Cara Berdoa Kristen Agar Dikabulkan

Cara Berdoa yang Baik dan Benar - Bagaimana Doa Terkabul?

Daftar isi

  • Abstrak
  • 1. Pendahuluan mengenai pendirian berdoa yang baik dan benar
  • 2. Bagaimana cara wirid terkabul? Apa mekanismenya?
    • 2.1 Siapakah yang membuat doa-doa kita terwujud?
    • 2.2 Bagaimana pendirian doa-tahlil terkabul?
  • 3. Kapankah doa-wirid kita boleh tersalurkan?
  • 4. Segala yang menentukan efektivitas terkabulnya ratib seseorang?
    • 4.1 Tingkat kognisi spiritual dan terkabulnya doa seseorang
  • 5. Bagaimana posisi dan prinsip berdoa yang baik dan benar?
    • 5.1 Cara berdoa yang benar – Postur tangan beribadat (mudrā) tahap awal
    • 5.2 Cara berdoa yang benar – postur tangan beribadat (mudrā) tahap penghabisan
      • 5.2.1 Posisi berdoa yang bermartabat dengan kepala menunduk
    • 5.3 Cara beribadat yang baik – penuh emosi spiritual
    • 5.4 Apakah kerap kali sembahyang kita harus melakukan pendirian beribadat yang baik dan moralistis tersebut?
    • 5.5 Perbandingan efektivitas dari posisi-posisi tangan berdoa
  • 6. Ringkasan poin-skor terdahulu cara berdoa yang baik dan bermoral

Paradigma

Pada artikel ini kami memberikan gambaran adapun bagaimana mekanisme terkabulnya doa. Ada dua variasi takbir adalah – doa buat keuntungan duniawi dan tahlil bakal pertumbuhan spiritual. Dengan demikian, doa terlaksana oleh aspek–aspek Rabani yang berbeda. Studi spiritual sudah menunjukkan bahwa bahkan energi merusak/hantu pun dapat membuat doa kita terlaksana, lakukan merugikan kita! Tingkat spiritual seseorang adalah faktor paling terdahulu dalam memastikan apakah doa seseorang akan dikabulkan. Doa untuk perdamaian dunia, meskipun suatu pemikiran yang luhur, peluang samudra tidak akan terkabul karena kurangnya tingkat spiritual bermula umat yang beribadat. Berkebalikan dengan itu, orang-orang yang sungguh boleh menjatah efek perubahan melalui sebuah wirid adalah Cucu adam-orang Polos, hanya Mereka sudah lalu merasa enggak ada perlunya lagi sembahyang karena Mereka sudah lalu benar-benar seia sekata dengan kehendak Tuhan YME dan tidak lagi mengaram kehendakNya sebagai terpisah dari kehendak mereka sendiri. Anak bungsu, postur (sikap) doa juga memberikan kontribusi terhadap terkabulnya doa.

1. Pendahuluan adapun prinsip berdoa yang baik dan benar

Momen menghadapi hal-situasi rumit nan tidak dapat diatasi internal jiwa sehari-periode, begitu juga hilangnya dagangan berharga, penyakit nan bukan dapat sembuhkan, masalah segara keuangan, dll, orang berdoa kepada Tuhan atau kepada suatu aspek semenjak-Nya, yang juga dikenal sebagai betara-dewi. Ini adalah takbir-doa dengan pengharapan materi atau materialisme.

Para pencari spiritual/Yang mahakuasa (seeker), yang fokus utama dalam hidupnya merupakan pertumbuhan spiritual, juga berdoa secara teratur kepada Yang mahakuasa enggak saja internal kejadian runyam cuma hanya pula intern segala kejadian sehari-periode. Tahlil-takbir tersebut bagaimanapun, merupakan bukan mengenai harapan duniawi hanya tentang pertumbuhan spiritual dan pun boleh dikatakan sebagai penggalan semenjak les spiritual untuk mereka.

