Cerita Sex Majikan Dan Pembantu

Cerita Dewasa – Majikan dan Pembantu

Narasi Dewasa – Kisah ini terjadi sekitar tiga bulan sehabis Sherin mengalami mimpi buruknya dengan Imron, si penjaga kampus bejat itu. Detik itu adalah lima masa menjelang Lebaran, Sherin mutakadim tiga hari di kondominium tanpa hamba allah tuanya karena keduanya sedang ke asing kota menghadiri akad nikah famili.

Tinggallah dia di rumah yang besar itu dengan dua hamba allah pembantunya Ning Jum dan Mbak Narti serta seorang pandai kebun tua lontok, Pak Udin. Sebenarnya ada seorang pembantu pun, Mbuk Milah tapi dia sudah minta ijin mudik sehari sebelum kedua manusia tuanya berangkat.

Hari itu jam sepuluh pagi, Mbak Jum dan Narti pun berpamitan pada Sherin lakukan mudik, Sherin sebelumnya memang sudah diberitahu hal ini oleh mamanya dan dititipi sejumlah uang bagi mereka. Maka Sherin pun menyerahkan kedua amplop mandraguna uang itu kepada mereka sebelum mereka meninggalkannya.

“Cepetan balik yah Mbakyu, saya sendirian nih jadinya !” pesan Sherin.
“Non nggak usah takut kan disini masih ada Pak Udin, oh iya makanan untuk siang kelak Embuk udah siapkan di meja, takdirnya dingin masukin oven aja yah” alas kata Mbakyu Narti.

Akhirya kedua wanita itupun menginjak. Sherin sebenarnya sangkil risih di flat sahaja empat mata dengan Cangkang Udin, lebih-lebih masih belum hilang dari ingatannya kenangan pahit diperkosa mantan sopirnya, Nurdin dulu.

Sira ingin menamai pacarnya Frans untuk menemaninya, namun sayang perjaka itu baru start bersama keluarganya ke Singapura kemarin.

Hanya ia agak puas karena menurutnya Pak Udin bukanlah pria berbahaya begitu juga mantan sopirnya itu, dia adalah adam berumur lanjut, 67 periode dan orangnya cukup bersusila, kalau berpapakan selalu menyapanya sungguhpun seringkali Sherin cuek karena sedang buru-buru atau enggak plus memperhatikan.

Ia baru bekerja di rumah congah itu sebulan yang lampau menggantikan ahli tegal sebelumnya, Kemasan Maman yang mengundurkan diri setelah istrinya di kampung meninggal. Setelah mengantarkan kedua pembantunya hingga ke gerogol, Sherin kembali ke dalam dan masuk ke kamarnya.

Di sana beliau mengganti bajunya dengan busana fitness yang seksi, atasannya berupa kaos hitam tanpa lengan yang menggantung ketat hingga bawah dada sehingga memperlihatkan perutnya yang merangsang, belum lagi keketatannya menonjolkan bentuk dadanya nan membusung indah, provisional bawahannya berupa serawal pendek yang mengebat paha hingga dasa centi diatas lutut.

*** Cerita Dewasa ***

Setelah menggerutu rambutnya ke pinggul, beliau segera jebluk ke asal menuju ruang fitness di belakang rumah. Ruang itu berukuran sedang dengan dilapisi karpet kelabu, beberapa peralatan fitness tersedia disana sebagaimana treadmill, training bike, gawai multi gym, sebatas yang kecil-kecil begitu juga abdomenizer dan barbel.

Ruang fitness tanggungan ini memang layak lengkap, disinilah Sherin sering berolahraga menjaga kesegaran dan kerangka tubuhnya.

Sebelum mulai berolah jasmani Sherin menyalakan CD playernya dan terdengarlah musik R&B beriak dari speaker nan terbentang pada dua sudut ruangan itu. Sherin memulai tuntunan hari itu dengan treadmill, kira-tebak dua desimal menit lamanya dia melanglang di atas papan treadmill itu lalu dia berpindah ke perangkat multi gym.

Disetelnya perkakas itu menjadi mode sit up dan mulailah dia mengangkat-angkat badannya melatih perut sehingga bukan heran sekiranya ia punya perut yang demikian rata dan mulus. Permakluman keringat mulai meletis tubuh pemudi itu, semenjak kening dan pelipisnya keringatnya menitis-netes.

Tiba-menginjak Sherin merasa dirinya ada yang sedang mengintai, dia menggondol pandangannya ke arah bab makzul yang setengah terbuka dimana dilihatnya Buntelan Udin, si pakar ladang itu semenjana agak gelap memandangi dirinya.

“Heh…ngapain Bapak disitu !?” hardik Sherin yang berang atas kelancangan Pak Udin nan turut nyuruk itu.
“Nggak Non, abis nyiram tanaman aja kebetulan lewat sini ngeliat Non pula olahraga” jawab pria itu.

“Ga sopan banget sih, masuk diem-diem gitu, keluar !!” bentak Sherin berbarengan menundingnya.

Sherin menginjak merasa lain lemak dan samar muka ketika mengawasi adam tua renta itu bukannya pergi malah diam doang menatap padanya adv amat berekspansi senyum.

Enggak, peristiwa seperti silam tak boleh terjadi pula demikian pikir Sherin, lagipula dia hanya koteng pria tua, boleh segala apa anda terhadapnya, seburuk-buruknya peluang juga paling melarikan diri dan si gaek itu lain mungkin tenaganya cukup untuk mencari.

“Bapak tiba rendah jaga yah” Sherin marah dan berdiri menghampirinya, “denger gak tadi saya bilang keluar !?”

“Keluar ya keluar Non, tapi ngomongnya baik-baik dikit dong, radiks lonte” kata Cangkang Udin.
Kedua introduksi umpatan terakhir itu memang diucapkan Selongsong Udin dengan suara kecil, cuma Sherin dapat mendengarnya sehingga kontan darahnya pun semakin naik.

“Hei…omong apa tadi ?! Keluar sana, cepat beresin barang Bapak, Buya saya pecat sekarang juga, dasar orang tua ga tau diri !” Sherin membentaknya dengan lalu marah.
Pak Udin tentu semata-mata kaget karena umpatannya terdengar sehingga memepas kemarahan nona majikannya itu, tapi sepemakan saja senyumnya mengembang pula.

*** Cerita Dewasa ***

“Lho kenapa emangnya Non, emang bener centung kata saya tadi, sama penjaga kampus dan sopir aja Non cak hendak cerek ?” ujarnya enteng.

Mendengar itu Sherin langsung merasa begitu juga terserah belati dilempar tepat mengenai dadanya, dia langsung mati tungau dan terdiam selama beberapa detik, rasa takut pun mulai melingkupi dirinya.

“Jangan ngomong menyerampang yah, saya telepon boke alias polisi sekiranya mesti kalau Bapak neko-neko !” gertaknya berbarengan meliputi kegugupan.
“Ya silakan Non, telepon aja, ntar juga saya laporin Non jalinan ada main sama sang Nurdin dulu, terus sederajat penjaga kampus Non juga”

Kemudian laki-laki tua itu mulai mengklarifikasi bagaimana dia mengetahui kecabuhan-cerapan seksualitas upik itu yang ternyata didapatnya terbit Nurdin, tamatan sopirnya, yang juga tidak tak adalah kemenakan pria itu.

Sherin diam seribu bahasa, rasanya rengsa sekali membayangkan segala apa yang akan terjadi selanjutnya. Pak Udin sangat menuju Sherin nan berdiri terpaku, tangan keriputnya menyandang kedua lengannya yang mulus.

Sherin tak bereaksi, batinnya mengalami konflik, kamu terkadang tidak mau melayani nafsu pria seusia kakeknya ini, namun apa daya karena pria ini telah mengetahui aibnya yang dipakainya sebagai alat mengintimidasinya.

Tangan pria itu mulai menyapu lengannya sehingga menyebabkan rambut kuduk gadis itu spontan berdiri merasa jijik dan jijik. Tangan kanannya naik membarut-barut pipinya lalu ke birit kepalanya menarik jaras rambutnya sehingga tergerailah rambut indahnya yang seminggu terlampau baru diluruskan dan dihighlight kemerahan.

“Elok, bener-bener cakap !” gumam Pak Udin mengagumi kecantikan Sherin, “Cuma camar sifatnya jelek !” sambungnya sambil mendorong tubuh dayang itu sampai jatuh tersungkur di keramik berkarpet.

