Contoh Tunjuk Ajar Melayu Riau

Oleh: Jumardi


Tunjuk ajar merupakan apa jenis selang, wahi, wejangan, amanah, indoktrinasi, dan hipotetis hipotetis yang bermanfaat bagi nyawa manusia dalam arti luas. Menurut ayah bunda-tua Melayu, “Mengacungkan tangan ajar melayu ialah segala apa selang, amanah, suri acuan, dan nasihat yang mengapalkan menusia ke jalan yang lurus dan diridhoi Allah, yang berkahnya menyelamatkan basyar dalam nyawa di dunia dan nasib di akhirat”

[1]

.

Bagi anak adam Melayu, angkat tangan ajar harus mengandung nila-ponten luhur agama Islam dan juga sesuai dengan budaya dan norma-norma sosial nan dianut masyarakatnya. Individu gaek-tua lontok mengatakan “di dalam tunjuk tuntun, agama membasut”,
atau “di dalam tunjuk ajar Melayu, tersembunyi berbagai ilmu”.


[2]




Rahim isi tunjuk didik tidak bisa diukur atau ditakar, apalagi mengacungkan tangan tuntun sendiri terus berkembang sependapat dengan keberhasilan masyarakatnya. Hakikat isi tunjuk ajar

tidaklah kaku dan tak mati, tetapi terus kehidupan, membengang, dan terus bersirkulasi perumpamaan gelombang air laut. Perubahan yang terus berlangsungdalam kehidupan masyarakat bukan menyebabkan makanan isi tunjuk ajar “tunggakan zaman”, karena skor luhur yang terkandung di dalamnya bersifat awet dan dapat dimanfaatkan di segala zaman. Jadi, kalau pula waktu ini, misalnya, angkat tangan ajar kurang diminati turunan atau kurang berlanjut pewarisnya, bukan karena nila-nilai luhurnya tidak serasi dengan perkembangan zaman, kemajuan ilmu, dan urut-urutan teknologi, belaka karena orang rendah mengarifi hikmah dan makna yang terkandung di dalam angkat tangan ajar. Pemahaman yang salah pun unjuk karena mereka menganggap tunjuk ajar umpama acuan nan kaku dan ketentuan tradisioanal yang “usang” yang bukan saja lain serasi dengan perkembangan zaman, tetapi menjadi penghambat dalam jalan.

Embaran Mengacungkan tangan Pelihara

            Makrifat tunjuk ajar  merupakan  makanan  isi tunjuk ajar yang dipilah-pilah ke dalam beberapa kategori untuk membantu penelaahannya secara terarah. Doang demikian, tidaklah berarti bahwa antara satu kategori tunjuk ajar dengan kategori lainnya tidak ubah tersapu, sebab hakikatnya angkat tangan ajar tetaplah adalah sangkut-paut padu yang saling bersebati.

[3]

            Nan menjadi inti dari tunjuk tuntun bukanlah dilihat berbunga syairnya, melainkan hal yang tersiratlah yang menjadi intinya, bagaimana dengan membacanya kita dapat memahami hikmahnya lakukan dijadikan acuan dalam menjalani hidup, tentunya lagi tidak menyingkir  acuan  pokok, ialah al-Quran dan Hadits.

  1. Ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa

Bagi manusia Melayu, agama Selam merupakan anutannya. Seluruh poin budaya dan norma-norma sosial awam mesti merujuk lega ajaran Islam dan dilarang gentur bertelikai, apalagi menyalahinya. Karena, semua nilai budaya yang belum serasi dan belum sesuai dengan wangsit Islam harus “diluruskan” terlebih dulu. Skor yang tidak boleh diluruskan segera dibuang. Acuan ini menyebabkan Islam tidak dapat dipisahkan terbit budaya, tali peranti, maupun norma-norma sosial lainnya internal atma orang Melayu. Hal ini pula yang menjadi salah satu penyebab, kok individu di asing Islam yang menganut agama Islam disebut “masuk Melayu” dan sebaliknya. Bilaorang Melayu keluar dari agama Selam, tinggallah eigendom dan kewajibannya umpama orang Melayu. Orang nan keluar dari Islam bukan kembali dianggap sebagai orang Melayu. Di kerumahtanggaan ungkpan adat dikatakan, “siapa menjauhi syarak, maka engkau menyingkir Melayu, barangkali memakai syarak, maka ia turut Melayu”
atau “bila rontok syarak, maka gugurlah Melayunya”.

