Hubungan Antara Perusahaan Dan Bisnis





HUBUNGAN PERUSAHAAN


DENGAN PELAKU Dagang LAINNYA




Dosen Pembimbin


g

:
Anas Malik, S.E








Mata Khotbah








:




Etika Niaga Selam






Disusun Makanya
:

   Nama
:


Fitri Khoiriyah



NPM
:




1
421030019
/

IV



Prodi
:


Mu’amalah/F


Fakultas



Syari’ah


Universitaas Islam Daerah (UIN) Raden Intan








Lampung


Tahun Ramalan 201


6-


201


7


DAFTAR ISI


Jerambah Cover


Perkenalan awal Pengantar




……………………………………………………………………………..


i


Daftar Isi


………………………………………………………………………………………..


ii




Gerbang I PENDAHULUAN


A.




Latar Bokong Keburukan
1


B.




Rumusan Problem


………………………………………………………………


1


C.




Tujuan Ki kesulitan

…………………………………………………………………..


1


BAB II PEMBAHASAN


A.




Pertautan Firma dengan Pekerja Bisnis Lainnya

………………….
2


1.




Pemasok/Distributor…………………………………………………………….5


2.




Pembeli/Konsumen

………………………………………………………..


7


3.




Kongsi Pekerja/Mitra………………………………………………………..


11


4.




Aparat Pemerintah

………………………………………………………..


12


5.




Pesaing……………………………………………………………………………….12


B.




Tangggung Jawab Sosial Perusahaan

……………………………………..
….11


Portal III PENUTUP


A.




Kesimpulan

…………………………………………………………………..


13


B.




Saran

……………………………………………………………………………


13


Daftar bacaan




KATA PENGANTAR

Puji syukur saya ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat hidayah dan karunia-Nya, saya boleh menyelesaikan kertas kerja ini bagaikan tugas mulai sejak alat penglihatan kuliah Etika Bisnis Islam yang berjudul “Hubungan Perusahaan dengan Pelaku Memikul Lainnya”.

Tugas ini saya buat dengan maksud sebagai pelampiasan tugas mata kuliah Etika Bisnis Selam dan saya harap digunakan laksana pedoman wacana bakal mahasiswa fakultas Syari’ah, khususnya Mu’amalah.

Terima kasih saya ucapakan kepada semua pihak terkait, terutama untuk kedua ayah bunda yang telah menerimakan kehidupan untuk penulisan tugas ini. Congor terima rahmat juga kepada lawan-imbangan yang mutakadim kontributif dalam menyelesaikan persoalan yang terletak dalam penulisan makalah ini.

Saya menyadari bahwa penulisan referat ini tidak luput pecah kesalahan. Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun. Selain itu, saya juga berharap makalah ini boleh bermanfaat bagi pembacanya dan dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Hendaknya referat ini bermakna….

Bandarlampung, 0
1
Des
baldi 2022

Penulis,


BAB I
PENDAHULUAN



A.






Latar Belakang


Perkembangan perekonomian mayapada begitu pesat, seiring dengan berkembang dan meningkatnya kebutuhan manusia akan sandang, pangan, dan teknologi. Kebutuhan tersebut meningkat akibat
jumlah penduduk nan setiap musim lebih, sehingga menimbulkan persaingan bisnis yang makin tinggi. Sehingga terbimbing organisasi-organisasi komersial, seperti AFTA, NAFTA, APEC, dan lembaga perdagangan dunia
World Trade Organization
(WTO). Pembentukan organisasi tersebut pada prinsipnya bertujuan agar korespondensi kerjasama di parasan kulak antar negara
ekuivalensi visi dan misi. Namun dalam prakteknya tidak demikian, karena peluang lakukan terjadi penyimpangan yang mengakibatkan kerugian sesama manusia dan masyarakat dunia masih terjadi.

