Jelaskan Makna Istilah Perjanjian Lama

Perjanjian Lama
adalah putaran purwa dari Injil Masehi, nan utamanya berdasarkan pada Alkitab Ibrani, berisikan suatu koleksi tulisan religiositas karya bangsa Israel kuno.[1]
Fragmen ini merupakan pasangan dari Perjanjian Yunior, episode kedua berbunga Alkitab Kristen. Terdapat variasi kanon Perjanjian Lama di antara Gereja-katedral Kristen; lingkaran Protestan dan Sosok Suci Zaman Akhir saja menerima kitab-kitab yang terdapat dalam kanon Injil Ibrani, yang mana terbagi internal 39 kitab, sedangkan kalangan Katolik Roma, Ortodoks Timur, dan Ortodoks Oriental mengamini sekumpulan tulisan dengan jumlah yang sedikit lebih banyak.[2]

Perjanjian Lama terdiri pecah banyak kitab berbeda yang ditulis, disusun, dan disunting oleh beraneka rupa penyalin[3]
selama kurun waktu berkurun-kurun. Bibel Yahudi merupakan asal berbunga Perjanjian Lama Kristen, namun tak terserah kejelasan sepenuhnya pada noktah mana indikator-parameter dari Bibel tersebut ditetapkan. Beberapa akademisi mengajukan pendapat bahwa kanon Bibel Ibrani ditetapkan pada seputar abad ke-3 M,[4]
[5]
atau apalagi setelahnya.[6]

Semua kitab dalam Perjanjian Lama ditulis sebelum kelahiran Yesus, yang mana 97% isidan sisanya dalam bahasa Aram. Kitab-kitab Perjanjian Lama secara mahajana boleh dibagi menjadi beberapa putaran:

  1. Kelima kitab pertama atau Taurat (Pentateukh, Torah)
  2. Kitab sejarah nan mengobrolkan ki kenangan bangsa Israel sejak penaklukan Kanaan sampai pembuangan ke Babilonia
  3. Kitab sajak dan hikmat yang privat beragam bentuknya bersambung dengan masalah kemustajaban dan kejahatan di dunia ini
  4. Kitab ajaran atau para utusan tuhan

Isi

[sunting
|
sunting sumber]

Perjanjian Lama berisikan 39 (Protestan), 46 (Katolik), ataupun kian (Ortodoks dan lainnya) kitab-kitab yang secara luas terbagi dalam Taurat, kitab sejarah, kitab hikmat, dan kitab para nabi.[7]

Tabulasi

[sunting
|
sunting sumur]

Tabel di dasar ini menggunakan pengejaan dan penamaan dalam edisi-edisi modern Alkitab saat ini, seperti mana misalnya New American Bible Revised Edition, Revised Tunggul Version, dan English Pembakuan Version, untuk edisi-edisi bahasa Inggris, atau Alkitab Parafrase Baru LAI dan Alkitab Deuterokanonika (LAI-LBI) untuk edisi-edisi bahasa Indonesia. Pengejaan dan penamaan baik kerumahtanggaan Perjanjian Lama Douay-Rheims 1609 (dan dalam Perjanjian Baru Douay-Rheims 1582) serta revisinya tahun 1749 maka dari itu Paus Challoner (DRC, edisi cetak detik ini yang digunakan banyak umat Katolik dan sebagai sumur pengejaan Katolik tradisional privat bahasa Inggris) maupun internal Septuaginta (LXX) berbeda dengan pencadangan dan pengejaan dalam edisi-edisi maju yang berasal terbit Naskah Masorah Ibrani.[a]

Untuk kanon Ortodoks, kop-judul Septuaginta dituliskan dalam tanda kurung apabila berbeda dari edisi-edisi tersebut. Kerjakan kanon Katolik, tajuk-judul semenjak Douay-Rheims dituliskan dalam stempel kurung apabila farik dengan edisi-edisi tersebut. Demikian sekali lagi King James Version mereferensikan beberapa dari kitab-kitab ini dengan pengejaan tradisional ketika merujuknya dalam Perjanjian Baru, begitu juga “Esaias” untuk
Isaiah
(Yesaya).

Dalam semangat ekumenisme, banyak tafsiran Katolik kerumahtanggaan bahasa Inggris belakangan ini (sebagai halnya New American Bible, Jerusalem Bible, dan beraneka macam tafsiran ekumenis yang digunakan lingkaran Katolik seperti Revised Standard Version Catholic Edition) menunggangi penamaan dan pengejaan [Alkitab Raja James] “standar” nan sama sebagai halnya Alkitab Protestan (misalnya
1 Chronicles
bukannya
1 Paralipomenon,
1–2 Samuel
dan
1–2 Kings
bukannya
1–4 Kings) pada kitab-kitab nan secara global dianggap kanonik, yakni protokanonika.

Talmud (komentari Yahudi tentang kitab suci) dalam Baba Batra 14b menghidangkan suatu urutan yang farik untuk kitab-kitab dalam Nevi’im dan Ketuvim. Pengurutan ini juga dikutip dalam Mishneh Torah Hilchot Sefer Torah 7:15. Urutan kitab-kitab Torah/Taurat berkepribadian global dalam semua denominasi agama Yahudi dan Kekristenan.

Kitab-kitab yang diperdebatkan, nan termasuk dalam suatu kanon namun tidak terdapat dalam yang lainnya, berkali-kali disebut apokrifa Alkitab, suatu istilah yang kadang-kadang digunakan secara khusus untuk mendeskripsikan kitab-kitab dalam kanon Ortodoks dan Katolik yang tidak ada dalam Tulisan tangan Masorah Yahudi dan kebanyakan Alkitab Protestan maju.

Kalangan Katolik, mengajuk Kanon Trente (1546), mendeskripsikan kitab-kitab ini sebagai deuterokanonika, sedangkan galangan Ortodoks Yunani, mengikuti Sinode Yerusalem (1672), menggunakan nama tradisional
anagignoskomena
(artinya “yang harus dibaca”). Kitab-kitab tersebut terdapat dalam varian-versi Protestan historis; Alkitab Luther beradat Jerman menyertakan kitab-kitab tersebut, sebagaimana juga Alkitab Raja James perian 1611 yang berbahasa Inggris.[b]

Sel-terungku yang kosong lega diagram menunjukkan bahwa suatu kitab lain termasuk dalam kanon tersebut.