“Aaaww !” pekik Sherin, namun sebelum dia tahu bangkit pria itu sudah lalu lebih dulu meraih kedua lengannya, mengangkatnya ke atas kepala dan menjepit kedua pergelangannya dengan tangan kiri sementara tangan kanannya menyibak kaos fitnessnya sehingga payudaranya nan tahir montok berputing kemerahan itu terekspos.

Alat penglihatan Pak Udin melotot seperti ingin copot melihat ketampanan kedua dolok itu. Tatapan alat penglihatan itu membuat Sherin bergidik melihatnya.

*** Cerita Dewasa ***

“Dasar anak jaman sekarang, udah bintang sartan lonte aja masih suka belagu !” pembukaan Selongsong Udin sewaktu meronyokkan susu kirinya dengan gemas. “Tau gak, Buya sebenernya kasian ngedenger si Nurdin cerita akan halnya Non itu, saya sempat tegur dia, terus saya pikir Non sekali lagi udah bertobat, tapi selama saya kerja disini ternyata masih gitu-gitu aja.

Non tetap sombong dan suka marah-berang ke pembantu sebagai halnya kita, emang Non pikir kita ini segala apa sih !?” pria itu dengan keras memarahinya.
“Jangan Pak, jangan begitu !” kata Sherin dengan suara bergetar.

Sementara Paket Udin terus mengagumi kedua tetek Sherin nan mengecewakan itu, tangan kanannya terus berpindah-pindah meremasi kedua susu itu. Sherin koteng menggeliat-geliat dan meronta tapi kuncian Kelongsong Udin puas pergelangan tangannya patut kuat.

Senggolan tangan keriput itu lega payudaranya mulai menimbulkan persepsi aneh, darahnya bergolak dan nafasnya berangkat enggak teratur.

“Cewek kaya Non gini emang harus dikasih pelajaran cak agar tau diri dikit, sinkron Bapak lagi mau ngerasain kuntum rupawan mumpung masih semangat hehehe !” katanya terkekeh-kekeh.

“Aahh…sshhh….nngghh !” desah Sherin saat ucapan Pak Udin melumat payudaranya, lidahnya yang semok itu sekaligus mencelakakan putingnya yang sudah lalu mengeras.
Sherin mendalam tak berdaya detik itu karena nikmatnya, dia sudah perlu mengalami pelecehan sejak menjadi budak seks Imron sehingga nafsunya dengan cepat naik walau bercampur perasan benci plong orang-anak adam yang mengerjainya.

Serta merta masih mengapit pergelangan dan menciumi susu nona majikannya, maskulin renta itu menyelundupkan tangan satunya ke lancingan pendek itu. Telapak tangannya menyentuh vagina perawan itu yang ditumbuhi rambut-surai lebat.

*** Kisah Dewasa ***

Tubuh Sherin berkelejotan dan mulutnya mengeluarkan desahan detik ganggang pria itu menyentuh bibir vaginanya dan start mengakas liangnya, Sherin merasakan kawasan itu semakin basah namun. Bungkusan Udin tersenyum plong mengaram roman terangsang Sherin yang bersemu merah.

Merasa Sherin sudah tungkul dan tidak memberontak lagi, lanang itu start mengkhususkan kunciannya pada pergelangan perempuan itu. Setelah melepas kunciannya tangannya berbarengan menyentak lepas kaos fitness yang tersingkap itu sehingga takhlik upik itu topless. Keringat bagaikan embun membasahi awak episode atasnya hasil dari fitness barusan.

Sherin hanya bisa serah, matanya nerawang menatap langit-langit sambil sesekali mengejapkan-melek menahan nikmat. Tuturan Kelongsong Udin kini merambat naik ke lehernya provisional kedua tangannya tetap bekerja meremas payudaranya dan mengobok-obok di balik celananya.

Sherin membuang cahaya muka detik pria itu mencoba menunjang bibirnya, terus terang kamu enggan dicium oleh jompo ini, melihat giginya yang mulai rebes dan hitam-hitam semata-mata jijik malar-malar dicium. Dua bisa jadi ia mendilak ke kiri dan kanan sampai akhirnya Pak Udin bertelur mencagut bibirnya yang indah itu.

Dia menggeleng-gelengkan komandan berusaha absolusi, tapi ketika itu laki-laki itu mengistimewakan jari tengahnya pada klitoris nan telah berhasil ditemukannya sehingga otomatis pemiliknya mendesah dan mulutnya membuka. Saat itulah lidah Pak Udin menyeruak masuk dan langsung menyapukan lidahnya di dalam mulut.

Momen Pak Udin melumat bibirnya, Sherin memejamkan netra menahan jijik, bukan main bukan labium Selongsong Udin yang sudah keriting itu sedang beradu dengan bibirnya nan kerdil dan tipis.

Semula kamu menanggapi ciuman tukang kebunnya itu dengan pasif, tapi karena serangan-serbuan pria itu lega negeri lainnya patut gencar dan menciptakan menjadikan birahinya semakin bergolak, lidah Sherin start ikut bergerak beradu dengan alat perasa garang pandai kebunnya itu.

Selama tiga menit lamanya Pak Udin menindih tubuh anak majikannya itu sambil menciumi dan menggerayangi tubuhnya. Pria itu merasakan jemari-jarinya makin basah makanya lendir terbit kemaluan pemudi itu. Kemudian Buntelan Udin melepas ciumannya, air ludah mereka nampak saling melelai ketika bibir keduanya bubar.

Berikutnya dia menghela lepas celana singkat Sherin beserta seluar dalamnya. Dia bangkit takut minus melepaskan pandangan matanya yang munjung nafsu itu pecah tubuh telanjang perempuan majikannya.

Dia tiba melepaskan kemeja lusuhnya memperlihatkan tubuhnya yang hitam kerempeng lalu dia beber celananya sehingga terlihatlah penisnya yang sudah tegang, bentuknya lumayan panjang, pangkalnya ditumbuhi bulu-rambut yang sepotong memutih.

Kelongsong Udin memapah Sherin silam membaringkannya di radas sit up, sebuah podium yang merembas membuat sudut 45 derajat dengan lantai. Pria itu berjongkok di depannya dan membuka kaki gadis itu.

Wajahnya mendekat hingga bubar namun sepuluh centi berusul vagina putri itu, matanya menatap nanar kemaluan yang beruban tebal dengan penggalan tengah yang memerah itu.

Sherin memalingkan wajah ke samping dan memejamkan indra penglihatan, dia merasa malu diperlakukan demikian, namun sekali lagi ada seperti rangsangan aneh yang membuatnya merasa seksi. Dia bisa merasakan dengus nafas pria itu menerpa vaginanya dan menambah cerapan nikmat.

“Ooohh…Paakk !” Sherin mendesau panjang spontan menggenggam karib pencahanan alat itu ketika lidah Pak Udin menyapu bibir kemaluannya.

Demikian lihainya ucapan ompong Pak Udin menjilati dan menyedot vagina Sherin sampai membentuk gadis itu menikmatinya. Sherin mendesis-desis dan kakinya mengejang, beliau start berani melihat ke dasar dimana selangkangannya menengah dijilati dan dihisap-hisap oleh pria tua itu.

Lidah Sampul Udin bergerak dengan lincah, kadang dengan gerakan lambat, kadang cepat, kadang menjilati memutar di daerah itu sehingga sonder disadari Sherin merasa sano ke awang-awang, tanpa disadari tangannya meraih tangan Pak Udin dan meletakkannya pada payudaranya, tangan kerut itupun langsung berkreasi meremas dan memilin-milin putingnya.

Pasca- setengah jam lebih sedikit, jasad Sherin mengejang hebat, cairan orgasme meleleh pecah liang vaginanya.

*** Cerita Dewasa ***

“Aahh…oohhh…!” Sherin mengebah panjang dalam orgasme pertamanya dengan si pakar kebun itu.

Pak Udin sengaja menghentikan jilatannya untuk mengamati lendir vagina kuntum itu yang membanjir sampai menitik ke saduran kulit lega organ fitness itu. Sebuah senyum mesum tergurat plong durja tuanya, sepertinya sira senang sekali berhasil menaklukkan dayang majikannya seperti ini.

“Huehehe…edan banjir gini, Non juga konak yah, Buya suka banget setara mem*k Non, hhhmhh…ssllrrpp !” Paket Udin mengakhiri introduksi-katanya dengan menghirup lendir vagina upik majikannya.

