Biaya Produksi Dalam Jangka Panjang

Berita Tautan


Biaya Pengurusan SLF | Call/WA : 0821-2322-1312 | IMB - SLFTeori Biaya Produksi


Biaya produksi dapat didefinisikan sebagai semua pengeluaran nan dilakukan oleh firma untuk memperoleh faktor-faktor produksi dan bahan- korban mentah yang akan di gunakan bagi menciptakan komoditas-komoditas yang di produksi perusahaan tersebut.

Setiap pemanufaktur harus boleh cak menjumlah biaya produksi seyogiannya boleh menetapkan harga pokok produk nan dihasilkan. Lakukan menghitung biaya produksi, apalagi dahulu harus dipahami pengertiannya.

Biaya produksi merupakan beberapa pengorbanan ekonomis nan harus dikorbankan untuk memproduksi suatu produk. Menetapkan biaya produksi beralaskan denotasi tersebut memerlukan presisi karena ada yang mudah diidentifikasikan, tetapi ada lagi yang sulitdiidentifikasikan dan hitungannya.

Biaya produksi yang di keluarkan setiap perusahaan dapat di bedakan intern 2 tipe, merupakan :

1.    Biaya Ekplisit yaitu : Semua pengeluaran bikin memperoleh faktor-faktor  produksi dan input lain yang di bayar melalui pasaran (pembayaran berupa uang).


2.    Biaya Tersembunyi yaitu : pembayaran untuk keahliaan keusahawanan pelaksana tersebut modalnya individual yang di gunakan dalam perusahaan dan banguanan firma nan di miliki.

Macam – macam Biaya

•    Biaya produksi

Biaya produksi adalah biaya yang gandeng langsung dengan produksi produk tertentu. Biaya produksi terdiri atas biaya mangsa baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik

•    Biaya administrasi

Biaya administrasi adalah biaya yang terjadi dalam rangka pengarahan, pengendalian, dan pengoperasian perusahaan.

•    Biaya pemasaran

Biaya pemasaran ialah biaya nan terjadi dalam rang promosi satu produk.

•    Biaya keuangan

Biaya keuangan adalah biaya nan berhubungan dengan masukan dana cak bagi operasi perusahaan, misalnya biaya bunga.

Teori biaya produksi erat kaitannya dengan teori khasiat pengeluaran. Kedua-duanya membedakan analisisnya kepada paser sumir dan jangka panjang. Kedua-duanya juga dipengaruhi oleh hukum produksi marjinal yang semakin berkurang.

•    Jangka ringkas yaitu : jangka waktu dimana sebagian faktor produksi tidak boleh di tambah jumlahnya.

•    Jangka tahapan yaitu : jangka masa dimana semua faktor produksi bisa mengalami perubahan.

Biaya Produksi Dalam Jangka Ringkas

•    Kalau kerumahtanggaan jangka singkat ada faktor produksi tetap dan faktor produksi berubah, maka dengan sendirinya biaya produksi nan ditimbulkan oleh proses produksi juga mencantol biaya patuh dan biaya luwes.

•    Yang dimaksud biaya tetap adalah biaya yang jumlahnya tidak tergantung dari banyak sedikitnya kuantitas output. Bahkan bila bagi sementara produksi dihentikan, biaya setia ini harus konstan dikeluarkan dalam jumlah yang sama.

•    Nan terdaftar kerumahtanggaan biaya taat ini misalnya gaji tenaga administrasi, penyusutan mesin, penyusutan konstruksi dan peralatan lain, kontrak tanah, sewa jawatan dan sewa gudang. Dalam jangka jenjang biaya teguh ini akan mengalami perlintasan



  • Biaya variabel ialah biaya yang besarnya berubah-ganti tersampir mulai sejak banyak sedikitnya output yang dihasilkan. Semakin besar kuantitas output semakin segara sekali lagi biaya variabel yang harus dikeluarkan.
  • Yang termasuk dalam biaya plastis ini adalah biaya bahan stereotip, biaya sida-sida langsung, incaran bakar, listrik dsb. Biaya tetap dan biaya fleksibel ini jika dijumlahkan kesudahannya adalah biaya total. Jika digambarkan intern kurva, maka pola biaya tetap total (TFC), biaya variabel besaran (TVC) dan biaya jumlah (TC) dapat dilihat misal berikut:




