Jelaskan Batas Wilayah Provinsi Riau

Riau

Provinsi

Transkripsi bahasa Melayu
 • Jawi رياو

Searah penusuk jam dari atas: Tempah Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Rayuan, Istana Siak, Titian Tengku Agung Sultanah Latifah, Panorama kota Pekanbaru, Stadion Terdahulu Riau, Menyanjung-sanjung Seni Idrus Tintin.

Lambang resmi Riau

Motto:

Manjapada bertuah negeri beradat[a]

Denah

Negara
Indonesia
Asal hukum prinsip UU RI No. 19/drt Tahun 1957
Tahun jadi 9 Agustus 1957
Ibu daerah tingkat Kota Pekanbaru
Metropolitan lainnya

Daftar

  • Dumai
Jumlah satuan pemerintahan[2]
[3]

Daftar

  • Kabupaten: 10
  • Kota: 2
  • Kecamatan: 172
  • Kelurahan: 1.876
Pemerintahan
 • Gubernur Syamsuar
 • Wakil Gubernur Edy Nasution
 • Sekretaris Negeri SF Haryanto
 • Komandan DPRD Yulisman
Luas

[4]

 • Total 87.023,66 km2
(33,600,02 sq mihun)
Populasi

(2021)[2]
[5]

 • Besaran 6.493.603
 • Kepadatan 75/km2
(190/sq mi)
Ilmu kependudukan
 • Agama Selam 87,09%
Masehi 10,77%
— Protestan 9,71%
— Katolik 1,06%
Buddha 2,08%
Konghucu 0,03%
Kepercayaan 0,02%
Hindu 0,01%[5]
 • Bahasa Resmi:

Indonesia
Wilayah:

Melayu Riau (dominan), Banjar, Batak, Bugis, Jawa, Kampar, Loncong, Minangkabau, Arab, Hokkien, Tamil, Tiochiu, Tionghoa
 • IPM Kenaikan
72,94 (2021)
Tinggi
[6]
Zona musim UTC+07:00 (WIB)
Kode pos

28xxx-29xxx

Kode area telepon

Daftar

  • 0760 — Teluk Kuantan (Kabupaten Kuantan Singingi)
  • 0761 — Daerah tingkat Pekanbaru — Bandar Kerinci (Kabupaten Pelalawan) — Minas – Tualang (Kabupaten Siak)
  • 0762 — Bangkinang (Kabupaten Kampar) — Pasir Pengaraian (Kabupaten Rokan Hulu)
  • 0763 — Selatpanjang (Kabupaten Kepulauan Meranti)
  • 0764 — Siak Sri Indrapura (Kabupaten Siak)
  • 0765 — Kota Dumai — Duri (Kabupaten Bengkalis) — Gambar Bencana (Kabupaten Rokan Kuala) — Ujung Semenanjung (Kabupaten Rokan Hilir)
  • 0766 — Bengkalis (Kabupaten Bengkalis)
  • 0767 — Bagansiapiapi (Kabupaten Rokan Estuari)
  • 0768 — Tembilahan (Kabupaten Indragiri Estuari)
  • 0769 — Rengat – Air Molek (Kabupaten Indragiri Hulu)
  • 0624 — Panipahan (Kabupaten Rokan Kuala)
Kode ISO 3166 ID – RI
Telor kendaraan BM
Kode Kemendagri 14

Edit the value on Wikidata
DAU Rp 1.603.291.532.000,00- (2020)[7]
Lagu provinsi
  • “Lancang Kuning”
  • “Soleram”
  • “Kelewang”
Apartemen sifat Selaso Anjlok Kembar
Senjata tradisional
  • Keris
  • Beladau
Flora konvensional Nibung
Fauna konvensional Serindit jawi
Situs web riau.go.id

  1. ^

    Secara legal, wilayah ini lain punya motto daerah puas lambangnya. Namun kata-kata ini berasal dari Hang Tuah.[1]

Peta provinsi administrasi kewedanan Riau

Riau
(Jawi: رياو) adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di fragmen tengah pantai timur pulau Sumatra. Wilayah pesisirnya berbatasan dengan Selat Malaka. Hingga musim 2004, provinsi ini pun meliputi Gugusan pulau Riau, sekelompok besar pulau-pulau mungil (pulau-pulau utamanya antara tak Pulau Batam dan Pulau Bintan) yang terdapat di sisi Timur Sumatra dan sebelah Selatan Singapura. Gugusan pulau ini dimekarkan menjadi provinsi tersendiri pada Juli 2004. Ibu ii kabupaten dan kota terbesar di distrik Riau ialah Pekanbaru, dan metropolis lainnya setelah Pekanbaru yaitu ii kabupaten Dumai. Berdasarkan hasil Badan Pusat Statistik Riau perian 2022, penduduk provinsi Riau berjumlah 6.493.603 nasib, dengan kepadatan penduduk 75 jiwa/km².[2]

Riau ketika ini merupakan keseleo satu provinsi terkaya di Indonesia, dan sumber dayanya didominasi maka itu sumber alam, terutama minyak manjapada, gas alam, kain, kelambir sawit dan perkebunan serat. Belaka, pembabatan hutan yang menggila telah mengurangi luas hutan secara signifikan, dari 78% pada 1982 menjadi hanya 33% puas 2005.[8]
Rata-rata 160.000 hektare pangan tinggal ditebang setiap masa, meninggalkan 22%, ataupun 2,45 juta hektare pada tahun 2009.[9]
Deforestasi dengan tujuan pembukaan huma-ladang kelapa sawit dan produksi kertas telah menyebabkan kabut asap yang terlampau mengganggu di provinsi ini selama bertahun-tahun, dan menjalar ke negara-negara tetangga begitu juga Malaysia dan Singapura.

Etimologi

Ada tiga kemungkinan bawah kata
riau
yang menjadi label wilayah ini. Pertama, dari kata Portugis,
rio
berarti sungai.[10]
[11]
Pada tahun 1514, terletak sebuah ekspedisi militer Portugis yang menelusuri Sungai Siak, dengan tujuan mencari lokasi sebuah kerajaan nan diyakini mereka ada pada kawasan tersebut, dan berbarengan berburu pemuja Ratu Mahmud Kaisar nan melarikan diri sehabis kejatuhan Kesultanan Malaka.[12]

Versi kedua menyebutkan bahwa
riau
berasal bersumber kata
riahi
nan berharga air laut. Pengenalan ini diduga berasal dari pengambil inisiatif Sinbad al-Bahar dalam kitab Seribu Suatu Malam,[11]
dan varian ketiga menyebutkan bahwa alas kata ini berbunga mulai sejak penuturan publik setempat, diangkat dari introduksi
rioh
atau
riuh, yang bermanfaat ramai, hiruk pikuk orang bekerja.
[butuh rujukan]

Album

Masa prasejarah

Lukisan rantau Riau maka itu koteng pelukis Belanda, sekeliling tahun 1850.

Riau diduga telah dihuni sejak musim antara 10.000-40.000 SM. Deduksi ini diambil pasca- kreasi perlengkapan-perlengkapan bermula zaman Pleistosin di negeri arus sungai Kali besar Sengingi di Kabupaten Kuantan Singingi pada rembulan Agustus 2009. Radas batu yang ditemukan antara lain kapak pemenggal, perimbas, serut, serpih dan batu inti yang ialah korban dasar pembuatan organ serut dan sontak. Tim peneliti kembali menemukan sejumlah fosil kayu yang diprakirakan berusia lebih renta terbit alat-perkakas batu itu. Diduga manusia pengguna alat-alat yang ditemukan di Riau adalah
pithecanthropus erectus
seperti mana yang perpautan ditemukan di Sangiran, Jawa Perdua. Penemuan bukti ini membuktikan ada kehidupan lebih lanjut usia di Riau yang selama ini selalu mengacu pada penemuan Candi Ambang Takus di Kampar perumpamaan titik awalnya.[13]
[14]

Masa prakolonial

Pada sediakala abad ke-16, Tome Pires, seorang penjelajah Portugal, mencatat dalam bukunya, Suma Oriental bahwa kota-kota di pesisir timur Sumatra antara suatu daerah nan disebutnya
Arcat
(sekitar Aru dan Rokan) sampai Jambi merupakan bom dagang yang dikuasai maka dari itu paduka tuan-sultan dari Minangkabau.[15]
Di kewedanan tersebut, para pendatang Minangkabau mendirikan kampung-kampung perdagangan di sepanjang Sungai Siak, Kampar, Rokan, dan Indragiri, dan penduduk lokal mendirikan kerajaan-kerajaan semiotonom nan diberi otonomi lakukan mengatur urusan dalam negerinya, tetapi diwajibkan bikin membayar upeti kepada para raja Minangkabau. Satu bermula sekian banyak kampung yang terkenal adalah Senapelan yang kemudian berkembang menjadi Pekanbaru, nan kini menjadi ibu kota provinsi.

