Apakah cengkok dan kucing peliharaan Dia berdampak buruk bagi mileu?

Cat and dog eating together

Sumber gambar,

Getty Images

Keterangan gambar,

Intelektual memanggil memiliki cengkok alias meong dapat meningkatkan emisi asap apartemen beling.

Apakah binatang peliharaan Anda punya jejak kaki ekologis atau masuk berperan pada penurunan kualitas mileu?

Bilang tukang yakin jawabannya yaitu ya, terutama jika binatang peliharaan yang dimaksud adalah cigak atau meong.

Faktanya, menurut amatan yang dilakukan Robert dan Brenda Vale, pemeriksa keberlanjutan lingkungan di Universitas Victoria, Selandia Baru, seekor beruk setara dengan mobil SUV dalam konteks emisi gas rumah kaca.

“Ketek berukuran jasmani menengah menghasilkan emisi karbon dioksida rata-rata 4,233 kilogram pertahun,” alas kata Robert Vale kepada BBC.

“Itu makin samudra ketimbangan gabungan emisi CO2 nan dihasilkan Toyota Land Cruiser keluaran tahun 2022 di tengah kota dan jalur tol,” ujarnya merujuk informasi teknis yang dipublikasikan pembuat mobil Jepang tersebut.

Lewatkan Artikel-artikel yang direkomendasikan dan terus mengaji




Artikel-artikel yang direkomendasikan


Akhir berpunca Artikel-artikel yang direkomendasikan

  • Polemik cuti berkabung buat kematian hewan ternak
  • Leuser, jenggala buncit dan terbaik di Aceh nan terancam hilang
  • Seperti apa rasanya tinggal di negara palamarta lingkungan?

Hanya bagaimana ilmu mantik temuan itu?

Vale dan sejumlah akademisi menggarisbawahi sempurna makan dabat peliharaan, terutama mandu khalayak memproduksi pangan cak bagi dabat-hewan tersebut.

Sumber bentuk,

Getty Images

Pemberitahuan tulangtulangan,

Dalam konteks mileu, apakah seekor kera bermoral-benar seimbang mobil SUV?

Plong tahun 2007, Gregory Okin, guru besar geografi di Universitas California, menerbitkan jejak suku ekologis sato perliharaan di Amerika Perkongsian. Beragam survei mengasumsikan, momen ini terdapat 163 juta kucing dan beruk nan dipelihara di permukiman.

N domestik kalkulasi Okin, hidayah makanan pada satwa domestik itu menerbangkan 64 juta ton asap flat kaca ke atmosfer setiap tahun. Nilai itu separas nan dihasilkan 13 juta otomobil.

Penyebab fenomena itu ialah aktor utama di dalam setiap perdebatan tentang perubahan iklim: daging.

Coretan Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menunjukkan, sektor peternakan di seluruh dunia menyumbang 15% dari jumlah emisi asap rumah kaca.

Di jihat lain, penggunaan daging laksana panganan anjing atau kucing cukup lautan, menurut eksplorasi di AS. Okin mencontohkan, dua satwa ternak itu mengkonsumsi 25% daging yang disediakan peternakan di seluruh AS.

Sumber rancangan,

Getty Images

Wara-wara gambar,

Hewan ternak selama ini diketahui sebagai keseleo satu donor emisi asap apartemen kaca terbesar.

Lewati Podcast dan lanjutkan membaca

Podcast

Akhir dari Podcast

“Saya menyukai anjing dan kucing, dan saya tinggal tidak menyarankan masyarakat bikin melalaikan atau memaksakan ideal makan vegetarian kepada mereka,” kata Okin.

“Namun menurut saya kita perlu menimang-nimang seluruh dampak nan dihasilkan satwa peliharaan sehingga kita dapat berbicara valid tentangnya.”

“Binatang perliharaan membagi banyak dampak faktual, tapi mereka pula berefek besar bagi lingkungan,” ujar Okin.

Bahkan sejumlah ilmuwan yang bercekcok paham tentang jejak kaki ekologis fauna sudah menelurkan rekomendasi untuk pemilik maupun calon pemelihara binatang.

Kerumahtanggaan amatan sortiran semangat yang lampau berkontribusi plong pergantian iklim, bukan ditemukan bukti bahwa memelihara beruk berefek besar pada isu ini. Pengaturan justru ditimbulkan perilaku lainnya.

Temuan tersebut diutarakan Seth Wynes dari Universitas Lund, Swedia, dan Kimberley Nicholas berusul Perkumpulan British Columbia, AS.

Cak agar begitu, Wynes dan Nicholas menerimakan satu peringatan.

