Jagalah Keluargamu Dari Api Neraka

Aduhai orang-orang percaya, peliharalah dirimu dan keluargamu berbunga Api Neraka” (terj. Qs. At-Tahrim ayat 6).

MADANINEWS.ID, JAKARTA – Ayat di atas berisi perintah Allah
Ta’ala
kepada orang-orang berkepastian untuk melindungi diri dan keluarganya dari api neraka. Ayat ini menjadi pengingat untuk setiap Muslim nan beriman. Sebab ukuran kemajuan dan kebahagiaan cucu adam di akhirat esok adalah ketika dijauhkan berpangkal neraka dan dimasukkan ke n domestik surga.

Ibnu Abbas
radhiyallahu ‘anhuma
privat sebuah majlis ilmu pernah berkata bahwa makna “jagalah dirimu dan keluargamu bermula api neraka” adalah lakukanlah kesetiaan kepada Allah dan tinggalkan maksiat serta suruhlah mereka lakukan berdzikir kepada Allah. Maka dengannya Sang pencipta selamatkan kalian bermula jago merah neraka”.

Sementara itu Muqatil dan Ad Dhahak kerumahtanggaan tafsir Anak lelaki Katsir:4/391 berkata, makna peliharalah dirimu dan keluargamu berpunca jago merah neraka”, adalah, “Engkau memerintahkan mereka untuk mentaati Almalik dan mencegah mereka dari bermaksiat kepada Tuhan, hendaklah engkau menegakkan perintah Allah teradap mereka, mewajibkan mereka dengan perintah Allah dan kondusif mereka dalam urusan tersebut, dan seandainya engkau mematamatai kemaksiatan dari mereka maka hendaklah engkau menghardik mereka”.

Temporer Ali polong Abi Thalib ra mengatakan bahwa makna “peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”,
adalah “didiklah mereka dan ajarkan ilmu kepada mereka (addibhum wa ‘allimhum)”. Sayyidina Ali polong Abi Thalib juga menjelaskan bahwa dalam menjaga anak bini pecah Api Neraka dilakukan dengan majemuk hal berikut:

1.Bekali Keluarga dengan Aji-aji

Ilmu yakni perkara nan sangat terdahulu dan dipentingkan oleh Islam. Ia yakni inden dan asas kebaikan. Dengan ilmu seseorang mengenali kurnia dan dapat membedakannya dengan problem. Dengan ilmu pula seorang Muslim dapat mengetahui tugas dan kewajibannya kepada Tuhan. Dengan ilmu seorang mengerti harapan semangat dan keberadaanya di dunia yang fana ini. Dengan ilmu pun seseorang mengelola dan menjalani hidupnya di bumi ini dengan benar, sesuai tanzil Allah dan Rasul-Nya.

Singkatnya, ilmu ialah bekal sekalian panduan dalam menjelajahi spirit mayapada menjurus usia akhirat. Lebih lagi nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ يَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ حَتَّى الْحِيتَانِ فِي الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Barangsiapa meniti jalan bagi berburu mantra, Sang pencipta akan permudahkan baginya kronologi menuju surga. Para Malaikat akan membentangkan sayapnya karena ridla kepada penuntut hobatan. Dan seorang penuntut hobatan akan dimintakan magfirah maka dari itu penghuni langit dan marcapada hingga ikan yang ada di air. Sungguh, keutamaan koteng imani dibanding seorang ahli ibadah adalah ibarat bulan purnama atas semua tanda jasa. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi, dan para Rasul enggak mewariskan dinar maupun dirham, akan semata-mata mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya, maka ia telah mengambil babak yang sangat besar.
(HR Ibnu Majah)

Oleh karena itu privat ajaran Selam pikulan sendiri bos batih dalam rangkan membimbing keluarganya menggapai ridha Allah, selamat dari neraka adalah dengan mengajarkan ilmu kepada mereka. Paling kecil bukan koteng Muslim sparing Ilmu fardhu ‘alat penglihatan dan mengajarkannya kepada bani adam yang menjadi pikulan jawabnya, adalah anak dan istrinya.

2. Membimbing Keluarga Menjadi Pribadi yang Berakhlak Mulia

Syed Naquib al-Attas, koteng cendekiawan muslim pernah berkata Sebab utama bermacam-macam masalah dunia Islam masa ini adalah problem mantra dan ketiadaan kesopansantunan (the loss of adab). Maka dari itu karena itu beliau menurut beliau, solusi mendasar cak bagi persoalan ummat Islam detik ini adalah pendidikan berbasis adab. Dia menyebutnya dengan istilah
ta’dib.