Sejarah Riau sreg masa pra-kolonial didominasi beberapa kerajaan otonom nan tanggulang berbagai ragam wilayah di Riau. Kerajaan yang terawal, Kerajaan Keritang, diduga telah muncul pada abad keenam, dengan wilayah kekuasaan diperkirakan terletak di Keritang, Indragiri Hilir. Kerajaan ini asosiasi menjadi wilayah taklukan Majapahit, cuma seiring masukkan ajaran Islam, imperium tersebut dikuasai sekali lagi oleh Kesultanan Melaka. Selain kerajaan ini, terdapat pula Kerajaan Kemuning, Kerajaan Batin Enam Kaki, dan Kekaisaran Indragiri, semuanya diduga berfokus di Indragiri Mulut sungai.[16]

Periode imperium Melayu

Kesultanan Indragiri

Kesultanan Indragiri didirikan pada tahun 1298 makanya Raja Merlang I, nan uniknya lain berkedudukan di Indragiri, melainkan di Melaka.[17]
Urusan tadbir diserahkan pada para majikan tradisional. Baru pada masa kekuasaan Narasinga II sekeliling waktu 1473, para kanjeng sultan Indragiri mulai berdiam di gerendel pemerintahannya di Ii kabupaten Renta.[16]
[17]
Pada perian 1815, di bawah Yang dipertuan Ibrahim, ibu kota kerajaan dipindahkan ke Rengat, yang kini menjadi ibu kota Kabupaten Indragiri Hulu. Pada tahun inilah Belanda berangkat campur tangan dengan urusan internal Indragiri, tersurat dengan mengangkat seorang Emir Muda yang berkedudukan di Peranap.[16]

Dengan adanya traktat perdamaian dan persahabatan yang ditandatangani pada tanggal 27 September 1938 antara Indragiri dengan Belanda, maka Kesultanan Indragiri menjadi
zelfbestuur
lindungan Belanda, dipimpin seorang
controleur
yang menyandang wewenang mutlak terhadap supremsi lokal.[16]

Sultanat Siak

Sultan Siak bersama para sesepuh adat di
afdeling
Bengkalis pada 1888. Siak menyerahkan Bengkalis kepada Belanda puas musim 1873.

Kesultanan Siak Sri Inderapura didirikan oleh Raja Kecil dari Pagaruyung puas perian 1723.[18]
Siak taajul saja menjadi sebuah kekuatan besar yang dominan di provinsi Riau: atas perintah Raja Kecil, Siak menaklukkan Rokan pada 1726 dan membangun pangkalan armada laut di Pulau Bintan.[19]
Namun keagresifan Syah Kecil ini segera ditandingi maka itu orang-individu Bugis pimpinan Yamtuan Muda dan Raja Sulaiman. Pangeran Kecil terpaksa mengkhususkan pengaruhnya untuk menunggalkan kepulauan-kepulauan di lepas pantai timur Sumatra di bawah bendera Siak, meskipun antara tahun 1740 hingga 1745 kamu bangkit lagi dan menundukkan beberapa kawasan di Semenanjung Malaya.[20]

Plong akhir abad ke-18, Siak sudah beralih bentuk menjadi faedah yang dominan di pesisir timur Sumatra. Pada tahun 1761, Sinuhun Abdul Jalil Syah III mengikat perjanjian unik dengan Belanda, internal urusan bisnis dan milik atas kemandirian wilayahnya, serta bantuan kerumahtanggaan bidang persenjataan. Walau kemudian muncul dualisme kepemimpinan di dalam tubuh kesultanan nan awalnya minus suka-suka persangkalan di antara mereka, Raja Muhammad Ali, yang lebih disukai Belanda, kemudian menjadi penguasa Siak, sementara sepupunya Raja Ismail, lain disukai oleh Belanda, unjuk laksana
Raja Laut, memintasi perairan timur Sumatra menyentuh Laut Cina Selatan, membangun kekuatan di gugusan Pulau Tujuh.[21]
Hari 1780, Siak menaklukkan area Langkat, tersurat provinsi Deli dan Serdang. Di sumber akar koneksi perjanjian kerjasama mereka dengan VOC, sreg tahun 1784 Siak membantu tentara Belanda menyerang dan menundukkan Selangor, dan sebelumnya mereka mutakadim bekerjasama memadamkan pemberontakan Raja Haji Fisabilillah di Pulau Penyengat.

Masa kolonial Belanda

Invasi Belanda nan agresif ke pantai timur Sumatra tidak bisa dihadang oleh Siak. Belanda mempersendat negeri otonomi Siak, dengan mendirikan Keresidenan Riau (Residentie Riouw) di bawah pemerintahan Hindia Belanda yang berkedudukan di Ancol Pinang.[22]
Para raja Siak tidak bisa berbuat barang apa-apa karena mereka telah terikat perjanjian dengan Belanda. Kedudukan Siak semakin melemah dengan adanya tarik-ulur antara Belanda dan Inggris yang rekata itu membereskan Selat Melaka, untuk mendapatkan area-kewedanan strategis di pantai timur Sumatra. Para ratu Siak momen itu terdesak menyerah kepada kehendak Belanda dan menandatangani perjanjian pada Juli 1873 yang memasrahkan Bengkalis kepada Belanda, dan mulai saat itu, wilayah-wilayah yang sebelumnya menjadi kekuasaan Siak satu demi satu berpindah tangan kepada Belanda. Pada tahun yang dempang bersamaan, Indragiri lagi menginjak dipengaruhi oleh Belanda, doang balasannya baru benar-benar berada di bawah pengaruh Batavia puas waktu 1938. Penguasaan Belanda atas Siak esok menjadi awal pecahnya Perang Aceh.

Di rantau, Belanda bersirkulasi cepat menghapuskan kekaisaran-kerajaan nan masih belum tunduk. Belanda menunjuk seorang residen di Ancol Pinang bagi mengawasi wilayah-daerah tepi laut, dan Belanda berdampak memakzulkan Sultan Riau-Lingga, Sultan Abdul Rahman Muazzam Aji pada Februari 1911.[23]

Penaklukan Jepang

Pada masa penguasaan Jepang di Indonesia, Riau menjadi salah suatu incaran utama bikin diduduki. Bala tentara Jepang menduduki Rengat pada 31 Maret 1942.[16]
Seluruh Riau dengan cepat tunduk di asal tadbir Jepang. Salah satu peninggalan masa pendudukan Jepang merupakan jalur kereta api sejauh 220 km yang menghubungkan Muaro Sijunjung dan Pekanbaru nan terbengkalai. Ratusan ribu rakyat Riau dipaksa bekerja maka dari itu tentara Jepang untuk membereskan proyek ini.[24]
[25]
[26]

Era kemerdekaan

Perputaran kewarganegaraan dan Orde Lama

Pada sediakala kemerdekaan Indonesia, jebolan daerah Keresidenan Riau dilebur dan terpusat n domestik Distrik Sumatra yang berpusat di Medan. Seiring dengan penumpasan suporter Rezim Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), Distrik Sumatra dimekarkan pun menjadi tiga negeri, adalah Sumatra Utara, Sumatra Tengah, dan Sumatra Selatan. Ketika itu, Sumatra Paruh menjadi basis terkuat dari PRRI, situasi ini menyebabkan pemerintah pusat menciptakan menjadikan politik bertangkai Sumatra Tengah dengan tujuan untuk melemahkan rayapan PRRI.[27]
Selanjutnya lega tahun 1957, berdasarkan Undang-Undang Temporer Nomor 19 tahun 1957, Sumatra Tengah dimekarkan menjadi tiga provinsi yakni Riau, Jambi dan Sumatra Barat. Kemudian yang menjadi provinsi Provinsi Riau nan baru terpelajar yaitu gelanggang daerah Kesultanan Siak Sri Inderapura dan Keresidenan Riau serta ditambah Kampar.

Riau sempat menjadi salah satu daerah yang terpengaruh Rezim Radikalis Republik Indonesia pada akhir 1950-an. Pemerintah pusat menggelar Persuasi Tegas dibawah pimpinan Kaharuddin Nasution, yang kelak menjadi gubernur wilayah ini, dan berdampak menumpas sisa-geladir simpatisan PRRI.[28]

Setelah situasi keamanan berangsur pulih, pemerintah pusat mulai mempertimbangkan untuk memindahkan ibu kota provinsi mulai sejak Tanjung Pinang ke Pekanbaru, yang secara geografis terdapat di tengah-tengah. Pemerintah kesudahannya menetapkan Pekanbaru sebagai ibu kota provinsi yang baru plong 20 Januari 1959 lewat Kepmendagri No. Desember 52/I/44-25.[29]

Periode Orde Plonco

Setelah jatuhnya Orde Lama, Riau menjadi salah satu pancang pembangunan ekonomi Orde Hijau yang juga menggeliat.[30]
Lega tahun 1944, ahli ilmu bumi NPPM, Richard H. Hopper dan Toru Oki bersama timnya menemukan sumur minyak terbesar di Asia Tenggara yaitu di Minas, Siak. Perigi ini awalnya bernama
Minas No. 1. Minas terkenal dengan diversifikasi minyak Sumatra Light Crude (SLC) yang baik dan punya kadar belerang rendah.[31]
Pada periode awal 1950-an, sumur-sumur patra baru ditemukan di Minas, Duri, Bengkalis, Pantaicermin, dan Petapahan. Eksploitasi patra manjapada di Riau dimulai di Blok Siak pada September 1963, dengan ditandatanganinya kontrak karya dengan PT California Texas Indonesia (sekarang menjadi Chevron Pacific Indonesia).[32]
Wilayah ini sempat diandalkan sebagai penderma 70 persen dari produksi patra nasional pada masa 1970-an.[33]

Riau kembali menjadi harapan utama program transmigrasi yang dicanangkan oleh pemerintahan Soeharto. Banyak keluarga mulai sejak Pulau Jawa yang pindah ke pertanaman-perkebunan kelapa sawit yang baru dibuka di Riau, sehingga membentuk suatu peguyuban tersendiri nan kini berjumlah pas signifikan.[34]

Era reformasi

Puas periode 1999, Saleh Djasit terpilih menjadi putra daerah asli Riau kedua (selain Arifin Achmad) dan pertama dipilih oleh DPRD Kawasan sebagai gubernur. Plong tahun 2003, mantan Tumenggung Indragiri Ambang, Rusli Zainal, terpilih menjadi gubernur, dan terpilih juga lewat pemilihan sambil makanya rakyat pada tahun 2008. Start copot 19 Februari 2022, Provinsi Riau secara jamak dipimpin oleh gubernur, Annas Maamun. Baru mendahului 7 Bulan, Annas Maamun dilengserkan selepas Uang Pemberantasan Penggelapan (KPK) Menyirat Tangan Annas Maamun internal kasus Alih Fungsi Lahan di Kabupaten Kuansing. Saat ini provinsi Riau dipimpin oleh Arsyadjuliandi Rachman (Andi Rachman).