Etika sebagai nubuat baik-buruk, benar-salah, atau ajaran tentang adab khususnya dalam perilaku dan tindakan-tindakan ekonomi, dari terutama dari nubuat agama. Itulah sebabnya banyak petunjuk dan kritis dalam ekonomi Barat menunjuk pada kitab Alkitab (Bible), dan etika ekonomi Ibrani menunjuk lega Taurat. Demikian pula etika ekonomi Islam terdaftar dalam lebih berusul seperlima ayat-ayat nan dimuat intern Al-Qur’an.



B.






Rumusan Problem




1.




Bagaimanakah hubungan perusahaan dengan praktisi bisnis lainnya ?





        2.




Bagaimanakah tangggungjawab sosial perusahaan terhadap pegiat komersial lainnya?



C.






Pamrih Komplikasi


1.




Menjelaskan Hubungan Firma dengan Pegiat Bisnis Lainnya


2.




Menjelaskan mengenai Barang bawaan jawab sosial untuk firma


Gerbang II


PEMBAHASAN



A.






Hubungan Firma dengan Pelaku Bisnis Lainnya

Sebuah perusahaan berlimpah di dalam jaringan relasi dengan sejumlah pelaku usaha yang bukan. Mereka mencakup: pemasok, pelamar, pelanggan, serikat pekerja, aparat pemerintah dan pesaing.



1.






Pemasok/Distributor

Semua perusahaan perlu berbuat sirkulasi. Saluran diseminasi merupakan susukan nan digunakan maka dari itu produsen kerjakan menggenangi barang dari perakit ke konsumen.



[1]




Kita harus memastikan bahwa mereka akan membuat keuntungan yang adil dan tidak mengambil keuntungan berdasarkan putaran ataupun kekuasaan yang lebih besar. Allah SWT telah mensyariatkan kita untuk menciptakan menjadikan perjanjian kewajiban menggandar secara tertulis.

Transaksi
gharar


antara perusahaan dan pemasoknya sekali lagi dilarang dalam Islam. Selain itu pedagang juga dilarang intrusi dalam sistem pasar netral menerobos suatu bagan perantaraan tertentu. Perantaraan semacam ini mungkin akan menyebabkan terjadinya inflasi harga. Misalnya: seorang petani yang pergi ke sebuah pasar di ii kabupaten cak bagi menjual bilang hasil pertaniannya. Kemudian seorang penduduk kota mendekatinya dan mensyurkan bahwa hasil pertanian sebaiknya dititipkan kepadanya kerjakan sementara masa hingga harganya naik.

Jika pembajak tersebut menjual hasil pertaniannya tanpa interferensi sang penghuni kota, maka masyarakat akan bisa membelinya dengan harga yang cukup rendah, dan umum ataupun sang peladang akan mendapatkan keuntungan. Namun, detik sang penghuni ii kabupaten menggudangkan hasil perkebunan tersebut sampai harganya panjat dan kemudian menjualnya, maka masyarakat harus membayar lebih mahal, dan sang broker tersebut mendapatkan keuntungan berlebih. Buram perantara seperti ini dilarang makanya Islam:

وَعَنْ ابْنِ عُمَرَرَضِيَ اللهُ عَنْهُمَاقَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: لَاتَتَلَقَّوُاالسِّلَعَ حَتَّى يُهْبَطَ




بِهَاإِلَى اْلأَسْوَاقِ


Bersumber Ibnu Umar



رضي الله عنه




, kamu berkata: “Rasulullah

صلى الله عليه وسلم





bertutur: “Jangan kalian menghadang pedagang di tengah jalan, sampai barang-produk dagangannya diturunkan ke pasar-pasar”.



(Hr. Bukhari-Muslim).



[2]










عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ: نَهَى رَسُوْلُ اللهِ

صلى الله عليه وسلم


أَنْ يْبِيْعَ حَاضِرٌلِبَادٍوَإِنْ كَانَ أَخَاهُ لِأَبِيْهِ وَأُمِّهِ


Dari Anas





رضي الله عنه



ia berkata: “Rasulullah






صلى الله عليه وسلم






melarang orang daerah tingkat








[3]








menjualkan komoditas orang kampung, kendatipun beliau adalah plasenta kandungnya”. (Hr. Bukhari-Muslim).








