History Of Java

image

Editor

Drs. Syafruddin Azhar

Nomor Registrasi Persuratan Taman Budaya Yogyakarta

900 The t

Penulis

Thomas Stamford Raffles

Penerbit

Kisahan

History of Java merupakan buku suci Raffles (1817) yang terdiri atas dua debit, yaitu uraian inti tentang Jawa secara lengkap dan  proklamasi tambahan. Hanya di dalam terjemahan ini, kedua volume tersebut  telah disatukan.

Raffles (1781-1826) mengawali kariernya  andai carik sebuah firma  Hindia-Timur (1795). Menurut sebuah biografi, Raffles dikenal umpama seorang yang  tekun, rajin sparing, ulet, dan berkemauan gigih. Raffles memiliki  semua syarat misal penggarap mahakarya (masterpiece), sehingga  adikarya “The History of Java” boleh terselesaikan.

Raffles permulaan kali berada di Jawa (1811) berlaku laksana Lieutenant Governor  of Java nan bertanggung jawab kepada Gubernur Jenderal Inggris di India yaitu  Lord Minto (Sir Gilbert Elliot Murray-Kynynmond) yang kemudian meninggal pada perian 1814 dan digantikan oleh Raffles. Namun tadbir Raffles hanya bersiteguh sepanjang 5 musim. Saat Jawa kembali ke tangan Belanda, Raffles tengah memprakarsai dan  mengerjakan order arkeologi dan botani di Jawa. Kemudian hingga tahun 1823  Raffles menjadi Gubernur di Bengkulu yang memang berdasarkan suatu perjanjian bukan diserahkan ke  tangan Belanda bersama Belitung,  dan Bangka.

Dalam hatinya, Raffles masih sangat menyukai Jawa dan ia membenci Belanda nan lagi berwajib di Jawa. Pada masa 1819 Raffles menganyam kerjasama dengan Tumenggung Sri Maharaja penguasa  Singapura dalam rencana menggagas pusat perdagangan di Pulau Singapura. Kerjasam itu membuat Inggris diizinkan mendirikan protektorat di Singapura dengan syarat  Inggris mencagar para pedagang Singapura dari Belanda dan Bugis. Raffles bersumpah Singapura akan dijadikan protektorat baru yang meskipun katai, sekadar akan  jauh lebih bertamadun dari Petak Jawa nan dikuasai Belanda. Raffles berupaya keras mewujudkan kualat. Sehingga  Singapura menjadi rahasia perniagaan paling penting di provinsi Hindia Timur,  sampai saat ini.

Pada tahun 1823

Raffles meninggalkan Indonesia (Bengkulu) karena kejadian politik. Tiga hari kemudian, tepatnya sehari sebelum ulang tahunnya yang  ke-45, Raffles meninggal mayapada. Meskipun ia meninggal dalam kehidupan nan masih tergolong mulai dewasa, mutakadim banyak jejak yang ditinggalkan Raffles, antara lain :

1.      Menggagas berdirinya  Kebun Raya Bogor bersama ahli-pandai dari Inggris.

2.       Mendirikan Tegal  Raya dan kebun binatang nan terkenal di Singapura.

3.      Peninggalan budaya Jawa digali dan  ditemukan  atas prakarsa Raffles : Candi Borobudur (1814), Candi Panataran (1815), Candi Prambanan  (1815).

4.      Mendirikan Museum Etnografi Batavia.

5.      Berperan sebagai administrator  pemerintahan di Jawa dan Bengkulu.

Semua jejak dan karya Raffles itu terekam dalam buku History of Java nan juga yakni referensi komprehensif persil Jawa.

