Kisah Zina Di Zaman Nabi

Zina merupakan tindakan asusila yang sangat tercela. Selam koteng mengategorikannya ibarat dosa ki akbar kedua setelah polah
syirik
(menyekutukan Allah). Hukuman pelaku zina pun dahulu berat, yaitu dirajam setakat meninggal kalau pelakunya sudah memiliki istri gelap
(muhshan); dan dicambuk sebanyak 100 kali seandainya belum menikah
(ghairu muhshan).

Berkaitan hal ini, ada kisah dramatis dua sahabat yang menanggung di hadapan Nabi mutakadim mengamalkan zina. Ma’iz kacang Malik dan perempuan berpunca kabilah Ghamidiyah. Minus ragu dan takut, keduanya menyerahkan diri dan mohon dijatuhi sanksi sebagaimana mestinya.
Yuk, simak kisahnya.


Kisahan Ma’iz bin Malik Memufakati Kelakuan Zina di Hadapan Nabi

Diriwayatkan dari Buraidah, sekali waktu M’aiz kacang Malik menclok menemui Rasulullah saw, dan berkata,
“Sucikanlah aku, wahai Rasulullah!”
Rasulullah menjawab,
“Apa-apaan kamu ini! Pulang dan mintalah ampun serta bertaubat kepada Allah!”
Ma’iz pun pergi. Belum lama kemudian dia kembali dan mengomong,
“Sucikanlah aku, wahai Rasulullah!”
Rasulullah menjawab seperti mana jawaban sebelumnya.

Hal itu terjadi berulang-ulang. Setakat keempat kalinya Rasulullah bertanya,
“Dari apa ia harus aku sucikan?”
Ma’iz menjawab,
“Dari dosa zina.”

Rasulullah pula menyoal kepada sahabat lain yang ada di situ,
“Apakah Ma’iz ini mengidap gangguan hidup?”
Lampau dijawab bahwa Ma’iz bukan sinting. Beliau menyoal lagi,
“Apakah Ma’iz sedang mabuk?”
Riuk sendiri kemudian takut untuk mencium bau mulutnya, namun tidak terserah bau
khamr. Kamu kemudian menanya kepada Ma’iz,
“Betulkah kau sudah lalu berzina?”
Ma’iz menjawab,
“Ya, ter-hormat.”

Kemudian, Rasulullah menyuruh para sahabat lakukan menegakkan hukum rajam, yang berlaku efektif pada waktu itu, terhadap Ma’iz sebatas jadinya dia meninggal. Selepas kewafatannya, cucu adam-orang terpecah privat dua pendapat adapun kesan terhadap Ma’iz. Sebagian mengatakan bahwa Ma’iz telah celaka akibat dosa yang mutakadim diperbuatnya. Sementara sebagian yang lain memiliki kesan berupa bahwa Ma’iz merupakan orang yang mendapat habuan karena mutakadim bertaubat secara sangat baik, yaitu dengan mendatangi Rasulullah, menerima kesalahannya, dan ikhlas kerjakan menjalani hukuman rajam.

Sampai selang tiga musim setelah kematian Ma’iz, kedua pertahanan itu masih kerumahtanggaan pendapatnya tiap-tiap. Hingga risikonya Rasulullah meminta mereka untuk memohon maaf kepada Ma’iz. Lalu engkau bersabda,
“Sungguh Ma’iz sudah lalu bertaubat dengan sempurna, dan jikalau taubatnya dapat dibagi untuk suatu kaum, pasti taubatnya akan mencukupi seluruh kaum tersebut.”

Kisah ini dicatat oleh Pastor Bukhari internal
Shahih-nya pada portal
Merajam Pelaku Zina di Mushala, hadits nomor 6434.