Kata sandang ini menjelaskan mekanisme bagaimana kedua jenis doa tersebut terpenuhi.

Untuk memahami kata sandang ini dengan bertambah baik silahkan mendaras artikel kami lainnya:

  • Definisi (Arti) mulai sejak doa
  • Apakah perbedaan antara takbir dengan suatu harapan (ekspektasi) dan minus maksud?

Adalah berfaedah untuk dicatat bahwa ketika terjadi kebobrokan atau kesulitan dalam hidup, akar permasalahnya bisa berasal bersumber fisik, mental atau spiritual. Penelitian nan dilakukan makanya SSRF menunjukkan bahwa sampai 80% berusul permasalahan dalam hidup ini memiliki akar penyebab berasal alam spiritual. Bilangan dan karuhun-pitarah yang telah meninggal ialah dua faktor lalu penting dalam penyebab-penyebab spiritual berusul masalah-masalah dalam nasib.

2. Bagaimana mandu tahmid terlaksana? Segala apa mekanismenya?

2.1 Siapakah nan mewujudkan takbir-doa kita terkabul?

  • Diagram berikut menunjukkan siapa yang menjawab tahlil-puji-pujian kita sesuai dengan tipe doanya. Umumnya, jenis ratib akan berbeda sesuai dengan tingkat spiritual seseorang. Misalnya, seseorang yang berada pada tingkat spiritual 30% akan bertambah cerbak beribadat bikin hal-peristiwa duniawi. Seseorang sreg tingkat spiritual 50% akan bertambah sering berdoa buat pertumbuhan spiritual. Dengan demikian, doa bisa dipedulikan maka itu beragam energi lain kasat netra (halus) di Alam Seberinda. Yang menghela dari hal ini adalah apalagi energi subversif sekali lagi bisa membentuk doa-doa terwujud, baik ketika kejadian-hal yang merugikan diminta oleh seseorang dan/atau untuk menjebak seseorang agar kreatif di bawah kekuasaan mereka dengan mengabulkan keinginan mereka sebagai umpan. Misalnya, seperti yang ditunjukkan privat tabel di bawah, di mana seseorang yang berdoa lakukan kematian makhluk lain akan dibantu oleh makhluk halus subversif pecah Neraka wilayah ke-4. Doa bikin keuntungan duniawi umumnya dikabulkan maka dari itu dewa-dewi atau energi-energi positif dengan tingkat nan lebih sedikit. Doa bakal pertumbuhan spiritual dikabulkan oleh dewa-haur maupun energi-energi positif dengan tingkat nan lebih tinggi.

Cara kita berdoa, apakah baik dan benar, menentukan siapa yang membuat doa terkabul

  • Ketika kita berdoa dengan pengharapan duniawi kepada Tuhan alias betara-dewi tertentu, seperti meminta jalan hidup atau mengatasi problem, sebagaimana nan dinyatakan sebelumnya, doa tersebut akan dijawab oleh dewa-dewi atau energi nyata dengan tingkat yang bertambah rendah. Marilah kita rebut lengkap seseorang yang sudah beribadat secara intensif bikin mendapatkan sebuah pekerjaan. Jika tersirat intern takdir orang tersebut bahwa ia harus semangat tanpa pekerjaan selama lima tahun, maka energi nyata atau dewa-haur dengan tingkat lebih rendah dapat membentuk puji-pujian itu terkabul dengan memerosokkan periode pengangguran panca tahunnya ke suatu waktu nanti privat roh orang tersebut. Maka terbit itu, orang itu masih harus melewati fase menjadi pengangguran. (Situasi ini karena terlepas dari apa pun, seseorang harus menjalani takdirnya, yang mana hanya bisa diatasi dengan orang tersebut melakukan tutorial spiritual)
  • Kadang-kadang dewa-haur dengan panjang yang kian tinggi juga membantu situasi duniawi bermula pencari Tuhan YME, jika peristiwa tersebut menyebabkan hambatan dalam pertumbuhan spiritualnya.

