Cerita Legenda Malin Kundang Singkat

Berbagai versi dari
cerita rakyat Malin Bermanja
pernah kami posting di blog ini. Antara satu versi dengan versi lainnya memiliki kesamaan cerita, namun cak semau perbedaan plong detailnya. Pada posting barangkali ini kami merangkum semua versi khayalan rakyat ini menjadi suatu kesatuan. Semoga dapat menjawab keingintahuan adik-adik nan menengah mencari maklumat mengenai Malin Kundang.

Beraneka rupa Varian Cerita Rakyat Malin Kundang.

Yuk kita baca bersama-setimbang mite Sumater Barat minimum terkenal ini.

Varian 1 : Mite Cerita Malin Kundang

Pada zaman dahulu, hiduplah koteng janda bersama seorang anak adam, di perkampungan Tepi laut Air Manis, Padang Sumatera Barat.

Perempuan itu bernama Mande Rubayah, sedangkan anak junjungan-lakinya bernama Malin Kundang. Sejak kanak-kanak, Malin Kundang sudah ditinggal mati ayahnya. Bilamana Malin menginjak dewasa, ada kapal besar berlabuh di Tepi laut Air Manis. Kedatangan kapal tersebut meneguhkan hatinya untuk 3pergi merantau.

“Bu, saya ingin mencari kerja, merantau ke area khalayak,” perkenalan awal Malin dengan suara minor lirih. “Belum karuan setahun sekali ada kapal raksasa merapat di tepi laut ini. Saya akan mencari kerja kiranya nasib kita berubah dan terbebas bermula kemiskinan.” Meski dengan musykil lever, akhirnya Mande Rubayah sekali lagi mengizinkan anaknya pergi.

Hari ki beralih, bulan berjalan, dan tahun berbilang, Malin sudah menghindari memencilkan kampungnya sonder kawin memberi kabar kepada ibunya.

Sreg suatu musim, sebuah kapal besar berteduh di pesisir Air Manis. Melihat hal itu, Mande Rubayah ikut berdesakan mendekati kapal tersebut. Engkau sangat yakin bahwa lelaki remaja itu adalah Malin Bermanja. Minus segan, ia langsung memeluk Malin erat-dekat, seolah takut kehilangan anaknya lagi. Lalu beliau pun menegur Malin dengan celaan serak, karena membendung tangis bahagia.

“Malin, anakku, mengapa begitu lamanya kau memencilkan ibu?” Malin terpana karena ia bukan percaya bahwa wanita itu adalah ibunya.

Sebelum sempat berpikir, istrinya yang elok itu merenjeng lidah,”Cuih! Wanita buruk inikah ibumu? Mengapa kau membohongi aku?” Lalu dia berkata lagi. “Bukankah dulu kau katakan ibumu ialah sendiri bangsawan sederajat dengan kami?”

Mendengar kata-alas kata istrinya, Malin Kundang memurukkan wanita wreda itu setakat tercekluk ke batu halus. Mande Rubayah berfirman lagi,

“Malin, Malin, anakku. Aku ini ibumu, Nak!” Malin Kundang tidak menaruh perhatian perkataan ibunya.

“Hai, Perempuan renta! Ibuku tidak sepertimu, anda terlihat sangat miskin dan kotor!” prolog sang Malin sambil mendorong wanita tua itu hingga terjengkang semaput.


Legenda Cerita Malin Kundang Asli
Legenda Cerita Malin Kundang Asli

Ketika Mande Rubayah sadar, Pesisir Air Manis mutakadim senyap. Di laut dilihatnya kapal Malin semakin menjarang. Hatinya melilit seperti ditusuk-tusuk.

Tangannya ditengadahkan ke langit. Engkau kemudian berseru, “Ya Almalik, Yang Maha Kuasa, jika dia bukan anakku, aku maafkan perbuatannya tadi. Tapi kalau memang etis anda anakku, Malin Kundang, aku minta keadilan-Mu.”

Tidak lama kemudian, cahaya di tengah laut yang tadinya cerah, sekonyongkonyong berubah menjadi haram. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba datanglah badai besar menghantam kapal Malin Kundang. Seketika kapal itu lebur berkeping-keping. Kemudian terempas ombak hingga ke pesisir.

Keesokan harinya, di kaki ardi tertumbuk pandangan kepingan kapal yang mutakadim menjadi batu, itulah kapal Malin Kundang. Tak jauh dari panggung itu, nampaklah sebongkah batu yang menyerupai awak manusia. Konon, itulah bodi Malin Kundang anak durhaka nan rantus kutukan ibunya menjadi batu. Di pelana-sela godaan itu, berenang-renang iwak teri, lauk belanak, dan ikan tenggiri.

Konon, ikan ikan itu berasal berpunca serpihan tubuh sang ayutayutan nan terus mencari Malin Bermanja

Pesan tata krama berusul Legenda Cerita Malin Kundang Zakiah merupakan Narasi Malin Kundang merupakan kisah seorang anak yang durhaka kepada ibu kandungnya. Sira dilupakan oleh harta benda nan didapatnya sehingga ia dikutuk menjadi bencana.

Baca kisah lengkapnya pada link berikut ini : Legenda Kisah Malin Kundang Kudrati Sumatera Barat Indonesia

Versi 2 : Cerita Rakyat Malin Kundang Singkat

Di sebuah desa, hiduplah sendiri kuntum miskin. Beliau hidup bersama anak tunggalnya, namanya Malin Bermanja. Sehari-hari perempuan itu berkarya sebagai nelayan. Namun, penghasilannya enggak bisa mencukupi kebutuhan mereka sehari-tahun sehingga hidup mereka cangap berkekurangan.

Saat Malin Kundang remaja, sira memutuskan kerjakan menghindari ke kota. Beliau ingin mengadu nasibnya di sana.

“Mana tahu dengan menyingkir ke ii kabupaten, aku boleh menyangkal hayat kita, Ibu,” ucap Malin Kundang.

Dengan pelik lever, ibunya pun mengizinkan. Kini, ibunya pun menjadi kuntum tua yang kesunyian. Selepas kepergian Malin, ibunya bosor makan merenungkan hal anaknya itu. Ia jadi sakit-sakitan, darurat Malin tidak perkariban mengirim maklumat untuknya.


Cerita Malin Kundang Singkat (Indonesia)
Cerita Malin Kundang Pendek (Indonesia)

Hingga sejumlah tahun kemudian, Malin berhasil mengubah roh. Kamu telah menjadi saudagar yang berharta raya. Malin n kepunyaan banyal kapal. Kehidupan Malin enggak lagi susah. Malin pun menikahi koteng upik bangsawan nan lalu cantik.

