Dalil Tentang Yasinan Dan Tahlilan

Pecihitam.org
– Baru-yunior ini kembali beredar di media sosial sebuah video kajian ustadz Wahabi yang mengatakan bahwa Yasinan, Tahlilan dan zikir untuk mayit itu kebohongan karena tak cak semau dalil tuntunannya. Malah mereka meyalahkan ulama dan kiai yang sebelumnya asosiasi mencela mereka. Jadi ibaratnya, mereka itu doyan kecam tapi tak ingin dikritik.


Pecihitam.org, dapat Istiqomah beranak kata sandang-kata sandang keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim penyunting nan bisa menulis secara rutin. Anda bisa berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan timbrung menaburkan artikel ini ke sungai buatan-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.



DONASI Sekarang

Ini mungkin lagi mutakadim kesekian kalinya kami menjawab tuduhan-tuduhan kebohongan dari Wahabi mengenai amalan-amalan seperti Yasinan, Tahlilan dan doa kepada buntang. Tambahan pula mereka setakat mengatakan kalau Tahlilan dan Yasinan itu bidah yang dianggap sunnah.

Oleh karena mereka tidak pernah bosannya kecam bidah, maka kita juga tidak akan perhubungan bosan menjawabnya bahwa semua amalan tersebut suka-suka dasar dalilnya dan itu yaitu sunnah.

Pertama-tama, sebelum menjawab benarkah yasinan dan tahlilan adalah bidah? Kita sebaiknya terlebih sangat pahami apa itu definisi dusta menurut para ‘ulama. Setelah itu kita cari tahu barang apa definisi tahlilan dan yasinan. Kemudian jika mengetahu senggang ketiga definisi diatas yunior kita temukan dalilnya dan menyimpulkan apakah tahlilan dan yasinan termasuk bidah atau sunnah.?

Daftar Pembahasan:

  • 1
    Definisi Bid’ah
  • 2
    Definisi Tahlilan dan Yasinan

    • 2.1
      Dalil-dalil Adapun Dzikir Bersama
    • 2.2
      Radiks Dalil Mewiridkan Buntang


Definisi Bid’ah

Imam Syafi’i
rahimahullah mendefinisikan bid’ah seumpama berikut:

ما أحدث يخالف كتابا أو سنة اأو أثرا أو اجماعا, فهذه البدعة الضلالة. وما أحدث من الخير, لا خلاف فيه لواحد من هذه الأصول, فهذه محدثة غير مذمومة.

“ Bid’ah adalah apa-apa yang diadakan nan menyelisihi kitab Almalik dan sunah-nya, atsar, atau ijma’ maka inilah bid’ah yang sesat. Adapun perkara baik yang diadakan, nan tidak menyelisihi keseleo satu sekali lagi prinsip-prinsip ini maka tidaklah termasuk perkara baru nan tercela.”

Kemudian
Imam Ibnu Rajab
rahimahullah mendefinisaikan bid’ah intern kitabnya yang berjudul “Jami’ul Ulum wal Hikam” laksana berikut;

ما أُحْدِثَ ممَّا لا أصل له في الشريعة يدلُّ عليه ، فأمَّا ما كان له أصلٌ مِنَ الشَّرع يدلُّ عليه ، فليس ببدعةٍ شرعاً ، وإنْ كان بدعةً لغةً ،

“Bid’ah merupakan apa saja yang dibuat minus lingkaran syari’at. Jika memiliki guri hukum dalam syari’at, maka bukan bid’ah secara syari’at, walaupun tertulis bid’ah dalam tinjauan bahasa.”

Dengan definisi bid’ah nan dikemukakan maka dari itu dua cerdik pandai’ di atas, bukankah dapat difahami, bahwa perkara mentah atau perkara nan tidak ada contohnya pecah Rasulullah SAW itu dibagi dua. Pertama perkara baru yang sama sekali tidak ada dasarnya intern hukum dan kedua perkara hijau yang cak semau dasarnya privat syariat.

Ibnu Rajab menegaskan bahwa perkara hijau yang ada dasarnya privat hukum, itu tidak dapat dikatakan bid’ah secara syariat meski sebenarnya kamu tertulis bid’ah secara bahasa. Dan jika suatu amalan dianggap bid’ah secara bahasa, saja tak secara syariat, maka amalan tersebut bisa dilakukan, selagi tidak terserah nash dan dalil yang nyata nyata melarangnya.

