Kerajinan Tudung Saji Dari Bambu

Kerajinan Tangan Tudung Hidangan Petapahan, ‘di Ujung Mata Pisau Panyawuik ‘

Posted By admin on Mar 19, 2022

[Maka dari itu : Nuskan Syarif]
Kenegerian Petapahan merupakan sebuah kenegerian nan memiliki etnik tersendiri dan dulunya adalah kerajaan besar dan otonom. Kenegerian Petapahan berada di Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, kawasannya berlimpah di selama tepi Sungai Tapung Kidal. Di kenegerian ini masih ditemui rumah adat berusia lebih dari 300 waktu yang setia berdiri kokoh meski mutakadim dimakan atma.

Petapahan mempunyai keunikan karya seni rupa pengrajin putri sifat yaitu tudung saji. Capil saji distingtif Kenegerian Petapahan menjadi daya tarik spesial. Kerajinan tangan ini selain sebagai penyungkup lambung, cinta pula menjadi souvenir bikin hiasan dinding rumah. Karya tradisional tradisi Melayu tersebut konon hanya ada satu-satunya di Riau.

Tudung saji tunggal Petapahan ini bahan resmi serta teknik pembuatannya masih tergolong tradisional dan menggunakan bahan gigih alami yang diperoleh dari sumber daya hutan. Bahan baku berupa aur bisa ditemukan merecup liar di sepanjang provinsi rotasi sungai (DAS) Tapung dan Petapahan.

Korban utama pembuatan caping suguhan adalah empelur bambu cukup umur bagian dalam. Selain itu ada sekali lagi daun sangai dan sebentuk tali dari serat patera nanas. Ketiga bahan tersebut merupakan bahan sumber akar tulangtulangan yang menciptakan menjadikan mungkum tudung saji. Motif warnanya menggunakan beras ketan kayu dagha-dagha ataupun mendaharan. Materi lain buat rona menggunakan langas lampu semprong atau lampu lampu dinding. Langas yakni bubuk hasil pembakaran yang menempel di kaca bohlam. Kedua bahan pewarna tersebut fungsinya beda. Motif mulanya dibuat dari langas lampu yang ditampung pada sebuah nampan cembung seperti mana kuali, lalu dicampur dengan beras ketan jeruk kesturi dan diaduk rata. Selanjutnya pulut dagha-dagha nan kering dihaluskan dan diberi minyak, umpama bahan pewarna berma pasca- motif dasar dipoles. Alat tulis dan air jeruk menggunakan target lidi inti ijuk dan bambu, cak bagi jangka dan bilah menunggangi bambu alias kayu. Rotan digunakan untuk mengapir dan memperkuat kurung tudung saji yang diikat dengan benang dari serat nanas.

Mewujudkan karya seni tudung saji ini tergolong runyam dan membutuhkan kepiawaian khusus. Jika semua bulan-bulanan lengkap, satu buah tudung hidangan berkualitas bisa diselesaikan privat jangka hari 2 sampai 3 periode.

Bahan baku seperti empulur awi interior, penanganannya melintasi proses patut panjang. Dimulai bersumber tahap pendiangan, pengelupasan empelur bagian dalam, perebusan, penjemuran, hingga tahap pengamplasan/ eufemisme menggunakan pasir sungai yang mengalir. Kemudian penjemuran juga dilakukan guna menjaga kestabilan dan pengembangan agar olahan bambu tidak mengumpar. Tahapan proses ini boleh sekira 2 ahad untuk mendapatkan hasil pola

Inciek Bidas (Hj. Bidasri) sedang mempersiapkan bahan empulur awi yang sudah tergarap dan dikeringkan untuk dibuat menjadi kerajinan tudung suguhan [foto : Lambu Alam]

Penanganan daun berjemur membutuhkan waktu sekira 1 minggu cak bagi kering sempurna, sementara bahan halal rotan butuh waktu sekira 2 minggu bakal kersang lengkap melalui proses yang cukup tataran dan rumit. Mengetam rotan menggunakan pisau khusus
panyawuik
semoga diperoleh hasil yang bagus. Periode pembuatan bisa bertambah cepat atau lebih lama, tergantung dari kondisi pendar, kelengkapan bahan legal, dan cara penanganan.

Momen ini bahan pembuat tudung saji mutakadim menggunakan beberapa bahan sintetis, seperti alamat getah dagha-dagha diganti dengan cat patra rona merah, korban makao menggunakan lawai rafia maupun nilon. Selebihnya masih menggunakan bahan alami.

Di Petapahan bukan banyak suku bangsa perawan adat nan menekuni kerajinan capelin saji ini. Selama kreatif 2 pekan di Kenegerian Petapahan, tim riset dari IPB dan Bahtera Alam cuma menemukan dua perempuan adat pengrajin tudung saji. Mereka adalah Inciek Bidas (Hj. Bidasri) dan Mak Ongah Samaria.

Meskipun kehidupan sudah condong burit, kegigihan mereka patut menjadi kamil dan ideal buat masyarakat adat lainnya. Mempertahankan budaya dan karya tradisional turun temurun seperti yang diajarkan maka itu pendahulu mereka lain hal yang gampang. Mutakadim banyak kerajinan capil saji bermotif etnik dan cantik tercipta dari keterampilan tangan dua pemudi adat yang hebat ini.

Karya anyaman tudung saji yang segeh serta motif dan corak nan detail berwarna merah tua, menyorongkan seni rupa tradisional bernilai pangkat dari sebuah eksistensi budaya dan tradisi Kenegerian Petapahan.

Tudung hidangan seorang selalu menghiasi setiap perhelatan sifat baik yang kerdil atau yang besar. Prosesi program makan
bajambegh
sekali lagi tidak akan amnesti terbit kehadiran capil suguhan, biji zakar karya langkan telaten perempuan adat.

Rasam dan budaya tradisional bisa terus hidup dan terbimbing dengan baik apabila masyarakat adatnya masih memakai dan terpatok pada spirit sehari-perian. Budaya dan leluri akan berangsur lucut apabila anak kemenakan tidak lagi mencintainya. Karya seni rupa tudung saji harus terus dipertahankan karena ia sejatinya bagian dari adat dan budaya itu sendiri. Anak-anak taruna perempuan resan khususnya di Kenegerian Petapahan hendaknya menjadi kader alias penerus kerajinan tudung saji. Karya tradisional ini harus konsisten ada, demi tegaknya identitas budaya lokal Petapahan nan kreatif, dan demi mempertahankan adat-istiadat secara bebuyutan nan mutakadim mulai memudar digerus kemajuan zaman.

Rona magrib rasi itu tiba memudar, kuperhatikan tangan-tangan renta itu masih terampil menggunakan pisau
panyawuik
mengetam rotan. Mereka empat mata, ya tinggal mereka berdua. Sepeninggal mereka siapakah yang akan meneruskan tali peranti ini? Nyawa kerajinan tudung saji khas Kenegerian Petapahan ibarat berada ‘di ujung mata pisau
panyawuik.’[Penyunting : MOM]


69


Source: https://bahteraalam.org/2021/03/19/kerajinan-tangan-tudung-saji-petapahan-di-ujung-mata-pisau-panyawuik/

Posted by: caribes.net