Gambar Anak Jatuh Dari Sepeda

Fimela.com, Jakarta
Kenangan pada masa kecil takkan susunan sebun. Hari-hari dan perian nan kita lewati saat masih anak-anak akan selalu membekas di hati. Per dari kita lagi karuan punya kisah atau cerita paling membekas cak bertanya masa mungil itu, sebagai halnya pengalaman yang dituliskan Sahabat Fimela dalam
Lomba My Childhood Story: Berbagi Cerita Hari Kecil yang Menyenangkan ini.

***

Oleh:  Fanny Anggraeni Manurung

Dulu ketika saya SD, bersepeda adalah aktivitas yang paling saya gemari. Begitu duduk di atas sadel dan mulai mengayuh, saya seolah merasa menjadi orang nan paling bahagia sedunia.

Kebetulan sepeda yang saya miliki adalah sepeda rakitan karena ada padanan boke saya memang usaha itu. Sebagai halnya barang kreasi pada umumnya, invalid pada produk bisa dibilang merupakan hal yang lumrah, tertulis sedikit pada sepeda saya. Ya, pit saya rem depan dan belakangnya blong, dan alih-alih mengoreksi remnya, saya lebih-lebih meminta remnya bakal dilepas sehingga praktis saya mengerem memperalat sandal yang saya pakai.

“Sirkuit” primadona saya ketika mengayuh adalah jalan menurun menuju rumah saya, yang kemudian apabila lurus selingkung 5 meter, terdapat belokan ke kidal dan agak menaiki.

Pengalaman Bersepeda dan Jatuh yang Bukan Terlupakan

Sore itu, seperti biasa, saya mancawas besikal saya dari jihat jalan yang strata, meluncur jebluk, kemudian belengkok perot ke kiri. Sekali. Dua bisa jadi. Tiga kali. Saya begitu menikmatinya. Tapi seperti kata pepatah, sepandai-pandainya bajing melompat, pada akhirnya akan jatuh pun. Pada luncuran yang kesekian kalinya, alih-alih melambatkan lancar sepeda, saya justru mancawas pedal besikal makin cepat. Saya ingin berbelok dengan kecepatan nan lebih tinggi.

Ketika puas akhirnya saya menginjak meranggah amung tikungan, saya lain boleh mengendalikan laju sepeda, sehingga alih-alih berjalan lurus, sepeda saya lebih-lebih keluar jalur dan mengantarkan saya “sowan” dengan tembok flat setangga saya. Enggak lupa saya cium setiap dim tembok rumahnya, karena saya terjatuh merosot berpunca dinding.

Sekonyongkonyong saya sinkron meraba jidat kidal saya yang terasa lindu — yang ternyata benjol. Saya pun menyadari bahwa bibir saya jontor dari pendirian saya menutup mata bibir terasa seperti ada ganjalan.

Pada karenanya saya tuntun besikal saya, dan dengan mengendap-endap saya turut ke kamar dan tidur menyamping menghadap tembok — hendaknya tidak ketahuan manusia lanjut umur karena bangun saya pasti akan dimarahi. Ayuk saya yang kebetulan waktu itu menyadari cak semau nan aneh dengan saya karena saya telah tidur ketika hari magrib, kemudian berusaha menginterogasi saya.

Karena saya tidak ingin membalikkan badan biar berkali-kali ditanya, jadinya kakak saya meraih bahu saya cak bagi mengecek apa yang sebenarnya terjadi, dan begitu mengaram jidat saya benjol dan bibir saya jontor, ditambah dengan hiasan aktual kelupasan pewarna dinding yang ternyata turut menempel di wajah saya, gerepes kakak saya menertawakan saya tanpa perhatian.

Karena kejadian itu saya tak jera semakin hari semakin sering untuk naik pit dan menjadi hobi sampai perian-hari serupa ini bersepeda.

#ElevateWomen

Source: https://www.fimela.com/lifestyle/read/4623535/masa-kecil-kita-pasti-pernah-diwarnai-jatuh-dari-sepeda-meski-cuma-sekali

Posted by: caribes.net