Setelah kejatuhan Orde Baru, Riau menjadi riuk satu mangsa provinsi yang akan dimekarkan. Plong periode 2002, pemerintah menetapkan pemekaran Kepulauan Riau yang beribu ii kabupaten di Tanjung Pinang, dari kawasan Riau.[35]

Kondisi dan sumber taktik liwa

Geografi

Luas wilayah provinsi Riau adalah 87.023,66 km², yang membentang dari lereng Bukit Barisan hingga Selat Malaka.[2]
Riau memiliki iklim tropis basah dengan rata-rata siram hujan berkisar antara 2000-3000 milimeter per musim, serta lazimnya hujan angin per tahun sekitar 160 musim.

Sumber anak kunci bendera

Negeri ini mempunyai sumber daya pataka, baik kekayaan nan terkandung di alat pencernaan marcapada, riil minyak mayapada dan gas, serta emas, ataupun hasil jenggala dan perkebunannya. Seiring dengan diberlakukannya kebebasan provinsi, secara bertahap menginjak diterapkan sistem bagi hasil atau skala finansial antara anak kunci dengan daerah. Aturan baru ini menjatah batasan tegas mengenai kewajiban penanam modal, pemanfaatan sendang daya, dan bagi hasil dengan mileu sekitar.

Demografi

Besaran penduduk provinsi Riau berdasarkan data Raga Pusat Statistik tahun 2022, sebanyak 6.493.603 jiwa.[2]
Kabupaten atau Kota yang memiliki jumlah penduduk terbanyak adalah Daerah tingkat Pekanbaru dengan jumlah penduduk 994. sukma. Sedangkan Kabupaten maupun Daerah tingkat dengan jumlah pemukim minimal adv minim adalah Kabupaten Gugusan pulau Meranti yakni sebesar 210.407 jiwa.[5]

Suku bangsa

Penduduk provinsi Riau terdiri dari bermacam-jenis suku nasion. Berdasarkan Cacah jiwa Indonesia 2022 menunjukkan bahwa Suku Melayu yaitu masyarakat terbesar dengan tata letak 33,20% dari seluruh penduduk Riau. Mereka biasanya bersumber dari daerah pantai di Rokan Hilir, Dumai, Bengkalis, Kepulauan Meranti, menjejak Pelalawan, Siak, Inderagiri Hulu dan Inderagiri Hilir. Tungkai bangsa lainnya ialah Jawa (29,20%), Batak (12,55%), Minangkabau (12,29%), Leret (4,13%), Bugis (1,95%), Tionghoa (1,85%), Sunda 1,42%, Nias 1,30%, dan kaki Lainnya 2,11%.[36]
Ada pula masyarakat kudus Riau bersuku rumpun Minangkabau terutama nan berasal dari daerah Rokan Hulu, Kampar, Kuantan Singingi, dan sebagian Inderagiri Hulu. Pula awam Mandailing di Rokan Hulu, yang lebih mengaku umpama Jawi ketimbang perumpamaan Minangkabau ataupun Batak.[37]

Berdasarkan data berusul Sensus penduduk Indonesia 2022, berikut ini komposisi etnis atau tungkai bangsa di provinsi Riau, ialah;[36]

Suku bangsa di provinsi Riau tahun 2022
No Tungkai Jumlah 2022 %
1 Jawi 1.828.815 33,20%
2 Jawa 1.608.268 29,20%
3 Batak 691.399 12,55%
4 Minangkabau 676.948 12,29%
5 Banjar 227.239 4,13%
6 Bugis 107.159 1,95%
7 Tionghoa 101.864 1,85%
8 Sunda 77.932 1,42%
9 Nias 71.537 1,30%
10 Asal Riau lainnya 53.691 0,97%
11 Aceh 12.818 0,23%
12 Dasar Sumatra Selatan 7.997 0,14%
13 Suku Lainnya 42.175 0,77%
Area Riau 5.507.842 100%

Dalam Sensus Penduduk Indonesia 2022, suku pangkal Sumatra lainnya sudah tertulis Orang Sakai, Suku Akit, Suku Talang Mamak, dan Suku Laut dari wilayah Riau.[36]

Abad ke-19, publik Banjar bermula Kalimantan Selatan dan Bugis dari Sulawesi Kidul, kembali start berdatangan ke Riau. Mereka banyak bertempat di Kabupaten Indragiri Hilir khususnya Tembilahan.[38]
Di bukanya perusahaan pertambangan minyak Caltex plong tahun 1940-an di Rumbai, Pekanbaru, memurukkan orang-insan berpokok seluruh Nusantara untuk memfestivalkan nasib di Riau.

Suku Jawa dan Sunda sreg umumnya banyak berada puas kawasan transmigran. Sementara kedaerahan Minangkabau kebanyakan menjadi pedagang dan banyak menetap plong distrik perkotaan begitu juga Pekanbaru, Bangkinang, Duri, dan Dumai. Sedemikian itu lagi manusia Tionghoa pada umumnya setimpal dengan kedaerahan Minangkabau yaitu menjadi pedagang dan berdiam khususnya di Pekanbaru, serta banyak kembali terletak plong kawasan pantai timur sebagai halnya di Bagansiapiapi, Selatpanjang, Pulau Rupat dan Bengkalis. Selain itu di provinsi ini masih terdapat sekumpulan masyarakat nirmala nan tinggal di pedalaman dan pinggir sungai, seperti Basyar Sakai, Suku Akit, Suku Talang Mamak, dan Suku Laut.

Bahasa

Riau ialah kewedanan dengan meres belakang penduduk yang majemuk, sehingga terwalak banyak bahasa yang dipertuturkan sehari-waktu. Menurut Sensus 2022, 40,05% penduduk Riau berusia 5 tahun ke atas berbicara menggunakan bahasa Indonesia, sementara itu 58,68% menunggangi bahasa negeri. Sisanya menggunakan bahasa asing atau tidak menjawab.[39]
Bahasa-bahasa daerah yang dipertuturkan di Riau, antara lain Melayu, Minangkabau, Batak, Bugis, dan Banjar.[40]

Bahasa Melayu, nan dikenal seumpama bahasa Melayu Riau, ialah bahasa yang dipertuturkan secara luas oleh rasial Melayu yang merupakan penghuni tahir Riau khususnya di daerah pesisir, seperti Rokan Hilir, Bengkalis, Dumai, Pelalawan, Siak, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir dan di sekitar pulau-pulau. Menurut Sensus 2022, bahasa Melayu dipertuturkan maka itu 1,8 miliun penduduk.[41]

Bahasa Minangkabau dipergunakan secara luas di episode barat Riau yang berbatasan dengan Sumatra Barat dan sebagai bahasa perniagaan di perkotaan. Selain dipakai oleh pendatang berpokok Sumatra Barat, bahasa ini kembali dipertuturkan oleh penduduk suci Kampar, Rokan Hulu, dan Kuantan Singingi. Ketiga daerah tersebut n kepunyaan budaya yang serumpun dengan negeri tetangganya di Sumatra Barat, serta n kepunyaan dialek unik. Pada umumnya, penutur kudus tersebut tidak menyebutkan bahasanya sebagai bahasa Minang, tapi sebagai bahasa tersendiri.[42]
[43]
[44]
Dialek-dialek Minang yang tersebar di Riau antara tak, dialek Kampar (bahaso Ocu),[45]
[46]
dialek Kuantan Singingi, dialek Rokan, dialek Basilam, dan dialek Indragiri.[47]
Menurut Sensus 2022, bahasa Minangkabau dipertuturkan oleh 272 mili penduduk.[41]

Bahasa-bahasa pecah Rumpun Bahasa Batak, kembali dipertuturkan di provinsi Riau. Khususnya bahasa Mandailing yang dipertuturkan luas di Kabupaten Rokan Hulu.[40]

Bahasa Banjar di Riau banyak dipertuturkan orang Banjar di Kabupaten Indragiri Mulut sungai. Suka-suka 4 dialek yang tersebar, ialah dialek Minggu Kamis, dialek Simpang Lubang, dialek Sungai Raya-Sungai Piring, dan dialek Teluk Jira. Menurut anggaran dialektrometri, dialek-dialek Banjar yang ada di Riau memiliki perbedaan sebesar 66,75% dengan daerah asalnya di Kalimantan Selatan.[40]

Selain itu Bahasa Hokkien sekali lagi masih banyak digunakan di dok masyarakat Tionghoa, terutama yang bermukim di Pekanbaru, Selatpanjang, Bengkalis, dan Bagansiapiapi
[butuh rujukan]
.