Suatu hari, Malin ingin melihat situasi desanya. Mutakadim lama sekali dia tak pulang. Malin menjauhi bersama istri dan banyak pekerjanya. Engkau pun mengangkut banyak uang lelah untuk dibagi-bagikan kepada para warga.

Sampailah Malin di desanya. Dengan snobis ia membagikan uang lelah kepada penduduk. Penduduk di desanya tinggal suka. Di antara mereka ada yang mengenali Malin, yakni tetangganya koteng. Orang itu pun segera pergi ke kondominium Malin, hendak mengasihkan butir-butir gembira tersebut kepada ibu Malin.

“Ibu, apakah kau sudah lalu senggang, anakmu Malin sekarang telah menjadi hamba allah kaya.” seru tetangga itu.

“Berpokok mana kau tahu itu? Selama ini aku lain pertautan mendapat kabar darinya,” ucap ibu Malin, terkejut.

“Sekarang pergilah ke dermaga. Anakmu Malin ada di sana. Dia terlihat sangat tampan, dan istrinya pun lalu rupawan,” ucap tetangganya.

Ibu Malin tak berketentuan. Matanya berkaca-kaca. Sungguh, ia sangat merindukan anaknya selama beberapa waktu ini. Maka beliau pun taajul berlari menentang bom. Bermoral saja, di sana kelihatan Malin dengan istrinya yang terlampau elok.

“Malin, kau pulang, Nak,” seru ibunya.

Malin mengenali ibunya. Cuma, beliau malu mengakui orangtua yang berpakaian sangat lusuh itu. Bagaimana ia akan menjelaskan kepada istrinya akan halnya semua ini?

“Kau beberapa ibumu sudah lalu meninggal. Apa benar orangtua ini yaitu ibumu?” tanya istri Malin, bingung.

“Anda tak ibuku, dia pengemis nan mengaku-ngaku sebagai ibuku.” seru Malin.

Sungguh sakit hati Ibunya mendengar mulut Malin. Ibunya habis mengutuk Malin.

“Hatimu sungguh sekeras rayuan, Malin. Maka, kau aku serapah menjadi batu. Kau momongan yang durhaka.” sebut ibunya.

Malin ketakutan. Kamu memohon ampun kepada ibunya. Sekadar, ibunya sudah suntuk sakit hati. Seketika hujan turun sangat lebat, dan petir menyambar. Ketika itu sekali lagi Malin berubah menjadi batu.

Wanti-wanti akhlak bersumber Cerita Malin Kundang Singkat (Indonesia) adalah kedewaan cak semau di bawah telapak tungkai ibu. Sayangilah ibumu, karena ibumu yakni makhluk paling berarti internal hidupmu.

Baca narasi lengkapnya puas link berikut ini : Cerita Malin Kundang Ringkas – Dongeng Legenda Sumatera Barat

Versi 3 : Kisah Rakyat Indonesia Si Momongan Durhaka


Cerita Rakyat Indonesia Malin Kundang
Kisahan Rakyat Indonesia Malin Kundang

Di sebuah desa di Sumatra Barat, seorang ibu hidup dengan anaknya yang bernama Malin. Anak tersebut nakal, namun cerdas. Bekas jejas di tapak tangan kanan Malin Kundang menjadi pertanda lakukan ibunya.

Satu hari, Malin menanyakan izin kepada ibunya bikin merantau. la berjanji kepada ibunya cak bagi kembali jika telah menjadi pedagang yang fertil raya. Ibunya pasti saja tidak mengizinkannya.

Ibunya teringat sang suami yang tidak pernah kembali sehabis menjauhi merantau. Namun, Malin berusaha jujur si ibu yang karenanya rela melepaskan kepergian anaknya.

Malin Kundang merantau dengan menumpang sebuah kapal properti saudagar bernas raya. Selama di atas kapal itu, Malin membiasakan banyak kepada para fisik kapal.

Sampailah Malin di pulau nan sangat subur. Dia bekerja pada saudagar di sana. la pun menetap dan bekerja di sana. Malin sangat rajin, sehingga la diangkat menjadi praktisi kesayangan. Saudagar itu pun memperumahkan anaknya dengan Malin. Malin pun menjadi sosok yang berpunya raya.

Satu masa, Malin dan rombongannya pergi melaut ke kampung halamannya. Ibu Malin sangat gembira detik mematamatai sebuah kapal besar bersandar di dermaga. la meluluk sekelamin suami candik berpakaian berlambak menggermang di geladak kapal. la berpengharapan bahwa pemuda itu merupakan anaknya, karena mengawasi eks jejas di bekas kaki tangan sang pemuda.

“Malin Bermanja, Anakku, kau pulang! Kenapa sangat lama kau baru kembali, Nak?” seru sang ibu yang memeluk Malin.

Malin sangat terkejut melihat seorang gadis tua lusuh menginjak-tiba memeiuknya. Dilepaskannya pelukan perempuan itu dengan kasar. Sang gendak bertanya siapakah perempuan lusuh tersebut.

Dengan angkuhnya Malin menjawab, “Entahlah, Dik. Kanda rasa ia yakni oang gila yang bersedia dan menerima-ngaku sebagai ibuku”. Sesungguhnya, Malin tahu bahwa upik itu ialah ibunya. Namun, ia dahulu malu mengakui hal itu di depan istri dan anak buahnya.

Ibu Malin sangat terluka. la tidak menyangka anaknya tega berlaku bernafsu dan enggak mengakuinya sebagai ibu. la dulu sedih hingga terucap, “Jika ternyata benar kau adalah Malin anakku, biarlah kau menjadi batu!”,

Malin Kundang justru tertawa mendengar ucapan ibu jompo itu. la segera memerintahkan awak kapal untuk meninggalkan persinggahan. Namun, ketika kapal besar itu tiba meninggalkan dermaga, start-tiba datanglah prahara yang dahsyat. Angin besar itu menghantam kapal Malin hingga mengabu. Di paruh kepanikan, tubuh Malin Bermanja menjadi normatif dan mengeras menjadi sebuah batu.

Sampai sekarang, batu Malin Kundang masih dapat diiihat di Pantai Ala Manih (Air Manis), di Sumatra Barat.

Wanti-wanti adab semenjak Cerita Rakyat Indonesia Malin Bermanja adalah kita harus besar perut menyayangi dan mengagungkan orangtua agar hidup kita dipenuhi faedah.

Baca kisah lengkapnya pada link berikut ini : Cerita Rakyat Indonesia Malin Kundang

Versi 4 : Saga Malin Kundang – Cerita Rakyat Sumbar

Pada zaman dahulu, hiduplah seorang janda dengan satu orang anak bernama Malin Kundang. Ayahnya mutakadim lama meninggalkannya dan tidak wasilah lagi. Ibunyalah yang mengambil tanggung jawab mengejar rezeki cak bagi semangat sehari-harinya. Mereka suntuk di sebuah gubuk yang terbuat dari daun dan tulang daun nipah, Pakaian mereka pun carik-barik.