Secara garis ki akbar, Raffles membagi bukunya ke dalam 2 jilid yang terdiri berusul 11 Gerbang. Pada sendi jilid 1 terdiri berpunca Portal 1 sampai Bab 7, sedangkan pada jilid 2 terdiri dari Bab 8 sampai Bab 11, yaitu sebagai berikut :

Bab 1     : Kondisi Geografis Pulau Jawa (termasuk di dalamnya keterangan geologi)

Bab 2     : Asal Mula Penduduk Masif-Jawa

Bab 3     : Perkebunan di Jawa

Bab 4     : Manufaktur  (Industri) di Jawa

Bab 5     : Perdagangan di Jawa

Gapura 6     : Kepribadian Penduduk di Jawa

Bab 7     : Pagar adat Penghuni di Jawa

Portal 8     : Ba hasa dan Sastra

Pintu 9     : Agama

Bab 10   : Ki kenangan bersumber Awal-Munculnya Selam

Bab 11    : Sejarah berusul Munculnya Islam-Kedatangan Inggris

Dan apendiks-lampirannya berjumlah 12 (Lampiran A-M), yang garis besarnya umpama berikut :

Tambahan A      : Kebangkrutan Batavia

Lampiran B      : Bursa dengan Jepang

Tambahan C      : Terjemahan versi moderen Suria Alem (sebuah karya sastra)

Lampiran D      : Hukum pada Pengadilan Propinsi di Jawa

Pelengkap E      : Perbandingan kosakata bahasa-bahasa kaki di Jawa dan sekitarnya

Lampiran F      : Cerita Pulau Sulawesi dan neraca kosakata bahasa-bahasa kaki

Pelengkap G      : Angka-poin Candra Sengkala

Tambahan H      : Terjemahan Manik Khayali

Lampiran I       : Terjemahan huruf prasasti Jawa dan Kawi Kuno

Komplemen J       : Pulau Bali

Lampiran K      : Instruksi Fiskal

Apendiks M     : Memorandum mengenai pelik, format, dll.

Pembahasan History Of Java

Tidaklah langka menemukan buku-buku nan mendeskripsikan hal Indonesia pada masa kolonial. Beberapa buku tersebut antara tak History of Sumatra karya William Marsden, History of The East Indian Archipelago karya John Crawfurd. Saja tidak terserah berusul deretan karya tersebut nan begitu monumental layaknya The History of Java, karya Thomas Stamford Raffles nan diterbitkan pertama kali puas tahun 1817.

Monumentalnya karya Raffles ini bisa dilihat dari kerapnya The History of Java dijadikan acuan untuk menggambarkan Jawa pada masa kolonial, khususnya masa kolonialisme Inggris yang adv amat singkat di Nusantara. Bernard H.M.Vlekke n domestik karyanya, Nusantara, menamai The History of Java bak “campuran menawan deskripsi ilmiah, apologi, alias yang di zaman modern disebut pelaporan cerdas.”. Karena syahadat itulah Penerbit Narasi terbetot bagi menerbitkan The History of Java kerumahtanggaan bahasa Indonesia.

Tidak hanya itu saja, monumentalnya The History of Java juga ditopang oleh begitu kuatnya sosok Thomas Stamford Raffles sebagai dabir yang terlibat sewaktu dalam pemerintahan Hindia Belanda perumpamaan Gubernur Jenderal (1811-1816). Kejadian ini disebabkan oleh pandangannya atas Hindia Belanda yang begitu berbeda dibandingkan musim kolonial Belanda menjawat pemerintahan. Begitu berpengaruhnya anak adam Raffles direfleksikan pula oleh Drs.Syafruddin Azhar intern Pengantar edisi Indonesia The History of Java.

Raffles bukanlah dedengkot dalam sejarah Inggris yang bersumber dari kelas bawah bangsawan. Ayahnya, Benjamin Raffles hanyalah koteng juru masak di sebuah kapal yang pada akhirnya menjadi nakhoda. Dan Ibunya, Anne Lyde Linderman.

Detik Raffles masih muda, keruncingan ekonomi yang melanda Inggris memaksanya mengejar pencahanan cak bagi menyokong ekonomi keluarga. Dengan keuletan dan kecerdasannya sira berhasil menjadi Asisten Sekretaris pada sebuah perusahaan bakal wilayah Kepulauan Melayu, yang  pada kesudahannya dipercaya sebagai Gubernur Jenderal oleh Lord Minto.

