Ilmu Yang Mempelajari Tentang Serangga

What is Ethno-entomology?

Unit Amatan Pengendalian Hama Terpadu (Dept. Proteksi Tanaman IPB) berekanan dengan Perhimpunan Entomologi Indonesia (PEI) mengadakan seminar dengan judul “What is Ethno-entomology?” puas waktu Jum’at, 31 Maret 2022. Seminar ini menghadirkan narasumber berpunca Museum National d’Histoire Naturelle (Prancis), Dr. Nikolas Cesard.

Kajian mengenai Etno-entomology sendiri merupakan suatu perspektif baru dalam mayapada ilmu manifesto khususnya di Indonesia. Kajian ini kian mengedepankan hobatan sosial –antropologi dalam pendekatannya. Etno-entomologi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dengan lingkungannya, dimana insekta adalah adegan di dalamnya. Dalam kehidupan manusia, insekta berperan penting dalam semangat cucu adam. Melampaui pendekatan etno-entomologi dipelajari secara luas tentang bagaimana manusia berinteraksi, berpikir (the way of thinking), dan “mengolah” serangga privat kehidupan sehari-waktu.

Dalam kesempatan ini, Dr. Nikolas menyampaikan beberapa kasus pendalaman tentang interaksi makhluk serangga sebagai sumber obat, hutan, dan episode internal tamadun. Di beberapa negara termasuk Indonesia, insek undur-undur (Neuroptera: Myrmeliontidae) digunakan sebagai pelelang yang dipercaya boleh menyembuhkan beberapa penyakit misalnya stroke, diabetes, asma, dan asam otot.

Masyarakat di Bali mengkonsumsi capung sehari-hari cak bagi menggantikan daging yang hanya bisa dimakan detik upacara waktu besar keagamaan saja. Mereka cekut capung cukup umur/pradewasa (fase naiad) maupun capung dewasa lakukan dikonsumsi.

Di Jepang, masyarkat di Nagano Prefecture, Jepang  memanen
zazamushi
maupun lebih dikenal ibarat belatung air berkantung/caddisfly
(Ordo Trichoptera) kerjakan dikonsumsi. Dalam proses pemanenan, masyarakat sejak lama mutakadim mempelajari kebiasaan dan perilaku insek tersebut sehingga mereka dapat memanen dalam jumlah banyak, misalnya musim dimana populasi insek tersebut melimpah, habitat nan seia sehingga ditemukan banyak insekta, serta modifikasi instrumen sokong kerjakan memanen.

Kasus penggalian orang tani kroto di provinsi Banten, mereka sudah mengetahui bagaimana metode yang tepat untuk memanen kroto (telur, larva, dan pupa)  semut rangrang (Oecophylla smaragdina, Hymenoptera: Formicidae). Melangkahi proses pengamatan serta pengalaman anjlok-melandai privat waktu nan suntuk lama, mereka dapat menentukan siklus pengambilan kroto privat satu pokok kayu atau sarang, sehingga dapat mempertahankan sarang tersebut dalam jangka tahun tertentu untuk pemanenan.

Proses pengamatan serta pengalaman inilah juga menjadi salah satu putaran yang mendasari dilakukannya investigasi terkait Ento-entomologi ini. Terakhir, Dr. Nikolas menutup presentasi dengan sebuah “pertunjukan” adu kerawai di Thailand. Masyarakat di Thailand, melakukan suatu
setting
hendaknya “perkelahian” di antara kumbang dapat terjadi. Prinsipnya, mereka menciptakan suatu kondisi dimana kedua naning akan beradu karena memperebutkan sesuatu. Publik di Thailand menyimpan sigenting lebah ratulebah di bawah
log
gawang tempat kedua berani bertemu dan beradu. Secara alamiah, akibat feromon seks yang dikeluarkan sigenting lebah ratulebah, kedua tabuhan jantan akan jotos-jotosan bikin memperebutkan (hubungan) dengan kumbang jantan.

*Apabila tertarik dengan maklumat alias lingkup studi terkait, silahkan mengunjungi web pribadi Dr. Nikolas Cesard di: www.ncesard.fr

Source: https://ptn.ipb.ac.id/cms/id/berita/detail/37/seminar-pei-dan-ukpht-what-is-ethno-entomology