Biografi Abdul Malik Bin Marwan


Makanya:
Rendra Fahrurrozie, S.Pd


A. Abstrak


Abd al-Malik Ibn Marwân merupakan cucu adam nan abadi pada masa Umayyah nan telah menerapkan politik pemerintahan dan ekonomi yang membawa
pada kemakmuran dan kedaulatan moneter nan awet di abad ke 1 H sesudah Khulaf



â


’ Al-R


â


syid


û


n. Penyatuan bahasa kerumahtanggaan bahasa Arab, kedaulatan moneter, departemen (diwan) yang menopangnya mampu menjadikan awam bersatu dalam satu wilayah yang berdaulat, bersatu dalam kesatuan moneter privat penyerahan pajak, serta bercampur privat hal politik tadbir yang dijalankan dengan meredam perlawan-tangkisan di wilayah-kawasan. Kesuksesan garis haluan ekonomi ini memunculkan pengaruh-pengaruh nan plonco dalam keuangan umat Islam, seperti penggunaan ruq’a dan sakk n domestik transaksi keuangan, serta operasi perbankan nan dijalakan akibat penyatuan mata uang lelah. Ditambah dengan dibentuknya perbicaraan madzalim sebagai pagar bagi pejabat nan melakukan durjana terhadap negara atau pada rakyat, mengakibatkan titik api kemakmuran dan penyatuan wilayah terus maju dan sangat baik.



Kata Sosi:


Abdul Malik bin Marwan; Ekonomi; Islam; Khilafah; Umayyah


B. Pendahuluan

Abd al-Malik Ibn Marw
â
lengkung langit menorehkan sejarah dalam perluasan wilayah Islam, bersamaan dengan politik ekonominya yang bergengsi lega masanya. Baik perihal pembangunan sarana ibadah, seperti surau-masjid yang saat itu menjadi gelanggang berkumpul umat Selam bakal pendidikan atau ibadah, perluasan ii kabupaten-ii kabupaten samudra seperti Makkah, Madinah, Baghdad dan lainnya, maupun pembangunan ekonomi yang karib kaitannya dengan kemakmuran sreg masanya.




[1]





Selain itu, kamu mampu meredam konflik dalam di dalam wilayahnya, meredam konflik di asing wilayah merupakan berpokok Romawi Bizantium Timur yang mampu diatasi dengan baik melintasi perjanjian.





[2]






Penyatuan awam yang terbelah karna banyak perjuangan yang berbuntut diatasi, penyatuan bahasa ke internal bahasa Arab, serta penyatuan mata tip inilah menjadi kunci masa keemasan Bani Umayyah nan memerintah Kekhilafahan saat itu.

Penulis di kerumahtanggaan pembahasan ini akan membahas secara singkat biografi Khalifah Abd al-Malik Ibn Marw
â
n, yang kemudian dilanjutkan dengan kebijakan ekonominya. Metode yang digunakan privat penyelidikan sederhana ini yaitu dengan kualitatif yang berdasar sreg data bacaan yang menjadi data sekunder.


C. Riwayat hidup Abd Al-Malik Ibn Marw


â


n

Abd al-Malik Ibn Marwân
dianggap sebagai pembangun Dinasti Umayyah kedua, karena mampu mencegah perpecahan nan terjadi sejak tahun Marwan bin Hakam. Engkau lahir di Madinah plong 26 H (646 M), menjadi Khalifah ke-5 Bani Umayyah pada 685 M sampai periode 705 M, sejauh 21 periode. Abd al-Malik wafat pada tahun 705 M.





[3]






Khalifah Abd al-Malik Ibn Marwân
pantas menjadi Khalifah dengan sifatnya nan pemberani, fasih dalam ura-ura, memiliki ilmu pengetahuan Islam; seperti: fikih, tafsir, Al-Qur’an dan Al-Hadist. Serta memiliki kepribadian yang tabah dalm menghadapi kesukaran dan meiliki sifat seorang yang terkemuka.





[4]






Penyatuan masyarakat muslim dan negara nan dilakukan yakni dengan berbenda menyelesaikan banyak perlawanan di n domestik negeri kekuasannya, seperti:




[5]








1.