Bahasa Ibrani

Bibel Yahudi
Tanakh
(24 kitab)[c]

Bahasa Yunani

Septuaginta
(60 kitab)

Bahasa Indonesia Bahasa steril
naskah sumber
Protestan
Perjanjian Lama
(39 kitab)[9]
Katolik
Perjanjian Lama
(46 kitab)[10]
Ortodoks Timur
Perjanjian Lama
(51 kitab)[11]
Hukum Taurat
atau

Pentateukh
Beresyit Genesis Kejadian Peristiwa Peristiwa Ibrani
Syemot Exodos Keluaran Lulusan Keluaran Ibrani
Vayiqra Leuitikon Imamat Imamat Imamat Ibrani
Bemidbar Arithmoi Ketentuan Bilangan Bilangan Ibrani
Devarim Deuteronomion Ulangan Ulangan Ulangan Yahudi
Ki kenangan Kitab-kitab sejarah
Yehosyua Iesous Naue Yosua Yosua Yosua Ibrani
Syofetim Kritai Juri-penengah Hakim-hakim Wasit-hakim Yahudi
Rut Routh Rut Rut Rut Yahudi
Syemuel 1 Basileion 1 Samuel 1 Samuel[d] 1 Samuel (1 Raja-kanjeng sultan)[e] Yahudi
2 Basileion 2 Samuel 2 Samuel[d] 2 Samuel (2 Raja-baginda)[e] Ibrani
Melakhim 3 Basileion 1 Raja-sunan 1 Raja-tuanku[d] 1 Raja-raja (3 Raja-raja)[e] Ibrani
4 Basileion 2 Sinuhun-raja 2 Raja-sunan[d] 2 Raja-sunan (4 Pangeran-raja)[e] Ibrani
Divre Hayyamim 1 Paraleipomenon 1 Tawarikh 1 Tawarikh 1 Tawarikh (1 Paraleipomenon)[e] Ibrani
2 Paraleipomenon 2 Tawarikh 2 Tawarikh 1 Tawarikh (2 Paraleipomenon)[e] Ibrani
1 Esdras 1 Ezra (1 Esdras)[e]
[f]
[g]
Yunani
Ezra–Nekhemyah 2 Esdras Ezra Ezra 2 Ezra (2 Esdras)[e]
[h]
Yahudi dan Aram
Nehemia Nehemia Nehemia[h] Yahudi
Tobit Tobit[i] Tobit[g] Aram dan Ibrani
Ioudith Yudit[i] Yudit[g] Ibrani
Ester Esther Ester Ester[j] Ester[j] Ibrani
1 Makkabaion 1 Makabe[i]
[k]
1 Makabe[g] Ibrani
2 Makkabaion 2 Makabe[i]
[k]
2 Makabe[g] Yunani
3 Makkabaion 3 Makabe[g] Yunani
3 Ezra (3 Esdras)[e]
[g]
Yunani
4 Makabe[l]
[m]
Yunani
Hikmat Kitab-kitab tembang
Iyov Iob Ayub Ayub Ayub Yahudi
Tehillim Psalmoi Mazmur Mazmur Mazmur[n] Ibrani
Proseukhe Manasse Tahlil Manasye[o] Yunani
Misylei Paroimiai Amsal Amsal Amsal Yahudi
Qohelet Ekklesiastes Pengkhotbah Pengkhotbah Pengkhotbah Ibrani
Syir Hasyirim Asma Asmaton Kidung Agung Kidung Agung Kidung Agung Ibrani
Sophia Salomontos Kebijaksanaan Salomo[i] Kebijaksanaan Salomo[g] Yunani
Sophia Iesou Seirakh Yesus bin Sirakh[i]
[p]
Kebijaksanaan Sirakh[p]
[g]
Ibrani
Rasul-rasul
(ki akbar)
Kitab-kitab kenabian
(Utusan tuhan-utusan tuhan lautan)
Yesyayahu Esaias Yesaya Yesaya Yesaya Yahudi
Yirmeyahu Hieremias Yeremia Yeremia Yeremia Yahudi
Eikhah Threnoi Rintihan Rengekan Tangisan Ibrani
Baroukh Barukh[q]
[i]
Barukh[r]
[g]
Yahudi[12]
Epistole Ieremiou Tindasan Yeremia[r]
[g]
Yunani[s]
Yekhezqel Iezekiel Yehezkiel Yehezkiel Yehezkiel Ibrani
Daniyyel Daniel Daniel Daniel[t] Daniel[kaki langit] Aram dan Ibrani
Nabi-nabi
(kecil)
Kitab-kitab kenabian
(Utusan tuhan-nabi kecil)
Trei Asar Hosee Hosea Hosea Hosea Yahudi
Ioel Yoël Yoël Yoël Ibrani
Amos Amos Amos Amos Ibrani
Obdiou Obaja Obaja Obaja Ibrani
Ionas Yunus Yunus Yunus Ibrani
Mikhaias Mikha Mikha Mikha Ibrani
Naoum Nahum Nahum Nahum Ibrani
Ambakoum Habakuk Habakuk Habakuk Ibrani
Sophonias Zefanya Zefanya Zefanya Ibrani
Angaios Hagai Hagai Hagai Yahudi
Zakharias Zakharia Zakharia Zakharia Ibrani
Malakhias Maleakhi Maleakhi Maleakhi Ibrani

Beberapa kitab dalam kanon Ortodoks Timur pun ditemukan n domestik pelengkap Vulgata Latin, nan mana suntuk merupakan Kitab Suci resmi dalam Katedral Katolik Roma (sekarang menunggangi Nova Vulgata).

Kitab-kitab intern Adendum Alkitab Vulgata

Nama intern Vulgata Nama internal penggunaan Ortodoks Timur
3 Esdras 1 Esdras
4 Esdras
Doa Manasye Ratib Manasye
Mazmur Daud saat beliau membunuh Goliat (Mazmur 151) Mazmur 151

Tata letak

[sunting
|
sunting sumber]

Kelima kitab pertama – Kejadian, Tamatan, Imamat, Ketentuan, dan Ulangan – merupakan kitab Taurat, mengisahkan nasion Israel berasal penciptaan menurut Kitab Kejadian setakat dengan mortalitas Musa. Beberapa akademisi saat ini ragu bahwa kitab-kitab tersebut memperoleh bentuknya seperti nan saat ini pada periode Persia (538–332 SM), dan bahwa para penulisnya adalah kaum elit dari mereka yang kembali berpokok pembuangan nan kemudian mengendalikan Bait Suci kapan itu.[13]
Cuma rakitan penggalan-fragmen Alkitab Ibrani puas tahun 2004 di Ketef Hinnom dengan sanat abad ke-7 SM, yang berarti sebelum pembuangan ke Babilonia (Babel), menunjukkan bahwa sekurang-kurangnya bilang elemen dari Taurat telah terserah sebelum pembuangan Babel.[14]
[15]
[16]
[17]

