Giat Belajar Termasuk Bentuk Tanggung Jawab Terhadap

a.
Pengertian Lingkungan Keluarga

Secara harfiah mileu dapat diartikan andai segala sesuatu nan mengitari roh, baik raga seperti duaja jagad raya dengan segala isinya, alias nyata non jasad, sebagaimana suasana hidup beragama, nilai-nilai dan leluri yang bertindak di masyarakat, ilmu

pengetahuan dan tamadun yang berkembang, serta teknologi.27

25 Susanto,


Teori Berlatih & Pembelajaran Di Sekolah Sumber akar

, 66.

26

Ibid.,


67.

Lingkungan intern pengertian umum, signifikan situasi disekitar basyar. Lazimnya basyar mengartikan lingkungan secara sempit, seolah-olah mileu hanyalah alam sekitar diluar diri individu atau individu itu koteng. Lingkungan mencangkup barang apa material dan stimulus didalam dan diluar individu, baik yang bersifat fisiologis,

psikologis, maupun sosiokultural.28

Lingkungan yaitu keluarga yang mengasuh dan membesarkan momongan, sekolah tempat mendidik, publik tempat anak asuh berbual mesra juga dolan sehari-periode dan keadaan umbul-umbul sekitar dengan iklimnya, flora dan faunanya. N domestik alun-alun pendidikan, arti lingkungan luas sekali ialah segala sesuatu yang berada diluar diri anak dalam alam semesta ini. Mileu mengitari manusia sejak dilahirkan sampai dengan meninggalnya. Antara mileu dengan individu ada dominasi yang timbal balik, artinya mileu memengaruhi manusia dan sebaliknya

manusia lagi memengaruhi mileu sekitarnya.
29

Suhardja Adiwikarta dan Sigelman & Shaffer berpendapat bahwa “keluarga adalah unit sosial terkecil nan bersifat universal,

artinya terwalak pada setiap mahajana di mayapada (universe) atau suatu

28 Dalyono,


Ilmu jiwa Pendidikan


(Jakarta: PT Rineka Cipta, 2001), 130.

sistem sosial yang terpancang (terbentuk) intern sistem sosial yang lebih

besar”. Bentuk atau lengkap keluarga, yaitu:30

1) Keluarga Batin/ Inti (Nuclear Family), yang terdiri atas suami/

ayah, istri/ ibu, dan anak-anak yang lahir bermula ijab kabul antara keduanya dan yang belum berkeluarga (termasuk anak kualon jika ada).

2) Keluarga Luas (Extended Family), nan keanggotaannya tidak

hanya meliputi junjungan, istri dan anak-anak nan belum berkeluarga, tetapi juga tersurat kerabat tak yang galibnya lewat dalam sebuah rumah tangga bersama, seperti mertua (orang tua suami/ istri), adik, kaka ipar, atau lainnya, lebih-lebih mungkin kepercayaan rumah tangga maupun orang lain yang tingga; menumpang.

Tren ukuran batih yang kian boncel, seperti:31

1) Keluarga batih.

2) Tanggungan boncel nan mempunyai anak dua hingga tiga.

3) Keluarga tanpa momongan (childless families) yaitu hipotetis keluarga nan

perkembangannya sangat populer di kalangan pria dan wanita yang berpendidikan tinggi nan lebih berorientasi kepada karier daripada keluarga.

4) Tanggungan yang orang tuanya berusia muda (young parent families)

ialah anak bini dengan orang tua di bawah nyawa 30 tahun.

30 Syamsu Yusuf LN,


Ilmu jiwa Perkembangan Anak & Akil balig


(Bandung: PT Remaja

Rosdakarya, 2022), 35–36.

5) Keluarga yang ibunya bekerja.

6) Tanggungan ibu bapak solo (single parent
families) yakni keluarga

nan orang tuanya hanya terdiri dari ibu ataupun ayah yang bertanggung jawab mengurus anak sehabis perpecahan, ranah atau kelahiran anak di asing nikah.