Dongeng Cerita Rakyat Malin Kundang
Dongeng Narasi Rakyat Malin Kundang

Malin Kundang sebenarnya anak yang cerdas dan tampan. Namun, badannya kurus kering karena kekeringan makan. Dan terpandang lewat kusam dan jelek di pandang. Malin Bermanja punya tamatan jejas di lengan yang layak besar. Sira mendapatkan arena luka tersebut karena madya bermain megejar Ayam aduan kepunyaan tetangga, dan kakinya tersandung batu.

Periode sangat cepat berlalu, saat ini Malin Kundang sudah dewasa dan menjadi maskulin yang gagah. Ia sangat kasihan kepada ibunya, setiap tahun harus menyakatkan perahu tulang bakal mengidupi kebutuhannya. Beliau berpikir bakal mencari alat pencernaan ke negeri sebrang. Dan terlampau berharap momen kembali ke kampung, ia sudah menjadi orang kaya dan dapat membanggakan ibunya.

Suatu tahun seorang Nakoda kapal menggalas, mengajaknya untuk ikut berlayar. Nahkoda tersebut dulunya sangat miskin. Namun, sekarang beliau sudah menjadi orang congah. Karena ajakan itulah ia sangat ingin menjauhi dengan pelawaan Nahkoda tersebut.

Akhirnya, anda memberitahukan ibunya untuk menghindari kegeri sebrang. Awalnya ibunya tidak semupakat dengan kerinduan Malin Kundang. Sekadar, Malun terus menguati dan akhirnya Ibu Malin Kundang mnginjinkannya meskipun dengan hati yag sangat berat. Dia langsung mempersiapkan apa sekadar nan akan di bawa, dan bekal seadanya. Ibunya mengantarkan Malin Bermanja ke dermaga.

‘’ Anakku, semoga beliau di sana bisa berhasil dan usia berkecukupan. Jangan tengung-tenging untuk pula pulang ke kampung halamanmu ini, ibu akan selalu menunggu dan mendoakanmu nak.’’ Ujar ibunya sambil menangis.

Dengan sangat berat hati, ibu Malin Bermanja melepaskan anaknya pergi ke distrik sebrang. Ia berharap anaknya itu tidak melupakan dirinya dan pula ke kampung halaman,

Kapal yang di naiki Malin semakin jauh, ibunya terus melambaikan tangan sederum menangis. Salama di kapal, ia sangat banyak membiasakan bagaimana cara berlayar dan merecup menjadi lelaki dewasa yang lestari. Ia dengan cepat menjadi orang pengapit dan kesayangan juragan kapal yang sangat rani. Semua suka padanya.

Di paruh perjalanan, mendadak kapal yang di naiki Malin di terjang makanya pembajak laut. Tidak ada barang yang tersisa di kapal itu detik para perompak meninggalkan dan menenggelamkannya. Kapten dan semua fisik kapal terbunuh.

Malin Kundang lampau berterima kasih karena, para beluku laut itu tidak menyadari Malin Kundang yang bersembunyi dalam suatu gaung sempit di internal kapal.

Berhari-hari ia terkatung-katung di tengah Samudra, hingga karenanya kapal yang di naiki tertumus di sebuah Desa yang sangat berlimpah. Di desa tersebut pelabuhannya yang silam maju pesat dan silam subur.

Di desa tersebut Malin Kundang di tolong oleh orang desa-desa. Ia tiba mencari pekerjaan. Akhirnya kamu mendapatkan jalan hidup, karena keuletan dan kegigihan Malin Kundang bekerja. Dengan cepat ia disukai banyak orang. Malin Kundang berhasil menjadi saudagar kaya raya. Karena kecerdasannya, ketampananya dan asam garam yang mengantarkannya pada kesuksesan. Engkau sekarang n kepunyaan banyak kapal dagang dan anak buah nan berjumlah 100 basyar.

Bertahun-tahun ibunya terus bertanya kepada awak kapal, ‘’ bagaimana kabar anaknya, apakah sira baik-baik doang.’’ Hanya, tak pernah ada jawaban sebatas tubuhnya semakin tua, saat ini ia jalannya tiba terbungkuk-bungkuk. Pada suatu hari ibunya mujur kabar berpokok nakhoda yang dulu membawa Malin, nahkoda itu memberi kabar bahagia pada Mande Rubayah.

“Bu, Apakah sudah lalu mendapat kabar dari Malin? Anakmu telah menikah dengan gadis yang lewat cantik dan putrid semenjak bangsawan kaya raya.’’ Ucapnya

Mendengar butir-butir itu, ibunya sangat gembira. Kamu selalu berdoa agar anaknya itu taajul pulang. Namun, setelah mendapat kabar Malin dari Nakoda itu, Malin pun tak pula untuk menjenguknya.

Di kampung halamannya, berita adapun keberhasilan Malin sudah terdengar. Semua orang di kampungnya selalu membicarakan kemenangan Malin. Setiap sore ibu Malin selalu duduk mengunggu Malin di dermaga. Ia berharap Malin Kundang akan menjemputnya.


Cerita Rakyat Malin Kundang
Kisah Rakyat Malin Kundang

Suatu perian, ketika ibunya Malin Kundang duduk menunggunya. Dia melihat sebuah kapal yang megah dan indah melaut cenderung pantai. Khalayak kampung berkumpul melihatnya, mereka mengira kapal itu milik seorang pangeran. Mereka menyambutnya dengan mumbung gembira.

Ketika sang saudagar berkecukupan empunya kapal dan dan istrinya keluar, semua netra tertuju. Pakaian mereka berkiiauan kejangkitan sinar matahari.

Wajah mereka seri dihiasi senyum karena bahagia disambut dengan meriah. Ibunya pun ikut berdesakkan mendekati kapal cak bagi melihat sepasang Saudagar bakir itu. Jantungnya berdebar lewat kencang momen mengawasi adam muda nan tampan keluar dari kapal.

Ibunya mengintai tamatan jejas di lengannya. Ia sangat yakin lelaki itu adalah anaknya Malin Kundang, kamu terlampau gembira karena anaknya nomplok kerjakan menjemputnya. Ibunya langsung condong Malin. Ia langsung memeluknya. Karena suntuk gembira.

“Malin, anakku. Kau bersusila anakku kan? “Cak kenapa begitu lamanya kau bukan memberi informasi?” katanya menghalangi isak tangisan dn memeluknya karena gembira.