Kemudian Yosua, Penengah-hakim, Samuel, dan Baginda-paduka tuan, memuat album Israel sejak bermula Penaklukan Kanaan sampai dengan Pengepungan Yerusalem (587 SM). Ada suatu konsensus luas di lingkaran akademisi bahwa kitab-kitab ini asalnya yaitu sebuah karya partikular (yang dikenal sebagai “sejarah Deuteronomistik”) sepanjang masa pembuangan Babel pada abad ke-6 SM.[18]
Kedua Kitab Tawarikh meliputi banyak materi yang sederajat begitu juga dalam Taurat dan memori Deuteronomistik, dan mungkin berasal semenjak abad ke-4 SM.[19]

Kitab-kitab Tawarikh berkaitan dengan kitab-kitab Ezra dan Nehemia, nan mungkin terselesaikan lega abad ke-3 SM.[20]
Perjanjian Lama Ortodoks dan Katolik memuat dua (Katolik) sampai empat (Ortodoks) Kitab Makabe, yang ditulis pada abad ke-2 dan ke-1 SM.

Kitab-kitab sejarah membentuk sekeliling seketul berbunga keseluruhan isi Perjanjian Lama. Sisanya berupa kitab-kitab pecah berbagai rupa rasul – Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, Daniel, dan dua belas “nabi-nabi kecil” – yang ditulis antara abad ke-8 dan ke-6 SM, kecuali Kitab Yunus dan Daniel nan mana dituliskan jauh di kemudian tahun.[21]
Kitab-kitab “hikmat” atau “kebijaksanaan” dan yang lainnya – Ayub, Amsal, dan seterusnya – bertarikh antara abad ke-5 SM dan abad ke-2 atau ke-1 SM, dengan pengecualian beberapa dari Kitab Mazmur.[22]

Tema

[sunting
|
sunting sumber]

Allah secara ki ajek digambarkan sebagai satu turunan nan menciptakan alias mengadakan keteraturan mayapada ini dan mengusung sejarahnya. Walaupun Sang pencipta intern Perjanjian Lama enggak secara tegar ditampilkan sebagai semata Allah nan terserah, Ia cangap digambarkan sebagai satu-satunya Allah yang disembah bangsa Israel; baik umat Yahudi maupun Kristen selalu memungkirkan Alkitab ibarat suatu penegasan akan akan keesaan Halikuljabbar yang Jabar.[23]

Perjanjian Lama menitikberatkan persaudaraan spesial antara Allah dengan bangsa saringan-Nya, Israel, namun mencakup petunjuk-petunjuk bagi kaum proselit juga. Asosiasi ini diungkapkan dalam perjanjian antara keduanya, nan mana diterima maka dari itu Musa. Syariat-hukum dalam kitab seperti Keluaran dan terutama Ulangan ialah istilah-istilah mulai sejak perjanjian itu sendiri: bangsa Israel bersumpah setia kepada Yang mahakuasa, dan Almalik bersumpah untuk menjadi partisan dan penaung partikular bangsa Israel.[23]

Tema-tema berikutnya dalam Perjanjian Lama membentangi keselamatan, penebusan, penghakiman ilahi, disiplin dan ketidaktaatan, iman dan kesetiaan, dan lainnya. Kerumahtanggaan kesemuanya itu terdapat suatu penekanan kuat pada etika dan kemurnian ritual, yang mana keduanya merupakan permohonan Sang pencipta, meskipun beberapa notulis hikmah dan nabi gelagatnya memasalahkan peristiwa ini, dengan alasan bahwa Allah lebih menekankan keseimbangan sosial daripada kemurnian, dan mungkin dipandang tak peduli adakalanya mengenai kemurnian. Hukum kesusilaan Perjanjian Lama memerintahkan keadilan, campur tangan demi mereka yang lemah, dan bagasi dari mereka yang berkuasa untuk menegakkan keadilan dengan benar. Hukum tersebut melarang pembantaian, penyuapan dan korupsi, penggalasan yang tidak bebas, dan banyak pelanggaran seksual. Semua moralitas ditelusuri kembali sumbernya kepada Halikuljabbar, yang mana yakni sumur segala apa fungsi.[24]

Keburukan karas hati banyak berlaku dalam keseluruhan bagian Perjanjian Lama. Kelainan yang dihadapi para penulis Perjanjian Lama adalah bahwa khalayak Allah nan baik harus punya alasan yang adil dan tepat buat mengizinkan terjadinya rayuan (nan terutama, tetapi tak hanya, berarti pembuangan Babel) atas umat-Nya. Tema tersebut diperlihatkan, dengan banyak variasi, kerumahtanggaan kitab-kitab yang berlainan seperti Raja-raja dan Tawarikh, para nabi seperti Yehezkiel dan Yeremia, dan dalam kitab-kitab hikmat seperti Ayub dan Pengkhotbah.[24]

Memori penyusunan

[sunting
|
sunting sumur]


Perjanjian Lama Yunani, Latin, dan Protestan

[sunting
|
sunting mata air]

Proses pemilihan kitab-kitab nan membentuk suatu kanon dan Alkitab ialah suatu proses yang strata, dan kompleksitasnya bisa mengklarifikasi banyaknya Perjanjian Lama yang berlainan pada detik ini. Timothy H. Lim, seorang profesor Alkitab Ibrani dan Yudaisme Bait Kedua di Universitas Edinburgh, mengenali Perjanjian Lama andai “suatu kompilasi bacaan-pustaka otoritatif yang kiranya dari sumber ilahi, yang melalui satu proses insani penulisan dan penyuntingan.”[3]
Anda menyatakan bahwa kitab tersebut bukanlah suatu buku ajaib yang ditulis secara harfiah oleh Allah dan diteruskan ke turunan. Pada sekeliling abad ke-5 SM, kaum Yahudi memandang kelima kitab Taurat (Pentateukh Perjanjian Lama) n kepunyaan status otoritatif atau berwibawa; pada abad ke-2 SM kitab-kitab para nabi punya satu pamor nan sekufu, sungguhpun bukan pada tingkat apresiasi yang sebanding dengan Taurat; selain semua kitab tersebut, kitab-kitab lugu Ibrani bukan tetap, karena masing-masing kelompok yang farik melihat wibawa privat kitab-kitab yang berbeda.[25]

