“Jangan sekali-boleh jadi seorang lak
i
-suami menyendiri (khalwat) dengan perawan kecuali suka-suka mahramnya. Dan janganlah seorang gadis bepergian kecuali bersama mahramnya”
(HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Ibnu Majah, Tabrani, Baihaqi, dan lain-lain).

Maka dari itu:

Wakhidah Noor Agustina

Sebagai agama yang sempurna, Islam mutakadim mengatak semua segi dalam hidup umatnya, di antaranya merupakan adanya kebiasaan dalam bersambung sosial antar sesama makhluk. Interaksi sosial tersebut diatur pembatasannya antara pria dan
perempuan. Bagi lawan jenis yang tidak mahram, tidak diperbolehkan berkhalwat maupun bersama antara dua basyar berbeda jenis.

Ketika Sang pencipta swt. melarang atau memasrahkan perintah kepada hamba-Nya, pastilah terdapat hikmah yang terkandung di dalamnya. Namun sebagian besar basyar indolen memikirkan hikmah di baliknya. Pantangan
khalwat
antar variasi kelamin non-mahram, bisa kita cabut hikmahnya umpama berikut:

Permulaan, naiknya sekresi hormon kortisol. Akademikus Valencia University dalam hasil penelitiannya menganjurkan, kebersamaan antara seorang lelaki dan kuntum dapat mengakibatkan bertambahnya sekresi kortisol. Seumpama hormon yang dihasilkan badan saat mengalami stres, sebetulnya kortisol memiliki peran privat mengendalikan metabolisme.

Walaupun demikian, bermakna untuk kita cak bagi menjaga kadar hormon ini agar tetap proporsional, karena takdirnya kelebihan kormon kortisol dalam fisik boleh meningkatkan impitan bakat, kadar glukosa darah, nan akhirnya memicu kencing manis, bahkan penyebab problem jantung, tekanan darah janjang dan problem lainnya.

Hormon ini pun boleh menyebabkan stres, yang akan terjadi ketika seorang lelaki berduaan dengan perempuan non-mahramnya, dan stres tersebut dapat terus meningkat kalau si cewek memiliki daya tarik yang lebih lautan. Sebaliknya, momen si pria bersama dengan gadis mahramnya, kenaikan sekresi kortisol tidak akan terjadi.

Syeikh Ash-Shaabagh mengatakan, “Bagaimana sendiri yang bertakwa kepada Sang penciptata’ala dan senggang kepada-Nya itu bisa rela jika istri alias anak perempuannya bertafakur dengan lanang asing? Sesungguhnya Islam melarang tindak kriminal (dosa) serta mencegah sebab-sebab yang mengantarkan ke sana. Cucu adam nan mengabaikan penyebab terjadinya sesuatu yang terlarang, maka dia akan terperosok ke dalam tabu. Barangsiapa menggembala di selingkung daerah larangan, niscaya akan mudah baginya bakal terjerumus ke dalamnya”.

Baca Juga:Bolehkah Upik Safar Sonder Mahram?

Kedua, menjauhi godaan setan. Allah swt. mengasihkan eksamen dan cobaan kepada hamba-Nya dengan kadar yang berbeda, kerjakan meningkatkan predestinasi keimanan seseorang di hadapan Allah. Godaan setan sebagai salah satu eksamen susah dari Allah, sehingga manusia diperintahkan kerjakan senantiasa dzikrullah.

Menurut Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, ada sejumlah hierarki dalam menggoda manusia. Tahap pertama, mengajak makhluk hendaknya kafir atau musyrik; jika muslim, beralih ke tahap dua, mengajak amalan bid’ah. Bagi tukang sunnah, beralih ke tahap tiga, diajak melakukan dosa besar. Jika belum berhasil, tahap empat, diajak melakukan dosa mungil. Jika masih belum bertelur pun, beralih ke tahap lima, manusia disibukkan dengan perkara mubah hingga melupakan amalan yang berpahala. Tahap bontot, manusia akan disibukkan dengan amalan yang kurang utama agar menjauhi amalan yang kian terdepan, misalkan disibukkan dengan melakukan sunnah ketimbang amalan wajib.

Dalam QS. Al-A’raf [7] ayat 16-17 (nan artinya),
“… (iblis) menjawab, karena Kamu telah menghukum saya tersesat, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian karuan aku akan menghadap mereka mulai sejak depan, dari birit, dan dari kiri mereka. Dan Ia tidak akan mendapati kebanyakan mereka berlega hati”.

