Khalifah Dalam Bahasa Arab Artinya

Khalifah
(bahasa Arab:
خَليفة‎;
khalīfah) ada dua definisi yaitu gelar makhluk yang akan diciptakan Allah di bumi, yaitu Manusia, untuk mengaplus makhluk yang cak semau sebelumnya. Definisi kedua adalah gelar yang diberikan lakukan penerus Nabi Muhammad dalam kepemimpinan umat Islam. Kewedanan kewenangan khalifah disebut
kekhalifahan
atau
Khilafah
(bahasa Arab:
خِلافة‎;
khilāfah). Gelar lain yang sekali lagi terpatok dengan khalifah adalah
amīr al-mu’minīn
(أمير المؤمنين) Amirul Mukminin atau “atasan orang-basyar yang beriman yang sudah dibaiat dengan syariat Kitabillah wa Sunnah”, meski plong keberjalanannya, gelar ini juga disandang maka itu penasihat Muslim selain khalifah.

Selama sejarahnya, peran khalifah dan bentuk kekhalifahan memiliki beragam dandan yang sangat dipengaruhi keadaan kebijakan dan religiositas pada perian tersebut. Dilihat berasal latar pinggul khalifah, kekhalifahan dibagi ke dalam empat periode: Kekhalifahan Rasyidin (632–661), Kekhalifahan Umayyah (661–750), Kekhalifahan Abbasiyah (750–1258 dan 1261–1517), dan Kekhalifahan Utsmaniyah (1517–1924).

Kekhalifahan dimulai seiring dibaiatnya Abu Bakar sebagai bos umat Islam tepat pasca- meninggalnya Nabi Muhammad pada tahun 632. Abu Bakar dan tiga penerusnya, semuanya sahabat Utusan tuhan dan memiliki asosiasi kekerabatan dengan Rasul Muhammad, dikelompokkan sebagai
Khulafaur Rasyidin
maupun Kekhalifahan Rasyidin. Penyortiran keempat khalifah pertama ini didasarkan melalui musyawarah dan kelajuan pribadi calon sehingga Kekhalifahan Rasyidin gegares dipandang sebagai bentuk semula demokrasi Islam.

Pasca- perang sipil mula-mula di penghujung masa Kekhalifahan Rasyidin, Hasan kedelai ‘Ali menyerahkan tampuk otoritas kepada Mu’awiyah nan kemudian memungkirkan bentuk kekhalifahan menjadi monarki-dinasti, men dimulainya periode Kekhalifahan Umayyah. Berpusat di Damaskus, Bani Umayyah menyandang tampuk kekhalifahan sepanjang hampir seera sebelum karenanya digulingkan kelompok Abbasiyah nan mendirikan kekhalifahan-dinasti mereka sendiri mulai musim 750. Farik dengan tahun Khulafaur Rasyidin atau Umayyah, khalifah puas masa Abbasiyah lain juga memimpin secara langsung seluruh wilayah dunia Islam dan wilayah kekuasaannya hanya berkisar di area Mesopotamia. Beberapa kepala negara Muslim (bergelar amir maupun baginda) memimpin wilayah dominasi mereka secara mandiri tanpa campur tangan khalifah. Meski begitu, khalifah tetap dipandang laksana pemimpin dunia Selam secara keseluruhan dan presiden Mukmin nan lain memasrahkan ketundukkan mereka secara konotatif kepada khalifah. Berlainan dengan Umayyah yang habis bercorak Arab, Abbasiyah yang berfokus di kawasan Mesopotamia menyerahkan corak Persia yang kental pada kekhalifahan.

Guna khalifah sebagai kepala negara lenyap seiring jatuhnya Baghdad oleh Mongol pada 1258. Keturunan Abbasiyah yang tersisa meneruskan tampuk kekhalifahan di Mesir yang saat itu di radiks kekuasaan Sultanat Mamluk. Tanpa wilayah kekuasaan dan kurnia politik nan layak, khalifah sekadar bertindak sebagai pemersatu umat Islam secara simbolis sehingga khalifah pada perian ini dikenal misal “khalifah bayangan.”

Selepas Kesultanan Mamluk ditaklukkan maka dari itu Kesultanan Utsmani pada 1517, pemimpin Utsmani mengambil gelar khalifah bagi mereka sendiri. Gelar khalifah minus sekadar sebagai pemimpin simbolis marcapada Islam setelah 1258 dan situasi itu tetap tidak berubah pada masa Utsmani. Para penguasa Utsmani memiliki kekuasaan karena kedudukan mereka sebagai sultan dan
padisyah
(kaisar), enggak karena pamor mereka sebagai khalifah. Pada praktiknya, para penguasa Utsmani terbilang sangat jarang menggunakan gelar khalifah (pejabat umat Islam) mereka dalam perpolitikan dalam dan asing negeri dan bertambah sering menggunakan status mereka bak sultan dan
padisyah
(presiden Utsmani). Gelar khalifah start digunakan penguasa Utsmani pron bila Perjanjian Küçük Kaynarca, untuk menekankan kedudukannya sebagai pelindung umat Islam di Rusia. Yang dipertuan Abdul Hamid II merupakan penguasa Utsmani yang paling sering menggunakan gelar khalifah dalam upayanya menggalang persatuan di marcapada Islam untuk menghadapi imperialisme Barat.

Plong November 1922, Majelis Agung Nasional Turki membubarkan Kesultanan Utsmani dan sultan terakhirnya, Mehmed VI, diasingkan ke Malta. Meski begitu, Mustafa Kemal (Atatürk) belum dakar membubarkan kekhalifahan demi menjaga dukungan umum, pun karena kekhalifahan merupakan lambang pemersatu umat Islam Sunni seluruh mayapada, berbeda dengan Kesultanan Utsmani yang merupakan sebatas negara. Majelis Agung Nasional Turki kemudian mengangkat sepupu Mehmed VI sebagai Khalifah Abdul Mejid II lega 19 November 1922. Abdul Mejid II yaitu suatu-satunya khalifah bersumber Wangsa Utsmani yang lain merangkap sebagai kaisar. Sahaja karena khawatir Abdul Mejid II akan menggunakan statusnya sebagai khalifah untuk intrusi dalam urusan dalam dan asing kewedanan Turki seperti mana yang dilakukan para Sultan Utsmani penting, Majelis Agung Nasional Turki akhirnya membubarkan kekhalifahan pada 3 Maret 1924, menjadikan Abdul Mejid II sebagai khalifah terakhir. Negara-negara Mukminat mempertanyakan keabsahan pembubaran kekhalifahan oleh pihak Turki dan terletak beberapa pertemuan para motor Muslim tersapu keberlangsungan kekhalifahan, tetapi tidak ada kesatuan hati bersama yang dapat dicapai.

Khalifah berbeda dengan sunan. Bila khalifah merupakan majikan seluruh umat Islam (baik secara hierarkis atau saja hanya figuratif), sinuhun merupakan kepala dari suatu negara Mukmin tertentu dan enggak pejabat umat Muslim secara keseluruhan. Kedua gelar ini kerap disamakan pada perian-waktu sekarang, sangat siapa lantaran penguasa Utsmani (negara adidaya Muslim terakhir pada milenium kedua) memegang kedua gelar ini secara bersamaan. Penguasa Utsmani adalah seorang sultan dalam kapasitasnya sebagai kepala negara Utsmaniyah dan sebagai khalifah privat artian bos simbolis seluruh umat Islam.

Etimologi

[sunting
|
sunting mata air]

Kata “khalifah” (bahasa Arab:
خَليفة‎;
khalīfah) bermakna “penerus” atau “kantor cabang.” Kerumahtanggaan Al-Qur’an disebutkan,

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu bersabda kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi.'”

“Aduhai Dawud, sesungguhnya engkau Kami jadikan khalifah di bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah sira mengikuti hawa nafsu, karena akan mempermainkan engkau dari jalan Allah.”

Privat konteks khas, khalifah yakni pengganti atau penerus Utusan tuhan Muhammad sebagai pemimpin umat Islam. Kepemimpinan umat ini memiliki ukuran duniawi dan agama, sehingga lega dasarnya, khalifah ialah pembesar dan penatar umat Selam intern urusan administratif kenegaraan ataupun etik dan agama. Secara tradisi, khalifah sendiri yakni abreviasi dari
Khalīfat Rasūl Allāh
(penerus utusan Almalik).

Khalifah juga dapat dimaknai seumpama kewenangan nan diberikan makanya Sang pencipta kepada manusia cak bagi menggapil alam buat keperluan hidupnya. Wewenang ini diberikan dengan adanya batasan atas bagasi-jawab nan baik dan tidak berlebihan. Bekal nan diberikan oleh Allah kepada manusia cak bagi memenuhi peran ini adalah akal. Keberadaan akal membuat manusia bisa mengamalkan pengamatan terhadap pataka seberinda. Dengan perannya ini, bani adam diberi barang bawaan jawab lakukan memakmurkan alam sehingga tercipta keseimbangan antara pan-ji-panji dan kehidupan cucu adam. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an lega Surah Luqman ayat 20. Ayat ini menjelaskan bahwa Yang mahakuasa telah mengatur langit dan Bumi hendaknya sesuai dengan kebutuhan hidup insan secara sempurna. Ini dijadikan olehNya sebagai tanda-tanda kekuasaanNya. Sedangkan peran manusia sebagai pemakmur Bumi ditetapkan makanya Allah pada Surah Hud ayat 61. Ayat ini juga mengaitkan peran manusia sebagai pemakmur Bumi dan penciptaan manusia berpunca tanah.[1]

Khalifah utama

[sunting
|
sunting sumber]

Khulafaur Rasyidin

[sunting
|
sunting sumber]

Segera pasca- Rasul Muhammad wafat pada 632, Abu Bakar dibaiat laksana pengarah umat Islam di Masjid Nabawi. Dikenal dengan sebutan
Ash-Shiddiq
(bahasa Arab:
اَلـصِّـدِّيْـق‎, “Tepercaya”), Duli Bakar terdaftar salah satu pemeluk Islam mulanya dan melangkahi putrinya, ‘Aisyah, beliau pun merupakan mertua Nabi. Masa kekuasaannya yang sumir dikerahkan kerjakan menumpas bantahan dari bineka suku Arab yang merasa tidak punya tanggung jawab kepatuhan lagi pada pihak Madinah sepeninggal Nabi Muhammad.[2]
Abuk Bakar lalu menjaga agar kebijakan nan beliau ambil tidak berlainan dengan Nabi Muhammad.