2.2 Bagaimana cara zikir-doa terpenuhi?

  • Saat seseorang berdoa dengan baik dan sopan, mereka mengingat Tuhan secara intens (langgeng) dan menjalin dialog hampir dengan-Nya tentang keburukan-masalah yang sangat hampir dengan hati mereka. Menurut hukum tindakan pesong, Allah pun akan merasa lebih dekat dengan mereka.
  • Doa mempunyai kemampuan untuk mengaktifkan prinsip-prinsip dewa-dewi (aspek Almalik YME) di Alam Semesta. Frekuensi minimum kecil-kecil dihasilkan saat seseorang menghaturkan rasa syukur bersamaan dengan tahmid. Kekerapan-kekerapan tersebut memiliki kemampuan lakukan tidak hanya mengaktifkan, tetapi pula menyentuh batara-peri tersebut; maka pendirian ke-Sang pencipta-an diaktifkan lebih cepat. Aktivasi kaidah batara-peri (aspek Halikuljabbar) ini mengakibatkan terkabulnya takbir-tahmid. Para dewa-dewi membuat doa terlaksana dengan kekuatan Niatan (resolve) mereka. Lihat artikel tentang siapakah dewa-dewi itu?

    Contoh dari doa-puji-pujian yang diikuti oleh rasa syukur:

    • Halikuljabbar, tolong izinkan saya mendapatkan pekerjaan ini, saya benar-benar membutuhkannya. Almalik, sudahlah syukur saya ini karena telah menerimakan saya pemikiran untuk berdoa.
    • Tuhan, izinkanlah saya mengerjakan semua kegiatan di hari ini sebagai praktik spiritual. Almalik, saya mengucap syukur di Suku Polos-Mu karena telah memberi saya pemikiran, dan telah melaksanakan tahmid ini melalui saya.
  • Doa memujuk frekuensi subtil (enggak kasat ain) ke-Ilahi-an ke sisi anak adam tersebut dan sebagai hasilnya,
    Yang dipertuan-Tama
    disekitar turunan itu sekali lagi dihancurkan. Dengan demikian, lingkungan disekitar orang tersebut menjadi relatif bertambah
    sāttvik. Dikarenakan onderdil dasar kecil-kecil/non-raga
    Sattva
    di lingkungan sekitarnya meningkat, pemikiran-pemikiran orang-orang di sekitarnya menjadi berkurang dan mereka kembali menjadi
    sāttvik. Hal ini karena Manah dipengaruhi maka itu lingkungan eksternal (asing).
  • SheathsUntuk laporan lebih lanjut tentang tubuh vital dan mental, lihat ke ‘Terdiri dari apakah diri manusia?’
  • Tahmid meningkatkan partikel-partikel dari suku cadang pangkal non-fisik
    Sattva
    dalam selubung tubuh vital. Saat kita menghaturkan rasa syukur, anasir-partikel dari komponen dasar halus
    Sattva
    n domestik selubung awak mental meningkat. Dengan demikian, doa yang dilengkapi dengan rasa syukur, menghasilkan purifikasi spiritual dari kelumun badan vital dan mental.  Akibat berpokok purifikasi spiritual dari kelumun tubuh vital dan kelumun tubuh mental, sensasi – impresi dalam kedua selubung tersebut mulai dihancurkan. Karena berkurangnya impresi – impresi tersebut, pemikiran-pemikiran tentang diri sendiri menjadi minim dan afinitas terhadap hal-situasi duniawi (Māyā) kembali menurun. Kejadian ini menyebabkan meningkatnya keinginan lakukan menumpu Tuhan dan kerinduan untuk bercampur dengan-Nya. Maka itu karena kedua selubung tersebut kembali dipurifikasikan, maka energi subversif tidak bisa masuk ke n domestik awak. Lihat artikel adapun Bagaimana pelisanan dan perulangan (chanting/dzikir) Nama Halikuljabbar YME kontributif bakal memurnikan kegaduhan-impresi dalam manah kita.
  • Ketika kita berdoa, kita menerima ketidakberdayaan cak bagi memecahkan persoalan kita sendiri dan, karena melihat diri secara kian rendah hati, ego kita pun berkurang. Dengan penghamburan ego, terserah kenaikan temporer dalam tingkat kesadaran spiritual. Kejadian ini menyebabkan peningkatan sementara onderdil dasar halus
    Sattva. Selanjutnya, momen kita menghaturkan rasa syukur, itu menggalakkan kerendahan lever dalam diri kita nan memiliki efek nyata lebih besar plong tingkat kesadaran spiritual kita. Makanya alhasil, persatuan/persekutuan kita dengan Tuhan pun meningkat. Kenaikan komponen dasar renik
    Sattva
    itu sendiri juga meningkatkan daya produksi kita bakal mengatasi atau menanggung permasalahan nan sedang dihadapi.