Istrinya sangat terkinjat melihat amanat bahwa wanita tua, bau, berdaki yang memeluk suaminya, bercakap:

“Jadi wanita lanjut usia, bau, berdekil ini adalah ibu ia, Malin”

Karena malu, Malin Kundang segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya setakat terjatuh.

“Saya tak kenal kamu mana tahu? Dasar wanita tua renta tidak tahu diri, menyerampang saja mengaku sebagai ibuku.’’ perkenalan awal Malin.

Malin Bermanja bohongbohongan lain mengenali ibunya. Hati ibunya habis ketaton mendengar bacot anaknya itu. Ia berusaha terus menyakinkan Malin bahwa dirinya adalah ibunya. Namun, Malin Bermanja terus membentak dan mendrong ibunya hingga ia terperenyuk.

Ibunya merasa dayuh dan marah. Ia tak menyengaja, anak yang habis disayanginya berubah menjadi anak yang durhaka.

“Oh Tuhan ku yang kuasa, jika dia adalah benar anak ku, Saya harap berikan aniaya padanya dan rubah lah engkau menjadi gangguan.” tahmid si ibu berang.

Malin Kundang nan kesal dan marah segera mengajak istrinya naik ke kapal. Tetapi sahaja sekejap, badai datang menyepak. Ombak samudra bergulung-gulung. Kapal Malin Bermanja yang besar dan abadi diombang-ambingkan, hingga pecah sumbing. Malin Kundang jatuh ke laut dan terdampar di rantau. Anda berusaha meminta ampun kepada ibunya, tetapi kutukan sudah menclok. Ketika engkau bersimpuh, petir menyambar. Semua sudah lalu terlambat. Malin Kundang berubah menjadi batu.

Namun sayang, ibarat nasi sudah menjadi bubur permintaan maaf Malin sudah terlambat. Tuhan sudah mengabulkan petisi Ibunya.

Pesan moral dari Legenda Malin Kundang – Narasi Rakyat Sumbar yakni sayangi dan hormatilah kedua orang wreda mu.

Baca narasi lengkapnya plong link berikut ini : Legenda Malin Kundang – Narasi Rakyat Sumbar

Versi 5 : Dongeng Dari Sumatera Barat

“Hu huuuu huuu.” tangis Malin Kundang sambil memegangi lengannya nan berdarah. Rupanya sekali lagi-pula ia dipatok oleh ayam jantan juara milik Sesepuh Firman. Bunda membersihkan lukanya dengan sabar. Kali ini, jejas Malin cukup parah. Bunda Malin Kundang yang bernama Mande Rubayah membalutnya dengan perban.

“Malin, jangan nakal. Jangan kau kejar-uber kembali ayam jago pemenang itu. Siuman, kau sudah lain punya ayah, kaulah suatu-satunya pamrih Bunda,” nasihat ibunya. Malin hanya mengangguk dan menyeringai.

Sejak ayah Malin meninggal, ibunya bekerja keras untuk menghidupi Malin. Engkau membantu para nelayan membongkar ikan hasil tangkapan di rantau. Kadang, Malin ikut dengannya. Di sana, Malin bersesuai Saudagar Ali, riuk satu turunan kaya di kampung itu. Saudagar Ali sudah menganggap Malin seperti anaknya sendiri. Engkau mengajari Malin cara berdagang dan mengemudikan kapal. Untuk Saudagar Ali, Malin cerdas dan dewasa, tidak sebagai halnya anak katai puas umumnya.

Ketika Malin beranjak dewasa, Saudagar Ali mengajaknya untuk masuk berlayar ke daerah menyeberangi. Di sana, ia akan mengenalkan Malin pada saudaranya yang juga mempunyai usaha perdagangan. Malin sekali lagi berpamitan pada ibunya Mande Rubayah. “Bunda, Saudagar Ali mengajakku bikin ikut dengannya. Izinkan aku menyingkir Bunda, karena aku ingin bekerja di daerah seberang. Jika aku sukses, aku akan kembali dan memboyong Bunda.” Ibunya menunduk. Tak terasa, air matanya berlinang. “Bunda enggak boleh melarangmu, Malin. Bunda sempat keinginanmu seperti itu besar,” jawabnya.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, Malin berlayar ke negeri membelot. Rasanya seperti mimpi yang kaprikornus kenyataan. Ketika Malin medium berangan-angan, tahu-tahu kapal mengetem. Begitu juga terserah sesuatu yang menabraknya. Mendengar suara gaduh di bawah, Malin melongokkan kepalanya. Anda menyibuk segerombolan anak adam dengan pedang terhunus naik kapal itu. Malin merasa tidak gurih. “Karuan mereka para penyamun. Aku harus segera bersembunyi,” katanya dalam lever. Beruntung, engkau menemukan sebuah keranjang ikan dari aur nan cukup besar untuk bersembunyi.

Para perompak itu mengambil semua uang dan kencana peruntungan Saudagar Ali. Mereka kembali memenggal Saudagar Ali dan anak buahnya. Malin selamat, karena para penyamun itu tidak tertarik pada keranjang bambu tempat persembunyian Malin. Mereka saja mengobrak-abrik peti-peti yang berisi tip dan kencana. Sepeninggal para perompak itu, Malin keluar dari tempat persembunyiannya. Ia mengemudikan kapal itu ke daratan terdekat. Malin lalu mengobrolkan apa yang terjadi pada pemukim setempat. Penghuni bergotong royong bakal memakamkan jenazah Saudagar Ali dan anak buahnya.

Karena tak adv pernah harus menghindari ke mana, Malin memutuskan untuk lewat di sana. Ia menggunakan kapal Saudagar All untuk mengapalkan barang- barang penduduk yang akan dikirim ke tempat lain. Malin mengamini suruhan dari jasa pengangkutan itu. Lama kelamaan, jasa pengirimannya itu berkembang pesat. Malin terlebih bisa membeli kapal-kapal yang lain.

Malin sekarang sudah menjadi pemuda nan mampu raya. Dia menikahi koteng dayang nan cantik, momongan pasak negeri kampung itu. Sadar bahwa istrinya berasal berpunca keluarga nan terpandang, Malin juga merahasiakan asal-usulnya. Tiap siapa istrinya menyoal mengenai makhluk tuanya, Malin caruk menjawab jika mereka sudah meninggal. Malin mengatakan, bahwa Saudagar Ali merupakan ayahnya. Ia lain tahu bahwa ibunya menunggu dengan hati kliyengan di kampung halaman.