Setelah Duli Bakar wafat pada 634 dengan meninggalkan kejadian kekhalifahan yang tiba stabil, ‘Umar bin Khattab dibaiat sebagai khalifah kedua. Sebagaimana Duli Bakar, ‘Umar juga yaitu ayah mertua Nabi melalui Hafshah. Di masanya, ‘Umar melakukan majemuk renovasi dan perluasan. Pasta batas kekhalifahan meluas keluar dari jazirah Arabia, mengakhiri riwayat Kekaisaran Sasaniyah dan mengambil alih dua pertiga wilayah Kekaisaran Romawi Timur.[3]
Segala capaiannya menjadikan ‘Umar sebagai keseleo satu khalifah paling berwibawa sepanjang memori.[4]

Daerah Kekhalifahan Rasyidin lega masa yuridiksi ‘Utsman bin ‘Affan

‘Utsman bin ‘Affan menyinambungkan tampuk kekhalifahan sepeninggal ‘Umar dan berbeda dengan pendahulunya, ‘Utsman lebih mengasihkan kontrol otonomi yang lebih longgar puas bawahannya. Hal ini menjadikan perluasan wilayah kekhalifahan bisa dilangsungkan secara lebih mandiri, sehingga boleh mencecah distrik yang lebih jauh. Puas masanya, kekhalifahan sudah lalu mencecah sebagian wilayah Khorasan Raya (kawasan Asia Perdua) di senggat timur.[5]
Di masanya, masyarakat menjadi lebih mewah internal masalah ekonomi dan menikmati kebebasan yang lebih besar di bidang politik. Namun ‘Utsman juga dikritik karena makin menggesakan batih besarnya cak bagi mengisi heterogen takhta penting, menjadikan munculnya gelombang listrik protes besar-total yang berujung pada pengepungan rumahnya lega waktu 656. ‘Utsman nan lain mau menjadi penyebab perang saudara menolak pertolongan militer dari kerabat dan pihak tidak, menjadikannya terbunuh di penutup pengepungan.[6]

‘Ali mewarisi singgasana khalifah setelahnya. Masa kekuasaannya yakni salah suatu periode-musim tersulit privat sejarah Islam lantaran lega saat inilah terjadi perang saudara Islam permulaan yang berawal dari terbunuhnya ‘Utsman. ‘Ali dibunuh kelompok Khawarij[7]
[8]
[9]
dan putranya, Hasan, diangkat menjadi khalifah berikutnya pada 661. Doang beberapa bulan setelahnya, Hasan menyerahkan tampuk kekhalifahan kepada Mu’awiyah[10]
[11]
demi memencilkan perang sipil seterusnya.[12]

Di provinsi yang dulu dikuasai Kekaisaran Sasaniyah dan Romawi, khalifah mengedrop pajak dan memberikan kesurutan otonomi melangkahi gubernur pilihan mereka. Berkebalikan dengan Romawi, khalifah memberikan independensi beragama yang lebih luas dan memberikan awam non-Muslim hak kemandirian bagi mengeset urusan mereka sendiri. Segala garis haluan ini menyanggang budi pekerti dan pendamping masyarakat yang selama ini terbebani dengan fiskal tinggi dan segala kekacauan yang diakibatkan Perang Romawi-Persia nan bersaf-saf.[13]

Majuh dipandang bagaikan gambar abstrak kekhalifahan oleh banyak umat Islam, khalifah sreg hari ini memegang peran sebagai pemimpin umat Islam dalam urusan mayapada dan agama. Tidak doang internal urusan kenegaraan, para khalifah juga merupakan pengambil keputusan dalam berbagai urusan yang berkaitan dengan ibadah. Kekhalifahan koteng menentang kasatmata negara ketunggalan pada masa ini dan para gubernur secara hierarkis congah di bawah khalifah.

Wangsa Umayyah

[sunting
|
sunting sumber]

Setelah Hasan kacang ‘Ali turun takhta pada 661, Mu’awiyah berkuasa sebagai khalifah. Penetapan putranya sebagai putra mahkota membuat bagan kekhalifahan berubah menjadi monarki dinasti yang kedudukan kepala negaranya diwariskan hanya di antara anak bini besar penguasa sebelumnya, dan dari sinilah Wangsa Umayyah lahir.[14]
Secara silsilah, khalifah pecah Wangsa Umayyah terbagi menjadi dua:

  • Kelompok Sufyani, yaitu yang merupakan zuriat berusul Serbuk Sufyan bin Harb. Ada tiga orang khalifah yang berpunca dari garis Sufyani.
  • Kelompok Marwani, merujuk kepada Marwan bin al-Hakam dan keturunannya. Terserah sebelas hamba allah khalifah yang berusul semenjak garis Marwani.

Serdak Sufyan dan Al-Hakam (ayah Marwan) ialah cucu dari Umayyah kacang ‘Abd asy-Syams dan bermula sini nama Bani Umayyah ditetapkan.

Daerah kekhalifahan sreg masa Bani Umayyah, 750

Wangsa Umayyah meneruskan perluasan wilayah kekhalifahan, meliputi daerah Transoxiana, Sindh, Arab Maghrib, dan Al-Andalusia, menjadikan kekhalifahan momen itu sebagai salah satu kerajaan terbesar di dunia yang pergaulan ada, baik berusul segi luas wilayah atau populasi, dengan luas mencakup 11,100,000 km2
dengan penduduk selingkung 33 juta spirit.[15]

Sreg waktu Umayyah, bahasa Arab ditetapkan ibarat bahasa baku dari kekhalifahan yang terdiri berpokok penduduk multi-etnis tersebut. Perpindahan agama lautan-besaran menjadi mualaf juga terjadi pada masa Umayyah. Pembangunan banyak bangunan Mukmin bersejarah juga dibangun plong saat ini, sebagai halnya Kubah Shakhrah di kompleks Masjid Al Aqsha dan Masjid Agung Umayyah.[16]
Umayyah juga menyerahkan kebebasan beragama plong umat non-Muslim dan sungguhpun mereka bukan bisa menempati hierarki teratas lembaga-lembaga penting, banyak yang menjadi pejabat tinggi di rezim, menjadikan sebagian kalangan Muslim menilai bahwa Wangsa Umayyah terlalu sekuler.[17]
Umayyah pula mampu menyerap dan menghidupkan berbagai tamadun kalis berasal bangsa-bangsa yang sudah lalu terkonsentrasi dalam naungan kekhalifahan, riuk satunya tercermin dari arsitektur.[18]
Musala Agung Umayyah sebelumnya merupakan gereja Masehi nan dipersembahkan untuk Yohanes Pembaptis (Yahya dalam Islam) nan awalnya merupakan kuil Romawi cak bagi pengagungan Dewa Yupiter.[19]
[20]

Terlepas dari segala apa capaiannya, Umayyah dikritik karena sangat menganakemaskan Muslim Arab dibandingkan Mukminat dari etnis lain yang jumlahnya semakin besar. Genosida Husain dalam Pertempuran Karbala pada 680 oleh pihak Umayyah menjadikan perceraian antara Sunni dan Syiah semakin maujud.[21]
Perang saudara kembali melanda kekhalifahan mulai tahun 744, menjadikan kekangan Wangsa Umayyah atas negara melemah. Gelombang listrik non-Arab yang menjadi mualaf juga mengubah keadaan dalam negeri kekhalifahan karena banyak berpunca mereka yang bertambah terdidik berusul bangsa Arab sendiri, sehingga meniadakan keadaan politik kerumahtanggaan kekhalifahan.[22]
Pada akhirnya, pendukung Bani Hasyim dan garis keturunan ‘Ali berbuah meruntuhkan kontrol Umayyah sreg 750. Banyak anggota Wangsa Umayyah yang dibunuh setelahnya, di antaranya adalah Marwan kacang Muhammad yang merupakan khalifah bontot bermula Wangsa Umayyah di Syam. Di antara anggota Wangsa Umayyah yang selamat adalah ‘Abdurrahman ad-Dakhil yang mengungsi ke Al-Andalus dan berkuasa di sana.

Pada masa Umayyah, format keagamaan dalam gelar khalifah meredup seiring menurunnya akhlak dan keimanan dari sebagian khalifah. Ibnu Katsir mengistilahkan kepribadian Khalifah Yazid nan suka mabuk-mabukan.[23]
Dari semua khalifah dari Wangsa Umayyah, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz dikenal nan paling saleh dan kerap dipandang misal
khulafaur rasyidin
kelima. Meski semacam itu, peran khalifah sebagai ketua negara dari seluruh dunia Islam masih terjaga.

Wangsa Abbasyiah

[sunting
|
sunting mata air]

Wilayah kekhalifahan puas tahun Bani Abbasiyah, sekitar 892. Warna hijau bawah tangan merupakan kawasan nan secara serentak dikuasai khalifah.