Padri Al-Ghazali mengajarkan upaya seorang hamba dalam menghempaskan godaan setan, yaitu dengan membuat kurus setan, dengan cara menggandakan
dzikrullah; kemudian menjauhi arena-palagan kemaksiatan dan orang-insan yang munkar, karena dapat mengapalkan kepada kesesatan; hendaknya selalu sadar bahwa selayaknya tujuan setan menggoda hanyalah ingin mengibuli manusia kepada kenistaan dan kemudharatan abadi; menyadari sifat pengecut setan, yang menginginkan banyak teman yang menemaninya dalam kesesatan yang akan membuatnya semakin puas; tak plus banyak makan, karena dengan kondisi lapar yang dapat mempermudah hamba mengingatNya.

Ketiga, menghindari zina. Untuk menjadi muslimah yang mematuhi semua perintah dan menyingkir tabu-Nya merupakan perkara yang elusif, karena di hari pembalasan ini, sangat banyak godaan terutama bakal para remaja cewek nan masih labil privat proses pembentukan putih dirinya.

Salah satu alai-belai beratnya adalah munculnya afinitas terhadap lawan keberagaman, meskipun ini yakni fitrah cucu adam, akan semata-mata jika sebatas tergelincir dan tidak dapat mengelolanya dengan baik, akan menjadi malapetaka besar bagi dirinya sendiri, untuk ayah bunda, dan untuk sang pujaan lever.

Suatu momen Rasulullah mengomong (yang artinya),
“sesungguhnya Allah menetapkan untuk anak laki-laki bagiannya dari zina, yang tentu akan mengenainya. Zina kedua mata yaitu melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina verbal dengan merenjeng lidah. Zina tangan dengan mencecah (meraba). Zina tungkai dengan melangkah. Zina lever dengan menginginkan dan mengkhayalkan. Lalu, farji (kemaluan) lah yang akan membenarkan maupun mengingkari yang demikian”
(HR. Bukhari dan Muslim).

Takdirnya diibaratkan zina sebagai sebuah tempat yang berpintu banyak dan terdiri dari bilang lapisan, maka padanan yang berpacaran dianggap sebagai pemilik semua kunci tersebut.

Keempat, ngerinya hutang zina. “Wa lā taqrabu az-zināa”, dan janganlah ia mendekati zina (QS. al-Isra: 32). Alangkah, lain sepatutnyalah kita meremehkan zina, karena dosanya dahulu dahsyat dengan ancaman hukuman yang berat, baik di dunia maupun akhirat.

Intern suatu cerita, seseorang bertanya kepada Imam Syafi’i, “mengapa hukuman bagi pezina sedemikian beratnya?” Tampang beliau pun memerah, dengan pipi merona kemudian berkata, “karena zina ialah dosa yang
bala’
(besar kesannya). Risikonya akan mengenai keluarganya, tetangganya, keturunannya, lebih-lebih hingga tikus di rumahnya dan semut di ilalang sekitar rumahnya”.

Orang tersebut bertanya pun, “cak kenapa pelaksanaan hukumannya dengan itu? sebagaimana firman Allah (nan artinya),
“dan janganlah rasa ibamu pada mereka menghalangimu buat menegakkan agama”.
Maka Imam Syafi’i terkelu, tungkul, dan menangis. Setelah tangis berhenti, kamu merenjeng lidah, “karena zina seringkali menclok dari cinta dan cinta selalu membuat seseorang menjadi iba. Lalu setan nomplok bagi menciptakan menjadikan kita kian mengasihi individu daripada menganakemaskan-Nya”.

Orang itu bertanya lagi, “dan mengapa Sang pencipta berujar (yang artinya), “dan hendaklah pelaksanaan aniaya mereka (pezina) disaksikan maka dari itu sekumpulan hamba allah yang berkeyakinan? Bukankah aniaya bagi pembunuh, cucu adam murtad dan penyambar, Halikuljabbar bukan mensyaratkannya menjadi tontonan?” seketika janggut Imam Syafi’i basah, beliau terguncang, terlampau berkata, “agar menjadi kursus,” ucapnya sambil terisak. “Seharusnya menjadi pelajaran,” ia tersebu. “Hendaknya menjadi tutorial,” engkau pun terisak. Kemudian bangkit berasal duduknya dan matanya pun menyala, dengan bersemangat beliau mengomong, “sebab ketahuilah oleh kalian, bahwa sesungguhnya zina yaitu utang. Dan bukan main ketinggalan tetaplah tunggakan. Riuk koteng dalam anak cucu/keturunan pelakunya pasti harus membayarnya”.

Sebagai muslimah, kita harus sering menjaga kehormatan diri, terutama saat berkomunikasi alias berinteraksi dengan teman variasi kerjakan menghindari bahaya maupun fitnah nan boleh ditimbulkannya. Karena dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah gadis salihah (HR. Mukminat).