Dalam perbandingan nan memadai segara juga didapati penutur Bahasa Jawa nan digunakan oleh pertalian keluarga para pendatang pangkal Jawa yang telah bermukim di Riau sejak periode penjajahan dahulu, serta oleh para transmigran berpokok Pulau Jawa lega masa sehabis kebebasan.

Agama

Masjid Raya Sultan Penyengat

Dilihat dari komposisi penduduk, provinsi Riau yang mumbung kemajemukan dengan latar belakang sosial budaya, bahasa, dan agama yang berlainan, pada dasarnya adalah aset kerjakan daerah Riau sendiri. Agama-agama yang dianut penduduk wilayah ini sangat beragam, di antaranya Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.[48]

Berdasarkan data Kementerian Privat Negeri 2022, mayoritas warga Riau menganut agama Islam. Pemeluk agama Islam sebanyak 87,09% nan rata-rata dianut Melayu, Jawa, Minangkabau, Banjar, Bugis, Sunda, dan sebagian Batak, biasanya Angkola dan Manadiling. Kemudian, penganut agama Masehi Protestan sebanyak 9,71% dan Katolik 1,06% nan kebanyakan berasal berpunca etnis Batak (Khususnya Batak Toba, Karo, Pakpak dan Simalungun), Nias, dan sebagian dianut etnis Tionghoa dan penghuni berasal Indonesia Timur dan Minahasa. Pemuja agama Buddha sebanyak 2,08% dan Konghucu sebanyak 0,03% yang berasal dari etnis Tionghoa. Sekeliling 0,01% memeluk agama Hindu yang berpunca berpokok Bali, dan kepercayaan sebanyak 0,02%.[5]

Berbagai macam alat angkut dan prasarana peribadatan lakukan masyarakat Riau telah terwalak di distrik ini, sama dengan Masjid, mushala, gereja Protestan, gereja Katolik, vihara dan jaring-jaring maupun kuil. Jumlah apartemen ibadah ibadah di Riau hingga tahun 2022, yakni sajadah sebanyak 6.318 bangunan, kemudian mushala sebanyak 6.544 gedung, katedral Protestan sebanyak 1.895 bangunan, gereja Katolik sebanyak 244 bangunan, vihara sebanyak 94 konstruksi, dan pura atau kuil sebanyak 8 konstruksi.[2]

Politik dan pemerintahan

Bos kawasan

Sejak berdirinya Provinsi Riau pada tahun 1958, kawasan ini sudah lalu dipimpin oleh tiga belas orang gubernur dan tujuh cucu adam majikan atau pembuat tugas gubernur. Gubernur Riau petahana adalah Syamsuar, yang dilantik pada 20 Februari 2022 maka itu Presiden Joko Widodo pasca- memenangkan pemilahan gubernur masa 2022.[49]

Dalam menjalankan tugasnya, Gubernur Riau dibantu makanya seorang Konsul Gubernur. Wakil Gubernur petahana adalah Edy Nasution, yang dilantik puas 20 Februari 2022 bersama Gubernur Syamsuar.[49]

No. Potret Gubernur Tiba menjawat Akhir menyandang Potret Konsul Gubernur Tahun Wacana
13 Gubernur Riau Syamsuar.jpg Syamsuar 20 Februari 2022 Petahana Wakil Gubernur Riau Edy Natar Nasution.jpg Edy Nasution 13

(2018)

[50]

DPRD Distrik

DPRD Riau beranggotakan 65 orang yang dipilih melalui pemilihan mahajana setiap panca tahun sekali. Pimpinan DPRD Riau terdiri dari 1 Pejabat dan 3 Wakil Ketua yang berasal dari organisasi politik politik dengan jumlah kedudukan terbanyak. Anggota DPRD Riau yang madya menjabat momen ini merupakan hasil Pemilu 2022 yang dilantik plong 6 September 2022 oleh Ketua Wakil Superior Perdata Jenjang Pekanbaru di Gedung DPRD Distrik Riau.[51]
[52]
Komposisi DPRD Riau periode 2022-2024 terdiri dari 10 partai politik dimana Partai Golkar menjadi peraih kursi terbanyak merupakan 11 kursi disusul oleh PDI Perjuangan nan meraih 10 kedudukan, Organisasi politik Demokrat yang meraih 9 kursi, dan Partai Gerindra yang meraih 8 kursi.Berikut ini adalah atak anggota DPRD Riau sejak periode 2009-2014 hingga sekarang.[53]
[54]
[55]

Partai Politik Besaran Kursi intern Waktu
2009-2014 2014-2019 2019-2024
PPRN 1
PBR 2
Hanura 0 Kenaikan
2
Penurunan
1
Gerindra 1 Kenaikan
7
Kenaikan
8
PKS 5 Penurunan
3
Kenaikan
7
PAN 6 Kenaikan
7

Steady

7
PKB 3 Kenaikan
6

Steady

6
Golkar 15 Penurunan
14
Penurunan
11
PPP 6 Penurunan
5
Penurunan
4
PBB 1 Penurunan
0

Steady

0
PDI-P 7 Kenaikan
9
Kenaikan
10
Demokrat 8 Kenaikan
9

Steady

9
NasDem

(baru)


3
Penurunan
2
Total Anggota 55 Kenaikan
65

Steady

65
Jumlah Partai 11 Penurunan
10

Steady

10

Pembagian administratif

No. Kabupaten/ii kabupaten Ibu ii kabupaten Regen/wali kota Luas kawasan (km2)[56] Jumlah warga (2020) Kecamatan Kelurahan/desa Lambang

Coat of arms of Riau.svg

Kar lokasi
1 Kabupaten Bengkalis Bengkalis Kasmarni 6.975,41 565.569 11 19/136

Lambang Kabupaten Bengkalis.png

Lokasi Riau Kabupaten Bengkalis.svg

2 Kabupaten Indragiri Hilir Tembilahan Muhammad Wardan 12.614,78 654.909 20 39/197

Logo kabupaten indragiri hilir.jpg

Lokasi Riau Kabupaten Indragiri Hilir.svg

3 Kabupaten Indragiri Hulu Rengat Rezita Meylani Yopi 7.723,80 444.548 14 16/178

Lambang Kab Indragiri Hulu.png

Lokasi Riau Kabupaten Indragiri Hulu.svg

4 Kabupaten Kampar Bangkinang Kamsol (Pj.) 10.983,47 841.332 21 8/242

Lambang Kabupaten Kampar.png

Lokasi Riau Kabupaten Kampar.svg

5 Kabupaten Kepulauan Meranti Selatpanjang Muhammad Adil 3.707,84 206.116 9 5/96

Lambang kab Kepulauan Meranti.png

Lokasi Riau Kabupaten Kepulauan Meranti.svg

6 Kabupaten Kuantan Singingi Koto Taluk Suhardiman Amby (Plt.) 5.259,36 334.943 15 11/218

Lambang Kabupaten Kuantan Singingi.PNG

Lokasi Riau Kabupaten Kuantan Singingi.svg

7 Kabupaten Pelalawan Bom Kerinci Zukri Misran 12.758,45 390.046 12 14/104

Pelalawan logo.png

Lokasi Riau Kabupaten Pelalawan.svg

8 Kabupaten Rokan Kuala Bagansiapiapi Afrizal Sintong 8.881,59 637.161 15 25/159

Lambang Kabupaten Rokan Hilir.png

Lokasi Riau Kabupaten Rokan Hilir.svg

9 Kabupaten Rokan Hulu Pasir Pengaraian Sukiman 7.588,13 561.385 16 6/139

Lambang Kabupaten Rokan Hulu.jpg

Lokasi Riau Kabupaten Rokan Hulu.svg

10 Kabupaten Siak Siak Alfedri 8.275,18 457.940 14 9/122

Lambang Kabupaten Siak.png

Lokasi Riau Kabupaten Siak.svg

11 Kota Dumai Paisal 1.623,38 316.782 7 36/-

Lambang Kota Dumai.png

Lokasi Riau Kota Dumai.svg

12 Kota Pekanbaru Muflihun (Pj.) 632,27 983.356 12 83/-

Pekanbaru coa.GIF

Lokasi Riau Kota Pekanbaru.svg

Pendidikan

Riau mempunyai beberapa perguruan tahapan, di antaranya:

  • Universitas Riau
  • Perkumpulan Selam Riau
  • Universitas Muhammadiyah Riau
  • Sekolah tinggi Islam Wilayah Sultan Syarif Kebiri Riau
  • Institut Lancang Kuning
  • Perkumpulan Abdurrab
  • Perserikatan Pasir Pengaraian
  • Universitas Islam Indragiri
  • Universitas Islam Kuantan Singingi
  • Sekolah Pangkat Jiwa psikiatri Pangeran Tambusai
  • Politeknik Negeri Bengkalis
  • Politeknik Kampar
  • Politeknik Caltex Riau
  • Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tafaqquh Fiddin Dumai
  • Sekolah tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Lancang Kuning Dumai
  • STMIK AMIK & STT Dumai
  • Sekolah Tahapan Agama Islam (STAI) Ar-Ridho Bagan Siapi-Api, Rokan Hilir

Kesehatan

Daftar rumah sakit di Provinsi Riau sebagai berikut:

  • RSUD Arifin Achmad
  • RSUD Petala Bumi
  • RS Santa Maria
  • RS Syafira
  • RS Mulanya Kerongsang
  • RS Eka Hospital
  • RS Lancang Kuning
  • RS Islam Ibnu Sina
  • RS dr.Tabrani Rab
  • RSIA Andini
  • RSIA Eria Bunda
  • RST Korem 031/WB
  • RS Penjaga keamanan Bhayangkara

Perekonomian


Perladangan & perkebunan

Perkebunan yang berkembang adalah perladangan reja dan pertanian kelapa sawit, baik itu yang dikelola maka itu negara ataupun oleh rakyat. Selain itu pula terwalak pertanian jeruk dan kelambir. Bagi luas lahan perkebunan kelapa sawit saat ini kawasan Riau sudah mempunyai kapling seluas 1.34 juta hektare. Selain itu telah terletak seputar 116 pabrik perebusan kelapa sawit (PKS) yang beroperasi dengan produksi
coconut palm oil
(CPO) 3.386.800 ton per masa.


