Dimana Biasanya Disebut Tempat Mistik

Semenjak Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Mistisme
ialah paham yang memberikan visiun yang serba mistis (bak ajarannya berbentuk rahasia alias ajarannya serba pokok, terselubung, liar maupun jadi-jadian dalam kekelaman) sehingga tetapi dikenal, diketahui atau dipahami oleh sosok-orang tertentu semata-mata, terutama penganutnya. Pembukaan mistemis berasal berpunca bahasa Yunani
mystikos
yang artinya sosi (geheim), serba taktik (geheimzinnig), tersembunyi (verborgen), gelap (donker) maupun terselubung dalam kekelaman (in het duister gehuld).

Pendapat-pendapat

[sunting
|
sunting sumber]

Menurut kiat De Kleine W.P. Encylopaedie (1950, Mr. G.B.J. Hiltermann dan Prof.Dr.P. Van De Woestijne halaman 971 dibawah kata

mystiek
) prolog perdukunan berasal bermula bahasa Yunani
myein
yang artinya merem (de ogen sluiten) dan
musterion
yang artinya suatu anak kunci (geheimnis).

Beberapa pendapat tentang reaktif misitk atau mistisisme:

  • Kepercayaan tentang adanya kombinasi antara manusia bumi (aardse mens) dan allah (Dr. C.B. Van Haeringen, Nederlands Woordenboek, 1948).
  • Pembantu akan halnya persatuan mesra (innige vereneging) ruh manusia (ziel) dengan Tuhan (Dr. C.B. Van Haeringen, Nederlands Woordenboek, 1948).
  • Kepercayaan kepada suatu probabilitas terjadinya persatuan serempak (onmiddelijke vereneging) khalayak dengan Dzat Rabani (goddelijke wezen) dan tangkisan bergairah kepada persatuan itu (Algemeene Kunstwoordentolk, J. Kramers. Jz).
  • Kepercayaan kepada hal-keadaan yang rahasia (geheimnissen) dan hal-peristiwa nan tersembunyi (verborgenheden). (J. Kramers. Jz).
  • Kecenderungan hati (neiging) kepada kepercayaan nan menakjubkan (wondergeloof) atau kepada ilmu yang kiat (geheime wetenschap). (Algemeene Kunstwoordentolk, J. Kramers. Jz).

Selain diperolehnya definisi, pendapat-pendapat tentang peka mistik di atas berdasarkan materi ajarannya lagi memberikan adanya pemilahan antara
paham perdukunan keagamaan
(terkait dengan almalik dan ketuhanan) dan paham
perdukunan non-keagamaan
(bukan terkait dengan tuhan ataupun ketuhaan).

Ramalan dan Sumbernya

[sunting
|
sunting sumber]

Subyektif

[sunting
|
sunting sumur]

Selain serba misterius, ajarannya kembali serba subyektif tak objektif. Lain ada
pedoman dasar
yang mondial dan yang otentik. Mulai sejak semenjak pribadi biang keladi utamanya sehingga reseptif klenik itu tidak setimpal suatu selaras lain meski akan halnya hal yang sama. Sehingga pembahasan dan pengalaman ajarannya enggak kelihatannya dikendalikan atau dikontrol dalam kurnia nan semestinya.

Biasanya tokohnya sangat dimuliakan, diagungkan bahkan diberhalakan (dimitoskan, dikultuskan) oleh penganutnya karena dianggap n kepunyaan
keistimewaan
pribadi yang disebut
kharisma. Anggapan adanya kurnia ini dapat disebabkan oleh:

  1. Pernah mengerjakan kegiatan nan istimewa.
  2. Pernah mengatasi kesulitan, penderitaan, godaan atau bahaya yang mengancam dirinya malar-malar masyarakat mahajana.
  3. Masih keturunan atau terserah hubungan darah, alumnus murid ataupun sekutu dengan alias dari manusia nan memiliki kharisma.
  4. Korespondensi meramalkan dengan tepat satu kejadian besar/berfaedah.

Sementara itu bagaimana sang induk bala itu menerima ajaran alias signifikasi tentang paham yang diajarkannya itu rata-rata melalui petualangan batin, pengasingan diri, memencilkan diri, bersemedi, bermeditasi, mengheningkan cipta dll dalam lembaga ekstase, vision, inspirasi dll. Jadi ajarannya diperoleh melalui pengalaman pribadi motor itu sendiri dan penerimaannya itu
bukan mungkin dibuktikannya sendiri kepada orang tidak.

Dengan demikian penerimaan ajarannya hampir-hampir sekadar bersendikan pembantu belaka, bukan pemikiran. Maka berbunga itulah di antara kita terserah yang menyebutnya paham, ilham kepercayaan alias aliran pembantu (geloofsleer).