[4]








Meskipun demikian, Al Qardawi menyatakan bahwa sebenarnya sistem asosiasi secara umum diperbolehkan kecuali terletak oplos tangan kerumahtanggaan sistem pasar nonblok. Tak ada yang salah dengan sistem pengenaan biaya pelayanan yang diberikan sang perantara. Biaya ini bersifat konsisten atau sesuai dengan jumlah penjualan, atau berapa pun sesuai dengan persetujuan di antara kedua belah pihak yang berkepentingan.



[5]








2.






Pembeli/Pemakai

Mandu
the customer is king

adalah prinsip untuk rajin mengagungkan dan memperlakukan pelanggan seperti seorang raja. Pembeli seharusnya menerima barang dalam kondisi baik dengan harga yang wajar. Mereka pula harus diberitahu bila terdapat kekurangan pada suatu komoditas. Selam melarang praktek-praktek di bawah ini momen berhubungan dengan pengguna atau pembeli:


a.




Pemakaian timbangan/perangkat ukur yang tidak tepat. Sebagaimana firman Yang mahakuasa SWT :












(


#


q


è


ù


÷


r


r


&








Ÿ


@


ø





s


3


ø


9


$


#








Ÿ


w


u


r








(


#


q


ç


R


q


ä


3


s


?








z


`


Ï


B








z


`


ƒ


Î


Ž


Å


£


÷





ß


J


ø


9


$


#








Ç


Ê


Ñ


Ê


È








(


#


q


ç


R


Î





u


r








Ä


¨


$


s


Ü


ó


¡


É


)


ø


9


$


$


Î


/








Ë


L


ì


É


)


lengkung langit


F


ó


¡


ß


J


ø


9


$


#








Ç


Ê


Ñ


Ë


È








Ÿ


w


u


r








(


#


q


Ý


¡


y





ö


7


s


?








}


¨


$


¨


Z


9


$


#








ó


O


è


d


u


ä


!


$


u





ô


©


r


&








Ÿ


w


u


r








(


#


ö


q


s


W


÷


è


s


?











Î


û








Ç


Ú


ö





F


{


$


#








t


û


ï


Ï





Å


¡


ø


ÿ


ã


B








Ç


Ê


Ñ


Ì


È


Artinya: Sempurnakanlah takaran dan janganlah sira termasuk orang- orang nan mudarat. Dan timbanglah dengan timbangan yang literal. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada properti-haknya dan janganlah kamu mengganas di paras bumi dengan mewujudkan kerusakan. (QS. As-Syu’ara:181-183).




[6]








b.




Penumpukan dan manipulasi harga

Islam tidak mentolerasi sistem pasar melalui praktek penimbunan atau beraneka macam lembaga manipulasi harga yang lain. Detik seorang pengusaha terbabit intern praktek pengurukan dan berbagai bentuk penggelapan harga, Selam mengizinkan pengontrolan harga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan memberikan proteksi terhadap individu-orang yang serakah. Kendatipun demikian, seandainya suatu komoditi telah dijual tanapa adanya praktek pengumpulan, dan harganya naik karena terjadi kekurangan alamiah atau kelangkaan atau peningkatan permintaan, maka kondisi sama dengan ini merupakan qada dan qadar Sang pencipta Swt. Para pengusaha dengan demikian tak dapat dipaksa untuk menjual dagangan dengan harga nan tetap.


c.




Penjualan barang gelap atau rusak.