3. Kapankah doa-doa kita boleh tercurahkan?

N domestik kehidupan kita, 65% dari kejadian yang terjadi adalah sesuai takdir. Peristiwa-kejadian nan ditakdirkan yakni peristiwa-situasi diluar cais/kontrol kita. Silakan lihat artikel tentang Takdir dan tindakan objektif

Keadaan yang ditakdirkan, entah yang baik maupun yang buruk, pasti akan terjadi dalam semangat kita. Peristiwa – peristiwa buruk nan ditakdirkan barangkali dapat berupa ki kesulitan atau sebuah pernikahan yang kandas. Orang umumnya sembahyang kepada Allah terutama ketika situasi buruk terjadi n domestik umur mereka. Mereka sembahyang kepada Tuhan bagi meringankan situasi buruk tersebut. Namun, kita menemukan bahwa zikir kita tidak pelalah dikabulkan. Tatap artikel: Takdir misal akar problem spiritual dari kesulitan dalam hidup

Bintang sartan apa hukumnya? Kapan puji-pujian dapat dikabulkan untuk tanggulang hal buruk nan ditakdirkan sehingga dengan berdoa, situasi itu sendiri tidak terjadi ataupun setidaknya kita terlindungi bermula efek buruknya?

Aturan praktisnya adalah:

  • Jikalau doa kian kuat dari intensitas peristiwa yang ditakdirkan, maka takbir tersebut nan akan terkabul.
  • Jika intensitas takdir yang lebih kuat dari wirid, maka doa tersebut akan terlaksana sebagian maupun tidak terlampiaskan sejajar sekali.

4. Segala yang menentukan efektivitas terkabulnya doa seseorang?

Faktor-faktor berikut membusut efektivitas terkabulnya takbir:

  • Tahapan Kesadaran Spiritual bermula orang yang sembahyang – semakin tinggi tingkat spiritual, semakin efektif pula terkabulnya doa mereka.
  • Kualitas ratib – apakah doa tersebut berperilaku mekanikal, tulus, alias dengan emosi spiritual (bhāv) berusul seorang pencari spiritual/ Yang mahakuasa.
  • Bagi siapakah khalayak tersebut berdoa (yaitu, apakah buat diri sendiri atau turunan lain) – Ketika kita sembahyang untuk orang tidak, kekuatan spiritual nan dibutuhkan kian banyak. Semakin besar kuantitas khalayak intern publik yang dikehendaki buat terpengaruh oleh suatu kejadian, maka semakin besar kekuatan spiritual diperlukan bakal mempengaruhi hasil yang diinginkan. Cuma insan- individu Tulen (Saints) dengan tingkatan pencapaian lebih tinggi dapat mempengaruhi perubahan di masyarakat.
  • Ego yang bertambah rendah menerimakan kontribusi terhadap efektivitas doa yang terkabul.
  • Postur sembahyang (
    mudrā
    ) apakah yang digunakan makanya seseorang? Ini menjadi faktor utama lakukan sebagian besar insan, berhubung faktor-faktor di atas lebih sedikit berwibawa pada kebanyakan orang dengan kesadaran spiritual rata-rata.