Cerita Wanita Ghamidiyah Mengakui Kelakuan Zina di Hadapan Nabi

Diriwayatkan dari Buraidah, sekali waktu seorang nona berpangkal suku Ghamidiyah menemui Rasulullah, dan berkata,
“Wahai Rasulullah, aku telah berzina, sucikanlah aku dari dosaku.”
Rasulullah kemudian memintanya untuk pulang. Lusa harinya sira itu datang lagi.
“Boleh jadi beliau berat pinggul cak bagi memperdayai hadd (siksa) untukku sebagaimana yang engkau lakukan terhadap Ma’iz bin Malik. Demi Allah, aku telah hamil (terbit hasil zina),”
katanya mencoba meyakinkan.“Aku tetap menjawab tidak, pergilah sebatas kau babaran,”
jawab Rasulullah.

Sesudah sekian lama dan wanita itu telah melahirkan, ia sekali lagi mendatangi Rasulullah sambil menggendong bayinya sebagai bukti, dan berkata,
“Ini bayinya, aku telah melahirkannya.”
Rasulullah menjawab,
“Pergilah dan susui sira sampai engkau selesai menyapihnya.”

Setelah sekian lama dan wanita itu sudah menyapih anaknya, ia pula berorientasi Rasulullah dengan menggendong anaknya yang medium memegang roti. Sira berkata,
“Duhai Rasulullah, aku sudah lalu menyapihnya dan ia sudah dapat makan.”
Rasulullah pun meminta wanita untuk menyerahkan bayinya kepada pelecok seorang sahabat nan hadir di situ, ia kemudian dibawa ke tempat eksekusi rajam.

Setakat kemudian Khalid bin Walid timbrung merajamnya. Mukanya terkena cipratan darah wanita itu. Ia pun menuduh si wanita. Mendengar barang apa nan hijau sahaja Khalid ucapkan, Rasulullah menegur,
“Ajar ucapanmu, Khalid! Demi Allah, ia telah sungguh-sungguh bertaubat dengan taubat yang seandainya seorang penarik pajak bertaubat maka akan diampuni.”
Wanita itu pun dishalati dan dimakamkan.

Cerita ini dicatat Imam Muslim internal
Shahih-nya intern Bab Pengakuan Orang yang Membabi jalang, nomor hadits 4528.

Pesan Moral Kisah Persaksian Zina di Hadapan Nabi

Kisah dramatis syahadat dua sahabat Nabi di atas memiliki beberapa pesan moral.

Purwa,
ketegasan sendiri pemimpin. Supaya Utusan tuhan naik daun sebagai presiden nan sangat penyayang, beliau patuh menjalankan hukum seadil-adilnya, bahkan kepada dua sahabat yang dengan bonafide dan penuh rasa bahara jawab mengakui kesalahannya. Untuk Nabi, keseimbangan adalah harga senyap.

Kedua, sebesar apapun dosa yang telah diperbuat manusia, beliau akan diampuni jika mau bertaubat dengan sungguh-alangkah. Ma’iz dan wanita Ghamidiyah ialah komplet baik dalam hal ini. Mujur keseriusannya privat bertaubat, kedua sahabat ini asian kursi mulia di sisi Halikuljabbar, kendati sebelumnya dicap sebagai pelaku lautan.

Ketiga,
keberanian dan keterusterangan. Pengakuan Ma’iz dan wanita Ghamidiyah ini adv amat layak diapresiasi. Dengan mengakuri kesalahannya, keduanya sempat bahwa mereka akan kehilangan nyawa dengan mengamini hukuman. Akan sahaja, dengan penuh rasa tanggung jawab dan kejujuran mereka tak gentar sedikit pun. Bagi mereka, jujur kian baik daripada harus mengaku ikab pedih di akhirat.
Wallahu a’lam.


Ustadz Muhamad Abror, penulis keislaman NU Online, alumnus Saung Pesantren Tunggal Kempek Cirebon dan Ma’sempadan Aly Saidusshiddiqiyah Jakarta
​​​​​​​




​​​​​​

Source: https://islam.nu.or.id/hikmah/bikin-haru-ini-kisah-dramatis-pelaku-zina-mengaku-di-hadapan-nabi-AJxc6

Posted by: caribes.net