Kapan Ki Hajar Dewantara Lahir

Berasal Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Ki Hadjar Dewantara

Ki Hadjar Dewantara Mimbar Umum 18 October 1949 p2.jpg

Capuk Hadjar Dewantara

Menteri Pencekokan pendoktrinan Indonesia ke-1

Perian jabatan


2 September 1945 – 14 November 1945
Presiden Soekarno
Pendahulu Bukan suka-suka, jabatan hijau
Pemindah Todung Sutan Gunung Mulia
Informasi pribadi
Lahir (1889-05-02)2 Mei 1889
Pakualaman, Hindia Belanda
Meninggal 26 April 1959(1959-04-26)
(semangat 69)
Yogyakarta, Indonesia
Nasional Indonesia
Partai politik Insulinde, Boedi Oetomo
Suami/istri Nyi Hajar Dewantara
Tempat tinggal Pakualaman, Surakarta, Jawa Perdua
Alma mater Europeesche Lagere School, STOVIA (tidak sampai menghilang karena guncangan)
Pencahanan Pengorganisasi, Politikus, Kolumnis, Wartawan
Dikenal karena Bapak Pendidikan Nasional, Pahlawan Revolusi Kedaulatan, Menteri Pengajaran Indonesia, Aktivis Rayapan Kemandirian Indonesia, Pembina Ujana Siswa, Otak Pendidikan untuk Kaum Bumiputra.
Etiket tangan

Raden Mas
Soewardi Soerjaningrat
(Urang:
Suwardi Suryaningrat, sejak 1922 menjadi
Ki Hadjar Dewantara, EBI:
Bopeng Hajar Dewantara, bilang menuliskan obstulen bahasa Jawanya dengan Borek Hajar Dewantoro; 2 Mei 1889 – 26 April 1959;[1]
selanjutnya disingkat sebagai “Soewardi” atau “KHD”) adalah bangsawan Jawa, pengelola rayapan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kabilah pribumi Indonesia berasal zaman penjajahan Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang menyerahkan kesempatan untuk para pribumi lakukan bisa memperoleh eigendom pendidikan seperti mana halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.

Pada periode 1959 atas jasa-jasanya dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia, Borek Hadjar Dewantara dianugerahi gelar sebagai Kiai Pendidikan Nasional oleh Presiden Soekarno. tanggal kelahirannya kini diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional Indonesia. Fragmen berbunga semboyan ciptaannya,
tut wuri handayani, menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia. Namanya diabadikan umpama salah satu nama sebuah kapal perang Indonesia, KRI Bopeng Hajar Dewantara. Potret dirinya pun diabadikan pada uang plano pecahan 20.000 rupiah tahun edisi 1998.[2]

Dia dikukuhkan andai pahlawan nasional yang ke-2 maka dari itu Presiden RI, Sukarno, plong 28 November 1959 (Surat Keputusan Kepala negara Republik Indonesia No. 305 Perian 1959, terlepas 28 November 1959).[3]

Masa muda dan tadinya karier

[sunting
|
sunting mata air]

Soewardi berbunga dari lingkungan keluarga bangsawan Kadipaten Pakualaman. Ia merupakan putra berusul GPH Soerjaningrat dan cucu dari Pakis Alam III. Engkau menamatkan pendidikan dasar di Europeesche Lagere School. Sekolah ini merupakan sekolah pangkal khusus untuk anak-anak yang berasal berpokok Eropa. Ia tahu melanjukan pendidikan kedokteran di STOVIA. Namun, kamu tidak menamatkannya karena kondisi kesehatan nan buruk.[4]

Kemudian sira bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat butir-butir. Engkau sangkutan bekerja kerjakan pertinggal kabar
Sediotomo,
Midden Java,
De Expres,
Oetoesan Hindia,
Kaoem Moeda,
Tjahaja Timoer, dan
Poesara. Ia tergolong pelecok seorang penulis yang handal pada masanya. Gaya tulisannya berperilaku komunikatif dengan gagasan-gagasan yang antikolonial.[5]

Aktivitas pergerakan

[sunting
|
sunting sumber]

Selain ki liat umpama koteng wartawan mulai dewasa, ia lagi aktif n domestik organisasi sosial dan politik. Sejak berdirinya Boedi Oetomo (BO) hari 1908, ia aktif di semok persuasi untuk menyosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia (terutama Jawa) pada perian itu akan halnya pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Badan legislatif pertama BO di Yogyakarta juga diorganisasi olehnya.

