Berikut Ini Yang Bukan Dampak



Usaha mereklamasi pesisir saat ini menginjak banyak bermunculan, hal ini disebabkan karena keterbatasan lahan perkotaan dan semakin musykil mencari tanah di daratan untuk khasiat pembangunan (Usman, 2005) (cit.
Emmy, 2008). Pembangunan tersebut digunakan lakukan pemukiman, bisnis maupun tempat rekreasi. Belaka, pilihan itu menimbulkan kekhawatiran terjadinya dampak nyata maupun subversif. Dari bermacam ragam ahli banyak nan berpendapat akan halnya dampak-dampak yang ditimbulkan berasal reklamasi pantai, baik itu positif maupun negatif.

Dampak destruktif reklamasi pantai menurut Usman (2005)  (cit.
Emmy, 2008) secara garis lautan antara lain adanya gertakan banjir, pergantian ekosistem, gertakan hilangnya mata pencaharian pengail, masalah sosial, urbanisasi, pengemasan air bersih dan lalu lintas yang padat. Sitohang (2005) (cit. Emmy, 2008) menyatakan bahwa reklamasi pantai bisa mengakibatkan hilangnya sendang tanah material urukan, membutuhkan banyak persil, kekerapan transportasi tinggi, akan merusak ruas jalan, transisi topologi dan izzah, terganggu dan berubahnya kondisi ekonomi, sosial, serta mileu. Dampak mileu semangat nan sudah jelas nampak di depan mata akibat kiriman reklamasi itu adalah fasad ekosistem berupa hilangnya pluralitas hayati. Keanekaragaman hayati yang diperkirakan akan punah akibat proyek penimbunan itu antara lain faktual hilangnya heterogen spesies mangrove, punahnya spesies lauk, kerang, ketam, burung dan berbagai keanekaragaman hayati lainnya.

Dampak mileu lainnya berasal order reklamasi pantai yakni meningkatkan potensi banjir. Hal itu dikarenakan pesanan tersebut dapat memungkiri bentang alam (geomorfologi) dan aliran air (hidrologi) di area penimbunan tersebut. Perubahan itu antara lain berupa tingkat kelandaian, komposisi deposit kali besar, paradigma timbul tenggelam, pola revolusi laut sepanjang pesisir dan destruktif provinsi tata air. Potensi banjir akibat proyek pengurukan itu akan semakin meningkat bila dikaitkan dengan adanya kenaikan wajah air laut yang disebabkan maka itu pemanasan global.

Sementara itu, secara sosial rencana akumulasi pantai dipastikan pun dapat menyebabkan nelayan tradisional tertendang dari perigi-mata air kehidupannya. Penggusuran itu dilakukan karena kawasan komersial yang akan dibangun mensyaratkan pantai sekitarnya bersih dari berbagai fasilitas penangkapan lauk eigendom nelayan.

Selain menimbulkan dampak negatif, ternyata kegiatan reklamasi pantai ini pun memiliki dampak positif antara lain menurut Usman (2005) (cit.
Emmy, 2008) tertatanya area pesisir, tersedianya urat kayu bisnis, permukiman baru, alun-alun kerja yang baru, meningkatkan perputaran investasi dan pengembangan ruang wisata mentah. Menurut Ni’am (1999) (cit.
Emmy, 2008) mengakibatkan perubahan citra laut menjadi
waterfront city, penyediaan lahan untuk beragam keperluan (pemekaran kota), penataan atau penyempuraan kewedanan pantai dan pengembangan tamasya bahari.

Meningkatnya kegiatan yang dilakukan oleh berbagai pihak antara lain pemerintah dan swasta, mendorong adanya perlombaan di antara para pelaku pemanfaatan sumber kunci pesisir tersebut. Kejuaraan inilah yang menimbulkan konflik dan titip tindihnya perencanaan dan pengelolaan wilayah pesisir berpokok bermacam ragam kegiatan sektoral pemerintah daerah, masyarakat setempat dan swasta. Pihak-pihak tersebut merasa memiliki hak atas suatu provinsi pantai dan mereka saling mengutamakan kepentingannya masing-masing (Dahuri, 2001). Mengaram paradigma itu, perlu dikaji sekali lagi baik peraturan-peraturan nan ada, dan kebutuhan bisnis dalam melaksanakan pengumpulan pantai sebaiknya keuntungan yang didapat saat ini tidak mudarat generasi yang akan menclok.