Perlawanan Syi’ah karna terbunuhnya Husain Ibn Ali di Karbala puas 680 M, yang menyebarkan kegeraman dan perbantahan. Peristiwa ini menyebabkan umat Islam membenci kekuasaan Anak lelaki Umayyah,


2.

Perlawanan Abdull
â
h Ibn Zubair, yang setelah terbunuhnya Husain Ibn Ali menciptakan menjadikan pemerintahan Kekhalifahan di Makkah pada masa Yazid bin Muawiyah. Kekalahan Ibn Zubair oleh Hajaj Ibn Yusuf lega 692 M dengan menyerang Ka’bah menggunakan
manjaniq
(pelontar batu), sehingga banyak kerusakan di bandarsah Al-Har

â
m detik itu serta menyerahkan kepala Ibn Zubair kepada Abd al-Malik Ibn Marwân sebab kekalahannya.



3.

Sambutan suku bangsa Khaw
â
rij, dengan memerintahkan Al-Hajaj Ibn Yusuf membersihkan Syam terbit perlawanan pemberontak kaum Khaw
â
rij.



4.


Perlawanan Amru Ibn Sa’id, yang masih salah sendiri keluarganya nan ingin menduduki seumpama Khalifah sekali lagi.

Dengan teratasinya perlawanan tersebut, negara menjadi kesepakatan, dan stabilitas kebijakan terjadi dan banyak mengamalkan persatuan umat Islam yang sebelumnya terpecah belah. Maka, lahirlah strategi-kebijakan membangun negara yang terkenal hingga saat ini, begitu juga:



1.


Bahasa Arab menjadi bahasa protokoler negara yang mula diterapkan di Syam dan Irak, kemudian Mesir dan Persia.




[6]





Hal ini mempunyai kemustajaban yang kontributif dalam kejadian: (a) memperkuat karakteristik Arab dalam administrasi negara, (b) mengurangi ataupun menyetip dependensi puas non-Muslim atau Muslim non-Arab dalam mengelola catatan negara, ( c) mempromosikan bahasa Arab di antara Muslim non-Arab, (d) melejitkan tulisan dan kaligrafi Arab, dan (e) mentransfer pos administrasi kepada orang Arab dan Muslim berbahasa Arab.





[7]








2.


Pelayanan administrasi inskripsi menyurat (pos) dengan membangun kantor pos dan ditugasi kepada koteng maktab pos juga dibangun sreg masanya. Sehingga terjalin komunikasi yang baik antara gerendel pemerintahan dan provinsi (gubernur).


The postal service became of vital importance to the state, so much so that the Umayyad Caliph Abd-al-Màlik (685–705) is reported to have said to his chief-of-staff, “I


fully delegate to you the administrative affairs of what comes to my door except for four: the caller of prayer; he is the caller of God, the night caller; a need must have driven him to call otherwise he would have slept until morning, the post; the delay of the post might spoil people’s planned journeys, and the food when it comes” (Hassan, 1959).





[8]








Artinya: “Layanan pos menjadi sangat penting bagi negara, sedemikian rupa sehingga Khalifah Umayyah Abd-al-Màlik (685-705) dilaporkan sudah lalu berkata kepada kepala stafnya, ‘Saya sebaik-baiknya mendelegasikan kepada kamu urusan administrasi semenjak apa yang datang ke ki saya kecuali empat:
azan;
sira merupakan panggilan Tuhan, pemanggil lilin batik; suatu kebutuhan nan harus kalau tidak ia akan tidur sampai pagi, pos; penundaan pos dapat merusak pelawatan yang direncanakan orang, dan ki gua garba ketika nomplok.’ (Hassan, 1959).”



3.


Mendirikan galangan kapal di Tunisia bagi legiun laut dan bursa serta pabrik persenjataan.




[9]








4.


Memperlebar ii kabupaten-kota serta membangun Qubbah Al-Sakhra di Al-Aqsa, termasuk memperluas Zawiat Al-liar di Makkah dan Masjid Nabawi yang diteruskan oleh anaknya Walid Ibn Abd Al-Malik pasca- Abd Al-Malik wafat.