  1. Loyalitas kepada Ibu dan Bapak

Loyalitas kepada Ibu dan Bapak yang disebut “mentaati hamba allah tua” amat diutamakan n domestik arwah orang Jawi. Ibu bapak-tua bangka mengatakan, “siapa taat ke turunan tuanya, di dunia selamat di darul baka kembali mulia”.
Sebaliknya, siapa-siapa durhaka kepada ibu dan buya, lain belaka disumpahi oleh masyarakat, belaka akan disiksa diakhirat kelak. Seperti mana juga yang dikatakan Rasulullah bahwa keridhaan Tuhan tergantung keridhaan hamba allah tua dan sebaliknya.

            Sastra lisan Jawi amat banyak mengisahkan keburukan anak asuh durhaka yang hidupnya bercerai dengan malapetaka dan kemalangan  Sebaliknya, banyak pula dikisahkan kemuliaan anak yang berbakti kepada orang tuanya.

  1. Kesetiaan kepada Majikan

Idiom resan Melayu mengatakan:

bertuah rumah suka-suka tuanya,

            bertuah negeri ada pucuknya

            elok kampung ada tuanya,

            cantik area ada rajanya

Kata majemuk ini menunjukkan, bahwa dalam jiwa bani adam, baik di lingkungan mungil (rumah tangga) sebatas kepada masyarakat luas, haruslah cak semau tuanya, yakni cak semau pemimpinnya. Sonder pemimpin, aman dan kedamaian di privat rumah tingkatan atau masyarakat tidak akan terjamin. Tidak agama tanpa jamaah, tidak suka-suka jamaah sonder pemimpin, tidak cak semau  superior kecuali untuk ditaati. Karena untuk segala adanya pemimpin, takdirnya tidak terserah ketaatan kepadanya. Dengan ketaatanlah segala program akan mudah dilaksanakan. Walaupun sejenis itu, tidak perlu kita harus taklid, tanpa terserah tuduhan dan masukan. Kalau melihat ketua melenceng bersumber syarak nan dipercaya orang  Melayu, maka lebih baiknya diberikan wejangan untuk mengingatkan semenjak kekhilapannya.

            Dalam masyarkat Jawi pemimpin dikemukakan, “ditinggikan seranting, didahulukan selangkah”,Umumnya diambil maupun dipilih dari warga publik yang memenuhi criteria tertentu. Orang inilah yang dijadikan sertaan, lengkap, dan konseptual nan
lidahnya masin, pintanya Kabul,
nan dianggap mampu mendatangkan kedamaian, ketertiban, dan ketenteraman cak bagi awam.

            Karena pemimpin adalah insan pilihan, berpengaruh, memiliki berbagai kelebihan, sebagai teoretis dan sempurna, dan sebagainya, maka adat Melayu mewajibkan anggota masyarakatnya bakal mendukung dan membantunya sekuat daya masing-masing. Pendurhakaan kepada pemimpin sejati menjadi larangan segara dan anggap
mencorengkan orang di kening
keluarga dan masyarakat. Di n domestik idiom resan dikatakan, “siapa durhaka kepada pemimpinnya, aibnya lain terbada-bada”
atau “siapa mendurhakai yang dirajakannya, di sanalah tempat ia binasa”.


Acuan pantang mendurhakai ini ditujukan kepada pendurhakaan ketua yang terpuji, nonblok, dan ter-hormat, enggak terhadapa pemimpin yang zalim, menyalah, dan sebagainya. Hal ini tercermin dalam ungkapan, “paduka independen sunan disembah, raja zalim emir disanggah”.
Makara, pemimpin yang bebas dan khusyuk model wajib ditaati, sedangkan ketua yang zalim haruslah disanggah, dilawan, disingkirkan, atau setidak-tidaknya diberi peringatan dan sapa.

  1. Persatuan dan Kesatuan, Gotong Royong, dan Simpati

Sifat-aturan ini ialah inti kepribadian yang diajarkan oleh orang tua-tua Melayu. Anak adam Melayu berprinsip bahwa pada hakikatnya manusia adalah berfamili, bersahabat, dan bersayangan, maka angkat tangan pelihara yang berkaitan dengan persatuan dan kesatuan, sanggang royong, dan berhemat rasa senantiasa hidup dan diwariskan secara jatuh temurun. Mereka juga menekankan, bahwa mandu-kaidah tersebut akan mampu membentuk kedamaian di muka mayapada ini.