Keluarga merupakan institusi pertama dan utama dalam perkembangan seorang basyar. Makanya karena itu, dapat dikatakan bahwa pembentukan kepribdian anak asuh berbunga dari lingkungan

batih. Salah suatu lembaga pikulan jawab orang tua terhadap anak.32

Sedangkan menurut Abu Ahmadi, keluarga merupakan kerumunan sosial mula-mula dalam spirit anak adam dimana bani adam berlatih dan menyatakan diri sebagai manusia sosial didalam jalinan

interaksi dengan kelompoknya.33

Dalam pengertian lain, anak bini menurut Soeleman secara psikologis, keluarga adalah sekumpulan orang nan hidup bersama dalam gelanggang suntuk bersama dan masing-masing anggota merasakan adanya pertautan batin sehingga terjadi saling memengaruhi,

kecam dan menerimakan diri.34

32 Novan Ardy Wiyani and Barnawi,


Hobatan Pendidikan Selam


(Semarang: Ar-Ruzz Sarana,

2014), 55.

33 Ahmadi dan Pendar Uhbiyati ,


Ilmu pendidikan

, 64.

34Syaiful Bahri Djamarah,


Pola Komunikasi Anak adam Lanjut umur Dan Anak Intern Keluarga


(Jakarta:

PT Rineka Cipta, 2004), 16.

Faktor orang tua sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan anak asuh dalam belajar. Panjang rendahnya pendidikan cucu adam bertongkat sendok, besar kecilnya penghasilan, pas ataupun kurang ingatan dan bimbingan ibu bapak, damai alias tidaknya kedua orang tua, akrab atau tidaknya wasilah orang tua dengan anak-anak, tenang atau tidaknya kejadian dalam rumah, semuanya itu turut mempengaruhi pencapaian hasil belajar momongan. Di samping itu, faktor peristiwa kondominium juga timbrung mempengaruhi keberuntungan berlatih. Besar kecilnya rumah tempat suntuk, ada atau lain peralatan media belajar seperti kusen tulis, rajah, denah, cak semau atau tidak kamar atau meja membiasakan, dan sebagainya.

Semua itu juga turut menentukan kesuksesan belajar seseorang.35

Anak yang dibesarkan privat mileu anak bini bernas umumnya akan menghasilkan anak nan sehat dan cepat pertumbuhan badannya dibandingkan dengan anak mulai sejak keluarga berbahasa akan

menghasilkan anak yang bertata cara pula.36

Mileu keluarga adalah lingkungan pendidikan yang mula-mula, karena kerumahtanggaan keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan didikan dan bimbingan. Lagi dikatakan mileu yang utama, karena sebagian besar kehidupan anak ialah di privat keluarga

35 M. Dalyono,


Psikologi Pendidikan


(Jakarta: Rineka Cipta, 2010), 59.

sehingga pendidikan yang banyak diterima oleh anak adalah n domestik

batih.37

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa lingkungan keluarga ialah suatu kondisi ataupun situasi yang mana didalamnya terletak individu-individu ataupun angota anak bini, dimana antara sendirisendiri individu tersebut terjadi interaksi yang senantiasa berkembang dan boleh mempengaruhi tingkah laku, pertumbuhan dan jalan berpangkal masing-masing turunan itu sendiri.

Menurut Stinnet dan Defrain dalam Triantoro Safaria, lingkungan batih yang harmonis memiliki sejumlah karakteristik tertentu, diantaranya ialah :

1) Prinsip orang lanjut usia mematangkan momongan dalam lingkungan batih.

Mileu batih yang harmonis pasti memiliki usia beragama yang baik di kerumahtanggaan keluarganya. Konsep Sang pencipta dikenal anak pertama bisa jadi di dalam lingkungan keluarganya. Melalui sosialisasi yang dilakukan maka dari itu basyar tuanya, kemudian anak mengenal konsep Tuhan. Orang tua harus menerimakan alasan logis atas kewajiban agama yang harus dijalankan. Terutama yang berkaitan dengan seremoni keagamaan. Hal nan teristiadat dilakukan orang tua lega saat ini bahkan sangat merupakan bagaimana memberikan teladan kepada anak dalam menjalankan

kewajiban agamanya. Tidak hanya pas menggunakan pengenalan-kata, tetapi lebih jauh harus mewujudkan dalam bentuk tindakan konkret

nan bisa dilihat.38

2) Punya waktu bersama antar sesama anggota keluarga.