[10]








5.


Dan memenuhi huruf-fonem Arab, tersurat huruf Al-Qur’an yang puas masanya arwah seorang ahli bahasa Sibawaihi yang memiliki karya anak kunci
al-Kitab
seumpama pedoman aji-aji tata bahasa Arab hingga ketika ini. Sebagai halnya menyempurnakan tanda vokal, titik plong huruf yang sama bentuknya untuk memudahkan non-Arab belajar Al-Qur’an dan bahasa Arab.





[11]



D. Politik Ekonomi Abd Al-Malik Ibn Marw


â


n

Perluasan wilayah pada masa Abd al-Malik Ibn Marwân
ke wilayah Afrika, Hindustan, dan menyeberang sreg Eropa yaitu Andalusia dengan
futuhat
(kata wilayah) sebagai mandu mengemukakan Islam pada bani adam, atau jalur perdaganan laut seperti distrik Asia Tenggara





[12]





intern hal perdagangan. Hal inilah yang memajukan garis haluan Arabisasi lakukan memperkuat negara, baik bersumber sektor strategi maupun ekonomi tambahan pula komunikasi, setelah terjadinya pemantapan kerumahtanggaan negeri dan luar negeri. Berikut kebijakan ketatanegaraan ekonomi Khalifah Abd al-Malik Ibn Marwân :



1.


Mengganti mata uang dinar Romawi Bizantium serta dirham Persia Sasanid yang beredar, dengan mencetak alat penglihatan komisi koteng (reformasi moneter). Abd al-Malik Ibn Marwân
pada tahun 74 H dan 75 H alias 695 M membentuk dinar emas, dan dipandang laksana Khalifah pertama yang membuat dinar emas Islami, serta pula menciptakan menjadikan dirham perak Islami dengan sisinya bertuliskan surah
Al-Ikhlash
dan jihat lainnya dituliskan fon
Tauhid.
Dan tahun 76 H negara secara resmi menginjak membersihkan terbit mata uang bersimbol-tanda baca asing.





[13]





Kontrol berpunca penerapan politik ekonomi ini menurut Hitti (1963) mengakibatkan 5 (lima) pengaruh, yaitu:





[14]



a.


Penguatan kemandirian negara, perumpamaan cermainan alat penglihatan uang yang mandiri.


b.


Pengumpulan pajak (kharaj,jizyah, zakat, usyurdan lainnya) menjadi sreg satu mata uang, ibarat ganti koin Persia di Persia (dirham) dan uang Romawi (dinar) di Suriah dan Mesir.


c.


Kebutuhan akan perlintasan rupiah terjadi, dengan menukar pada alat penglihatan tip nan bau kencur (dinar Islami).


d.


Munculnya bentuk operasional perbankan.


e.

Muncul penyiaran perlengkapan keuangan sepertiruq’a (perintah pembayaran aliasinvoice),sakk (chek – menarik uang pada seseorang nan dilimpahkan uang tersebut pada anak adam yang memegang cek).



Menurut Hitti (1977) ekonomi terjadi pada masa Abd al-Malik Ibn Marwân
sangat baik dan bertamadun, perkulakan di pasar-pasar serta sistem pembagian air yang di dalam daerah tingkat Damaskus yang tiada bandingannya yang sampai saat ini masih dipakai.





[15]








2.


Membuat kementerian-departemen struktur negara urusan administrasi dan keuangan. Situasi ini adalah lanjutan yang berawal berpokok masa Khalifah Umar Ibn Khoththob tentang mekanisme penyaluran gaji dan mengenai pengelolaan harta, maka pada masa Khalifah Abd al-Malik Ibn Marwân
pun dibentuk beberapa departemen
(Diwan),
yaitu:


a.



Diwan al-Kharraj

, yang tugasnya mengawasi departemen keuangan terutama mengenai pungutan pajak tanah
(kharaj)
Pada masa itu, umat muslim hanya menggaji zakat dan dibebaskan dari yang lainnya, sehingga banyak
ahl al-dzimmah
(non-muslim warga negara) nan masuk Islam.


b.