  • Biaya lentur besaran (TVC) adalah biaya yang segara kecilnya mengikuti banyak setidaknya output yang dihasilkan. Rang yang menunjukkan bahwa kurva biaya variabel total terus menerus naik. Jadi semakin banyak output yang dihasilkan maka biaya lentur akan semakin tinggi.
  • Seandainya antara biaya loyal dan biaya plastis dijumlahkan, maka akibatnya disebut biaya jumlah (TC). Jadi, TC = TFC + TVC. Kuantitas Cost (TC) berada pada jarak vertikal di semua titik antara biaya tetap total (TFC) dan biaya berubah total (TVC), yaitu sebesar n.



Pengertian Teori Produksi jangka pendek/ suatu faktor berubah
Teori Produksi jangka pendek/ satu faktor berubah ialah teori produksi nan sederhana menggambarkan mengenai hubungan di antara tingkat produksi suatu barang dengan jumlah personel yang digunakan buat menghasilkan berbagai rupa tingkat produksi barang tersebut. Dalam analisa tersebut bahwa faktor-faktor produksi lainnya jumlahnya tetap, yakni modal dan kapling jumlahnya dianggap lain mengalami pergantian. Semata faktor produksi nan dapat diubah jumlahnya adalah fungsionaris.[1]
Faktor produksi teguh adalah faktor produksi yang jumlah penggunaannya tidak tersangkut puas total produksi. Ada alias bukan ada produksi, faktor produksi ini harus suka-suka dan tetap tersaji. Mesin-mesin industri adalah salah satu contoh. sampai pada interval produksi tertentu kuantitas mesin tidak perluh ditambah. Saja jika tingkat produksi menurun sampai nol unit, kuantitas mesin tak bisa dikurangi.
Total penggunaan faktor produksi luwes terjemur plong tingkat produksinya. Makin besar tingkat produksi, makin banyak faktor produksi lentur nan digunakan, begitu juga sebaliknya. Buruh harian lepas di pabrik rokok adalah contohnya. Jika perusahaan ingin meningkatkan produksi, maka jumlah buruh hariannya ditambah. Sebaliknya jika ingin mengurangi produksi, buruh buletin dapat dikurangi.
Pengertian faktor produksi tetap dan faktor produksi variable tersapu dengan waktu yang dibutuhkan untuk menambah atau mengurangi faktor produksi tersebut. Mesin dikatakan sebagai faktor produksi tetap karena dalam jangka singkat (kurang dari setahun) susah untuk ditambah atau dikurangi. sebaliknya buruh dikatakan faktor produksi variable karena jumlah kebutuhannya dapat disediakan intern waktu kurang dari suatu tahun.
Teori produksi bukan mendefinisikan jangka pendek dan paser pangkat secara kronologis. Tahun jangka singkat adalah hari produksi di mana perusahaan bukan mampu dengan segera mengamalkan orientasi besaran penggunaan keseleo satu atau beberapa faktor produksi.

Biaya Jangka Janjang

            Sebagaimana telah dikemukakan dalam konsep produksi jangka tahapan, bahwa dalam produksi jangka panjang semua input diperlakukan sebagai input variabel. Jadi, tidak ada input patuh. Maka dalam konsep biaya jangka panjang semua biaya dianggap sebagai biaya variabel (elastis cost), tidak ada biaya tetap. Privat jangka tingkatan, perusahaan boleh menggunung semua faktor-faktor produksi yang akan digunakan oleh perusahaan. Jangka tahapan, ialah jangka waktu di mana semua faktor produksi bisa mengalami peralihan, yaitu jumlah daripada faktor-faktor produksi yang digunakan oleh perusahaan bisa ditambah apabila memang dibutuhkan. Faktor-faktor produksi tersebut yaitu: faktor pasar, faktor bahan mentah, faktor akomodasi angkutan, dan faktor personel.
Karena hal itulah biaya yang relevan n domestik jangka tinggi yakni biaya besaran,biaya variabel,biaya rata-rata,dan biaya marginal.