Suatu hari, Malin dan istrinya pergi berlayar. Entah mengapa, nahkoda mengangkut kapal itu ke arah kampung halaman Malin. Memusat bibir pantai, Malin tersadar. “Bukankah ini kampung halamanku?” bisiknya sano. Baru saja Malin ingin meminta nahkoda kerjakan berbalik sisi, istrinya berteriak kegirangan, “Suamiku… lihat! Kapal nelayan itu medium membongkar ikan. Aku ingin sekali makan ikan basah. Silakan kita ambruk cak bagi membeli iwak!” Malin lain kuasa menolak. Ia dan istrinya berjalan menuju kapal penangkap ikan itu. “Minggir…minggir… Saudagar Malin mau suntuk…” pengenalan anak asuh buah Malin.

Mande Rubayah ibu Malin yang kebetulan sedang membantu para pengail terkesiap. “MALIN? Apakah aku tidak salah dengar?” Ain wanita itu mencari-cari dan hatinya berdesir, “Ya, benar. Itu Malin anakku!” Tak bisa menahan diri, ia berlari ke jihat Malin. “MALIN… MALIN Kundang anakku!!” teriak ibunya. Ia memeluk Malin karib-erat dan menangis. Malin terperanjat enggak kepalang, sira tak siap dengan keadaan itu. Istrinya menatapnya dengan heran, “Malin, bukankah kau bilang ibumu telah meninggal sejak kau kecil?”

Malin raba-rubu melepaskan diri dari pelukan ibunya. “Hei kau wanita bertongkat sendok, berani sekali kau menyebutku anakmu,” teriak Malin lantang.

Bunda terpana mendengar bacot Malin itu. “Malin anakku sayang… sudah lupakah kau pada bundamu sendiri?” sauk wanita itu.

Istri Malin berusaha mempersatukan keadaan, “Wahai Ibu, apakah Ibu bisa membuktikan bahwa Malin benar-benar anak Ibu?” tanyanya dengan santun.


Cerita Rakyat Malin Kundang
Narasi Rakyat Malin Kundang

“Semua orang di kampung ini tahu bahwa Malin adalah anakku. Namun jikalau kau tak berkepastian, cobalah periksa lengan kanannya. Ada bekas luka karena barometer ayam Datuk Firman. Bunda percaya kau masih ingat hal itu Malin,” prolog Bunda berbarengan menatap Malin ekstrem. Istri Malin kemudian memeriksa lengan kanan suaminya dan benar, ada bekas jejas di sana. Istrinya memandang Malin dengan sedih, “Malin, kenapa kau mengingkari ibumu seorang?”

“Istriku, kau harus percaya padaku. Ibuku sudah meninggal detik melahirkanku. Pasti Ibu ini tahu tentang jejas di lenganku, karena semua orang di sini senggang cerita itu,” kata Malin membela diri.

Setelah berfirman demikian, Malin mengajak istrinya pergi dari tempat itu. Mereka menaiki kapal. Bunda menangis tersedan-sedan langsung bersimpuh di pangkal kapal. “Malin anakku… jangan kau tinggalkan Bundamu kembali, Nak… Bunda sangat merindukanmu. Kaulah suatu-satunya harta Bunda di dunia ini,” ratapnya. Malin bergeming. Sambil memandang sinis ke bawah, ia meludahi ibunya. “Dasar orang tua tak luang diri, nekat sekali kau bersedia dan menerima seumpama ibuku!”

Lever wanita tua itu lindu sekali. Minus sadar, ia mengucap wirid, “Ya Tuhan, sadarkan anak hamba. Ia mutakadim mengingkariku andai ibu yang koneksi bersalin dan menyusuinya.” Seketika itu juga langit menjadi kelam clan hujan abu turun deras sekali. Petir menggelegar dan angin bertiup sangat kencang. Mendadak, petir menyambar tepat di depan kaki Malin. Ajaib, di tengah gemuruh hujan, tubuh Malin langsung kaku.

Mula-mula kakinya tak boleh digerakkan. Istrinya berteriak, “Malin, apa nan terjadi lega kakimu? Kakimu seperti batu!” Rupanya lain sahaja kakinya yang menjadi batu, perlahan- petak seluruh tubuhnya juga bintang sartan bencana. Malin sangat ketakutan. Engkau sadar ini merupakan hukuman Sang pencipta atas perbuatannya. “Bunda, ampuni aku. Tolong selamatkan aku Bunda…” teriaknya. Belaka semuanya sudah tercecer. Seluruh tuhuh Malin akhirnya bintang sartan gangguan.

Mulutnya menganga karena ia berteriak mohon ampun. Ibunya menangis, istri Malin pun menangis. Mereka berdua memeluk Malin yang sudah jadi arca.

Konon kabarnya, batu yang menyerupai Malin Kundang masih dapat ditemui di Pantai Air Manis, di sebelah daksina Ii kabupaten Padang, Sumatra Barat.

Pesan dari Kisah Rakyat Malin Kundang dari Sumatera Barat untukmu adalah hormati dan sayangi kedua orang tuamu, terutarna ibumu. Berkat doa merekalah kita dapat meraih keberuntungan.

Baca kisah lengkapnya pada link berikut ini : Cerita Rakyat Malin Kundang berpokok Sumatera Barat

Versi 6 : Kisahan Rakyat Sumatera Barat : Malin si Anak asuh Durhaka

Pada zaman dahulu di sebuah perdusunan nelayan Pantai Air Manis di daerah Padang, Sumatera Barat hiduplah seorang janda bernama Mande Rubayah bersama seorang anak laki-lakinya yang bernama Malin Bermanja. Mande Rubayah amat menyayangi dan mencintai Malin Bermanja. Malin adalah sendiri anak yang comar dan penurut.

Mande Rubayah sudah tua, anda hanya mampu berkarya sebagai penjual kue untuk mencupi kebutuhan dia dan anak tunggalnya. Suatu periode, Malin jebluk-sakit. Ngilu nan amat keras, nyawanya erat melayang doang balasannya ia boleh diseiamatkan-bernasib baik aksi keras ibunya. Setelah sembuh berpunca sakitnya dia semakin disayang. Mereka adalah ibu dan anak yang ganti menyayangi. Masa ini, Malin mutakadim dewasa sira meminang izin kepada ibunya cak bagi pergi merantau ke ii kabupaten, karena ketika itu madya suka-suka kapal besar merapat di Pantai Air Manis.

“Jangan Malin, ibu takut terjadi sesuatu denganmu di tanah rantau sana. Menetaplah sekadar di sini, temani ibu,” ucap ibunya trenyuh sesudah mendengar kehausan Malin nan ingin merantau.

“Ibu tenanglah, bukan akan terjadi apa-apa denganku,” kata Malin kontan menggenggam tangan ibunya. “Ini kesempatan Bu, kerena belum tentu setahun sekali cak semau kapal segara merapat di pantai ini. Aku ingin mengubah nasib kita Bu, izinkanlah” pinta Malin memohon.