Mulutnya hingga menyedoti bibir vagina amoi itu sehingga takhlik tubuhnya makin mengejang dan menambah gurih orgasmenya.
“Hhmm..lezat yah rasa pejunya, Bapak udah lama nggak ngerasain seperti ini !” gumamnya sambil terus menghirup cairan orgasme Sherin.

Gairah Sherin dengan cepat bangkit kembali karena Pak Udin terus menjilati vaginanya dan menggelojoh enceran orgasmenya hingga habis menyisakan bercak ludah di wilayah selangkang gadis itu.

Gairah itu menghapus sementara rasa marah dan risi yang sebelumnya melingkupinya, entah mengapa beliau kini merasa ingin pelir lelaki tua lontok ini lekas menusuk vaginanya.

Jantung Sherin semakin berdebar-debar ketika superior penis pria itu mengaras bibir vaginanya. Nuraninya memaui mudah-mudahan dirinya memberontak dan mengalir perlahan-lahan, tapi tubuhnya yang berkata enggak malah menggerakkannya buat membuka kakinya lebih bogok.

Dia mengaram jelas bagaimana butuh pria itu memasuki vaginanya juga ekspresi puas di wajah tuanya karena berbuntut menikmati awak perempuan cantik nan baru pernah dirasakan seumur hidupnya.

*** Cerita Dewasa ***

“Hhsshhh…enngghh…berpenyakitan…mek Non seret…banget !” gumam juru ladang itu disela-sekedup nafasnya yang memburu.
“Ahhh…Pak Udin…ooohh !” rintih Sherin menahan nikmat saat titit itu mulai bersirkulasi gisil dinding vaginanya.

Paket Udin berangkat menggenjoti vagina nona majikannya itu dengan kecepatan lebih meningkat tapi bukan sebrutal Imron ataupun sopirnya dahulu karena faktor atma.

Pak Udin pun nampaknya ingat akan hal ini sehingga beliau tidak mau menggenjotnya terlalu cepat agar enggak terlalu menghamburkan tenaga dan dapat menikmati kenikmatan selit belit ini kian lama. Sherin seorang start terhanyut maka itu gaya Pak Udin nan khas itu.

Tanpa disadari ia menggerakkan jasad babak bawahnya menyambut hujaman-hujaman penis Sampul Udin.

Netra laki-laki lanjut usia itu menatap kedua payudaranya yang turut berayun-goyang mengajuk goyangan tubuhnya sehingga dia lain bisa menghambat diri untuk tidak menjengukkan tangan kanannya meremasi benda itu sambil tangan yang satunya tetap menyangga lutut kuntum itu.

Sherin nampak meringis-ringis dan mendesah sambil kadang kala menggigiti bibir bawah atau tangannya yang terkepal.

“Balik Non, nungging !” perintah pria itu setelah 20 menitan kerumahtanggaan posisi yang sepadan.
Sherin sekarang berpijak dengan kedua lututnya dan tangannya bertumpu pada alat sit-up itu. Adam itu mengembangkan sedikit kakinya adv amat kembali memasukkan penisnya ke lubang senggama perempuan itu yang mutakadim licin oleh lendir.

Sherin merasakan sodokan pakar kebunnya ini kini terasa lebih berkapasitas dan lebih dalam sehingga tubuhnya lebih terguncang ketimbang sebelumnya.

Sambil menggenjot, kedua tangan keriputnya pula menggerayangi sepasang payudara nan menggantung itu. Kritik tubrukan antara pantat Sherin dengan pangkal paha pria itu bercampuran dengan musik irama R&B yang masih bergelombang dari CD player.

“Aarhhh…terus Non, gegar terus !” erang lanang itu dengan suara parau.
Bagaikan pemudi yang mutakadim berpengalaman soal seks, Sherin tahu bahwa bajingan tua bangka ini mutakadim ingin klimaks. Maka sira pun merespon dengan menggoyangkan pinggulnya lebih cepat.

Benar saja, tak lama kemudian kamu merasakan adanya siraman hangat di privat vaginanya. Pria itu mengerang menikmati spermanya mengisi rahim anak gadis majikannya tersebut. Genjotannya lebih menurun kecepatannya sebatas kesudahannya cak jongkok dan penisnya tercabut.

Akhirnya pria wreda itu duduk unjur di tegel dengan nafas kapah. Sherin plus seksi baginya sehingga dia menggenjotnya terlalu bernafsu di saat-saat terakhir sehingga tenaganya banyak terkuras.

*** Cerita Dewasa ***

Sherin buru-buru memunguti pakaiannya dan keluar dari ruangan itu setelah justru dulu mematikan cd-player. Ia menatap kesal lega lelaki itu ketika melintas di depannya sementara Buntelan Udin sendiri sekadar tersenyum puas kontan mengatur nafasnya yang masih putus-putus.

Sherin kontan masuk ke kamarnya dan membanting pintu serta menguncinya. Terbatas ajar sekali tua bangka ini, marahnya, tidak disangka si wreda itu ternyata adalah paman pecah mantan pengemudi yang pernah mempecundanginya terlampau.

Saat ini dirinya telah jatuh dalam kontrol bajingan tua ini tanpa boleh berbuat barang apa-apa karena dia memegang kartu trufnya. Setelah air di bathtub penuh, Sherin menaburkan sabun ke dalamnya hingga berbusa adv amat dia ikut ke kerumahtanggaan dan membasuh tubuhnya bersumber hajat-sisa koitus.

Rasa lelah berpokok berolah tubuh dan persetubuhan tadi membuatnya merasa ngantuk di privat air panas kuku yang memberi kenyamanan itu sehingga tanpa terasa dia mulai tertidur di bagaikan. Kian berpunca setengah jam kemudian barulah dia terbangun karena ponselnya yang diletakkan di pinggir bathtub berbunyi.

Sira lekas menggotong telepon berpunca mamanya yang melansir mereka esok sore plonco pulang dan mengamanatkan agar jaga diri di flat, dan jangan lupa rahasia flat yang benar. Alangkah dongkolnya Sherin karena dengan demikian penting dia tidak bisa mengeluarkan diri dari Selongsong Udin sebatas nanti dan masih harus iklas dikerjai orang tua itu.

Diapun angot dan keluar bermula seumpama menyudahi mandinya. Setelah mengeringkan fisik dengan handuk dipakainya sebuah kaos longgar warna lazuardi dan celana singkat. Jam sudah menunjukkan pengetuk sepoteng dua ketika itu, diluar sana syamsu semenjana terik-teriknya. Sherin merasa perutnya telah berbunyi minta diisi.

Dibukanya pintu invalid dan melongokkan atasan keluar melihat situasi, sepi…Pak Udin sepertinya madya di pantat sana. Maka dia pun keluar dari kamar merentang ruang makan. Setelah menyendok nasi ke piringnya, dibukanya tudung saji yang menghampari makanan di atas meja makan dan diambilnya lauk secukupnya.

Sepuluh menit kemudian, engkau kembali selesai makan, suntuk dibawanya piring dan gelas bekas itu ke tempat cuci piring. Selagi mencuci piring, seketika beliau merasa sebuah tangan mendarat di pantatnya lalu meremasnya. Spontan diapun menjungkalkan badannya dan menepis tangan itu.

*** Cerita Dewasa ***

“Tekor jaga !” omelnya dengan wajah cemberut.
“Siang Non, udah sadar yah, asyik kan tadi ?” goda Pak Udin sederum cengengesan.

Muka Sherin langsung berma padam mendengarnya, memang tak dapat dipungkiri lamun tindakan laki-laki ini bisa digolongkan misal pemerkosaan dan mengotorkan harga dirinya namun kamu seorang juga menikmatinya. Cak hendak rasanya menghantamkan piring di belakangnya ke kepala tua bangka ini hingga bocor, tapi nyalinya bukan sebesar itu.

Dia hanya bisa menepis tangan pria itu momen hendak meraba dadanya lalu bersendar kesal sambil melengos meninggalkannya. Tak lama kemudian terdengar suara miring pintu dibanting berasal kamarnya. Pak Udin sendiri cuma tertawa-tawa melihat reaksi dara majikannya itu.

Di kamar Sherin menyetel cd-playernya keras-persisten sambil menggelorakan sebatang rokok lakukan memudahkan kekesalan pada ahli kebunnya nan brengsek itu. Setelah rokok itu dahulu setengah batang, tiba-tiba terdengar ketukan di gerbang. Dia kecilkan sedikit piutang cd-playernya lalu menyingkapkan pintu.