Pengusaha orang islam harus senantiasa jujur setiap detik. Hadits di bawah ini memaparkan bagaimana sifat akhlak Selam memandang praktek-praktek bisnis nan memperdayakan seperti mana:

وَعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَأَنَّ رَسُوْلُ اللهِ مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ



فِيْهَافَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلًا فَقَالَ: مَاهَذَايَاصَاحِبَ الطَّعَامِ؟ قَالَ: أَصَابَتْهُ السَّمَاءُيَارَسُوْلَ اللهِ فَقَالَ: أَفَلَ جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَيْ يَرَاهُ النَّاسُ؟ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي




Dari Tepung Hurairah, disebutkan bahwa Rasulullah sangkut-paut melangkahi sebuah lambak tembolok, sangat beliau memasukkan tangannya ke dalam gundukan nafkah tersebut dan ternyata jari-jarinya basah. Lantas Rasulullah bertanya: “Apa ini aduhai penjual makanan?” Ia menjawab: “Makanan ini terkena hujan aduhai Rasulullah.” Rasulullah bertutur: “Cak kenapa bukan dia letakkan di fragmen atas agar orang-orang boleh melihatnya? Barangsiapa melebun (mengamalkan curang) maka ia bukan tercatat dari golonganku”. (Hr. Muslim).




[7]








d.




Bersumpah buat kondusif sebuah penjualan.

Ketika menipu seorang pembeli, dosa yang diakibatkan oleh pengelabuan itu akan semakin bertambah sekiranya sang penjual memperkuat keputusan penjualannya dengan sumpah palsu.

اَلْحَلْفَ مَنْفَقَةٌ لِلْسِّلْعَةِ هَمْحِقَةٌ لِلْبَرَكَـــةِ


Bersumpah dapat mempercepat lakunya dagangan, tetapi boleh menyenangkan berkah. (Hr. Bukhori-Muslim).


e.




Membeli barang-barang curian

Seorang muslim lain boleh secara sengaja membeli komoditas-barang jarahan baik bikin dirinya koteng atau bagi dijual kembali. Rasulullah Saw berfirman:
“Ia yang membeli barang-komoditas curian, dan senggang bahwa komoditas tesebut ialah barang curian, timbrung bersedia dan menerima dosa dan malu atas pencurian tersebut.



f.





Pantangan mengambil bunga atau riba

Nilai tingkat anak uang yang dikenakan dalam pinjaman merupakan sesuatu yang tidak diperbolehkan, jadinya riba bersusila-bermartabat dilarang. Karena si pemberi pinjaman berorientasi insan nan kian kaya dan sang debitor merupakan orang yang miskin, maka praktek riba akan semakin memperlebar jurang antara si congah dan si miskin.

عَنْ جَابِرٍ قَالَ: لَعَنَ رَسُوْلَ اللهِ آكِلَ الرِّبَاوَمُوكِلَهُ وَكَـا تِبَهُ وَشَـا هِدَيْهِ وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ


Dari Jabir ia berfirman: Rasulullah melaknat pemangsa riba, pemberi makan riba, penulisnya, dan dua orang saksinya. Rasulullah berfirman: “Mereka itu sama semuanya”.(Hr. Mukminat).




[8]








g.




Cucu adam yang berhutang

Seandainya seseorang yang berhutang sedang internal kesulitan finansial, Allah Swt mendorong ketulusan:


b


Î


)


u


r








š


c


%


x


.








r


è


Œ








;


udara murni


u


Ž


ô


£


ã


ã








î


o


t





Ï


à


o


Y


s


ù








4





tepi langit


<


Î


)








;


o


u


Ž


y


£


÷





n


B








4








b


r


&


u


r








(


#


q


è


%


£





|


Á


s


?








×


Ž


ö





y


z








ó


O


à


6


©


9








(








b


Î


)








ó


O


ç


F


Z


ä


.








š


c


q


ß


J


n


=


÷


è


s


?








Ç


Ë


Ñ


É


È






Artinya: Dan jika (orang nan berhutang itu) dalam kesukaran, Maka berilah tangguh sampai beliau berkelapangan. dan menyedekahkan (sebagian maupun semua utang) itu, makin baik bagimu, jika kamu Mengetahui (QS. Al-Baqarah: 280).




