Kata Kata Cinta Bahasa Maumere


Epang Gawan!

Bunyi klakson tanpa jeda, diiringi teriakan dua penyetir yang saling berbalasan, menyambut saya di bandara nan dulunya bernama Batang air Oti itu. Keduanya sedang memperebutkan seorang penumpang, yang karenanya menjorokkan menumpang di wahana mana pun. Sesaat saya menggelandang napas, serempak membiarkan tubuh ini perlu dengan sergapan udara memberahikan Maumere.

Sebuah tepukan di bahu, yang segera bersambut menjadi pelukan rapat persaudaraan, seketika mengubah erak jadi tawa. Beberapa menit kemudian, saya sudah duduk di internal mobil Daihatsu tua lontok nan berderit-derit setiap melewati urut-urutan yang tidak mulus. Sang pengendara mobil, Karel Siga Siprianus, warga Maumere nan mengundang saya, berujar bahwa saya datang di momen yang tepat.

“Ini musim hujan. Di musim kemarau, tanaman mengering, dan petak bintang sartan tandus,” katanya, simultan menunjuk gugusan bukit mentah di kejauhan, nan mengingatkan saya pada pemandangan negeri para hobbit dalam komidi gambar The Lord of The Rings. Dentuman suara minor nada kencang yang berpunca berpokok alat angkut umum nan adv amat, mengagetkan saya. Enggak disangka, ternyata rapat persaudaraan semua angkutan awam bersaing-lomba memasang irama dan pengeras kritik dengan volume puas posisi paling kecil kencang!

Memasuki Desa Nita, wadah kediaman Karel, kendaraan bertambah sepi. Kronologi menyempit, dan flat  makin jarang. Mata saya terpaku pada satu dua taman bahagia yang berdiri di halaman kondominium. Menurut Karel, mereka sengaja menempatkan makam anggota tanggungan di halaman rumah agar merasa selalu dempet dengan kerabat nan sudah wafat.

Perjalanan 4 jam intern pesawat dari Jakarta, dan selingkung 45 menit perjalanan darat, mewujudkan perut saya serta merta berbunyi begitu mencium aroma sedap ki gua garba. Mata saya terbelalak takjub memandangi hamparan sajian sehat di atas balai aur di jerambah rumah Karel. Kepulan pesam sepiring nasi merah yang dicampur dengan kacang hijau, berpadu sedapnya aroma ikan kerapu bakar dan tuna kuah bersut yang disebut mage wair. Uniknya, iwak disajikan bersama dengan potongan avokad Maumere yang populer lezat itu. Rasanya ternyata klop, lho!

“Ini hasil dari tipar seorang. Di sini, beras merah lebih murah daripada beras suci karena kami tanam koteng,” tutur Karel, bangga. Ryan, seorang pemukim Maumere lain nan ikut bersantap, menambahkan, “Kami sahaja makan buah-buahan segar. Yang jatuh ke lahan, sudah jadi jatah hewan piaraan,” katanya berkelakar. Epang gawan! Semacam itu ia mengajari saya berkata terima kasih kerumahtanggaan bahasa Maumere, setelah selesai bersantap.

Megahnya Kesederhanaan

Lapangan itu tidak lalu luas. Di ujungnya, berdiri sebuah panggung yang pula tidak semacam itu besar. Tenda-tenda dari bambu dibangun di sekeliling lapangan. Warga pecah berbagai kabupaten di Flores sudah berdatangan di halaman Basilika Gereja St. Yoseph, Maumere, yang tepat berdiri di seberang pelan. Rukyat saya terhalang puas sekelompok penghuni yang datang dari Kabupaten Nagekeo, sekitar 300 km dari Maumere. Seorang ibu paruh baya yang mengenakan perca tenun ikat kelihatan kesulitan roboh dari truk nan anda tumpangi bersama sekitar 20 penumpang lain. Mereka akan menari sebelum misa akbar yang mengawali festival budaya bertajuk  Maumere in Love yang akan berlangsung seminggu.

Di ajang nan sama, 23 tahun lalu, sekitar 300.000 umat dari seluruh penjuru Flores berbondong-bondong datang bakal mengajuk misa akbar nan dibawakan pemimpin umat Katolik sedunia, Paderi Yohanes Paulus II. Almarhum Sri Paus berseregang bermalam di Maumere, meski momen itu ibu daerah tingkat Nusa Tenggara Timur ini belum memiliki hotel nan bisa dianggap cukup untuk menjabat tamu negara. Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret kemudian terpilih menjadi kancah bermalam. Bersama dengan Seminari Ledalero, kedua perguruan tinggi ini dikenal bagaikan ‘matahari intelektual dari Timur’ yang sudah menghasilkan banyak imam yang tersebar di beraneka rupa negara.