“Baiklah, ibu izinkan. Cepatlah lagi, ibu akan selalu menunggumu Nak,” kata ibunya serempak menangis. Biar dengan berat hati akhirnya Mande Rubayah mengizinkan anaknya pergi. Kemudian Malin dibekali dengan nasi berbungkus daun pisang sebanyak tujuh basung, “Cak bagi bekalmu di perjalanan,” katanya sambil menyerahkannya pada Malin. Pasca- itu berangkatiah Malin Kundang ke lahan rantau meninggalkan ibunya sendirian.

Periode-perian terus berlalu, hari yang terasa lambat bagi Mande Rubayah. Setiap pagi dan sore Mande Rubayah memandang ke laut, “Mutakadim sampai manakah kamu berlayar Nak?” tanyanya internal hati sambil terus memandang laut. la selalu mendo’akan anaknya hendaknya selalu selamat dan cepat kembali.

Bilang waktu kemudian jika cak semau kapal yang datang merapat dia selalu menanyakan laporan tentang anaknya. “Apakah kalian mengintai anakku, Malin? Apakah anda baik-baik tetapi? Kapan ia pulang?” tanyanya. Namun setiap ia bertanya pada awak kapal atau nahkoda tak kombinasi mendapatkan jawaban. Malin tidak pernah menitipkan barang maupun pesan apapun kepada ibunya.

Bertahun-musim Mande Rubayah terus menyoal namun enggak pernah ada jawaban hingga tubuhnya semakin lanjut usia, waktu ini ia jalannya tiba terbungkuk-bungkuk. Sreg suatu waktu Mande Rubayah bernasib baik kabar dari kapten sangat mengapalkan Malin, nahkoda itu memberi keterangan bahagia lega Mande Rubayah.

“Mande, tahukah kau, anakmu kini telah menikah dengan dayang rupawan, putri koteng bangsawan yang sangat kaya raya,” ucapnya saat itu.

Mande Rubayah amat gembira mendengar hal itu, ia cak acap berdoa mudahmudahan anaknya selamat dan segera pun menjenguknya, binar keceriaan berangkat mengampirinya kembali. Hanya sampai berbulan-wulan semenjak ia menerima pesiaran Malin dari nahkoda itu, Malin bukan kunjung kembali untuk menengoknya.

“Malin cepatlah pulang kemari Nak, ibu mutakadim tua bangka Malin, kapan kau pulang…,” rintihnya pilu setiap malam. Anda berpengharapan anaknya pasti hinggap. Bersusila saja tak berapa lama kemudian di suatu waktu nan kilat dari kejauhan tertumbuk pandangan sebuah kapal yang gencar yang indah berlayar menuju rantau. Orang kampung berkumpul, mereka mengira kapal itu milik sendiri pangeran atau seorang pangeran. Mereka menyambutnya dengan gembira.

Ketika kapal itu mulai merapat, tertumbuk pandangan sekelamin anak akil balig berdiri di pesanggrahan. Gaun mereka berkilauan tertimpa cahaya matahari. Wajah mereka cerah dihiasi senyum karena bahagia disambut dengan meriah. Mande Rubayah lagi turut berdesakan mendekati kapal. Jantungnya berdebar keras detik melihat maskulin akil balig yang berpunya di kapal itu, ia sangat yakin sekali bahwa lanang mulai dewasa itu adalah anaknya, Malin Kundang. Belum sempat para sesepuh kampung menyandang, Ibu Malin lebih lagi lampau menghampiri Malin. la sekalian memeluknya erat, ia meleleh kekurangan anaknya lagi.

“Malin, anakku. Kau benar anakku ketel?” katanya menghambat sedu tangis karena gembira, “Mengapa serupa itu lamanya kau tidak memberi kabar?”

Malin terkejut karena dipeluk wanita jompo yang berpakaian compang—camping itu. Ia tak beriman bahwa wanita itu merupakan ibunya. Sebelum dia tahu berpikir bertutur, istrinya yang cantik itu meludah sewaktu berkata, “Wanita jelek inikah ibumu? Mengapa dahulu kau bohong padaku!” ucapnya satiris, “Bukankah dulu kau katakan bahwa ibumu adalah seorang bangsawan nan selevel denganku?!”

Mendengar introduksi-kata pedas istrinya, Malin Kundang langsung menyorong ibunya sebatas terguling ke ramal, “Wanita gila! Aku bukan anakmu!” ucapnya bergairah.

Mande Rubayah tidak berkepastian akan perilaku anaknya, kamu jatuh tercatak serempak berkata, “Malin, Malin, anakku. Aku ini ibumu, Nak! Cak kenapa kau bintang sartan seperti ini Nak?!” Malin Bermanja tidak memperdulikan bacot ibunya. Kamu tidak akan menerima ibunya. la malu kepada istrinya. Mengintai wanita itu gelesot hendak memeluk kakinya, Malin menendangnya sambil bertutur, “Hai, wanita gila! lbuku tidak sebagai halnya engkau! Melarat dan kotor!” Wanita tua itu terkapar di pasir, menangis, dan sakit lever.


cerita dongeng legenda malin kundang
cerita khayalan legenda malin kundang

Makhluk-orang nan meilhatnya masuk terpana dan kemudian pulang ke flat tiap-tiap. Mande Rubayah pingsan dan terbaring sendiri. Ketika beliau sadar, Pantai Air Manis sudah antap. Dilihatnya kapal Malin semakin menjarang. Kamu tak menyengaja Malin yang lalu disayangi tega berbuat demikian. Hatinya perih dan guncangan, terlampau tangannya ditengadahkannya ke langit. Ia kemudian berdoa dengan hatinya yang pilu, “Ya, Almalik, kalau memang dia bukan anakku, aku maafhan perbuatannya tadi. Tapi kalau memang sira bermoral anakku yang bernama Malin Kundang, aku mohon keadilanmu, Ya Almalik!” ucapnya pilu sambil menangis. Tak lama kemudian cuaca di tengah laut yang sediakala cerah, tahu-tahu berubah menjadi gelap. Hujan abu tiba-tiba turun dengan teramat lebatnya. Berangkat-mulai datanglah badai besar, menghantam kapal Malin Kundang. Laiu sambaran petir yang menggemuruh. Saat itu kembali kapal hancur berkeping- keping. Kemudian ki gandrung ombak mencecah pantai.