Rimba & ikan

Pembangunan kehutanan plong hakikatnya mencakup semua upaya memanfaatkan dan menstabilkan fungsi sumber daya alam hutan dan sendang daya duaja hayati tidak serta ekosistemnya, baik sebagai pelindung dan penyangga semangat dan pelestarian diversitas hayati maupun andai sendang daya pembangunan. Namun dalam realitanya tiga fungsi utamanya sudah hilang, yaitu fungsi ekonomi paser janjang, kekuatan lindung, dan estetika sebagai dampak kebijakan pemerintah yang dulu.

Hilangnya ketiga kekuatan diatas mengakibatkan semakin luasnya persil kritis yang diakibatkan maka dari itu pengusahaan hutan nan mengabaikan aspek kelestarian. Efek selanjutnya adalah semakin menurunnya produksi kayu wana non HPH, sementara upaya penghijauan dan penghutanan belum optimal dilaksanakan. Masalah enggak nan sangat mudarat tak saja provinsi Riau plong khususnya tetapi Indonesia pada umumnya, adalah penyakit
terlarang logging
nan menyebabkan berkurangnya kewedanan wana serta kebobrokan pengerukan pasir secara liar.

Industri

Pada provinsi ini terletak sejumlah perusahaan berskala jagat yang bergerak di bidang minyak bumi dan asap serta perebusan hasil pangan dan sawit. Selain itu terdapat juga industri pengolahan kopra dan karet.

Bilang perusahaan besar tersebut di antaranya Chevron Pacific Indonesia anak perusahaan Chevron Corporation, PT Sani Pokok Bubur kertas & Paper Tbk di Perawang, dan PT. Riau Andalan Pulp & Paper di Persinggahan Kerinci

Komunikasi

Pertambangan

Hasil pertambangan provinsi Riau adalah Petro dunia, Gas, dan Batu Bara.

Transportasi

Wilayah Riau adalah satu-satunya provinsi nan mempunyai BUMD di permukaan transportasi udara yaitu PT. Riau Air, yang bermaksud untuk melayani daerah-distrik yang jarang dijangkau melintasi jalan darat alias laut. Riau Air mengoperasikan Fokker-50 buatan Belanda sebanyak panca armada, dan masa 2008 firma ini menambah dua tentara kembali dengan diversifikasi Avro-RJ 100.

Provinsi Riau memiliki Jalan Tol yang merintih Kota Pekanbaru dan Daerah tingkat Dumai yang bernama
Kronologi Tol Pekanbaru-Dumai (Jalan Tol Permai)
mempunyai janjang 131,5 KM dan menerobos 3 Kabupaten yaitu Siak, Kampar, dan Bengkalis serta di Tol ini memiliki Jambatan Distingtif untuk Gajah karena saat pembangunan melewati Balai Latihan Gajah tepatnya di kecamatan Minas.

Riau bersama PT Hutama Karya sedang menggesa progres proyek pembangunan Jalan Tol Trans Sumatra yaitu Jalan Tol Padang–Pekanbaru, Kronologi Tol Rengat–Pekanbaru, Jalan Tol Duri-Pesisir Prapat, dan Jalan Tol Dharmasraya-Kuansing-Inhu. Sehingga dengan keberadaan jalan tol tersebut akan boleh menaikkan pertumbuhan ekonomi di Provinsi Riau akan bertambah baik.

Provinsi Riau memiliki 3 bandara aktif sama dengan Bandara Paduka Syarif Kasim II di daerah tingkat Pekanbaru, Bandara Maman Kampai di daerah tingkat Dumai, dan Bandara Japura di Rengat, Indragiri Hulu yang menghubungkan antar suatu negeri ke daerah tak seperti Banda AcehMedan,Padang Jakarta,Bandung,Yogyakarta,Semarang,Surabaya dan enggak rute domsetik aja lebih-lebih hingga ke sejagat seperti Malaysia,Singapura,Thailand, dll.

Riau pula memiiki dermaga penumpang yang bakir di Bengkalis,Dumai,Pekanbaru,Selatpanjang nan melayani rute AKAP dan bahkan Sejagat yaitu Malaysia.


Keuangan & perbankan

Untuk satah perbankan di kewedanan sangat berkembang pesat, ini ditandai banyaknya bank swasta dan BPR, selain bank hak pemerintah daerah seperti Bank Riau Kepri.

Pariwisata

Pelancongan alam

Provinsi Riau selayaknya memiliki bermacam-macam kawasan wisata liwa di antaranya merupakan:

Pulau Jemur

Terletak bertambah kurang 45 mil dari ibu daerah tingkat Kabupaten Rokan Hilir, Bagansiapiapi, dan 45 mil semenjak negara tetangga yakni Malaysia, sedangkan distrik Sumatra Lor ialah kawasan yang terdekat berpangkal Pulau Jemur. Pulau Jemur sebenarnya yaitu kepulauan-pulau yang terdiri dari bilang buah pulau antara lain, Pulau Tekong Emas, Pulau Tekong Simbang, Pulau Labuhan Bilik, serta pulau-pulau mungil lainnya. Pulau-pulau nan terdapat di Pulau Jemur ini berbentuk limbung sehingga fragmen tengahnya yaitu laut yang tenang. Lega periode kilangangin kincir barat laut mulai, gelombang laut di Selat Malaka suntuk lautan, dan rata-rata pengail-penangkap ikan setempat berlindung di bagian tengah Pulau Jemur, karena air laut pada kawasan tersebut tenang. Sehabis gelombang elektronik laut mengecil atau badai berkurang barulah para penangkap ikan keluar untuk memulai aktivitas menangkap ikan kembali. Pulau Jemur memiliki pemandangan dan panorama alam yang sani, selain itu Pulau Jemur ini amat rani dengan hasil lautnya, serta pulau ini dimanfaatkan maka dari itu penyu bagi menggudangkan telurnya di bawah lapisan ramal-pasir pantai. Selain itu puas pulau Jemur sekali lagi terdapat beberapa potensi tamasya lain di antaranya merupakan Gua Jepang, mercusuar, sempuras-sisa pertahanan Jepang, batu Panglima Layar, taman laut dan pesisir berpasir kuning emas.

Cagar alam Bukit Tiga Puluh

Yojana Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) memiliki luas 144.223 Ha, dengan ekosistem pangan hujan tropika dataran kurang (lowland tropical rain forest), kewedanan ini yakni peralihan antara hutan rawa dan hutan rangkaian gunung dengan ekosistem nan unik dan farik dibandingkan dengan wilayah cagar alam lainnya yang ada di Indonesia. Jabal Tiga Puluh yakni hamparan perbukitan yang terpisah dari perikatan pegunungan Bukit Barisan dan berbatasan dengan provinsi Jambi, kewedanan ini adalah daerah tangkapan air (catchment area) sehingga membentuk sungai-kali besar katai dan merupakan hulu dari batang air-wai samudra di kawasan sekitarnya. Sejumlah jenis binatang yang dapat dijumpai di Yojana Nasional Ardi Tiga Desimal antara tak: Harimau Sumatra, Beruang Sembayan, Tapir, Siamang, Kancil, Babi Hutan, Kontol Rangkong, Kuaw, dan berbagai jenis satwa lainnya. Sedangkan macam flora sulit yang diduga endemik di provinsi tersebut adalah Cendawan Muka Rimau (Rafflesia haseltii). Selain merupakan habitat dari berbagai jenis dunia tumbuhan dan satwa rumpil yang dilindungi, negeri TNBT juga ialah tempat hidup dan bermukim beberapa komunitas masyarakat suku tulus sebagaimana Blantik Pakcik, Anak asuh Rimba, dan Melayu Sepuh.

Rantau Rupat Paksina Tanjung Medang

Berlokasi di Kecamatan Rupat Utara, Pulau Rupat. Provinsi Pantai Pasir Panjang terdiri atas Ancol Nasi-nasi, Teluk Rhu dan Tanjung Punak di Kecamatan Rupat dan bersemuka langsung dengan Daerah tingkat Dumai, dengan mudah dapat dicapai karena berasal Dumai tersuguh transportasi laut bakal penumpang awam. Pasir di pantai ini bercat putih dan sejati yang memungkinkan peziarah untuk mandi, berganggang, berolahraga air, rekreasi anak bini dan bersantai menikmati kekilauan air lautnya dengan ombak yang menengah.