Wangsa Abbasiyah memegang tampuk kekhalifahan setelah kekuasaan Umayyah di Syam runtuh pada 750. Keluarga samudra ini yakni keturunan dari ‘Abbas bin ‘Abdul Muthalib, om Nabi Muhammad. Berpusat di kawasan Mesopotamia, Abbasiyah mengadopsi secara habis-habisan kultur Persia ke kerumahtanggaan awak kekhalifahan.[24]

Pada keberjalanannya, daerah kekuasaan khalifah plong masa Abbasiyah perlahan semakin menciut hingga semata-mata di sekitar Mesopotamia. Banyak pihak mendirikan dinasti mereka seorang dan mengendalikan satu bagian dari dunia Islam seperti Wangsa Idrisiyyah yang tanggulang Maroko, Aghlabiyyah nan memerintah di Ifriqiya, Dinasti Thuluniyah di Mesir dan Palestina, Anak laki-laki Buwaih di Iran, Dinasti Samaniyah di Transoxiana, dan Seljuk yang menyelesaikan wilayah yang lewat luas di daerah Timur Paruh, Kaukasus, dan Asia Paruh. Sebagian dari penguasa dinasti ini menunggangi gelar amir atau justru
syahansyah
(pangeran diraja), gelar penguasa Persia pra-Islam. Plong tahun ini mulai muncul gelar sultan yang berangkat digunakan bagi superior negara Mukmin dan tiba menggeser pendayagunaan gelar amir. Biar banyak dari dinasti yunior ini mengendalikan negeri yang jauh lebih luas bermula khalifah koteng dan memerintah secara mandiri tanpa campur tangan khalifah, tetapi para amir dan sultan ini taat mengakui kemandirian khalifah atas mereka secara simbolis dan khalifah tetap dipandang sebagai pemimpin dunia Selam secara keseluruhan.

Pesuluh di taman pustaka Abbasiyah Baghdad. Ilustrasi oleh Yahyá al-Wasiti, 1237.

Salah suatu keadaan paling menonjol pada masa dominasi Abbasiyah adalah dukungan segara mereka pada aji-aji pengetahuan, salah satunya adalah pembangunan Baitul Hikmah, tempat penerjemahan, reklamasi, penyatuan, dan ekspansi aji-aji dari kebudayaan Romawi kuno, Tiongkok, Persia, India, Mesir, Afrika Paksina, Yunani, dan Romawi Timur. Tidak saja menjadi jantung kekuasaan dan pemerintahan, Baghdad, dan mayapada Selam secara umum, lagi menjelma menjadi kunci mantra pengetahuan, metafisika, pendidikan, dan kesehatan lega musim nan dikenal dengan zaman keemasan Islam.[25]
Pada berbagai rataan – ilmu hitung, astronomi, alkimia, kedokteran, optik, dan sebagainya – sarjana kekhalifahan berlambak pada garda terdepan dalam kejayaan guna-guna pengetahuan lega masa itu.[26]
Bukan hanya Muslim, jauhari dari kalangan non-Mukminat juga turut menjatah sumbangsih besar lega jalan ini.

Sastra dan literatur juga menjadi salah satu perhatian plong kini. Riuk satu fiksi dari dunia Islam nan terkenal hingga ketika ini, Sewu Satu Malam, nan merupakan kumpulan hikayat dan legenda, utamanya dikumpulkan pada perian Abbasiyah. Epik ini diyakini mulai terbentuk pada abad kesepuluh dan sampai ke bentuk karenanya lega abad keempat belas, besaran dan spesies ceritanya berbeda-tikai antara satu manuskrip dengan nan lain.[27]
Syair Arab juga hingga ke puncaknya pada perian ini. Keseleo satu syair terkenal intern komplikasi percintaan merupakan Layla dan Majnun.[28]
Berlainan pada waktu kekhalifahan sebelumnya, peran dayang dalam sunyi publik meremang di zaman Abbasiyah.[29]
Budaya Persia pra-Islam, utamanya di kalangan atas, sangat pilih-pilih dalam berbuat penceraian bumi maskulin dan perempuan. Putri lingkaran atas hidup dipingit kerumahtanggaan harem ibarat lambang kegadisan dan tingginya status sosial keluarga yang bersangkutan.[30]
[31]
Norma tersebut kemudian diadopsi Abbasiyah dan diikuti banyak umat Muslim sreg tahun-waktu berikutnya.[31]

Berbeda lega hari sebelumnya, kekhalifahan telah tidak bisa dikatakan sebagai negara kesatuan lagi. Banyak dinasti hijau bermunculan dan penasihat mereka berkuasa secara berdaulat sonder campur tangan khalifah. Meski serupa itu, mereka masih menyerahkan ketundukkan mereka kepada khalifah cak agar hanya sebatas formalitas. Khalifah sendiri masih punya peran bagaikan majikan negara sebagai penguasa di negeri Mesopotamia. Peran khalifah sebagai kepala negara bau kencur benar-benar meruap setelah Hulagu Khan menduduki Baghdad lega 1258 dan menzabah Khalifah ‘Abdullah Al-Musta’shim. Selepas peristiwa tersebut, mayapada Islam mengalami kekosongan dari kepemimpinan khalifah selama selingkung tiga musim. Dari naiknya Wangsa Abbasiyah sesudah penggulingan Umayyah sampai jatuhnya Baghdad, terwalak 37 khalifah.

Bani Abbasiyah di Kairo

[sunting
|
sunting sumber]

Pasca- jatuhnya Baghdad, anggota Wangsa Abbasiyah yang selamat melarikan diri ke Mesir nan detik itu dikuasai Kesultanan Mamluk dan melanjutkan tampuk kekhalifahan di sana mulai tahun 1261. Namun berbeda ketika masih di Baghdad, khalifah puas musim ini sewaktu-waktu tidak memiliki wilayah kekuasaan. Khalifah hanya mengurus permasalahan ritual dan keagamaan, tentatif kekuatan politiknya habis invalid. Peran khalifah bagaikan pemimpin umat Selam yang tadinya punya kekuatan politik sebagai superior negara mengesot menjadi sebaik-baiknya hanya sekadar simbol. Peristiwa ini mejadikan khalifah sering terapung-apung momen terjadi nyeri di pemerintahan Mesir. Bukan saja makmur menunjuk khalifah baru nan dikehendaki, Sultan Mamluk bahkan mampu menggulingkan khalifah yang masih bertakhta saat terjadi perselisihan. Keadaan tersebut membuat khalifah pada periode ini pelahap disebut sebagai “khalifah bayangan”.

Keadaan ini berlanjut sampai periode 1517 saat Sultanat Utsmani nan berpusat di Konstantinopel menduduki Mesir, mengakhiri riwayat Mamluk. Khalifah detik itu, Muhammad Al-Mutawakkil, kemudian menyerahkan gelar khalifah kepada Sultan Utsmani, Selim I, menandai berakhirnya peran Wangsa Abbasiyah dan Quraisy bak khalifah. Berusul tahun 1261 setakat penaklukkan Mesir makanya Utsmani, terdapat 17 khalifah. Di antara mereka, tiga khalifah menjabat sebanyak dua kelihatannya dan sendiri khalifah menyandang sebanyak tiga kali. Secara keseluruhan, Wangsa Abbasiyah memegang gelar khalifah selama hampir tujuh sekacip abad, menjadikannya sebagai dinasti terlama yang menyambut peran sebagai pemimpin dunia Islam ini sepanjang sejarah kekhalifahan.

Wangsa Utsmaniyah

[sunting
|
sunting sumber]

Sebelum menjadi sebuah kekaisaran lintas benua, Utsmani awalnya adalah sebuah kadipaten kecil di area Anatolia yang ialah piadah Sultanat Seljuk. Saat Seljuk di ambang kemunduran, kadipaten-kadipaten di Anatolia memerdekakan diri, termasuk kadipaten yang berkecukupan di bawah pimpinan Osman. Perlahan kadipaten nan dipimpin Osman dan keturunannya melebarkan wilayah dan mengesakan kadipaten yang lain, pun mulai mengembangkan wilayahnya ke kawasan Balkan. Momongan keturunannya memperalat nama Osman bikin nama dinasti dan negara mereka nan semakin berkembang ini, yang kemudian dieja menjadi Utsman atau Utsmaniyah di Indonesia dan Ottoman di Barat.

Seiring menguatnya Kesultanan Utsmaniyah, para bos mereka mulai mengklaim gelar khalifah bikin diri mereka sendiri, meski saat itu Wangsa Abbasiyah nan congah di Mesir masih menyandang gelar ini berasal generasi ke generasi. Klaim Utsmani atas kepemimpinan bumi Islam semakin menguat saat di pangkal kepemimpinan Selim I, mereka menaklukkan Kesultanan Mamluk nan tanggulang Mesir, Syam, dan Hijaz pada 1517. Wangsa Abbasiyah nan sejak tahun 1261 hidup dalam perlindungan Mamluk kemudian menyerahkan takhta mereka sebagai khalifah kepada pihak Utsmani, menjadikan Selim secara resmi sebagai khalifah pertama dari Wangsa Utsmani dan non-Arab.

Lukisan Sultan Selim I di Mesir. Selim I secara resmi menjadi khalifah selepas penaklukkan Mesir.

Pecah jatuhnya Baghdad, khalifah kehilangan fungsinya perumpamaan kepala negara dan sahaja berperan ibarat pemimpin dunia Islam secara simbolis. Situasi itu sebenarnya tunak tidak berubah plong periode Utsmani. Para penguasa Utsmani memiliki kekuatan politik atas kedudukan mereka sebagai sunan dan
padisyah, bukan karena status mereka bagaikan khalifah. Pada praktiknya, penguasa Utsmani sangat jarang menggunakan gelar khalifah pada percaturan ketatanegaraan di kerumahtanggaan dan luar kewedanan.

