Hukum Asuransi Dalam Agama Islam

PeciHitam.org –Dalam keadaanmuamalah (syariat yang mengatak urusan sesame manusia) memiliki prinsip hukum yang bersifat mangap. Maksudnya, Allah hanya mengasihkan adat yang berwatak garis besarnya sahaja di dalam al-Quran.


Pecihitam.org, dapat Istiqomah babaran artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan pencatat dan tim editor yang dapat menulis secara rutin. Dia bisa berpartisipasi intern Literasi Dakwah Selam ini dengan ikut mencecerkan kata sandang ini ke kanal-susukan sosial wahana kamu atau bahkan kamu boleh ikut Berdonasi.



DONASI Waktu ini

Nah, sisanya termengung atau dapat dikembangkan oleh ulama
mujtahid
melalui pemikirannya sejauh lain bertentangan dengan Al-Alquran dan Perkataan nabi.

Meskipun di kerumahtanggaan al-Quran dan Hadis tidak mengistilahkan kontan perihal asuransi, sekadar bukan berarti bahwa syariat asuransi intern Islam hukumnya haram. Sebab aset dari asuransi ternyata di kerumahtanggaan hukum Islam pun sudah ada.

Secara Bahasa, kata asuransi berasal dari bahasa Belandaassurantie, dalam hukum Belanda disebutverzekering nan bermakna pertanggungan. Prolog asuransi dalam Bahasa Inggris disebutinsurance yang artinya jaminan, kemudian diserap ke dalam Kamus Lautan Bahasa Indonesia dengan antitesis pembukaan
pertanggungan. Sedangkan oponen pembukaan Asuransi kerumahtanggaan Bahasa Arab yakni تأمين (ta’min).

Asuransi Islam atau yang rajin diistilahkan dengan sebutan
takaful boleh digambarkan laksana asuransi nan prinsip operasionalnya didasarkan pada syariat Islam dengan mengacu kepada Al-Alquran dan As-Sunnah. Istilah takaful ini purwa barangkali digunakan olehDar Al Harta benda Al Islami, sebuah perusahaan asuransi Islam di Geneva nan berdiri pada periode 1983.

Istilah
takaful
jika ditasrif kerumahtanggaan bahasa Arab berasal dari kata asalkafala-yakfulu-takafala-yatakafalu-takafulyang artinya saling menanggung alias menyanggupi bersama.

Kata
takaful
memang tak ditemukan dalam Al-Quran, namun cak semau sejumlah kata yang seakar dengan kata
takaful, begitu juga misalnya privat potongan tembusan Thaha ayat 40 berikut:

هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى مَن يَكْفُلُهُ

Artinya: ”…bolehkah saya menunjukkan kepadamu cucu adam nan akan memeliharanya (menanggungnya)?…”

Daftar Pembahasan:

  • 1
    Awal Berdirinya Takaful

    • 1.1
      Persamaan Takaful dan Asuransi Konvensional
    • 1.2
      Perbedaan Takaful dan Asuransi Legal
  • 2
    Cara dan Syariat Asuransi intern Islam
  • 3
    Asal Hukum Asuransi Syariah

Awal Berdirinya Takaful

Gagasan dan pemikiran didirikannya asuransi bersendikan syariah sesungguhnya sudah unjuk tiga periode sebelum berdirinya takaful dan lebih kuat selepas diresmikannya Bank Muamalat Indonesia plong masa 1991.

Baru pada perian 1994, Asuransi Takaful didirikan pertama kali bersamaan dengan diresmikannya PT Syarikat Takaful Indonesia. Selepas itu, kemudian mendirikan 2 anak asuh perusahaan yaitu PT Asuransi Takaful Keluarga pada tahun 1994 dan PT Asuransi Takaful Umum pada tahun 1995.

