Bersuci Dalam Bahasa Arab Disebut

Berusul Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Bersuci privat Islam
(bahasa Arab:
الطهارة,

translit.



al-ṭahārah

‎) merupakan episode dari prosesi ibadah umat Selam nan bermanfaat menyucikan diri yang mencakup secara lahir maupun batin.[1]
Kedudukan bersuci dalam hukum Islam termuat ilmu dan amalan yang penting, terutama karena di antara syarat-syarat salat telah ditetapkan bahwa seseorang yang akan mengamalkan shalat diwajibkan suci dari hadas dan suci pula badan, baju, dan tempatnya bermula najis. Firman Allah:[2]

Bersuci hukumnya wajib bagi seorang Mukmin nan akan melaksanakan shalat, bakal itu terbiasa untuk seorang Muslim lakukan memafhumi perkara-perkara perihal menyertu mulai sejak hadas dan najis.[3]

Pengertian Thaharah

[sunting
|
sunting perigi]

Secara bahasa
thaharah
artinya menyucikan cerih, baik kotoran nan berwujud maupun nan bukan berwujud. Kemudian secara istilah,
thaharah
artinya menghilangkan hadas, najis, dan kotoran (berasal fisik, nan menyebabkan tidak sahnya ibadah lainnya) memperalat air alias tanah nan bersih.[4]
Sementara itu menurut hukum Syara’,
thaharah
artinya bersih mulai sejak hadas dan najis.[5]

Perkara bersuci

[sunting
|
sunting sendang]

Perihal bersuci meliputi bilang perkara berikut:

  • Organ bersuci, seperti air dan pengganti air seperti tanah dan sebagainya.
  • Kaifiat (cara) bersuci
  • Jenis najis yang teradat disucikan
  • Benda yang wajib disucikan
  • Sebab-sebab ataupun peristiwa yang menyebabkan terbiasa menyertu

Spesies Thaharah

[sunting
|
sunting sumur]

Thaharah terbagi menjadi dua, secara batin dan lahir, keduanya tersurat di antara cabang keimanan. Thaharah bathiniyah: yaitu menyucikan diri dari kotoran kesyirikan dan kemaksiatan dari diri dengan cara menegakkan tauhid dan bersedekah alim. Thaharah lahiriyah: merupakan menyucikan diri menghilangkan hadats dan najis.[6]

Bentuk Thaharah

[sunting
|
sunting sendang]

Koteng momongan menyertu dengan tanah (tayamum).

Thaharah dengan air sama dengan wudhu dan mandi junub (junub), dan ini adalah bentuk bersuci secara radiks. Thaharah dengan tanah (debu) yakni tayamum[7]
sebagai pengganti air saat tidak ada air atau medium berhalangan menggunakan air.[8]

Pamrih

[sunting
|
sunting perigi]

Harapan paling mendasar dari bersuci adalah sebagai syarat lumrah kerjakan salat. Ini telah disepakati bersama melalui ijmak.[9]

Diversifikasi Najis

[sunting
|
sunting sumur]

Najis merupakan cerih nan wajib dijauhi dan wajib dibersihkan bila terkena badan seorang Muslim.[10]
Hukum asal dari satu benda yaitu bersih dan boleh dimanfaatkan, hingga kemudian (apabila) didapatkan adanya dalil yang menyatakan kenajisannya (maka dia dihukumi najis).

Najis dibedakan menjadi 3, yaitu:

  • Najis
    mukhaffafah
    (najis ringan)

Najis ini dapat dihilangkan hanya dengan memercikan air (mengelus dengan air pada benda yang terkena najis. contoh najis mukhaffafah yaitu air kencing bayi maskulin nan belum makan apapun kecuali air susu ibu.

  • Najis
    mutawassitah
    (najis sedang)

Cara menghilangkan najis ini ialah dengan kaidah mencucinya sebatas hilang rona, bau, rasa, zat, dan sebagainya hilang. hipotetis najis mutawassitah adalah bangkai, darah, nanah, kemih manusia, kotoran manusia, dan enggak-lain.

  • Najis
    mugallazah
    (najis selit belit)

Contoh najis mugallazah adalah jilatan cengkok dan babi. jika terkena ini, maka cara menghilangkannya yaitu dengan mencuci dengan air mengalir sebanyak 7 mungkin yang di sekedup-selanya diusap dengan debu (air tanah).