Agama nan bertunas berdekatan dengan sentuhan budaya domestik membuat misa di Maumere terasa lebih anggun dan sakral. Permintaan tenun pada jubah imam, alat-alat musik tradisional, menjadi ciri khas tersendiri. Seorang lelaki nan mengacau tubuhnya, berporos pada pinang sebatang bambu, menjadikan tarian Tuaiteleu dari Desa Watublapi, Kabupaten Sikka, paling menyita perhatian.

Saya meninggalkan keriuhan setelah matahari beranjak turun. Niat hati cak hendak mengintip pemandangan bawah laut dengan  snorkeling. Sayang, hujan turun begitu saya menyusuri Pantai Kajuwulu, di pesisir utara Kabupaten Sikka, tak sebatas sejam semenjak Kota Maumere. Jadilah saya harus puas hanya memandangi hamparan pantai berpasir putih nan  ramai dikunjungi keluarga dan anak-anak remaja tiap magrib itu.

Pesona bawah laut Maumere sudah lalu pulih pascatsunami musim 1992. Sehabis Alor, Maumere adalah lokasi diving favorit di NTT. Di sekitar Maumere, terdapat tiga lokasi favorit lakukan snorkeling dan diving: Sea World Club Resort, Ankermi Happy Dive Resort, dan Sao Wisata Diving Center.

Sea World dan Sao Pariwisata berlokasi di Tepi laut Waiara, 10 – 14 kilometer bermula Bandara Frans Seda dan rahasia Kota Maumere. Temporer Ankermi, nan paling direkomendasikan, terletak di Watumita, 29 kilometer berpangkal pokok kota. Dengan 20 dolar AS (±Rp200.000), Anda boleh  snorkeling dari Sea World ke Pulau Babi dengan satu kapal kebal minimum catur makhluk. Padahal untuk diving, dengan biaya 80 euro AS (±Rp800.000), tiap penyelam mendapat perabot dan makan siang. Sementara di Ankermi, satu kapal dengan minimal tiga individu, bertarif 35 euro (±Rp394.000) per orang buat diving.

Menelusuri Jejak Ki kenangan

Keesokan paginya, saya memilih mendamaikan diri dari gerombolan, menuju ke Desa Sikka, sekitar 25 kilometer dari pusat kota Maumere. Para mama (panggilan untuk ibu) yang menenun di halaman kondominium, anak-momongan yang bersenda gurauan saat berjalan kaki ke sekolah, menjadi pemandangan yang membuat senyum terkembang.

Di tengah perjalanan, mulai-tiba Ryan, yang ketika itu mendampingi saya, mengajak berkunjung ke sebuah kondominium. Di halaman bokong, kepulan asap menyeruak dari periuk tanah liat di atas tungku berbahan bakar batok kelapa. Koteng lelaki paruh baya dengan sigap memanjat pohon lontar untuk menyadap aren. Torehan itu kemudian dijerang di atas api dan disuling dengan hokah bambu. Hasil penyulingan itu tinggal dikemas dalam jambangan bikin dikonsumsi sendiri dan dijual. Masyarakat setempat menegur ciu tradisional ini dengan nama moke atau sopi.

Sebotol moke dalam paket jambang 600 ml dijual Rp20.000 – Rp25.000. Para petani, terutama lelaki, biasa mengirimkan moke seumpama bekal minum ketika berladang, sebagai halnya dengan para pengelana di pasar. Namun, moke dengan kualitas terbaik lazimnya tetapi disajikan pada akhir pekan dan program-acara aturan sebagai halnya makan besar pernikahan. Laksana ajudan suguhan terdepan, disajikan pula serasa dan maman yang biasa dikonsumsi para mama.

Tak heran, serasa dan pinang menjadi komoditas yang paling banyak diperdagangkan di pasar. Pedagangnya kembali mengunyah sirih bersama-sama berjualan. Pemandangan itulah yang saya lihat di  Pasar Geliting, yang terdapat di Kecamatan Kewapante, saat melanjutkan avontur ke Sikka. Di pasar yang konon berusia bertambah berasal 100 tahun ini, para wanita perdua baya berjual beli sambil mengenakan kain tenun gabung mereka. Di ki perspektif tak, anak-anak muda yang lagi kuak lapak tampak asyik mendengarkan musik dari headset, menunggu pembeli.