Di waktu-masa lebih lanjut, status penguasa Utsmani misal sultan melemah seiring bergesernya kekangan rezim di tangan wazir agung (perdana menteri) dan tokoh-tokoh terkemuka bukan, tetapi kebaikan khalifah justru kian berkembang. Gelar khalifah mulai digunakan momen Perjanjian Küçük Kaynarca (1774) yang dilakukan antara pihak Sultanat Utsmani yang momen itu dipimpin Emir Abdul Hamid I (berhak 1773 – 1789) dan Kekaisaran Rusia yang dipimpin Maharani Yekaterina II. Atas kemenangan Rusia atas Utsmani pada Perang Kozludzha, Utsmani dipaksa menerima kemerdekaan Kekhanan Krimea yang awalnya ialah begundal Utsmani internal Perjanjian Küçük Kaynarca. Meski secara ketatanegaraan kehilangan Krimea, Abdul Hamid I menggunakan statusnya sebagai khalifah bagi menegaskan kepemimpinan keagamaannya atas Muslim Krimea. Yekaterina sendiri juga mengklaim sebagai pelindung umat Kristen Ortodoks di wilayah Utsmani lega perjanjian ini.[32]
Berbunga perjanjian ini, prestise khalifah yang merupakan pemimpin bumi Islam menginjak berkembang mulai sejak yang doang sekadar simbol menjadi sebuah gelar yang n kepunyaan kekuatan ketatanegaraan.

Di antara semua penguasa Utsmani, Pangeran Abdul Hamid II (berkuasa 1876 – 1909) merupakan yang paling kecil belalah menggunakan kedudukannya sebagai khalifah. Melintasi statusnya laksana khalifah, Abdul Hamid II berusaha menyatukan masyarakatnya yang multi-etnis atas dasar agama bagaikan reaksi atas keadaan Utsmani yang semakin melemah dan terpecah,[33]
juga menghimpun kekuatan dari seluruh dunia Islam untuk bersatu dalam membandingbanding imperialisme Barat. Upayanya ini mengancam negara-negara Eropa, yakni Austria melalui Mukmin Albania, Rusia melampaui Tatar dan Kurdi, Prancis melewati Mukmin Maroko, dan Britania Raya melalui Muslim India.[34]
Upaya ini membuahkan hasil n domestik sejumlah hal. Setelah kemenangan Utsmani pada Perang Yunani-Turki, banyak umat Muslim memandang ini andai kemenangan Muslim. Pemberontakan dan penolakan penjajahan nasion Eropa dilaporkan di surat kabar di beragam wilayah Mukminat.[34]
[35]

Meski berupaya menyatukan marcapada Islam, atas permintaan duta Amerika kerjakan Utsmani Oscar Straus, Abdul Hamid II sekata kerjakan batik surat kepada Suku Kebatinan di Sultanat Sulu kiranya mereka lain melakukan pertempuran kepada Amerika. Kejadian ini menjadikan Mukminat Sulu mengamini kebebasan Amerika atas mereka.[36]
[36]
[37]

Rontok dari barang apa hasil yang dicapai, upaya Abdul Hamid II dalam menyatukan masyarakat dengan identitas Islam tidak sepenuhnya berhasil. Hal ini karena besarnya jumlah populasi non-Muslim dan pengaruh Eropa atas Utsmani.[38]
Selepas Abdul Hamid II digulingkan pada 1909, baik status Sultan Utsmani maupun khalifah kehilangan kekuatan politiknya.

Khalifah lain

[sunting
|
sunting sumur]

Ibarat posisi pemimpin dunia Selam, idealnya belaka ada suatu khalifah dalam satu masa. Cuma sejarah menyaksikan bahwa n domestik beberapa kurun musim, terdapat beberapa pihak yang mengklaim gelar khalifah selain khalifah penting. Bilang alasan nan mendasarinya yaitu reaksi perdurhakaan atas garis haluan tertentu dari khalifah, guna khalifah terdahulu yang semakin meremang, maupun pihak-pihak tersapu merasa telah memiliki pengaruh nan cukup besar sehingga dipandang sebagai pemimpin dunia Islam. Mereka ini tidak dimasukkan ke dalam daftar khalifah penting atas dasar mereka klaim mereka seumpama khalifah tidak ki terpaku dengan khalifah sebelumnya.

Pernyataan pihak-pihak lain ini bagaikan khalifah tidak berguna bahwa mereka menyatakan diri ekuivalen dengan khalifah utama. Khalifah adalah posisi bikin pemimpin dunia Islam dan harusnya belaka ada suatu khalifah pada suatu waktu. Saat pihak ini menyatakan dirinya bak khalifah, mereka menyatakan kepemimpinan atas seluruh umat Islam (tanggal wilayah kekuasaan mereka secara
de facto) dan sekaligus memandang pihak lain sebagai khalifah yang tak sah.[39]


‘Abdullah bin Zubair

[sunting
|
sunting perigi]

‘Abdullah bin Zubair adalah salah satu pihak awal yang melakukan pernyataan diri sebagai khalifah dan menjadi khalifah paralel ketika Wangsa Umayyah di Damaskus lagi masih menyandang gelar ini. Ayahnya merupakan Zubair polong Awwam, keponakan Khadijah binti Khuwailid dari kolek ayah dan sepupu Nabi Muhammad dari jalur ibu. Ibunya merupakan Asma’, amoi Khalifah Abuk Bakar dan kakak ipar Nabi Muhammad.

‘Abdullah bin Zubair plong awalnya menjorokkan ketaatan kepada khalifah selepas Mu’awiyah polong Abu Sufyan melantik putranya sendiri, Yazid, ibarat putra mahkota. Setelah Yazid ajal sesudah tiga tahun berkuasa dan kekuasaan diwariskan kepada putranya, Mu’awiyah II, ‘Abdullah bin Zubair menyatakan dirinya sebagai
amirul-mu’minin, salah satu gelar lain buat khalifah.[40]
[41]
Kedudukannya bagaikan khalifah diakui maka itu mahajana Hijaz, Yaman, Mesir, dan Iraq. Kontrol ‘Abdullah bin Zubair berjarak detik Khalifah ‘Abdul Malik bin Marwan mengutus Al-Hajjaj bin Yusuf bikin menundukkannya. Al-Hajjaj mengepung Makkah selama seputar heksa- rembulan dan banyak mulai sejak para penyanjung ‘Abdullah kacang Zubair tunduk pada musim ini. ‘Abdullah bin Zubair loyal memerosokkan untuk menunduk dan melanjutkan perlawanan hingga dia terbunuh pada Oktober atau November 692.[40]
[42]

Wangsa Fatimiyah

[sunting
|
sunting sendang]

Wilayah kekuasaan Fatimiyah

Wangsa Fatimiyah ialah dinasti beraliran Syi’ah Ismailiyah yang menyatakan diri sebagai baka putri bungsu Nabi Muhammad, Fatimah az-Zahra. Mereka mengklaim gelar khalifah mulai masa 909 dan menjadi khalifah pesaing dari Wangsa Abbasiyah nan bertakhta di Mesopotamia. Pada masa puncaknya, Fatimiyah mengatasi negeri Afrika Utara, Sisilia, Syam, dan Hijaz. Fatimiyah awalnya berkuasa di kewedanan Tunisia dan kemudian memindahkan ibu kotanya di Kairo setelah Mesir ditaklukkan pada 969.[43]

Fatimiyah membentuk pasukan berlandas etnis nan manjur membawa kesuksesan di medan perang, belaka lain internal senyap ketatanegaraan privat kewedanan. Pertengkaran antar kelompok militer menjadikan yuridiksi dinasti ini jatuh dengan cepat lega penutup abad kesebelas dan abad kedua belas. Shalahuddin mengakhiri kekuasaan dinasti ini pada 1171, mendirikan dinasti Al-Ayyubi yang menyatakan kesetiaan puas Wangsa Abbasiyah.[44]
Terdapat catur belas khalifah dari Wangsa Fatimiyah dan mereka berkuasa dalam uluran waktu lebih dari dua sehelai abad.

Khalifah di Kordoba

[sunting
|
sunting sumber]

Provinsi yuridiksi Umayyah di Kordoba, sekitar tahun 1000

Semenanjung Iberia, juga dikenal dengan Al-Andalusia, sudah lalu menjadi penggalan berpokok kekhalifahan pada masa Umayyah. Setelah otoritas Umayyah di Syam runtuh sreg 750, ‘Abdurrahman ad-Dakhil menjauhi ke semenanjung Iberia dan menjadi penguasa di sana setelah menggulingkan penguasa sebelumnya, memerintah kewedanan Iberia dari kota Kordoba. Biar moyangnya telah memegang gelar khalifah selama hampir sekurun saat berhak di Syam, anggota Wangsa Umayyah nan berkuasa di Iberia awalnya hanya menyandang gelar “amir” (proporsional dengan ‘adipati’) dan menerima klaim pihak Abbasiyah sebagai pemimpin seluruh umat Islam,[45]
meski percekcokan di antara kedua belah pihak masih berlanjut.

