aktivitas orang menggunakan bahasa seumpama penghubung antara individu suatu dan sosok lainnya.

Sejak kita dilahirkan, ibu sudah lalu mengenalkan bahasa kepada kita. Itulah nan disebut bahasa ibu atau bahasa pertama dalam istilah linguistik.

Bahasa ibu maupun bahasa pertama alias dalam peristiwa ini bahasa daerah  mahajana Sultra cukup bermacam rupa. Tidak mengajaibkan, itu dikarenakan kondisi geografis dan tingginya pengerahan yang terjadi di Sultra. Peristiwa itulah yang menyebabkan intrusi bahasa terjadi.




Superior Biro Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara Dr. Hj. Herawati, S.S., M.A mengatakan, saat ini  ada mode eksploitasi bahasa daerah mulai ditinggalkan.

“Hal itu bisa dilihat n domestik kemampuan berbahasa daerah para pencerita usia akil balig. Terdapat kecenderungan para generasi muda lebih banyak yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu/bahasa permulaan mereka, bukan bahasa daerah ayah bunda mereka,” ungkapnya via WhatsApp, Sabtu (9/1/2021).

Kejadian itu, kata Hj. Herawati, juga dipicu maka itu beberapa faktor, di antaranya perkawinan cedera kedaerahan, tingkat pendidikan dan mobilitas yang pangkat, serta tidak diajarkan bahasa wilayah tersebut dalam gambar alat penglihatan tuntunan muatan domestik di satuan pendidikan jengang bawah (SD dan SMP).

Baca juga:
Dukung Go Green Madrasah, MA Asy-syafiiyah Sabet Penghargaan

Dalam kenyataan berbudi, lanjutnya, satu bahasa dapat menggeser bahasa bukan. Bahasa yang tergeser adalah bahasa nan bukan berlambak mempertahankan diri ataupun tidak lagi digunakan sebagai sarana komunikasi masyarakat penuturnya.

Kondisi sebagai halnya itu yaitu akibat dari pilihan bahasa dalam paser tingkatan (paling tidak tiga generasi) dan bersifat kolektif (dilakukan oleh seluruh warga guyub/publik ujar).

Pergeseran bahasa berguna satu guyub maupun komunitas meninggalkan suatu bahasa sepenuhnya untuk memakai bahasa tak. Apabila pergeseran sudah terjadi, para warga guyub itu secara kolektif mengidas bahasa yunior.

Umpama upaya  pelestarian bahasa-bahasa negeri tersebut, berbagai upaya Maktab Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara merumuskan program pengkajian dan pembinaan menerobos kegiatan arwah, preservasi, dan revitalisasi bahasa dan sastra daerah yang ada. Selain itu juga dilakukan pembukuan leksikon bahasa negeri.

Kepala Kantor Bahasa Sultra bertekad penggunaan bahasa area terus ditingkatkan dengan takhlik trigarta bangun bahasa.

“Saya berharap upaya pemertahanan bahasa daerah dapat terus ditingkatkan. Keseleo satu kegaitan yang juga dilakukan makanya Biro Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara ialah melintasi program tunas bahasa daerah. Mari kita wujudkan trigatra bangun bahasa, ialah utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa kawasan, dan kuasai bahasa asing,” tuturnya.

Berdasarkan hasil pemetaan bahasa kewedanan di Sulawesi Tenggara, ada sembilan bahasa daerah selain bahasa pendatang yang terdapat di Sulawesi Tenggara, yaitu Culambacu, Cia-cia, Kulisusu, Lasalimu-Kamaru, Moronene, Muna, Tolaki, Wolio, dan Pulo.

Berikut 9 Bahasa dan pemetaannya.

1. Bahasa Culambacu sering pula disebut sebagai bahasa Tulambatu. pencerita bahasa Culambacu dapat dijumpai di Kabupaten Konawe Utara, Kawasan Sulawesi Tenggara. Bahasa Culambacu terdiri atas tiga dialek, yaitu dialek Lamonae, dialek Torete,  dan dialek Landawe.

2. Penutur bahasa Cia-Cia terdapat di Kabupaten Buton, Area Sulawesi Tenggara. Bahasa Cia-Cia terdiri atas lima dialek, adalah dialek Lapandewa, Kancinaa, Masiri, Gonda Baru, dan dialek Kumbewaha.

3. Penutur bahasa Kulisusu bisa dijumpai di Kabupaten Buton, Buton Utara, dan Pulau Wawonii (Kabupaten Konawe). Dialek bahasa Kulisusu adalah dialek Kambowa, Taloki, Wawonii, dan dialek Ereke.

4. Penutur bahasa Lasalimu-Kamaru terdapat di Kabupaten Buton. Bahasa Lasalimu-Kamaru terdiri atas dua dialek, merupakan dialek Lasalimu dan dialek Kamaru.