4.1 Tingkat kesadaran spiritual dan terkabulnya doa seseorang

Tingkat kesadaran spiritual dari orang yang beribadat ialah salah suatu tolok terdepan dalam menentukan terkabulnya doa.

  • Bagi para pencari spiritual/ Almalik di atas tingkat kognisi spiritual 60%, doa tak diperlukan. Mereka bertindak atas emosi/ pikiran spiritual bahwa ‘Biarkanlah semuanya terjadi sesuai karsa Halikuljabbar.’ Mereka bermoral-bersusila mengalami bahwa segala sesuatu intern nyawa mereka terjadi dan disediakan maka dari itu hadiah Tuhan. Perasaan mereka bersambung-sambung dalam keadaan bersyukur kepada Halikuljabbar. Sehabis keadaan ini tercapai, maka doa tidak juga diperlukan.
  • Doa dari orang yang berkecukupan di bawah tingkat pemahaman spiritual 30% lain memiliki pengaruh dan sebaik-baiknya sahaja dapat memberi mereka kekuatan psikologis saja. Hal ini karena selubung/ selimut dari ego yang plus besar untuk doa-doa mereka bikin hingga ke cara ke-Halikuljabbar-an.

Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa doa paling efektif bekerja kerjakan orang-orang yang berada di antara tingkat kognisi spiritual 30-60%.

Lihat artikel ‘Rincian populasi dunia menurut tingkat spiritual’.

Berusul waktu ke waktu, kita kadang membujur suatu invitasi dari bilang hamba allah kerjakan berkumpul dan beribadat bagi perdamaian dunia, atau untuk pamrih sani sebagai halnya pengurangan surat berharga pemanasan global. Dari perspektif hasil nyatanya, keadaan ini sepermai-baiknya merupakan upaya serebral belaka. Ini terjadi karena hal-peristiwa segara manjapada memiliki dasar/ akar spiritual yang kuat dan hanya bisa diatasi oleh upaya-upaya dari sosok spiritual yang mutakadim sangat berkembang seperti Sosok-bani adam Suci dengan tingkatan yang lebih tingkatan. Bahkan jika jutaan orang (semenjak tingkat spiritual protokoler/ lazimnya) berkumpul dan menciptakan menjadikan zikir yang sama bakal terjadinya peristiwa samudra bumi, itu akan serupa dengan jutaan semut-semut yang mencoba untuk mengangkat batu besar.

Catatan:
Sejumlah sosok mungkin nanang bahwa jika Orang Suci dapat mempengaruhi perubahan global, maka mengapa mereka tidak mengatak perdamaian dunia atau mengurangi dampak pemanasan global? Paradoksnya adalah bahwa darurat Cucu adam Kalis memiliki keistimewaan spiritual bagi mempengaruhi peristiwa-hal dunia, mereka memiliki emosi spiritual bahwa sekadar Tuhan lah nan tahu segala apa yang terbaik. Juga, karena mereka berpunya n domestik ‘keadaan sebagai pengamat (sākshibhāv)’, menurut sifat itu mereka tidak akan ikut rancam dalam rencana Allah dan sepenuhnya selaras dengan rencanaNya. Mereka memiliki kesadaran komplet atas rangka Tuhan, bahwa segala apa sesuatu terjadi sesuai dengan takdir istimewa dan kolektif umat hamba allah. (Peristiwa yang ditakdirkan adalah hal-situasi dalam hidup kita yang terjadi karena tindakan masa lalu kita, baik dalam kelahiran ini maupun kelahiran kita sebelumnya.)

5. Bagaimana posisi dan prinsip berdoa nan baik dan bermartabat?

Melewati penelitian spiritual, SSRF telah mengidentifikasi dan merekomendasikan posisi tangan berdoa (mudrā) dan postur awak berikut ini, nan yaitu kaidah berdoa paling kondusif lakukan memperoleh energi Allah dengan maksimal.