Menurut Vlakke, semasa pemerintahan Raffles khususnya di Sulawesi dan Kalimantan tidak lebih damai dibandingkan dengan waktu kolonial Belanda. Misalnya saja di Sulawesi yang terjadi peperangan terus menerus dengan Bugis. Namun Raffles memiliki keistimewaan, ia membawa perspektif seorang humanis di Hindia Belanda dengan menuding persisten metode yang digunakan oleh Belanda dalam menangani Hindia Belanda.Walaupun kemudian disebutkan dalam bagian mulanya The History of Java bahwa engkau lain bermaksud mencitrakan keseluruhan pemerintah Belanda di Hindia Belanda sebagai despot dan penjarah.

Raffles memulai kegubernurannya dengan tekad tegas menentang perbudakan dan berusaha memperbaiki nasib para budak dengan menjadwalkan pajak khusus dan upaya-upaya lain agar penduduknya memangkal memelihara para hamba\sahaya. . Alhasil memang biasa-biasa saja, namun langkah tersebut tetap diingat sebagai langkah pertama membidik peninggalan “zaman emas masa silam” yang sangat patut dicela. Dan Raffles lain pernah ki bertambah pecah tujuannya itu sekadar karena perlawanan bersumber mereka yang mau mempertahankannya, baik itu orang Eropa maupun Indonesia.

Di dalam The History of Java masalah perabdian hanya disinggung secara ringkas maka itu Raffles saja tetap dengan keberpihakan yang jelas. Dan plong Bab II pokok ini Raffles menyebutkan bahwa, “Pendudukan pulau ini oleh bangsa Inggris pada perian 1811 menyebabkan masalah budak menjadi manah terdepan, meskipun kita tidak boleh sekaligus melarang perbudakan atau mengecualikan para budak yang ada, belaka kita bisa kurang memperbaiki dan mengubah kanun menyangsang praktek ini sehingga di masa depan seluruh budak dapat dibebaskan.”(peristiwa.47)

Hal menggandeng lainnya adalah akan halnya pendapat seorang Raffles adapun karakter bani adam Jawa. Berbeda dengan orang Belanda, Raffles melihat orang Jawa secara positif. Tak ada lagi operasi tentang orang Jawa yang enggan, pemarah, dan pembohong sebagaimana yang biasanya dicitrakan kolonial Belanda. Mengenai pandangan orang-orang Belanda terhadap orang Jawa boleh dilihat pada catatan sah yang diberikan oleh Residen Dornick berpunca Daerah Jepara lega tahun 1812. Dornick dalam karangan resminya, sebagaimana dikutip Raffles, mengistilahkan bahwa, “Kalau orang Jawa yakni orang yang impresif, alias dalam keadaan yang mewah, maka mereka akan terlihat seumpama orang nan percaya dongeng, sombong, pencemburu, suka menjajari keirian, keji, dan bertindak sama dengan budak pada atasannya, persisten dan kejam pada para bawahannya, dan pada orang-khalayak yang bukan bernasib baik yang tungkul dalam kewenangan mereka, mereka kembali malas dan lambat.”

Sebaliknya, Raffles menyebut masyarakat Jawa sebagai penduduk yang murah hati dan ramah jika tak diganggu dan ditindas. Bani adam Jawa dalam pertalian lokal memiliki sikap baik, kecil-kecil, kasih sayang, dan penuh perhatian. Sedangkan dalam interelasi dengan masyarakat awam cucu adam Jawa yaitu khalayak yang patuh, jujur, dan beriman, memperlihatkan sikap yang bijaksana, jujur, jelas dalam bertoko dan berterus terang.