[9]







Selain itu Islam menunda orang-khalayak yang berhutang untuk tidak menangguh-nangguhkan pembayaran hutangnya. Hal ini ditujukan terutama bikin hamba allah-manusia makmur yang berhutang. Rasulullah Saw bersabda:

وَعَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَرضي الله عنه، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ

صلى الله عليه وسلم قَالَ: مَطْلُ اْلغَنِيِّ ظُلْمٌ، وَاِذَاأُتْبِعُ أَحَدُكُمْ عَلَى مَلِئٍ فَلْيَتْبَعْ


Pecah Abu Hurairah





r.a., bahwasannya Rasulullah SAW bersabda: “Sikap orang berharta yang mengulur-ulur hutang itu adalah kedzaliman, dan apabila (pembayaran terhadap) pelecok seorang sira dialihkan kepada koteng kaya maka hendaklah mengikutinya (menerimanya). (Hr. Bukhori-Muslim).


h.




Mahajana awam

Sendiri pengusaha memiliki kewajiban khusus jika ia menyempatkan barang-barang kebutuhan berarti bakal publik. Misalnya, umum mempunyai kebutuhan akan produk-produk pertanaman, busana, arena tinggal, dan lain-lain, karena dagangan-produk ini ialah komoditi utama, maka si pemanufaktur harus memberi harga secara wajar.



[10]




Selain itu pengusaha tak boleh menawarkan kebutuhan nan bersifat merusak seperti menawarkan rokok, minuman gigih, narkoba, maupun semacamnya. Yang semua orang tahu bahayanya cak bagi kesehatan dan hayat puas umumnya. Lagi tidak menawarkan dagangan alias jasa bakal sombong-megahan dan berlaku sombong. Sungguh banyak barang dan jasa yang ditawarkan merusak mental dan jiwa konsumennya.




[11]





3.






Sekutu Pekerja/Mitra

Menjadi direktur alias personel, dimanapun bekerja kontol solidaritas, kemampuan berkomunikasi dan kemampuan menjadi yang baik.



[12]




Islam mendorong terwujudnya perpautan kemitraan. Sebagaimana:


a.





Al-Mudharabah

, yaitu pemilik modal alias Bank Islam dipahami ibarat pemilik modal yang diinvestasikan, temporer sang wirausahawan menyerahkan keahlian dan keterampilannya. Kedua belah pihak harus bersepakat justru dahulu mengenai bagaimana mereka akan membagi semua keuntungan atau kecelakaan.


b.





Syirkah

, bank Islam menyempatkan sebagian modal yang diperlukan maka dari itu mitranya, sementara si pengusaha menyediakan sisanya. Sang pabrikan juga harus bertanggung jawab dalam kejadian sensor dan pengelolaan. Kedua belah pihak bersepakat buat membagi keuntungan ataupun kecelakaan berdasarkan perbandingan keikutsertaan investasi mereka.


c.






Musyarakah, Kedua belah pihak bersepakat untuk bekerjasama baik dalam tata modal tetap atau modal berputar. Keduanya juga bersepakat mengenai bagaimana mereka akan memberi semua keuntungan yang diperoleh. Kegeruhan akan dibagi beralaskan skala modal nan dijalankan.


d.





Murabahah

, Bank membeli dagangan-barang tertentu pecah pemasok atas cap pengusaha dengan harga tetap sebagaimana persetujuan tentang margin keuntungan. Dalam hal ini kedua belah pihak harus memafhumi harga pembelian awal serta harga kenaikan keuntungan. Manakala barang-barang tersebut dikirim, maka kedua belah pihak akan menandatangani kontrak menggandar.


e.





Qard Hasan


“pinjaman darmabakti” yang tidak dikenakan biaya dan tanpa rente. Jenis pinjaman ini diberikan kepada para pemakai atau pengusaha yang mengalami situasi yang sulit maupun pengeluaran yang lain direncanakan.



4.






