Kh Lukman Hakim Cahaya Sufi

islamindonesia.id
– Tafsir Sufi Surat Al-Kafirun Menurut KH Luqman Juri

Direktur Sufi Center KH M. Luqman Hakim menjelaskan adverbia Dokumen Al-Kafirun privat perspektif sufi. Hal ini untuk menyerahkan pemahaman bahwa perilaku dahriah kembali harus menjadi gambaran diri setiap Muslim, bukan justru buat memperhatikan sosok lain.

Kiai Luqman tidak memungkiri bahwa banyak pembukaan “Kafirun” dan “Musyrikun” di kerumahtanggaan Alquran. Belaka hal itu kerjakan tahapan teologis, bukan puas tahapan Kewarganegaraan. Bahkan konsep Tata Negara dalam Alquran tak ada.

“Apalagi menyebut Negara Islam. Lebih lagi inilah universalitasnya Islam yang membagi urat kayu tamadun secara kreatif dinamis,” ujar Kiai Luqman sebagaimana dikutip dariNU Online.

N domestik konteks sukma bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, kelompok yang ikut kategori dahriah internal tataran teologis, memadai sebut mereka seumpama warga negara non-Orang islam. Kejadian ini menurut Bapak Luqman sesekali tidak mengubah sebutan kafir di dalam Al-Qur’an menjadi non-Muslim.

“Tidak boleh diganti (sebutan kafir intern Al-Qur’an),” tegas Pengampu Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor, Jawa Barat itu.

Karena definisi dahriah itu apa? Jikalau Allah memanggil,“Katakan, hai orang-orang kafir…” Ayat itu, menurut Kiai Luqman, kembali bermakna kekafiran hati manusia yang selama ini menyembah temperatur nafsu, marcapada, dan bani adam.

Sebab itu, Kiai Luqman mengungkapkan tafsir sufi mulai sejak Surat Al-Kafirun kerjakan menjadi cerminan bikin setiap Mukmin, umpama berikut:

Tafsir Sufi Al-Kafirun 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

قُلْ يٰٓاَيُّهَا الْكٰفِرُوْنَۙ

Tafsir: Katakan, aduhai anak adam-orang yang hatinya kufur karena terhijab dari Allah, hingga matahatinya buta, lalu hanya memihak hawa nafsu, setan, dunia, dan segala hal selain Yang mahakuasa.

Tafsir Sufi Al-Kafirun 2

لَآ اَعْبُدُ مَا تَعْبُدُوْنَۙ

Tafsir: Aku tidak menyembahmu, karena yang ia sembah bukanlah Tuhan. Sekadar ilusi adapun Halikuljabbar, atas nama Tuhan, sehingga jadi berhala-berhala keremangan. Aku ialah Qalbu yang kemilau Nur-Nya, tak cak hendak memihak gairah nafsumu lega kegelapan.

Tafsir Sufi Al-Kafirun 3

وَلَآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُۚ

Tafsir: Ia kembali lain akan asosiasi menuhankan apa yang aku sembah, karena seandainya dirimu memasuki Cahaya-Nya, akan terbakar dalam hukuman hijab di neraka kegelapanmu. Akulah dilimpahi Pendar hingga bersambung dengan-Nya. Kamu bukan.

Tafsir Sufi Al-Kafirun 4

وَلَآ اَنَا۠ عَابِدٌ مَّا عَبَدْتُّمْۙ

Tafsir: Dan aku tidak menyembah dalam perbudakan nafsumu sama dengan perbudakanmu. Mustahil aku menyembah lega yang sepatutnya ada tak ada. Ilusimu hijab yang memblokir dirimu, sebatas gambaran kau sembah bak kenyataan.

Tafsir Sufi Al-Kafirun 5

وَلَآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُۗ

Tafsir: Sira dengan segala bidah kegelapanmu jangan pernah mengklaim telah menyembah segala yang aku sembah. Jangan lihat Panah-Ku dengan mata liar tertutupmu.

Tafsir Sufi Al-Kafirun 6

لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ

Kata keterangan: Bagimu agamamu nan memperbudak dirimu dalam hukuman hijab, dengan kesesatan hawa nafsumu. Dan bagiku agamaku dengan limpahan Cerah Ridho, Fadhal dan Rahmat-Nya, sehingga aku menyembah-Nya, Berpangkal-Nya, Kepada-Nya, Bersama-Nya, Bagi-Nya.

“Adverbia Sufi Al-Kafirun di atas lakukan mendidik hawa nafsu kita koteng. Bukan mengupas turunan lain. Tengoklah diri kita sendiri isinya doangfull kegelapan (Robbanaa dzolamnaa anfusana). Segala apa yang kita sombongkan? Banggakan? Andalkan?” tandas Kiai Luqman.

PH/IslamIndonesia/Mata air: NU Online/Fathoni

Source: https://islamindonesia.id/kajian/tafsir-sufi-surat-al-kafirun-menurut-kh-luqman-hakim.htm

Posted by: caribes.net