Belaka selepas Fatimiyah nan mengklaim gelar khalifah berangkat mengancam kekuasaan Umayyah di Al-Andalus, keturunan ‘Abdurrahman ad-Dakhil, ‘Abdurrahman III, menyatakan dirinya sebagai khalifah pada 16 Januari 929.[46]
Hal ini menjadikan terdapat tiga pihak yang mengklaim gelar khalifah: Abbasiyah di Baghdad, Fatimiyah yang berpusat di Mesir, dan penguasa di Kordoba. Tak hanya n domestik masalah kekuasaan, Kordoba pun menjadi pesaing Baghdad tersapu perannya sebagai gerendel kronologi mantra pengetahuan dan budaya.[47]
[48]
Pada masa Al-Hakam II, taman bacaan istana memiliki 500.000 volume buku. Sebagai perbandingan, Biara Santo Gallen di Swiss cuma memiliki 100 volume.[49]
Perhimpunan di Kordoba juga menjadi yang paling terkenal di dunia rekata itu, didatangi murid Muslim ataupun Kristen terbit segala penjuru Eropa Barat. Universitas ini melahirkan seratus lima puluh perekam. Universitas dan perpustakaan enggak juga tersebar di negeri Iberia pada periode ini.[50]

Pada keberjalanannya, otoritas Wangsa Umayyah di Andalusia semakin melemah, menjadikan Wangsa Hammud, sebuah dinasti Muslim Arab-Berber, mampu merebut tampuk kekhalifahan sepanjang sejumlah tahun.[49]
Umayyah dapat menjeput juga status khalifah, saja negara tersebut sudah lewat luluh dengan bilang kawasan telah izin berpunca kendali khalifah. Penggulingan Hisyam III plong 1031 menjadi akhir berasal riwayat khalifah di Kordoba. Setelahnya, wilayah yang dulu dikuasai khalifah terpecah menjadi negara-negara kecil yang disebut
taifa.[51]
Meski khalifah di Kordoba hanya bertahan selama sekitar satu abad, kekuasaan umat Orang islam di Andalusia masih berlantas sampai Wangsa Nasrid penguasa Granada dikalahkan pihak Katolik Spanyol pada 1492.


Kekhalifahan Syarif (1924)

[sunting
|
sunting perigi]

Peta dengan kawasan kekhalifahan berwarna hijau dan kawasan hijaz detik ini bercelup merah.

Upaya terakhir untuk membandingbanding kekhalifahan dengan syahadat ekumenis dilakukan maka itu Syarif Husain, raja Hijaz dan Syarif Mekkah, yang memimpin pada 11 Maret 1924 sampai 3 Oktober 1924, ketika ia meninggal dan tahta tersebut ambruk kepada anaknya Ali kacang Husain, sahaja anaknya enggak kepingin menerapkan kekhalifahan.[52]

Keruntuhan kekhalifahan

[sunting
|
sunting sumber]

Setelah Abdul Hamid II digulingkan pada 1909, dua pangeran penerusnya intim kehilangan kekuatan strategi sebaik-baiknya dan hanya bertindak sebagai lambang kepala negara semata tanpa otoritas yang nyata. Kesultanan Utsmaniyah kehilangan sebagian samudra wilayahnya setelah kalah dalam Perang Dunia I, menjadikan hanya menguasai kawasan Anatolia dan ujung tenggara Balkan. Istanbul (Konstantinopel) dikuasai Britania Raya setelahnya, menciptakan sebuah kevakuman kebijakan dengan menawan banyak majikan negara dan menudungi biro-biro pemerintahan dengan paksa.

Kekalahan Utsmani menimbulkan reaksi yang disebut Propaganda Khilafat sebagai bentuk kekhawatiran akan keesaan umat Selam. Meski operasi ini didengungkan di heterogen belahan mayapada Islam, kegiatannya paling banyak dilangsungkan di India sehingga juga disebut Gerakan Muslim India. Andai jago perang, pihak Eropa menjanjikan untuk melindungi harga diri penguasa Utsmani bak khalifah, tetapi Perjanjian Sèvres nan ditandatangani pada 1920 menjadikan daerah Iraq, Syam, dan Mesir diserahkan lega negara-negara Eropa.

Puas 1 November 1922, Majelis Agung Kewarganegaraan Turki secara resmi mengusir Kesultanan Utsmani. Sultan terakhirnya, Mehmed VI, diasingkan ke Malta. Pasca- pembubaran Utsmani, Republik Turki yang berasaskan sekuler didirikan dengan Mustafa Kemal seumpama presiden pertamanya.

Cak agar demikian, Mustafa Kemal tidak kesatria membubarkan kekhalifahan demi menjaga dukungan rakyat. Meski telah kehilangan peran politiknya sejak lama, khalifah ki ajek dipandang sebagai lambang pemersatu umat Islam Sunni seluruh bumi. Pembubaran kesultanan juga lebih mudah lantaran keberlangsungan kekhalifahan saat itu menghibur para partisan kesultanan. Pada 17 November 1922, Majelis Agung Kebangsaan Turki mengangkat sepupu Mehmed VI seumpama Khalifah Abdul Mejid II. Kejadian ini menjadikan Abdul Mejid II seumpama suatu-satunya khalifah dari Wangsa Utsmani yang tidak merangkap bak pangeran.

Hal tersebut menjadikan keadaan di Turki terbelah dengan pemerintahan republik nan plonco di satu sebelah dan pemerintahan Islam yang dikepalai khalifah di sisi lain. Khalifah n kepunyaan perbendaharaan pribadi dan pelayanan pribadi, termaktub karyawan militer. Abdul Mejid II juga menerima duta asing, kembali turut serta privat ritual dan perayaan sahih.[53]
Mustafa Kemal mengkhawatirkan bahwa Abdul Mejid II nantinya akan memegang kendali urusan negara senyatanya seorang kaisar.[54]

Dalam peristiwa begitu juga ini, Maulana Mohammad Ali dan Maulana Syaukat Ali yang merupakan pemimpin Gerakan Khilafat mengawurkan sirkuler yang menyerukan rakyat Turki untuk kontributif kekhalifahan demi faedah Islam. Oleh pihak republik, peristiwa ini dipandang perumpamaan racik tangan pihak asing yang dapat membahayakan keamanan negara. Hal ini menjadi pembenaran Mustafa Kemal kerjakan mengakhiri kekhalifahan. Pada 3 Maret 1924, Majelis Agung Nasional Turki mengusik kekhalifahan dan melepaskan Abdul Mejid II beserta para prabu dan cewek Wangsa Utsmaniyah berpunca Republik Turki.[55]
[56]

Pasca pembubaran kekhalifahan

[sunting
|
sunting sendang]

Banyak pihak mendiskusikan keabsahan pembubaran kekhalifahan oleh pihak Turki secara sepihak.[57]
Syarif Makkah, Husain bin Ali, mengklaim gelar khalifah kerjakan dirinya sendiri. Mantan Baginda Mehmed VI menjatah dukungan melewati benang tembaga kepada Husain,[58]
saja pengakuannya tidak diterima makanya semua umat Muslim. Sehabis Husain runtuh takhta, putranya tidak melanjutkan klaim ayahnya andai khalifah.[59]

Pada Mei 1926, diselenggarakan perjumpaan di Kairo tersapu upaya buat sekali lagi menegakkan kekhalifahan, doang banyak negara Muslim nan enggak hadir dan tidak ada tindakan nyata selepas persuaan tersebut.[57]
Dua konferensi Islam sekali lagi diselenggarakan di Makkah (1926) dan Yerusalem (1927), tetapi tak mengaras kerukunan.[57]

Pada jalan selanjutnya, gelar
Amir al-Mukmin
disandang oleh Yang dipertuan Maroko dan Mullah Mohammed Omar, pembesar rezim Taliban di Afganistan, tetapi kebanyakan Muslim di luar negeri yuridiksi mereka menjorokkan bikin mengakuinya. Sekarang banyak pecahan negara-negara mukminat nan mewujudkan Organisasi Konferensi Islam ataupun OKI, sebuah organisasi internasional dengan pengaruh yang terbatas yang didirikan pada musim 1969 beranggotakan negara-negara mayoritas Mukmin.

Peran dan kedudukan khalifah

[sunting
|
sunting sumber]

Kekhalifahan Islam, 622-750

Kebanyakan akademisi menyetujui bahwa Nabi Muhammad enggak secara langsung menyarankan atau memerintahkan pembentukan kekhalifahan Islam setelah kematiannya. Permasalahan yang dihadapi saat itu adalah tentang pihak yang paling berkuasa menggantikan Nabi Muhammad bagaikan bos umat Islam dan batasan kekuasaan yang dimilikinya.

Pengganti Nabi Muhammad

[sunting
|
sunting sumber]

Fred M. Donner dalam bukunya
The Early Islamic Conquests
(1981) berpendapat bahwa kebiasaan nasion Arab momen itu yaitu buat mengumpulkan para tokoh masyarakat dari suatu batih (ibnu
dalam bahasa arab), alias suku, cak bagi bermusyawarah dan memilih pengarah berpangkal salah satu di antara mereka. Tak terserah prosedur solo dalam syuro atau ura-ura ini. Para kandidat biasanya memiliki keterkaitan galur dari pemimpin sebelumnya, walaupun hanya adalah keluarga jauh.

Hingga plong tiba saatnya Nabi Muhammad meninggal, suku bangsa Muslim beranggar pena mengenai siapa yang berhak buat menjadi penerus kepemimpinan umat Islam sampai ketika ini apa yang dibicarakan di privat masa tenggang itu masih menjadi kontroversi di kalangan kaum Mukmin. Hanya boleh dipastikan bahwa mayoritas suku bangsa Muslim nan hadir dalam musyawarah saat itu mengimani bahwa Debu Bakar Ash-Shiddiq adalah penerus kepemimpinan umat Islam karena sebelum Nabi Muhammad meninggal, ia dipercaya untuk mewakili posisi perumpamaan imam shalat. Puas akibatnya, Abu Bakar pun terpilih menjadi khalifah mula-mula kerumahtanggaan sejarah Selam.

Namun beberapa galangan dari kaum Muslim Makkah dan Madinah saat itu meyakini bahwa Nabi Muhammad telah mengasihkan banyak tera yang menunjukan bahwa Ali kedelai Abi Thalib, sepupu bertepatan menantunya, misal pengganti dirinya dan semua khalifah yang diangkat sebelum ‘Ali dipandang sebagai khalifah nan tak sah. Hal inilah yang memicu munculnya suku bangsa Syiah belakangan sreg masa kekhalifahan Muawiyah, lebih tepatnya sehabis hari dominasi Ali bin Abi Thalib berakhir.