Biaya total (paser panjang)
Jangka tingkatan intern pengertian ini tidak terkait dengan waktu. Penuturan jangka pangkat oleh para ekonom menandai suatu proses produksi dimana perigi daya yang digunakan tidak ada lagi nan bersifat tetap. Semua sumber taktik yang digunakan dalam proses produksi bersifat variable alias jumlahnya dapat berubahubah. Produksi dalam paser panjang memungkinkan perusahaan buat mengubah perimbangan produksi (tingkat produksi) dengan cara memungkiri, baik memungkirkan ataupun mengurangi besaran sumberdaya. Peristiwa ini pasti akan berakibat pada biaya yang ditimbulkan. Dalam jangka janjang namun dikenal biaya total lazimnya (ATC).

B.        Model Produksi

·                     Satu Faktor Produksi Variabel

Pengertian produksi dengan satu faktor produksi variabel adalah konotasi amatan jangka ringkas, di mana ada faktor produksi nan tidak dapat diubah. Detik mengepas memahami proses alokasi faktor produksi maka itu perusahaan, ekonomi membagi faktor produksi menjadi barang modal (capital) dan sida-sida (labour). Intern pola produksi satu faktor produksi variabel, barang modal dianggap faktor produksi konstan. Keputusan produksi ditentukan berlandaskan alokasi kesangkilan personel.
·                     Dua Faktor Produksi Plastis
Intern adegan ini kita menjarakkan presumsi adanya faktor produksi teguh. Baik barang modal maupun tenaga kerja sekarang berwatak variabel. Doang nan harus diingat bahwa pelonggaran asumsi ini masih ki ajek bersisa menyederhanakan persoalan. Sebab intern pengumuman, faktor produksi plastis yang digunakan privat proses produksi bertambah dari dua macam.

1.         Isokuan (Isoquant)
            Isokuan yaitu kurva yang menggambarkan bermacam rupa kombinasi penggunaan dua tipe faktor produksi variabel secara efisien dengan tingkat teknologi tertentu, nan menghasilkan tingkat produksi yang proporsional. Misalnya, kasus usaha tekstil tradisional dengan dugaan mesin dapat ditambah.



Kurva Isokuan (Isoquant)

            Asumsi-hipotesis isokuan:

a.   Konektivitas (Conectivity)

Asumsi koneksitas analogi dengan asumsi pada pembahasan perilaku konsumen, yaitu kurva indiferensi yang melandai dan kiri atas ke kanan radiks (down ward sloping). Produsen bisa melakukan berbagai pertalian penggunaan dua spesies faktor produksi untuk menjaga seyogiannya tingkat produksi ki ajek. Kerelaan produsen kerjakan mengorbankan faktor produksi yang satu demi menambah eksploitasi faktor produksi yang lain untuk menjaga tingkat produksi pada isokuan yang setolok disebut Derajat Teknik Substitusi Faktor Produksi atau Marginal Rate of Technical Substitution(MRTS). MRTSIk adalah qada dan qadar yang menunjukkan berapa unit faktor produksi I harus dikorbankan bakal meninggi 1 unit faktor produksi k lega tingkat produksi yang sepadan. Jika I adalah personel dan k ialah barang modal (mesin), maka MRTSIk adalah berapa unit karyawan yang harus dikorbankan untuk menambah 1 unit mesian, demi menjaga produksi lega tingkat yang separas.

b.   Penurunan Nilai MRTS (Diminishing of MRTS)

Penggarap menganggap makin mahal faktor produksi yang semakin jarang. Itulah sebabnya mengapa nilai MRTSlk makin melandai (hukum LDR). N domestik kasus-kasus tertentu, ponten MRTS akan taat atau nol. MRTS konstan bila kedua faktor produksi bersifat substitusi sempurna (perfect substitution).

c.   Hukum Pertambahan Hasil yang Semakin Melandai (The Law of Diminishing Return)