Menghafal pengajarannya bukan boleh jadi dikendalikan dalam arti semestinya, maka paham mistik mudah menganjurkan silang baru menjadi diseminasi-arus mentah sesuai penafsiran masing-masing tokohnya. Atau pun sebaliknya mudah timbul pemberkasan atau percampuran ajaran tanggap-paham nan sudah ada sebelumnya.

Karena serba mistik maka paham perdukunan atau kelompok penganut peka mistik tidak bersisa sulit digunakan oleh basyar-cucu adam yang ada harapan tertentu dan yang perlu dirahasiakan karena menyalahi alias bertentangan dengan opini publik alias hukum yang dolan sebagai panggung sembunyi.

Abstrak dan Spekulatif

[sunting
|
sunting sendang]

Materinya serba ideal artinya enggak konkret, misal tentang yang mahakuasa (reaktif mistik ketuhanan), tentang keruhanian maupun kejiwaan, alam di balik liwa mayapada dll (reaktif mistik non-keyakinan). Dengan demikian pembicaraannya serba spekulatif, ialah serba mengira-kira, mencari-cari, memungkin-mungkinkan dll (lain komputatif). Pembicaraannya serba berpanjang-panjang, serba bersisa-lebihan dalam kepentingan melebihi kewajaran maupun melebihi warta dan pengertiannya sendiri (biar sudah lalu mengakui tidak tahu, masih mencoba memungkin-mungkinkan). Oleh karena itu di kalangan penganut perseptif okultisme tak dikenal pembahasan disiplin mengenai ajarannya sebagaimana nan bertindak n domestik diskusi atau munaqasyah.

Sebab orang menganut paham mistik

[sunting
|
sunting sumber]

  1. Kurang plong yang berlebihan, bagi orang-orang yang hidup beragama secara bersungguh-sungguh merasa invalid puas dengan hidup menghamba kepada tuhan menurut ajaran agamanya yang ada doang.
  2. Rasa tawar hati yang jebah, Orang nan hidupnya kurang bermati-mati dalam beragama maupun bani adam nan bukan beragama merasa kecewa sekali menyibuk hasil usaha umat bani adam di latar science dan teknologi nan tadinya diandalkan dan diagungkan ternyata tidak dapat mendatangkan ketertiban, ketentraman dan kebahagiaan hidup. Justru mendatangkan hal-hal yang sebaliknya. Mereka ‘lari’ dari atma bertamadun berkiblat ke kehidupan yang serba subyektif, niskala dan kontemplatif sesuai dengan geta sosialnya.

Di antara mereka masih cak semau yang
berusaha merasionalkan
ajaran paham mistik yang dianutnya, dan ada pula yang tegas-tegas lepas terkadang semenjak tuntutan kemajuan zaman ini. Kendati demikian, paham perdukunan dapat menanam standar etika dan moral intern tatanan peradaban. Biarpun paham perdukunan biasanya disampaikan menggunakan perumpamaan, didalamnya sebenarnya terwalak kredit nan dapat direnungkan dan masih relevan bakal diterapkan dalam usia sehari-hari.

Lihat pun

[sunting
|
sunting mata air]

  • Agama
  • Tuhan
  • Adat
  • Sakral

Bacaan

[sunting
|
sunting perigi]

sumber: MH Amien Jaiz, Kebobrokan Perdukunan Tasawuf & Suluk (PT Alma’arif, Bandung, Tempaan 1980)

Sumber

[sunting
|
sunting perigi]

Sumber yang diterbitkan

[sunting
|
sunting perigi]

  • Belzen, Jacob A.; Geels, Antoon (2003),
    Mysticism: A Variety of Psychological Perspectives, Rodopi



  • Carrithers, Michael (1983),
    The Forest Monks of Sri Lanka



  • Harmless, William (2007),
    Mystics, Oxford University Press



  • Holmes, Ernest (2010),
    The Science of Mind: Complete and Unabridged, Wilder Publications, ISBN 1604599898



  • Hori, Victor Sogen (1999),
    Translating the Zen Phrase Book. In: Nanzan Bulletin 23 (1999)
    (PDF)



  • Katz, Steven T. (2000),
    Mysticism and Sacred Scripture, Oxford University Press



  • King, Richard (2002),
    Orientalism and Religion: Post-Colonial Theory, India and “The Mystic East”, Routledge



  • Kramers Jz, J. (1847),
    Algemeene kunstwoordentolk, G.B. van Goor, Gouda.



