Gambus Termasuk Jenis Alat Musik

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Gambus
merupakan alat musik petik seperti mandolin yang bersumber dari Timur Tengah. Paling kurang gambus dipasangi 3 senar sampai paling banyak 12 senar. Gambus dimainkan sambil diiringi gendang. Sebuah orkes mempekerjakan alat musik terdepan berupa gambus dinamakan
orkes gambus
atau disebut
gambus
belaka. Di TVRI dan RRI, orkes gambus ikatan menyanyikan acara musik gurun. Orkes gambus mengiringi tari Zapin dan Tari Jepen nan seluruhnya dibawakan laki-laki untuk tari susunan. Lagu yang dibawakan berirama Timur Paruh. Sementara itu tema liriknya yakni religiositas. Perkakas musiknya terdiri dari biola, gendang, tabla dan seruling. Kini, orkes gambus menjadi eigendom orang Betawi dan banyak diundang di pesta sunatan dan perkawinan. Lirik lagunya berbahasa Arab, isinya bisa doa ataupun shalawat. Peneroka orkes gambus adalah Syech Albar seorang Arab-Indonesia, bapaknya Ahmad Albar, dan yang tersohor orkes gambus El-Surayya terbit kota Medan pimpinan AhmadBaqi.

Sejarah Gambus di Sumatera

[sunting
|
sunting sumber]

alat nada gambus awalnya dikenal oleh awam Jawi yang bertempat di distrik pesisir pantai, bersama dengan masuknya para pedagang dari daerah Timur Paruh pada abad ke 7 hingga abad ke 15-an.Selain datang buat berdagang, mereka juga berdakwah memperkenalkan ajaran Islam kepada mahajana setempat. Di samping itu, para pedagang juga membawa peralatan musik, diantaranya adalah Gambus.

Sehingga masuknya para pedagang terbit Timur Tengah di provinsi Riau, meninggalkan kekuasaan privat bidang budaya dan kesenian. Dengan begitu, kesenian gambus serta tari zapin mulai berkembang di awam Melayu Riau khususnya di Pulau Bengkalis, Pulau Penyengat, dan Siak Sri Indrapura.

Masyarakat Melayu Riau mulanya, memainkan Gambus secara tunggal dalam mengiringi lagu-lagu nan dinyanyikan koteng oleh sang pemain Gambus dengan syair-syair Islami sebagai hiburan di dalam rumah dan menembang tembang-syair bertema asmara atau kehidupan sehari-masa sebagai hiburan di atas bahtera detik penjala sedang mengail ataupun menyusuri batang air.

Ibarat hiburan pribadi, Gambus Melayu kebanyakan berlaku secara sedarun tanpa dipersiapkan atau dirancang dahulu sesuai dengan kondisi, situasi, dan manah yang tercipta dari si anak bangsawan Gambus.

Penyajian Gambus yang berada di dalam kondominium, selain sebagai sarana hiburan secara bani adam pula sebagai pendekatan diri kepada Almalik Yang Maha Esa.

Belaka saat ini, fungsi instrumen irama Gambus lebih comar dimainkan untuk mengiringi tarian Zapin yang diiringi juga dengan beberapa gawai musik lainnya, seperti marawis.Pergeseran nilai spiritual dan kebersamaan dalam publik Melayu di Riau inilah nan menyebabkan pertukaran rukyat awam terhadap kesenian Gambus dan Zapin.Musik Gambus semakin berkembang sejak berpindah alih kelebihan misal pembawa Zapin di pentas. Sehingga, lagu yang mulanya bernuansa Islami berubah menjadi lagu-lagu yang lebih sekuler.

Akan tetapi, walaupun musik Gambus privat tari zapin berkembang, mereka tetap tidak mengubah aturan awal dalam tradisi nan mutakadim hidup lega masyarakat Melayu Riau.

Bakal tari zapin tradisi, pemain musik Gambus biasanya akan mengidungkan syair nuansa Islami pada acara khitanan, khatam al-alquran, cukur rambut, dan acara lilin lebah berinai calon pengantin wanita. Sedangkan, kerjakan tari zapin kreasi pemain akan kian merinaikan tembang-sajak sekuler pada acara yang sifatnya bukan sakral, sebagai halnya programa mengakui tamu, program resepsi pernikahan, dan program perayaan lainnya.

Album Gambus di Kalimantan

[sunting
|
sunting sumber]

Masuknya gambus di Kalimantan adalah melampaui kelompok masyarakat yang mulai sejak bermula Kerajaan Brunei Darussalam dan tinggal serta membaur bersama masyarakat Melayu Sanggau lainnya yang sreg masa itu berpusat di Desa Mengkiang. Desa Mengkiang inilah menjadi kakek Kerajaan Sanggau yang kini menjadi Kabupaten Sanggau. Desa ini makmur di alur Batang air Sekayam yang merupakan anak sungai dari Wai Kapuas. Pada awalnya para penduduk yang berusul dari Kerajaan Brunei tersebut merupakan penjelajah, beberapa diantara mereka ada yang dapat memainkan alat musik gambus. Gambus diserap dan dimainkan oleh penduduk asli Desa Mengkiang dikarenakan ketertarikan mereka pada masa itu melihat radas nada gambus yang distingtif dengan cara permainan dipetik dan juga berbarengan mengiringi syair – syair yang dinyanyikan oleh anak ningrat gambus. Kesenian ini sah disebut besya’er oleh masyarakat setempat.. Selain itu pada masa itu juga tidak cak semau wahana hiburan lain nan dilakukan oleh masyarakat Desa Mengkiang untuk menghibur mereka diwaktu luang. Peran radas gambus kerumahtanggaan Ansambel Nada Melayu di Kabupaten Sanggau yakni sebagai pemimpin intern Ansambel Nada Melayu. Anak komidi radas gambus dalam ansambel musik Melayu dijadikan pemimpin dikarenakan gambus merupakan melodi utama dalam lagu – lagu nan dimainkan. Selain itu, seorang penggambus juga dituntut untuk bisa menyanyikan puisi – syair lagu nan dibawakan. Jadi, seorang penggambus selain mahir ranggah dawai instrumen gambus juga harus dapat besya’er.

Gambusi di Gorontalo

[sunting
|
sunting mata air]

Gambusi memiliki kesamaan dengan gambus pada umumnya. Gambusi dilengkapi dengan tujuh dawai dan dimainkan dengan prinsip dipetik. Biasanya alat nada ini dimainkan bersama marwas dan rebana intern pertunjukkan seni.Gambusi ini dibawa ke Kewedanan Gorontalo Maka dari itu Jamhur dari Timur Perdua,Karena awam Gorontalo tidak bisa menyebut gambus.maka keluarlah perkenalan awal Gambusi.

Pranala luar

[sunting
|
sunting sumber]

  • Rekaman Urut-urutan Kasidah di Nusantara dan Sumbangannya Sebagai Madya Dakwah Diarsipkan 2007-09-30 di Wayback Machine.
  • Pembuatan alat musik gambus Diarsipkan 2008-03-14 di Wayback Machine.



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Gambus

Posted by: caribes.net