Seiring dnegan beroperasinya Bank-Bank Syariah dirasakan kebutuhan akan eksistensi jasa asuransi yang berdasarkan syariah pula. Berdasarkan pemikiran tersebut Ikatan Cendekiawan Orang islam se-Indonesia (ICMI) lega tanggal 27 Juli 1993 menerobos Yayasan Abdi Bangsa bersama Bank Muamalat Indonesia (BMI) dan perusahaan Asuransi Tugu Mandiri sepakat memprakarsai mandu asuransi takaful.

Persamaan Takaful dan Asuransi Konvensional

Baik asuransi legal maupun asuransi Syariah (takaful) memiliki persamaan, yaitu per perusahaan asuransi hanya berfungsi ibarat fasilitator dan intermediasi pertautan sistemis antara peserta penyetor premi (pengidap) dengan peserta penerima pemasukan klaim (terpanggul).

Perbedaan Takaful dan Asuransi Formal

Gagasan tentang asuransi
takaful
berkaitan dengan unsur ganti menanggung risiko di antara para peserta asuransi, di mana peserta yang suatu menjadi penderita siswa yang lainnya.

Tanggung-menanggung risiko pek­sebut dilakukan atas dasar kebersamaan ubah bergotong-royong intern kebaikan dengan cara masing-masing mengeluarkan dana yang ditujukan lakukan menanggung risiko tersebut.

Firma asuransi takaful hanya main-main sebagai penyedia dan mediator proses saling bersedia dan menerima di antara para petatar asuransi. Hal inilah salah suatu nan membedakan antara asuransi takaful dengan asuransi lumrah, di mana dalam asuransi konven­sional terjadi ganti menanggung antara perusahaan asuransi dengan peserta asuransi.

Prinsip dan Syariat Asuransi dalam Selam

Jika ditinjau pecah segi hukumnya, asuransi konvensional hukumnya terlarang. Sebab dalam operasionalnya, asuransi konvensional mengandung partikelgharar(ketidakpastian), maysir (spekulasi/gambling) danriba (bunga).

Keharaman hukum asuransi dalam Islam tersebut disepakati maka itu banyak ulama tersohor bumi begitu juga Yusuf al-Qaradhawi, Sayyid Sabiq, Abdullah al-Qalqili, Muhammad Bakhil al-Muth’i, Abdul Wahab Khalaf, Muhammad Yusuf Musa, Abdurrahman Isa, Mustafa Ahmad Zarqa, dan Muhammad Nejatullah Siddiqi.

Semata-mata karena alasan kemaslahatan ataupun faedah publik sebagian dari mereka membolehkan bagi sementara belum terserah alternatif yang sesuai syariah beroperasinya asuransi konvensional.

Dalam gambar pengembangan perekonomian umat paser tangga, mahajana mukminat perlu konsisten mengaplikasikan mandu-pendirian perbisnisan syariah berdasarkannash-nash(wacana-referensi dalil agama)nan jelas ataupun pendapat para juru ekonomi Islam.

Berdasarkan pemikiran bahwa asuransi halal hukumnya adalah haram, maka kemudian dirumuskan rancangan asuransi yang terhindar dari ketiga atom yang diharamkan Selam tersebut di atas yaknigharar,maisir danriba.

Berdasarkan hasil analisis terhadap syariat (syariat) Islam dapat disimpulkan bahwa di dalam ilham Selam termuat substansi perasuransian.

Asuransi yang termuat dalam substansi hukum Selam tersebut ternyata bisa menghindarkan pendirian operasional asuransi berusul anasirgharar, maisirdanriba.

Pada hakikatnya, asuransi syariah (takaful) maupun sah memiliki prinsip bagi saling berkewajiban, saling berangkulan atau bantu-membantu dan tukar bersedia dan menerima siksaan satu sama lain.