Mazhab Maliki, Mazhab Syafi’i dan Mazhab Hambali menyepakati bahwa najis semata-mata dapat dihilangkan menggunakan air. Sedangkan Mazhab Hanafi menyatakan bahwa cairan lain dapat menghilangkan najis sepanjang dalam kejadian zakiah.[9]

Bersuci dengan air

[sunting
|
sunting sumber]

Air nan dapat digunakan bagi bersuci haruslah air nan bersih, lugu lagi menyucikan.[11]
Air tersebut dapat dari dari langit (hujan abu) maupun berasal pecah Bumi (air tanah dan air laut) yang masih jati dan belum jalinan digunakan (bukan mantan pakai). Jika ditelaah dari jenis-jenisnya, air nan steril, suci, lagi menyucikan ada 7 jenis, yaitu: air hujan, air laut, air salju, air embun, air sumur, air telaga, dan air sungai.[12]

Sementara itu selain jenis-macam air, menurut hukum Islam air itu sendiri dibagi menjadi catur golongan, merupakan:[13]

  • Air
    Muthlaq.
    Air ini boleh pula disebut sebagai air murni, karena hukumnya nirmala dan membersihkan, dan tidak makruh bakal digunakan bersuci.[14]
  • Air
    Musyammas.
    Air ini adalah air nan dipanaskan dengan seri rawi di ajang (panggung) nan tidak terbuat dari emas.[15]
    Hukum air ini adalah kalis lagi membeningkan, namun hukumnya makruh bikin digunakan bersuci.[14]
    [16]
    Ada pula ulama yang memakruhkan air yang memang sengaja dipanaskan dengan api.[17]
  • Air
    Musta’mal.
    Air ini merupakan air panggung menyucikan hadas dan najis. Kendatipun air ini tidak berubah rasanya, warnanya, serta baunya, justru sebenarnya air ini masih steril dan suci. Akan tetapi air ini tidak dapat digunakan kerjakan bersuci.[14]
    [18]
  • Air
    Mustanajjis.
    Air ini yakni air yang sudah terkena ataupun tercampur dengan najis, sedangkan volumenya kurang dari dua
    qullah
    (sekitar 216 liter). Hukum bersuci memperalat air ini yakni enggak dapat terkadang, karena tidak steril dan tidak menyucikan. Namun apabila volumennya lebih dari dua
    qullah
    dan lain mengubah sifat airnya (bau, rasa, dan warna), maka air itu bisa digunakan kerjakan bersuci.[14]
  • Air yang bercampur dengan produk yang suci. Air ini ialah air
    muthlaq
    lega awalnya, kemudian air ini tercampur (kemasukkan sesuatu) dengan barang yang sebenarnya enggak najis, misalkan sabun cair tau bahan rahim. Air seperti ini hukumnya patuh kalis, amun seandainya aturan air telah berubah aturan, rasa, bau, dan warnanya, maka air tersebut menjadi tidak bisa digunakan cak bagi bersuci.[19]

Dari semua spesies-jenis air diatas, ada satu jenis air lagi yang steril sahaja ilegal digunakan untuk bersuci. Air nan dimaksud di sini ialah air nan didapat dengan cara
ghahsab
maupun maling (mencoket ataupun memakai tanpa lepas).[14]

Para ulama menerima bahwa menyertu dengan air hukumnya wajib ketika air tersedi dan dapat digunakan sonder adanya keperluan lain yang lebih penting. Misalnya, air hanya pas untuk keperluan minum.[9]

Air laut

[sunting
|
sunting sumber]

Para fukaha awal yang spirit di kota Kufah dan Basra bahwa air laut merukan tipe air nan suci dan menerangkan. Sifatnya sama seperti air putih lainnya dan lain tersangkut kepada rasanya. Air laut yang berasa batil dan berasa asin memiliki kedudukan nan sama. Semata-mata, beberapa jamhur menetapkan pemali berwudu dengan air laut. Kelompok ahli fikij tertentu kembali hanya mengizinkan berwudu dengan air laut plong keadaan sementara doang. Beberapa ahli fikih lain menetapkan bahwa tayamum lebih terdepan kalau hanya ada air laut yang boleh digunakan cak bagi berwudu.[9]

Air seksi

[sunting
|
sunting sumur]

Syariat memakai air semok akibat gambaran kurat mentari adalah makruh menurut Imam Syafi’i. Tetapi, para pemuja setelahnya memberikan pendapat bahwa hukumnya enggak makruh. Hal yang ekuivalen diutarakan maka dari itu Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki dan Mazhab Hambali. Para jamhur pula meneyepakati bahwa air yang dimasak enggak makruh. Namun, Mujahid memakruhkan air yang dimasak. Sedangkan Mazhab Hambali menyatakan air nan dimasak hukumnya makruh ketika dipanaskan dengan api.[9]

Air jebolan bersuci

[sunting
|
sunting sendang]

Hukum berpokok air tempat menyertu yakni suci cuma tidak menyucikan. Pendapat ini disetujui maka dari itu sebagai samudra jamhur dalam Mazhab Hanafi. Sedangkan sebagian lainnya menetapkan air bekas bersuci sebagai najis. Mazhab Syafi’i dan Mazhab Hanbali menyepakati bahwa air bekas bersuci adalah safi tetapi tidak menyucikan. Padahal menurut Mazhab Maliki, air jebolan bersuci boleh menyucikan.[20]

Air yang berubah corak

[sunting
|
sunting sendang]