Usaha mereklamasi rantau ketika ini mulai banyak bermunculan, hal ini disebabkan karena keterbatasan kapling perkotaan dan semakin musykil berburu lahan di daratan untuk kepentingan pembangunan (Usman, 2005) (cit.
Emmy, 2008). Pembangunan tersebut digunakan untuk pemukiman, memikul maupun tempat rekreasi. Namun, pilihan itu menimbulkan kepanikan terjadinya dampak positif atau merusak. Berasal majemuk pandai banyak yang berpendapat mengenai dampak-dampak yang ditimbulkan dari reklamasi pesisir, baik itu positif maupun negatif.

Dampak destruktif reklamasi pesisir menurut Usman (2005)  (cit.
Emmy, 2008) secara garis besar antara tak adanya bentakan banjir, perubahan ekosistem, ancaman hilangnya alat penglihatan pencaharian pengail, komplikasi sosial, urbanisasi, penyediaan air bersih dan lalu lintas yang padat. Sitohang (2005) (cit. Emmy, 2008) menyatakan bahwa reklamasi pantai dapat mengakibatkan hilangnya sumur tanah material urukan, membutuhkan banyak tanah, frekuensi transportasi tinggi, akan merusak ruas perkembangan, perubahan topologi dan izzah, terganggu dan berubahnya kondisi ekonomi, sosial, serta lingkungan. Dampak lingkungan nyawa yang sudah jelas nampak di depan mata akibat proyek reklamasi itu adalah kehancuran ekosistem nyata hilangnya keanekaragaman hayati. Keanekaragaman hayati yang diperkirakan akan punah akibat proyek reklamasi itu antara lain berupa hilangnya majemuk spesies mangrove, punahnya spesies ikan, kerang, kepiting, burung dan bineka keanekaragaman hayati lainnya.

Dampak mileu lainnya bersumber proyek reklamasi pesisir adalah meningkatkan potensi banjir. Kejadian itu dikarenakan order tersebut dapat mengubah urai alam (geomorfologi) dan aliran air (hidrologi) di daerah pengumpulan tersebut. Perubahan itu antara tidak aktual tingkat kelandaian, komposisi sedimen wai, pola pasang surut, pola arus laut sepanjang pantai dan merusak negeri tata air. Potensi air bah akibat proyek reklamasi itu akan semakin meningkat bila dikaitkan dengan adanya kenaikan muka air laut yang disebabkan maka itu pemanasan global.

Sementara itu, secara sosial rangka reklamasi rantau dipastikan sekali lagi bisa menyebabkan nelayan tradisional tergusur dari sumber-mata air kehidupannya. Penggusuran itu dilakukan karena distrik komersial nan akan dibangun mensyaratkan pantai sekitarnya bersih terbit berbagai fasilitas penggerebekan lauk milik nelayan.

Selain menimbulkan dampak negatif, ternyata kegiatan reklamasi pantai ini pun memiliki dampak faktual antara lain menurut Usman (2005) (cit.
Emmy, 2008) tertatanya distrik pantai, tersedianya ulas jual beli, permukiman baru, pelan kerja yang baru, meningkatkan arus investasi dan pengembangan pangsa pelancongan baru. Menurut Ni’am (1999) (cit.
Emmy, 2008) mengakibatkan perubahan citra laut menjadi
waterfront city, penyediaan persil untuk berbagai keperluan (pemekaran kota), penataan atau peremajaan wilayah pesisir dan pengembangan tamasya bahari.

Meningkatnya kegiatan yang dilakukan maka dari itu bervariasi pihak antara lain pemerintah dan swasta, menolak adanya perlombaan di antara para pekerja eksploitasi sumber daya pesisir tersebut. Pertandingan inilah nan menimbulkan konflik dan tumpang tindihnya perencanaan dan manajemen provinsi tepi laut semenjak berbagai ragam kegiatan sektoral pemerintah kewedanan, mahajana setempat dan swasta. Pihak-pihak tersebut merasa punya milik atas suatu distrik tepi laut dan mereka saling mengutamakan kepentingannya saban (Dahuri, 2001). Menyibuk paradigma itu, perlu dikaji lagi baik ordinansi-ordinansi yang ada, dan kebutuhan bisnis dalam melaksanakan akumulasi tepi laut agar keuntungan yang didapat momen ini tidak mudarat generasi yang kemudian hari.

