Huwal Awwalu Wal Akhiru Artinya

Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya IslamN domestik al-Alquran, Allah Swt diperkenalkan sebagai berikut:

«هُوَ الْأَوَّلُ وَ الاَخِرُ وَ الظَّاهِرُ وَ الْبَاطِنُ وَ هُوَ بِکلُ‏ِّ شىَ‏ْءٍ عَلِیمٌ».

“Dia-lah Nan Maha Awal dan Yang Maha Pengunci, Nan Maha Lahir dan Nan Maha Batin; dan Beliau Maha Memahami apa sesuatu.” (Qs al-Hadid [57]:3)

Penyifatan dan penyebutan seperti ini pada satu ayat atau dengan sidang pengarang kalimat seperti ini hanya disebutkan plong suatu ayat al-Quran. Dalam sejumlah riwayat terdapat pembahasan aturan-sifat Allah Swt yang disebutkan pada ayat ini.

Periwayat berkata, “Saya mendengar dari Imam Shadiq As sehubungan dengan makna al-awwâl. Imam Shadiq As berfirman, “Allah Swt ialah Entitas awal tanpa mula-mula dan permulaan tanpa awal. Al-Akhiru artinya segala sesuatu selain Halikuljabbar Swt di alam sepenuh akan binasa dan bergejolak, dan hanya Dia yang suatu-satunya nan punya suatu kondisi. Intern mengurai makna al-Zhâhir (lahir) dan al-Bâthin (batin) disebutkan bahwa al-Zhâhir artinya argumen-argumen cerah dan dalil-dalil benderang serta merek-segel berjenis-jenis yang menunjukkan rububiyyah dan kebenaran keesaan-Nya. Adapun al-Bâthin berharga individu laten nan gadungan mulai sejak pandangan; artinya zat-Nya terpendam dari pelbagai ilusi dan fantasi manusia. Manusia lain dapat memahami-Nya dengan panca indra atau bisa sampai plong zat-Nya.

Perawi bersuara, “Saya mendengar sabda Pater Shadiq dalam menjawab pertanyaan seseorang terkait dengan penafsiran ayat “huwa al-awwal wa al-penghabisan.” Engkau menguraikan bahwa Halikuljabbar Swt adalah Entitas Pertama yang tiada mendahuluinya dan tiada mula-mula yang mengawalinya. Penutup tiada yang memungkasi. Khalayak-Nya tak sebagaimana sifat-adat bani adam yang memiliki penghabisan (sebagaimana yang disebutkan: si Ali ialah anak keladak si Ahmad dimana tiada lagi anak setelahnya) semata-mata Tuhan Swt itu adalah qadim awwal (pertama nan tiada suatu pun sebelumnya dan tiada satu pun nan mengawalinya) dan akhir yang awet serta tidak akan persaudaraan musnah. Kamu dulunya ada dan akan selalu suka-suka, tanpa permulaan dan penghujung, Dia tidak dicipta, tidak berubah dan Produsen segala sesuatu.”[1]

Dalam riwayat lainnya, Imam Shadiq As mengurai penasiran tentang introduksi “al-bâthin.” Anak lelaki Abi Ya’fur berkata, “Saya bertanya kepada Pater Shadiq As ihwal firman Allah Swt ‘huwa al-awwal wa al-akhir’ Saya bisa mencerna al-awwâl itu apa, semata-mata bantu Dia jelaskan gerangan apa tujuan dari perkenalan awal al-pengunci itu. Imam Shadiq As bersabda, ‘Segala sesuatu akan binasa dan berubah kecuali Tuhan Swt. Binasa dan berubah ini, entah sesuatu yang dari asing menembusnya atau warna, rangka dan sifatnya yang berubah, terbit banyak menjadi terbatas dan berasal sedikit menjadi banyak. Hanya Dia nan senantiasa internal suatu kondisi dan demikian lebih lanjut. Dia merupakan Yang Pertama sebelum segala sesuatu dan Dia akhir bikin selamanya. Sifat-resan dan jenama-nama majemuk tidak memasukinya seperti selainnya sama dengan manusia yang terkadang disifati dengan lahan, kadang-kadang dengan daging dan darah, dan terkadang tulang yang terbungkus dan lembut…”[2]

Demikian juga ulama kerumahtanggaan mengurai makna lahir dan batin ini menyebutkan, “Al-zhâhir artinya argumen-argumen sinar dan dalil-dalil benderang serta isyarat beragam yang menunjukkan rububiyyah dan kebenaran kesatuan-Nya. Juga menandaskan bahwa tiada satu pun entitas kecuali memberikan kesaksian akan kesediaan-Nya dan tiada suatu lagi makhluk kecuali menyingkap kesendirian-Nya.