Kebanyakan hasil mayapada dijual masih dalam bentuk asli, sebagaimana umbi bentul bertakaran raksasa, dan biji kenari yang masih tersampul internal kulitnya yang keras. Perpaduan hiruk pikuk pasar, dengan latar laut dan gunung, menghasilkan pemandangan runyam yang menakjubkan.

Menjelang batang hari, kami sampai di Gereja Santo Ignatius Loyola, Sikka. Gereja ini menjadi saksi album masuknya agama Katolik di persil Flores. Basilika yang mulai dibangun tahun 1893 itu diresmikan oleh Pastor J. Engbers S.J. pada 24 Desember 1899. Cuma, ki kenangan dom di selokan tepi laut Laut Sawu ini bermula jauh sebelum itu.

Pada abad ke-15, Paduka tuan Sikka, Moang Lesu Liardira Wa Ngang, menjajah ke Selat Malaka. Di sana, engkau bertemu para misionaris Portugis, dan pula ke Sikka dengan label baptis Don Alexu Ximenes da Silva. Sejak itu, Sikka cak acap dikunjungi misionaris Portugis yang bertualang menyentuh Maumere. Periode 1617, pastor pertama ditempatkan di desa ini.

Biar gedung katedral ini bukanlah gereja yang didirikan da Silva,  berbagai leluri yang dimulai sejak abad ke-14 itu masih melanglang sebatas saat ini. Begitu juga tradisi Logu Senhor, prosesi menunduk di bawah salib, yang demap dilakukan menjelang hari raya Paskah. Misa tiap Minggu di Dom Sikka juga masih dilangsungkan dalam bahasa Latin. Makam dan juga kediaman Raja da Silva yang berupa rumah arena juga masih bisa dilihat di bagian birit gereja.

Selain Natal dan Paskah, rembulan Mei dan Oktober menjadi masa datangnya banyak wisatawan ke Maumere. Tak tetapi wisatawan Nusantara, tapi juga mancanegara. Dalam tradisi Katolik, dua bulan ini adalah masa cak bagi mendekatkan diri kepada Bunda Maria. Saat itulah, patung Bunda Maria Segala apa Bangsa ini riuh-rendah dikunjungi. Arca ini dapat dikunjungi dalam pertualangan dari Sikka ke Maumere.

Patung yang diresmikan puas bulan Mei 2005 itu dibangun di Jabal Nilo, Keling, Desa Wuliwutik, Kecamatan Nita, sekitar 10 kilometer dari Maumere. Patung selaras 28 meter tersebut disangga empat gawang nan bergendang motif tenun bebat Sikka. Di sekelilingnya terhampar tempat nan memadai luas bikin berdoa, lengkap dengan lilin.

Di malam hari, cahaya parafin dan lampu dari dasar patung menciptakan pemandangan yang menakjubkan. Saat siang, berpunca atas bukit ini, petandang boleh melihat indahnya Kota Maumere dari ketinggian 1.600 meter. Perjalanan kerjakan hingga di arca ini  butuh pertarungan menaiki lereng dengan kemiringan 45 derajat.

Keriaan kian memuncak momen saya kembali ke lapangan Katedral St. Yoseph, Maumere,. Lilin batik itu, tak ada perenggan antara penonton dengan penyaji atraksi. Karena tahu bahwa itu adalah hari terakhir saya di Maumere, beberapa anak asuh mulai dewasa mengerasi saya ikut berjoget di lapangan. Sekitar 50 orang menciptakan menjadikan lingkaran lautan, bergandengan tangan, menari sambil menyanyi diiringi musik berirama cepat. Aliran listrik nan sempat padam beberapa kali tak menyejukkan kesenangan.

Lagu tradisional Maumere, Gemu Fa Mihun Re masih terngiang di kepala momen deru turbin pesawat mulai mengalir cepat. Setelah menggudangkan kain kenang-kenangan dengan netra sembap, penumpang di sebelah saya, Pauline, berujar, “Mereka bilang, Indonesia menyingkir mereka jauh di belakang.” Saya tersentak. Detik ki beralih ke jendela, Flores tampak tinggal sebuah pulau boncel tertutup kabut di perdua hamparan samudra.
(f)






MORE ARTICLE


Kapan Beli Rumah

Memegang Janji Atasan

Source: https://www.femina.co.id/article/cinta-dari-tanah-maumere