Perbedaan ini disadari oleh Raffles akibat dari kolonial Belanda nan melihat masyarakat Jawa secara fragmentaris. Menurut Raffles, karakter ceria bersumber penduduk pribumi tidak yang tampak pada bos kelas rendah yang tunduk pada otoritas bangsa Eropa. Raffles dengan brilian menyimpulkan bahwa pengetahuan tentang orang Jawa harus kian menitikberatkan sreg golongan pembajak dan petani, yang merupakan tiga saban empat berpangkal keseluruhan jumlah populasi, dan ini diterima dan secara hati-hati diterapkan untuk dok yang lebih atas darinya.

Beberapa peristiwa yang telah disebutkan itu  hanyalah menunjukkan sebagian kerdil berpokok sikap seorang Raffles yang lewat jauh berbeda bersumber pentolan-biang keladi sentral bukan yang pernah menjawat kuasa sebelumnya, misalnya J.P.Coen. Raffles juga melakukan reorganisasi rang-lembaga administratif dan peradilan di Jawa, reformasi sistem pajak dan cukai, dan revisi atas perjanjian yang mengatur ikatan pemerintah Batavia dengan raja-kanjeng sultan Jawa. Tapi The History of Java tidak semata-mata menjadi laporan hasil kerja Raffles. Buku ini juga mengingat-ingat berbagai hal adapun Jawa secara detil, meliputi masalah geografis, kependudukan, pertanaman, penggalasan, tradisi, kesenian, bahasa, sebatas agama, yang kemudian juga dilengkapi dengan rajah-rajah yang kontributif deskripsi Raffles, sehingga membentuk  The History of Java menjadi layaknya ensiklopedia tentang Jawa yang ditulis pada abad 19. Selain itu buku ini sekali lagi dilengkapi dengan adendum tentang perbandingan perbendaharaan kata bahasa Melayu, Jawa, Madura, dan Lampung. Begitu kayanya data n domestik gerendel ini membuat si penulis seakan-akan telah menulisnya berdasarkan observasi puluhan tahun. Wajar jika kemudian Raffles memercayai bahwa enggak cak semau orang nan memiliki kenyataan mengenai Jawa sebanyak yang kamu miliki.

Keterangan-keterangan kerumahtanggaan wacana-nya dilengkapi dengan catatan-catatan kaki yang detail. Referensi berhubungan pada zamannya digunakannnya untuk memperkaya keterangan.

Ketika Raffles memerintah di Jawa terjadilah letusan argo api dengan energi terbesar di dunia dalam hari sejarah manusia : Tambora 1815 di Sumbawa. Dan, Raffles sangat detail menggambarkan peristiwa letusannya setakat efek-sekuritas kerusakannya. Saya belum kombinasi menemukan maklumat lain sedetail keterangan Raffles akan halnya saat-saat letusan dahsyat Tambora tersebut.

Demikianlah sekilas memopulerkan The History of Java (Raffles, 1817), sebuah buku mengenai Jawa nan sangat bermakna kerjakan dipelajari demi faedah kontemporer.

Detik meninggalkan Jawa dan Sumatra, Raffles menangis meratapi tunggul dan penduduk nan dicintainya, yang dihentikannya berpunca perhambaan, yang digambarkannya sebagai “manusia pribumi yang sepi, minus berpetualang, tak mudah terpancing mengerjakan kekerasan atau pertumpahan darah”.

“I believe there is no one possessed of more information respecting Java than myself.” (Thomas Stamford Raffles, 1817).

HISTORY OF THE EAST INDIAN ARCHIPELAGO

Dapat kita ketahui bahwa yang paling banyak memahami rekaman terbentuknya Indonesia adalah lebih lagi suku bangsa sejarawan yang bukan berasal dari Indonesia. Keadaan ini dapat dibuktikan dengan adanya kabar mengenai bawah-usul terbentuknya Indonesia (The Idea of Indonesia) dari sejarawan asing yaitu Album Pemikiran dan Gagasan karya R.E. Elson nan berusaha mengenalkan kembali serta mencari asal-usul semenjak gagasan terbentuknya Indonesia yang dimulai sejak pertengahan abad ke-19. Bukan hanya itu, ia pun menyusur lebih jauh adapun beraneka rupa jalan berliku nan telah dilalui Indonesia sampai bakir eksis sampai sekarang.