Bintang sartan cukup jelas ya, definisi dusta diatas. Jika belum silahkan bisa baca lebih lengkapnya mengenai perkara bid’ah
disini.


Definisi Tahlilan dan Yasinan

Kata Tahlilan pecah dari bahasa Arab tahlil (تَهْلِيْلٌ) dari akar tunjang alas kata:
هَلَّلَ

يُهَلِّلُ – تَهْلِيْلا

yang berarti mengucapkan kalimat:
لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ
. Kata takbir dengan pengertian ini telah muncul dan ada di masa Rasulullah Saw, seperti intern perkataan nabi sira:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى .رواه مسلم

“ Berpangkal Abu Dzar radliallahu ‘anhu, berusul Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam, sesungguhnya anda mengomong: “Bahwasanya puas setiap tulang sendi kalian suka-suka sedekah. Setiap wacana rosario itu merupakan sedekah, setiap bacaan doa itu adalah sedekah, setiap bacaan
Tahmid
itu adalah sedekah, setiap bacaan takbir itu yaitu sedekah, dan amar ma’ruf nahi munkar itu adalah sedekah, dan mencukupi semua itu dua rakaat nan dilakukan seseorang dari sholat Dluha.” (Hadits riwayat: Mukmin).

Mengenai Yasinan adalah acara membaca
kopi Yasin
yang biasanya lagi dirangkai dengan tahlilan. Di kalangan masyarakat Indonesia istilah tahlilan dan yasinan populer digunakan bikin menyapa sebuah program dzikir bersama, doa bersama, alias majlis dzikir. Singkatnya, tahlilan dan yasinan adalah bagian pecah dzikir kepada Allah SWT

Dalil-dalil Tentang Dzikir Bersama

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ مُعَاوِيَةُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى حَلْقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ: مَا أَجْلَسَكُمْ ؟. قَالُوا: جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللَّهَ وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ وَمَنَّ بِهِ عَلَيْنَا. قَالَ: آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ؟ قَالُوا: وَاللَّهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ. قَالَ أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَنِي أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمُ الْمَلَائِكَةَ . رواه أحمد و مسلم و الترمذي و النسائي

“ Berpokok Duli Sa’id al-Khudri ra., Mu’awiyah berkata: Sepantasnya Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam pertautan keluar menuju halaqah (perkumpulan) para sahabatnya, beliau menyoal: “Kenapa kalian duduk di sini?”. Mereka menjawab: “Kami duduk kerjakan berdzikir kepada Halikuljabbar dan memujiNya seperti mana Islam mengajarkan kami, dan atas anugerah Allah dengan Islam untuk kami”. Nabi bertanya kemudian: “Demi Allah, kalian tidak duduk kecuali hanya untuk ini?”. Jawab mereka: “Demi Allah, kami lain duduk kecuali belaka bagi ini”. Nabi bersabda: “Sesungguhnya aku lain memiliki prasangka buruk terhadap kalian, tetapi malaikat Roh kudus nomplok kepadaku dan memberi kabar bahwasanya Allah ‘Azza wa Jalla membanggakan tindakan kalian kepada para malaikat”. (Hadits riwayat: Ahmad, Muslim, At-Tirmidziy dan An-Nasai).

Jika kita perhatikan hadits ini, dzikir bersama yang dilakukan para sahabat tidak hanya sekedar direstui cuma juga mendapat pujian dari Rasulullah Saw. Karena plong ketika yang sama Malaikat Jibril memberi pesiaran bahwa Sang pencipta ‘Azza wa Jalla membanggakan kreatifitas dzikir bersama yang dilakukan para sahabat ini kepada para malaikat.

Kemudian marilah kita perhatikan hadits berikut ini

عَنِ الْأَغَرِّ أَبِي مُسْلِمٍ أَنَّهُ قَالَ أَشْهَدُ عَلَى أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُمَا شَهِدَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ. رواه مسلم

“Dari Al-Agharr Debu Muslim, sesungguhnya ia bercakap: Aku bersaksi bahwasanya Abuk Hurairah dan Abu Said Al-Khudzriy bersaksi, bahwa sesungguhnya Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam bersuara: “Tidak duduk suatu kaum dengan berdzikir langsung kepada Allah ‘Azza   wa Jalla, kecuali para malaikat kerubung mereka, rahmat Almalik mengalir menunaikan janji mereka, ketenteraman diturunkan kepada mereka, dan Allah menyebut mereka internal golongan orang yang ada disisiNya”. (Hadits riwayat Mukmin)

Dua hadits shohih diatas setidaknya memadai menjelaskan mengenai keutamaan dzikir berjama’ah.