Kenyataannya kebanyakan orang sepuh terutama di kota-kota osean sibuk dengan urusan niaga dan karir, sehingga kehabisan waktu untuk anaknya. Khalayak gaek tak mempunyai periode lakukan momongan-anaknya, berbagi rasa, menumbuhkan keselarasan dan cinta kasih dalam keluarga. Alhasil anak ditelantarkan dan kehilangan figur serta bimbingan orang tuanya. Perumpamaan penggantinya dimanjakan dengan materi. Belaka kekurangan perasaan, anugerah bosor makan dan demap. Akibatnya secara spiritual anak mengalami kekosongan dan hampa. Jiwa momongan merana akibat pemenuhan kebutuhan bawah akan cita, kasih sayang dan kebermaknaan spiritual bukan terlaksana.

3) Mempunyai komunikasi yang hangat, terbuka dan dekat antar

anggota keluarga. Komunikasi nan hangat antara hamba allah tua dan anak serta uri kandung menjadi iklim nan sehat dalam berekspansi kecendekiaan spiritual. Sebab penanaman bibit-ekstrak spiritual pada anak asuh biasanya di transfer melalui dialog antara momongan dan bani adam wreda. Dengan adanya komunikasi nan suam dan terbuka, maka anak akan bebas bertanya kepada insan tuanya dan bebas

mengedepankan pendapatnya, privat satu proses komunikasi dua arah yang dialogis terbangun dengan baik n domestik anak bini.

4) Ubah menghargai antar sesama anggota tanggungan. Iklim keluarga

nan ubah menghargai akan memudahkan terjalinnya hubungan batin yang intim antar ibu bapak dengan anak dan anggota tanggungan lainnya. Hal ini akan memudahkan bani adam tua mengacungkan anaknya.

5) Masing-masing anggota batih merasa memiliki keterkaitan yang

kuat laksana suatu keramaian. Dimana ikatan gerombolan ini bersifat erat dan kohesif. Hal ini hanya siapa terjadi jika terjalin iklim silih menghargai suatu dengan yang lainnya. sebab kombinasi batin yang langgeng antara ibu bapak dan anak dapat menjadi sinergi terbesar buat keluarga untuk mencapai visi dan misi tertinggi dalam

batih tersebut.39

b.
Peran dan Fungsi Keluarga

Keluarga yang bahagia merupakan suatu hal yang sangat penting bagi perkembangan emosi para anggotanya (terutama anak). Kesukaan ini diperoleh apabila keluarga dapat memerankan fungsinya secara baik. Kebaikan dasar keluarga adalah memberikan rasa n kepunyaan, rasa aman, hidayah sayang, dan mengembangkan hubungan yang baik di antara anggota keluarga. Kontak pelalah hidayah internal

batih tidak sebatas manah, akan tetapi juga menyangsang pemeliharaan, rasa pikulan jawab, ingatan, pemahaman, respek dan kehausan lakukan menumbuhkembangkan anak yang dicintainya. Anak bini yang interelasi antar anggotanya enggak harmonis, mumbung

konflik, atau
gap communication

boleh mengembangkan

ki aib-kelainan kesehatan mental bagi anak.

Mengkaji makin jauh akan halnya kekuatan keluarga ini bisa dikemukakan bahwa secara psikososiologis keluarga berfungsi

sebagai:40

1) Pemberi rasa tenang dan tenteram bagi anak dan anggota keluarga lainnya.

2) Sumber pelepasan kebutuhan, baik jasmani maupun psikis.

3) Sumber kasih gelojoh dan penerimaan.

4) Model pola perilaku yang baik.

5) Pemberi bimbingan bagi pengembangan perilaku nan secara

sosial dianggap tepat.

6) Perakit anak dalam memintasi masalah nan dihadapinya

internal gambar menyesuaikan dirinya terhadap umur.

7) Pemberi pimpinan dalam belajar kecekatan motorik, oral

dan sosial nan dibutuhkan cak bagi penyesuaian diri.

8) Stimulator bagi pengembangan kemampuan momongan bikin menyentuh

prestasi, baik di sekolah maupun di masyarakat.

9) Instruktur dalam mengembangkan aspirasi.

10)Sumber pertemanan atau antiwirawan bermain cak bagi momongan sampai memadai

usia kerjakan mendapatkan teman di asing rumah, atau apabila persahabatan di asing rumah tidak memungkinkan.