Diwan al-Khatam

, yang bertugas menggambar dan men-stemple/materai ordonansi (statuta/qanun) pemerintah. Pada masa Mu’awiyah telah diperkenalkan materai sah buat kebijakan bermula khalifah, maka setiap surat dibuat
akan ditembus dengan benang, disegel dengan lilin kemudian dipres dengan nama/cap
Diwan al-Khatam
alias cap Khalifah.

El-Ashker (2006) fungsi terdahulu berusul
diwan
ini yaitu:
(a) cak bagi mengawasi korespondensi antara Khalifah dan gubernur provinsinya, (b) bagi menyimpan akta surat keluar khalifah dalam file khusus untuk kontrol dan pustaka di masa mendatang, (c) untuk meluluk arsip negara, dan (d) bagi mengeset wara-wara publik dan deklarasi yang dikeluarkan makanya Khalifah kepada rakyatnya.


c.



Diwan al-Rasail,


dipercayakan bagi mengontrol surat-menyurat di negeri-area dan semua komunikasi berasal gubernur-gubernur; termasuk juga kendaraan yang digunakan seperti kuda, gamal, bagal (persimpangan orang bodoh dengan kuda), alias merpati.


d.



Diwan al-Mustagallat


(Departemen urusan perpajakan). Bertugas melaukan pungutan pajak
jizyah
(pajak nyawa bagi non-orang islam),
atau zakat, usyur (semenjak
fa’i
dan
ghanimah).


e.


Membentuk Mahkamah Agung
(Pengadilan Madzalim)
, merupakan didirikan untuk memejahijaukan para pengarah negara yang melakukan penggelapan atau tindakan yang merugikan negara maupun berlaku tiranis terhadap rakyat.

Dari kebijakan ekonomi dan pemerintahannya Khalifah Abd al-Malik Ibn Marwân
ini kemajuan dan gemilangnya dilanjutkan pada khalifah seterusnya yang hingga hari Khalifah Umar Ibn Abd Al-Aziz (anak asuh dari tali pusar laki-lakinya) menuai banyak keberuntungan lagi.


E. Kesimpulan

Abd al-Malik Ibn Marw
â
n yang lahir pada 646 M di Madinah, lahir dari keluarga penguasa Anak lelaki Umayyah yang mempunyai sikap yang pemberani serta fasih dalam berbicara ini mampu membangitkan kembali Bani Umayyah n domestik penyatuan wilayah dan politik ekonomi yang gemilang puas masa pemerintahannya. Meski banyak perlawanan-perlawanan dari dalam negeri seperti dari Syi’ah, Khawarij, Ibn Zubair, dan
Amru Ibn Sa’id berpunya diatasi, dan juga mengadakan perjanjian gencatan senjata dengan Romawi seharusnya stabilitas wilayah terasuh. Stabilnya kondisi itu, menjadi kesempatan untuk memperkuat otonomi dengan mencetak indra penglihatan uang dinar-dirham dan membentuk departemen-departemen (diwan) serta mahkamah madzalim sebagai menjaga ketahanan negara. Maka, kemakmuran dan kesejateraan plong masanya terjadi sampai setakat penerusnya setelah wafatnya di hari 705 M.






F. Daftar Teks


Al-’Ilm, Dar,
Kar Sejarah Islam, ed. by Koeh, ke-1 (Jakarta: Kaysa Media, 2001)

Anomin,
Komisi Plano Versus Dinar Dan Dirham Islam, ed. by A. Saifullah, cet ke-2 (Bogor: Referensi Thariqul Izzah, 2022)

Barudin, Topanji Pandu,
Perkembangan Ilmu Publikasi Pada Perian Umayyah, ed. by Ramadhan Edi Saputro (Klaten: Cempaka Steril, 2022)

El-Ashker, Ahmed A.F, and Rodney Wilson,
Islamic Economics: A Short History
(Leiden: Bril, 2006)

Fu’ad, Zakki, ‘Sejarah Tamadun Selam: Paradigma Wacana, Reflektif Dan Filosofis’, 2022, 1–268