Alkitab Yunani

[sunting
|
sunting sumber]

Kitab-kitab suci purwa boleh jadi diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani antara tahun 280–130 SM, di Aleksandria.[26]
Terjemahan-tafsiran Yunani mulanya ini – konon ditugaskan oleh Ptolemaios II Philadelphos – disebut Septuaginta (artinya “Tujuh puluh”), suatu sebutan nan berasal bermula jumlah penerjemah yang diduga terkebat di dalamnya (maka singkatannya “LXX”). Septuaginta ini menjadi dasar dari Perjanjian Lama dalam Basilika Ortodoks Timur.[27]

Terwalak banyak variasi dalam isinya dibandingkan dengan Tulisan tangan Masorah dan mencakup sejumlah kitab yang tidak lagi dianggap kanonik dalam tradisi tertentu: 1–2 Esdras, Yudit, Tobit, 3–4 Makabe, Kitab Kebijaksanaan, Sirakh, dan Barukh.[28]
Para kritikus Alkitab zaman beradab awal biasanya menguraikan variasi-variasi ini sebagai peralihan yang disengaja oleh para sarjana bersumber Aleksandria, doang keilmuan terbaru memandang bahwa kejadian tersebut disebabkan oleh perbedaan teks-teks sendang awal dengan yang digunakan kemudian makanya kaum Masoret intern pekerjaan mereka.

Septuaginta awalnya digunakan oleh kaum Yahudi dalam perian Helenisasi secara menyeluruh, sehingga pengetahuan mereka akan halnya bahasa Yunani menjadi lebih baik dibandingkan dengan bahasa Ibrani mereka. Makin meningkatnya total khalayak non Yahudi nan memeluk Kekristenan menciptakan satu kebutuhan akan penerjemahan Kitab Suci Ibrani ke internal bahasa Yunani dan Latin. Tiga penerjemah awal yang paling diakui ialah Akwila berpokok Sinope, Symmakus, dan Theodotion; dalam Heksapla karyanya, Origen menempatkan edisi bacaan Ibrani di sebelah salinannya n domestik alfabet Yunani dan empat terjemahan paralel: karya-karya Akwila, Symmakus, Theodotion, dan Septuaginta. Yang disebut “edisi kelima” dan “keenam” merupakan dua terjemahan Yunani lainnya yang diduga secara ajaib ditemukan oleh para pelajar di luar daerah tingkat Yerikho dan Nikopolis: keduanya ini tinggal ditambahkan ke dalam Oktapla karya Origen.[29]

Sreg hari 331, Kaisar Konstantinus I menugaskan Eusebius mulai sejak Kaisarea cak bagi mengasihkan panca puluh Bibel bagi Gereja Konstantinopel. Athanasius[30]
mencatat para ahli kitab Aleksandria sedang mempersiapkan Alkitab-Alkitab lakukan Sunan Konstans pada sekitar musim 340. Saja sedikit hal lainnya nan diketahui, kendati ada banyak spekulasi seputar hal tersebut. Perumpamaan teladan, terserah dugaan bahwa peristiwa ini mungkin menolak adanya pendaftaran kanon, dan bahwa Kodeks Vaticanus dan Kodeks Sinaiticus merupakan beberapa contoh dari Alkitab-Injil ini. Bersama dengan Pesyita dan Kodeks Alexandrinus, semuanya ini merupakan Alkitab-Alkitab Kristen minimal awal yang masih cak semau hingga waktu ini.[31]
Enggak ditemukan bukti dalam kanon-kanon Konsili Nicea Pertama mengenai adanya satu penetapan kanon Alkitab; namun Hieronimus (347–420), dalam
Prologue to Judith, menciptakan menjadikan klaim bahwa Kitab Yudit “ditetapkan oleh Konsili Nicea untuk dimasukkan dalam keseluruhan Kitab Sejati”.[32]

Alkitab Latin

[sunting
|
sunting sendang]

Intern Kekristenan Barat maupun Kekristenan di bagian barat Kekaisaran Romawi, bahasa Latin menggantikan bahasa Yunani sebagai bahasa umum bermula umat Kristen awal, dan sekitar perian 400 M Paus Damasus I menugaskan Hieronimus, seorang cendekiawan terkemuka ketika itu, untuk memperbarui Alkitab Latin kerjakan menggantikan Vetus Latina. Karya Hieronimus disebut Vulgata (artinya: bahasa umum), dan sira menerjemahkan sebagian besar Perjanjian Lama dari bacaan Yahudi, sebab ia berpendapat bahwa pustaka Ibrani lebih unggul untuk menyunting Septuaginta baik dalam peristiwa teologis maupun filologis.[33]
Vulgata karyanya kemudian menjadi Alkitab standar nan digunakan dalam Dom Barat, terutama umpama Vulgata Sixto-Clementina, sedangkan Basilika-gereja Timur masih terus menggunakan Septuaginta hingga saat ini.[34]

Namun Hieronimus, dalam prolog-prolog Vulgata, mendeskripsikan bilang episode dari kitab-kitab privat Septuaginta nan tak gunakan oleh kabilah Ibrani sebagai non kanonik (beliau menyebutnya
apokrifa);[35]
cak bagi Kitab Barukh, anda menyebutnya dalam
Prologue to Jeremiah
dan menyadari bahwa kitab tersebut bukan dibaca ataupun dimiliki maka dari itu orang-orang Ibrani, sahaja tidak secara eksplisit menyebutnya apokrif maupun “bukan terdapat internal kanon”.[36]
Sinode Hippo (tahun 393), yang kemudian disusul dengan Konsili Kartago (masa 397 dan 419), kali merupakan konsili pertama nan secara eksplisit menerima kanon permulaan nan meliputi kitab-kitab yang tak terdapat dalam Alkitab Ibrani; konsili-konsili tersebut berpunya di dasar pengaturan nan memadai osean dari Agustinus, yang menganggap seolah-olah kanon sudah lalu ditutup sejak detik itu.[37]
Pada abad ke-16, para reformis Protestan berpihak pada Hieronimus; dan meskipun sebagian besar Alkitab Protestan momen ini namun memuat kitab-kitab Perjanjian Lama yang terdapat dalam Alkitab Yahudi, pengurutan kitab-kitabnya mengajuk Alkitab Yunani.[38]