Pantai Badam & Pantai Makruh Rupat Tengah

Berlokasi di Kecamatan Rupat Daksina, Provinsi Pantai berhadapan serampak dengan Selat Malaka,terdiri atas Pantai Ketapang, Rantau Lohong dan Pantai Makruh, tepatnya di Desa Sungai Cingam dan Desa Makruh. Hierarki Garis Pantai +/- 4 KM dari Selat Morong sebatas ke Pantai Makruh. Sarana transportasi darat dan laut berusul Kota Dumai bisa ditempuh 1 Jam.

Riam kecil Aek Martua

Terletak di kecamatan Bangun Purba, Kabupaten Rokan Hulu merupakan riam kecil bertumpuk-tingkat, sehingga sering pula disebut air terjun tangga sewu, bisa ditempuh melalui jalan darat, kira-taksir dua per tiga dari sumber akar terdapat kuburan pertapa Cipogas dengan serasah yang bertingkat-tingkat dan sungguh pretensius untuk dinikmati.

Objek Wisata Bono

Terletak di Desa Teluk Meranti, sejauh Wai Kampar dan Sungai Rokan. Bono adalah fenomena alam yang datang sebelum pasang. Air laut mengalir timbrung dan bercocok air sungai Kampar sehingga terjadi gelombang listrik dengan kederasan nan cukup tinggi, dan menghasilkan suara seperti mana suara guntur dan suara miring angin kencang. Puas tahun pasang tinggi, gelombang wai Kampar bisa mencapai 4-6 meter, membentang bermula tepi ke tepi menutupi keseluruhan badan batang air. Kejadian ini terjadi saban hari, siang maupun lilin batik hari. Hal nan menarik turis ke objek pariwisata ini adalah kegiatan berenang, memancing, naik sampan, dan kegiatan lainnya.

Wisata Maritim di Kabupaten Siak

Wisata Bahari di Kabupaten Siak yaitu Danau Pulau Besar nan terletak di Desa Zamrud, Kecamatan Siak Sri Indrapura. Telaga ini n kepunyaan luas sekitar 28.000 Ha, dan Danau Ular besar di Batang air Jepit. Danau Dasar dan Danau Pulau Besar terwalak dekat alun-alun minyak Zamrud, Kecamatan Siak. Memiliki panorama indah nan mengagumkan dan menarik. Di sekitar situ masih ditemukan hutan yang masih masif. Kondisi danau maupun alas di sekitar tasik berstatus Suaka Marga Binatang nan luasnya mencapai 2.500 hektare, dimana masih terdapat beragam pernak-pernik satwa dan tumbuhan runyam. Sumber daya hayati yang terdapat di danau ini seperti mana pucang abang, ikan arwana dan iwak Balido nan tertera dilindungi. Kebinekaan varietas fauna haram di Suaka Marga Satwa danau Pulau Ki akbar dan danau Bawah yakni mal tersendiri sebagai bulan-bulanan wisata tirta di Riau Daratan.


Tamasya religi, budaya dan rekaman

Daerah Riau memiliki berbagai wisata religi, budaya maupun sejarah. Beberapa wisata religi, budaya, dan sejarah yang tersohor dari kewedanan Riau di antaranya:

Bakar Tongkang di Bagansiapiapi

Upacara Bakar Tongkang yang yakni seremoni tradisional masyarakat Tionghoa berlokasi di Bagansiapiapi adalah wisata budaya nomine provinsi Riau berusul Kabupaten Rokan Hilir dan telah menjadi pelancongan nasional bahkan terkenal hingga dunia semesta. Ritual Bakar Tongkang ini diadakan setiap musim di bulan Juni bakal penyetopan barang apa kegiatan aktivitas di hari raya Imlek. Ketika pandemi Covid-19, perayaan ini ditiadakan menghafal masih tingginya angka penyiaran COVID-19 di Indonesia khususnya provinsi Riau dan juga mengundang kerumunan dan bukan menerapkan protokol kesehatan sehingga menyebabkan penularan covid-19.


Perayaan Imlek di Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti

Acara Perayaan Imlek memang sudah menjadi bagian bersumber adat istiadat di Daerah tingkat Selatpanjang. Damping setiap tahun perayaan Imlek di kota ini dirayakan sangat meriah bahkan pula terjadwal Perayaan Imlek nan minimal gencar di kawasan Provinsi Riau. Apalagi pemerintah negeri Kabupaten Kepulauan Meranti juga sudah menjadikan ivent perayaan Imlek umpama salah satu kekayaan wisata tahunan yang timbrung kedalam Kalender Wisata Riau. Puluhan ribu orang baik dari internal ataupun luar Selatpanjang, bahkan wisatawan berusul asing area sebagaimana Singapura, Malaysia, Hongkong, China, Taiwan, akan membanjiri Kota Selatpanjang cak bagi timbrung serta memeriahkan perayaan Imlek. Puncak acara Perayaan Tahun Yunior Imlek di Selatpanjang berlangsung pada hari ke-6 bulan mula-mula Periode Plonco Imlek yang biasanya disebut Cue Lak Bahasa Hokkien,tetapi kemeriahannya tiba terasa dihari H-7 merupakan seminggu sebelum jatuhnya perayaan Imlek.

Penyambutan tahun yunior imlek di Selatpanjang di pusatkan di Vihara Sejahtera Sakti. Lega puncak perayaan Imlek, serentak dengan dilangsungkannya upacara ulang tahun dewa 清水祖師 Qing Shui Zu Shi.[57]
Puas ketika ini, warga Tionghoa menyakini bahwa sang dewa sedang turun ke bumi dengan harapan untuk menghalau elemen-atom kejahatan dan memberikan kemakmuran serta ketentraman bagi warga daerah tingkat Selatpanjang. Kerjakan itu diadakan penyambutan solo dengan menggotong tandu arca betara dan diarak keliling kota melangkaui beberapa kelenteng lain disertai pementasan disko
liong
(naga), dan
barongsai
(raja rimba) yang diiringi seni budaya Jawa, Reog Ponorogo. Perayaan Cue Lak tersebut juga dihadiri maka dari itu para tetua atau orang nan terpilih dan dirasuki oleh usia para betara yang biasa disebut Thangkie, ialah dimana raga atau awak orang tersebut dijadikan perkakas komunikasi atau perantara sukma batara. Budaya ini memiliki paritas dengan masyarakat Singkawang (Kalimantan Barat) yang biasa dikenal dengan Tatung.


Kelenteng Hoo Ann Kiong/Vihara Sejahtera Sakti Selatpanjang

Kelenteng Hoo Ann Kiong (makin dikenal luas laksana Vihara Sejahtera Sakti/Tua Pek Kong Bio (Bahasa Hokkien) ialah kelenteng tertua yang ada di Selatpanjang, dan juga merupakan Kapuk Tertua di Distrik Riau. Kelenteng ini didirikan plong masa kolonial Belanda dan sampai hari ini belum diketahui dengan karuan kapan berdirinya. Sejarawan memprediksi kembung ini berumur lebih dari 150 perian, selepas dilihat mulai sejak tatahan arsitektur bangunannya. Kelenteng ini sangat dikenal luas oleh masyarakat Selatpanjang maupun awam asing negeri terutama untuk wisatawan Singapura dan Malaysia misal tempat ibadah umat Buddha, maupun Konghucu.

Mesjid Raya Pekanbaru

Masjid Raya dan Makan Marhum Bukit serta Peristirahatan terakhir Marhum Minggu. Masjid Raya Pekanbaru terletak di Kecamatan Senapelan memiliki arsitektur tradisional yang amat menyeret dan adalah masjid tertua di Kota Pekanbaru. Bandarsah ini dibangun pada abad 18 dan andai bukti Kerajaan Siak pernah samar muka di kota ini pada masa pemerintahan Tuanku Abdul Jalil Muazzam Syah dan Aji Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah sebagai sultan keempat dan kelima terbit Imperium Siak Sri Indrapura. Di areal Masjid terdapat sendang n kepunyaan nilai magis cak bagi membayar zakat atau nazar nan dihajatkan sebelumnya. Masih kerumahtanggaan areal obsesi musala kita dapat mengunjungi makam Sultan Marhum Jabal dan Marhum Pekan misal pendiri daerah tingkat Pekanbaru. Marhum Ardi adalah Pangeran Abdul Jalil Alamuddin Syah (Tuanku Siak ke-4) memerintah masa 1766 – 1780, sedangkan Marhum Bukit seputar tahun 1775 menjangkitkan ibu kota imperium dari Mempura Siak ke Senapelan dan dia berlalu waktu 1780.

Puri Siak Sri Indrapura

Kekaisaran Siak adalah sebuah imperium Melayu Islam nan terbesar di Riau. Mencecah masa kejayaannya pada abad ke-16 hingga abad ke-20. Dalam alur, paduka tuan Kekaisaran Siak Sri Indrapura dimulai plong tahun 1725 dengan 12 sri paduka yang pernah bertahta. Kini sebagai bukti sejarah atas kebesaran kekaisaran Melayu Islam tersebut, boleh kita lihat warisan kerajaan berupa kompleks Istana Kerajaan Siak yang dibangun oleh Sinuhun Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin pada masa 1889 dengan nama Assirayatul Hasyimah, lengkap dengan peralatan kerajaan. Masa ini Puri Kerajaan Siak Sri Indrapura dijadikan tempat penyimpanan benda-benda kumpulan kerajaan antara tidak: kursi kedudukan kekaisaran yang bersalut emas, duplikat mahkota Kerajaan, brankas Kekaisaran, payung Kekaisaran, tombak Kerajaan, komet sebagai barang langka dan menurut kisah tetapi cak semau dua di dunia, serta barang-barang enggak-lainnya. Di samping istana kekaisaran terletak pula puri petiduran.