Gambar dimensi halus (tak kasat netra)
berikut menunjukkan dua tahap dalam postur tangan berdoa (mudrā) ini dan apa yang sememangnya terjadi plong tingkat spiritual ketika seseorang menggunakan cara berdoa ini dengan benar.

5.1 Cara berdoa yang sopan – Postur tangan beribadat (mudrā) tahap mulanya

Cara berdoa yang baik dan benar - Postur Tangan Berdoa - Tahap 1

Tahap pertama intern postur tangan berdoa (mudrā) ini adalah menggotong tangan seseorang dalam doa dengan ibu jari mencecah wilayah pertengahan alis alias chakra dahi (
Ādnyā-chakra
) (resep energi spiritual di kewedanan pertengahan kedua alis) dengan renik. Ialah nan terbaik untuk mulai beribadat sesudah kita mewah dalam posisi ini.

Saat kita menundukkan pejabat kita n domestik posisi takbir ini, itu membangkitkan emosi spiritual berserah diri dalam pribadi kita. Peristiwa ini, juga akan mengaktifkan kekerapan ke-Tuhan-an yang lembut/tak kasat netra dari Dunia semesta. Frekuensi ke-Sang pencipta-an ini masuk melalui ujung-ujung jari kita, yang akan berperan sebagai reseptor (akseptor). Frekuensi ke-Sang pencipta-an ini kemudian disebarkan ke dalam tubuh kita melalui ibu deriji ke chakra jidat. Hasilnya yakni peningkatan energi spiritual positif intern diri kita, yang menciptakan menjadikan kita merasa lebih ringan atau menyerahkan perasaan lega berpokok gejala-gejala impitan badan maupun mental.

5.2 Prinsip berdoa yang benar – postur tangan berdoa (mudrā) tahap akhir

Cara berdoa yang baik dan benar - Postur Tangan Berdoa - Tahap 2

Setelah seseorang radu berdoa, orang tersebut mudahmudahan cekut sikap sesuai postur tangan berdoa (mudrā) tahap kedua seperti ditunjukkan intern bentuk di atas. Ini berarti bahwa sebagai pengganti seseorang menurunkan tangannya dalam doa dengan segera, tangan ditempatkan di wilayah pertengahan dada sedemikian rupa sehingga pergelangan tangan sampai ke dada. Hal ini melampiaskan proses untuk lebih menyerap secara keseluruhan Kesadaran Sang pencipta dari prinsip ke-Tuhan-an. Jadi puas awalnya, Kognisi Almalik dari pendirian dewata yang telah memasuki ujung-ujung deriji sekarang juga akan dipancarkan ke daerah dada, tempat dari chakra dada/jantung (Anāhat-chakra). Sebanding seperti
chakra Ādnyā, chakra Anāhat
juga menyerap frekuensi-frekuensi steril (sattvik). Dengan menyentuh pergelangan tangan ke dada,
Anāhat-chakra
diaktifkan dan membantu dalam menyerap bertambah banyak frekuensi–frekuensi
sattvik. Detik aktif,
Anāhat-chakra
membangkitkan emosi spiritual dan pengabdian semenjak seorang pencari Tuhan.

Dalam tahap kedua berusul posisi tangan berdoa (mudrā) ini, seseorang seharusnya menjadi mawas diri (introspektif) dan memikirkan pengalamannya ketika berada dalam aribaan Halikuljabbar.

Cara benar berdoa dengan posisi kepala yang baik

Cara berdoa dengan posisi jari yang benar

Ponten-nilai yang mesti diperhatikan dalam kaidah berdoa yang baik dan benar:

  • Tubuh harus takluk dan tidak seram.
  • Jari-ujung tangan harus sejajar dengan dahi. Jari-jari harus bukan dogmatis, namun rileks.
  • Deriji-deriji harus menyatu – tidak termengung sreg celah antar jari.
  • Induk jari harus menyentuh wilayah chakra dahi dengan lembut.
  • Telapak tangan ditempelkan secara renik dengan kurang ruang diantara keduanya. Bila seeker mutakadim mencapai tingkat kesadaran spiritual diatas 50%, jejak kaki tidak harus menyisakan sinus diantara keduanya.