Roma kemudian secara seremonial menetapkan suatu kanon, yaitu Kanon Trente, nan mana dianggap mengikuti hasil dari konsili-konsilinya Agustinus[39]
atau Konsili Roma,[40]
[41]
dan menyertakan sebagian besar, belaka tidak semua, kitab berusul Septuaginta (3 Ezra dan 3–4 Makabe tidak dimasukkan).[42]
Kalangan Anglikan, setelah Perang Saudara Inggris, mencoket suatu posisi kompromis yaitu dengan memulihkan kembali 39 Artikel dan mempertahankan kitab-kitab tambahan nan dikeluarkan makanya Pengakuan Iman Westminster, tetapi hanya buat studi pribadi dan pembacaan di gereja; sementara itu pematang Lutheran mempertahankannya kerjakan pendalaman pribadi, dan dikelompokkan dalam suatu lampiran yang disebut sebagai Apokrifa Injil.[38]

Versi-versi lainnya

[sunting
|
sunting mata air]

Varian Ibrani, Yunani, dan Latin dari Injil Ibrani merupakan versi-versi Perjanjian Lama nan minimal dikenal baik, doang terserah juga versi lainnya. Pada kurun masa yang cacat lebih sebagai halnya proses pembuatan Septuaginta, majemuk interpretasi medium dibuat ke intern bahasa Aram, bahasa suku bangsa Yahudi nan tinggal di Palestina dan Timur Dekat, serta kemungkinan besar ialah bahasa yang digunakan Yesus. Terjemahan-tafsiran ini disebut Targum bahasa Aram, dari sebuah kata yang berarti “parafrase”, dan digunakan untuk kondusif jemaat Yahudi hendaknya boleh mengarifi kitab ikhlas mereka.[43]

Bagi umat Kristen Aram, ada suatu terjemahan dalam bahasa Suryani (Suriah) dari Alkitab Ibrani yang disebut Pesyita; selain itu ada juga versi-versi internal bahasa Koptik (bahasa sehari-musim di Mesir sreg abad-abad semula Kekristenan, turunan berasal bahasa Mesir kuno), bahasa Ethiopik (untuk digunakan privat gereja Ethiopia, salah suatu basilika Kristen tertua), bahasa Armenia (Armenia merupakan yang pertama mengadopsi Kekristenan sebagai agama resminya), dan bahasa Arab.[43]

Perjanjian Lama dan teologi Serani

[sunting
|
sunting sumber]

Kekristenan didasarkan pada klaim bahwa Yesus dalam memori juga adalah Kristus, sebagai halnya diungkapkan dalam Syahadat Petrus. Klaim ini lega akhirnya didasarkan plong kognisi kaum Yahudi akan makna istilah Ibrani berpangkal mesias, nan mana, setimbang seperti istilah Yunani dari “Kristus”, artinya “nan diurapi”. N domestik Kitab-kitab Tulus Ibrani, hal tersebut menggambarkan seorang sultan yang diurapi dengan patra saat anda naik kursi: ia menjadi “Nan Diurapi TUHAN”. Pada zaman Yesus, beberapa kalangan Yahudi berharap bahwa seorang keturunan Daud berdasarkan darah dan daging (sang “Anak Daud”) akan hinggap bagi mendirikan suatu kerajaan Yahudi yang nyata di Yerusalem, tidak di area Romawi.[44]

Kalangan lainnya menitikberatkan si Momongan Sosok, seorang sosok yang jelas berpokok dunia lain nan akan menampakkan diri sebagai seorang hakim pada yaumudin; dan beberapa galangan menyelaraskan keduanya dengan memimpikan satu kerajaan mesianik materialisme yang akan berlangsung selama satu periode dan diikuti dengan era bumi yang lain atau dunia yang akan nomplok. Beberapa kalangan berpikir bahwa Mesias sudah hadir, belaka belum dikenali karena dosa-dosa Israel; beberapa lainnya berpikir bahwa Mesias akan diumumkan oleh seorang pembuka perkembangan atau pendahulu, barangkali Elia (sebagaiman dijanjikan oleh nabi Maleakhi, nan mana kitabnya sekarang mengakhiri Perjanjian Lama dan mendahului laporan Injil Markus tentang Yohanes Pembaptis). Tidak ada suatu pun memprediksi Mesias yang menderita dan wafat untuk dosa-dosa semua orang.[44]
Narasi wafatnya Yesus oleh karena itu melibatkan satu pergeseran yang mendasar dalam makna dari adat istiadat Perjanjian Lama.[45]

Istilah “Perjanjian Lama” mencerminkan pemahaman Kekristenan tentang dirinya sebagai penggenapan tanzil Yeremia tentang suatu Perjanjian Baru untuk menggantikan perjanjian yang suka-suka antara Allah dan Israel (Yeremia 31:31).[1]
Bagaimanapun penekanannya sudah bergeser terbit kognisi Yudaisme mengenai perjanjian seumpama satu perjanjian abadi antara Allah dengan bangsa Israel menjadi satu perjanjian antara Almalik dengan semua orang di “internal Kristus”.[46]

Lihat juga

[sunting
|
sunting sumber]

  • Injil
  • Injil Ibrani
  • Perjanjian Plonco
  • Taurat Samaria
  • Timur Tengah Kuno
  • Eneateukh
  • Tetrateukh
  • Pentateukh

Tulisan

[sunting
|
sunting sumur]


  1. ^

    Galibnya karena basyar berpokok transliterasi nama-logo yang digunakan n domestik Vulgata Latin dalam hal Katolikisme, dan dari transliterasi Septuaginta Yunani dalam hal Ortodoksi (karena berbeda dengan turunan terjemahan, bukannya alih aksara, mulai sejak judul-judul kerumahtanggaan bahasa Yahudi) seperti misalnya Eklesiastikus (Ecclesiasticus, DRC) bukannya Sirakh (Sirach, LXX) alias Ben Sira (Ibrani), Paralipomenon (Yunani) bukannya Tawarikh (Chronicles), Sophonias bukannya Zefanya (Zephaniah), Henoch bukannya Henokh (Enoch), dan tidak-tidak.

  2. ^

    39 Artikel dasar dari Anglikanisme, intern Kata sandang VI, memfokuskan bahwa kitab-kitab yang n domestik perdebatan ini bukan digunakan “buat menetapkan teologi apapun”, sahaja “dibaca andai teladan dalam nasib”. Meskipun apokrifa Alkitab masih digunakan privat Liturgi Anglikan,[8]
    kecenderungannya masa ini merupakan tidak mencetak apokrifa Perjanjian Lama kerumahtanggaan edisi-edisi Alkitab yang digunakan kalangan Anglikan.