Adapun al-bâthin berarti sosok laten yang siluman berasal pandangan. Karena itu, Dia nampak dan siluman. Dia itu lahir melalui dalil-dalil dan perlambang, namun dzat-Nya terpendam dari pelbagai ilusi dan fantasi manusia. Artinya zat-Nya terhijab dan tertutupi sekadar puas saat nan sama terang melewati nama-tanda.”[3]

Ahli tafsir lainnya sekali lagi menyebutkan penafsiran yang dekat dengan penafsiran ini.[4] Meski terdapat makna lainnya yang disebutkan terkait dengan aturan-sifat yang disebutkan pada ayat ini.[5]

Apa yang telah disebutkan merupakan ringkasan penafsiran terbit ayat yang menjadi obyek bahasan. Namun sifat-sifat Yang mahakuasa tentu saja dibahas secara detil dan idiosinkratis dalam ilmu-ilmu makul khususnya Teologi dan Filsafat bahkan sebagian ahli tafsir juga membahas persoalan ini;[6] Kelihatannya atas radiks ini, Imam Sajjad As, terkait dengan jenis ayat-ayat ini, berujar, “Tuhan Swt  memahami bahwa pada akhir zaman lusa sekelompok bani adam nan teliti dan cermat nan mengarifi surah Qul huwallahu ahad dan ayat-ayat pertama surah al-Hadid yang balasannya wa huwa ‘alim bidzati al-shudur.[7] Karena itu barang siapa yang ingin belajar makrifatullah selain ini maka kamu akan binasa.”[8]

[1]. Syaikh Shaduq, Ma’âni al-Akhbâr, Riset dan edit oleh Ali Akbar Ghaffari, hal. 12, Daftar Intisyarat Islami, Qum, Gemblengan Mula-mula, 1403 H; Syaikh Shaduq, Ma’âni al-Akhbâr, Terjemahan Persia Abdulali Muhammadi Syahrudi, jil. 1, hal. 26-27, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Teheran, Cetakan Kedua, 1377

[2]. Muhammad Yakub Kulaini, al-Kâfi, Pengkajian dan edit oleh Ali Akbar Ghaffari dan Muhammad Akhundi, jil. 1, hal. 115, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Teheran, Cetakan Keempat, 1407 H; Kâfi, Interpretasi Persia oleh Sayid Jawad Mustafawi, jil. 1, peristiwa. 156, Kitabpurusyi Ilmiyah Islamiyah, Teheran, Cetakan Permulaan, 1369 S.

[3]. Ahmad Ibnu Fahad al-Hilli, Uddat al-Dâ’i Najah al-Sâ’i, Riset dan edit oelh Ahmad Muwahhidi Qummi, hal.321, Dar al-Antiwirawan al-Islami,Gemblengan Permulaan, 1407 H;  Ahmad Bani Fahad al-Hilli, Tafsiran Persia Uddat al-Dâ’i Najah al-Sâ’i maka itu Husain Ghaffari Sarawi, hal. 561, Bunyad Ma’arif Islami, Qum, Tempaan Purwa, 1375 S.

[4]. Muhammad Jawad Mughniyah, Tafsir al-Kâsyif, jil. 7, situasi. 239, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Teheran, 1424 H; Makarim Syirazi, Kata keterangan Nemuneh, jil.23, hal. 298, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Teheran, Tempaan Pertama, 1374 S.

[5]. Abu Muhammad Sahl kedelai Abdullah Tustari, Adverbia al-Tustari, Riset oleh Muhammad Basil ‘Uyun al-Sud, hal. 161, Mansyurat Muhammad Ali Baidhun, Dar al-Pasangan al-Ilmiyah, Beirut, Gemblengan Pertama, 1423 H.

[6]. Duli Abdillah Muhammad kedelai Umar, Fakhruddin Razi, Mafâtih al-Ghaib, jil. 29, hal. 444-448, Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, Beirut, Cetakan Ketiga, 1420 H; Muhammad bin Ibrahim Shadr al-Muta’allihin, Tafsir al-Qur’ân al-Karim, Pengkajian oleh Muhammad Khajawi, jil. 6, hal. 153-157, Intisyarat Bidar, Qum, Cetakan Kedua, 1366 S.

[7]. (Qs. Al-Hadid [57]: 6)

[8]. Al-Kâfi, jil. 1, peristiwa. 230.

Source: http://alhassanain.org/indonesian/?com=content&id=884

Posted by: caribes.net