Menurut Elson esksistensi Indonesia menjadi satu negara-bangsa merupakan sebuah keajaiban dan kemukjizatan. Hal yang menjadi pertimbangannya adalah banyaknya tantangan serta rang-kerangka rezim yang dilaluinya teramat rumit dan rumit bagi dilalui. Misalnya saja kemunculan nama ‘Indonesia’ nan menjadi bahan silang pendapat antar sejarawan.

1.      JR Logan (sejawaran Belanda dan pengedit majalah The Journal of the Indian Archipelago and eastern Asia), disebut-ucap sebagai manusia pertama yang menggunakan istilah “Indonesia” buntu etiket penghuni dan kewedanan gugusan nusantara secara geografis.

2.      Peristiwa sejala kembali dikatakan Windsor Earl bahwa ”Indu-nesians” yang menerangkan penduduk gugusan pulau nusantara tercatat ciri etnografis yang yaitu bagian berpunca rumpun Polinesia yang berkulit sawo matang.

3.       Seorang antropolog Prancis, E.T. Hamy pada 1877 mendefinisikan kata ”Indonesia” sebagai rumpun pre-Melayu yang menghuni nusantara. Pendapat ini kembali diikuti antropolog Inggris, A.H. Keane pada 1880.

4.      Multatuli (nama tak terbit Eduard Douwes Dekker), melewati karya monumentalnya, Max Havelaar (1859) memperkuat teori Logan tersebut. Multatuli menyimpulkan bahwa semua yang digagaskan JR Logan yaitu sebuah potret otentik nan bisa kembali menyadarkan pemahaman nan semakin melantangkan seluruh masyarakat marcapada bahwa lega dasarnya gagasan Indonesia terlatih jauh plong abad-abad lampau.

5.      Terminologi Indonesia kemudian baru diberi makna strategis (dalam bentuk ‘Hindia’ yang harus merdeka) oleh Abdul Rivai, Kartini, Soewardi Soeryaningrat, Douwes Dekker, Cipto Mangoenkoesoemo, dan lain-lain (1903-1913). Nama ‘Indonesia’ menginjak santer di kalangan mahasiswa asal Indonesia di Leiden semasa Perang Marcapada I selingkung 1917. Sam Ratulangie yang juga termasuk kerumahtanggaan kerubungan peduli Indonesia di Belanda giat pula mempopulerkan label Indonesia di tanah air. Misalnya saat mendirikan perusahaan asuransi di Bandung dengan keunggulan, Indonesia pada 1925.

6.       Indische Vereeniging, berubah menjadi Perhimpunan Peserta Indonesia plong 1918. Namun privat perkembangannya setakat kini, terminologi Indonesia lebih dilekatkan pada negara Indonesia. Indonesia internal terminologi Logan berubah menjadi bilang negara, termasuk Indonesia, Singapura dan Malaysia. Penang masuk Malaysia. Semenanjung Malaka dan Pulau Sumatra, yang kebudayaannya kental Jawi, terpisah menjadi dua negara. Papua Barat, yang kadang-kadang tidak masuk kerumahtanggaan khayalan Logan, malar-malar masuk provinsi Indonesia. Malaysia dan Indonesia menjadi dua negara berbeda karena awal mereka disatukan secara administrasi maka itu dua kerajaan Eropa yang berbeda: Kerajaan Inggris dan Kerajaan Belanda.

Setelah memaparkan asal-usul istilah Indonesia dari bermacam-macam pendapat, pada gerbang-bab selanjutnya Elson melangkah pada bahasan akan halnya album intelektual Indonesia awal dari gagasan dan ide terbentuknya Negara Indonesia dengan begitu detail dan komprehensif. Sungguh, usaha ini patut diacungi biang tangan, karena Elson yakni sejarawan non-Indonesia dan pembahasan mengenai ini sudah lalu luput bermula pandangan ahli sejarah Indonesia sendiri.