  3. ^


    24 kitab Alkitab Ibrani adalah sama dengan 39 kitab Perjanjian Lama Protestan, belaka belaka pembagian dan pengurutannya berbeda: kitab Rasul-nabi Kerdil terbagi menjadi 12 kitab di privat Alkitab Kristen, dan dalam Bibel Ibrani berupa satu kitab nan disebut “Kedua Belas”. Demikian pun Injil Kristen membagi Kitab Ratu-raja menjadi empat kitab, baik 1–2 Samuel dan 1–2 Raja-raja maupun 1–4 Raja-raja, sedangkan Alkitab Ibrani membaginya dalam dua kitab. Kaum Ibrani pula menetapkan 1–2 Tawarikh/Paralipomenon bagaikan satu kitab. Ezra dan Nehemiah pun digabungkan di dalam Alkitab Ibrani, sebagaimana intern banyak Alkitab Ortodoks, bukan membaginya menjadi dua kitab sebagai halnya lega tradisi Katolik dan Protestan.
  4. ^


    a




    b




    c




    d



    Kitab 1–2 Samuel dan 1–2 Raja-raja disebut 1–4 Syah-raja dalam leluri Katolik sebelum Reformasi.
  5. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    h




    i



    Nama-nama dalam tanda lingkar merupakan segel-nama dalam Septuaginta dan juga berkali-kali digunakan oleh umat Masehi Ortodoks.

  6. ^

    Disebut 2 Esdras kerumahtanggaan Alkitab Sinode Rusia.
  7. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    h




    i




    j




    k



    Salah satu berpangkal 11 kitab deuterokanonika internal Injil Sinode Rusia.
  8. ^


    a




    b



    Bilang Dom Ortodoks Timur mengikuti Bibel Yahudi dengan mengganggap kitab-kitab Ezra dan Nehemia seumpama satu kitab.
  9. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    h




    i




    j




    k



    Dalam Alkitab TB Deuterokanonika makanya LAI-LBI, kitab-kitab ini tidak dimasukkan dalam Perjanjian Lama tetapi ditempatkan sreg bagian khusus “Deuterokanonika” di antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
  10. ^


    a




    b



    Dalam Bibel Ortodoks dan Katolik, Kitab Ester memuat Tambahan-lampiran pada Kitab Ester,[i]
    yaitu 103 ayat komplemen yang diterjemahkan bersumber Septuaginta, yang tidak terdapat dalam skrip sumber Yahudi.
    Kesalahan pengutipan: Tanda
    <ref>
    tidak seremonial; segel “esther” didefinisikan iteratif dengan isi farik

  11. ^


    a




    b



    Vulgata, Douay-Rheims, dan Revised Standard Version Catholic Edition menempatkan 1–2 Makabe sesudah Maleakhi; parafrase-terjemahan Katolik yang bukan menempatkannya setelah Ester.

  12. ^

    Sebagian ki akbar Gereja Ortodoks Timur membebaskan kitab ini mulai sejak kanon dengan asalan bahwa kitab ini bukan ada privat Septuaginta.

  13. ^

    Dalam Alkitab bahasa Yunani, 4 Makabe dimasukkan dalam adendum.

  14. ^

    Basilika Ortodoks Timur memasukkan Mazmur 151 dan Doa Manasye. Lain semua kanon Ortodoks punya kedua kitab ini.

  15. ^

    Termaktub dalam Kitab 2 Tawarikh dalam Injil Sinode Rusia.
  16. ^


    a




    b



    Kitab Yesus polong Sirakh dikenal lagi dengan nama
    Kitab Sirakh,
    Kitab Putra Sirakh,
    Kitab Kebijaksanaan Sirakh, maupun
    Kitab Ekleastikus

  17. ^

    Dalam Injil Katolik, Kitab Barukh memuat pasal keenam yang disebut Inskripsi Utusan tuhan Yeremia.[i]
  18. ^


    a




    b



    Alkitab Ortodoks Timur memisahkan Kitab Barukh dengan Sahifah Nabi Yeremia.

  19. ^

    Mayoritas menganggapnya berasal dari bahasa Yunani, padahal ada kalangan minoritas yang menganggapnya dari bahasa Ibrani; lihat Surat Nabi Yeremia untuk informasi sepenuhnya.
  20. ^


    a




    b



    Dalam Alkitab Ortodoks dan Katolik, Kitab Daniel memuat Tambahan-tambahan plong Kitab Daniel,[i]
    merupakan tiga episode yang tidak terdapat dalam Alkitab Protestan. Doa Azarya dan Lagu Pujian Ketiga Perjaka termasuk di antara Daniel 3:23–24. Susana dimasukkan ibarat Daniel 13. Dewa Lonceng dan Naga Babel dimasukkan sebagai Daniel 14. Semuanya ini tidak terwalak dalam Bibel Protestan.

Teks

[sunting
|
sunting sumber]

  1. ^


    a




    b



    Jones 2001, hlm. 215.

  2. ^

    Barton 2001, hlm. 3.
  3. ^


    a




    b




    (Inggris)
    Lim, Timothy H. (2005).
    The Dead Sea Scrolls: A Very Short Introduction. Oxford: Oxford University Press. hlm. 41.





  4. ^


    (Inggris)
    Riches, John (2000).
    The Bible: A Very Short Introduction. Oxford: Oxford University Press. hlm. 37. ISBN 978-0-19-285343-1.





  5. ^


    (Inggris)
    Philip R. Davies in
    The Canon Debate, page 50: “With many other scholars, I conclude that the fixing of a canonical list was almost certainly the achievement of the Hasmonean dynasty.”

  6. ^


    (Inggris)
    McDonald & Sanders,
    The Canon Debate, 2002, page 5, cited are Neusner’s
    Judaism and Christianity in the Age of Constantine, pages 128–145, and
    Midrash in Context: Exegesis in Formative Judaism, pages 1–22.

  7. ^

    Boadt 1984, hlm. 11, 15–16.

  8. ^


    (Inggris)

    The Apocrypha, Bridge of the Testaments
    (PDF), Orthodox Anglican, diarsipkan pecah versi tulen
    (PDF)
    tanggal 2009-02-05, diakses copot
    2015-11-30
    ,
    Two of the hymns used in the American Prayer Book office of Morning Prayer, the Benedictus es and Benedicite, are taken from the Apocrypha. One of the offertory sentences in Holy Communion comes from an apocryphal book (Tob. 4: 8–9). Lessons from the Apocrypha are regularly appointed to be read in the daily, Sunday, and special services of Morning and Evening Prayer. There are altogether 111 such lessons in the latest revised American Prayer Book Lectionary [Books used are: II Esdras, Tobit, Wisdom, Ecclesiasticus, Baruch, Three Holy Children, and I Maccabees.]