Padahal dari tesmak pandang sosiologis, keistimewaan keluarga ini

dapat diklasifikasikan ke privat fungsi-fungsi berikut ini:41

1) Kebaikan Biologis

Anak bini dipandang perumpamaan pranata sosial yang memberikan legalitas, kesempatan dan akomodasi bagi para anggotanya untuk menepati kebutuhan radiks biologisnya. Kebutuhan itu meliputi:

a) Pangan, selempang, dan papan.

b) Hubungan seksual suami amputan.

c) Reproduksi atau pengembangan nasab (keluarga yang

dibangun melintasi pernikahan merupakan tempat

“penyemaian” bibit-bibit insani nan fitrah).

2) Khasiat Irit

Anak bini privat hal ini ayah mempunyai kewajiban bakal menafkahi anggota keluarganya (istri dan anak). Kewajiban ini sudah tercantum dalam al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 223. Bentuk nafkah tersebut dapat berupa selendang, hutan, ataupun

papan. Namun perlu diketahui bahwa kewajiban ini bersifat enggak harus membebani seorang ayah tetapi kian kepada sesuai kemampuan seoarang ayah.

3) Faedah Pendidikan (Edukatif)

Menurut UU No. 2 perian 1989 Bab IV Pasal 10 Ayat 4: “Pendidikan tanggungan merupakan bagian dari jalur pendidikan asing sekolah yang diselenggarakan internal keluarga dan nan memasrahkan keyakinan agama, nilai budaya, biji kesopansantunan, dan kecekatan”.

4) Kemujaraban Sosialisasi

Anak bini merupakan buaian atau penyemaian lakukan masyarakat masa depan, dan lingkungan keluarga merupakan

faktor penentu (determinant factor) yang dahulu mempengaruhi

kualitas generasi yang akan datang. Keluarga berfungsi sebagai miniatur masyarakat nan mensosialisasikan niali-ponten atau peran-peran kehidupan dalam awam yang harus dilaksanakan oleh para

anggotanya. Keluarganya merupakan gambar yang

mempengaruhi urut-urutan kemampuan anak bikin mentaati peraturan (disiplin), mau berekanan dengan orang lain, berpose toleran, menghargai pendapat gagasan individu lain, mau bertanggungjawab dan bersikap matang kerumahtanggaan roh nan heterogen (etnis, ras, budaya, dan agama).

5) Fungsi Perlindungan (Protektif)

Keluarga berfungsi andai penaung bagi para anggota keluarganya dari gangguan, ancaman, ataupun kondisi yang

menimbulkan ketidaknyamanan (raga-psikologis) para

anggotanya.

anak dimulai sejak anak tersebut dalam keluarga. Dalam hal ini tanggungan mempunyai kewajiaban buat mengajarkan dan sparing anak buat senantiasa mempelajari agama. Keadaan ini bertujuan moga anak tersebut punya pondasi yang lestari terhadap agama.

c.
Faktor-faktor Keluarga

Keluarga yakni kancing pendidikan nan utama dan

pertama.42
Mileu keluarga memberikan peranan penataran

nan paling kecil permulaan dan akan memberikan pengaruh terhadap siswa,

di antara pengaruh dari mileu tanggungan yakni:43

1) Kaidah Orang Bertongkat sendok Mendidik

Mandu orang tua renta mendidik besar pengaruhnya terhadap belajar siswa. Keadaan ini dipertegas Sutjipto Wirowidjojo dalam daya Slameto bahwa keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama

42 Bubuk Ahmadi and Widodo Supriyono,


Psikologi Belajar


(Jakarta: PT Rineka Cipta, 2008),

85.

43 Sllameto,


Membiasakan Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi


(Jakarta: PT Rineka Cipta,

2010), 60–64.

dan terdahulu, keluarga yang sehat, besar artinya untuk pendidikan dalam format kecil, namun berwatak menentukan cak bagi pendidikan intern ukuran lautan yaitu pendidikan bangsa, negara dan dunia. Menyibuk pernyataan diatas, dapatlah dipahami alangkah pentingnya peranan keluarga di n domestik pendidikan siswa. Orang tua nan kurang/ tak memperhatikan pendidikan anaknya, misalnya mereka acuh tak acuh terhadap berlatih anaknya, tidak mengamati sepadan sekali akan kepentingan-arti dan kebutuhan-kebutuhan anakanya n domestik membiasakan, enggak mengatur periode belajarnya, lain menyediakan/ melengkapi alat belajarnya, tak mencamkan apakah anak belajar maupun tidak, bukan kepingin tau bagaimanakah kejayaan belajar anaknya, akhirnya kesukaran-kesukaran menumpuk sehingga mengalami ketinggalan dalam belajarnya dan akhirnya siswa malas belajar serta tidak berakibat intern belajarnya. Orang tua yang mengolah momongan dengan cara memanjakannya yakni cara yang mengolah yang lain baik. Orang tua yang sesak kasihan terhadap anaknya tak sampa hati lakukan menguati anaknya sparing, bahkan membiarkan saja sekiranya anaknya bukan belajar dengan alasan100 segan, situasi ini adalah yang bukan bermoral karena sekiranya dibiarkan berlarut larut maka anak akan menjadi nakal, mengerjakan seenaknya dan belajarnya menjadi panik. Mengolah anaknya dengan prinsip memperlakukannya dengan keras,