5. Bahasa Moronene dituturkan makanya masyarakat yang tinggal di Pulau Kabaena, tepatnya di Kabupaten Bombana. Bahasa Moronene ialah bahasa mayoritas di Pulau Kabaena. Bahasa Moronene terdiri atas tiga dialek, yakni dialek Wumbubangka, Lora, dan dialek Rahantari.

6. Bahasa Muna dituturkan makanya awam di Pulau Muna dan pantai barat Pulau Buton, Negeri Sulawesi Tenggara. Bahasa Muna yakni bahasa mayoritas di Pulau Muna dan pantai barat Pulau Buton. Penutur bahasa Muna dapat dijumpai di Kabupaten Muna, Buton, Buton Utara, Bombana, Kota Kendari, dan Kota Baubau. Bahasa Muna n kepunyaan dua desimal dialek, yaitu dialek Lohia, Sidamangura, La Siwa, Labora, La Bora, La Padaku, Bente, Bone Tondo, Leher, Lambiku, Wasilomata, Lombe, Siompu, Todanga, Gu-Mawasangka, Pancana, Lipu, Kioko, Boneoge, Bone Gunu, dan dialek Dempu.

7. Bahasa Pulo dituturkan makanya umum di Desa Kapola Kecamatan Wangi-wangi, Desa Sandi (Jamarakka), Kecamatan Kaledupa, Desa Tongano Timur, Kecamatan Tomia, dan Desa Taipabu, Kecamatan Binongko, Kabupaten Wakatobi.

8. Bahasa Tolaki yakni bahasa mayoritas di Provinsi Sulawesi Tenggara. Bahasa Tolaki dituturkan di Kabupaten Kolaka, Kolaka Utara, Konawe, Konawe Selatan, Konawe Utara, dan beberapa di tempat di Kota Kendari.

Bahasa Tolaki terdiri atas heksa- dialek, yaitu: 1. Dialek Mekongga dituturkan masyarakat di sejauh rantau barat Kabupaten Kolaka Paksina (desa Kodeaha, Desa Puundoha, dan Desa Patikala), di putaran  barat Kabupaten Kolaka (Desa Mangolo dan Desa Puundoho); di bagian daksina Kabupaten Konawe (Desa Laloae, Desa Mangolo, dan Desa Sanggona); di bagian barat Kabupaten Konawe Kidul (Desa Poli-Polia).

Baca pula:
Perkuliahan Daring IAIN Kendari Berlanjut di Tahun 2022

2. Dialek Rahambuu dituturkan di Desa Lelewawo, Kecamatan Batuputih, Kabupaten Kolaka Utara; 3. Dialek Kodeaha dituturkan di Desa Lametuna Kecamatan Kodeaha, Kabupaten Kolaka Lor;

4. Dialek Konawe oleh masyarakat di Kabupaten Konawe Daksina (Desa Roraya, Desa Sabulakoa, Desa laeya, dan Desa Tambolosu); dialek di babak selatan Kabupaten Konawe (Desa Puudambu, Desa Lalonggasu, Meeto, Desa Walay, dan Desa Tawanga), di Kabupaten Konawe Utara (Desa Wanggudu, Mopute, Todo Loyo, dan Desa Molawe);

5. Dialek Laromerui dituturkandi Desa Mopute, Kecamatan Asera, Kabupaten Konawe Paksina, dan

6. Dialek Waru dituturkan di Desa Todoloiyo, Kecamatan Asera, Kabupaten Konawe Utara.

9. Bahasa Wolio dituturkan oleh masyarakat yang kaya di Kota Baubau dan Kabupaten Buton, Kawasan Sulawesi Tenggara. Bahasa Wolio terdiri atas sapta dialek, yaitu: 1) dialek Waruruma dituturkan di desa Waruruma, Kecamatan Wolio, Kota Baubau, 2) dialek Liabuku dituturkan di Desa Liabuku, Kecamatan Bungi, Kota Baubau.

Selain itu, 3) dialek Sorawolio dituturkan di Desa Kaisabu Baru Kecamatan Sorawolio Kota Baubau; 4) dialek Wolio Keraton dituturkan di Desa Desa Badiaa, Kecamatan Murhum, Kota Baubau; 5) dialek Busoa dituturkan di Desa Busoa, Kecamatan Batauga, Kabupaten Buton.

6) dialek Pasarwajo dituturkan di Desa Pasarwajo, Kecamatan pasarwajo, Kabupaten Buton; dan 7) dialek Kaimbulawa dituturkan Di Desa Kimbulawa, Kecamatan Siompu, Kabupaten Buton. (B)

Reporter: Ridwan Amsyah

Penyunting: Haerani Hambali


Source: https://telisik.id/news/9-bahasa-daerah-di-sultra-dan-pemetaan-bedasarkan-letak-geografis

Posted by: caribes.net