Pengaruh

[sunting
|
sunting sumber]

“Siapa yang akan mengambil alih Rasul Muhammad” bukanlah suatu-satunya ki aib nan dihadapi umat Islam saat itu; tetapi pula menetapkan seberapa besar dominasi pengganti sang nabi. Berbeda dengan Nabi Muhammad, tidak satu pun dari para khalifah yang mendapatkan ajaran berpunca Allah. Buat mengatasinya, wahyu Halikuljabbar yang disampaikan oleh Rasul Muhammad kemudian ditulis dan dikumpulkan menjadi Al-Quran, dijadikan patokan dan sumber utama hukum Islam, dan menjadi batas kekuasaan khalifah Islam. Artinya, Khalifah adalah seseorang pemimpin yang takluk lega Al-Qur’an dan Hadits dan kekuasaannya pun dibatasi keduanya.

Bagaimanapun, cak semau beberapa bukti yang menunjukan bahwa khalifah mempercayai bahwa mereka memiliki otoritas untuk membelakangkan sejumlah hal yang tidak tercantum kerumahtanggaan Al-Quran. Mereka pula mempercayai bahwa mereka adalah pempimpin spiritual umat islam, dan mengasakan “ketaatan kepada khalifah” sebagai ciri seorang orang islam sejati. Ilmuwan maju Patricia Crone dan Martin Hinds, n domestik bukunya
God’s Caliph, menggarisbawahi bahwa fakta tersebut mewujudkan khalifah menjadi begitu penting dalam penglihatan bumi Islam ketika itu. Mereka berpendapat bahwa pandangan tersebut kemudian hilang secara perlahan-lahan seiring dengan bertambah kuatnya pengaruh ulama di kalangan umat Islam. Suku bangsa Muslim menduga bahwa ulama sama berhaknya menentukan segala nan dianggap legal dan baik di kalangan umat, sesuai dengan hadis nan menamakan bahwa suatu kaum akan ditinggalkan oleh Allah ketika mereka meninggalkan para jamhur. Ketua umat Islam nan paling tepat, menurut pendapat para ulama, adalah pemimpin nan menjalankan saran-saran spiritual dari para ulama, temporer para khilafah hanya mengurusi kejadian-hal yang berperangai duniawi sehingga mengakibatkan perdebatan di antara keduanya. Perselisihan pendapat antara Khalifah dan para jamhur tersebut menjadi konflik yang berlarut-sagu betawi intern beberapa bagian sejarah kekhalifahan Islam. Tetapi risikonya, konflik ini berpisah dengan kemenangan para ulama.
[zakar rujukan]

Kontrol Khalifah seterusnya menjadi adv minim lega kejadian yang bersifat keduniawian. Khalifah hanya dapat dianggap menjadi “Khalifah yang benar” apabila ia menjalankan saran spiritual para ulama.
[butuh rujukan]

Patricia Crone dan Martin Hinds juga berpendapat bahwa muslim Syiah, dengan pandangan yang berlebihan kepada para imam, patuh menjaga pengapit steril umat selam, namun tidak semua ilmuwan setuju akan hal ini.

Kebanyakan Orang islam Sunni detik ini mempercayai bahwa para khalifah tidak selamanya hanya menjadi pemimpin komplikasi duniawi, dan ulama sepenuhnya bertanggung jawab atas sebelah spiritual umat islam dan hukum syariah umat islam. Mereka menyebut empat khalifah pertama seumpama Khulafaur Rasyidin, Khalifah nan diberi ilham, karena mereka menjalankan dan berpatokan sreg hukum yang terwalak plong Al-Quran dan sunnah Nabi Muhammad privat segala hal. Mereka juga mempercayai bahwa sekali khalifah dipilih untuk memimpin, maka selama hidupnya kamu akan memerintah kecuali jika anda keluar dari adat syariat.

Karakter kepemimpinan

[sunting
|
sunting sumber]

Ibnu Taymiyah mengatakan bahwa fiil pemimpin Islam ialah menganggap bahwa dominasi dan kekuasaan yang dimilikinya ialah sebuah pembantu (amanah) dari umat Islam dan bukan kekuasaan yang mutlak dan otoriter. Hal ini didasarkan plong hadis yang berbunyi:

It (sovereignty) is a trust, and on the Day of Judgment it will be a thing of sorrow and humiliation except for those who were deserving of it and did well.

Keadaan ini sangat kontras dengan kejadian Eropa detik itu di mana kekuasaan kanjeng sultan adv amat absolut dan mutlak.[60]

Peranan koteng kalifah telah ditulis dalam banyak sekali literatur oleh teolog islam. Pater Najm al-Din al-Nasafi menggambarkan khalifah sebagai berikut:

“Umat Islam tak berdaya tanpa seorang superior (padri, dalam hal ini khalifah) yang boleh memimpin mereka kerjakan menentukan keputusan, menernakkan dan menjaga daerah perbatasan, memperkuat angkatan bersenjata (buat pertahanan negara), menyepakati zakat mereka (lakukan kemudian dibagikan), menurunkan tingkat perampasan dan pencurian, menjaga ibadah sreg hari jumat (salat jumat) dan hari raya, menyurutkan silang sengketa di antara sesama, membidas dengan objektif, membaurkan wanita yang tak memiliki wali. Sebuah keharusan bikin komandan untuk melenggong dan bertutur di depan orang yang dipimpinnya, tidak bersembunyi dan jauh berpunca rakyatnya.
Sira sebaiknya berasal bersumber kabilah Quraish dan tidak suku bangsa lainnya, tetapi tidak harus dikhususkan kerjakan Bani Hasyim atau anak asuh-anak Ali. Majikan bukanlah seseorang yang suci berusul dosa, dan bukan pula seorang yang paling jenius pada masanya, saja dia yaitu seorang nan memiliki kemampuan administratif dan memerintah, mampu dan tegas kerumahtanggaan mengeluarkan keputusan dan gemuk menjaga hukum-hukum Selam kerjakan melindungi orang-orang nan terzalimi. Dan mampu memimpin dengan arif dan demokratif.

Ibnu Khaldun kemudian mementingkan hal ini dan menjelaskan lebih lanjut tentang kepemimpinan kekhahalifah secara lebih singkat:

“Kekhalifahan harus subur menggerakan umat buat bertindak sesuai dengan visiun Islam dan menyepadankan tanggung di dunia dan akhirat. (Kewajiban di manjapada) harus sebanding (dengan kewajiban untuk akhirat), seperti mana yang diperintahkan oleh Nabi Muhammad, semua kepentingan bumi harus mempertimbangkan keuntungan bagi kepentingan akhirat. Singkatnya, (Kekhalifahan) pada kenyataannya mengambil alih Nabi Muhammad, beserta sebagian tugasnya, untuk melindungi agama dan menjalankan kekuasaan ketatanegaraan di dunia.”

Guri agama

[sunting
|
sunting sumber]


Al-Qur’an

[sunting
|
sunting mata air]

“Dan Allah telah berikrar kepada insan-turunan yang beriktikad di antara kamu dan mengerjakan dedikasi-amal yang saleh bahwa Beliau betapa-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di durja marcapada seperti Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berwajib, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya buat mereka, dan Dia benar-bermoral akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka n domestik ketakutan menjadi kesepakatan sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah insan-orang yang fasik.”

“Hai manusia-orang yang beriman, taatilah Yang mahakuasa dan taatilah Utusan tuhan (Nya), dan ulil amri (pengatur perkara agama) di antara ia (turunan-orang yang beriktikad). Kemudian jikalau sira berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah sira kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar berkepastian kepada Allah dan hari kemudian. Nan demikian itu bertambah utama (bagimu) dan kian baik risikonya.”

Hadits

[sunting
|
sunting sumur]

Rasul Muhammad bersabda,

“Bani Israil, semangat mereka selalu didampingi oleh para Utusan tuhan, bila satu Nabi meninggal mayapada, akan dibangkitkan Nabi setelahnya. Dan sungguh tidak ada Nabi sepeninggal aku. Yang suka-suka ialah para khalifah yang banyak jumlahnya”. Para sahabat menanya; “Segala nan Anda perintahkan kepada kami?”. Nabi Muhammad menjawab: “Penuihilah baiat kepada khalifah yang pertama (lebih silam diangkat), berikanlah peruntungan mereka karena Allah akan bertanya kepada mereka akan halnya kepemimpinan mereka”. (H.R. Bukhari)
[61]

“Apabila ada dua khalifah yang dibaiat, maka bunuhlah yang paling anak bungsu pecah keduanya .” (H.R. Muslim)
[62]

“Kekhalifahan di ummatku selama tiga puluh hari kemudian setelah itu kerajaan.” (H.R. Tirmidzi)
[63]
[64]

“Akan ada masa kenabian pada kalian selama yg Almalik kehendaki Allah mengangkat atau menghilangkan sekiranya Allah memaui. Adv amat akan ada hari khilafah di atas manhaj nubuwwah sejauh Allah kehendaki kemudian Yang mahakuasa mengangkat jika Allah menghendaki. Lalu ada masa kerajaan yg sangat kuat selama yg Halikuljabbar kehendaki kemudian Allah menggotong bila Yang mahakuasa menghendaki. Lalu akan ada periode kerajaan [kejam] sepanjang yg Allah kehendaki kemudian Allah mengangkat bila Almalik menuntut. Lewat akan ada pula periode kekhilafahan di atas manhaj nubuwwah.“ Kemudian beliau diam.” (H.R. Ahmad)
[65]
[66]


Ijma’ Sahabat

[sunting
|
sunting sumur]

Ijma’ Sahabat nan menonjolkan pentingnya pengangkatan dan pembaiatan pemimpin tampak jelas dalam keadaan bahwa mereka mendorong kewajiban menguburkan jenazah Nabi Muhammad dan mendahulukan pengangkatan dan inisiasi sendiri penasihat. Sedangkan menanam mayat secepatnya adalah suatu kewajiban dan diharamkan atas orang-orang nan wajib menyiagakan pemakaman jenazah bagi melakukan kesibukan bukan sebelum mayit dikebumikan. Hanya, para Sahabat yang wajib menyiapkan pekuburan jenazah Muhammad ternyata sebagian di antaranya lebih-lebih makin memacu usaha-gerakan cak bagi menyanggang dan membaiat Khalifah daripada menguburkan batang Muhammad. Sementara itu sebagian Sahabat lain mendiamkan kesibukan mengangkat dan inisiasi Khalifah tersebut, dan timbrung pula bersama-sekelas menjorokkan beban memakamkan mayat Muhammad sampai dua lilin lebah, padahal mereka kreatif mengingkari hal ini dan ki berjebah mengetanahkan kunarpa Nabi secepatnya. Fakta ini menunjukkan adanya lega hati (ijma’) mereka untuk segera melaksanakan kewajiban mengangkat dan menobatkan pemimpin daripada menanam jenazah.