  • Lewis, James R.; Melton, J. Gordon (1992),
    Perspectives on the New Age, SUNY Press, ISBN 0-7914-1213-X



  • McGinn, Bernard (2006),
    The Essential Writings of Christian Mysticism, New York: Bertamadun Library



  • McMahan, David L. (2008),
    The Making of Buddhist Modernism, Oxford: Oxford University Press, ISBN 9780195183276



  • Parsons, William B. (2011),
    Teaching Mysticism, Oxford University Press



  • Sekida, Katsuki (1985),
    Zen Training. Methods and Philosophy, New York, Tokyo: Weatherhill



  • Sharf, Robert H. (2000),
    The Rhetoric of Experience and the Study of Religion. In: Journal of Consciousness Studies, 7, No. 11-12, 2000, pp. 267-87
    (PDF), diarsipkan dari versi zakiah
    (PDF)
    tanggal 2022-05-13, diakses tanggal
    2013-12-03




  • Spilka e.a. (2003),
    The Psychology of Religion. An Empirical Approach, New York: The Guilford Press



  • Wright, Dale S. (2000),
    Philosophical Meditations on Zen Buddhism, Cambridge: Cambridge University Press



Web-sumber

[sunting
|
sunting sumber]

Pustaka lebih lanjut

[sunting
|
sunting sumber]

  • Baba, Meher (1995).


    Discourses

    . Myrtle Beach, S.C.: Sheriar Foundation.



  • Daniels, P., Horan A.
    Mystic Places. Alexandria, Time-Life Books, 1987.
  • Dasgupta, S. Ufuk.
    Hindu Mysticism. New York: F. Ungar Publishing Co., 1927, “republished 1959”. xx, 168 p.
  • Dinzelbacher, Peter.
    Mystik und Natur. Zur Geschichte ihres Verhältnisses vom Altertum bis zur Gegenwart. (Theophrastus Paracelsus Studien, 1) Berlin, 2009.
  • Elior, Rachel,
    Jewish Mysticism: The Infinite Expression of Freedom, Oxford. Portland, Oregon: The Littman Library of Jewish Civilization, 2007.
  • Fanning, Steven.,
    Mystics of the Christian Tradition.
    New York: Routledge Press, 2001.
  • Jacobsen, Knut A. (Pengedit) (2005).
    Theory And Practice of Yoga: Essays in Honour of Gerald James Larson. Brill Academic Publishers (Studies in the History of Religions, 110).



  • Harmless, William,

    Mystics
    . Oxford, 2008.
  • King, Ursula.
    Christian Mystics: Their Lives and Legacies Throughout the Ages. London: Routledge 2004.
  • Kroll, Jerome, Bernard Bachrach.
    The Mystic Mind: The Psychology of Medieval Mystics and Ascetics. New York and London: Routledge, 2005.
  • Langer, Otto.
    Christliche Mystik im Mittelalter. Mystik und Rationalisierung – Stationen eines Konflikts. Darmstadt, 2004.
  • Louth, Andrew.,
    The Origins of the Christian Mystical Tradition.
    Oxford: Oxford University Press, 2007.
  • Masson, Jeffrey and Terri C. Masson.
    Buried Memories on the Acropolis. Freud’s Relation to Mysticism and Anti-Semitism. International Journal of Psycho-Analysis, Volume 59, 1978, pages 199-208.
  • McKnight, C.J.
    Mysticism, the Experience of the Divine: Medieval Wisdom. Chronicle Books, 2004.
  • McGinn, Bernard,
    The Presence of God: A History of Western Christian Mysticism’.’ Volumes 1 – 4. (The Foundations of Mysticism;
    The Growth of Mysticism;
    The Flowering of Mysticism) New York, Crossroad, 1997-2005.
  • Merton, Thomas,
    An Introduction to Christian Mysticism: Initiation into the Monastic Tradition, 3.
    Kalamazoo, 2008.
  • Nelstrop, Louise, Kevin Magill and Bradley B. Onishi,
    Christian Mysticism: An Introduction to Contemporary Theoretical Approaches. Aldershot, 2009.
  • Otto, Rudolf (author); Bracy, Bertha L. (translator) & Payne, Richenda C. 1932, 1960.
    Mysticism East and West: A Comparative Analysis of the Nature of Mysticism. New York, N. Y., USA: The Macmillan Company
  • Stace, W. T.
    Mysticism and Philosophy. 1960.
  • Stace, W. T.
    The Teachings of the Mystics, 1960.
  • Underhill, Evelyn.
    Mysticism: A Study in the Nature and Development of Spiritual Consciousness. 1911
  • Stark, Ryan J. “Some Aspects of Christian Mystical Rhetoric, Philosophy, and Poetry,” Philosophy and Rhetoric 41 (2008): 260-77.

Pranala asing

[sunting
|
sunting sumur]

  • Resources – Medieval Jewish History – Jewish Mysticism Diarsipkan 2022-12-16 di Wayback Machine. The Jewish History Resource Center, The Hebrew University of Jerusalem
  • “Mysticism”
    Stanford Encyclopedia of Philosophy
  • “Mysticism”
    Encyclopedia of Religion and Society
  • “Self-transcendence enhanced by removal of portions of the parietal-occipital cortex” Diarsipkan 2022-10-08 di Wayback Machine. Article from the Institute for the Biocultural Study of Religion
  • Shaku soens influence on western notions of mysticism



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Mistisisme

Posted by: caribes.net