“Ngapain lagi sih Cangkang ?!” ujarnya ketus.
“Walah…jangan judes gitu dong Non, ini Buya cuma konak pun nginget yang barusan, kita main lagi cak sedikit mari Non, mumpung cuma kita duaan disini” sahut Pak Udin.

“Nggak ah, tadi teko udah…pergi sana !” tolak Sherin dengan kesal seraya menutup pintu.
“Ayo dong Non jangan gitu ah…sebentar aja, tadi Buya belum ngerasain kont*l Kiai dimulut Non, ayo dong…yah !” Pak Udin menahan pintu itu dengan setengah memohon dan sekepal memaksa.

Pak Udin membuatnya tidak n kepunyaan pilihan lain sehingga karenanya dengan terpaksa diiyakannya kehausan pria ini. Dengan berat hati dibiarkannya pria itu masuk ke kamarnya. Sherin menggagalkan pantatnya hingga terperenyuk di comberan tempat tidur tanpa melepas pandangan marahnya pada lelaki itu.

Kemasan Udin berdiri di hadapannya dan mulai melepaskan celananya. Setelah celana panjangnya melorot roboh, dia melepaskan penisnya nan sudah menegang dari balik serawal dalamnya.

“Silakan Non disepong yang enak !” Cangkang Udin menyodorkan penis itu pada putri majikannya.
Walau teradat menyibuk burung hitam dan dilecehkan sebagai halnya itu, namun Sherin baru pernah berurusan dengan penis sepuh nan bulu-bulunya sudah mulai beruban sebagaimana nan suatu ini sehingga ada rasa malas cak bagi mengoralnya.

Sherin pulang ingatan bahwa itu adalah keharusan yang bukan bisa ditawar-sia-sia lagi, maka dengan terpaksa dia berangkat menggenggam penis itu, terasa denyutan benda itu dalam genggamannya. Minus menunggu perintah pula dia mendekatkan wajahnya lega penis yang menodong wajahnya itu.

Lidahnya bergerak menyapu bagian kepalanya yang bersunat. Pak Udin melolong parau merasakan jilatan indra perasa amoi itu sreg ujung penisnya, tubuhnya bergetar berbarengan meronyokkan rambut gadis itu.

*** Cerita Dewasa ***

Seumur hidupnya baru pernah lanang lanjut usia itu merasakan yang namanya oral seks, istrinya selalu menjorokkan untuk mengamalkan situasi itu, sehingga hidup seksnya terasa anyep sepanjang puluhan periode menikah.

Lisan seks permulaan dengan cewek secantik nona majikannya ini memberinya kegemparan luar biasa, rasanya seperti kembali muda lagi sehingga dia melenguh tak karuan.

Penisnya masa ini sudah lalu masuk ke tuturan dayang itu, kamu merasakan lidahnya menggelikitik penisnya juga kecaburan hangat dari air liurnya.
“Uhhh…lemak banget Non, terus gituin yah…eeemm…jangan dilepas yah !” erangnya sambil memegangi penasihat dara itu.

Sherin melancarkan teknik-teknik mengoralnya, semakin hari engkau semakin terbiasa diperlakukan demikian di kampus, terutama nan minimum sering dengan Imron, sesekali dengan Bungkusan Dahlan si dosen bejat itu atau pernah sekali lagi dengan Buntelan Kahar, si satpam kampus yang tidak bersusila.

Dia memaju-mundurkan kepalanya sambil melulum zakar itu, tangannya pula turut berkarya mengacau batangnya atau pecal buah pelirnya. Laki-laki segumpal baya itu merasa semakin keenakan sehingga sonder bangun ia membongkar-bongkar pinggulnya sehingga penisnya menyodoki mulut Sherin seolah menyetubuhinya.

Kini Sherin mengetem memaju-mundurkan kepalanya dan sekadar pasrah membiarkan mulutnya disenggamai ahli kebunnya itu, kepalanya dipegangi sehingga lain bisa membedakan diri.

Kurang lebih sepuluh menitan akhirnya Pak Udin hingga ke puncak, kamu mengerang tak karuan dan memprakarsai pinggulnya makin cepat sehingga membuat Sherin terka kelabakan. Diiringi erangan keras, keluarlah spermanya di mulut Sherin.

Lamun geli karena aromanya nan sepan radikal, Sherin boleh juga menelan habis cairan itu tanpa menitik keluar dari mulutnya. Memang menghisap ialah salah satu kelebihannya kerumahtanggaan pertautan seks.

Frans, pacarnya, juga sangat suka penisnya dioral olehnya, sama sekali kalau sudah mau orgasme dia minta padanya untuk dioral agar bisa keluar di mulut dan merasakan hisapannya yang dahsyat itu. Setelah semprotannya memangkal, dijilatinya sekali lagi sisanya yang blepotan lega batang itu hingga bersih.

*** Cerita Dewasa ***

“Udah Sampul…cukup sampai sini, kini keluar !” Sherin merembah dan menyuruhnya keluar.
“Alah Non…periode sih segitu aja ? ayo dong meski Bapak muasin Non !” Pak Udin mendekap tubuh Sherin dan tangannya bergerak ke dasar mengumalkan pantatnya.

Sherin meronta dan menyorong tubuh lelaki tua itu hingga dia terhuyung ke belakang hampir terperenyuk.
“Udah dong Buntelan, saya sejumlah jangan masa ini, kenapa sih !?” introduksi Sherin sekerat menghardik.

Pak Udin hanya mesem kecil sambil memanjatkan kembali celananya.
“Ya udah ga apa-segala deh…dasar lonte…awas ya belakang hari !” dia adv amat membalikkan badan dan keluar dari kamar.

Karenanya Sherin berhasil juga menolak pria itu, tapi dia agak takut lagi mendengar tuturan terakhir Pak Udin yang bernada mengancam itu. Ya nah sebanyak-banyaknya digarap lampau-habisan lagi dan disuruh tidur bareng dengan si lanjut umur brengsek itu, toh yang sama dengan itu bisa dibilang sudah menjadi hal biasa sejak dirinya menjadi budak erotisme.

Sekarang ini engkau sedang bukan mood mengerjakan situasi itu. Dia sekali lagi berbaring di peraduan empuk itu sambil mendengarkan nada yang mengalun dari cd-player. Matanya terpejam hingga minus terasa kamu terpejamkan kembali.

Sekitar jam setengah empat, Sherin tertegak dari tidurnya karena ada suara ketukan di gapura beserta kritik Selongsong Udin memintanya membuka portal.
“Huh, lanjut usia itu lagi, pangkal ga tau diri” omelnya.

“Ngapain lagi sih Pak, jangan kebangetan dong !” katanya dengan judes begitu nongol di depan pintu.

“Wes…wes…jangan marah-marah melulu dong Non, Kiai tak mau goda Non, itu cak semau orang berbunga pabrik dateng katanya mau ambil barang pesanan tuan !” kata Pak Udin kalem.
Sherin baru sadar memang sebelum pergi papanya afiliasi menitipkan dokumen kerja dan sebuah CD yang dibungkus internal amplop segara berwarna coklat.

Dia pun langsung menumpu ke ruang kerja papanya setelah sebelumnya menutup pintu kamar dengan setengah dibanting di depan ahli kebunnya itu. Diambilnya amplop coklat yang dimaksud itu dari lemari bidang datar papanya dan dibawanya ke ruang tengah dimana orang bayaran papanya itu menunggu.

Di katil ruang tengah telah menunggu dua anak adam pria ialah Pak Irfan, salah satu staff papanya, sendiri yang berpostur pendek berusia 40-an, dan satunya adalah sopir pabriknya yang bernama Jabir, sendiri pria berkumis tebal dan tubuhnya padat digdaya serta kulitnya hitam kasar karena sering terbiasa bekerja di bawah sinar mentari.

*** Cerita Dewasa ***

“Tunggang Non Sherin” sapaan Pak Irfan ramah, Jabir juga tersenyum menyapanya.
“Magrib Bungkusan” Sherin balas menyapa dan mesem kecil “Ini Sampul , bestelan dari papa, bener teko?”

“Ah…iya Non bener ini, makasih yah !” alas kata Kemasan Irfan sembari mengakui amplop itu.
“Ada barang apa lagi Pak yang dapat saya bantu ?” tanya Sherin melihat mereka yang belum beranjak pergi.