Duli Bakar Ash-Shiddiq perkariban menyampaikan bahwa dia tak mau dipanggil sebagai
khalifatullah
dan lebih memilih seandainya dipanggil sebagai
khalifatur-rasul.[67]
[68]

Ada suatu riwayat dari Umar kacang Khattab persaudaraan menanyakan kepada Salman, “Saya ini seorang Raja atau Khalifah?” Salman manjawab, “Jika engkau cekut (hasil) pecah bumi kabilah Muslimin satu dirham atau lebih, lalu ia pergunakan tidak sreg tempatnya (berbuat zalim), maka sesungguhnya engkau merupakan yang dipertuan tak Khalifah”. Mendengar jawaban itu Umar bin Khattab menangis.[68]


Dalil Berbunga Prinsip Syar’iyah

[sunting
|
sunting mata air]

Privat usul fikih dikenal kaidah syar’iyah nan disepakati para ulama:

Sesuatu kewajiban yang lain sempurna kecuali adanya sesuatu, maka sesuatu itu teristiadat pula keberadaannya.[69]
Menerapkan hukum-syariat nan berusul dari Allah n domestik apa aspeknya adalah teristiadat. Sementara hal ini tidak dapat dilaksanakan dengan sempurna minus adanya kekuasaan Selam.

Pendapat Para Ulama

[sunting
|
sunting sumber]

Syaikh Abdurrahman Al Jaziri menyatakan,

“Para imam mazhab (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad) —rahimahumullah— mutakadim sepakat bahwa Imamah yang dibaiat (Khilafah) itu wajib adanya, dan bahwa umat Islam wajib mempunyai seorang pater (khalifah,) dalam jamaah yang akan menyaringkan syiar-syiar agama serta menolong orang-hamba allah yang tertindas berbunga nan menindasnya.”[70]

Imam Asy-Syaukani menuliskan,

“Menurut golongan Syiah, minoritas Mu’tazilah, dan Asy A’riyah, (Khilafah) adalah wajib menurut syara’.”[71]

Ibnu Hazm mengatakan,

“Telah sekata seluruh Ahlus Sunnah, seluruh Murji`ah, seluruh Syi’ah, dan seluruh Khawarij, mengenai wajibnya Imamah (Khilafah).”[72]

Bilang coretan ulama yang membiji wajibnya kesediaan khilafah di antaranya Padri Al Mawardi kerumahtanggaan
Al Ahkamush Shulthaniyah, hlm. 5; Serbuk Ya’la Al Farraa’ dalam
Al Ahkamush Shulthaniyah, hlm.19; Ibnu Taimiyah privat
As Siyasah Asy Syar’iyah, hlm.161; Anak lelaki Taimiyah dalam
Majmu’ul Fatawa, jilid 28, hlm. 62; Padri Al Ghazali intern
Al Iqtishaad fil I’tiqad, hlm. 97; Ibnu Khaldun dalam
Al Muqaddimah, hlm. 167; Padri Al Qurthubi internal
Tafsir Al Qurthubi, juz 1, hlm.264; Anak lelaki Hajar Al Haitsami n domestik
Ash Shawa’iqul Muhriqah, hlm. 17; Anak laki-laki Hajar A1 Asqallany privat
Fathul Bari, juz 13, hlm. 176; Rohaniwan An Nawawi dalam
Syarah Muslim, juz 12, hlm. 205; Dr. Dhiya’uddin Ar Rais dalam
Al Islam Wal Khilafah, hlm.99; Abdurrahman Abdul Khaliq privat
Asy Syura, hlm.26; Abdul Qadir Audah internal
Al Selam Wa Audla’una As Siyasiyah, hlm. 124; Dr. Mahmud Al Khalidi dalam
Qawaid Nizham Al Hukum fil Islam, hlm. 248; dan Sulaiman Ad Diji intern
Al Imamah Al ‘Uzhma, hlm. 75; Muhammad Abduh dalam
Al Selam Wan Nashraniyah, hlm. 61.

Sedangkan bilang karya cerdik pandai dan biang keladi Selam nan menyatakan ketidakwajiban khalifah di antaranya adalah
Al Islam Wa Usululul Hukm
maka dari itu Ali Abdur Raziq,
Mabadi` Nizham Al Hukmi fil Islam
oleh Abdul Hamid Mutawalli, dan
Tidak Ada Negara Islam
oleh Nurcholish Madjid.

Daftar Khalifah

[sunting
|
sunting sumber]

Tatap pula

[sunting
|
sunting sumber]

  • Negara Islam Irak dan Syam
  • Kekhalifahan dunia
  • Kekhanan
  • Keamiran
  • Syah
  • Padisyah
  • Shaykh al-Islām

Rujukan

[sunting
|
sunting sumber]


  1. ^


    Hambali, Muhammad (2017). Rusdianto, ed.
    Panduan Muslim Kaffah Sehari-Waktu: Dari Kandungan setakat Mortalitas. Yogyakarta: Laksana. hlm. 23. ISBN 978-602-407-185-1.





  2. ^

    Gianluca Paolo Parolin,
    Citizenship in the Arab World: Kin, Religion and Nation-state
    (Amsterdam University Press, 2009), 52.

  3. ^

    Hourani, p. 23.

  4. ^

    Ahmed, Nazeer,
    Islam in Universal History: From the Death of Prophet Muhammad to the First World War, American Institute of Islamic History and Cul, 2001, p. 34. ISBN 0-7388-5963-X.

  5. ^


    Ochsenweld, William; Fisher, Sydney Nettleton (2004).
    The Middle East: A History
    (edisi ke-6th). New York: McGraw Hill. ISBN 978-0-07-244233-5.





  6. ^


    The Cambridge History of Islam, ed. P.M. Holt, Ann K.S. Lambton, and Bernard Lewis, Cambridge, 1970

  7. ^

    Lapidus 2002, hlm. 47.

  8. ^

    Holt, Lambton & Lewis 1970, hlm. 70–72.

  9. ^

    Tabatabaei 1979, hlm. 50–75 and 192.

  10. ^


    Donaldson, Dwight M. (1933).
    The Shi’ite Religion: A History of Islam in Persia and Irak
    (PDF). Burleigh Press. hlm. 66–78.





  11. ^


    Jafri, Syed Husain Mohammad (2002).
    The Origins and Early Development of Shi’a Islam; Chapter 6. Oxford University Press. ISBN 978-0195793871.





  12. ^


    Ayati, Dr. Ibrahim. “A Probe into the History of Ashura“.
    Al-Islam.org. Ahlul Bayt Digital Islamic Library Project.





  13. ^

    John Esposito (1992)

  14. ^


    Cavendish, Marshall (2010). “6”.
    Islamic Beliefs, Practices, and Cultures. hlm. 129. ISBN 978-0-7614-7926-0.





  15. ^


    Blankinship, Khalid Yahya (1994),
    The End of the Jihad State, the Reign of Hisham Ibn ‘Abd-al Malik and the collapse of the Umayyads, State University of New York Press, hlm. 37, ISBN 0-7914-1827-8





  16. ^

    Previté-Orton (1971), pg 236

  17. ^


    “Umayyad dynasty | Islamic history”.
    Encyclopedia Britannica
    (intern bahasa Inggris). Diakses copot
    2017-03-26
    .





  18. ^

    Menocal 2022, hlm. 19

  19. ^

    Burns, 2005, p.88.

  20. ^

    Grafman and Rosen-Ayalon, 1999, p.7.

  21. ^


    “What is the difference between Sunni and Shia Muslims?”.
    The Economist. 28 May 2022.





  22. ^

    Previté-Orton (1971), vol. 1, pg. 239

  23. ^


    Ibn Kathir.
    Al-Bidāya wa-cakrawala-Nihāya, Debit 8. hlm. 235–236.





  24. ^


    Canfield, Robert L. (2002).
    Turko-Persia in Historical Perspective. Cambridge University Press. hlm. 5. ISBN 9780521522915.





  25. ^

    Gregorian 2003

  26. ^

    Huff 2003, hlm. 48

  27. ^

    Grant & Clute 1999, hlm. 51.

  28. ^

    Clinton 2000, hlm. 15–16

  29. ^

    Ahmed 1992, hlm. 112–15.

  30. ^


    Youshaa Patel (2013). “Seclusion”.
    The Oxford Encyclopedia of Islam and Women. Oxford: Oxford University Press.
    ((Perlu mengebon (help)).




  31. ^


    a




    b




    Eleanor Abdella Doumato (2009). “Seclusion”. Dalam John L. Esposito.
    The Oxford Encyclopedia of the Islamic World. Oxford: Oxford University Press.
    ((Perlu berlangganan (help)).