Candi Muara Takus

Vihara Sejahtera Sakti Selatpanjang

Candi Muara Takus terletak di Desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar. Jaraknya invalid kian 135 km dari Daerah tingkat Pekanbaru. Jarak antara kompleks candi ini dengan sosi desa Muara Takus sekitar 2,5 km dan tidak jauh dari pinggir Sungai Kampar Kanan. Kompleks candi ini dikelilingi tembok berdosis 74 x 74 meter. Di luar arealnya terdapat pula tembok persil berukuran 1,5 x 1,5 kilometer yang mengelilingi obsesi ini menyentuh pinggir Sungai Kampar Kanan. Di dalam kompleks ini terwalak kembali bangunan Candi Tua, Candi Bontot, Mahligai Stupa, serta Palangka. Bahan bangunan candi terdiri dari batu batu halus, batu sungai, dan bisikan bata. Menurut sumber lokal, batu merah untuk gedung ini dibuat di desa Pongkai, sebuah desa nan terwalak di sebelah ambang mania candi.

Arena galian lahan lakukan batu bata itu setakat ketika ini dianggap laksana palagan yang sangat dihormati pemukim. Untuk membawa batu bata ke bekas candi, dilakukan secara beranting terbit tangan ke tangan. Cerita ini walaupun belum pasti kebenarannya memberikan bayangan bahwa pembangunan candi ini dilakukan secara bergotong royong oleh insan gaduh. Selain Candi Tua, Candi Bungsu, Mahligai Stupa, dan Palangka, di n domestik kompleks candi ini ditemukan lagi gundukan yang diperkirakan bagaikan tempat pembakaran lemak tulang manusia. Di luar kompleks ini terdapat pula bangunan-konstruksi yang terbuat dari bata merah, yang belum dapat dipastikan keberagaman bangunannya. Kompleks candi Muara Takus, suatu-satunya peninggalan sejarah nan berbentuk candi di Riau. Candi yang bersifat Budhistis ini merupakan bukti pernahnya agama Budha berkembang di wilayah ini beberapa abad yang dahulu. Kendatipun demikian, para pakar zaman kuno belum dapat menentukan secara karuan pron bila candi ini didirikan. Ada yang mengatakan abad kesebelas, terserah yang mengatakan abad keempat, abad ketujuh, abad kesembilan dan sebagainya.

Baluwarti Tujuh Lapis

Benteng Tujuh Lapis terdapat di daerah Dalu-dalu, Kecamatan Tambusai, Kabupaten Rokan Hulu. Benteng tanah ini dibuat oleh masyarakat Dalu-dalu pada masa Perang Paderi atas selang Tuanku Tambusai. Alumnus kubu tersebut ditinggalkan Tuanku Tambusai pada copot 28 Desember 1839. Disekitar provinsi Dalu-dalu ini juga terdapat beberapa benteng yang disebut Pertahanan Gedung, Kubu Bolang-baling dan Pertahanan Talikemain. Baluwarti yang plong awalnya diberi nama Kubu Aur Duri ini pun sempat di gunakan oleh Sultan Zainal Abidin untuk melawan penjajah Belanda.

Tokoh

  • Anthony Hong, pengiring acara berita DAAI TV
  • Intsiawati Ayus, senator Riau
  • Basrizal Koto, tuan Basko Grup
  • Cherly, pegawai Cherry Belle
  • Darwin Zahedy Saleh, ahli politik
  • Herman Abdullah, wali kota Pekanbaru ke-13
  • Ippho Santosa, pengusaha
  • Jeremy Thomas, aktor dan arketipe
  • Jimmy Napitupulu, wasit sepak bola
  • Kaharuddin Nasution, gubernur Riau ke 2
  • Mario Lawalata, pemain sinetron, model dan presenter
  • Muhammad Lukman Edy, politisi
  • Nadia Vega, aktris
  • Momo, vokalis band Geisha
  • Rusli Zainal, gubernur Riau
  • Sumi Yang, pembawa programa berita Metro TV
  • Sandiaga Salahudin Uno, pemanufaktur
  • Jarwo Kwat, komedian
  • Sutardji Calzoum Bachri, penyair
  • Sultan Syarif Kebiri II, sultan Siak Sri Indrapura
  • Sri paduka Tambusai, pahlawan nasional
  • Abdul Somad Batubara, Jamhur
  • Koko Liem, Ulama
  • Nadia Vega, Artis
  • Jeremy Thomas, aktor dan politikus
  • David Chalik, politikus, dan aktor
  • Iyeth Bustami, penyanyi dan ahli politik
  • Defri Juliant, Penyanyi dangdut

Lihat kembali

  • Daftar Provinsi Indonesia
  • Melayu Riau
  • Orang Ocu

Referensi


  1. ^


    Nadie, Lahyanto (2020).
    Nurhayadi : anak Betawi di puncak Telkom Landmark Tower
    (edisi ke-Cetakan kelima). Jakarta. ISBN 978-602-5735-60-8. OCLC 1255404643.




  2. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    “Area Riau N domestik Biji 2022”
    (pdf). BPS Area Riau. hlm. 29, 30, 68, 236. Diakses tanggal
    26 Februari
    2022
    .





  3. ^

    (20 Februari 2022) “2012, Jumlah Desa di Riau Tambah 173” Diarsipkan 2022-10-24 di Wayback Machine..
    Riau Terkini, diakses 17 Oktober 2022

  4. ^

    “Keadaan Alam” Diarsipkan 2022-08-23 di Wayback Machine.. Bodi Pusat Statistik, diakses 17 Oktober 2022.
  5. ^


    a




    b




    c




    d




    “Pelukisan Data Kependudukan – Kementerian Dalam Negeri 2022”
    (Visual).
    www.dukcapil.kemendagri.go.id
    . Diakses terlepas
    26 Februari
    2022
    .





  6. ^


    “Indikator Pembangunan Bani adam Menurut Provinsi 2022-2021”.
    www.bps.go.id
    . Diakses rontok
    26 November
    2022
    .





  7. ^


    “Rincian Alokasi Dana Alokasi Umum Daerah/Kabupaten Kota Privat APBN T.A 2022”
    (PDF).
    www.djpk.kemenkeu.go.id. (2020). Diakses sungkap
    26 Februari
    2022
    .





  8. ^


    “WWF: The Eleventh Hour for Riau’s Forests”
    (PDF). Diarsipkan berusul versi masif
    (PDF)
    rontok 2007-06-14. Diakses tanggal
    2013-10-17
    .





  9. ^

    Rizal Harahap (16 Mei 2009) “Logging moratorium `a must’ to save Riau forests”.
    The Jakarta Post, diakses 17 Oktober 2022.

  10. ^

    Suwardi MS (1991).
    Budaya Melayu dalam perjalanannya menentang kala nanti. Pekanbaru: Yayasan Penerbit MSI-Riau.
  11. ^


    a




    b



    “Kondisi Sosial Budaya Provinsi Riau”. Kepaniteraan Negara, diakses 17 Oktober 2022.

  12. ^

    Schnitger, F. M., Fürer-Haimendorf, C. ., & Tichelman, G. L. (1939).
    Forgotten kingdoms in Sumatra. Leiden: E. J. Brill.

  13. ^

    Tanggal tidak diketahui. “Artefak Masa Prasejarah Ditemukan di Riau”.
    ANTARA, diakses 17 Oktober 2022.

  14. ^

    13 Agustus 2009. “Sisa purba Dari Zaman Prasejarah Ditemukan di Riau” Diarsipkan 2022-10-17 di Wayback Machine..
    TvOne, diakses 17 Oktober 2022.

  15. ^


    Andaya, Leonard Y. (2008).
    Leaves of the Same Tree: Trade and Ethnicity in the Straits of Melaka. New York: University of Hawaii press. hlm. 200. ISBN 978-082-4-83189-9.




  16. ^


    a




    b




    c




    d




    e



    “Sejarah Singkat Indragiri Kuala” Diarsipkan 2022-09-24 di Wayback Machine.. Situs formal pemerintah kabupaten Indragiri Estuari, diakses 17 Oktober 2022.
  17. ^


    a




    b



    “Tanpa Narasinga II, Sejarah Merenjeng lidah Lain” Diarsipkan 2022-10-19 di Wayback Machine..
    Riau Pos, 3 Februari 2022. Diakses 17 Oktober 2022.

  18. ^

    Leonard Y. Andaya (1972).
    Tuanku KECHIL AND THE MINANGKABAU CONQUEST OF JOHOR IN 1718.
    Journal of the Malaysian Branch of the Porah Asiatic Society, Vol. 45, No. 2 (222), pp. 51-75

  19. ^

    Barnard, T. P., (2003),
    Multiple centres of authority: society and environment in Siak and eastern Sumatra, 1674-1827, KITLV Press, ISBN 90-6718-219-2.

  20. ^


    Ryan, Cakrawala. J. (Neil Joseph) (1969),
    The making of berbudaya Malaysia and Singapore : a history from earliest times to 1966
    (edisi ke-4th ed., rev), Oxford University Press, ISBN 978-0-19-638120-6





  21. ^

    Barnard, Ufuk.P.,
    Texts, Raja Ismail and Violence: Siak and the Transformation of Malay Identity in the Eighteenth Century, Journal of Southeast Asian Studies, Vol. 32, No. 3 (Oct., 2001), pp. 331-342.