Asumsi ini menjelaskan bahwa penambahan besaran karyawan dengan jumlah mesin yang tetap, terlebih megurangi tingkat pertambahan output.

      d.   Daerah Produksi yang Ekonomis (Relevance Range of Production)

2.         Perubahan Output Karena Perubahan Skala Penggunaan Faktor Produksi (Return to Scale).

Perubahan Output Karena Perubahan Perimbangan Penggunaan Faktor Produksi adalah konsep yang cak hendak menjelaskan seberapa besar output berubah bila besaran faktor produksi di lipat gandakan (doubling).

a.       Neraca Hasil Menaik (Increasing Return to Scale)

Kalau penambahan faktor produksi sebanyak 1 unit menyebabkan output meningkat lebih dan satu unit, kepentingan produksi mempunyai karakter Perimbangan Hasil Membukit (Increasing Return to Scale).

b.      Skala Hasil Tegar (Constant Return to Scale)

Jika pelipatgandaan faktor produksi menambah output sebanyak dua barangkali lipat juga, fungsi produksi memiliki khuluk skala hasil tunak.

c.       Perbandingan Hasil Menurun (Decreasing Return to Scale)

Jikalau penambahan 1 unit factor produksi menyebabkan output kian sedikit dari 1 unit, fungsi produksi punya karakter skala hasil melandai.

3.         Jalan Teknologi

            Kemajuan teknologi memungkinkan peningkatan kesangkilan penggunaan faktor produksi. Tingkat produksi yang sekufu boleh dicapai dengan pemanfaatan faktor produksi yang Iebih kurang.

4.         Kurva Anggaran Produksi (Isocost)

            Kurva anggaran produksi (isocost) adalah kurva yang menggambarkan bineka kombinasi penggunaan dua macam faktor produksi yang memerlukan biaya yang sama. Jika harga faktor produksi pegawai yakni upah (w) dan harga faktor produksi dagangan modal adalah kontrak (r), maka kurva isocost (I) adalah:

            I = rK + wL

5.         Keseimbangan Pelaksana

            Keadilan produsen terjadi detik kurva I bersinggungan dengan kurva Q. Di titik persinggungan itu perkariban eksploitasi kedua faktor produksi akan memberikan hasil output yang maksimum. Keseimbangan dapat berubah karena perubahan kemampuan anggaran maupun harga faktor produksi. Analisis perubahan keadilan pelaksana analogis dengan kajian perilaku konsumen.

            Perubahan besaran faktor produksi yang digunakan merupakan interaksi guna efek substitusi (substitution effect) dan sekuritas skala produksi (output effect). Karena itu produsen juga mengenal faktor produksi inferior, yaitu faktor produksi yang penggunaannya lebih lagi menurun bila kemampuan anggaran perusahaan meningkat (kemampuan memproduksi meningkat). Dalam mencapai keseimbangannya pelaksana pelahap berlandaskan prinsip tepat guna, merupakan maksimalisasi output (output maximalization) atau minimalisasi biaya (cost minimalization). Pendirian maksimalisasi output menyatakan bahwa dengan anggaran nan sudah ditentukan, dicapai output. Prinsip minimalisasi biaya menyatakan target ouput nan sudah ditetapkan harus dicapai dengan biaya minimal.

6.         Konseptual Jalur Ekspansi (Expantion Path)

            Tujuan perusahaan adalah maksimalisasi laba. Bikin mencapai tujuan itu,

 dalam jangka pendek maupun jangka strata firma harus tetap mempertahankan efisiensinya. Biasanya perusahaan mematok mangsa yang akan dicapai setiap tahunnya, nan harus dicapai dengan biaya minimum. Dalam jangka panjang perusahaan memiliki tingkat fleksibilitas lebih tinggi n domestik mengombinasikan faktor produksi.

Sumber http://ilmuekonomi123.blogspot.com

Berita Terbaru

Pengunjung

Today
1819

Yesterday
5891

This week
27923

This month
147646

Total
4727740


Who Is Online


25-11-2022

Source: https://ekonomi.bunghatta.ac.id/index.php/id/artikel/809-biaya-produksi-jangka-panjang-dan-pendek

Posted by: caribes.net