Cara penguraian Elson dalam membedah kebijakan Indonesia yang silam memukau pun cukup diacungi biang jari. Selain itu, Ia juga piawai internal menggambarkan para tokoh politik Indonesia saat berkomunikasi dengan rakyatnya. Sehingga membuat buku ini merupakan sejarah Indonesia terdahulu bagi ditelaah, seyogiannya masyarakat Indonesia tidak menaksirkan sejarah kakek moyang terlebih para sejarawan Indonesia.

Keunggulan Nusantara ini sekali lagi yang digunakan oleh Bernard HM Vlekke untuk judul bukunya Nusantara. A History of the East Indian Archipelago (1943). Sedangkan kunci yang diterjemahkan ini mulai sejak berbunga edisi kelima hari 1961 dengan judul Nusantara: A History of Indonesia. Yang perbedaannya lewat jelas. Plong edisi 1961 ini cak semau peralihan sudut pandang dari Eropa sentris menjadi Indonesia sentris. Jika pada edisi 1943, (Bab 6), lebih memusatkan pada Jan Pieterszoon Coen, maka lega edisi 1963, portal tersebut lebih memusatkan plong Indonesia di perian Sultan Agung dan Jan Pieterszoon Coen. Suatu persilihan sudut pandang mulai sejak waktu sebelum dan sesudah Indonesia merdeka.

Hal tersebut cukup menghirup menghafaz Vlekke tentunya kita anggap misal pihak luar (malah dari Belanda) yang menghakimi Indonesia dengan kacamata berbeda. Dan tidak terlayang kemungkinan pendapatnya tak belas kasihan dari pandangan kolonial. Namun, anggapan ini terbantahkan, memahfuzkan Vlekke plong waktu 1940 pergi ke Amerika bersama istrinya, Caroline, bagi berkarya di Nederlandsch Informatie Bureau, New York, sekaligus mengajar di Harvard University, Cambridge (Massachusetts).

Kemudian di Amerikalah Vlekke batik sentral Nusantara. Kejadian ini, takhlik Vlekke harus bisa mengambil jarak dan bergaya ”netral” lakukan publik Amerika serta tak dapat memaksakan penglihatan umum bangsa Belanda terhadap negeri koloninya. Sampai-sampai mengegolkan cerita kependekaran kolonialisme Belanda yang menggulirkan slogan ”Daar werd wat groots verricht’ (Di sana dibangun sesuatu yang segara). Namun, spontan ia ingin menyantirkan makna terdahulu kehadiran Belanda di Nusantara laksana sine ira et bengkel seni (without anger and fondness).

Ada beberapa pendapat Vlekke yang berbeda dengan pendapat mahajana para ahli sejarah Belanda yang kian menitikberatkan pada proses perluasan kolonialisasi. Misalnya saja bagi Belanda, persatuan Indonesia sememangnya tidak ada dan sebenarnya berkat Belanda-lah ”persatuan” berusul Sabang hingga Merauke itu ada. Kemudian Vlekke menjawab bahwa sebenarnya Indonesia bukan disatukan oleh kolonialisme Belanda melainkan penyatuan itu lebih disebabkan masa suntuk gemilang Indonesia nan disebut Nusantara.

Secara garis raksasa, tema-tema dalam buku ini masih sejalan dengan masalah-penyakit yang unjuk pada masa kini. Bagi generasi baru, mengaji sentral ini seperti mana membaca ”takhayul” Nusantara yang pasti juga harus diimbangi dengan sikap peka.

Musim

Oktober 2022

Gelanggang Terbit

Yogyakarta

ISBN

979-168-099-X

Deskripsi

XXXVI  + 904 halaman

No. Klasifikasi

Golongan

Budaya Sejarah

Bahasa

Inggris translate Indonesia

Macam

Resep Hard Cover

Uraian