Soewardi cukup umur juga menjadi anggota organisasi
Insulinde, suatu organisasi multietnik yang didominasi kaum Indo yang memperjuangkan pemerintahan seorang di Hindia Belanda, atas pengaruh Ernest Douwes Dekker (DD). Saat kemudian DD mendirikan
Indische Partij, Soewardi diajaknya kembali.


Als ik een Nederlander was


[sunting
|
sunting sumber]

Gerbang Hadjar Dewantara

(Chris Lebeau, 1919)

Sewaktu pemerintah Hindia Belanda berniat mengumpulkan sumbangan bermula warga, termasuk pribumi, untuk perayaan independensi Belanda dari Prancis pada tahun 1913, timbul reaksi kritis berasal pematang nasionalis, termasuk Soewardi. Ia kemudian menggambar “Een voor Allen maar Ook Allen voor Een” atau “Satu kerjakan Semua, tetapi Semua kerjakan Satu Juga”. Namun ruangan KHD yang paling tersohor yaitu “Seandainya Aku Sendiri Belanda” (kepala karangan asli: “Als ik een Nederlander was”), dimuat kerumahtanggaan surat makrifat
De Expres
pimpinan DD, 13 Juli 1913. Isi artikel ini terasa pedas sekali di galangan pejabat Hindia Belanda. Kutipan tulisan tersebut antara bukan umpama berikut.

“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan makan besar-makan besar kemerdekaan di negeri yang mutakadim kita cabut koteng kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan tetapi tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si
inlander
memberikan sumbangan kerjakan dana perayaan itu. Ide kerjakan menyelenggaraan perayaan itu saja sudah mengejek mereka, dan saat ini kita keruk pun kantongnya. Ayo teruskan tetapi pengutukan lahir dan batin itu! Jikalau aku koteng Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan perkongsian-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa
inlander
diharuskan turut membiayai satu kegiatan yang tidak ada kemustajaban sedikit pun baginya”.

Beberapa bos Belanda menyangsikan tulisan ini tulen dibuat oleh Soewardi sendiri karena gaya bahasanya nan berlainan dari tulisan-tulisannya sebelum ini. Kalaupun etis ia yang menulis, mereka menganggap DD berperan dalam memanas-manasi Soewardi untuk menulis dengan kecenderungan demikian.

Akibat tulisan ini kamu ditangkap atas persepakatan Gubernur Jenderal Idenburg dan akan diasingkan ke Pulau Bangka (atas permintaan sendiri). Hanya demikian kedua rekannya, DD dan Tjipto Mangoenkoesoemo, memprotes dan kesudahannya mereka bertiga diasingkan ke Belanda (1913). Ketiga tokoh ini dikenal umpama “Tiga Serangkai”. Soewardi kala itu plonco berumur 24 tahun.[6]

Kerumahtanggaan pengasingan

[sunting
|
sunting sumber]

Kerumahtanggaan pengasingan di Belanda, Soewardi aktif dalam organisasi para pelajar radiks Indonesia,
Indische Vereeniging
(Universitas Hindia). Tahun 1913 kamu mendirikan
Indonesisch Pers-bureau, “kantor berita Indonesia”. Ini adalah pemakaian formal pertama pecah istilah “Indonesia”, yang diciptakan tahun 1850 oleh guru bahasa pangkal Inggeris George Windsor Earl dan pakar syariat asal Skotlandia James Richardson Logan.