Dasar Dalil Mewiridkan Mayit

Bacaan ayat-ayat al-Qur’an yang dihadiahkan bagi mayit menurut pendapat mayoritas ulama’ hukumnya bisa dan pahalanya bisa sampai kepada si mayit tersebut.

Adapni diantara dasar dalilnya adalah hadits nan diriwayatkan oleh Bubuk Dawud dan lainnya;

 عَنْ سَيِّدِنَا مَعْقَلْ بِنْ يَسَارْ رَضِيَ الله عَنْهُ اَنَّ رَسُولَ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم قَالَ : يس قَلْبُ اْلقُرْانْ لاَ يَقرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيْدُ اللهَ وَالدَّارَ اْلاَخِرَة اِلاَّ غَفَرَ اللهُ لَهُ اِقْرَؤُهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ )رَوَاهُ اَبُوْ دَاوُدْ, اِبْنُ مَاجَهْ, اَلنِّسَائِى, اَحْمَدْ, اَلْحَكِيْم, اَلْبَغَوِىْ, اِبْنُ اَبِىْ شَيْبَةْ, اَلطَّبْرَانِىْ, اَلْبَيْهَقِىْ, وَابْنُ حِبَانْ

Dari sahabat Ma’qal kedelai Yasar r.a. bahwa Rasulallah s.a.w. bersabda : sertifikat Yasin yakni pokok dari al-Qur’an, enggak dibaca maka dari itu seseorang nan mengharap ridha Allah kecuali diampuni dosa-dosanya. Bacakanlah arsip Yasin kepada orang-orang yang meninggal manjapada di antara kalian. (H.R. Abu Dawud, dll)

Beberapa ulama juga berpendapat seperti Padri Syafi’i yang mengatakan bahwa,

وَيُسْتَحَبُّ اَنْ يُقرَاءَ عِندَهُ شيْئٌ مِنَ اْلقرْأن ,وَاِنْ خَتمُوْا اْلقرْأن عِنْدَهُ كَانَ حَسَنًا

Bahwa, disunahkan membacakan ayat-ayat al-Qur’an kepada mayit, dan jika hingga khatam al-Qur’an maka akan lebih baik.

Malah Imam Nawawi dalam kitab Majmu’ menerangkan bahwa lain hanya tahlil dan doa, cuma juga disunahkan bagi basyar nan ziarah kubur bakal membaca ayat-ayat Al-Qur’an lalu setelahnya diiringi berdoa bagi mayit.

Sebagai halnya Imam al-Qurthubi memberikan penjelasan bahwa, riuk satu dalil yang dijadikan pola maka itu jamhur’ kita tentang sampainya pahala kepada layon adalah, Rasulallah SAW pernah membelah pelepah kurma untuk ditancapkan di atas kubur dua sahabatnya sekali lalu mengomong

“Semoga ini bisa melonggarkan keduanya di umbul-umbul kubur sebelum pelepah ini menjadi kering”.

Pater al-Qurtubi kemudian berpendapat, jikalau petiolus kurma saja boleh meringankan kewajiban si mayit, lalu bagaimanakah dengan teks-teks al-Qur’an dari sanak saudara dan teman-temannya. Tentu tetapi pustaka-wacana al-Qur’an dan doa lainnya akan bertambah bermakna bagi si bangkai.

Abul Walid Ibnu Rusyd pun mengatakan:

وَاِن قرَأَ الرَّجُلُ وَاَهْدَى ثوَابَ قِرَأتِهِ لِلْمَيِّتِ جَازَ ذالِكَ وَحَصَلَ لِلْمَيِّتِ اَجْرُهُ

Seseorang yang membaca ayat al-Qur’an dan menghadiahkan pahalanya kepada jenazah, maka pahala tersebut bisa setakat kepada layon tersebut.

Dengan demikian, cukup gamblang bahwa tahlilan, yasinan dan mendoakan batang yakni perkara sunnah. Bahkan memiliki banyak keutamaan. Bawah dalilnya? Semua nan sudah lalu dijelaskan diatas.

Wallahua’lam bisshawab.

  • Author
  • Recent Posts

Arif Rahman Hakim

Source: https://pecihitam.org/yasinan-bidah/

Posted by: caribes.net