Aparat Pemerintah

Bekerja plong pemerinta, firma negara, perusahaan daerah atau menjadi karyawan berasal pemerintah telah pasti tugas mula-mula yang diemban adalah kepentigan negara. Seumpama pekerja yang digaji oleh rakyat, merupakan lewat ironi sekiranya pegiat tidak memuaskan rakyat. Karena itulah berkarya sebagai pemerintah menginjak dari seleksi pegawai, pelatihan dan pelaksanaan kerja terbiasa menjadi episode yang benar dan baik. Sebab apabila seleksi, pelatihan, dan pelaksanaannya buruk akibatnya juga akan buruk.

Lega periode khalifah Umar pernah dilakukan seleksi karyawan yang di saat itu khalifah Umar memimpin sambil seleksi pegawai. Dimanapun pegawai yang berakhlak mulia, diyakini akan mampu mengemban tugasnya dan akan memuaskan rakyat yang memberi gaji padanya. Rasulullah Saw bersabda: “Bila satu pegangan tidak diserahkan pada ahlinya maka tunggu kehancuran”. Sedemikian itu penting bagi pekerja, sehingga jalan hidup yang ditangani makanya orang yang bukan ahlinya enggak akan persaudaraan menghasilkan bahkan kehancuran yang akan diperoleh. Karena itu mereka yang menindak Badan Usaha Eigendom negara (BUMN), Tubuh Manuver Eigendom Daerah (BUMD), dan Lembaga Menggandar apapun yang diniliki pemerintah teristiadat mempekerjakan ahlinya, dan bekerja sejujurnya.



[13]





5.






Pesaing

Pesaing adalah basyar ataupun pihak lain yang memilki pamrih dan harapan yang sama untuk menjual produknya dengan pasar sasaran nan selaras. Kerumahtanggaan dunia yang penuh persaingan Sang pelaku komersial lain boleh bermain kotor dengan sesama pegiat niaga. Maksudnya ialah, dalam berbagai ki akal ataupun ketatanegaraan yang dikembangkan di dalam bisnis tidak bisa merugikan apalagi mematikan pelaku bisnis yang lain. Dan yang terbaik adalah menawarkan kerjasama
“win-win solution”
dengan pegiat menggalas nan bersedia sandar-menyandar.
Tentang incaran nan menjadi persaingan usaha yaitu: kualitas, kuantitas, harga, desain, manfaat, arketipe, peladenan, dan efisiensi.



a.






Cara Mengatasi Persaingan usaha


1)




Menggunakan sifat simpatik bagi menggelandang hati para pengguna.


2)




Menyerahkan otonomi kepada konsumen untuk mengembalikan barang nan tidak dia sukai akibat kesalahan maupun enggak sesuai dengan keinginannya, ada jaminan kepuasan atau garansi uang pun, serta tidak memaksa konsumen.


3)




Semua urusan dibuat mudah, baik intern membeli, menjual dan mengasongkan, serta menetapi janji bisnisnya.


4)




Jangan berusaha dengan pengorbanan sekecil-kecilnya untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, tetapi antara pengorbanan dan hasil adalah proporsional ataupun wajar.


5)




Jangan pukul tinggal urusan belakang, tetapi setiap tindakan diperhitungkan risiko dan konsekuensinya.


6)




Jangan berorientasi pada keuntungan sekadar, tetapi mendekati pada kepuasan konsumen.


7)




Jangan demi terecapainya tujuan jangka pendek, sekadar demi tercapainya misi perusahaan yakni jangka strata positif kelanjutan manuver.


8)




Mengamalkan baik, jangan memusuhi.



b.






Manfaat Persaingan Usaha

Keefektifan persaingan usaha lakukan perusahaan yaitu:


1)




Menunda pegusaha bikin meningkatkan dan melebarkan usahanya.


2)




Tenaga penjualan dan pemasaran akan lebih dihargai.


3)




Pengusaha akan memperbaiki kualitas, jumlah, desain, acuan, keistimewaan, efisiensi komoditas, dan pelayanan.


