Dampak Negatif Petani Membajak Sawah

Sejak jaman dahulu wilayah-kawasan nan sekarang mengekspresikan Indonesia sekarang dikenal juga sebagai negara agraris, adalah masyarakatnya mayoritas berprofesi sebagai petani. Baik sebagai peladang sawah maupun umpama petani tipar. Untuk pekebun sawah, mungkin bukan asing bagi kita dengan kerbau ataupun sapi yang digunakan untuk menajak sawah.

Ditengah serangan kemajuan teknologi modern sebagai halnya traktor alias jenis motor orang tani sawah lainnya, masih ada umum Indonesia yang memperalat mahesa maupun sapi bagi mencangkul sawahnya. Kita tentu mengenal karapan sapi di pulau Madura, sesungguhnya karapan sapi berawal berbunga penggunaan sapi bagi mencangkul sawah. Sedangkan eksploitasi kerbau untuk menyekop sawah bisa kita tatap di Sumatra Barat dan Jawa Barat.

Pengusahaan Kerbau sebagai Petani Sawah di Bogor, Jawa Barat

Penggunaan Kerbau atau sapi dalam mengolah sawah sepatutnya ada sangat bermanfaat, baik bagi petani maupun mileu. Sekiranya kita amati dengan seksama, membajak sawah menggunakan kerbau atau sapi akan lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan pemanfaatan traktor. Ada tiga keuntungan yang terdepan dari penggunaan hewan untuk menajak sawah, yaitu:

Rendah karbon

Pengoperasian sato untuk memacul sawah hanya sedikit menghasilkan karbon yang dilepaskan ke mileu. Bandingkan dengan traktor atau pengambil inisiatif orang tani sawah yang menggunakan bahan bakar fosil. Ini sekali lagi menghemat pengeluaran petani untuk membeli alamat bakar tersebut, tapi tentu saja petani tersebut harus meluangkan makanan (rata-rata rumput) bagi ternak besarnya tersebut.

Ampas fauna dapat menjadi serat

hewan ternak yang digunakan untuk mencangkul biasanya akan mengeluarkan kotoran nan boleh serentak menjadi pupuk nan akan menyuburkan sawah yang sedang dibajak. Dengan demikian penggunaan  pupuk non-organik kali dapat dikurangi sehingga keamanan lingkungan relatif dapat lebih terbimbing.

Suplai peliharaan

Hewan ternak tersebut sebenarnya merupakan tabungan bagi pembajak pemiliknya. Setiap waktu ternak tersebut akan bertambah besar dan jika pembajak tersebut pakar, peliharaan akan berkembang biak dan sinkron-waktu pekebun membutuhkan uang ia bisa doang lego ternaknya.

Selain manfaat tersebut, sebenarnya penggunaan piaraan tersebut merupakan salah suatu khasanah budaya tradisional kita sebagai masyarakat agraris. Kembali dapat menjadi sebuah tontonan yang menarik yang dapat dijadikan atraksi maupun mangsa pariwisata. Salah satu contoh pemanfaatan kerbau pembajak sawah sebagai tontonan wisata bisa kita lihat di

Kampung Wisata Cinangneng
, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Di Cinangneng, pementasan ini dipadukan dengan aktifitas masyarakat partikular pedesaan. Di kampung ini terbukti bahwa wisata pedesaan di Indonesia pas diminati.

Kedepannya, agar perbendaharaan budaya kita ini kukuh dapat dipertahankan dan boleh mendatangkan keuntungan kerjakan masyarakat kita.

Source: http://www.borneoscape.com/2012/11/kerbau-pembajak-sawah.html

Posted by: caribes.net