Esoknya saat surya pagi muncul di cakrawala timur, badai telah reda. Di kaki bukit terlihat lempengan kapal nan sudah lalu menjadi alai-belai. Itulah kapal Malin Bermanja! Tampak sebongkah batu nan menyerupai jasad manusia. Itulah tubuh Malin Kundang anak durhaka yang kena kutuk ibunya menjadi bujukan karena telah durhaka. Disela-sela batu itu berenang-renang iwak teri, lauk belanak, dan ikan tengiri. Konon, ikan itu berasal dari repih-repih tubuh sang amputan yang terus mencari Malin Kundang.

Sampai saat ini seandainya ada ombak besar menghantam provokasi-batu nan mirip kapal dan bani adam itu, terdengar bunyi seperti lolongan jeritan manusia, sekali-kali bunyinya seperti insan meratap menyesali diri, “Ampun, Bu…! Ampuun!” konon itulah suara sang Malin Kundang, anak asuh nan durhaka plong ibunya.

Pesan moral dari Cerita Takhayul Malin Kundang (Cerita Rakyat SumBar) ialah Hormatilah ibumu dan jangan perna mendurhakainya.

Baca kisah lengkapnya lega link berikut ini : Narasi Takhayul Malin Kundang (Kisah Rakyat SumBar)

Versi 7 : Cerita Rakyat Sumatera Barat: Malin Kundang

Alkisah hiduplah suatu keluarga yang lampau di perkampungan tepi laut Aia Manih. Anak bini itu terdiri semenjak ayah, ibu dan sendiri anak asuh lanang yang bernama malin kundang. Anak bini itu hayat n domestik kemiskinan. Ayah Malin Bermanja lantas memencilkan merevisi kehidupan keluarganya. Waktu terus berlalu, bertahun-tahun dilewati namun ayah Malin Kundang itu tidak juga kembali. Tidak ada juga kabar darinya, entah dimana keikhlasan ayah Malin Kundang Itu.

Ibu Malin Bermanja, Mande Rubayah namanya, mengambil alih peran ayah Malin Kundang bakal mencari kandungan. Ia berdagang kue nan dijajakan keliling. Uang jasa hasil penjualan kue itu digunakannya buat memenuhi kebutuhan hidup ia dan anak semata wayangnya. Keduanya nyawa dalam kemiskinan.

Sejak boncel Malin Kundang telah dikenal cerdas, pemberani dan asa nakal. Malin Kundang kerap mengganggu ayam jago, baik ayam miliknya sendiri maupun mandung kepunyaan tetangganya. Dikejar-kejarnya mandung itu dan dipukulnya dengan sapu. Mande Rubayah suntuk menyayangi Malin Kundang. Sebagaimana sebaliknyam,Malin Bermanja sangat mencintai ibunya.

Umur miskin nan dialami Malin Bermanja membuatnya cak hendak meninggalkan merantau. Menurutnya, seandainya engkau berakibat kerumahtanggaan perantauannya tubin, anda dan ibunya enggak sekali lagi harus hidup dalam kemiskinan. Ibunya tidak harus gelintar untuk menjajakan kue.

Ibu Malin Kundang sebenarnya lain setuju dengan bagan Malin Kundang untuk merantau. Dia tidak kepingin keadaan yang menjangkiti suaminya dahulu terulang pada anaknya itu. Namun Malin Bermanja memaksa dan memarginalkan. Ibu Malin Kundang akibatnya mengizinkan biar dengan berat lever. Pesannya,” Jika dia sudah berhasil segeralah engkau juga. Sekali-bisa jadi janganlah engkau menelantarkan Bundo dan kampung halamanmu ini.”

“Aku menghapuskan Bundo? Bagaimana mungkin aku bahaduri melakukannya? Tidak sekali-boleh jadi!” tegas Malin Bermanja.” Justru aku bertujuan menghindari marantau ini agar Bundo dapat hidup senang dan berbintang terang, lain berkutat internal kefakiran seperti yang kita alami selama ini. Sungguh, akan menjadi anak durhaka aku ini jika dakar mengalpakan bundo!”

Dengan berbekal tekor uang dan tujuh bungkus nasi, Malin Bermanja memulai pengembaraannya. Gembiralah hati Malin Kundang ketika mendapati ada kapal dagang nan paruh berlabuh di pantai Aia Manih dan bertambah-tambah kebahagiaannya momen nakhoda kapal memperbolehkannya bikin turut menumpang intern kapal itu.

Kejadian yang memerangahkan dialami Malin Kundang. Kapal dagang nan ditumpanginya itu diserang kapal bajak laut. Malin Bermanja bersembunyi di ira kecil nan tertutup timbunan tiang. Saja dirinya saja yang selamat momen para perompak itu meninggalkan kapal bisnis itu seraya mengirimkan seluruh isi kapal dagang yang mereka rampok.


Cerita Dongeng Malin Kundang
Cerita Dongeng Malin Kundang

Malin Bermanja terkantung-kantung sendirian di tengah laut. Dipasrahkan nasibnya sepenuhnya kepada halikuljabbar. Ombak laut risikonya mendamparkan kapal dagang nan dinaiki Malin Kundang ke sebuah tepi laut. Malin Kundang bepergian cenderung desa terdekat dan mendapat habuan pertolongan makhluk-orang desa itu. Malin Kundang lantas sangat di desa yang subur itu.

Malin Bermanja kemudian bekerja merawang di desa itu. Apapun yang bisa dikerjakannya akan dikerjakannya. Ia bekerja dengan besar perut dan sangat hemat. Sebagian samudra uang nan didapatkannya itu ditabungnya. Saat uang tabunganna mutakadim cukup banyak, Malin Bermanja lantas berdagang. Kamu membeli barang dan menjualnya dengan mencekit keuntungan yang lain banyak. Orang-hamba allah doyan membeli dan menjual barang kepadanya karena Malin Kundang dikenal mustakim.

Penggalasan yang dilakukan Malin Bermanja terus mengalami perkembangan yang sangat menggembirakan. Terus membesar saja usahanya. Malin Kundang tidak tetapi bergerai di desa gelanggang tinggal nya saja, cuma juga ke desa-desa lain. Bahkan, kesannya kamu melaksanakan penggalasan antar pulau juga. Ia melaksanakan ekspor impor itu dengan menyewa kapal. Terus membesar usaha dagangnya sehingga dia mampu membeli kapal dagangnya koteng. Makin bertambah maju usaha dagangnya sehingga dia mampu membeli kapal niaga nan lain. Malin Kundang pun dikenal sebagai pedagang ki akbar yang berdampak. Lebih dari seratus orang bekerja kepadanya. Gana Malin Kundang amatlah banyak. Tidak suka-suka cucu adam di desa itu yang mampu mengalahkan kekayaan Malin Bermanja. Sira lantas menikah dengan gadis tercantik di desa itu nan juga bermula berpangkal keluarga kaya raya.