  9. ^

    Injil Terjemahan Baru oleh LAI.

  10. ^

    Alkitab Terjemahan Mentah Deuterokanonika maka dari itu LAI-LBI.

  11. ^

    Kurat Perjanjian Lama: Septuaginta (LXX) – Gereja Ortodoks Indonesia

  12. ^



    Britannica, 1911





  13. ^

    Blenkinsopp 1998, hlm. 184.

  14. ^


    (Inggris)
    Davila, James, “MORE ON THE KETEF HINNOM AMULETS in Ha’aretz,”
    Paleojudaica, Sept. 2004.

  15. ^


    (Inggris)
    Barkay, Gabriel, et al., “The Challenges of Ketef Hinnom: Using Advanced Technologies to Recover the Earliest Biblical Texts and their Context”,
    Near Eastern Archaeology, 66/4 (Dec. 2003): 162-171.

  16. ^


    (Inggris)
    Solving a Riddle Written in Silver

  17. ^


    (Inggris)
    ‘Silver scrolls’ are oldest O.T. scripture, archaeologist says

  18. ^

    Rogerson 2003, hlm. 153–54.

  19. ^

    Coggins 2003, hlm. 282.

  20. ^

    Grabbe 2003, hlm. 213–14.

  21. ^

    Miller 1987, hlm. 10–11.

  22. ^

    Crenshaw 2022, hlm. 5.
  23. ^


    a




    b



    Barton 2001, hlm. 9.
  24. ^


    a




    b



    Barton 2001, hlm. 10.

  25. ^

    Brettler 2005, hlm. 274.

  26. ^

    Gentry 2008, hlm. 302.

  27. ^

    Würthwein 1995.

  28. ^

    Jones 2001, hlm. 216.

  29. ^


    (Inggris)
    Cave, William.
    A complete history of the lives, acts, and martyrdoms of the holy apostles, and the two evangelists, St. Mark and Luke, Vol. II. Wiatt (Philadelphia), 1810. Accessed 6 Feb 2022.

  30. ^


    Apol. Const. 4

  31. ^


    The Canon Debate, pp. 414–15, for the entire paragraph

  32. ^


    Wikisource-logo.svgHerbermann, Charles, ed. (1913). “Book of Judith”.
    Catholic Encyclopedia. New York: Robert Appleton Company.




    Canonicity: “…”the Synod of Nicaea is said to have accounted it as Sacred Scripture” (Praef. in Lib.). It is true that no such declaration is to be found in the Canons of Nicaea, and it is uncertain whether St. Jerome is referring to the use made of the book in the discussions of the council, or whether he was misled by some spurious canons attributed to that council”.

  33. ^


    (Inggris)
    Rebenich, S.,
    Jerome
    (Routledge, 2022), p. 58. ISBN 9781134638444

  34. ^

    Würthwein 1995, hlm. 91–99.

  35. ^


    (Latin)
    Prologues of St. Jerome, Latin text

  36. ^


    (Inggris)
    Kevin P. Edgecomb,
    Jerome’s Prologue to Jeremiah, diarsipkan dari versi masif tanggal 2022-12-31, diakses copot
    2015-12-01






  37. ^


    (Inggris)
    Everett Ferguson, “Factors leading to the Selection and Closure of the New Testament Canon,” in
    The Canon Debate. eds. L. M. McDonald & J. A. Sanders (Hendrickson, 2002) p. 320; F. F. Bruce,
    The Canon of Scripture
    (Intervarsity Press, 1988) p. 230; cf. Augustine,
    De Civitate Dei
    22.8
  38. ^


    a




    b



    Barton 1997, hlm. 80–81.

  39. ^


    (Inggris)
    Philip Schaff, “Chapter IX. Theological Controversies, and Development of the Ecumenical Orthodoxy”,
    History of the Christian Church, CCEL





  40. ^


    (Inggris)
    Lindberg (2006).
    A Brief History of Christianity. Blackwell Publishing. hlm. 15.





  41. ^


    (Inggris)
    F.L. Cross, E.A. Livingstone, ed. (1983),
    The Oxford Dictionary of the Christian Church
    (edisi ke-2nd), Oxford University Press, hlm. 232





  42. ^

    Soggin 1987, hlm. 19.
  43. ^


    a




    b



    Würthwein 1995, hlm. 79–90, 100–4.
  44. ^


    a




    b



    Farmer 1991, hlm. 570–71.

  45. ^

    Juel 2000, hlm. 236–39.

  46. ^

    Herion 2000, hlm. 291–92.

Bibliografi

[sunting
|
sunting sumber]

  • Bandstra, Barry L (2004),
    Reading the Old Testament: an introduction to the Hebrew Bible, Wadsworth, ISBN 978-0-495-39105-0



  • Barton, John (1997),
    How the Bible came to be, Westminster John Knox Press, ISBN 978-0-664-25785-9



  • ——— (2001), “Introduction to the Old Testament”, kerumahtanggaan Muddiman, John; Barton, John,
    Bible Commentary, Oxford University Press, ISBN 978-0-19-875500-5



  • Blenkinsopp, Joseph (1998), “The Pentateuch”, dalam Barton, John,
    The Cambridge companion to biblical interpretation, Cambridge University Press, ISBN 978-0-521-48593-7



  • Boadt, Lawrence (1984),
    Reading the Old Testament: an introduction, Paulist Press, ISBN 978-0-8091-2631-6



  • Brettler, Marc Zvi (2005),
    How to read the Bible, Jewish Publication Society, ISBN 978-0-8276-1001-9



  • Bultman, Christoph (2001), “Deuteronomy”, dalam Barton, John; Muddiman, John,
    Oxford Bible Commentary, Oxford University Press, ISBN 978-0-19-875500-5



  • Coggins, Richard J (2003), “1 and 2 Chronicles”, privat Dunn, James DG; Rogerson, John William,
    Commentary on the Bible, Eerdmans, ISBN 978-0-8028-3711-0



  • Crenshaw, James L (2010),
    Old Testament wisdom: an introduction, Westminster John Knox Press, ISBN 978-0-664-23459-1



  • Davies, GI (1998), “Introduction to the Pentateuch”, n domestik Barton, John,
    Oxford Bible Commentary, Oxford University Press, ISBN 978-0-19-875500-5



  • Dines, Jennifer M (2004),
    The Septuagint, Continuum, ISBN 978-0-567-08464-4