Oleh sebab itu hukum asuransi dalam Islam diperbolehkan secara Syariah. Situasi ini berdasarkan pendirian-cara dasar syariah mengajak kepada setiap sesuatu yang berakibat keeratan jalinan sesama manusia dan kepada sesuatu nan meringankan bencana mereka. Sama dengan potongan fir­man Halikuljabbar intern Al-Quran surah al-Maidah ayat 2 berikut:

وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu intern mengamalkan kebajikan dan takwa, dan jangan sokong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah ia kepada Allah, sesungguhnya Tuhan amat rumpil hukuman-Nya”.

Seperti yang sudah lalu disebutkan di atas, mandu utama asuransi syariah yang mengistimewakan pada sukma kebersamaan dan bergotong-royong (ta’awun). Mengedepankan asas saling membantu dan silih menopang. Sebab setiap muslim terhadap muslim lainnya ibarat sebuah konstruksi nan saling menguatkan suatu sama lain.

Dasar Syariat Asuransi Syariah

N domestik menjalankan usahanya, perusahaan asuransi dan reasu­ransi syariah bersandar pada pedoman nan dikeluarkan maka dari itu Dewan Syariah Kewarganegaraan Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) yaitu Fatwa DSN-MUI No. 21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Publik Asuransi Syariah di samping Fatwa DSN-MUI nan paling terkini yang terkait dengan akad perjanjian asuransi syariah ialah Fatwa No.51/DSN-MUI/III/2006 tentang akad
Mudharabah Musytarakah puas Asuransi Syariah, Fatwa No. 52/DSN-MUI/III/2006 adapun AkadWakalah bil Ujrah lega Asuransi Syariah, Fatwa No. 53/DSN-MUI/III/2006 akan halnya AkadTabarru’sreg Asuransi Syariah.

Qanun perundang-pelawaan yang mutakadim dikeluarkan pemerintah berkaitan dengan asuransi syariah yaitu:

  1. Keputusan Menteri Finansial Republik Indonesia Nomor 426/ KMK.06/2003 akan halnya Perizinan Operasi dan Kelembagaan Perusa­haan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi. Qanun inilah yang bisa dijadikan sumber akar untuk mendirikan asuransi syariah sama dengan garis hidup dalam Pasal 3 yang menyebutkan bahwa ”Setiap pihak dapat melakukan manuver asuransi atau persuasi reasuransi berdasarkan kaidah syariah…” Ketentuan yang berkaitan dengan asuransi syariah tertera dalam Pasal 3-4 mengenai persyaratan dan tata pendirian memperoleh izin usaha perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi dengan prinsip syariah, Pasal 32 adapun alas kata kantor cabang dengan prinsip syariah berpangkal perusahaan asuransi dan firma reasuransi jamak, dan Pasal 33 mengenai prolog perwakilan dengan prinsip syariah berpangkal perusahaan asuransi dan firma reasuransi dengan cara syariah.
  2. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 424/ KMK.06/2003 mengenai Kesehatan Finansial Firma Asuransi dan Perusahaan Reasuransi. Bilangan nan berkaitan dengan asuransi syariah tertera internal Pasal 15-18 akan halnya gana yang diperkenankan harus dimiliki dan dikuasai maka itu perusahaan asuransi dan firma reasuransi dengan cara syariah.
  3. Keputusan Direktur Jenderal Lembaga Keuangan Nomor Kep. 4499/ LK/2000 mengenai Macam, Penilaian dan Pembatasan Investasi Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi dengan Sistem Syariah.

Demikian Selayang pandang mengenai takaful dan hukum asuransi dalam Islam. Medah-mudahan sedikit bisa menggunung informasi. Jika terserah hal yang kiranya sedikit tepat, kami mohon pembebasan yang sebesar-besarnya.
Ash-Shawabu Minallah.

  • Author
  • Recent Posts

Mohammad Mufid Muwaffaq

Latest posts by Mohammad Mufid Muwaffaq
(see all)

  • Wikipedia
    – 31/08/2022
  • Ganar Bonificación
    – 29/08/2022
  • Gratowin Connexion
    – 25/07/2022

Source: https://pecihitam.org/hukum-asuransi-dalam-islam/

Posted by: caribes.net