Kedua pria itu terdiam sejurus saling pandang satu sebabat lain, sangat Cangkang Irfan berfirman,
“Mmm…anu Non bersama-sama itu…THR nya ?”

“THR ? Kok mintanya ke saya, kan yang ngurus fragmen pabrik ?” Sherin terka heran.
“Itu Non, THR spesialnya…ketel Bungkusan Udin kembali dikasih, hari kita nggak ?” hubung Jabir sang sopir pabrik.

Deg…Sherin terperanjat mendengar tuturan Terkulai-kulai itu, apalagi ekpresi mereka start berubah menyeringai mesum begitu melihat reaksinya.

“Brengsek…wreda bacot ember, keterlaluan banget sih !” makinya relung hati.
“Nnngg….ma-maksudnya apa sih Pak ?” tanyanya gugup pura-pura tidak senggang apa-segala apa.
“Alah Non jaring-jaring-jaring-jaring bego aja” alas kata Pak Irfan sekaligus menggeser duduknya berkiblat Sherin, “THR semenjak Non, ini loh” katanya menyambut paha nona itu.

“Eeii…jangan kurang didik yah !” bentak Sherin mendorong lanang itu.
Tanpa diduga, Jabir telah berada di sebelahnya dan menjepit tubuhnya setelah dia memerosokkan Pak Irfan.

“Apa-apaan nih, lepasin saya, sokong…bantu…!!” jeritnya sambil meronta.
“Hus jangan teriak Non, ntar semua basyar tau mau taro dimana mukanya…kan kasian juga bapak Non, di pabrik dibilang apa ntar kalau anaknya cak semau main setara tukang kebun hehehe !” kata Selongsong Irfan kontan tertawa-tawa.

“Iya Non, lagian teko udah mau hari raya, dapat dong sekali-sekali nyenengin kita-kita nan udah kerja buat anak bini Non” timpal Jabir
“Hehe…gimana Non, kata Nurdin dulu Non gemar keroyokan makannya Bapak ajak mereka ngerasain Non, dijamin Non lega deh” perkenalan awal Pak Udin nan mutakadim agak kelam di pantat sofa.

*** Cerita Dewasa ***

Sherin sadar bahwa kini dirinya sopan-benar terjebak, bukan ada seleksian lain kembali selain menuruti kedahagaan bejat mereka.

Dipandangnya tiga wajah mesum yang mengelilinginya dengan kesal, terutama Kemasan Irfan, bawahan papanya yang telah dikenalnya sejak masih kerdil itu tega-teganya mengerjakan demikian terhadapnya, ternyata kamu tidak berbeda dengan pria-pria tidak yang perantaraan memperkosanya, bermoral bejat.

Tangan pria itu kini memegangi pergelangan kakinya dan tangan lainnya mengelusi betis hingga pahanya nan renceng dan mulus itu sehingga darahnya mulai berdesir.

Demikian pula Selongsong Udin dan Sang Terkulai-kulai nan mendekapnya juga mulai menggerayangi tubuh adegan atas payudaranya berasal asing sehingga membuatnya menggeliat-geliat.

Jantungnya berdetak dengan kencang, adakah yang lebih buruk tinimbang menghidangkan ketiga binatang berwajah sosok ini, demikian katanya relung hati.

“Ga kerasa Non udah dewasa yah, udah tambah elok, tambah nafsuin” introduksi Sampul Irfan sambil melepas serawal pendek Sherin.

Jabir mengikuti tindakan Pak Irfan dengan melepas kaos kuntum itu. Maka sekarang tubuh Sherin nan kudus mulus itu hanya dahulu mengaryakan bra berkerawang dan celana intern nan keduanya berwarna putih, bulu kemaluannya nampak kelihatan melangkaui celana dalamnya yang semi transparan.

Indra penglihatan ketiganya terbelakak melihat kemanisan tubuhnya, nampak jakun mereka bergerak mendaki-turun dan rukyat mata mereka demikian kasar seperti srigala lapar.

“Jadinya dapat kembali ngeliat bodynya Non Sherin, tiap kali saya konak banget kalau liat Non pake baju seksi ke pabrik” perkenalan awal Jabir.

“Misi yah Non, bapak mau nyusu suntuk” Pak Udin yang mutakadim berpindah arena menongkrong di depan sofa meminang ijin seraya menyingkap cup bra sebelah kanannya.

Tanpa ba-bi-bu lagi pria sekeping baya itu langsung melumat tetek kanannya.
“Sshhh !” desis Sherin merasakan payudaranya dikenyoti.

Terasa sekali lidah adegan atas lelaki itu menggesek-gesek putingnya seperti mana mengamplas sehingga benda itu makin mengeruh tanpa bisa tersekat.

Jabir nan dibelakangnya juga merangsangnya dengan ciuman dan jilatan sreg leher dan telinganya, telapak tangannya yang besar itu menyelit masuk ke cup bra kirinya menyentuh kulitnya nan halus, segera jari-jarinya perih-milin putingnya setelah menemukannya.

Sementara itu, Kelongsong Irfan di sumber akar sana menengah memegangi kaki kanannya agar tetap terbentang sedarun tangan satunya memainkan ujung tangan-jarinya mengosok-gosok kemaluannya dari luar celana dalam.

Senyum pria itu makin lebar seiring dengan bercak enceran sreg celana dalamnya nan makin lebar.

“Enak kan Non, sampe air sebak gini” kata Selongsong Irfan yang semakin besar-besaran menggerayangi selangkangannya.

*** Cerita Dewasa ***

Diserbu dari berbagai ragam arah lega bagian sensitifnya semacam itu mewujudkan birahi Sherin mau lain mau menggeliat bangkit. Anda beri saja membiarkan ketiga pria itu menjarah tubuhnya.

Jabir melumat bibir dara itu detik kepalanya mendongak karena terangsang. Mata Sherin membelakak ketika purwa kali labium deras pria itu menempel ke bibirnya namun beberapa ketika saja matanya pula terlayang menikmati percumbuan.

Kumis baplang Jabir ribut dengan daerah sekitar tuturan Sherin, namun dia mengabaikannya dan terus menjawat ciuman si sopir pabrik itu, nampak pengecap keduanya saling berlawan dan saling jilat.

Sambil bercumbu, tangan pria itu terus tetapi meremas-remas susu kirinya. Sampul Udin yang berjongok di sebelahnya bukan saja melumat payudaranya, mulutnya sama sekali menelusuri adegan tubuh yang tak yang masih lowong meninggalkan jejak air liur, tangannya juga turut menjamah-jamah disana-sini.

Pak Irfan mendekatkan wajahnya pada selangkangan Sherin lalu menjengukkan indra perasa menjilati bagian koteka yang basah itu sehingga tubuh gadis itu menggeliat. Sungguh ketiga pria ini pikirannya sudah buta oleh hawa nafsu.

Tuhan diatas sana pasti sudah menghapus semua ibadah puasa mereka yang telah dijalankan selama sebulan dan hampir menjejak tahap penghabisan itu.

Pak Irfan menyentak pembebasan kancut Sherin yang bagian tengahnya sudah lalu basah. Matanya langsung nanar mengaram kemaluannya yang berbulu lebat dan sudah becek itu. Sebelum melanjutkan mereka membaringkan jasad amoi itu di atas meja ulas pengunjung berusul alamat kayu berukir dekat mereka.

Bungkusan Udin menyingkirkan barang-barang diatasnya, Jabir melucuti branya sehingga kini tubuh Sherin yang sudah lalu telanjang buntar itu ditelentangkan di atas meja dengan kedua kaki terkelepai ke bawah.

Ketiganya menatapi raga bogel itu dengan pandangan munjung birahi. Pak Irfan nampaknya tidak kepala dingin kembali untuk segera menikmati, dia segera berlutut di antara pukang Sherin dan menaikkan kedua pahanya ke bahu sangat membenamkan wajahnya di kelangkang gadis itu.

“Oohhh…!!” desah Sherin sambil menggeliat momen lidah pria itu menyentuh bibir vaginanya dan menyeruak masuk seperti ular babi.

*** Cerita Dewasa ***

Lidah itu menari-nari dan menjilati vaginanya, dia merasakan suatu perasaan yang selit belit dilukiskan momen alat perasa lanang itu hingga ke klitorisnya sehingga dia hanya dapat mendesah lebih panjang dan tubuhnya menggelinjang.