4)




Meningkatkan kerja pabrikan secara lebih
prestatif.



B.






Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Kepada Pelaku Bisnis Lainnya

Tanggung jawab sosial merujuk pada “Kewajiban-beban sebuah organisasi kerjakan mencagar dan membagi konstribusi kepada masyarakat dimana engkau berada”. Sebuah organisasi mengemban tanggung jawab sosial privat tiga dominan, merupakan pada para pelaku organisasi, pada mileu tunggul, dan lega kesejateraan sosial secara masyarakat.


1.




Pelaku-pelaku Organisasi

Pelaku organisasi dapat mempenngaruhi bagaimana perusahaan berhubungan dengan para pekerja mereka, bagaimana para pelaku berhubungan dengan perusahaan, dan bagaimana firma beerhubungan dengan pelaku-pelaku ekonomi nan lain.


2.




Lingkungan Tunggul

Selama bertahun-tahun, banyak perusahaan sudah membuang produk limbah mereka ke udara, sungai, dan petak. Fenomena hujan asam, pemanasan global sebagai akibat penipisan lapisan ozon. Islma menekankan peranan manusia atas lingkungan alam dengan membuatnya bertanggung jawab terhadap lingkungan sekelilingnya seperti perlakuan terhadap hewan, polusi lingkungan, dan sumber-perigi alam.


3.




Kesejahteraan sosial secara umum

Laksana bagian masyarakat, pengusaha orang islam harus ikut memperhatikan kesejahteraan anggotanya yang miskin dan lenyai. Bisnis muslim harus memberi perhatian kepada usaha-usaha amal dan kondusif beragam tindakan kedermawanan.

Persoalan kewajiban jawab sosial n domestik dunia menggalas kerapkali diperdebatkan. Terdapat serangkaian argumentasi baik yang kontributif maupun yang menentang tanggung jawab sosial internal dagang. Para pendukung tanggung jawab sosial mengatakan bahwa karena sebuah membahu merupakan sumber penyebab bermacam ragam persoalan sebagaimana pengotoran, maka mereka harus melaksanakan kewajiban jawab sosial.

Provisional para penentangnya menyatakan bahwa sebuah usaha, dengan cara mewujudkan keuntungan dan membaginya kepada awam privat tulang beragangan upah dan pajak, sesungguhnya mutakadim membayar kewajiban mereka dan tidak harus dibebani dengan tanggung jawab sosial terhadap berbagai permasalahan yang memang tidak dapat sepenuhnya dihindari. Para penentang prinsip tanggung jawab sosial mencemooh besarnya kekuasaan yang diperoleh berbagai perusahaan sekalipun mereka telah berbuah mengatasi problem sosial. Karena besarnya kontribusi moneter mereka, berjenis-jenis perusahaan dapat memanfaatkan masalah sosial dan mengubahnya menjadi alat semu daya iklan demi khasiat memperbesar keuntungan mereka.

Berbeda dengan hukum sekuler, Islam tidak mengakui kesanggupan sebuah usaha perumpamaan entitas perusahaan protokoler yang pemiliknya lain bertanggung jawab secara pribadi terhadap berbagai komplikasi nan diciptakannya. Akhirnya, jikalau sebuah persuasi menciptakan masalah, maka pemiliknya harus siap untuk menyelesaikannya. Jika mereka tidak menyelesaikannya, mereka harus dipaksa bakal melakukannya.


Gapura III


Akhir


A.




Kesimpulan

Perantaraan firma dengan pelaku niaga lainnya mencengam Pemasok, Pembeli, Pelanggan, Kawan Pekerja/Mitra Bisnis, Aparat Pemerintah dan Pesaing. Firma dalam menjalankan usahanya dengan pelaku kulak lainnya harus memperhatikan nilai-skor etika secara Islami sebagaimana halnya memberikan laba yang adil bagi para pemasok atau distributor, bergaya jujur kepada pembeli terhadap barang/jasa nan kita jual, mengasihkan pelayanan prima kepada pelanggan, tidak melakukkan

Moral Hazard

(kecurangan) terhadap mitra bisnis, serta tak berbuat monopoli.

