Contoh Resensi Novel Sang Pemimpi

Setelah sekian lama, buku dan novel yang ada di almari sendi tertumpuk dengan rapi, akhirnya buku ataupun novel kedua dari tetralogi “Laskar Pelangi” ini pun menyedot perhatian kami. Novel legendaris dan pernah menjadi calon untuk para pecinta buku di Indoensia ini berpokok purwa kali pada Juli 2006 dan kami membeli novel ini sreg cetakan kedua desimal okta- puas Desember 2010. Dan pada Juni 2022 ini, balasannya afinitas untuk mendaras ulang novel ini mengapalkan kami bikin mengulasnya n domestik bentuk resensi novel Sang Utopian nan memberikan efek dan tutorial aktual tentang fungsi pertentangan dalam hidup.

Sebagai novel kedua berpokok tetralogi Legiun Pelangi, novel ini memang menerimakan cerita yang sedikit light, dengan kisah seputar vitalitas tiga orang tokoh utama. Andrea Hirata sebagai seorang penulis novel mampu menggambarkan dengan apik di setiap peritiwa yang membuat sidang pembaca penasaran dengan membacanya lembar demi makao. Apalagi dengan pencitraan karakteristik dan deskripsi yang dulu kuat pada setiap karakter tokohnya.

Spirit dan impian” menjadi sebuah kata-introduksi usia aktual yang mendorong pembaca cak bagi memaknainya dalam benak untuk meletakkan kata konkret tersebuit ibarat pendorong roh para tokoh penting, tidak tetapi pencetus privat novel “Sang Pemimpi”, sekadar juga sidang pembaca novel tersebut.

Resensi Novel “Sang Pemimpi”

Novel “Sang Pemimpi”

Identitas Sosi:

  • Tajuk: Si Pemimpi.
  • Penulis: Andrea Hirata.
  • Penerbit: PT. Beber Pustaka, Yogyakarta.
  • Perian berasal : Gemblengan purwa Juli 2006, Cetakan kedua puluh delapan Desember 2010.
  • Lebat siasat: viii + 248 jerambah
  • ISBN: 978-979-1227-81-0.


Diskusi buku “Sang Utopian”

Mengambil tema “sebuah persahabatan dan perlagaan intern menghadapi kerasnya hidup”, menjadikan novel Sang Pemimpi memiliki kisah menarik yang dilakoni tiga anak asuh cukup umur, yaitu Berkeluk-keluk, Arai dan Jimbron. Kisah dalam Sang Pemimpi ialah cerita lebih khusus mulai sejak novel sebelumnya, yaitu Armada Pelangi.

Nyawa dan impian menjadi dua kata utama nan berlimpah menggerakkan hayat bagi tiga anak muda untuk makmur bertahan dan tetap berjuang kerumahtanggaan menghadapi hidup nan begitu keras.  Dengan bimbingan seorang guru, yakni Bapak Julia Balia yang menumbuhkan impi nan asing lazim bagi Ikal, Mayang dan Jimbron.

Kemasan Balia dengan kata-kata yang asing biasa rani memberikan suntikan motivasi yang membuat Ikal dan Arai berhasil mendapatkan beasiswa ke universitas nan diimpikannya ialah  Universite de Paris, Sorbonne, Prancis. Introduksi-perkenalan awal bermula Pak Balia yang menjadi nasehat yang serupa itu inspiratif tersebut yakni “Bermimpilah yang raksasa, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu!

Baca juga:
Resensi Novel “Barisan Pelangi”

.

Mimpi sudah lalu menjadi galakan luar jamak bagi tiga anak mulai dewasa ini kerjakan berusaha meraihnya. Lebih-lebih Arai sampai mereka-reka  akan berkeliling marcapada dengan melayari Eropa dan Afrika. Berbeda dengan Manggar yang menterjemahkan impi Manggar dengan selesaikan sekolah dulu, menyelasaikn pendidikan ke perguruan tinggi, kemudian berburu dana siswa S-2 ke luar kabur.

Kerja persisten dan meraih impian tersebut start dilakukan dengan tetap bersekolah hingga menghilang SMA, enggak sebagai halnya bandingan sekolah lainnya, tiga momongan remaja harus tegar bersekolah dengan bekerja keras mencampakkan tulang sebatas menjadi kuli ngambat dan berkarya mengawang  di tempat pelelangan lauk.  Semua itu dilakukan buat meraih damba nan kepingin kejarnya.

Puas tahap lebih lanjut, Arai dan Ikal mantap buat meraih mimpinya dengan berlayar mengarah Jakarta. Tekad dan nekat cak bagi tetap meraih impi menjadikan Manggar dan Ikal berusaha mengejar kerja sambilan sebagai bisikan loncatan untuk kuliah di Universitas Indonesia. Kisah perjuangan berangkat memusat Jakarta sempat diwarnai sedikit kisah tersentuh perasaan ialah parak mengibakan, antara tiga anak muda tersebut, yaitu Ikal, Arai dan Jimbron, ketika Jimbron memutuskan untuk patuh tinggal di Belitong dengan memberikan dua buah tabungan berbentuk kuda pada Ikal dan Mayang,”Kalian empat mata akan meninggalkan ke Paris dengan memperalat kudaku”.

Baca pula:
Resensi Novel “Distrik 5 Panggar”

.

Perjuangan meraih damba tergapai sehabis Keriting lulus dari Universitas Indonesia dan Manggar kembali berasal Kalimantan, mereka berdua dipertemukan dalam sebuah wawancara penerima Darmasiswa S-2 di Sekolah tinggi Sorebonne, Prancis.


Kelebihan Novel “Sang Utopian”

Jiwa dan cambuk luar biasa ditunjukkan maka itu tiga anak muda n domestik novel Sang Pemimpi karya Anbdrea Hirata ini. Kisah perjuangan nan memasrahkan positif yaitu beranilah bermimpi dan terus berjuang untuk meraihnya. Mimpi, harapan, kerja persisten dan doa nan berjalan dengan beriringan akan menuai hasil yang memuaskan.

Resensi Novel “Sang Pemimpi”

Novel “Sang Visioner”


Kehilangan Novel “Si Idealis”

Setimbang halnya dengan bermacam rupa karya tulis lainnya tentu memiliki kekurangan. Sahaja dalam novel ini tidak ada kekurangan yang berharga, hanya terwalak pada konflik cerita nan tidak sesak tajam antara Arai dan Ikal, semata-mata semua dapat diselesaikan dengan sadarnya Mayang bikin tegar meraih mimpi-damba nan telah dibangun tersebut.

Itu ia sedikit resensi novel “Sang Ilusionis” karya Andrea Hirata, semoga berguna dan menginspirasi kita semua.

Source: https://www.firmankasan.com/2021/06/resensi-novel-sang-pemimpi.html