Pak Udin dan Jabir masing-masing berdiri di kanan dan kiri kepalanya, mereka menyibakkan celananya saban. Sungguh terpananya Sherin mengaram penis Jabir yang demikian raksasa dan berserat itu, ada mungkin ukurannya 20 cm. Kamu merasakan penis itu bergetar di tangannya saat digenggam.

“Sepong Non, Kelongsong Udin bilang Non nyepongnya enak !” perintah Jabir.
Walau kata-kata tak senonoh itu terasa panas di kupingnya, namun dimasukkan sekali lagi benda itu ke mulutnya. Dia membuka congor selebar-lebarnya untuk memasukkannya.

Sherin mengoral titit Jabir sambil tangan satunya mengocoki pelir Paket Udin. Kedua pria itu melenguh sambil merem-merem menikmati ‘adik’nya dilayani makanya upik itu. Rangsangan-rangsangan akibat kobaran Pak Irfan pada vaginanya menyebabkan libidonya membusut sehingga semakin baik pula pelayanannya pada dua pelir itu.

Tak lama kemudian Pak Irfan merasa pada menjilati vagina Sherin.Detik dia bersiap hendak menyetubuhi perawan atasannya itu, start-tiba si Jabir menyela,

“Eh…tunggu-tunggu, jangan disodok dahulu, lubang mau nyicipin bentar mem*knya, pengen tau rasanya mem*k gadis cantik !”
“Panjang hati dong, semua dapet giliran mengapa, gorong-gorong udah ga tahan nih !” alas kata Bungkusan Irfan.

“Ayolah bentar aja, ntar seandainya lu pancung keburu bau kont*l, gua jadi ga selera” pinta Berkelepai sekali juga.

Mereka bertiga tertawa-gelak mendengarnya, akhirnya Bungkusan Irfan mengalah sedikit dan membiarkan Jabir menjilati vagina Sherin.

“Ya udah, sana nyepong, jangan lama-lama, abis ini gua nusuk duluan yah !” kata Pak Irfan berbarengan mendedahkan celananya dan kabur di sebelah Sherin.

Maka mulailah si kumis itu menjilati vaginanya, bukan hanya lidahnya yang berperan, jarinya juga ikut menusuk-nusuk sehingga tubuh Sherin dibuatnya lebih menggelinjang. Di saat nan sama Sherin waktu ini menyuguhkan titit Pak Irfan dan Cangkang Udin, pakar kebunnya.

Kedua tangan Sherin menggenggam penis itu, mengadon dan mengoralnya secara bergantian. Karena keenakan, Pak Irfan memegangi komandan Sherin momen diemut penisnya, enggak rela kehilangan kuluman nikmat itu.

*** Cerita Dewasa ***

“Hehehe…bener ketel introduksi saya, situ sampe ketagihan sepongan si Non ?” kata Cangkang Udin terkekeh melihat tingkah Pak Irfan.
“Iya toh…enak tenan bener sepongan Non…emmm…lever-hati Non, jangan kena transmisi !” ucap Kelongsong Irfan sambil merem-melek keenakan.

Dengan birahinya nan semakin naik, Sherin pun mulai menikmati diperlakukan demikian, tidak nampak dirinya meronta sebagai halnya insan diperkosa ataupun menangis sebagaimana tinggal waktu pertama kali di kampus dulu, baginya yang begitu juga ini sudah lalu biasa.

Tiba-tiba tubuh Sherin meloncatloncat, berpangkal mulutnya nan dijejali butuh Pak Irfan terdengar erangan tertunda. Rupanya engkau sudah mencapai orgasme akibat jilatan dan permainan jari Jabir pada vaginanya.

Nampaknya Pak Irfan patut signifikasi dengan kondisinya dia mengecualikan sejenak penisnya dari mulut gadis itu. Ketiga laki-laki itu tertentang senang meluluk reaksinya ketika mencapai orgasme itu. Si Berkelepai dengan rakusnya merakus cairan orgasme yang membanjir dari vagina gadis itu.

“Ssrrpp…slurp….wuih, uenak banget pejunya sang Non ini slluurpp !” komentarnya sambil mengisapi vagina Sherin.

Kedua paha mulus Sherin mengapit wajah adam itu karena tubuhnya yang meruncing dan merasa geli karena lisan seksualitas sang kumis itu. Pasca- beberapa ketika kesannya gelombang orgasme itu reda, namun Jabir masih terus mengisapi vaginanya hingga hancuran orgasmenya habis dilahap.

Sherin terbaring bugil di meja itu dengan nafas terputus-kotok setelah sampai ke klimaks barusan. Kedua buah dadanya nampak naik-turun seirama nafasnya.

Matanya melihat sekelilingnya dimana ketiga pria itu manatapnya dengan mata nanar. Mereka menyibakkan pakaiannya masing-masing hingga bugil. Dia mengintai badan si Terkulai-kulai begitu padat dan berotot dan dadanya ditumbuhi rendah bulu.

“Sinting…mampus dah gorong-gorong !” keluhnya dalam hati membayangkan dirinya akan habis ‘dibantai’ ketiga basyar itu.

Sesuai perjanjian, Bungkusan Irfan menagih giliran pertamanya untuk menyetubuhi Sherin. Ia sederum cekut posisi diantara kedua pukang perempuan itu dan mengincarkan penisnya.

“Uhhh…enak, seret, becek banget !” erangnya sambil menindihkan pelan-pelan penisnya memasuki liang senggama gadis itu.

Dengan cairan orgasme yang berfungsi laksana pelumas, burung Pak Irfan melesak ikut dengan lampias, ukurannya juga termasuk madya sehingga tidak terlalu terik dalam mengerjakan penetrasi.

“Enak Selongsong ?” soal Terkulai-kulai setelah atasannya itu berhasil menancapkan seluruh penisnya puas vagina nona majikan mereka.
“Yo jelas landang, mana Non nya ayu gini lagi, uuhh bini gua aja kalah dah !” komentarnya.

“Dasar bajingan, istri koteng diomongin gitu” omel Sherin relung hati.
Tak lama kemudian Bungkusan Irfan mulai menggoyangkan pinggulnya memompa cewek itu.
“Oohhh…oohh !” desau Sherin merasakan sodokan pria itu.

Jabir sekarang berjongkok di sebelahnya, lidahnya menjilati payudaranya dan tangannya bergerilya menjamah-jamah bagian tubuh lainnya. Sementara itu Paket Udin mendekatkan penisnya ke wajahnya. Tahu apa yang harus dilakukan, Sherin meraih batang itu dan menjilatinya.

*** Narasi Dewasa ***

“Uuuhh…enak…mak-nyus…seret banget !” ceracau Pak Irfan sambil menggenjot Sherin.

Adam itu memaju-mundurkan pinggulnya serta merta tangannya memegangi pergelangan kaki gadis itu. Suara cek…cek…cek…terdengar dari selangakangan mereka nan saling bertumbukkan.

Sherin koteng sedang terlarut menikmati kalam Pak Udin, penis itu anda jilati, terkadang digosokkan ke wajahnya yang mulus, buah zakarnya ia pijati sehingga adam sehelai baya itu mengerang keenakan. , seandainya saja jantungnya tidak kuat kali saat itu dia sudah kena serangan jantung saking berdebar-debarnya.

Si Jabir juga masih asyik bermain dengan payudara Sherin, wangi bodi gadis itu membuatnya semakin bernafsu menjilatinya, air liur dan bekas cupangan mengepal pula mendandani kulitnya yang zakiah, terutama di provinsi tetek.

Kumis si Berkelepai yang tebal itu terasa terlampau menggelitik tubuhnya dan memberinya impresi terlalu di samping cupangan-cupangannya.

Sungguh nampak kontras sekali fragmen seks di ruang perdua itu, seorang cewek berparas cantik, berkulit putih mulus medium digauli tiga orang laki-laki bertampang sedikit bersisik ilegal bergairah, lagi berbeda gengsi dan rasnya. Sherin juga lain bisa memungkiri bahwa seks terlarang seperti mana ini memberinya kepuasan lebih daripada melakukannya dengan pacarnya.

“Uuhh…uhh…ingin keluar Non…bapak buang di dalem ya !!” keluh Pak Irfan sambil mempercepat sodokannya karena sudah mau mencapai puncak.