  1. Kesamarataan dan Kebenaran

Untuk orang Melayu keadilan dan legalitas merupakan kunci utama dalam menegakkan tuah dan menjaga marwah, mengangkat harkat dan martabat, serta ,mendirikan daulat dan kewibawaan. Hukum yang nonblok wajib ditegakkan demi terwujudnya awam yang adil dan sejahtera. Kebenaran terlazim didirikan demi terlaksananya syarak dan sunnah, petuah dan amanh, ketentuan kebiasaan lembaga, dan sebagainya. Bani adam Melayu jantan tenang bikin membela kebenaran. Cucu adam tua-tua menegaskan, “bersimbah karena salah, berani karena sopan”.

  1. Keutamaan Menuntu Ilmu

Tunjuk ajar mengamanahkan sebaiknya ilmu yang dituntut hendaklah ilmu yang berfaedah dan sesuai menurut ajaran Islam, nilai sifat, dan nilai luhur nan telah terserah kerumahtanggaan masyarakat. Ayah bunda-tua juga menegaskan  bahwa aji-aji permakluman harus bermanfaat tak hanya bagi kepentingan pribadi, tetapi harus pun bermanfaat bagi kepentingan masyarakat, nasion, dan Negara. Keutamaan ilmu tercermin dalam ungkapan, “sebaik-baik manusia banyak ilmunya, seburuk ,manusia yang buta keta”
alias “sani insane karena pengetahuan, hina orang ilmunya kurang”.

  1. Tahir dan Rela Berkorban

Resan bersih dan rela berkorban menjadi sifarang tua bangka-wreda mengatakan, bahwa dengan berperangai ikhlas, setiap pekerjaan akan menajdi amal saleh nan diridhoi Allah swt. Dengan sifat ikhlas dan rela berkorban, serta rasa kesetiakawanan sosial akan semakin tinggi, mengakar, dan kemudian membuahkan relasi kudus.

  1. Sifat Amanah

Skifat amanah, taat, tunak, konsisten pendirian, dan terpercaya amat dihormati basyar Melayu. Orang tua-berida Melayu mengatakan, bahwa sifat amanah mencerminkan iman dan takwa, menunjukan sikap terpercaya, dan menunjukan tahu pikulan jawab, meyakinkan, dan setia. Dalam ungkapan dikatakan, “
orang amanah membawa tuah,, “ hamba allah amanah hidup bermarwa”,
dan
“ hamba allah bermarwah dikasihi Allah”.
Idiom lain menyebutkan, “
barangkali hidup menjabat amanah, dunia akhirat beroleh berkah”,
dan “siapa spirit menyambut amanah, kemana menjauhi tidakkan susah”.

Mengacungkan tangan AJAR MELAYU Masuk LANTUNKAN UIN SUSKA MADANI

            Melihat dari granula-butir tunjuk ajar di atas, jikalau dihubungkan dengan kampus nan merinaikan dirinya sebagai kampus Islam madani, melihat berpokok visi UIN Suska (Mewujudkan Institut Islam Negeri seumpama lembaga pendidikan tinggi utama nan berekspansi ramalan Islam, ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni secara terstruktur di daerah  Asia Tenggara Musim 2022) yang menginginkan kampus yang Islami madani, sangat berhubungan rapat persaudaraan dengan mudahmudahan memahami dan menjadikan  pembelajaran nan baik semenjak tunjuk didik Melayu.

            Kampus yang baik, nan atma di provinsi Jawi seharusnya menghidupkan tradisi dan konseptual Kemelayuannya. Hidup yang dipenuhi dengan pengamalan tanzil Islam yang juga dilantunkan dalam tunjuk ajar Melayu.

            Kampus yang madani adalah kampus yang mahasiswa, dosen, pegawai, dan pengurus-pengurusnya mengamalkan Selam dengan baik, bertakwa kepada Allah swt., berbakti kepada ibu dan bapak, ketaatan kepada penasihat yang pemimpinnya ialah orang nan baik, memiliki rasa persatuan dan ahadiat, sanggang royong, dan tenggang rasa yang tangga, kepemimpinan yang menegakkan keadilan dan mendirikan validitas, memahami pentingnya menuntut hobatan dengan niat asli sehingga memperoleh keutamaan ilmunya, tulus dalam segala aktifitasnya nan tercermin rasa rela berkorban demi kemajuan dan kejayaan Islam, serta dengan sifat amanah yang dapat menjalankan  kepemimpinan yang dipercaya oleh ki pionir dan mahasiswanya, sehingga ia dijadikan orang yang terpercaya.