Komplikasi reklamasi pantai waktu ini sedang menjadi pembicaraan hangat antara yang menyetujui dan yang tidak menyetujui adanya pembangunan reklamasi tepi laut tersebut. Berikut ini yaitu beberapa pertimbangan teknik sederhana dari ki perspektif pandang permukaan geoteknik. Bakal menganalisa secara lebih teknis diperlukan data-data terdahulu antara lain, analisa AMDAL, topografi, bathimetry, pasang surut, perputaran, gelombang, pemeriksaan geoteknik (rasam-sifat raga dan mekanika kapling), bangunan/struktur yang akan berdiri diatas petak reklamasi, sumber material yg akan digunakan, analisa ekonomi seperti break event point kapling penimbunan dan struktur bangunan serta usaha yang akan dilakukan lebih singularis dampak pada pertumbuhan ekonomi daerah begitu juga eskalasi kedamaian mahajana didaerah. Dampak sosial untuk publik akibat reklamasi sebagaimana gedung dan fasilitas nan akan dibangun, namun semuanya ini tentunya memerlukan biaya eksplorasi dan penelitian yang memadai serta waktu yang patut, cak bagi menentukan justifikasi teknis layak tidaknya reklamasi rantau. Secara terlambat maka dapat mengintai dari dua aspek seperti:

1. Aspek Positif Penumpukan :

  1. Adanya kapling baru untuk dibangun pusat bisnis dan hiburan sebagaimana hotel
    berbintang 5, mall, sendi hiburan tepi laut, dan sebagainya.
  2. Boleh memberikan kontribusi ekonomi bagi negeri dan publik baik APBD,
    lapangan kerja, dan latar usaha lainnya.
  3. Mencium pariwisata.
  4. Reklamasi bukanlah konstruksi yg sulit dikerjakan sehingga dapat dilaksanakan oleh tenaga lokal sekalipun.
  5. Bisa berfungsi sebagai peredam Tsunami dengan adanya pemasangan
    front break
    water

    serta desain bangunan berpola pengendali air.

2. Aspek Negatif Reklamasi

  1. Adv amat berdampak pada kebinasaan lingkungan sama dengan :
  • Terjadi perubahan garis pantai dan contoh persebaran
  • Hilangnya terumbu karang/napo karang
  • Godaan kebisingan dan getaran pada mileu sekitar baik plong hamba allah dan hewan laut akibat pekerjaan konstruksi detik pemancangan tiang-papan pancang
  • Pencemaran udara akibat abuk dari truk-truk pengangkut tanah serta saat pelaksanaan pekerjaan timbunan
  • Pencemaran laut akibat limbah ilmu hayat, kimia ke Taman Laut Bunaken dan taman laut lainnya
  • Akibat pengutipan material seperti batu dan tanah dari darat maka akan terjadi perusakan lingkungan didarat
  • Dapat menimbulkan provokasi banjir jikalau terjadi peninggian titik 0 digaris pesisir, serta kurang baiknya sistem drainase untuk pengendalian air
    RunOff
    dari darat

       b. Bertelur sosial kepada masyarakat akibat pembangunan pusat bisnis dan hiburan seperti bisnis prostistusi, judi dan minuman keras.

       c. Tidak tertata n domestik RTRW.

Dengan melihat dua sisi baik positif maupun negatif perlu tidaknya pembangunan reklamasi rantau maka hasil yang didapat lebih cenderung untuk tidak merekomendasikan adanya pembangunan akumulasi pantai karena dampak kerusakan mileu dulu jelas dirasakan, dan untuk meningkatkan ekonomi cukup dibangun didarat karena dilokasi tersebut masih patut tersedia areal yg luas buat dijadikan pusat memikul.

Sumber:

  1. Dahuri, R., J. Rais, S.P Ginting, dan M.J Sitepu. 2001. Pengelolaan Sumberdaya Distrik Pantai Dan Raksasa Secara Terpadu. Pradnya Paramita. Jakarta.
  2. Hardjasoemantri, K. 1991. Hukum Perlindungan Mileu. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
  3. Wunas, S. dan J.H Lumain. 2003. Dampak Reklamasi Pantai Terhadap Nasib Sosial-Ekonomi Dan Sosial-Budaya Penduduk Di Manado. Jurnal Studi Enjiniring Vol.9, No.3: 325-330.

Source: https://dislautkan.jogjaprov.go.id/web/detail/173/positif_negatif_upaya_reklamasi_pantai

Posted by: caribes.net