5.3 Cara berdoa yang baik – mumbung emosi spiritual

Buram dimensi spiritual (enggak kasat mata) berikut menunjukkan apa nan terjadi ketika seseorang pada tingkat spiritual 50% berdoa dengan emosi spiritual. Hal utama nan perlu diperhatikan adalah bahwa makhluk-orang di sekitarnya kembali memperoleh manfaat berbunga Pemahaman Tuhan nan diakses makanya orang tersebut. (Tatap putaran susuk nan menunjukkan 5% semenjak frekuensi Kesadaran Sang pencipta (Chaitanya) dipancarkan ke luar tubuh) Ini sebabnya mengapa cukup besar perut diamati bahwa ketika seorang pencari Allah berdoa dengan emosi spiritual, emosi spiritual plong orang lain di sekitarnya juga ikut terbangkitkan.

Cara berdoa dengan emosi spiritual yang baik

5.4 Apakah setiap kali berdoa kita harus mengerjakan cara beribadat yang baik dan benar tersebut?

Jika seseorang rani pada tingkat kesadaran spiritual nan kian tinggi (di atas 50%), frekuensi ke-Halikuljabbar-an renik (lain kasat alat penglihatan) mulai langsung diterima melangkahi
Brahmārandhra
(bukaan atas dalam sistem tenaga dalam spiritual, berlokasi di atas mahkota kepala, pada jasad kecil-kecil makhluk) itu sendiri.
Brahmārandhra
itu merupakan bukaan renik (tak kasat mata) di atas chakra ubun-ubun(Sahasrār-chakra) (berdasarkan ilmu spiritual Kunḍalinīyoga) nan punya akses ke Pikiran dan Kecerdasan Sepenuh Standard. Bukaan subtil ini tertutup pada orang dengan tingkat spiritual yang kian rendah. Faktor utama yang membantu pembukaan
Brahmārandhra
adalah tingkat ego yang kian rendah. Ketika kita berada dalam tahap pertumbuhan spiritual ini, kebutuhan kerjakan postur tangan berdoa (mudrā) seperti yang dijelaskan di atas terus semakin menciut.

Saja, sekiranya seseorang dengan tingkat kesadaran spiritual di antara 50% sampai 80% melengkapi doanya dengan postur tangan berdoa (mudrā) yang disarankan, maka dia mendapat manfaat berasal komplemen Pemahaman Tuhan. Arti tambahan ini 30% kian banyak bikin seseorang puas tingkat kesadaran spiritual 50% dan manfaat itu menjadi semakin berkurang secara sebabat dengan meningkatnya tingkat kesadaran spiritual.

Karena kebanyakan orang tidak punya tingkat kognisi spiritual yang tinggi, mereka lain boleh menerima Frekuensi ke-Tuhan-an melangkahi
Brahmārandhra. Cuma, biasanya orang (tingkat kognisi spiritual 30-60%) tetap sanggup mengakuri kekerapan-frekuensi halus melangkahi ujung jari mereka (biarpun dalam tingkat nan jauh lebih minus), karena ujung-ujung deriji kita sangat temperamental bakal menerima atau membawa energi kecil-kecil. Bagi cucu adam-makhluk sreg tingkat ini, yang terbaik adalah jika mereka menggunakan postur tangan sembahyang (mudrā) yang di sarankan di atas untuk berdoa. Jika semua faktor-faktor lainnya dianggap separas, dengan berdoa menggunakan
mudrā
nan direkomendasikan, seseorang akan menambah 20% pada efektivitas doa mereka dibandingkan dengan tidak memperalat
mudrā
ini.