PENUTUP

Ayah bunda-tua Jawi sudah banyak mengajarkan kepada generasi-generasinya bagaimana mengerti Islam secara kaffah, menyeluruh, tidak taklid, tukar menghormati, dan ganti menyayangi. Pengajarannya bisa dilihat dari tunjuk ajar Melayu yang banyak hikmah dan teladannya.

            Mengacungkan tangan tuntun Jawi tidak saja untuk orang Melayu, melainkan beliau juga dapat dijadikan acuan sikap untuk siapapun yang mengangankan mengambil hikmahnya, bukan tetapi bikin menjadi teks, sastra indah, atau menunjukkan leluri, aturan, dan kebiasaan orang Melayu di negeri Melayu, melainkan kamu dapat digunakan internal sendi kehidupan dengan segala dinamikanya. Tunjuk ajar dapat dijadikan sebagai pematang hikmah menata diri, keluarga, masyarakat, dan Negara, terlebih sekali lagi menata kampus. Jika tunjuk asuh ini di hayati dan diamalkan dalam setiap khalayak kampus, niscayalah cita-cita kampus Islami Madani yang dicanangkan akan mudah terwujud dengan kenyataan yang sebenarnya.

            Selain tunjuk jaga, masih banyak lagi hal yang mesti dihayati dan dipahami maknanya dan hikmahnya, yaitu begitu juga gurindam duabelas, ikan terubuk, dan yang lainnya yang banyak mengajarkan tentang pengamalan ajaran Islam.

            Di dalam gurindam duabelas misalnya, Raja Ali Haji mengajarkan bagaimana pendirian berIslam dan menjadi orang islam yang baik. Sebagaimana ungkapan syairnya dalam pasal pertama, “barang siapa tiada menyandang agama, sekali-kali tiada dapat dibilangkan nama”.
Begitulah keseleo satu syairnya yang mengajarkan sepatutnya teguh memegang agama, Selam.

            Maupun di internal Iwak terubuk karya Ulul Azmi, sungguhpun menceritakan akan halnya narasi  ikan terubuk, tapi Ulul ternyata menunjukannya pada kesadaran agama nan lengkap dengan segala apa sendinya, arwah ini. Dengan ikan terubuknya Ulul ingin membuktikan bahwa manusia Melayu juga memahami ilmu ilmu hayat, mantra  sejarah, Ilmu mantera-mantera, Aji-aji politik, dan tentunya sangat kental dengan pemahaman agama Islam. Ia mengajarkan bahwa Selam adalah agama nan syumul, acuan, komprehensif.

            Begitulah semoga manusia Jawi, yang vitalitas di daerah Melayu sekarang ini bersikap, bersifat, dan beramal. Baik bikin makhluk secara publik, lebih-lebih juga orang Melayu yang kian reaktif tentang dunianya sendiri. Moga negeri Melayu ter-hormat-sopan menjadi area Melayu, yang setiap aktifitas orangnya tercerminkan dari ajarannya, tajali Islam.

Abu Faqih, Khozin.
Haruskah Dakwah Merambah Kekuasaan.
Jakarta : al-I’tishom, 2009.

Azmi, Ulul.
Syair Ikan Terubuk.
Yokyakarta : Balai kajian dan Pengembangan Budaya Jawi, 2006.

Effendy, Tenas.
Angkat tangan Ajar Jawi.
Yokyakarta : Balai analisis dan   Peluasan Budaya Melayu, 2004.

Haji, Raja Ali.
Gurindam Duabelas.
Yokyakarta : Aula analisis dan Pengembangan Budaya Melayu, 2004.

Ibrahim, Mahyudin.
Nasehat 125 Ulama Osean.
Jakarta : Darul Ulum Press, 1986.





[1]



Tenas Effendy,
Tunjuk Ajar Melay (Butik-Butik Budaya Melayu Riau),
(Balairung Kajian dan pengembangan Budaya Melayu: Yokyakarta), hlm. 7.

Source: https://catatan-jumardi.blogspot.com/2012/03/tunjuka-ajar-melayu-turut-lantunkan-uin.html