Di sinilah beliau kemudian merintis cita-citanya mengedepankan suku bangsa pribumi dengan belajar aji-aji pendidikan sampai memperoleh
Europeesche Akta, suatu ijazah pendidikan yang berkelas yang lusa menjadi pijakan kerumahtanggaan mendirikan lembaga pendidikan nan didirikannya. Dalam studinya ini Soewardi terbetot lega ide-ide beberapa penggagas pendidikan Barat, seperti Froebel dan Montessori, serta pergerakan pendidikan India, Santiniketan, oleh keluarga Tagore. Supremsi-dominasi inilah yang mendasarinya internal melebarkan sistem pendidikannya sendiri.

Taman Siswa

[sunting
|
sunting sumber]

Bopeng Hadjar Dewantara bersama pesuluh-murid Taman Murid (ca.
 1922)

Soewardi sekali lagi ke Indonesia sreg wulan September 1919. Lekas kemudian engkau bergabung internal sekolah binaan saudaranya. Asam garam mengajar ini kemudian digunakannya untuk mengembangkan konsep mengajar kerjakan sekolah yang berencana cak bagi anda dirikan.
[butuh rujukan]
Pada terlepas 3 Juli 1922, engkau akhirnya mendirikan Perguruan Nasional Taman Pesuluh di Yogyakarta.[7]
Detik ia genap berusia 40 tahun menurut hitungan penanggalan Jawa, ia mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan meski kamu boleh bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik alias vitalitas.

Semboyan kerumahtanggaan sistem pendidikan yang dipakainya kini tinggal dikenal di kalangan pendidikan Indonesia. Secara utuh, semboyan itu dalam bahasa Jawa berbunyi
ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun kehendak, tut wuri handayani.
(“di depan memberi lengkap, di tengah memberi roh, di belakang memberi galakan”). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan rakyat Indonesia, justru di sekolah-sekolah Perguruan Tamansiswa.

Pengabdian pada masa Indonesia merdeka

[sunting
|
sunting sumber]

Surat Ketetapan Kepala negara Indonesia tentang pengangkatan Ki Hadjar Dewantara misal Mahaguru Sekolah Petugas keamanan Republik Indonesia putaran Tinggi di Mertojoedan, Magelang

Patung Capuk Hajar Dewantara

Tanggal 17 Agustus 1946 ditetapkan sebagai Maha Guru pada Sekolah Polisi Republik Indonesia fragmen Hierarki di Mertoyudan Magelang, makanya P.J.M. Kepala negara Republik Indonesia.

Plong masa pemerintahan Presiden Indonesia ialah Soekarno, Ki Hadjar Dewantara diangkat sebagai Menteri Pendidikan Indonesia yang pertama. Pengangkatannya plong periode 1956.[8]
Terlampau, pada tanggal 19 Desember 1956, ia pula mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Gadjah Mada.[9]

Ki Hadjar Dewantara juga diditetapkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional atas jasa-jasanya internal mengembangkan pendidikan di Indonesia. Selain itu, terlepas 2 Mei yang merupakan periode kelahirannya, ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional.[10]
Abadiah hari tersebut disahkan dalam Dokumen Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 305 Perian 1959 bersamaan dengan penetapannya sebagai Pahlawan Kewarganegaraan Indonesia.[11]
Surat keputusan tersebut diterbitkan tanggal 28 November 1959.

Wafat

[sunting
|
sunting sumber]

Ki Hadjar Dewantara meninggal dunia di Ii kabupaten Yogyakarta sreg sungkap 26 April 1959. Lokasi wafatnya di Padepokan Capuk Hadjar Dewantara. Jenazahnya kemudian disimpan di Pendapa Agung Taman Siswa bagi kemudian dimakamkan di Ujana Wijaya Brata pada rontok 29 April 1959. Ritual pemakamannya dipimpin oleh Soeharto yang berperan laksana inspektur ritual.[12](:)0284&2 Fust

Galeri

[sunting
|
sunting sumber]

Referensi

[sunting
|
sunting sendang]


  1. ^

    Ini adalah versi Perguruan Tamansiswa dan Kepustakaan Presiden Taman bacaan Kebangsaan Republik Indonesia, tokohindonesia.com menyebutkan 28 April 1959 sebagai tanggal wafat.

