Jawaban Asholatu Khoirum Minan Naum

SECARA garis ki akbar, kita disunahkan lakukan menjawab adzan sesuai/semisal dengan lafadz yang diucapkan muadzin, kecuali pada lafadz : حي على الصلاة “Hayya ‘alash Shalah” dan حي على الفلاح “Hayya ‘alal falah”, maka dijawab dengan ucapan : لا حول ولا قوة إلا بالله “La haula wala quwwata illa billah” (Tiada kiat dan kelebihan kecuali dari Almalik). Termasuk yang dikecualikan dalam hal ini, saat menjawab ucapan “Tatswib” (Ash-Shalatu Khairum minan na’um) pada adzan Pagi buta, maka dijawab dengan : صَدَقْتَ وَبَرَرْتَ “Shadaqta wa bararta” (Sopan dan bagus apa nan beliau ucapkan). Hal ini didasarkan pada qiyas (analogi) terhadap jawaban dari kalimat “Hayya ‘alash shalah” dan “Hayya ‘alal falah”.

Padri An-Nawawi – rahimahullah- (wafat : 676 H) dalam berkata :

وَيُسْتَحَبُّ لِسَامِعِهِ أَنْ يُتَابِعَهُ فِي أَلْفَاظِ الْأَذَانِ وَيَقُولَ عِنْدَ الْحَيْعَلَتَيْنِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِاَللَّهِ..وَيَقُولَ إذَا سَمِعَ قَوْلَ الْمُؤَذِّنِ الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ صَدَقْتَ وَبَرَرْتَ

“Dan dinasihatkan cak bagi yang mendengar adzan, untuk mengimak muadzin dalam lafadz-lafadz adzannya. Dan menjawab ketika lafadz “Hayya ‘ala shalah” dan “Hayya ‘alal falah”, dengan lafadz “La haula wala quwwata illa billah”….Apabila mendengar mulut muadzin “Ash-Shalatu Khairum minan naum”, semoga menjawab dengan “Shadaqta wa bararta” (Benar dan bagus ucapanmu)”. [Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab : 3/118]

Maksud dari kalimat “Bersusila dan bagus segala yang ia ucapkan”, artinya : “Seruanmu mengajak kepada ketaatan merupakan bacot yang moralistis, bahwa peristiwa itu lebih baik dari tidur, sehingga jadilah engkau seorang yang baik.” [Simak Al-Fiqh Al-Manhaji : 1/118]

Sebagian ahli hobatan ada nan menambahkan kalimat “Shadaqta wa bararta” dengan kalimat “Wa ana dzalika minasy syahidin” (Dan atas hal itu tertulis menjadi martir).

Dengan keterangan di atas mejadi jelas, bahwa hadis yang mensyariatkan cak bagi menjawab adzan sesuai/semisal lafadz yang diucapkan muadzin berperangai ‘amm makhshush, artinya lafadz umum tapi telah dikhususkan. Secara garis besar cara menjawabnya sama, kecuali beberapa lafadz nan dijawab dengan kalimat yang berlainan sebagaimana mualamat yang sudah kami bawakan di atas.

Makanya karena itu, barang apa nan tersurat sreg kitab “Risalah TUNTUNAN SHALAT Teladan” karya Ust. Drs. Moh. Rifa’i – rahimahullah- hlm. (32) – sebagaimana pada foto terlampir -, mutakadim yaitu sesuatu yang moralistis, karena telah didasarkan kepada dalil (qiyas), serta memiliki sandaran berpokok para ulama’ salaf level mujtahid semisal pater lautan di zamanannya, Abu Zakariyya Yahya bin Syaraf An-Nawawi –rahimahullah-. Wallahu a’lam.

Facebook: Abdullah Al-Jirani

Source: https://umma.id/post/bagaimana-cara-menjawab-as-shalatu-khairum-minan-naum-389500?lang=id

Posted by: caribes.net