  32. ^



    The Cambridge History of Selam I: The Central Islamic Lands
    (dalam bahasa Turki). Cambridge University Press. 1970.





  33. ^

    M.Sükrü Hanioglu, A Brief History of the Late Ottoman Empire, 130.
  34. ^


    a




    b



    Takkush, Mohammed Suhail, “The Ottoman’s History” pp.489,490

  35. ^

    Lewis.B, “The Emergence of Modern Turkey” Oxford, 1962, p.337
  36. ^


    a




    b




    Kemal H. Karpat (2001).
    The Politicization of Islam: Reconstructing Identity, State, Faith, and Community in the Late Ottoman State. Oxford University Press. hlm. 235. ISBN 978-0-19-513618-0.





  37. ^


    Moshe Yegar (1 January 2002).
    Between Integration and Secession: The Mukmin Communities of the Southern Philippines, Southern Thailand, and Western Burma/Myanmar. Lexington Books. hlm. 397. ISBN 978-0-7391-0356-2.





  38. ^

    Dr. Bayram Kodaman, The Hamidiye Light Cavalry Regiments (Abdullmacid II and Eastern Anatolian Tribes)

  39. ^


    Wasserstein, David (1993).
    The Caliphate in the West: An Islamic Political Institution in the Iberian Peninsula
    (snippet view). Oxford: Clarendon Press. hlm. 11. ISBN 978-0-19-820301-8. Diakses copot
    5 September
    2022
    .




  40. ^


    a




    b



    Gibb 1960, p. 55.

  41. ^

    Hawting 1986, p. 47.

  42. ^

    Gibb 1960, p. 54.

  43. ^


    Abbasid Belles Lettres. Cambridge University Press; 30 March 1990. ISBN 978-0-521-24016-1. p. 13.

  44. ^


    Baer, Eva (1983).
    Metalwork in Medieval Islamic Art. SUNY Press. hlm. xxiii. ISBN 9780791495575.





  45. ^


    Udara murni’Callaghan, J. F. (1983).
    A History of Medieval Spain. Ithaca: Cornell University Press. hlm. 119.





  46. ^

    Barton, 38.

  47. ^

    Barton, 40–41.

  48. ^

    Barton, 42.
  49. ^


    a




    b



    Catlos, Brain A. (2014).
    Infidel Kings and Unholy Wars: Faith, Power, and Violence in the Age of Crusades and Jihad. New York: Farrar, Straus, and Giroux. p. 30.

  50. ^

    Francis Preston Venable,
    A Short History of Chemistry
    (1894) p. 21.

  51. ^


    Chejne, Anwar G. (1974).
    Muslim Spain: Its History and Culture. Minneapolis: The University of Minnesota Press. hlm. 43–49. ISBN 0816606889.





  52. ^

    Bosworth 2004, p. 118

  53. ^

    Mango,
    Atatürk, 401

  54. ^

    Mango,
    Atatürk, 403

  55. ^


    Finkel, Caroline (2007). “Osman’s Dream: The History of the Ottoman Empire”. Basic Books. hlm. 546. ISBN 9780465008506.




  56. ^


    Özoğlu, Hakan (2011).
    From Caliphate to Secular State: Power Struggle in the Early Turkish Republic
    (privat bahasa Inggris). ABC-CLIO. ISBN 9780313379567.




  57. ^


    a




    b




    c



    Majid Khadduri (2006) War and peace in the law of Islam, The Lawbook Exchange, Ltd., ISBN 1-58477-695-1-page 290-291

  58. ^


    Teitelbaum, Joshua (2001).
    The Rise and Fall of the Hashimite Kingdom of Arabia. C. Hurst & Co. Publishers. ISBN 9781850654605.





  59. ^

    Bosworth 2004, p. 118

  60. ^

    Omar Hossino.
    Classical Islamic Views on Human Nature, Political Authority, and International Relations, 2006.

  61. ^


    “Hadits Bukhari adapun Para khalifah di Bani Israil”.




  62. ^


    “Hadits tentang dua khalifah dalam satu waktu”.




  63. ^


    “Teks arab hadits 30 tahun khalifah Rasulullah saw”.




  64. ^


    “Terjemah Hadits 30 hari perian kekhalifahan Rasulullah saw”. Diarsipkan berusul varian kudus sungkap 2022-05-13.




  65. ^


    “Wacana Arab Hadits tentang Masa-masa Kekhalifahan”.




  66. ^


    “Terjemah Hadits tentang tahun-masa Kekhalifahan”. Diarsipkan dari versi putih tanggal 2022-05-13.




  67. ^


    “حديث عبدالله بن أبي مليكة – مجمع الزوائد”.
    dorar.net
    (dalam bahasa Arab). Diakses tanggal
    2021-01-28
    .




  68. ^


    a




    b




    link, Dapatkan; Facebook; Twitter; Pinterest; Email; Lainnya, Aplikasi. “Mencerna Arti Khalifah”. Diarsipkan dari varian kalis sungkap 2022-02-07. Diakses tanggal
    2021-01-28
    .





  69. ^


    “Tanggapan Atas Kata sandang: Khilafah Ala Minhājin Nubuwah dan Khilafah Ala Minhāji Dāisy”. Diakses sungkap
    2022-06-05
    .





  70. ^

    Al Fiqh ‘Ala Al Madzahib Al Arba’ah, jilid V, hlm 416

  71. ^

    Nailul Authar, jilid VIII, hlm 265

  72. ^

    Al Fashl fil Milal Wal Ahwa’ Wan Nihal, jilid IV, hlm 87

Daftar pustaka

[sunting
|
sunting sumber]

  • Ahmed, Leila (1992).
    Women and Gender in Islam: Historical Roots of a Berbudaya Debate. Yale University Press. ISBN 978-0-300-05583-2.



  • Arnold, Falak. W. (1993). “Khalīfa”. N domestik Houtsma, M. Th.
    E.J. Brill’s First Encyclopaedia of Islam, 1913–1936. Debit IV. Leiden: BRILL. hlm. 881–885. ISBN 978-90-04-09790-2. Diakses tanggal
    2010-07-23
    .



  • Barton, Simon (2004). A History of Spain. New York: Palgrave MacMillan. ISBN 0333632575.
  • Burns, Ross (2005),
    Damascus: A History, London: Routledge, ISBN 0-415-27105-3



    .
  • Clinton, Jerome W. (2000). Talattof, Kamran; Clinton, Jerome W., ed.
    The Poetry of Nizami Ganjavi: Knowledge, Love, and Rhetoric. Houndmills, UK: Palgrave Macmillan. ISBN 0-3122-2810-4. LCCN 99056710.



  • Crone, Patricia, and Martin Hinds.
    God’s Caliph: Religious Authority in the First Centuries of Islam. Cambridge: Cambridge University Press, 1986. ISBN 0-521-32185-9.
  • Donner, Fred.
    The Early Islamic Conquests. Princeton, New Jersey: Princeton University Press, 1981. ISBN 0-691-05327-8.
  • Gibb, H. A. R. (1960). “ʿAbd Allāh ibn al-Zubayr”. Dalam Gibb, H. A. R.; Kramers, J. H.; Lévi-Provençal, E.; Schacht, J.; Lewis, B.; Pellat, Ch.
    The Encyclopedia of Islam, New Edition, Piutang I: A–B. Leiden: E. J. Brill. hlm. 54–55. ISBN 90-04-08114-3.



  • Grafman, Rafi; Rosen-Ayalon, Myriam (1999). “The Two Great Syrian Umayyad Mosques: Jerusalem and Damascus”.
    Muqarnas. Boston: BRILL.
    16: 1–15. doi:10.2307/1523262.



  • Grant, John; Clute, John (1999). “The Encyclopedia of Fantasy”.
    Arabian fantasy. New York, NY: St. Martin’s Press. ISBN 0-312-19869-8. LCCN 96037472.



  • Gregorian, Vartan (2003).
    Selam: A Mosaic, Titinada a Monolith. Washington, DC: Brookings Institution Press. hlm. 26–38. ISBN 0-8157-3282-1. LCCN 2003006189.



  • Hawting, G. R. (2000) [1986].
    The First Dynasty of Islam: The Umayyad Caliphate AD 661-750
    (edisi ke-2nd). London and New York: Routledge. ISBN 0-415-24073-5.



  • Holt, P.M.; Lambton, Ann K.S.; Lewis, Bernard, ed. (1970).
    Cambridge History of Islam. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-29135-4.



  • Hourani, Albert.
    A History of the Arab Peoples, Faber and Faber, 1991.
  • Huff, Toby E. (2003).
    The Rise of Early Modern Science: Selam, China, and the West
    (edisi ke-2nd). Cambridge, UK: Cambridge University Press. ISBN 0-5218-2302-1. LCCN 2002035017.



  • Lapidus, Ira (2002).
    A History of Islamic Societies
    (edisi ke-2nd). Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-77933-3.



  • Menocal, Maria Rosa (2015).
    Surga di Andalusia: Detik Mukminat, Yahudi, dan Nasrani Vitalitas intern Keharmonisan
    (edisi ke-1st). Penerbit Noura Books (PT Tula Publika). ISBN 978-602-0989-82-2.



  • Previté-Orton, C. W (1971).
    The Shorter Cambridge Medieval History. Cambridge: Cambridge University Press.
  • Mango, Andrew (2002) [1999].
    Atatürk: The Biography of the Founder of Modern Turkey
    (edisi ke-Paperback). Woodstock, NY: Overlook Press, Peter Mayer Publishers, Inc. ISBN 978-1-58567-334-6.



  • Tabatabaei, Sayyid Mohammad Hosayn (1979).
    Shi’ite Islam. Suny press. ISBN 978-0-87395-272-9.



    | Diterjemahkan maka dari itu Seyyed Hossein Nasr.



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Khalifah

Posted by: caribes.net