“Penelitian lebih lanjut terkait isu ini akan sangat bermanfaat. Sampai sekarang, kami yakin ketek yang bertakaran kerdil mempunyai jejak karbon yang lebih mungil dibandingkan monyet bertubuh raksasa,” catat dua cendekiawan itu.

Sumber tulang beragangan,

Getty Images

Keterangan rencana,

Ukuran sato peliharaan diyakini berpengaruh sreg jejak ekologis.

Robert dan Brenda Vale punya pendekatan yang lebih berkanjang, salah satunya tertuang kerumahtanggaan buku mereka nan terbit musim 2009, berjudul
Time to Eat the Dog: The Real Guide to Sustainable Living.

Mereka tentu tidak sopan-sopan menyarankan kita cak bagi menyantap daging beruk. Mereka sesungguhnya mendorong kita memilih hewan peliharaan yang dapat bersedekah sesuatu untuk persediaan makanan.

“Terwalak sejumlah kesahihan bahwa sekiranya kita membudidayakan hewan nan boleh dimakan, seperti ayam jantan yang menghasilkan telur dan daging atau kelinci serta babi, kita dapat mengambil kompensasi keberadaan mereka terhadap lingkungan,” kata Brenda Vale.

Sejumlah hari lalu, Brenda dan suaminya menunda pemerintah kota Wellington, ibu ii kabupaten Selandia Plonco, bakal melarang kepemilikan hewan peliharaan tradisional. Ide itu ditolak otoritas setempat.

Keduanya punya daftar hewan peliharaan yang disusun berdasarkan jejak ekologis, yaitu dampak aktivitas manusia nan diukur dari penggunaan air dan tanah berlambak untuk menghasilkan produk konsumsi serta kemampuannya menyerap limbah.

Daftar itu diukur internal ketengan hektare.

Sumber bagan,

Getty Images

Warta kerangka,

Kepemilikan hewan peliharaan terus meningkat di China.

Merujuk kajian Robert dan Brenda, kucing mempunyai jejak ekologis sebesar 0,15 hektare, sementara itu hamster sebesear 0,014 hektare. Memelihara dua satwa herbivora ini dianggap setara dengan memiliki satu televisi plasma.

Bagaimana dengan anjing? 0,84 hektare.

Di sisi lain, Greg Okin khawatir sreg meningkatnya tren kepemilikan fauna peliharaan, terutama di negara yang sebelumnya tidak mempunyai tendensi itu, seperti China.

Rang filsuf berbasis di Shanghai, China Pet Markert, menegur populasi binatang tempatan di negara itu meningkat dari 390 juta pada 2022 menjadi 509 juta musim 2022.

“Di negara berkembang, seiring penduduk yang semakin kemakmuran, mereka semakin buruk perut mengkonsumsi daging dan memiara binatang,” ucap Okin.

Sumur susuk,

Getty Images

Keterangan gambar,

Penjualan kas dapur hewan ternak hingga ke Rp1,3 triliun di seluruh bumi.

Industri penyedia panganan dabat peliharaan, yang penjualannya di seluruh dunia mencecah US$91 miliar (Rp1,3 triliun) musim 2022, sebagaimana dicatat Euromonitor International, ialah pemain kiat dalam perdebatan mengenai jejak ekologis ini.

Kepada BBC, Michael Bellingham, bimbingan utama Asosiasi Produsen Nafkah Hewan, menyatakan hal-hal kerjakan mempertahankan industrinya.

Adil daging

“Belakangan ini banyak pengetahuan enggak tepat tersapu jatah makan daging nan digunakan pabrik rezeki dabat,” pembukaan Bellingham.

“Industri kami menggunakan banyak produk sertaan yang cocok untuk konsumsi manusia, tapi ini bukan dimanfaatkan sama sekali atau bertahap sedikit, maka dari itu perakit kas dapur insan.”

“Pembentuk makanan hewan menggunakan material itu lakukan memberi nilai tambah padanya. Dengan demikian, mengurangi bilyet incaran tak terpakai, ketersediaan komoditas dan meminimalkan jejak karbonium.”

“Tak suka-suka hewan nan diternak khusus bagi industri makanan hewan,” ujar Bellingham.

Industri itu juga melihat bahan ki gua garba bebas daging laksana solusi jitu permasalahan ini. Eksperimen pemakaian protein alternatif seperti insek juga paruh dikaji.

Bagaimanapun, kata Robert Vale, “Dalam konteks keberlanjutan, jika Anda menginginkan hewan peliharaan, miliki yang berpola makan vegetarian tinimbang karnivora.”

“Seperti itu pula, takdirnya Sira ingin mempunyai hewan peliharaan, sebaiknya Anda enggak mempunyai anak,” kata ujarnya.