Menurut Mazhab Maliki, Mazhab Syafi’i dan Mazhab Hambali, air nan berubah warna karena bercampur dengan hancuran tahir lainnya tidak boleh digunakan bakal menyertu kalau perubahan warnanya sangat jelas. Sementara itu Mazhab Hanafi menyepakati bahwa air tersebut bisa digunakan bakal bersuci. Alasan yang dikemukakan oleh Mazhab Hanafi yaitu aturan air yang salih bukan hilang akibat bersatu dengan cair suci lainnya karena unsur-unsur air tegar tidak hilang. Para ulama juga menerima bahwa air yang berubah dandan akibat disimpan dalam jangka periode yang lama minus digunakan hukumnya merupakan suci. Namun, privat periwayatan Ibnu Sirin, air dengan kondisi demikian tak boleh digunakan untuk bersuci.[21]

Bersuci dengan tanah

[sunting
|
sunting sumber]

Tayamum dengan tanah atau debu wajib hukumnya ketika air tidak ada kadang-kadang.[9]

Lihat pula

[sunting
|
sunting sumur]

  • Mazhab

Referensi

[sunting
|
sunting sumber]

Catatan suku

[sunting
|
sunting perigi]


  1. ^

    Muiz 2022, hlm. 5. : “Suci dari hadas ialah dilakukan dengan cara mandi, berwudhu, dan bertayamum. Sementara itu steril berpunca najis adalah dengan cara menghilangkan najis nan cak semau di badan, tempat, maupun pakaian.”.

  2. ^

    Muiz 2022, hlm. 5-6.

  3. ^

    Ash’ Shiddieqy & 153, hlm. 153. : “Ki kesulitan ini (syariat ini) telah diijmak makanya para ulama seluruhnya, lantaran yang demikian ditunjuki maka dari itu ayat (Al-Qur’an) dan sunnah.”.

  4. ^

    Al-Mughni karya Ibnu Qudamah (I/12) Taudhih Al-Ahkam syarh Bulughul Maram karya Abdullah Al-Bassam (I/87)

  5. ^

    Muiz 2022, hlm. 5.

  6. ^

    Syarhul Mumti karya Ibnu Al-Utsaimin (I/19), Minhajul Muslim karya Serdak Bakar Al-Jazairi (hal 170), Syarah Umdatul Ahkam.

  7. ^

    Ash’ Shiddieqy 1962, hlm. 153. : “Perlu bersuci dengan air di ketika adanya serta mungkin memakainya, dan tidak pula dibutuhkannya untuk keperluan yang lain, dan wajib bertayamum dengan lahan di ketika ketiadaan air.”.

  8. ^

    Minhajus Salikin
  9. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f



    ad-Dimasyqi 2022, hlm. 11.

  10. ^

    “…dan pakaianmu bersihkanlah..” QS Al-Muddatsir: 4,http://alquran.com/74/4″

  11. ^

    Ash’ Shiddieqy 1962, hlm. 153. : “Bukan bisa dihilangkan najis, melainkan dengan air.”.

  12. ^

    Muiz 2022, hlm. 6.

  13. ^

    Muiz 2022, hlm. 6-7.
  14. ^


    a




    b




    c




    d




    e



    Muiz 2022, hlm. 7.

  15. ^

    Ash’ Shiddieqy 1962, hlm. 154. : “Memakai bejana-bejana emas dan galuh bakal wadah makan, minum dan wudhu, baik oleh laki-laki maupun cewek, dilarang; ilegal hukumnya.”.

  16. ^

    Ash’ Shiddieqy 1962, hlm. 153. : “Demikianlah pendapat yang bertambah shahih dari mazhab Syafi’i.”.

  17. ^

    Ash’ Shiddieqy 1962, hlm. 153. : “… Ahmad memakruhkan air yang dipanaskan dengan api”.

  18. ^

    Ash’ Shiddieqy 1962, hlm. 153. : “Demikianlah pendapat yang lebih shahih berusul mazhab Asj Syafi’i dan Ahmad. Dan itulah nan mahsyur dari mazhab Abu Hanifah.”.

  19. ^

    Sabiq 1990, hlm. 37. : “Hukumnya konstan mensucikan selama kemutlakannya masih terpelihara. Jikalau sudah tak, hingga ia tak dapat lagi diaktakan air mutlak, maka hukumnya yaitu suci plong dirinya, tidak mensucikan bagi lainnya.”.

  20. ^

    ad-Dimasyqi 2022, hlm. 11-12.

  21. ^

    ad-Dimasyqi 2022, hlm. 12.

Daftar pustaka

[sunting
|
sunting sumber]

  • Thaharah Nabi, Tutorial Bersuci Lengkap; DR Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani; Yogyakarta:(2004) Media Hidayah
  • Muiz, Abdul.
    Panduan Shalat Terlengkap.
    Jakarta: Pustaka Makmur. 2022. ISBN 602-7639-65-2
  • Ash’ Shiddieqy, M. Hasbi.
    Hukum Islam.
    Jakarta: Wacana Islam. 1962.
  • Sabiq, Sayyid.
    Fikih Sunnah.
    Bandung: Al-Ma’ruf. 1990. ISBN 979-400-038-8
  • Ad-Dimasyqi, Muhammad kacang ‘Abdurrahman (2017).
    Fiqih Catur Mazhab. Bandung: Hasyimi. ISBN 978-602-97157-3-6.





Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Bersuci_dalam_Islam

Posted by: caribes.net