  • Farmer, Ron (1991), “Messiah/Christ”, kerumahtanggaan Mills, Watson E; Bullard, Roger Aubrey,
    Mercer dictionary of the Bible, Mercer University Press, ISBN 978-0-86554-373-7



  • Gentry, Peter R (2008), “Old Greek and Later Revisors”, dalam Sollamo, Raija; Voitila, Anssi; Jokiranta, Jutta,
    Scripture in transition, Brill, ISBN 978-90-04-16582-3



  • Grabbe, Lester L (2003), “Ezra”, n domestik Dunn, James DG; Rogerson, John William,
    Commentary on the Bible, Eerdmans, ISBN 978-0-8028-3711-0



  • Hasel, Gerhard F (1991),
    Old Testament theology: basic issues in the current debate, Eerdmans, ISBN 978-0-8028-0537-9



  • Herion, Gary A (2000), “Covenant”, dalam Freedman, David Noel,
    Dictionary of the Bible, Eerdmans, ISBN 978-90-5356-503-2



  • Jobes, Karen H; Silva, Moises (2005),
    Invitation to the Septuagint, Baker Academic



  • Jones, Barry A (2000), “Canon of the Old Testament”, dalam Freedman, David Noel,
    Dictionary of the Bible, William B Eerdmans, ISBN 978-90-5356-503-2



  • Juel, Donald (2000), “Christ”, dalam Freedman, David Noel,
    Dictionary of the Bible, William B Eerdmans, ISBN 978-90-5356-503-2



  • Lim, Timothy H. (2005).
    The Dead Sea Scrolls: A Very Short Introduction. Oxford: Oxford University Press.



  • McLay, Tim (2003),
    The use of the Septuagint in New Testament research, Eerdmans, ISBN 978-0-8028-6091-0



  • Miller, John W (2004),
    How the Bible came to be, Paulist Press, ISBN 978-0-8091-4183-8



  • Miller, John W (1987),
    Meet the prophets: a beginner’s guide to the books of the biblical prophets, Paulist Press, ISBN 978-0-8091-2899-0



  • Rogerson, John W (2003), “Deuteronomy”, dalam Dunn, James DG; Rogerson, John William,
    Commentary on the Bible, Eerdmans, ISBN 978-0-8028-3711-0



  • Schniedewind, William M (2004),
    How the Bible Became a Book, Cambridge, ISBN 978-0-521-53622-6



  • Soggin, J. Alberto (1987),
    Introduction to the Old Testament, Westminster John Knox Press, ISBN 978-0-664-22156-0



  • Würthwein, Ernst (1995),
    The text of the Old Testament: an introduction to the Biblia Hebraica, William B Eerdmans, ISBN 978-0-8028-0788-5



Bacaan lanjutan

[sunting
|
sunting sumber]

  • Anderson, Bernhard.
    Understanding the Old Testament. ISBN 0-13-948399-3
  • Bahnsen, Greg, et al.,
    Five Views on Law and Gospel
    (Grand Rapids: Zondervan, 1993).
  • Berkowitz, Ariel; Berkowitz, D’vorah (2004),
    Torah Rediscovered
    (edisi ke-4th), Shoreshim, ISBN 0-9752914-0-8



    .
  • Dever, William G. (2003),
    Who Were the Early Israelites?, Grand Rapids, MI: William B Eerdmans, ISBN 0-8028-0975-8



    .
  • von Rad, Gerhard (1982–1984),
    Theologie des Alten Testaments
    (dalam bahasa German), Band 1–2, Munich: Auflage




    .
  • Hill, Andrew; Walton, John (2000),
    A Survey of the Old Testament
    (edisi ke-2nd), Grand Rapids: Zondervan, ISBN 0-310-22903-0



    .
  • Kuntz, John Kenneth (1974),
    The People of Ancient Israel: an introduction to Old Testament Literature, History, and Thought, Harper & Row, ISBN 0-06-043822-3



    .
  • Lancaster, D Thomas (2005),
    Restoration: Returning the Torah of God to the Disciples of Jesus, Littleton \ publisher = First Fruits of Zion



    .
  • Papadaki-Oekland, Stella,
    Byzantine Illuminated Manuscripts of the Book of Job, ISBN 978-2-503-53232-5



    .
  • Rouvière, Jean-Marc (2006),
    Brèves méditations sur la Création du monde
    (dalam bahasa French), Paris: L’Harmattan




    .
  • Salibi, Kamal (1985),
    The Bible Came from Arabia, London: Jonathan Cape, ISBN 0-224-02830-8



    .
  • Schmid, Konrad (2012),
    The Old Testament: A Literary History, Minneapolis: Fortress, ISBN 978-0-8006-9775-4



    .
  • Silberman, Neil A; et al. (2003),
    The Bible Unearthed
    (hardback), New York: Simon & Schuster, ISBN 0-684-86912-8



    , ISBN 0-684-86913-6 (paperback).
  • Sprinkle, Joseph ‘Joe’ M (2006),
    Biblical Law and Its Relevance: A Christian Understanding and Ethical Application for Today of the Mosaic Regulations
    (clothbound), Lanham, MD: University Press of America, ISBN 0-7618-3371-4




    and ISBN 0-7618-3372-2 (paperback).

Pranala luar

[sunting
|
sunting sumber]

  • “The Old Testament Canon”,
    Scripture & tradition, Church Fathers, diarsipkan dari versi kudrati tanggal 2022-05-17, diakses copot
    2015-11-30




    .

  • Bible gateway



    . Full texts of the Old (and New) Testaments including the full Muka and Orthodox Catholic canons.
  • “Old Testament”,
    Écritures, La feuille d’Olivier, diarsipkan berbunga versi nirmala sungkap 2022-12-07, diakses rontok
    2015-11-30




    . Protestant Old Testament on a single page.
  • “Old Testament”,
    Reading Room, CA: Tyndale Seminary



    . Extensive online OT resources (incl. commentaries).
  • “Old Testament”,
    Religious studies
    (video)
    (lectures), Yale University, 2022-11-30



    .

  • Bible, X10 host



    : Old Testament stories and commentary.

  • Old Testament Timeline
    (PDF), LDS



    .

  • Tanakh ML
    (parallel Bible)




    – Biblia Hebraica Stuttgartensia and the King James Version.



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Perjanjian_Lama#:~:text=Perjanjian%20Lama%20adalah%20bagian%20pertama,keagamaan%20karya%20bangsa%20Israel%20kuno.

Posted by: caribes.net