Sherin enggak peduli lagi apapun yang dikatakan padanya, dia sedang mengulum penis Paket Udin ketika itu. Lagipula kalaupun ia menolak buang di kerumahtanggaan apakah Kelongsong Irfan mendengarkannya. Pak Irfan memutar-mutar penisnya dalam vagina Sherin seperti gerakan mengaduk plester., lalu ia menekannya dalam-privat.

Sherin merasakan cairan suam menyemprot di dalam vaginanya, banyak sekali sampai cairan itu meluber keluar dan semakin membasahi selangakangannya. Genjotan Kelongsong Irfan bertambah leleh setakat karenanya nongkrong dan penisnya terlepas berpangkal vaginanya.

*** Narasi Dewasa ***

“Wuihh…puas banget main sama si Non ini !” katanya dengan nafas mengap-mengap.
“Payah, doang segitu aja” kata Sherin dalam hati karena masih belum plong, “Oh my God, segala yang lubang pikir barusan ?” ia baru mencatat ingatan tadi terlintas serupa itu hanya di benaknya akibat birahi yang semakin menanjak sehingga akal sehatnya semakin hilang.

“Gorong-gorong…korok sekarang !” sahut Jabir nan sudah lalu tak panjang usus menikmati kehangatan tubuh Sherin, “tapi jangan disini dong, tempatnya sempit, kita bawa ke kamarnya aja gimana, boleh yah Non, main di kamar Non aja, OK ?”

Sherin hanya mengangguk lemah belaka sebagai jawabannya. Maka mereka pun segera membawanya ke kamarnya. Berkelepai menggendong badan telanjang Sherin dengan kedua lengan kekarnya spontan berjalan mengikuti Sampul Udin yang menuntun mereka ke kamar putri itu.

“Wah asyik yah kamarnya enak, ber-AC lagi !” komentar Pak Irfan seperti itu memasukinya.
“Main sama gadis cakep emang enaknya di tempat yang eco gini” timpal Jabir sambil meletakkan Sherin di ranjanganya.

Jabir langsung menyuruhnya nungging karena dia ingin melakukannya dengan tendensi doggie. Sherin nan masih belum puas dan masih ingin disetubuhi menurut tanpa diperintah dua kali.

“Eenggh !” desahnya saat Berkelepai memenekankan penasihat penisnya plong vaginanya, “jangan kasar-kasar dong Seruan salat, sakit !”
“Sori Non, abis nafsu sih hehehe !” tawanya, sepertinya ia cukup menurut sehingga memperlembut proses penetrasi itu.

Sherin mengerang dengan cahaya muka menyernyih dan sesekali menggigit labium karena kontol Jabir nan lautan dan berurat itu terasa sesak di vaginanya. Tangannya terkepal hampir sambil meremasi sprei di bawahnya. Sedikit demi invalid akhirnya pelir hitam besar itu masuk pula seluruhnya ke internal liang vagina Sherin.

“Wuih, sempit banget nih mem*k Non, yunior pergaulan loh saya ngerasain yang gini !” komentar sang kumis itu setelah berhasil menancapkan penisnya.
Sejumlah saat kemudian mulailah kamu menggerakkan pinggulnya menggenjot gadis itu.

“Aahh…ahhh…iyahh…aahh…enak !” Sherin mendesah dan tanpa siuman pengenalan-kata itu terlontar begitu sekadar berpunca mulutnya.

Jabir yang mengetahui Sherin sudah terangsang berat itu semakin garang, frekuensi genjotannya semakin kencang, tangannya pun meremasi belakang dan payudara cewek itu.

“Ternyata Non ini bener-bener lonte yah, awalnya nolak masa ini justru keenakan hehehe !” ejek Bungkusan Udin sambil merenyukkan sebuah payudaranya.

Sherin tak menghiraukan hinaan itu karena bukan hal baru baginya, malah pembukaan-pengenalan merendahkan itu membuatnya lebih bergairah. Dia turut memacu tubuhnya bersama Jabir, seolah ingin penis itu pial lebih n domestik juga.

Kamu mengalihkan pandangannya ke sisi bukan saat melihat bingkai foto di bufet jihat ranjangnya yang berisi foto studionya bersama Frans, pacarnya.

Dalam foto itu keduanya tampak serasi dan mesra sekali, karena itulah anda bukan sanggup menatapinya lama-lama karena keadaannya sekarang habis anti dari di foto itu, ia lebih-lebih menikmati hubungan palsu dengan makhluk-orang yang tidak hendaknya begini.

Sungguh suatu dilema baginya, dia masih mencintai Frans, cuma dia juga telah terbelenggu dan diperbudak oleh hasrat liarnya yang semakin enggak teratasi sejak hasrat itu dilepaskan keluar oleh Imron.

Pak Udin sekarang menggotong jasad Sherin setakat posisinya kini mendeku bersama-sama teguh disetubuhi Jabir dari birit, ia memeluk raga kerempeng tukang kebunnya itu sebagai medan bertumpu.

Erangannya teredam setelah pria itu melumat bibirnya, dia menciuminya dengan ganas sambil menggerayangi payudaranya.

Cangkang Irfan lalu bergabung dengan mereka, ia memegang payudara Sherin yang satunya dan menciuminya, tangannya menggerayangi bagian tubuh sensitif lainnya. Setelah Pak Udin membebaskan ciumannya, ia masih harus bertumbuk pengecap dengan Pak Irfan yang menggantikannya.

“Oohh…gila, ini sinting…tapi…tapi nikmat sekali !” Sherin mengalami pergumulan hebat dalam hatinya.

Sekitar setengah jam kemudian, Sherin mendesah makin keras, beliau merasa tubuhnya mengejang hebat dan dari vaginanya ingin mengeluarkan sesuatu yang makin bukan tertahankan.

“Aakkhh….aahhh…oohhh !” Sherin mendesah panjang sekali, ia mengalami orgasme panjang nan membawanya pada puncak kenikmatan tertinggi.

Kamu memeluk erat-dempang tubuh Pak Irfan yang momen itu sedang menjilati lehernya. Punggung pria itu adv pernah tergores sedikit maka itu kukunya.

Selepas orgasmenya reda, mereka menidurkan tubuhnya di ranjang, keringat sudah lalu nampak membasahi tubuhnya. Berkelepai nan bau kencur melepas penisnya taajul menaiki wajah Sherin, tangannya menyedot kepala pemudi itu sementara tangan lainnya memegang penisnya.

“Buka mulut Non, saya kepingin keluar di tuturan Non !” suruhnya terbata-bata.

*** Kisahan Dewasa ***

Berkelepai bukan dapat menghambat spermanya kian lama lagi, baru namun Sherin mengungkapkan mulut dan komandan penisnya hingga ke labium dayang itu, dia sudah ejakulasi. Cairan spermanya yang kental itu sebagian masuk ke tuturan Sherin dan sebagian berceceran meletis mulut gadis itu.

Jabir menjejali benda itu ke mulut Sherin tak peduli walau dia kelabakan mengamini penisnya nan besar dan memuncratkan sperma dengan deras. Sherin meronta karena merasa tahanan, namun tangan Berkelepai terlalu kokoh menahan kepalanya.

Terpaksa ia harus berusaha menggagahi sperma yang menggraver di dalam mulutnya sampai semprotannya berhenti dan kunarpa itu menyusut n domestik mulutnya.

Sherin merasa lelah sekali tubuhnya basah maka itu keringat dan sisa air liur, cipratan sperma nampak pada hidung, dagu, dan terutama kawasan mulutnya. Jabir mencolek cipratan spermanya puas hidung Sherin lalu di tempelkan ke bibirnya.

“Nih Non, cerbak kalau mubazir, Non kan demen negak peju” katanya disambut tawa kedua pria lainnya.

Sherin pasrah saja mendedahkan abnormal mulutnya membiarkan jari itu masuk adv amat diemutnya pelan. Ketiga pria itu cengengesan memandangi dirinya yang mutakadim terkulai lenyai, komentar-komentar jorok keluar berbunga congor mereka.

“Sudah demikian hinakah korok ?” Sherin menyoal pada dirinya koteng n domestik hati, dalam rasa terhina itu dia juga menikmati menjadi budak seks, sungguh dilema yang rumit.

Kelongsong Udin memberinya tisu dan air minum untuk menyegarkan diri, setelah mengesat cipratan mani di wajahnya, dia serta merta menyambar gelas itu dan meminum isinya setakat tinggal.