  22. ^

    Netscher, E., (1854),
    Beschrijving van een Gedeelte der Residentie Riouw, Tijdschrift voor Indische Taal- Land- en, Volkenkunde.

  23. ^

    “Penghapusan Kerajaan Riau-Lingga 1911-1913” Diarsipkan 2022-10-19 di Wayback Machine..
    Tanjungpinang Pos, 14 September 2022. Diakses 17 Oktober 2022.

  24. ^

    “Menyusuri Jejak Romusa Jepang Pembangunan Rel Kereta Jago merah di Kuansing-Pekanbaru: Jejak Rel Sudah lalu Penyap, Penemuan Tengkorak Hamba allah Keadaan Stereotip”.
    Riau Pos, 25 Agustus 2022. Diakses 23 Oktober 2022.

  25. ^

    “Menyusuri Bentangan Rel Kereta Jago merah di Riau”.
    Tribunnews.com, 10 Juni 2022. Diakses 23 Oktober 2022.

  26. ^

    “Lok Uap di Muaro, Sisa Jalur Kereta Api Maut Muaro Sijunjung – Pekanbaru”.
    Kompas.com, 6 November 2009. Diakses 23 Oktober 2022.

  27. ^


    Asnan, Gusti (2007).
    Memikir Ulang Regionalisme: Sumatra Barat tahun 1950-an. Yayasan Obor Indonesia. ISBN 978-979-461-640-6.





  28. ^

    Sejarah Ringkas Kodam IV/Diponegoro: KILAS BALIK PENGABDIAN KODAM IV/DIPONEGORO DARI Periode KE MASA Diarsipkan 2022-11-08 di Wayback Machine.. Situs sahih Kodam IV/Diponegoro, diakses 23 Oktober 2022.

  29. ^

    “Pekanbaru Kota Bertuah” Diarsipkan 2022-11-04 di Wayback Machine.. Situs resmi RRI Pekanbaru, diakses 23 Oktober 2022.

  30. ^

    Samad, R. S., & Zulkarnain (2010).
    Negara dan masyarakat: Studi penetrasi negara di Riau Gugusan pulau masa Orde Bau kencur. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

  31. ^

    “Geliat Pabrik Hulu Minyak Indonesia” Diarsipkan 2022-11-04 di Wayback Machine..
    National Geographic Indonesia, diakses 23 Oktober 2022

  32. ^

    “Perebutan Secuil Kebun di Negeri Kaya Minyak”.ANTARA, 26 Maret 2022. Diakses 23 Oktober 2022.

  33. ^

    “Sumur Patra di Riau Tinggal Sejarah”.
    JPNN, 19 Mei 2022. Diakses 23 Oktober 2022

  34. ^

    “80% Petambak Sawit di Riau Transmigran Asli Jawa”.
    Momen.com, 3 Mei 2012. Diakses 23 Oktober 2022.

  35. ^

    [http://www.setneg.go.id/components/com_perundangan/docviewer.php?id=294&filename=UU_no_25_th_2002.pdf “UU Nomor 25 Tahun 2002”. Situs resmi Sekretariat Negara Republik Indonesia, diakses 26 Oktober 2022
  36. ^


    a




    b




    c




    “Kewarganegaraan Suku bangsa, Agama, Bahasa 2022”
    (PDF).
    demografi.bps.go.id. Badan Taktik Statistik. 2022. hlm. 23, 36–41. Diarsipkan dari versi ceria
    (PDF)
    tanggal 2022-07-12. Diakses terlepas
    23 Oktober
    2022
    .





  37. ^

    Tsuyoshi Kato, Sifat Minangkabau dan Merantau dalam Perspektif Sejarah, Balai Wacana

  38. ^

    Majalah Prisma, Masalah 1-8, Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penyinaran Ekonomi dan Sosial, 1990

  39. ^


    “Badan Pusat Statistik”.
    www.bps.go.id
    . Diakses tanggal
    2021-01-24
    .




  40. ^


    a




    b




    c



    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud RI.
    Bahasa di Provinsi Riau. Lega: Bahasa dan Kar Bahasa di Indonesia. 2022 [1] Diarsipkan 2022-08-12 di Wayback Machine.
  41. ^


    a




    b



    Sugono, Dendy, Sasangka, S.S.Kaki langit. Wisnu, Rivay, Ovi Soviaty, et al., 2022.
    Bahasa dan peta bahasa di Indonesia.
    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta. ISBN 9786024373762 [2]

  42. ^

    Saidat Dahlan, Saidat Dahlan and Anwar Sajak, Anwar Puisi and Abdullah Manan, Abdullah Manan and Amrin Sabrin, Amrin Sabrin (1985)
    Pemetaan Bahasa Distrik Riau dan Jambi (1985).
    Gerendel Pembinaan dan Ekspansi Bahasa, Jakarta.[3]

  43. ^

    Agus Sri Danardana, Agus Sri Danardana (2010)
    distribusi dan kekerabatan bahasa-bahasa di prov riau dan kep riau 149h.
    Aula Bahasa Provinsi Riau. ISBN 978-979-1104-46-3 [4]

  44. ^


    “Kampar, antara Melayu dan Minangkabau – WACANA”.
    www.bacaan.co
    (dalam bahasa Indonesia). Diakses sungkap
    2018-07-03
    .





    [
    pranala nonaktif permanen
    ]

    Pemeliharaan CS1: Bahasa nan tidak diketahui (link)

  45. ^

    Witrianto dan Arfinal, 2022. Bahasa Ocu: Akulturasi antara Bahasa Minangkabau dengan Bahasa Jawi Riau di Kabupaten Kampar.
    Seminar Jagat rat Forum Ilmiah VII FPBS UPI “Pemikiran-pemikiran Inovatif privat Analisis Bahasa, Sastra, Seni, dan Pembelajarannya” Bandung. 30 November 2022: 1-18. [5]

  46. ^

    Said, C., (1986),
    Struktur bahasa Minangkabau di Kabupaten Kampar, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kultur.

  47. ^

    Bodi Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud RI.
    Bahasa Minangkabau di Wilayah Riau. Pada: Bahasa dan Atlas Bahasa di Indonesia. 2022 [6] Diarsipkan 2022-08-12 di Wayback Machine.

  48. ^


    “Sosial Budaya, Demografi, Provinsi Riau 2022”.
    www.riau.go.id
    . Diakses terlepas
    5 Februari
    2022
    .




  49. ^


    a




    b




    Sani, Ahmad Faiz Ibnu (20 Februari 2022). Widiastuti, Rina, ed. “Jokowi Jengkit Gubernur Riau Syamsuar dan wakilnya, Edy Nasution”.
    Tempo.co
    . Diakses terlepas
    5 Juli
    2022
    .





  50. ^

    https://nasional.tempo.co/read/1177597/jokowi-lantik-gubernur-riau-syamsuar-dan-wakilnya-edy-nasution

  51. ^


    Ali, ed. (06-09-2019). “65 Anggota DPRD Riau Periode 2022-2024 Resmi Dilantik”.
    Cakaplah
    . Diakses tanggal 09-09-2019.





  52. ^


    “Pelantikan Anggota DPRD Riau Masa Jabatan 2022-2024”.
    DPRD Provinsi Riau. 06-09-2019. Diarsipkan semenjak varian nirmala rontok 2022-09-08. Diakses sungkap 09-09-2019.





  53. ^


    Surya (06-09-2019). “RESMI DILANTIK… Inilah Label dan Jumlah Suara 55 Anggota DPRD Riau Terpilih 2009-2014 06”.
    Riau Info
    . Diakses rontok 09-09-2019.





  54. ^


    Rico Mardianto (10-08-2019). “Dilantik 6 September 2022, Ini Daftar Anggota DPRD Riau Terpilih”.
    Riau Mandiri
    . Diakses copot 09-09-2019.





  55. ^


    “Provinsi Riau Intern Skor 2022”. BPS Negeri Riau. 16-08-2019. Diakses tanggal 09-09-2019.




  56. ^


    “Kode dan Data Wilayah Administrasi Tadbir (Permendagri No.137-2017) – Departemen Kerumahtanggaan Negeri – Republik Indonesia”.
    www.kemendagri.go.id
    (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari varian asli tanggal 2022-04-29. Diakses rontok
    2018-07-09
    .





  57. ^


    “http://jindeyuan.org”. Diarsipkan berusul versi tahir tanggal 2009-08-08. Diakses terlepas
    2011-08-10
    .




Pranala luar

  • (Indonesia)
    Situs lumrah provinsi Riau
  • (Indonesia)
    Situs Resmi Kementrian Wisata
  • (Indonesia)
    Bab Berita Riau
  • (Indonesia)
    Situs Berita Nasional
  • (Indonesia)
    Biografi Demografi Riau
  • (Indonesia)
    Profil Ekonomi Riau
  • (Indonesia)
    Profil Wisata Riau
  • (Indonesia)
    Ekonomi Regional Riau
  • (Indonesia)
    Perangkaan Regional Riau


Koordinat:



0°42′Horizon
101°55′E


 / 

0.700°N 101.917°E
 /
0.700; 101.917






Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Riau

Posted by: caribes.net