Tanggung jawab sosial merujuk pada “Beban-kewajiban sebuah organisasi bagi melindungi dan membagi konstribusi kepada masyarakat dimana kamu berbenda”. Sebuah organisasi mengemban tanggung jawab sosial dalam tiga dominan, yaitu puas para pelaku organisasi, pada lingkungan umbul-umbul, dan pada kesejateraan sosial secara masyarakat.


B.




Saran

Berusul referat yang saya buat terdapat beberapa saran, dalam kita bekerja lebih lagi terikat pada sebuah perusahaan maka kita harus mempunyai pedoman dasar untuk diri kita dalam menjalankan karier kita di antaranya camar bersikap jujur dan berkata benar, selalu menyempurnakan ikrar, mencintai Allah lebih terbit pegangan kita, berbisnis dengan orang-orang Muslim sebelum dengan Non-Muslim, rendah hati privat menjalani semangat, selalu menjalankan musyarawah privat setiap masalah yang sedang dihadapi, tidak terbabit privat korupsi, jangan menyuap dan disuap, dan yang bontot merupakan berbisnis secara adil sesuai dengan latihan Al-Qur’an dan Sunnah.


Daftar pustaka

Al-Mumayyaz.

Al-Qur’an dan Terjemahnya. Jawa Barat: Cipta Bagus Lautan.

Aedy, Hasan. 2022.

Etika Bisnia Selam. Bandung: Penerbit Alfabet.

Nawawi, Imam. 2006.

Tarjamah Riyadhus Sholihin Jilid 2. Surabaya: Duta Ilmu.

Beekun, Rafik Issa. 2004.

Etika Bisnis Islami. Yogyakarta: Wacana Pelajar.

Suparmin dan Aisyah Din. 2022.

Kewirausahaan. Surakarta: Mediatama.






[1]




Suparmin dan Aisyah Din,
Kewirausahaan, (Surakarta: Mediatama, 2022), hlm. 10




[2]



Imam Nawawi,
Tarjamah Riyadhus Sholihin Jilid 2, (Surabaya: Wakil Ilmu, 2006), hlm. 719.




[3]




Maksudnya, hamba allah setempat (ii kabupaten) yang mengetahui seluk beluk pasar.
Al-Baadiy
artinya turunan kampung, yaitu orang yang tak mengarifi hal ihwal dan harga pasar. Maksud hadits ialah seyogiannya orang kota jangan menjadi calo, karena ia akan menjualkan barang dengan harga tataran. Dan alasan dilarangnya hal ini karena mengandung manfaat yaitu menutup segala kemungkinan yang halal merugikan penjual. (Jika khalayak kampung sengaja mewakilkan kepada orang setempat cak bagi menjualkannya maka lain dilarang, yang dilarang adalah sosok setempat memonopoli barang bani adam kampung).




[4]




Pastor Nawawi,
Ibid., hlm. 719.




[5]




Rafik Issa Beekun,
Etika Bisnis Islami, (Yogyakarta: Pustaka Murid, 2004), hlm. 70-71




[6]




Al-Mumayyaz,
Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jawa Barat: Cipta Bagus Besar), hlm. 374




[7]




Anak laki-laki Hajar Al-Asqalani,
Terjemah Bulughul Maram, (Bandung: Penerbit Dolok, 2022), hlm. 202.




[9]




Al-Mumayyaz,
Op.,Cit, hlm.47.




[10]




Rafik Issa Beekun,
Op.,Cit, hlm. 77




[11]




Hasan Aedy,
Etika Bisnia Islam, (Bandung: Penerbit Alfabet, 2022), hlm. 73
.

Source: https://fitrikhoiriyah28.blogspot.com/2017/01/hubungan-perusahaan-dengan-pelaku.html

Posted by: caribes.net