memaksa dan mengejar-ngejar anaknya untuk belajar adalah mandu mendidik yang kembali salah. Dengan demikian anak asuh akan diliputi keheranan lega akhirnya anak akan benci terhadap membiasakan, malah jika keseraman itu semakin seirus momongan mengalami gangguan rohaniah akibat dari tekanan-tekanan tersebut.

2) Pertautan Antar Anggota Keluarga

Relasi antar anggota keluarga yang paling terpenting adalah relasi antara manusia wreda dan pesuluh. Selain itu ikatan siswa dengan saudaranya atau dengan anggota keluarga yang enggak timbrung mempengaruhi belajar siswa. Sangkut-paut antaranggota keluarga erat hubungannya dengan cara orang tua mendidik. Rangkaian antara siswa dengan mileu anak bini yang tak baik akan meyebabakan perkembangan momongan tersuntuk, belajarnya terganggu dan malah boleh menyebabkan hasil belajar siswa rendah.

3) Suasana Rumah

Suasana apartemen dimaksudkan sebagai situasi alias kejadian-hal nan sering terjadi di privat keluarga di mana pelajar berada dan berlatih. Suasana rumah juga ialah fakor yang berguna yang tidak termasuk faktor yang disengaja. Suasana kondominium nan gaduh101atau ramai bukan akan memberikan toleransi kepada siswa untuk sparing di kondominium.

4) Peristiwa Ekonomi Keluarga

Hal ekonomi erat hubungannya dengan belajar siswa. Siswa yang medium membiasakan harus terlaksana kebutuhan terpangkal. Fasilitas sparing yang dapat terlaksana dengan komplit cuma akan di dapatkan oleh siswa nan berpangkal dari batih bakir. Akan tetapi masih suka-suka pun batih nan berpengahasilan rendah patuh memenuhi fasilitas berlatih anaknya.

5) Pengertian semenjak Orang Renta

Anak berlatih perlu dorongan dan signifikansi dari ayah bunda. Apabila siswa sedang sparing jangan diganggu dengan tugas-tugas di rumah. Sesekali siswa mengalami teklok semangat, anak adam tua terlazim memberi pengertian dan mendorongnya membantu sedapat mungkin kesulitan yang di alami anak di sekolah.

6) Permukaan Belakang Kebudayaan

Tingkat pendidikan maupun rasam di dalam keluarga

mempengaruhi sikap pelajar dalam belajar.44

d.
Tanggung Jawab Anak bini

Dasar-dasar bahara jawab bani adam tua terhadap pendidikan

anaknya meliputi:45

1) Adanya motivasi ataupun dorongan cinta kasih yang menjiwai

kawin orangtua dan anak. Kasih kerap anak adam tua yang ikhlas dan safi akan menunda sikap dan tindakan rela mengakuri beban jawab untuk memberikan hidupnya dalam menerimakan pertolongan kepada anaknya.

2) Pemberian motivasi bagasi moral andai konsekuensi

kedudukan anak adam berida terhadap keturunannya. Adanya tanggung jawab moral ini meliputi nilai-nilai agama atau nilai-skor spiritual.

3) Tanggung jawab sosial yaitu babak berpokok anak bini yang puas

gilirannya akan menjadi muatan jawab masyarakat, nasion dan negara. tanggung jawab sosial itu yaitu perwujudan kesadaran pikulan jawab koalisi yang dibina oleh darah keurunan dan keesaan keyakinan.

4) Memelihara dan menggembungkan anaknya. Tanggung jawab ini

merupakan galakan alami untuk dilaksanakan, karena anak memerlukan makan, mereguk dan perwatan, agar sira dapat usia secara berkelanjutan.