Rasulullah SAW  bersabda :

مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدًا مِنْ نَحْلٍ أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ

“Tidak ada suatu pemberian sendiri ayah kepada anaknya yang lebih utama daripada adab (kepatutan) yang baik.” (HR Tirmidzi)

Tata susila ataupun Akhlak yang dimaksud di sini bukan namun sopan santun dan tata krama terhadap bijan individu. Tetapi adab yang mencengap adab kepada Yang mahakuasa, Rasul-Nya, dan sesama manusia sebagai halnya tata krama kepada ibu bapak, guru, kawan, dan sebagainya. Karena puas hakekatnya makna adab intern bahasa Selam merupakan memberikan kepada yang berkuasa haknya. Menghormati yang harus dimuliakan dan tidak menghormati yang tidak pantas dimuliakan.


مَا مِنْ شَيْءٍ يُوضَعُ فِي الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ وَإِنَّ صَاحِبَ حُسْنِ الْخُلُقِ لَيَبْلُغُ بِهِ دَرَجَةَ صَاحِبِ الصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ

“Tidak ada yang lebih berat kerumahtanggaan timbangan daripada akhlak yang baik, dan sepantasnya insan yang berakhlak baik akan mencapai derajat insan yang berpuasa dan shalat.”
(HR Tirmidzi)

Internal hadits lain dikatakan:

اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah engkau kepada Yang mahakuasa dimana saja dia berada dan ikutilah setiap ki kesulitan dengan keefektifan nan dapat menghapuskannya, serta pergauilah manusia dengan tata susila yang baik.”
(HR Tirmidzi)

3. Mengajak Keluarga Belalah Tunak Puas Allah

Riuk satu Makna, “peliharalah dirimu terbit api neraka” yakni “lakukan ketaatan kepada Almalik dan tinggalkan maskiat kepada-Nya”, kata Anak laki-laki Abbas dan “Engkau mewajibkan mereka cak bagi mentaati Tuhan dan mencegah mereka dari bermaksiat kepada Halikuljabbar”,
kata Muqatil dan ad-Dhahak.
dalam Al-Quran dikatakan:

Dalam surat lain disebutkan:

Kesetiaan pertama yang harus menjadi perhatian koteng Muslim dan mendidik keluarganya yakni tauhid dan shalat. Sebab tauhid merupakan kebaikan yang minimal baik. Karena kekuatan dan ibadah nan dikerjakan seorang hamba harus tegak di atas tauhid. Tauhid merupakan daya syurga dan jalan keselamatan dari neraka. Bahkan tauhid yaitu harapan hidup sosok di dunia ini.

Sedangkan shalat merupakan kayu agama dan berbaik Islam nan kedua. Ia kembali adalah pembeda antara Muslim dan Kafir atau Musyrik. Imam Ibn Katsir rahimahullah ketika menyangkal, “Peliharah dirimu dan keluargamu dari api neraka”, mengatakan, Tertulis babak berpunca makna ayat ini ialah hadits yang diriwayatkan Pendeta Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidziy, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
berucap,

Perintahkan momongan kalian melakukan shalat bila telah berusia, dan bila sudah lalu berusia dasa tahun maka pukullah jika celih melakukan shalat”.
(Terj. HR. Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidziy)

4. Menjauhkan Keluarga dari berbuat Maksiat

Selain konsisten kepada Allah, menjauhkan diri dari berbuat maksiat adalah salah satu perintah Allah dan Rasulullah SAW. keadaan ini ditegaskan dalam Al-Alquran:

Sesudah Allah melarang perkara dosa itu secara tunggal, maka Dia melarang dosa-dosa nan lain secara umum.

Termasuk persiapan-langkah setan adalah semua maksiat, baik yang tersapu dengan hati, lisan atau anggota awak.

Perbuatan brutal merupakan perbuatan yang dipandang brutal oleh akal busuk dan semua hukum, berupa dosa-dosa lautan.

Mungkar merupakan ulah nan diingkari oleh akal dan hukum. Maksiat nan merupakan awalan-awalan setan tidak lepas dari perkara keji dan mungkar, maka Allah melarang hamba-hamba-Nya dari yang demikian sebagai nikmat-Nya kepada mereka agar mereka bersyukur dan mengingat-Nya, karena dengan menjauhinya boleh membentuk diri mereka bersih dari kotoran dan noda yang mengotori dirinya dan menjauhkannya dari api neraka.

Selanjutnya maksiat yang harus dijauhkan maka dari itu seorang Mukminat dari keluarganya adalah dosa-dosa raksasa seperti pangku, zina, khamr, judi, sihir, dan sebagainya. Lampau kemudian dosa-dosa kecil dan perilaku tercela lainnya. Dan hendaknya seorang Mukminat tak meremehkan ulah dosa, sekecil apapun dosa tersebut. Karena setiap dosa ulem kemurkaan Allah Ta’ala. Dosa kecil nan dilakukan terus-menerus dan disertai sikap meremehkannya akan berubah bentuk akan menjadi besar siksanya di arah Allah.

Source: https://www.madaninews.id/3937/memelihara-diri-dan-keluarga-dari-api-neraka.html

Posted by: caribes.net