  2. ^

    Uang Jeluang Bank Indonesia Pecahan: Rp. 20.000,- Diarsipkan 2022-09-20 di Wayback Machine., Bank Indonesia, diakses terlepas 26 April 2022.

  3. ^


    yisitur4ifg7rit7t43f5eerr7fy8rrrrfg “DAFTAR NAMA PAHLAWAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA“. Diarsipkan dari varian asli tanggal 2012-05-09. Diakses tanggal
    2011-02-27
    .





  4. ^


    Astuti, K., dan Arif, M. (2021). “Kontekstualisasi Ponten-Nilai Pendidikan Ki Hajar Dewantara di Era Covid 19”.
    Buletin Pendidikan Asal Flobamorata.
    2
    (2): 203. ISSN 2721-8996.





  5. ^


    Musolin, M., dan Nisa, K. (2021). “Pendidikan Masa Pandemik Covid 19: Implementasi Konsep Tri Daya Pendidikan Burik Hajar Dewantara”.
    Edukatif : Kronik Ilmu Pendidikan.
    3
    (6): 4137. ISSN 2656-8071.





  6. ^


    Adnan, Sobih AW (2016-08-116). Adam, Mohammad, ed. “Kebangkitan Nusantara di Tangan Gapura Hajar Dewantara”.
    Medcom.id
    . Diakses copot
    2020-07-13
    .





  7. ^


    Nazarudin (2019).
    Pendidikan Keluarga Menurut Bopeng Hajar Dewantara dan Relevansinya dengan Pendidikan Islam
    (PDF). Palembang: NoerFikri Palembang. hlm. 126. ISBN 978-602-447-494-2.





  8. ^


    Sukirman (2020).
    Teori, Abstrak dan Sistem Pendidikan
    (PDF). Palopo: Rajah Penerbit Kampus IAIN Palopo. hlm. 19–20. ISBN 978-602-8497-80-0.





  9. ^


    Lohanda, Mona, ed. (2017).
    Penanda Beranotasi Karya Bab Hadjar Dewantara
    (PDF). Diterjemahkan makanya Sunjayadi, A., dan Harjosaputra, Karsono. Jakarta: Direktorat Album, Direktorat Jenderal Peradaban, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. hlm. 165. ISBN 978-602-1289-70-9.





  10. ^


    Sugiarta, I. M., dkk. (2019). “Filsafat Pendidikan Bab Hajar Dewantara (Tokoh Timur)”.
    Jurnal Filsafat Indonesia.
    2
    (3): 130. ISSN 2620-7982.





  11. ^


    Sujiono, Yuliani Firasat (2013).
    Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Prematur
    (PDF). Jakarta Barat: PT Indeks. hlm. 136. ISBN 978-979-062-079-7.





  12. ^


    Wiryopranoto, S., dkk. (2017).
    Perjuangan Portal Hajar Dewantara: Dari Garis haluan ke Pendidikan
    (PDF). Museum Semarang Kebangkitan Nasional. hlm. 163. ISBN 978-602-61552-0-7.




Pranala luar

[sunting
|
sunting sendang]

  • Memoar di TokohIndonesia.com Diarsipkan 2022-05-28 di Wayback Machine.
  • Taman Peserta Diarsipkan 2012-12-26 di Wayback Machine.
  • (Indonesia)
    Biografi Ki Hajar Dewantara Diarsipkan 2012-06-23 di Wayback Machine.
Jabatan garis haluan
Didahului maka dari itu:
tidak cak semau
Menteri Pengajaran

1945
Diteruskan oleh:
Todung Sutan Gunung Mulia



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Hadjar_Dewantara

Posted by: caribes.net