5) Memberikan pendidikan dengan bermacam ragam ilmu pengetahuan kelincahan yang bermanfaat cak bagi sukma anak kelak, sehingga bila ia sudah lalu dewasa akan congah mandiri.

Jadi boleh disimpulkan bahwa lingkungan keluarga yakni suatu kondisi atau kejadian yang mana didalamnya terletak bani adam-basyar atau angota keluarga, dimana antara masing-masing hamba allah-hamba allah tersebut terjadi interaksi nan senantiasa berkembang dan dapat mempengaruhi tingkah larap, pertumbuhan dan perkembangan dari masing-masing individu itu seorang. Cak semau beberapa indikator-indikator nan tersapu dalam interaksi antar anggota keluarga nan menutupi: mandu bani adam tua ki melatih (orang berida memberikan perhatian terhadap pendidikan anak-anaknya, memberikan arahan alias konseptual nan baik, sebagai halnya perilaku yang moralistis). Sangkut-paut antar anggota anak bini (perantaraan antara orang tua dan anak penuh kasih pelalah, antara anak dengan saudara-saudaranya baik). Suasana rumah tangga (suasana rumah nan sunyi dan tentram). Keadaan ekonomi keluarga (kebutuhan anak tercurahkan, seperti: bersantap, pakaian, pendidikan). Pengertian khalayak tua bangka (basyar tua wajib membagi denotasi, mendorongnya dan membantu secepat mungkin kesulitan yang dialami momongan) serta latar belakang kebudayaan (kebiasaan di dalam keluarga, sebagai halnya: berkata dengan ter-hormat, mustakim, dll).

e.
Pengaruh Mileu Keluarga terhadap Hasil Belajar Belajar

Membaca Al-Qur’an

Plong skripsinya Diah Wulandari yang berjudul
pengaruh

Lingkungan Keluarga dan Minat Belajar Terhadap Manifestasi Belajar

Matematika Siswa Kelas bawah III di SDN Nglandung Geger Madiun Tahun

Pelajarn 2022/2017
disimpulkan terbit hasil eksplorasi, cak semau pengaruh nan signifikan antara lingkungan tanggungan terhadap prestasi matematika siswa kelas III di SDN Nglandung Geger Madiun Periode Pelajarn 2022/2017. Besar pengaruhnya ialah 20,2% sedangkan 79,8%

dipengaruhi oleh faktor enggak yang tak diteliti.46

Orangtua ialah manusia yang paling berjasa pada setiap anak. Semenjak awal kelahiran di roman bumi, setiap anak melibatkan peran penting orangtuanya, begitu juga peran pendidikan. Peran-peran pendidikan seperti mana ini enggak cuma menjadi barang bawaan bagi orang tua, tetapi juga menjadi kebutuhan orangtua cak bagi menemukan kehadiran dirinya sebagai makhluk yang secara fit jasmani dan ruhaninya di hadapan Allah dan pula di hadapan sesama makhlukNya, terutama umat makhluk. Dengan demikian, keluarga adalah kawah candradimuka pertama dimana sifat-resan kepribadian anak tumbuh dan terpelajar. Anak yang

46 Diah Wulandari, “Dominasi Lingkungan Keluarga Dan Minat Belajar Terhadap Prestasi

Berlatih Matematika Peserta Kelas III Di SDN Nglandung Geger Madiun Tahun Pelajarn 2022/2017”

(2017).

masih intern keadaan fitrah memufakati dominasi dan tren

terhadap orangtuanya.47

Keadaan tiap-tiap keluarga tentunya berlainan. Ada anak bini yang berlambak dan cak semau tanggungan nan miskin, ada keluarga yang lautan dan

ada keluarga yang kecil, ada keluarga yang
sakinah, mawadah
dan

rahmah
serta suka-suka tanggungan nan selalu gaduh dan banyak pertengkaran didalamnya. Secara alamiah, peristiwa keluarga nan heterogen coraknya tersebut akan membawa pengaruh nan berbeda-beda pun terhadap pendidikan anak asuh. Keadaan ini disebabkan aktivitas, hal, dan perilaku yang terjadi di sekitar anak, secara tidak langsung merupakan proses pendidikan dan akan memiliki dampak yang signifikan bikin

jalan momongan.48

Source: https://id.123dok.com/article/lingkungan-keluarga-pengaruh-belajar-lingkungan-keluarga-terhadap-belajar.y83r3k5q