Di perkampungan Aia Manih ibu Malin Bermanja terus menunggu kedatangan anaknya. Setiap ada kapal yang merapat di pelabuhan, ia senantiasa berharap anak asuh tercintanya itu berada di intern kapal tersebut. Namun, anak tercintanya itu tidak juga terbantah. Lain terserah pula kabar dari Malin Kundang. Entah dimana anaknya itu berada. Mande rubayah enggak mengetahuinya. Terbersit juga ketakutannya jika nasib anaknya itu akan seperti mana semangat suaminya.

Waktu terus ajal. Satu hari dia mendengar berita yang tlah bertahun-periode ditunggunya. Anak tercintanya telah kembali. Sangat mengejutkan berbarengan membanggakannya, anak tercintanya pulang mendaki kapal milinya seorang.

Mande rubayah segera pergi ke pelabuhan. Tidak terkirakan gembira dan bahagia hatinya ketika dia mengintai sebuah kapal yang besar serta berkecukupan tengah bersandar dipelabuhan. Detak jantung Mande Rubayah dirasanya kian cepat saat mendapati anaknya berdiri diatas geladak kapal disamping seorang upik yang diyakininya adalah menantunya. Betapa gagahnya anaknya itu mengenakan pakaian yang terlihat indah gemerlap. Taajul ia mempercepat persiapan kakinya menentang kapal itu.

Malin Kundang menuruni kapal.

Mande Rubayah yang menyangka anaknya datang menjemputnya segera menghampiri dan memeluk anak yang dirindukannya itu.”Malin Kundang anakku,” pembukaan Mande Rubayah.” Cak kenapa engkau menghindari begitu lama tanpa pertalian berikirim maklumat kepada ibumu.”

Malin Kundang sesungguhnya sadar dan memafhumi jika nona tua lontok yang memeluknya itu adalah ibu kandungnya. Namun, saat itu ia disergap rasa sipu yang asing biasa bagi mengamini. Dihadapan cem-ceman dan bersama-sama anak buahnya, kamu sipu mengakui dara tua berpakaian kumal itu ialah ibu kandungnya. Maka katanya,” Hei perempuan tua berpakaian kelambur, siapakah engkau ini hingga berani beraninya engkau memelukku.”

“Malin barang apa katamu?” amat tergegau Mande Rubayah mendengar mulut anaknya.”Tidakkah engkau bisa mematamatai jika aku ini ibumu? Aku ibu kandungmu, Malin! Mengapa ia berkata seperti itu?”

“Hei putri tua! Berani beraninya ia mengaku umpama ibuku!” introduksi Malin Kundang seraya berkecak pinggang.” Aku tidak n kepunyaan ibu seperti engkau ini! Jangan engkau merampus mengaku! Buru-buru engkau tinggalkan kapalku ini!”

Istri Malin Kundang turut mencoba menyadarkan.” Kanda, perhatikan silam baik-baik, jangan terburu-kejar mengusir. Apakah etis perawan renta ini ibu kandungmu?”

“Ibu kandung? Cis! Bukan! Engkau enggak ibuku! Ia hanya seorang pengemis jompo jompo yang bersedia dan menerima aku sebagai anaknya karena mengetahui aku ini seorang yang kaya raya!”

“Malin!” Teriak Mande Rubayah.

Malin Kundang benar-bersusila mutakadim haram mata sampai mendorong tubuh ibu kandungnya runtuh terjerembab.” Pergi beliau dari kapalku ini! Pergi jauh-jauh!”

Lain terkirakan kepiluan hati Mande Rubayah, menemui perlakuan keji anak kandungnya. Sama sekali tidak disangkanya jika momongan kandungnya sejenis itu buruk perlakuannya terhadapnya. Anak kandung itu bukan hanya menolak mengakuinya sebagai ibu kandung, melainkan berani menganiyayanya dengan mendorong tubuhnya terjerembab. Dengan hati remuk redam, Mande Rubayah anjlok dari kapal bakir nasib baik Malin Kundang. Seketika ia sebatas di persil, ia pun menengadahkan ke arah langit dan meluncurlah doanya kepada Halikuljabbar. “ Ya Tuhan sekiranya lanang yang tidak mengakuiku sebagai ibu kandungnya dan mendorongku hingga roboh itu benar-benar Malin Kundang, maka aku sumpahi dia menjadi gangguan.”


Cerita Dongeng Malin Kundang
Narasi Takhayul Malin Kundang

Beberapa momen kemudian kapal besar sekali lagi mampu itu mengangkat jangkar untuk kembali melaut. Langit tertumbuk pandangan kilat, angin bertiup kecil-kecil. Kapal sedikit demi meninggalkan pelabuhan membawa Malin Bermanja, si anak asuh durhaka yang sudah lalu jantan mengamalkan keji terhadap ibu kandungnya itu. Seketika terjadilah sesuatu yang bukan diduga. Angin badai datang tahu-tahu dan menghantam kapal raksasa peruntungan Malin Kundang itu. Semacam itu kencang dan dahsyatnya angin badai itu menghantam, kapal besar lagi mewah peruntungan Malin Kundang seketika itu hancur cerai-berai. Setelah itu, sedikit demi raga Malin Kundang menjadi kaku hingga jadinya menjadi batu.

Kutukan Mande Rabayah terhadap anaknya itu telah terwujud. Momongan durhaka itu telah berubah menjadi godaan.

Wanti-wanti Moral berasal Dongeng Kisah Cerita Rakyat Sumatera Barat Malin Kundang ialah “Durhaka terhadap Ibu akan menyebabkan Sang pencipta berang sebatas spirit pelakunya akan sengsara. Baik di mayapada maupun darul baka”

Baca narasi lengkapnya puas link berikut ini Cerita Rakyat Sumatera Barat: Malin Kundang

Posting Terkait Lainnya

  • Cerita Khayalan Bawang Biram Bawang Putih dari Sumatera Barat
  • Koleksi Takhayul Legenda Nusantara : Putri Kemarau
  • Cerita Rakyat Padang Sabai Nan Aluih (Dongeng Sumatera Barat)
  • Takhayul Narasi Umbi lapis Tahir Dasun Merah
  • Cerita Rakyat Sumatera Barat Danau Singkarak
  • Kisah Takhayul Rakyat Sumatera Barat : Pak Lebai Malang
  • Kisah Rakyat Berusul Sumatra Barat : Legenda Danau Maninjau
  • Kisah Rakyat Sumatra Barat : Dasar Usul Minangkabau
  • Cerita Rakyat Dari Sumatera Barat : Haud Singkarak

Source: https://dongengceritarakyat.com/cerita-rakyat-malin-kundang/