Hayan, Surma, and Nurhasanah Bakhtiar, ‘Arabisasi Tadbir Islam Lega Masa Khalifah Abdul Malik Bin Marwan’,
Juspi ; Jurnal Sejarah Peradaban Islam, 3.2 (2020), 204–12



Hupinah, ‘Daulah Bani Umayyah Pada Perian Pemerintahan Abdul Malik (685-705 M)’ (IAIN Sultan Ampel Surabaya, 1993)

Saputri, Itsnawati Nurrohmah, ‘Jalan Kubah Batu , Sajadah Damaskus , Perluasan Masjid Al-Terlarang Dan Masjid Nabawi Pada Masa Khalifah Abdul Malik Bin Marwan Dan Walid Polong Abdul Malik’,
Millatī, Journal of Islamic Studies and Humanities Vol., 2.2 (2017), 195–220



Sunara, Karunia,
Ki kenangan Islam Nusantara, cet ke-1 (Jakarta: Buana Cipta Pustaka, 2009)








[1]








Surma Hayan and Nurhasanah Bakhtiar, ‘Arabisasi Pemerintahan Islam Puas Masa Khalifah Abdul Malik Kacang Marwan’,
Juspi ; Jurnal Memori Peradaban Islam, 3.2 (2020), 204–12
, hlm. 205.









[2]








Dar Al-’Ilm,
Denah Sejarah Islam, ed. by Koeh, ke-1 (Jakarta: Kaysa Media, 2001), hlm. 72.




Khalifah Abd Al-Malik Ibn Marwan mewujudkan perjanjian gencatan sejata dengan Romawi pada tahun 689 M selama 10 musim.





[3]








Itsnawati Nurrohmah Saputri, ‘Jalan Kubah Bencana , Musala Damaskus , Perpanjangan Masjid Al-Haram Dan Masjid Nabawi Pada Masa Khalifah Abdul Malik Polong Marwan Dan Walid Bin Abdul Malik’,
Millatī, Journal of Islamic Studies and Humanities Vol., 2.2 (2017), 195–220
.









[4]





Ibid.,
hlm. 200.





[5]








Hupinah, ‘Daulah Ibni Umayyah Pada Perian Pemerintahan Abdul Malik (685-705 M)’ (IAIN Sinuhun Ampel Surabaya, 1993), hlm. 41.








[6]





Surma Hayan and Nurhasanah Bakhtiar, ‘Arabisasi Pemerintahan Islam’., hlm. 209.





[7]








Ahmed A.F El-Ashker and Rodney Wilson,
Islamic Economics: A Short History
(Leiden: Bril, 2006), hlm. 133.









[8]





Ibid.,
hlm. 130.





[9]





Hupinah, ‘Daulah Bani Umayyah’., hlm. 62.





[10]





Itsnawati Nurrohmah Saputri, ‘Urut-urutan Kubah Batu., hlm. 215-217.





[11]








Topanji Pandu Barudin,
Urut-urutan Ilmu Pengetahuan Plong Masa Umayyah, ed. by Ramadhan Edi Saputro (Klaten: Cempaka Putih, 2022), hlm. 13.









[12]








Kasih Sunara,
Sejarah Islam Nusantara, Cet ke-1 (Jakarta: Buana Cipta Teks, 2009), hlm. 1.




Pada perian 674 M, Khilafâh Bani Umayyah mendirikan pangkalan kulak di pesisir barat Sumatra yang mengakibatkan banyak pendatang Mukminat datang dan berdakwah.





[13]








Anomin,
Komisi Plano Versus Dinar Dan Dirham Islam, ed. by A. Saifullah, cet ke-2 (Bogor: Pustaka Thariqul Kebesaran, 2022), hlm. 26-28.









[14]




Ahmed A.F El-Ashker and Rodney Wilson,
Islamic Economics.,

hlm. 134-135.







[15]








Zakki Fu’ad, ‘Sejarah Kebudayaan Islam: Paradigma Teks, Reflektif dan Filosofis’, 2022, 1–268, hlm. 87.




Source: https://www.rendrafr.com/2020/10/abd-al-malik-ibn-marwan-biografi-dan.html

Posted by: caribes.net