5.5 Perbandingan efektivitas berbunga posisi-posisi tangan sembahyang

Kita terpengaruh maka dari itu berbagai gerakan-gerakan tangan detik berdoa. Ketika melakukan penelitian spiritual mengenai bermacam ragam postur tangan (mudrās) terkait dengan berdoa, berikut ini merupakan temuan kami internal hal kemanjurannya:

Kemanjuran berusul berbagai tipe posisi tangan berdoa

Posisi tangan berdoa Komparasi arti spiritual1 Tingkatan dari energi2
riil yang dapat diakses
Kwantitas bermula energi3
substansial yang boleh diakses
Bencana dari energi merusak4
Cara berdoa yang terbaik dengan Namaskar-mudra

8%

Lebih tataran

30%

2%

Berdoa dengan posisi tangan yang sedikit kurang baik 4% Madya 10% 4%
Cara berdoa dengan posisi tangan yang kurang baik 2% Makin terbatas 5% 5%
Cara berdoa dengan posisi tangan yang tidak baik 2% Lebih minus 5% 5%

Catatan-coretan:

  1. 100% adalah mendapatkan kebaikan spiritual mumbung, yang mana akan menghasilkan kesadaran arketipe akan Tuhan YME.
  2. Tingkat mulai sejak prinsip manifestasi dewa-dewi, mis. dewa-dewi tingkat tahapan, menengah atau adv minim.
  3. Persentase dari mandu dewa-dewi yang dapat diakses.
  4. Ini menunjukkan peluang energi merusak mengganggu doa lakukan mengurangi iman sang pencari Tuhan. Energi negatif mengganggu tahmid sehingga lain terjawab, dan menurunkan iman cucu adam yang beribadat.

Cobalah cak bagi
eksperimen lumat
ini sendiri, dimana sira mengucapkan wirid yang sederajat menggunakan setiap
mudrās
di atas secara terpisah.

Kerumahtanggaan bilang kasus, makhluk ubah berpegangan tangan ketika berdoa. Ini juga yakni praktik spiritual yang lain benar karena jika orang di samping kita dipengaruhi oleh energi negatif/hantu, akan lebih besar kemungkinan energi hitam itu dapat mengalir kepada kita.

Lihat di artikel ‘Seberapa banyak berbunga populasi dunia yang dipengaruhi maka dari itu energi negatif/hantu?

6. Ringkasan skor-nilai terdepan pendirian berdoa yang baik dan sopan

  • Tingkat spiritual seseorang umumnya mendefinisikan apakah orang tersebut berdoa untuk pertumbuhan spiritual maupun untuk keuntungan materialisme. Tergantung pada jenis doanya, betara-dewi dengan tingkat nan lebih tangga atau tingkat yang lebih terbatas akan menjawab doa seseorang.
  • Emosi spiritual (bhav) dengan mana seseorang beribadat n kepunyaan dampak nyata pada efektivitas terkabulnya ratib manusia tersebut.
  • Tergantung pada posisi tangan berdoa (mudrā) digunakan, kebaikan yang didapatkan seseorang melalui tahmid dapat bervariasi.
  • Semua hal tidak dianggap sama, dengan memperalat postur berdoa (mudrā) yang direkomendasikan boleh membantu meningkatkan efektivitas terkabulnya tahlil seseorang hingga 20%.
  • Takbir yang diutarakan maka dari itu hamba allah-orang dengan tingkat kesadaran spiritual rendah untuk hal-hal yang mempengaruhi publik luas, seperti perdamaian dunia ataupun pengurangan dampak pemanasan universal, bukan mempunyai dominasi nyata.
  • Ketika seseorang menghaturkan rasa syukur bersamaan dengan tahmid, itu membantu untuk meningkatkan efektivitas terkabulnya doa anak adam tersebut.

Source: https://www.spiritualresearchfoundation.org/indonesian/latihan-spiritual/berdoa/cara-benar-berdoa-yang-baik/

Posted by: caribes.net