“Boleh kita mulai lagi Non ?” soal Buntelan Udin.
“Jangan terlalu kasar dong, saya udah capek” jawabnya lemau.
“Ngga, kali ini leha-leha aja, ayo dong Non…naik sini !” perintah Kelongsong Udin nan tiduran telentang sambil menunjuk pada penisnya.

Sherin juga naik ke tubuh tukang kebunnya itu. Penis yang mengacung itu digenggamnya dan diarahkan ke vaginanya. Kemudian kamu menurunkan tubuhnya berantara.

“Ahhh….!” desahnya merasakan penis itu memuati vaginanya.

Sekejap saja Sherin sudah meninggi turunkan tubuhnya, kedua telapak tangannya saling genggam dengan Pak Udin. Selongsong Irfan berdiri di tempat tidur dan mendekatkan penisnya ke wajah dara itu. Senggang segala apa yang akan diminta pria itu, sebelum disuruh Sherin sudah menggenggam batang itu dan mendedahkan tuturan.

Dia mengoral zakar itu spontan mengerapkan tubuhnya. Payudaranya nan ikut bergoyang-goyang itu membuat Jabir merasa gemas sehingga sira mendekatinya dan mencaplok nan sebelah kanan.

“Sakit Bang, jangan gigitnya jangan keras gitu dong !” rintihnya karena merasa nyeri putingnya digigit dengan keras maka itu laki-laki itu.
“Jangan nafsu gitu oi, ntar riuk-riuk kont*l terowongan kegigit gimana ?” prolog Pak Irfan.

“Huehehe…sori abis untuk gemes sih, iya ane pelanin deh nih !” sangat dia menyapukan lidahnya plong puting itu.

Sapuan lidah itu membuatnya merasa bertambah nyaman dan memberinya rangsangan setelah rasa nyeri barusan. Pak Udin lagi mengulurkan tangannya meremasi buah dada upik itu yang sebelahnya, putingnya dia belit-belit sehingga kian mengeras.

Setelah merasa cukup dioral makanya Sherin, Pak Irfan siap menyetubuhinya kembali. Dia menentang ke pantat dan membuka pantat gadis itu.

“Buya cobain disini yah Non, tentu lebih seret !” pintanya.
“Tapi jangan garang-kasar Pak” kata gadis itu.

Setidaknya Sherin merasa bersyukur karena yang meminta anal syahwat Pak Irfan yang ukuran penisnya medium-sedang saja, kalau Jabir nan minta tentu sakitnya akan terasa sepanjang beberapa hari. Setelah meludahi duburnya Sampul Irfan memulai proses penetrasinya.

“Sempit toh Pak ?” sahut Pak Udin berpunca bawah tubuh Sherin melihat Sherin dan pria itu menyambat-keluh.

“Iya nih…uh sempit banget !” jawab Pak Irfan sinkron terus menekan-nekankan penisnya.
Semenit kemudian akhirnya Cangkang Irfan berhasil memasukkan penisnya ke dubur Sherin, engkau mendiamkannya bikin beradaptasi dengan jepitannya yang keras. Cangkang Udin menjujut wajah gadis itu mendekati wajahnya untuk berciuman.

*** Narasi Dewasa ***

Di tengah percumbuannya dengan Pak Udin, Sherin merasakan pelir di duburnya berangkat mengalir, Pak Udin sekali lagi mulai memotori pinggulnya kembali gelambir-nusuk vaginanya.

Posisinya kini menengah disandwitch oleh kedua tukang kebunnya dan begundal papanya. Perbedaan warna kulit yang mencolok membuatnya tampak seperti daging jati dijepit dengan dua roti hangus.

Selain mengamalkan double penetration, tugas Sherin kian momen Berkelepai menjejalkan penisnya ke kerumahtanggaan mulutnya. Posisi terjangan tiga arah itu berkeras hati sekitar sepuluh menit sebelum Pak Udin dan Sampul Irfan mengeluarkan penisnya karena akan orgasme.

Mereka menelentangkan tubuhnya, dan berejakulasi di atasnya. Paket Irfan menumpahkan spermanya di perut dan dadanya, sedangkan Selongsong Udin di mulut. Jabir yang masih belum puas mendengkul diantara kedua paha Sherin dan menyutubuhinya hingga sepuluh menit berikutnya.

Keduanya mencapai orgasme secara bertepatan sperma Jabir muncrat di internal vaginanya dan Sherin sendiri berjengkek-jengkek hebat.

Anda harus menyepakati bahwa Jabir betul-betul perkasa dibandingkan dengan Pak Irfan atau Pak Udin, sampai-sampai dengan Frans, pacarnya, kali keperkasaannya bisa disejajarkan dengan Imron, si penjaga kampus itu.

Kamar itu hening selama beberapa menit, yang terdengar sahaja dengusan nafas kelelahan. Langit di asing sudah menguning, jam telah menunjukkan pukul 5.40. Pak Irfan kesudahannya turun berpokok ranjang dan masuk ke toilet di kamar itu.

“Cabut yuk, udah sore lagi nih !” katanya pada Jabir yang lalu menggerakkan tubuhnya lakukan bangkit.

“Udah ya Non, kita pulang dulu, makasih banget THRnya, bukan mana tahu lagi yah hehehe…!” pamitnya sederum merenyukkan payudara Sherin.
“Go to hell lah…THR…THR !” omel Sherin relung hati.

*** Cerita Dewasa ***

Setelah mereka berpakaian Paket Udin mengantarkan mereka keluar rumah dan membukakan sogang.

Setelah itu Kemasan Udin masih terus mengerjai Sherin mulai dari bersiram bareng setakat malamnya minta tidur bareng di kamarnya. Sherin tidak mempunyai saringan lain selain mengiyakannya. Tahun-hari berikutnya pun setiap siapa suka-suka kesempatan Pak Udin selalu menunangi jatah darinya.

Sherin sendiri walaupun merasa benci dan kesal juga sembunyi-sembunyi menikmatinya. Hal itu tidak berlanjut bersisa lama karena dua mingguan selepas kejadian itu, Pak Udin terjatuh dari bangku tinggi ketika menengah mengairi tumbuhan di pot sampir.

Atasan belakangnya menyenggol lantai cukup keras dan berdarah sehingga harus dirawat di rumah guncangan. Hari ketiga di rumah guncangan Sherin sengaja nomplok membesuknya. Suasana kamar tempatnya dirawat tidak terserah siapa-kelihatannya ketika itu, Sherin turut dan menyikap pintu.

Ia menatap tajam dengan pandangan penuh antipati pada pria yang pernah melecehkan dan merendahkannya itu yang kini terbaring lain berkekuatan di ranjang pesakitan. Perlahan sang sakit mengungkapkan matannya dan dia mengembangkan senyum mematamatai boleh jadi nan di sebelahnya.

“He…he…Bapak tau Bapak gak untuk hidup lebih lama lagi, tapi Bapak pada…soalnya udah ngerasain keserasian berpokok Non” katanya terputus-putus.

Sherin tetap diam tak bersuara apapun sejak tadi, lalu dia menjinakkan jasmani dan mendekatkan wajahnya ke wajah keriput pria itu. Bibir mereka berlanggar, menelanjangi dan beradu lidah seperti hari itu.

Sekadar tiba-tiba Sherin menarik wajahnya dengan cepat. Pak Udin merasakan bantal di bawah kepalanya ditarik dan bukan setakat sedetik benda itu telah berpindah menutupi wajahnya. Sherin mengimpitkan bantal itu gigih-keras membekap wajah laki-laki itu.

Bodi bertongkat sendok itu meronta tapi tak lama sebelum hasilnya bungkam bukan mengalir. Setelahnya barulah Sherin membedakan bantal itu, mata pria mendedahkan dengan tatapan kosong, nafasnya sudah tak terdengar pun. Sherin memangkalkan sekali lagi bantal itu dibawah kepalanya.

“Salam bagi hantu penunggu di neraka” katanya sambil menutup mata lelaki itu.

Setelah menyisir rambutnya, iapun keluar dari kamar itu dengan hati plong telah membalaskan dendamnya. Batih Pak Udin di kampung memufakati santunan berpangkal tanggungan Sherin dan mereka menerima dengan ikhlas kematiannya nan mereka anggap laksana kecelakaan kerja itu.

*** Cerita Dewasa ***

Source: http://198.204.238.90/cerita-dewasa-majikan-dan-pembantu/